Disclaimer: These characters still not belong to me. I'm crying.
A/N: Just a note from me. Catatan. Seperti yang mungkin sudah teman-teman pahami di chapter sebelumnya, seorang Royal Prince sebenarnya tidak diijinkan untuk mempelajari sihir. Tapi di sini mungkin kamu akan lihat bahwa dalam dunia Signaria, ilmu istimewa tidak hanya datang dari sihir. Ada pula ilmu bela diri (semacam taijutsu dari Naruto) yang mungkin punya gerakan-gerakan istimewa. Dan ini sangat legal untuk dipelajari oleh seorang Royal Prince.
.
.
.
Boboiboy Royal x Guardian
BOOK THREE
"The Mesial Prince, and His Shadows"
.
.
.
Fang membalikkan badan, mengibaskan jubahnya, lalu memilih untuk pergi meninggalkan Taufan, Air dan Ochobo, kembali ke ruangannya. Langkahnya terlihat cepat dan buru-buru. Sebenarnya setengah menghentak karena menahan kesal.
'Mereka tak mengerti, mereka tak mengerti! Aku hanya melaksanakan tugasku! Pelayan itu yang memang tak becus!'
Ia terus menggerutu di dalam pikirannya sendiri, dan menyusuri lorong. Langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara seseorang, memanggil namanya. Nadanya yang penuh kebijakan, dan lembut. Fang tak pernah salah duga jika mendengarnya.
"Ya, Pangeran? Apa ada yang kaubutuhkan?" katanya sopan dan lembut. Lain dengan sikapnya tadi.
Pangeran Gempa menatapnya cemas. "Kau tidak apa-apa? Aku mendengar suara keributan tadi."
Fang tersenyum. "Bukan apa-apa, Pangeran. Hanya sedikit keributan kecil. Kau tak perlu memikirkannya."
Gempa mengangguk, "Begitu?" ia menopang dagu sejenak, lalu mendangah, "Ah, apa kau sudah menghubungi Sekretariat Kerajaan Mordiana?"
Fang mengangguk, "Sudah, Pangeran. Itu undangan terakhir yang kusampaikan untuk Perjamuan Eschotta. Beberapa negara lain sudah hadir hari ini dan menginap di istana selatan, Pangeran."
Gempa tersenyum tenang, "Baiklah, pastikan Istana memperketat penjagaannya, dan katakan pada koki istana untuk mempersiapkan kudapan terbaik untuk menyambut mereka."
Fang menekan kacamatanya, "Tentu saja, Pangeran. Akan kulaksanakan," Fang menatap Gempa yang tersenyum ke arahnya. Tapi, bukan seorang Guardian Prince, jika ia tak menyadari keganjilan di wajah Gempa. "Apa kau sakit lagi?" Bisiknya khawatir. Gempa hanya tersenyum menatap Fang, lalu menggeleng pelan.
"Gak, kok. Hari ini aku merasa sehat," Gempa mempertegas. Fang menatap Pangeran pengampunya dengan tatapan sendu.
"Fang?" Panggil Gempa cemas, saat tangan Fang di luar kesadarannya mulai menyentuh pipi Gempa.
"Wajahmu jelas pucat, Gempa," Fang mulai serius. Terbukti dari caranya memanggil langsung nama depan sang Honorable Prince.
Gempa menahan tangan Fang, lalu menjauhkannya dari wajah. "Aku selalu suka caramu memanggil namaku seperti itu. Tapi... maaf, Fang. Untuk hari ini saja. Biarkan aku mengurus semua perjamuan ini."
"Gempa, biar aku yang urus semua. Kau cukup diam dan tenang," Fang mengatup bibirnya rapat kemudian. "Apa kau ingin terlihat sibuk di hari perjamuan ini? Apa..." ia dijedakan oleh rasa ragu. Tapi akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya. "Apa ini karena kau ingin jadi Raja?"
Gempa membelalak kaget. "Ngomong apa, kau! Fang!" Gempa menatapnya tajam. "Aku gak mau jadi Raja! Kamu tau itu, kan?"
Fang menghelat, "Tapi... selama 17 tahun aku hidup, aku berani bersaksi bahwa dibandingkan kedua Honorable Prince lainnya, kaulah yang paling mendekati karakter Tuanku Abaross... Kau rajin, elegan, dan juga cerdas. Kau bijaksana serta pandai berbicara, dan kau pandai mengkoordinir segalanya. Bahkan seluruh penghuni istana ini setuju jika kau yang jadi pengganti Tuanku."
Gempa menggeleng. "Fang," ia menatap lawan bicaranya sungguh-sungguh. "Hidupku tak ditentukan oleh tahta semata, dan aku tak merasa bahwa akulah yang terbaik di antara saudara-saudaraku," tatapan Gempa mulai sendu sejenak. "Karena di antara saudara-saudaraku, aku memiliki fisik dan metabolisme paling lemah."
Fang kalut mendengar itu. Ia berjalan bolak-balik dengan gelisah di depan Gempa. "Gempa, kau tidak lemah. Ingat, aku akan ada didekatmu dan menjagamu."
"Aku tak ingin aku merepotkanmu lebih dari yang seharusnya," balas Gempa cepat, karena ia tahu kebiasaan Fang ketika berdebat soal ini. Dan mereka sudah memperdebatkan hal ini bertahun-tahun lamanya, semenjak Fang dipilih menjadi Guardian Prince.
Gempa menatap Fang yang kini sedang menatap keluar jendela, dan akhirnya membuat Gempa ikut melihat keluar jendela. Dilihatnya Pangeran Air yang berjalan keluar dari pintu Istana, dan berjalan mengendap-endap ke halaman belakang istana. Tak lama kemudian menghilang begitu saja di tengah siang bolong.
"Oh, dia pasti mau menjemput Api di SSFU," gumam Gempa. Fang meliriknya.
"Kamu... tau soal itu juga, ya."
Gempa menggaruk pipinya. "Uhm... Karena di antara dua saudaraku, orang yang tak pernah meninggalkan istana hanya aku, kan? Kadang-kadang... aku merasa iri dengan mereka, dan ingin sekali keluar dari istana. Tapi... karena aku tak diijinkan keluar—dan aku tak punya keberanian untuk mengendap-endap seperti Api—Jadi... untuk memuaskan rasa penasaranku, aku hanya mendengarkan cerita-cerita petualangan dari mereka sendiri."
Fang menatap sang Pangeran pengampu, "...Kok aku gak tahu kalo kamu tahu soal itu—" Fang hening. Kemudian terjiplak jelas di wajahnya bahwa ia merasa gagal jadi penjaga. Beberapa detik selanjutnya, ia mengeluarkan cambuk dan menyerahkannya pada Gempa sambil bersimpuh.
"PANGERAN. HUKUMLAH AKU. AKU TELAH GAGAL MENJADI PENJAGAMU—"
"...Hentikan muka maso-mu itu," Gempa menatap datar makhluk yang kini tengah menyodorkan cambuk padanya dengan wajah mesum.
"Cih," Fang berdecak lalu berdiri. Gempa memutar bola matanya.
Fang mengambil jam dari dalam kantung jasnya. "Ah, sudah saatnya siap-siap, Pangeran. Perjamuan Eschotta dua jam lagi."
Gempa mengangguk. Tapi pikirannya kelihatan melayang, dan ia sama sekali tak menatap Fang. Fang berkedip, lalu memperhatikan setiap mimik perubahan Gempa, untuk memastikan tidak ada yang salah.
Sadar diperhatikan, Gempa menghela nafas, lalu menyentuh lengan Fang dengan sikap bersahabat. "Fang. Kau selalu tahu tentangku. Kau tahu semua sifat dan sikapku. Selama ini kau selalu menjagaku dengan baik. Tapi... apa kau tahu? Kalau aku tersiksa?"
Fang membelalakkan matanya, wajahnya langsung pucat dan panik. "Eh? Ma—Maafkan aku, Gempa. Apa aku menyakitimu? Katakan saja kalau kau ingin aku melakukan sesuatu untukmu. Kalau perlu hukum aku—supaya kau merasa baik—"
Gempa menyela, "Tidak, bukan itu."
Fang menatapnya.
Gempa mengeratkan genggamannya di lengan Fang. Fang melirik lengannya, sejenak, lalu menatap Gempa lagi sambil balas menyentuh tangannya.
"Gempa?"
Gempa diam, matanya yang tersembunyi di balik helai poninya, terlihat bingung dan kalut.
"Enggak," Gempa tersenyum akhirnya, lalu mengendurkan cengkraman di lengan Fang, "Bukan apa-apa, Fang. Lupakan yang tadi," katanya kemudian menepuk lengan itu.
Fang semakin tak mengerti. Gempa memunggunginya. "Sudahlah, yuk, kita siap-siap."
.
.
.
.
.
.
.
Gempa duduk di salah satu kursi tamu di ruang dansa. Sempat ia melirik saudara-saudaranya yang berjalan bersama Guardian Prince masing-masing di beberapa sudut hall dansa. Ia bisa melihat Halilintar yang tengah canggung menghadapi para putri—dan Taufan yang mati-matian mem-back up sang pangeran, lalu Air dan Api yang tengah makan bersama di banquet, kemudian bertengkar sendiri—entah masalah apa. Gempa tersenyum lucu melihat kelakuan saudara-saudaranya itu.
Hingga beberapa lama, senyumnya berubah menjadi senyum iri.
Gempa tahu, dirinya adalah lelaki lemah dengan kesehatan yang buruk. Tapi ada beberapa momen tertentu yang membuat Gempa merasa bahwa kesehatannya yang memburuk itu bukan karena dirinya yang lemah—melainkan tekanan batin yang dirasakannya.
Sejak kecil, Gempa memiliki metabolisme lemah dibanding kedua saudaranya. Hal itu terbukti saat mereka piknik bersama sewaktu kecil, dari ketiga saudaranya hanya Gempa lah yang selalu kembali dalam keadaan sakit dan tidak sehat. Setidaknya walaupun tidak jatuh sakit parah, tapi Gempa selalu jadi orang yang pertama kali terserang flu atau kelelahan duluan ketika ketiganya melakukan aktifitas bersama.
Bukti-bukti kelemahan Gempa ini, membuat sang Ratu khawatir dan mulai melarang Gempa untuk tak pergi jauh dari lingkungan istana sendirian atau bahkan jika bersama dengan Pangeran Penjaganya. Gempa hanya diijinkan keluar jika satu keluarga istana piknik bersama—yang notabenenya hanya terjadi dua atau tiga tahun sekali. Gempa mungkin merasa dirinya tertekan dengan keadaan dan kondisi tubuhnya. Gempa juga manusia, Gempa juga laki-laki sehat yang ingin pergi keluar dan merasakan hidup penuh petualangan. Melakukan aktifitas-aktifitas seperti berburu atau bahkan bertarung di arena terlarang.
Tapi Gempa hanya bisa termangu latah telinga, mendengar cerita-cerita menegangkan yang diceritakan pangeran-pangeran penjaga lain. Gempa mengelus dada, kalau memikirkan itu, jantungnya terasa mulai lemah. Semakin ia menginginkan petualangan-petualangan itu, semakin dilema pikirannya—dan depresi akan semakin menekan kepalanya.
Belum lagi rasa penasarannya terhadap Pangeran penjaga miliknya itu.
Gempa melirik Fang, dan yang dilirik tampak sedang memilih-milih makanan dari banquet. Di tangannya terdapat dua piring—yang Gempa tebak salah satu piring pasti untuk Gempa—dan dilihatnya Fang tampak riang dan senang.
.
.
.
Gempa tersenyum melihat Fang yang tampak senang. Senyum itu membuat Gempa kembali terkenang dengan kejadian dulu.
.
.
.
.
.
.
.
"Siapa namanya, ayah?"
Abaross menunduk kemudian merangkul pundak bocah mungil di sampingnya.
"Hmm. Aku tak tahu," ia melirik bocah dirangkulannya yang tampak menatap kosong kaki Gempa.
Si kecil Gempa kemudian melompat turun dari kursinya. Ia menghampiri bocah yang nampaknya seumur itu, dan menyodorkan tangannya.
"Namaku Gempa! Namamu siapa?" Gempa tersenyum riang. Wajahnya bagaikan malaikat—sampai bocah itu menggigit tangannya.
"HAMPH."
"UWAAAAAA—!"
Gempa menangis komikal, sementara sang Raja hanya meringis bahagia melihat sang putra kedua tersiksa.
Gempa berusaha melepaskan tangan dari gigi tajam bocah berambut ungu itu dengan menggoyang-goyangkannya, tapi bocah laki-laki ganas itu masih giat menancapkan gigi susunya di tangan Gempa.
"Oh," Raja tersenyum penuh inspirasi di tengah suara teriakan Gempa. "Kalau begitu mari kita namakan dia 'Fang'?"
"Ayah! Dia kan belum ngenalin namanya sendiri! Kenapa udah kasih nama! Ngomong-ngomong, bantu Gempa ngelepasin ini dooong!" Gempa menangis komikal dengan pipi gembilnya. Raja tertawa.
"Ah, maaf, maaf," Abaross menjepit kedua pipi mungil anak laki-laki ganas itu dengan tangannya, agar mulutnya terlepas dari tangan Gempa. Gempa menghela nafas lega, sambil mengelus tangannya.
"Sebenarnya... Ayah menjumpainya di jalan dekat hutan saat pulang perang. Sepertinya... Dia salah satu korban perang. Waktu kutemui, wajahnya juga penuh luka bakar dan luka sayatan. Dia juga tak bicara apapun, saat kutanya. Jadi, kupikir ia mungkin bisu. Ayah berencana akan mengadopsinya, dan memberi nama baru."
Gempa mengangguk mendengar penjelasan sang ayah, lalu mengamati anak itu.
"Ya udah, kuajak main aja, ya? Boleh kan?" Gempa tersenyum riang pada sang ayah.
Raja tertegun. "Kamu gak takut digigit lagi?"
Gempa menggeleng, "Mungkin dia cuman laper?"
"Dia udah dikasih makan tadi..."
"Oh! Mungkin tangan Gempa enak!"
"..."
Raja menapuk wajahnya sendiri, tak tahu harus merespon apa.
Gempa tersenyum kecil lalu tertawa. "Fang! Yuk main!"
Fang menatap ragu Gempa. Saat Gempa mendekat untuk menarik tangannya, bocah itu malah mengibaskan tangannya dan mendorong Gempa hingga jatuh terduduk, kemudian lari menjauh entah kemana.
"Ah! Tunggu! Fang!" Gempa buru-buru berdiri, lalu mengejarnya.
"Gempa! Jangan lari! Kau bisa sakit nanti!" Raja berlari menyusul, namun dengan cepat ia kehilangan jejak putranya.
.
.
.
"Fang? Kamu dimana?" Gempa membuka pintu dapur istana, lalu melihat sekeliling. Beberapa chef istana yang sedang mengerjakan tugasnya, terkejut dengan kedatangan sang pangeran.
"Pangeran? Apa yang anda lakukan di sini?" tanya salah seorang koki.
"Aku mencari temanku, Paman liat gak?" tanya Gempa dengan nada khawatir.
Chef itu memiringkan kepalanya bingung lalu membungkukkan badan agar wajahnya sejajar dengan si kecil Gempa, "Teman Pangeran? Seperti apa orangnya?"
"Uhm... Dia anak yang ayah bawa dari perang..."
Sang koki berkedip. "Oh, anak itu? Barusan dia—" saat koki itu hendak menjawab, suara tumpukan panci kosong jatuh terdengar dari sudut dapur. Semua orang termasuk Gempa menengokkan kepalanya.
"Fang!" Gempa berteriak sesaat setelah ia lihat bocah yang dicarinya tengah tengkurap dengan banyak panci munumpuk di atasnya. Meski begitu, bocah itu rupanya cukup kuat dan berdiri menyeruak di antara panci-panci besar. Di detik selanjutnya, ia kembali kabur melewati pintu belakang dapur.
"AH?!" Gempa shock, lalu kembali berlari, "Tungguuu!"
.
.
.
Begitulah seterusnya. Gempa menghabiskan waktu hampir setiap hari hanya untuk mengejar Fang yang selalu menghindarinya. Fang selalu punya trik-trik tertentu agar berhasil kabur dari Gempa, tak terkecuali cara-cara kotor seperti sengaja membuat Gempa terpleset atau terjatuh ke dalam lubang jebakan yang ia gali di halaman belakang.
Beberapa hari kemudian, Gempa muncul di hadapan sang ayah dengan beberapa luka lebam di tangan dan kakinya. Meski begitu, ia tetap tersenyum ceria.
"Ayah, liat Fang gak?"
Abaross berkedip beberapa kali, lalu menunjuk salah satu pintu ruangan dengan jari telunjuknya. Gempa mengucapkan terima kasih, kemudian melesat berlari ke arah yang ditunjuk sang ayah. Setelah ia hilang dari sudut pandang sang ayah, terdengar suara teriakan untuk yang kesekian kali hari itu.
"Yang Mulia, apa kau tak bisa lakukan sesuatu?" Ratu mulai khawatir.
"Hmm. Aku tak bisa bersikap terlalu keras pada Fang. Mengingat ia masih kecil, dan mungkin masih mengalami trauma akibat perang," Raja menekan dagunya, "Lagipula, ini pilihan Gempa. Aku baru pertama kali melihat Gempa sedemikian tertarik dengan hal selain selain buku."
"Tapi... Kau tahu, kan? Kesehatan Gempa itu tak sebagus anak-anak kita yang lain. Dan kita tak tahu apa yang akan dilakukan Fang pada Gempa nanti..."
Abaross hanya tersenyum, "Yah, dia kan cuman anak-anak. Trik-trik usilnya pada Gempa tak membahayakan dan masih tahap wajar," Raja tersenyum, "Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri."
Ratu berkedip beberapa kali melihat ekspresi suaminya. Menyadari maksud dari senyum itu, Ratu membelalak kaget. "Oh, tidak. Jangan-jangan kau berniat menjadikannya Guardian Prince untuk Gempa?!"
Abaross menggaruk pipinya. "Kau tahu kalau Guardian Prince haruslah anak dengan kemampuan istimewa."
"Fang punya kemampuan istimewa? Apa dia pengendali sihir seperti Air? Atau ahli senjata seperti Taufan?"
Sang Raja hanya mengangkat bahu, "Aku rasa, iya. Mengingat dia anak dari desa itu."
"Tapi... Tapi..." Ratu kelihatan bingung. "Kita tak tahu kan, apakah dia memiliki dendam pada Kerajaan kita atau tidak—"
"Nah, soal itu. Mari kita serahkan pada Gempa," potong Raja, lalu tersenyum lagi, "Gempa anak yang paling pandai menarik hati seseorang."
.
.
.
.
"Faaang! Ayolaaah! Jadilah temanku! Kita maiiin!" Gempa berteriak di antara semak-semak. "Fang, kamu dimana?"
Gempa berjalan dan menyeruak di antara semak-semak belakang istana. Ia terus berteriak dan mencari, namun yang dicari tak kunjung datang. Gempa sempat merasa terlalu letih, dan jelas ia mulai pusing. Daya tahan tubuhnya termakan efek dari aktifitas melelahkan beberapa hari ini. Meski begitu, ia tak menyerah. Ia memutuskan untuk duduk istirahat sebentar dekat bebatuan, tak jauh dari semak-semak.
Suara geraman terdengar. Suaranya terdengar berat dan buas.
Gempa menengokkan kepalanya. Matanya melebar melihat anjing hutan liar sebesar hampir dua kali lipat tubuhnya sedang menggeram ganas dengan air liur yang bercecer.
"AAAAHHHHH—!"
Gempa berusaha lari, namun anjing itu berhasil melayangkan cakarnya yang besar dan hampir menyobek betis Gempa.
.
.
Jika saja seseorang tak menahan cakar itu dengan tongkat kayu.
Gempa menoleh.
"Fang!" teriaknya senang.
Fang tak menjawab, dan ia tetap berusaha menahan tekanan cakar anjing liar itu dengan tongkat kayu.
Merasa tak bisa menembus pertahanan Fang, anjing liar itu kemudian melompat mundur. Ia terus menggeram dan menggonggong, lalu berjalan bolak-balik ke kiri dan kanan Fang, seolah-olah mencari titik kelemahan pertahanan Fang. Hingga beberapa kali, anjing liar itu mencoba melompat, dan membebani si kecil Fang dengan tubuhnya. Anjing liar itu berusaha melahap bahu Fang, namun giginya yang tajam dan besar tertahan kayu yang melintang di antara kedua tangan Fang.
Gempa berdecak, ia melirik ke kiri dan ke kanan, lalu melihat batu-batu sebesar kepalan tangannya. Batu-batu besar itu ia kumpulkan di tangannya, dan ia lemparkan ke pelipis anjing liar.
Pelipis anjing itu berdarah, membuatnya mengamuk lebih keras dari sebelumnya. Anjing itu pun melompat pergi dari Fang, dan mengejar Gempa.
Gempa mengambrukkan batu-batu yang lain sambil tertawa, karena anjing itu mengejarnya seperti perkiraannya. "HAH, sini-sini! Kejar aku kalau bisa!"
Anjing itu berhasil teralihkan dan pergi menjauh dari si kecil Fang.
Fang melongo. Ia tak sangka orang yang ia pikir lemah dan selalu jatuh dalam trik-trik muslihatnya untuk kabur itu, ternyata punya keberanian cukup besar untuk mengalihkan seekor anjing besar dan menjadikan dirinya sendiri umpan.
Fang meringis. Bangkit cepat, lalu melesat pergi meninggalkan Gempa.
.
.
Gempa berlari ke arah hutan kecil yang jaraknya ratusan meter dari istana.
"WAAAA—!"
Gempa mulai menangis. Kakinya lelah dan sakit, tapi ia tak mau kena gigit anjing itu. Ia terus berlari, hingga sampai ke sudut dinding istana. Dinding tersebut merupakan dinding pembatas wilayah kerajaan dengan hutan sesungguhnya di selatan istana.
Merasa tak ada tempat lagi untuk berlari dan terpojok, Gempa hanya bisa berdiri di sudut itu. Meski kakinya sedikit gemetar, tapi ia masih bisa berdiri tegak dan berusaha menggertak anjing liar itu dengan tongkat kayu yang tergeletak di ujung kakinya.
Anjing yang mulai tak sabar itu, bermaksud menyergap Gempa dengan satu lompatan besar.
"AAAAAHHH—!" Gempa menjerit.
"ELANG BAYANG!"
Gempa mendelik mendengar suara asing, lalu sebuah sambaran datang ke tubuhnya.
Ia takjub mendapati dirinya kini berada di atas sebuah bayangan hitam gelap yang mengepakkan sayap. Di hadapan wajahnya, duduk seseorang yang sedang mengendarai sihir hitam itu.
"Fang?" tanyanya tak percaya, melihat bocah dihadapannya menyelamatkannya dengan sihir aneh.
"ITU DIA! BUNUH ANJING ITU!"
Gempa menoleh ke bawah. Dilihatnya para pengawal istana telah tiba dan segera menghabisi anjing liar itu.
"Ja... Jangan-jangan... Tadi kau pergi untuk memanggil pengawal istana?"
Fang tak menjawab, atau bahkan menengokkan kepala.
Gempa menatap punggung Fang, lalu tersenyum. "Makasih, Fang..."
Fang melebarkan matanya.
Dari belakang, Gempa bisa melihat telinga Fang yang memerah. Gempa bisa bayangkan wajah malu Fang saat ini, meski tak melihatnya. Gempa pun memutuskan untuk membiarkan Fang asyik dengan pikirannya sendiri.
Angin berhembus semilir di sekitar Gempa, ia tersenyum senang saat melihat istana menjadi pernik-pernik kecil dengan sinar cahaya yang kian menajam karena hari mulai gelap. Meski Fang belum dapat mengendalikan sihirnya dengan baik, dan sempat beberapa kali membuat Gempa harus mempertahankan keseimbangannya dengan menarik kemeja, namun ia cukup mahir dalam memanfaatkan angin untuk kekuatan bayangnya.
"Hey,"
Gempa menoleh, di tengah kegirangannya melihat pemandangan indah, perhatiannya tersita oleh suara baru. Gempa senang. Ini pertama kalinya Fang mau mengeluarkan suaranya.
"Kupikir kau bisu—"
"Tentu saja tidak," sergah bocah kacamata itu cepat. "Kau dengar aku tertawa saat kau terjatuh di lubang jebakan buatanku, kan?"
Gempa menggeleng, "Enggak, karena aku terlalu fokus untuk memanjat kembali lubang itu, jadi aku gak dengar."
Fang hening sesaat, ia terus bicara tanpa menengokkan kepala. "Kenapa kau bersikukuh menjadikanku temanmu?"
Gempa memiringkan kepalanya, "Memangnya berteman harus punya alasan?"
"Tapi gak ada yang sekonyol kau, sampai rela babak belur seperti itu."
Gempa mengernyitkan dahinya, wajah berpikir keras. "Hmmm—aku gak pikir itu konyol. Berteman bukan hal yang konyol," Gempa kembali menatap pemandangan di bawah kakinya.
"Ketika aku melihat matamu dari balik kacamatamu itu, aku bisa membayangkan sebuah ruang gelap tanpa cahaya. Aku tak terlalu mengerti kenapa aku bisa lihat ruang gelap itu. Tapi... dari matamu itu, aku bisa tahu bahwa kalau aku meninggalkanmu, kau akan semakin tenggelam di dalam ruang gelap itu."
Fang membelalakkan matanya, barulah kini ia mau menengokkan kepala, dan ditatapnya wajah bocah yang seumur dengannya itu penuh wajah heran.
Gempa melirik wajah Fang, lalu tersenyum dengan senyum lembutnya.
"...Makanya. Kalau aku tak berteman denganmu, kau akan kesepian, kan?"
Fang kembali menatap ke depan. Perlahan, ia mendaratkan elang bayangnya di atas sebuah balkon menara.
Gempa turun, berdiri dan menatap punggung Fang. Dilihatnya bahu Fang bergetar, tangannya mengepal kaku.
"Fa—"
"DIAM!"
Fang menggelengkan kepalanya, kedua tangan dibawanya mendekap telinga. Tak mau dengar.
Gempa diam, namun jelas di wajahnnya tercetak rasa bersalah.
"Maafkan aku—"
"BUKAN!"
Fang turun, jongkok. Di hadapan Gempa, ia hampir bersujud. Menangis sasadu.
Gempa menekukkan lututnya. Merangkul bahu Fang, dan menepuk penuh simpati.
.
.
.
.
Meski tak pernah bercerita mengenai kenapa Fang menangis saat itu, namun hal ini membuat Fang mulai mau berbicara dengannya. Masih agak pendiam, tapi sikap Fang berubah total. Kini ia benar-benar mau mendengarkan ucapan Gempa, dan tak lari saat dicari. Ia juga sudah mulai tak menggunakan trik-trik untuk mencelakai Gempa. Hanya saja Fang masih belum membuka dirinya pada Gempa. Mengenai siapa dirinya sebenarnya, dari desa mana ia datang, dan bagaimana ia bisa bertemu dengan sang ayah. Setiap kali ditanya, Fang selalu mencari alasan agar tak bicara.
Hingga Gempa menyadari bahwa, Fang layaknya kotak Pandora. Hanya bisa dikagumi keindahannya dari luar, tanpa tahu apa yang berada di dalamnya.
Gempa menatap Fang yang mendekat padanya dengan wajah senang dan kedua tangan menampah piring.
Gempa tersenyum.
.
.
Mungkin untuk saat ini, Gempa hanya perlu mempercayai bahwa orang yang ditakdirkan untuk menjadi Guardian Prince-nya itu memang tulus dengan kesetiannya.
.
.
"Kau bawa apa, Fang?"
"Ini potongan daging kalkun, dengan salad Signaria, Pangeran. Menu ini akan pas untukmu, dan juga baik untuk kesehatanmu."
Gempa mengangkat tangannya untuk mengambil piring itu, namun sebuah garpu dengan potongan daging kalkun sudah masuk cepat di mulutnya.
"Enak, kan? Gempa?" Fang berkata penuh semangat, setelah tak berdosanya menyuapi paksa sang pangeran pengampu.
Gempa mengunyah pelan, lalu menelannya. Mengangguk dengan wajah merona, "Oh, kau benar. Ini enak," dengan senyum manis.
Sementara Fang menangis haru dalam hati, 'Uh, tak sia-sia koki itu kumarahi sampai habis—'
Gempa mengambil piring itu dari tangan Fang, dan mulai makan. Mereka bersantap bersama, sampai pidato Raja menghentikan kegiatan makan mereka.
.
.
.
.
Suara garpu membentur lantai marmer terdengar. Fang seketika menoleh pada Gempa.
Wajah Gempa pucat, ia menatap kosong sang Raja yang berada di atas podium. "Gak—Gak mungkin... Aku... Aku gak mau!"
Fang mengangkat tangannya, mencoba menggapai tangan Gempa.
"Gak! Aku gak mau jadi Pewaris Tahta!"
Gempa menepis tangan Fang, lalu pergi meninggalkan ruang dansa.
.
.
.
.
.
.
.
BASH!
WOOSH!
"HAH! HIAH! SORYAH!"
Taufan mengangkat katana-nya, lalu menatap tajam salah seorang prajurit, "OI! Angkat sikumu, pemalas! Kalau kau seperti itu, kulempar kau ke kandang Harimau! Dasar tak berguna!"
Air duduk di pinggir halaman barak prajurit istana, menyangga dagunya dengan tangan ke gagang kursi. Ia menatap datar barisan prajurit yang sibuk berlatih menendang, pedang, memanah. Sambil menyila kaki di bawah teduhnya payung istana, Air mengemut sedotan di gelas jusnya, tanpa mengisapnya sedikitpun.
"Kak Taufan keren, ya?!" semarak Pangeran Api, melompat ke pinggir kursinya, lalu duduk di sandaran tangan kursi Air.
"Hm," Jawab Air dengan tatapan mengantuknya. "Tapi kalau lagi ngelatih gini, kayaknya dia malah jadi mirip Kak Hali, ya. Galak-galak sok wibawa gitu..." Air mengutarakan opininya dengan gaya mencibir.
Pangeran Api tertawa puas, "Ahahaha! Kau benar!"
"Dia tak seperti aku."
Sebuah jitakan mendarat indah di kepala Air. Air hanya mendangahkan dagunya, menatap sang penjitak dengan tatapan malas.
"Mirip, kak. Liat sendiri. Kakak kan suka galak-galak gitu. Sok-sok wibawa gitu," tunjuknya pada Taufan, dengan tatapan datar, dan, ya. Sebuah benjolan di kepala.
Halilintar menatap yang ditunjuk, lalu memalingkan wajahnya. "Hmph, dia tak ada apa-apanya dibandingkan aku."
"Tuh... tuh... tuh kan," Air mengerjap, "Mulai, kan. Sok wibawanya keluar."
Air kena jitakan lainnya, sementara Api hanya me-'pukpuk' saudara tirinya itu—dengan tampang ceria tentunya.
Halilintar hela nafas. "Lalu, bagaimana dengan Gempa? Kau sudah bicara dengannya?"
Air melempar tangan yang menepuk pundaknya dengan prihatin tadi. Api tak peduli, ia malah kini berlari ke arah lapangan untuk menghampiri Taufan.
"Udah, dan... yah, Kak Hali tau. Kak Gempa bukan tipe Pangeran yang mudah dibujuk soal tahta. Lagipula.. sepertinya ia marah pada Kak Fang."
Halilintar menaikkan alis kirinya, "Fang? Kenapa?"
"Ada kabar yang menyebar setelah perjamuan Eschotta beberapa hari yang lalu, bahwa Kak Fang-lah yang meminta Raja untuk membuat kebijakan ini."
Halilintar duduk, di kursi sebelah Air. "Jadi... Maksudmu ayah merubah tradisi selama 200 tahun, hanya karena permintaan salah satu putranya?"
Air menatap Halilintar dengan tatapan jengah, "Kau bukan sedang kesal karena kau sekarang punya pesaing untuk menjadi Raja, kan?"
Halilintar melempar tangannya ke udara, "Enggak. Aku gak terlalu peduli dengan tahta, sejujurnya. Aku hanya merasa bahwa aku harus selalu siap, jika memang aku yang terpilih jadi Raja. Jika tidak, ya sudah. Aku tak berhak melawan titah ayah."
" 'Bersedia di semua jenis badai', seperti prinsip Prajurit Signaria, eh?" Air mengaduk gelasnya. "Sejujurnya, Kak, aku berambisi untuk menjadikan Kak Api seorang Raja. Apa... kakak gak takut, kalau kami bersaing melawan kakak untuk mendapat tahta itu?"
Halilintar melipat kakinya, menopang dagunya. Gaya duduk yang selalu ia tunjukkan, saat berpikir. Sesaat kemudian ia menyeringai.
"Apa itu deklarasi perang? Kau yakin kau sanggup melawan Taufan?"
Air termangu sebentar, matanya menyipit singkat, tanda bahwa ia benci pertanyaan itu.
"Kalau aku memang menyatakan deklarasi perang, apa jawaban kakak."
Halilintar mendangah, ia menatap ke arah Taufan yang kini malah tampak lebih sibuk melatih Api ketimbang anak buahnya sendiri. "Aku harus sanggup di segala keadaan, bukan?" Halilintar kemudian menatap Air yang sedang menyesap gelas lemonnya. "Dan aku tak yakin kau bisa menang melawan Taufan. Dia tiga tahun lebih berpengalaman di medan perang, ketimbang dirimu."
.
.
.
Air menunduk sejenak, lalu menaruh gelasnya di meja. Ia berdiri, lalu berjalan dengan gaya malasnya ke tengah barisan-barisan prajurit. Mata Halilintar tak hilang lekat dari sosok pria kecil itu.
DAM!
.
.
Sebuah dentuman terdengar dari bawah tanah, tepatnya di bawah kaki Air.
.
.
.
.
Halilintar mendelik.
"SIAL! KALIAN SEMUA, LARI DARI SANA!"
.
.
Taufan yang memiliki refleks insting yang sama dengan Halilintar, segera memindahkan semua prajuritnya dengan sihir angin topan, dan membawa mereka ke pinggir lapangan latihan.
Seketika setelah itu, tonjokan pusaran air berdiameter dua meter, muncul dan memecahkan tanah. Jika saja Taufan tak menyelamatkan para prajurit Signaria, tentu mereka sudah terkena hantaman pusaran air besar itu.
Menyadari itu perbuatan sang adik, Taufan menghardik, "AIR! APA YANG KAULAKUKAN, BODOH—"
Kata-kata Taufan terhenti saat ia mendangah, dan bertemu pandang dengan tatapan Air yang bernada meremehkan dari atas bola air.
"Bertarunglah denganku, Kak."
Halilintar dan Taufan terkejut. Sementara Blaze yang sempat terkena cipratan air adik angkatnya, hanya memperhatikan sambil menyeringai penuh kebanggaan.
"Ap—Bodoh, mana mungkin aku—"
Belum lagi Taufan mengeluh, sebuah lumba-lumba dari air sudah menghantam perutnya, dan membawanya terhempas ke udara.
"GOHOOOK—!"
"TAUFAN!" Halilintar hendak masuk ke arena dan membantu pangeran penjaganya, namun sebuah ledakan api di kaki Halilintar membumbung cepat dan menghalangi sikap pedulinya. Halilintar melompat salto, kemudian mendarat di tanah dengan lututnya yang menggeret tanah.
"API! Apa yang kaulakukan—!"
"Jangan mengganggu."
"Enggak—Ini udah keterlaluan—"
Saat Halilintar hendak berdiri dan kembali ke arena, Api melompat ke udara, melayang di sana, lalu melemparkan beberapa bola-bola api ke arah Halilintar. Halilintar menoleh, dan api-api itu sudah berada di depan wajahnya.
DUARR!
"HALI—!" Taufan berteriak payah, memegang perutnya, bertekuk di tanah. Tapi tak ada waktu bagi Taufan untuk mempedulikan Halilintar saat ini. Karena yang berjalan ke arah Taufan, kini sedang mengaktifkan level kedua dari sihirnya.
"Level Two, Water Spell: Ice," Air membuka matanya, matanya berubah terang dan bercahaya. "Meriam Pembeku."
Taufan mendelik, seiring ia melihat bulir-bulir air di sekitar Air, membeku menjadi butir es, lalu berkumpul di tangan Air. Taufan kenal, sihir pamungkas Air itu. Dan ia tak sangka level tertinggi sihir adik angkatnya yang paling dekat dengannya itu kini terarah padanya.
Taufan kini sadar, bahwa adiknya serius melawannya.
.
.
.
Api melayang di udara, dilihatnya asap mengepul di daerah sasaran tembaknya tadi. Namun sesaat setelah debu dan asap itu lenyap, Api kaget Grand Prince tak di sana. Ia mengernyit, matanya mulai waspada memindai sekeliling.
"Kau tiga tahun terlalu cepat untuk melawanku," Halilintar menyeringai di telinga Api. Mata Api membelalak lebar.
Belum selesai refleks Api untuk menghindari, tapi ia sudah terkena tendangan kilat di pinggang hingga harus membuatnya terlempar ke pagar tembok latihan.
.
.
"TEMBAKAN PEMBEKU!"
Cahaya biru berkumpul di ujung meriam es di tangan Air. Taufan mengerling cepat. Ia melompat ke udara, lalu memblokir cepar serangan tembakan Air dengan dinding angin topannya. Ketika cahaya tembakan pembeku itu hilang, Taufan mengambil kesempatan untuk memungut pedang Furrygale nya yang tadi terlempar akibat serangan pertama Air. Taufan membuka pedang itu, namun gerakannya terhenti, ketika sebuah suara mengejutkannya.
.
.
"KALIAN—HEY!"
Kegiatan pertarungan berhenti. Halilintar, Api, Taufan dan Ice kontan menoleh. Muncul dari balik pagar latihan, Fang yang tergopoh-gopoh turun dari elang bayang.
"Apa yang kalian lakukan, bodoh?! Kenapa malah bertengkar sendiri?!" Fang menghardik dengan suara serak.
"Huh? Tidak… Kami hanya—"
Lalu mereka berempat saling pandang.
"Kita cuman latihan, kan? Barusan?" Taufan nyengir ceria. Yang lain mengangguk polos, kecuali Halilintar yang bengong di tempat.
"HAH?"
Air menatap Halilintar datar. "Latihan, kok. Aku biasa begini sama Kak Taufan," tanggapan itu disambut anggukan polos dari Taufan.
"…kok."
Halilintar tak mengerti, lalu menatap Api yang tadi ditendangnya, kini sudah duduk sila di atas puing-puing tembok pagar istana yang hancur. Ia tertawa-tawa.
"Iya, memang. Kak Hali gak tau? Makanya aku tadi mau mencegah Kak Hali."
"MENCEGAH APANYA, BRENGSEK. KAU HAMPIR MEMBUAT WAJAHKU GOSONG!" Halilintar sewot.
Api mengangkat bahu santai, "Ah, woles, aku tau kakak gak akan mati hanya karena ledakan picisanku itu."
"HAH?" Halilintar tak paham, setelah ingat sesuatu, Ia kemudian berpaling ke arah Taufan, "Te—terus, perutmu yang kena hantaman tadi gimana?"
Taufan menepuk perutnya, "Ini sih, udah biasa. Lagian, itu tadi cuman akting, kok. Biar Kak Hali peduli. Tehee~"
"…BANGS—"
Halilintar merasa bodoh sekarang.
"ARRRH—" Fang mendumel kesal memotong pembicaraan semua orang, "Kita gak punya waktu soal ini! Gempa menghilang!"
.
.
.
"APA?"
.
.
Bersambung.
.
.
[TRIVIA DARI AUTHOR]: Mungkin banyak sekali istilah dan alur cerita yang akan kalian susah pahami di dua chapter ini (coretauthordekilinijugakadanggakpahamkokcoret). Tapi yang seperti saya jelaskan di A/N sebelum chapter ini, jenis-jenis ilmu bertarung di Signaria Universe ini agak berbeda dengan alur serial Boboiboy aslinya. Yaa, aku membedakan ke dalam macam-macam jenis tipe. Yang pertama adalah sihir. Sihir di sini bukan merupakan kekuatan terlarang, dan Signaria merupakan negara yang bebas bersliweran(?) penyihir-penyihir dari seluruh benua Eschotta. Dari ke-6 pangeran uhukgantenguhuk kita, yang memiliki ilmu istimewa jenis sihir adalah Air, Api, dan Taufan.
Yang kedua, adalah jenis ilmu bela diri. Maksudnya, tidak melibatkan sihir dan murni dari latihan fisik. Pangeran yang punya ilmu ini adalah Halilintar. Mengingat peraturan Signaria yang mengatakan Royal Prince gak boleh belajar sihir (walopun Api akhirnya melanggar), jadi Halilintar hanya bisa ilmu bela diri. Tapi—jangan salah. Walaupun hanya bela diri, Halilintar punya gerakan yang paling cepat seperti kilat. Yaa, sama kayak serial aslinya lah. Tapi itu bukan sihir. Itu murni dari latihan Halilintar sendiri yang bertahun-tahun lamanya pakai pemberat di kaki dan tangan. Jadinya dia bisa bergerak cepat akibat itu.
Lalu bagaimana dengan Fang dan Gempa? Untuk dua orang itu akan saya rahasiakan sampai chapter selanjutnya.
.
.
Sekian saja untuk chapter kali ini, kalo ada pertanyaan yang membingungkan, monggo ditanyakan via review (ato yang kenal sama saya di FB, boleh tanya via PM).
.
.
See you next chapter!
