Disclaimer: Boboiboy milik Monsta, broh.

A/N: Chapter empat yang ane buat kepanjangan. Jadi ane bagi ke dua chapter langsung. Enjoy.


.

.

.

.

.

.

"APA? MENGHILANG?"

Semua saling membelalak kaget, dan mulai menghampiri si Pangeran Berkacamata dengan wajah panik. Kenyataan bahwa Gempa adalah satu-satunya pangeran terlemah di antara mereka, mambawa bayangan kekhawatiran di bawah alam sadar mereka.

"Bagaimana bisa menghilang? Mungkin kau belum jelas mencari?" Halilintar memburu.

"Tu—tu—tunggu, kau pasti salah liat, matamu kan empat! Pasti salah liat!" Taufan menghakimi seenaknya.

Fang tersulut emosi, "Heh, enak saja kau kalau ngomong, aku sudah mencarinya seluruh istana. Tapi tidak ketemu," Fang kemudian menyodorkan sebuah kertas yang sedari tadi berada dalam genggamannya. "Tapi aku menemukan ini di kamar Gempa."

Api merampas kertas itu, lalu membacakannya.

.

.

"Salam sayang, untuk saudaraku.
Aku malu mengakui ini, tapi… aku rasa keputusan ayah berlebihan. Dengan berat hati, aku akan meninggalkan istana ini dan pergi mengelana sendirian.
Jangan cari aku.
Tertanda,
The Mesial Prince, Gempa.
"

.

.

Pangeran Api membulak-balikkan kertas itu. "Itu saja?"

Fang menatap semua pangeran utama dan pangeran penjaga dihadapannya.

"Kalau kalian kenal sifat Gempa, aku yakin kalian paham."

Halilintar mengusap dagu, sedang tangan lainnya bertolak pinggang. Ia menatap Fang tanpa ragu. "Ya… Surat ini palsu."

"Palsu? Tau darimana?" Taufan mengintip kertas di tangan Api.

Halilintar menunjuk nama di bawah tanda tangan Gempa, "Gempa nggak pernah menggunakan nama 'Mesial Prince' saat membuat surat yang ditujukan untuk kita atau penghuni istana yang lain. Kau ingat waktu dulu kita berenam saling mengirim surat menggunakan kertas sihir Cryptoc?"

Taufan memukul tangannya, ingat. "Oh, ingat! Ah, ya—aku suka kertas sihir itu. Kau hanya tinggal menuliskan apa yang ingin kau katakan, kemudian menuliskan nama di bawahnya dan poof!, tulisan itu hilang, lalu muncul di kertas Cryptoc lain yang kau tuju," Taufan tertawa senang, teringat dengan reaksi pertamanya saat menggunakan Cryptoc pertama kali.

Halilintar mengangguk, "Kemudian kertas Cryptoc itu disita kerajaan karena banyak digunakan anak-anak untuk berbuat curang saat ujian."

Fang menatap semuanya, "Selain itu, aku tau Gempa. Seberat apapun jalan atau keputusan Yang Mulia Raja, ia takkan lari seperti ini."

"Kakak benar. Kak Gempa bukan tipe pengecut, meski ia yang paling buruk kesehatannya di antara kita," Air mulai angkat bicara, lalu menyadari sesuatu. "Oh, Itulah kenapa Kak Fang datang menemui kami—benar juga. Kalau Kak Gempa hanya menghilang dan pergi dari Istana, aku yakin Kak Fang akan mencari dan membawanya sendiri ke istana."

Fang berkeringat dingin dan mengangguk membenarkan.

"Benar. Tak salah lagi. Gempa dalam bahaya."

.

.

Semua orang menahan nafas. Tak terkecuali Halilintar dan Api yang mulai menggeram, tak kuasa menahan emosinya.


.

.

.

.

.

.

ROYAL x GUARDIAN
BOOK 4

"The Cryptoc's Message"

.

.

.

.

.

Kini mereka berkumpul di kamar tidur Gempa, mencari petunjuk lain yang akan memberitahu mereka mengenai identitas penculik Gempa—seperti jejak sepatu atau yang lain—namun semua usaha hanya menghasilkan tangan kosong tanpa bukti apa-apa. Mereka akhirnya memutuskan untuk berhenti, dan sekedar berdiskusi. Taufan dan Api berjalan bolak-balik tidak tenang, sementara Air hanya melipat kaki, duduk tenang di atas lemari pakaian Gempa.

"Dengar, aku tau mungkin ini terdengar gila, tapi kita tak bisa biarkan Raja dan Ratu tau soal ini," Fang merendahkan suaranya, tangannya masih bergerak mencari petunjuk di salah satu sudut kamar Gempa. Ia terhenti sebentar, lalu menatap keempat saudara angkatnya yang lain dengan hati-hati.

Halilintar yang masih mencari petunjuk di sekitar rak buku Gempa, mendengus pelan. "Aku tahu. Kalau Papa dan Mama tahu soal ini, mereka akan panik, lalu akan terjadi kehebohan besar."

Air menunduk, menatap kakak pertama, "Dan jika itu terjadi, sang penculik akan semakin jauh dari kita. Kita masih belum tahu seperti apa penculiknya—bisa jadi seorang penyihir atau bahkan bangsawan pejabat tanah dari Signaria sendiri," ia menahan nafas, suaranya agak tertahan, "Atau bahkan mungkin dari serikat kerajaan lain selain Persatuan Eschotta."

"Entah kenapa aku cukup yakin penculiknya seorang penyihir—penyihir hebat," Fang menekan kacamatanya, "Jika tidak, bagaimana ia bisa menembus sistem penjagaan Istana Signaria yang paling aman seluruh Eschotta dengan mudah?"

"Istana ini dijaga oleh sihir ibuku, Lady Hannah. Ia sudah menghabiskan 27 tahun hidupnya untuk membuat barrier sihir tembus pandang terkuat sepanjang sejarah dunia sihir," Taufan berhenti, menatap Fang dengan tatapan sedikit merasa terhina, "Apa kau ingin bilang bahwa kematian ibuku untuk menciptakan barrier ini akan mudah ditembus seorang penyihir?"

Halilintar yang melihat Taufan mulai tak karuan, menjentikkan jari telunjuk ke dahi Taufan.

"Aw! Hali! Apa-apaan sih!"

"Tenanglah," Halilintar melipat tangannya di belakang tubuh. "Kita semua di sini tidak meragukan sihir ibumu. Kita semua di sini tahu, barrier yang ibumu ciptakan untuk istana tak bisa ditembus oleh siapapun. Satu-satunya yang perlu kita khawatirkan di sini adalah…" Halilintar menatap saudara-saudaranya. "Adanya pengkhianat di dalam istana."

Air mengerutkan bibirnya, berpikir, "Kak Hali benar. Jika barrier Signaria memang sulit untuk ditembus—kemungkinannya hanya tinggal satu. Ada yang membantu para penculik itu untuk menembus barrier dari dalam."

Fang duduk di atas kasur Gempa, melipat tangannya. "Kalau begitu teorinya, penculiknya bisa siapa saja, kan? Tak perlu penyihir hebat."

"Ah—kau benar—Bukannya mempersempit kemungkinan—kita malah memperluas dugaan. Duh—jadi tambah susah cari pelakunya."

"Hmm…" Semuanya terdiam, kemudian, kembali ke mode berpikir masing-masing. Termasuk Halilintar yang kembali ke kegiatannya untuk membuka buku Gempa satu persatu dari mulai buku-buku di jajaran rak, hingga ke meja baca. Halilintar menatap meja kayu itu, lalu membuka lacinya satu persatu. Hingga ke laci terakhir, Halilintar gagal membukanya.

Halilintar mengernyit, ia memperkuat tarikannya pada laci itu—namun tetap tak terbuka.

"Hey," semua orang berpaling pada Halilintar, "Kenapa laci ini terkunci?"

"Hm?" Taufan menghampiri, "Mungkin ada sesuatu yang berharga di dalamnya?"

Fang ikut menghampiri. "Aneh, aku tak yakin Gempa punya sesuatu yang sangat berharga sampai dikunci rapat."

Api dan Air melompat ikut menghampiri, "Mungkinkah buku diary?" sorak Api dengan tampang usilnya.

"Kamu pikir Gempa cewek?" Fang kesal, lalu mengusir semua orang dari jangkauan meja baca Gempa, "Sudah—sudah! Apapun itu, kalau terkunci rapat, berarti Gempa tak ingin siapapun melihatnya! Jangan dibuka!"

"Kau tak ingin melihatnya, Kak Fang?" tanya Air.

"Hmph. Aku ini orang istimewa yang ditunjuk sebagai pangeran penjaga untuk Gempa. Aku akan menjunjung tinggi tugasku melindungi Gempa, bahkan privasinya sekali—"

Air menyeringai, memotong, "Siapa tahu dalam diary Kak Gempa ada namamu, Kak."

Fang mendelik cepat dengan semburat merah.

"UNTUK KEPENTINGAN NEGARA, MARI KITA BUKA, AIR."

"…Kepentingan negara 'ndasmu," Taufan dan Halilintar menatapnya malas.

Air tertawa puas, lalu melangkah ke depan laci.

"Level Two, Water Spell: Ice," Air menaruh telunjuknya di depan lubang kunci laci, "Ice Shape," bulir-bulir air berkumpul di sekitarnya kemudian masuk ke dalam lubang kunci. Setelah yakin air sudah memenuhi lubang kunci, ia membekukannya agar es tercetak sesuai bentuk lubang kunci. Ia memutar jari telunjuknya, dan kunci pun terbuka tanpa ada kekuatan paksa.

"Woah… andai Pangeran Penjagaku seberguna kau, Air," Halilintar memuji sambil melirik Taufan.

"Geh—Awas kau Hali. Takkan kutolong lagi kau bicara pada wanita," Taufan bergumam protes.

Sesaat setelah laci terbuka, Api dan Fang langsung melongok ke laci. Mereka melihat setumpuk kertas berwarna putih kekuningan kosong, tergeletak agak berantakan.

Api menatap kecewa, lalu mengambil kertas-kertas itu. Dibulak-balikkannya kertas itu, tapi kertas itu ternyata kosong. "Hah… apaan. Jadi bukan diary, toh? Keh, membosankan."

Keempat Pangeran yang tadi tampak antusias, kini menatap malas laci itu. Bahkan Air merasa ia telah menyia-nyiakan tenaga sihirnya percuma. Mereka pun membubarkan diri, melanjutkan kegiatan pencarian petunjuk yang tertunda. Demikian pula dengan Pangeran Api. Namun, ketika sang pangeran hendak menaruhnya kembali ke dalam laci, sebuah tulisan dengan tinta berwarna merah—mirip darah—tiba muncul. Api mendelik dan merinding cepat. Hampir saja ia lempar kertas itu dari genggamannya, jika saja isi dari tulisan itu tak menarik perhatiannya duluan.

.

.

.

"Pelabuhan Delianna, Thremor."

Pangeran Api mendelik.

.

.

.

"Uhh—guys?" Panggil Api, mengangkat tangannya, melambai pada saudara-saudara tirinya. Meski awalnya mereka menyipitkan mata karena mencurigai gerakan gugup Api, tapi pada akhirnya mereka tergerak oleh rasa penasaran terhadap tatapan Api yang menatap kertas di tangannya dengan ekspresi harap-harap cemas.

Fang melongokkan kepala, menatap kertas itu, lalu mendelik. "I-Ini… Tulisan Gempa! Tak salah lagi!"

"Bukannya tadi gak ada tulisan apa-apa? Kenapa tiba-tiba ada tulisan?" Halilintar menaikkan alis kirinya, namun tatapan Taufan padanya, membuatnya sadar. "Kau benar, ini pasti kertas Cryptoc. Sudah lama sekali aku tak melihat benda ini, aku jadi lupa. Kupikir Kerajaan sudah memusnahkan semuanya."

"Aku salut Gempa masih punya benda ini…" Gumam Taufan memperhatikan kertas itu.

"Daripada itu… bukankah ini artinya Gempa sedang menulis pesan dari suatu tempat?" Fang mengambil kertas itu, lalu duduk di kursi baca Gempa. "Kita harus mengirimkan pesan kembali padanya."

"Benar," Yang lain setuju dengan keringat dingin di wajah masing-masing. Sementara Fang mengambil pena bulu angsa yang tertanam di botol emas, di sisi meja Gempa. Namun saat Fang hendak menulis balasan di kertas itu, sebuah tulisan baru muncul mendadak tepat di bawah tulisan sebelumnya.

.

.

"Tinggal 7 hari lagi sebelum mereka benar-benar membawaku ke Lohlia. Aku butuh bantuan."

.

.

Bwush…!

"E—EH?!"

Kertas itu tiba-tiba terbakar dalam kobaran api berwarna ungu bungur setelah mereka membacanya, tepat di depan wajah Fang. Kertas itu kemudian menghilang di udara. Semua orang terdiam dengan wajah kalut, melihat satu-satunya petunjuk mereka menghilang.

"Cryptoc hanya akan terbakar seperti itu jika kertas cryptoc pasangannya yang lain juga dibakar dengan cara yang sama. Gempa pasti menghancurkan kertas Cryptoc-nya tepat setelah ia menulis," Taufan berkomentar, "Beruntung kita menemukan ini tepat saat ia menulis."

Fang mengernyit. "Jika Gempa sampai repot-repot menghilangkan barang bukti seperti itu, artinya ia tak mau seseorang melihat ia menulis itu. Tak salah lagi, ia memang sedang dalam masalah. "

"Tapi siapa yang ia maksud dengan 'mereka'?" ujar Air penasaran.

"Kita takkan tahu sebelum ke sana dan menyelamatkannya," Halilintar menyergah, "Sementara ini, cukup kita asumsikan bahwa yang Gempa maksud dengan 'mereka' adalah orang-orang yang membawa dan menculiknya pergi dari istana saja."

"Ba—bagaimana ini? Kita ke sana sekarang?" Api mulai panik. "Tidak ada waktu lagi, Pelabuhan Delianna sangat jauh, itu membutuhkan waktu 3-4 hari untuk tiba di sana dengan kereta kuda tercepat sekalipun. Sedangkan batas waktu kita hanya 7 hari."

Halilintar menatap Fang, "Apa sihirmu tak bisa membawa kita untuk pergi kesana lebih cepat?"

Fang menggeleng masam, "Kekuatan sihirku tak bisa bertahan lebih dari 32 jam, kalaupun kita bisa kesana dengan Elang Bayang, aku hanya bisa mengangkut dua orang."

Tatapan Halilintar berpindah ke Taufan.

"Empat hari… ya… Hooverboard-ku hanya bisa bertahan satu hari saja… Dan hanya bisa mengangkut satu orang," gumam Taufan.

"Aku akan pergi sendiri." Usul Fang tiba-tiba, dan berhasil mengundang respon tajam dari saudara-saudara tirinya.

"Jangan gegabah," Halilintar memotong cepat, "Kita masih belum tahu seperti apa musuh kita."

"Kak Hali benar, Kak Fang," Air melangkah, menghalangi Fang yang mulai mengangkat kaki hendak pergi dari ruangan itu. "Meskipun kita adalah Pangeran Penjaga terbaik di Eschotta, kita tak boleh meremehkan musuh kita."

Fang mendelik.

"JADI BAGAIMANA?! APA KAU AKAN MEMBIARKAN GEMPA SENDIRIAN DI SANA BEGITU SAJA?!"

"Bukan begitu," Air mengeluarkan sihir penenang di tangan, "Kita takkan bisa menyelesaikan masalah jika kau panik, kak," lalu meletakkannya di dada Fang. Beberapa saat kemudian, otot-otot tegang di wajah Fang melemas. Fang menarik nafas, kemudian kembali terduduk di kursi. Ia menatap kertas cryptoc lainnya yang berserakan dengan tatapan menggantung tanpa arah.

"Maaf," Fang memijat pelipisnya gusar, namun dengan ekspresi dan perasaan yang lebih tenang. "Sebagai Guardian Prince, tentu paham perasaanku, kan?"

Taufan dan Air saling berpandangan, lalu tersenyum kecil ke arah Fang, "Kami paham, tentu saja."

Senyum mereka membuat Fang yang ketus dan galak sedikit terhibur.

"Pendusta. Bukannya kau malah bahagia kalau aku diculik dan mati, Taufan."

"Kok… Tahu?" Taufan nyengir ke arah Halilintar, lalu mereka bertengkar sendiri, dengan Api sebagai wasitnya.

"Abaikan mereka," Tatap Air datar ke pemandangan gaduh di belakangnya, lalu beralih ke Fang. "Jangan kuatir, kak. Kita akan selamatkan Gempa dan pergi bersama-sama."

Saat Fang hendak mengangguk setuju dengan ide itu, suara Api mengalihkan perhatiannya.

"Uh-oh, itu ide yang buruk, Air," katanya dengan peluit wasit di bibir.

Halilintar berhenti bertengkar dengan Taufan, setelah sebuah cakaran kuku hasil jerih payah Taufan padanya menggaris jelas di pipi. "Api benar, Air. Jika kita pergi bersama-sama, Raja akan curiga."

Taufan bangkit, membersihkan bajunya. "Tapi jika kita tak pergi bersama, aku tak yakin kita akan mudah menyelamatkan Gempa."

Fang mengangguk setuju, lalu menjentikkan jarinya. "Bagaimana jika kita pergi dengan waktu yang berbeda? Dengan alasan masing-masing, aku rasa Yang Mulia takkan curiga."

Semua orang memiringkan kepalanya.

"Begini, kita memiliki waktu 7 hari untuk menyelamatkan Gempa. Tapi kita butuh waktu empat hari dengan berjalan, dan tiga hari dengan kereta kuda. Aku rasa jika kita berangkat selang sehari atau setengah hari, kita masih bisa mengejar yang berangkat duluan, dan masih sempat menyelamatkan Gempa. Bagaimana?"

Halilintar dan Air mengangguk paham, sementara Api dan Taufan mengosongkan pikiran dengan nestapa. Air sweatdrop melihat tingkah kedua saudara angkatnya itu, dan akhirnya menjelaskan dengan kalimat yang lebih sederhana.

"Err, intinya begini, kita akan berangkat dengan hari yang berbeda, supaya Yang Mulia gak curiga."

"Dan siapapun yang berangkat duluan, harus menunggu kedatangan yang lain di titik pertemuan. Jangan bertindak gegabah sendiri. Kita akan menyusun rencana di sana," Halilintar menambahkan.

"Oooh~" Api dan Taufan akhirnya mengangguk paham.

"Jadi? Dimana kita akan bertemu nanti?" Api memburu.

Fang menatap sekeliling kamar Gempa, lalu menghampiri peta dunia berpigura—kira-kira berukuran A1—yang terpaku ke dinding. Fang memindai peta tersebut, kemudian menunjuk salah satu tempat. Semua ikut memperhatikan ketukan telunjuk Fang.

"Delianna adalah ibukota Thremor. Pelabuhan Delianna ada di sini," Ia menunjuk salah satu ujung daratan dekat teluk Odeesa. "Kita akan bertemu di kota sebelum Delianna. Kota Totis," ia menggeserkan jarinya tak jauh dari Delianna. "Ini kota kecil, jadi akan mudah menemukan satu sama lain di kota ini. Tapi… kita perlu menyamar, dan pastikan tak ada orang yang mengenali kita. Jika kita ketahuan ada di sana, kita akan mati. Karena jika berita mengenai keberadaan kita ada di negeri orang tanpa penjagaan, selain akan mengundang musuh Signaria, kita juga akan mengundang Kerajaan Thremor untuk turun tangan." Fang memberi jeda, menarik nafas.

"Kemudian, berita mengenai kita ada di negeri orang, akan sampai di telinga Yang Mulia Abaross. Kehebohan akan terjadi di seluruh negeri, kemudian kita akan kehilangan Gempa lebih cepat dari 7 hari jika penjahat kita tahu."

Keempat saudaranya yang lain meneguk ludah, enggan membayangkan kemungkinan terburuk apa yang akan terjadi pada saudara mereka yang wataknya paling lembut itu.

"Oke, siapa yang akan berangkat di hari pertama?" Fang membuka topik baru. "Ngomong-ngomong aku akan berangkat terakhir, karena dengan elang bayang aku bisa sampai hanya dalam dua hari."

Air mencibir dengan suara pelan, "Kedengaran menyebalkan bagiku—entah kenapa."

"Oh, ayolah, Air! Meskipun kita tak bisa terbang tapi kita bisa berpetualang bersama!" Api merangkul Air penuh semangat—sedangkan yang dirangkul hanya menatapnya dengan wajah ngantuk.

Halilintar berpikir sebentar. "Aku gak yakin untuk membiarkan kombi Api dan Air pergi duluan, Fang."

Fang menatap setuju pada Halilintar, "Ya, kau benar. Kota Totis akan jadi genangan abu sebelum kita tiba."

Halilintar mengangguk dengan keringat dingin membayangkan itu terjadi, lalu hela nafas.

"Baiklah, aku dan Taufan akan berangkat duluan siang ini juga. Berhubung kami sering keluar istana lebih dari seminggu untuk berburu, jadi rasanya kami tak perlu repot-repot menyiapkan alasan untuk pergi. Aku tak akan membawa kereta kuda istana, karena kereta kuda istana menyita perhatian. Jadi, kemungkinan kami akan tiba di Totis dalam 4-5 hari." Halilintar mulai beranjak dari tempatnya.

"Hmmm…" Taufan mengusap dagunya, "Sepertinya ada satu hal yang kita lupa."

Halilintar menaikkan alis kirinya, "Apa itu?"

"Bagaimana kita menjelaskan pada Ayah dan Ibu soal ketidakhadiran Gempa di istana? Gempa akan tak berada di istana selama seminggu, lho. Dan… kalian tau, kan? Gempa tak pernah keluar dari istana, tentu keberadaannya akan ditanyakan semua penghuni istana."

Mendengar isu baru itu, Air menatap Fang kemudian, "Ada ide?"

Fang menjentikkan jari, "Kalian tak perlu kuatir soal itu, biar aku yang atur."

Yang lain memiringkan kepalanya, meminta penjelasan rinci, tapi Fang hanya tersenyum.

Halilintar hela nafas, menggaruk kepala belakangnya. "Baiklah, soal itu, aku percayakan padamu, Fang," ia mulai melangkah menghampiri pintu. "Ayo Taufan, kita siap-siap."

"Eh, Tunggu," Fang menghentikan langkah Halilintar dan Taufan, lalu menoleh ke arahnya. Fang mengambil beberapa kertas Cryptoc yang tersisa di laci Gempa, lalu membagikannya. "Setiap orang dapat satu. Dan ingat, jangan sampai hilang. Ini satu-satunya alat komunikasi kita saat berkumpul di Totis nanti."

Keempat Pangeran yang lain mengangguk.

"Oke, sampai jumpa di Totis," ujar Taufan, lalu pergi bersama-sama Halilintar keluar ruangan.

"Baiklah, kalau begitu kita juga siap-siap untuk besok, Kak Api," Air menarik Api keluar kemudian. "Sampai ketemu di Totis, Kak Fang."

Fang mengangguk tepat setelah mereka menutup pintunya, kemudian mengambil foto berpigura kecil di atas meja baca Gempa. Setelah itu, ia menghampiri kasur Gempa, untuk mengumpulkan helai rambut Gempa yang mungkin tersisa di sana.

"…Aku pasti akan menyelamatkanmu, Gempa. Tunggu aku."

.

.

.

.

.


Langkahnya terlihat terburu-buru, tapi kemudian wajahnya berubah cerah ketika ia menjumpai seseorang.

"Ochobo!"

Ochobo yang sedang mengatur pelayan lain mempersiapkan meja makan untuk jadwal makan siang, menghentikan pekerjaannya sebentar lalu tersenyum ke arah Fang.

"Ya, Master Fang?"

"Apa benda Silosh itu masih ada?"

Ochobo terlihat terkejut, ia melirikkan matanya ke kiri dan ke kanan canggung, lalu berdehem dan berbisik. "Master, dengan segala hormat. Kenapa kau menanyakannya?"

Namun Fang kelihatan belum siap menjelaskan, ia malah balik bertanya. "Apa Raja dan Ratu ada di istana hari ini?"

Ochobo menggeleng, "Tidak, master. Mereka ada pertemuan dengan beberapa pejabat tanah wilayah barat, baru kembali ke istana setelah makan siang."

"Bagus," Fang tersenyum. Ochobo heran melihat senyum itu.

"Aku membutuhkannya. Antarkan aku ke tempat benda itu sebelum mereka kembali ke istana, setelah makan siang nanti."

"Ah—tapi, master—"

Fang yang terbiasa menghardik, kini menahan emosinya rapat-rapat. "Akan aku jelaskan nanti, asal kau berjanji padaku tidak memberitahukan ini pada siapapun."

Tak mendapat reaksi marah atau hardikan dari lawannya, Ochobo memiringkan kepalanya, bingung. Ochobo bertambah yakin telah terjadi sesuatu. Ia pun hanya bisa menundukkan kepalanya sopan, tanda setuju.

.

.

.

.

.

.

"Jadi… Ini yang namanya Silosh?"

Fang mendangah, mencoba melihat puncak dari benda raksasa di hadapannya. Sebuah benda dengan tabung kaca di tengahnya, setinggi tiga meter. Di puncak tabung, terdapat tiga antena yang berbentuk spiral pipih, hampir seperti mata alat pengocok adonan roti. Tatapan Fang beralih pada jajaran mesin yang tertutup kain putih pucat. Ia menyibakkan kain itu, kemudian terbatuk akibat debu-debu yang melayang.

"Biar saya bantu, Master," Ochobo menawarkan diri, ia membuka kain-kain itu, lalu melipat dan menaruhnya ke tempat aman, jauh dari jangkauan Fang.

Mata Fang berbinar melihat mesin-mesin operandi itu. Mesin-mesinnya penuh dengan tombol-tombol kompleks dengan beberapa layar kaca monitor.

"Apa yang anda lakukan dengan ini?" Ochobo menagih janji cerita.

"Kau mau bersumpah takkan mengatakannya pada ayah dan ibu?" Fang mengibaskan jubahnya, lalu duduk di kursi depan mesin itu. Pada awalnya Ochobo kelihatan ragu, namun kemudian ia tersenyum seperti biasanya.

"Aku berjanji, master, jika itu untuk menyangkut kedamaian Signaria."

Fang menarik nafas, tangannya yang tadinya sibuk meraba tombol-tombol itu, kemudian terhenti dan mengepal. "Pangeran… Pangeran Gempa telah dibawa lari seseorang."

"…Eh?" Ochobo melongo beberapa saat. "Ada orang yang mau mengajaknya kawin lari selain Master Fang?"

Wajah Fang memerah terang dan kontras. Ia melotot malu mendengar lawakan receh dari butler setia kebanggaan Signaria itu. "Haruskah kutelan kau dengan sihir bayangku hidup-hidup?"

Ochobo terkekeh kecil, ia tahu masternya takkan melakukan itu—terlebih lagi dengan ekspresi Fang yang berbanding terbalik dengan kata-kata sadisnya. "Maafkan aku, Master. Tapi wajah anda semerah cherry sekarang—pff—" Ochobo berdehem kemudian, kembali ke topik utama, "Jadi, dibawa lari…? Maksud anda…?"

Fang membanting pandangannya, masih kesal dengan gurauan tadi, tapi akhirnya ia menjelaskan dengan lugas. "Gempa diculik orang tak dikenal, dan kini hendak dibawa kabur ke Lohlia."

Ochobo berkedip beberapa saat. Di detik selanjutnya, suara menjerit penuh kepanikan terdengar bergaung di seluruh ruang bawah tanah Kerajaan Signaria.

"Sssstt! Jangan teriak!" Fang menenangkan Ochobo, "Ini rahasia kita, ingat?"

Ochobo menutup mulutnya sendiri dengan cepat, lalu mengangguk paham. "Maafkan aku, master. Apa yang terjadi?"

Fang menceritakan semuanya, dari awal ia menemukan surat itu, sampai rencana para pangeran untuk menyelamatkan Gempa tanpa diketahui Raja dan Ratu, sambil membenahi mesin-mesin yang ada di hadapannya. Ochobo sesekali terkejut mendengar rencana gila pangeran-pangeran yang telah ia layani seumur hidupnya itu, namun tetap menyelingi reaksinya dengan senyum sopan.

"Jadi… untuk itulah anda berencana akan membangkitkan Silosh?"

Fang mengangguk, lalu menatap salah satu layar Silosh dengan penuh arti. "Ya, aku akan membuat hologram Gempa sementara ini menggunakan Silosh. Silosh satu-satunya mesin pembangkit hologram 3D tiruan manusia pertama, atau yang sering disebut dengan 'Holonoia'. Tidak ada satupun di dunia ini yang dapat membedakan hologram tiruan ini dengan yang asli, kecuali hewan dan mereka yang membuat Holonoia tersebut—karena hologram 3D nya dapat disentuh. Ini merupakan penemuan sempurna karya Dr. Kumar."

Ochobo tersenyum dengan gayanya yang sopan. "Tapi… harus kuingatkan soal efek sampingnya, Master."

"…Ya, aku tau," Fang menarik tuas mesin tersebut. Suara derum mesin terdengar, cahaya-cahaya lampu monitor mengontras dan Silosh akhirnya menyala sempurna. "Mesin ini akan memakan ingatan manusia asli yang ditirunya sedikit demi sedikit pudar dan akhirnya akan mengidap Alzheimer selamanya—jika Holonoid tersebut terus diaktifkan selama lebih dari tujuh hari. Itulah sebabnya mesin ini tak dapat digunakan untuk meniru manusia yang sudah mati."

Fang memasukkan foto ke dalam mesin pemindai dekat tabung besar itu, kemudian memasukkan rambut yang tadi dipungutnya ke dalam pipa bening menuju puncak tabung besar Silosh.

"Yang perlu kulakukan hanyalah menyelamatkan Gempa sebelum tujuh hari berlalu," Fang menekan sebuah tombol merah besar, kemudian menarik tiga tuas lainnya di samping tabung besar tersebut.

Suara alarm mesin terdengar, hembusan kabut dingin terisi di dalam tabung setinggi tiga meter itu, hingga menutupi kaca yang mengelilinginya dengan sempurna. Beberapa menit berlalu, mesin tersebut tiba-tiba mati. Fang mengernyit panik.

"Apa? Kenapa ini? Apa mesinnya gagal?!"

Ochobo menggeleng, "Tidak, master," ia menunjuk sopan ke arah tabung lainnya yang berukuran lebih kecil di belakang tabung setinggi tiga meter tadi.

Fang memiringkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas, lalu tersenyum, ketika ia tahu bahwa ia berhasil. Fang menatap sesosok manusia berumur 17 tahun telanjang bulat seperti bayi yang baru lahir itu. Sosok itu kemudian melangkah pelan, berjalan keluar dari tabung tersebut.

Seseorang itu menghampiri Fang, ia tersenyum. "Aku Putra kedua dari pasangan Raja Abaross dan Ratu Elianne. Aku seorang Honorable Prince yang sering disebut The Mesial Prince. Namaku, Gempa. Salam kenal, Fang."

Fang menyeringai. "Salam kenal, Holonoia Gempa. Mari kuberitahu apa tugasmu selama tujuh hari."

.

.

.

.


Bersambung.


.

.

.

.

[Today's Trivia]: Sudah kuputuskan, sepertinya aku akan membuat Trivia atau bahasa lainnya 'fun-facts' untuk membuat pembaca memahami lebih jelas beberapa istilah aneh di fanfic coretgejecoret saya ini.

THREMOR (Dibaca : Tremor) dan LOHLIA (dibaca sesuai tulisannya) : Adalah dua kerajaan yang termasuk tujuh kerajaan besar di Persatuan Eschotta (dibaca : Eskotta). Pernah dibahas di Chapter pertama, kalau teman-teman lupa. Lima kerajaan lainya adalah SIGNARIA (dibaca sesuai tulisannya), PELDEPH (dibaca : Peldef), SYRIN (dibaca : Sirin), MORDIANA (dibaca sesuai tulisannya), dan HENDRIA (dibaca sesuai tulisannya).

DELIANNA (dibaca : delyanna) : Ibu kota Thremor, di sini terdapat pelabuhan terbesar di Thremor. Kota yang sibuk, lebih sibuk dari ibu kota Signaria sendiri.

TOTIS (dibaca sesuai penulisannya) : Kota kecil, semacam kecamatan, dan merupakan tempat singgah orang-orang yang mau berkunjung ke Delianna.

SILOSH (dibaca: Sailos) : Mesin yang diciptakan Dr. Kumar seorang saintis gila yang pernah bekerja di Signaria. Sejarah mengenai dirinya masih sangat rahasia, dan mungkin dibahas di chapter-chapter selanjutnya. (Kalo kalian penggemar Boboiboy sejati, pasti tau siapa tokoh penyandang nama keluarga Kumar).

CRYPTOC (dibaca: kriptok) : Diambil dari kata "crypto" atau yang artinya tulisan kode. Disini cryptoc merupakan kertas sihir yang membuat kita bisa kirim tulisan (jadi kayak chatting gitu tapi nulis manual di kertas) ke kertas cryptoc lainnya.

HOOVERBOARD (dibaca : huuferbord) : Ingat Skateboard terbang milik Taufan di serial aslinya? Iya, pada dasarnya semua skateboard yang bisa terbang biasa disebut hooverboard.

FURRYGALE (dibaca : furigel) : Pedang katana milik Taufan. Terdiri dari dua kata, "Furry" yang artinya berbulu dan "gale" yang artinya badai malam. Yah, secara harfiah artinya badai malam berbulu—tapi arti sesungguhnya bukan itu. Furrygale murni karangan author. Soal seperti apa kekuatan Furrygale, akan dibahas di chapter-chapter selanjutnya.

BARRIER (Dibaca : berier) : Dari bahasa inggris, artinya dinding pelindung. Bahasa Jepang-nya mungkin 'kekkai'. (Buat para otaku di luar sana macam saya, pasti lebih paham istilah ini).

HOLONOIA (dibaca : holonoiya) : Sebutan untuk produk dari mesin Silosh buatan Dr. Kumar yakni hologram manusia tiruan yang dapat disentuh seperti manusia biasa.


Seperti biasa, saya update dua chapter sekaligus untuk fanfic ini coretkarenakepanjangancoret
Btw, makasi banget yang udah review dan memberi tanggapan positif mengenai fanfic saya, saya terharu. :'D
Jangan bosan untuk review atau mengikuti cerita fanfic ini. :)

Reviews are always welome.