Disclamer: Udah chapter kelima juga, disclaimer masih sama kok.

A/N: Chapter ini kupersembahkan bagi para tuna asupan HaliTau di luar sana.


.

.

.

.

.

.

.

Taufan menguap. Baju jubah kanvas dan kemeja kerah tinggi di badannya terasa lebih tipis di malam hari. Ia merasa dingin, tapi anehnya ia tak menggigil. Ia justru senang dengan rasa dingin ini. Dibawanya jubah kulit lembu itu untuk menutupi seluruh tubuhnya hingga ke leher.

"Apinya masih lama? Hali?" Taufan mulai protes.

Halilintar mendengus, "Bawa bokongmu kemari dan bantu aku mengumpulkan ranting, dasar Guardian Prince tak berguna."

"Kurasa aku sudah mulai jadi maso, karena aku mulai terbiasa mendengar kata-katamu," ia bangkit berdiri meninggalkan jubah kulit lembunya. Menggulung lengan kemejanya, kemudian membantu Halilintar mengumpulkan ranting di sekitarnya.

"Sudah kubilang kan, lebih baik kita menginap di penginapan pinggiran kota saja, tidak akan ada yang mengenali kita di sana."

Halilintar bangkit bertolak pinggang, "Kau pikir gara-gara siapa kita terlambat sampai ke pinggir kota, HAH? Terjebak di kegelapan hutan gara-gara seseorang berkata, 'Oh, Pangeran! Aku tau jalan pintas ke pinggir kota!'"

"Dan seseorang jatuh terperangkap dengan omong kosong itu," Taufan terkekeh.

"KAU MENGERJAIKU?!" Halilintar naik pitam, melempar salah satu ranting ke dahi Taufan telak.

"Adaw! Hey! Wajah gantengku!"

"Nyawa Gempa terancam, bodoh! Kalau kita terlambat sampai sana, entah apa yang akan terjadi dengannya!"

Taufan mengelus dahinya, lalu tersenyum menahan tawa, "Aku memang bohong soal jalan pintas menuju pinggiran ibukota. Tapi aku tak bohong soal jalan pintas menuju Herdes—kota perbatasan Kerajaan Signaria dan Kerajaan Thremor. Jalan melalui pinggaran ibu kota membutuhkan waktu 1½ hari untuk tiba di Herdes. Tapi jalan pintas yang ini hanya butuh satu hari."

Halilintar ternganga sebentar, "Kau tau jalan pintasnya?"

Taufan mengangguk. "Tapi tentu saja harus melewati hutan ini terlebih dahulu untuk sampai di sana."

"Keh," Halilintar membanting ranting pohon yang ia kumpulkan di depan tenda kemah. "Lalu kenapa kau protes dan ingin menginap di penginapan, hah."

Taufan terkekeh lagi, lalu menaruh ranting yang ia kumpulkan ke atas ranting-ranting milik Halilintar. "Aku protes, bukan berarti aku membencinya, kan?"

Halilintar mendengus. Ia lupa kalau itu cara Taufan mengoloknya.

Setelah menyalakan korek, dan membuat api unggun, Halilintar duduk di batang pohon besar yang tumbang, dekat api unggun.

"Kau hanya senang karena sudah lama tak ada waktu berdua denganku."

"Cih, pede amat," Taufan menatap malas sang pangeran pengampu yang kini hanya mengenakan pakaian berkain biasa—tanpa baju kebesarannya. Jika Halilintar lebih suka penampilan Taufan saat mengenakan baju kstaria-nya, namun Taufan sejujurnya lebih suka melihat Pangeran pengampu sasaran isengnya itu berpenampilan sederhana. Mengapa tidak? Kaos lengan panjang berkanvas merah dengan rompi coklat dari kulit lembu. Entah kenapa pakaian berburu ala Halilintar ini selalu bisa membawa sisi gagah sang Pangeran.

Taufan hela nafas, ia duduk di samping sang pangeran lalu mengeluarkan sepasang bakpao. Ia melemparkan salah satu pada kawan berburunya. "Makanlah, kau belum makan seharian ini."

Halilintar menangkap bakpao itu, "Thanks," lalu melahap setengah dari bakpao dalam satu gigitan.

"WAH—Dalam satu gigitan! Pantas saja tak ada gadis yang mau denganmu! Dasar karnivora!"

Halilintar memandang jengah Taufan. Tapi ia tak membalas apa-apa, dan tetap mengunyah bakpao itu dengan tenang. Mereka pun menyantap makan malam mereka dalam hening, hanya ditemani suara jangkrik hutan, dan iringan daun yang bergesekan akibat angin malam.

.

.

.

Kegiatan kemah malam ini terasa lain—jika bukan karena kegelisahan mereka memikirkan nasib saudaranya yang berada jauh di ujung negeri orang.


.

.

.

.

.

ROYAL x GUARDIAN
BOOK 5

"The Grand Red Prince, and His Disastrous Cyclone"

.

.

.

.

"Tidurlah, Taufan, kau pasti lelah."

"Kau sendiri?"

Halilintar menggeleng sambil mengatur api unggun dengan tongkat kayu. "Aku tak bisa tidur. Aku khawatir dengan Gempa. Karena kita belum tahu musuh kita seperti apa—apakah seorang penyihir, mafia, Suku Tengkotak, atau lainnya—jadi aku tak bisa memperkirakan apa saja yang mungkin dilakukan oleh musuh. Kita takkan tahu apakah Gempa tetap aman selama tujuh hari ini."

Taufan memajukan tubuhnya lebih dekat dengan api unggun. Tatapannya sejenak bergetar mengikuti gerak lambaian api, lalu mengernyit. "Aku tak paham apa yang mereka inginkan dari Gempa. Uang? Tidak mungkin. Mereka jelas meninggalkan surat palsu, bukannya surat tebusan. Kekuatan? Gempa adalah satu-satunya pangeran di antara kita yang tak memiliki kemampuan apapun. Untuk dijual ke negeri lain? Aku tak yakin ada negeri yang lebih kaya dari Kerajaan kita. Daripada buang-buang waktu untuk menjualnya ke negeri lain, bukankah lebih cepat kalau meminta tebusan pada kita?"

"Kau salah," Halilintar membuang tongkat kayu itu ke dalam lingkaran api unggun, "Kalau mereka meminta tebusan pada kita, mereka malah akan ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Bukannya untung, malah buntung. Sebaliknya, jika mereka menjual Gempa ke negeri lain, mereka akan untung banyak."

Halilintar berhenti sejenak. "Kau tahu, masih banyak kerajaan besar lain yang menolak menyatu dengan Persatuan Eschotta, seperti Persatuan Serikat Vele dan Lothis. Kita masih belum tahu kekuatan dan bagaimanapandangan mereka terhadap persatuan kita. Apakah mereka kawan? Itu bagus. Tapi jika lawan?" Hailintar menatap Taufan sejenak.

Taufan meneruskan sendiri kalimat Halilintar, "Jadi wajar jika ada salah satu kerajaan di antara Serikat Vele yang menginginkan kepala salah satu Pangeran kerajaan besar di Eschotta, ya."

Halilintar mengangkat bahu—sebuah isyarat bahwa teori itu memang bisa saja terjadi—bisa juga tidak.

"Tapi kita penguasa 124 kerajaan di Persatuan Eschotta. Untuk apa takut?"

"Serikat Vele terdiri dari 180 kerajaan," Halilintar melanjutkan argumennya dengan nada hati-hati, "Lima di antara kerajaan besar mereka merupakan Kerajaan Suku Tengkotak. Suku paling berbahaya di dunia."

Taufan menelan ludah, menahan balasan argumen yang ia tahu takkan berhasil.

Halilintar mengusap dagunya, "Asumsikan mereka menculik Gempa kemarin malam, seharusnya mereka baru sampai di Herdes sekarang. Kalau kita bisa sampai sebelum mereka berangkat melanjutkan perjalanan, kita bisa menyusulnya."

Taufan mendelik, "Hali… Jangan-jangan tujuanmu menawarkan diri berangkat duluan… untuk memata-matai mereka?" Taufan menatapnya lemas kemudian, "Kau sendiri yang bilang, 'Siapapun yang berangkat duluan jangan bertindak gegabah sendiri'. Kini kau-lah yang melanggar kata-katamu."

Halilintar menggeleng. "Itu bukan tindakan gegabah atau ceroboh. Aku tetap akan menunggu yang lain. Tapi untuk menyusun rencana di Totis nanti, kita membutuhkan informasi mengenai musuh kita, kan?"

"Aaa—Makanya kau tak ingin pasangan Api dan Air untuk pergi duluan, ya? Kau ragu mereka akan berpikir sejauh itu. Dan lagi, kalau kita tetap mengumpulkan informasi di hari kedua, aku yakin mereka sudah jauh dari jangkauan kita."

Halilintar menjentikkan jarinya seolah bilang, "Benar."

Taufan takjub sebentar. Soal strategi dan taktik perang, ia akui kakak tirinya itu memang yang palling unggul dibandingkan saudara-saudaranya yang lain. Oke, mungkin Air dan Fang bisa menyainginya, tapi mengingat Air tipe yang terlalu malas untuk berpikir dan Fang cuma berpikir jika itu menyangkut Gempa, rasanya insting siaga perang milik Halilintar jadi tak tertandingi.

Taufan tersenyum, tapi ada sesuatu di tatapannya yang mengisyaratkan bahwa senyumnya bukan senyum lega. Senyum yang mengatakan bahwa ia tak suka dengan sisi Halilintar yang seperti itu.

Halilintar meliriknya dan sadar akan senyum itu. Terbesit pertanyaan untuk senyum aneh itu, namun segera tertanggalkan ketika ia melihat senyum itu berubah di bibir Taufan. Dilihatnya Taufan yang membuka tangannya ke depan perapian dan tersenyum penuh kehangatan—lain dengan senyum redup itu. Semburat tipis mampir di pipi Halilintar. Entah karena angin malam yang mulai menggoda kulit hangatnya, atau karena yang lain. Tanpa berkata apa-apa, dan tanpa menatap lawan bicaranya, ia menepuk paha kirinya beberapa kali. Mendengar suara tepukan, Taufan menatap sumber suara.

"Wohoo~!" Teriaknya senang, lalu melepas topinya. Ia kontan langsung menaruh kepalanya di tempat yang ditepuk sang pangeran pengampu. "Ahh~ Bantal favoritku~"

Cnut. Nadi tersembul di pipi Halilintar, ia menatap ke bawah. "Pelayan manja kurang ajar," katanya memaki. Taufan tertawa—sampai akhirnya ia merasa tubuhnya terlempar ke depan batang pohon yang mereka duduki.

"Hey! Aduh—" Belum sempat Taufan mengeluh, Halilintar menendangnya agar duduk. Taufan nyengir, lalu duduk bersandar batang pohon yang tadi mereka duduki, dengan Halilintar yang kini mengistirahatkan kepalanya di paha Taufan.

"Pfft—Bilang aja situ yang pengen manja-manjaan sama Upan~" ledek Taufan dengan nada mengayun usil. Halilintar sukses jengkel.

"SIAPA ITU 'UPAN'. MAKHLUK APA ITU."

"Makhluk yang paling disayangi Pangeran Halilintar~"

"OGAH," Halilintar menggeram sebal. Tapi pertengkaran itu tak membuat Halilintar hilang kenyamanan dengan posisinya saat ini. Taufan menunduk, saat tak ada lagi makian dari lawan bicaranya.

"Kenapa? Udah capek marah-marah?" Taufan tersenyum usil. Diliriknya kemudian bekas cakarannya tadi pagi pada pipi Halilintar. "Waa—bekas cakaranku hebat juga," ia mengelus bekas cakaran itu, untuk memeriksa seberapa dalam bekas luka itu di kulit Halilintar.

Halilintar memejamkan matanya, alih-alih membiarkan Taufan mengelus lukanya, ia malah merasa nyaman Taufan mengelus pipinya yang mendingin karena udara malam Hutan Signaria.

Taufan tersenyum lembut sekali lagi.

"Hali… Kapan ya? Terakhir kali kita akur begini?"

Halilintar membuka matanya, "Apa? Kau mau membuka topik melankolis hari ini?"

Taufan nyengir komikal, "Habis, judul chapter fanfic kali ini 'The Grand Red Prince and His Disastrous Cyclone', kan? Mengikuti alur beberapa chapter sebelumnya, berarti kita harus menceritakan masa lalu kita di chapter ini. Makanya kutanya begitu, biar kita membahas masa lalu kita. Siapa tahu pembaca penasaran. Tehee~"

Halilintar sweatdrop, sementara author hampir lompat ke jurang.

.

.

.

Halilintar menghela nafas. "Terakhir kali kita akur ya? Aku tak ingat kita pernah akur. Bahkan sekarang pun kita masih bertengkar masalah sepele."

Taufan tertawa renyah, "Kau benar."

"Sepanjang yang kuingat, kita memang sudah bersama sejak bayi, bukan? Mama dan Ibumu—Lady Hannah—melahirkan di bulan yang sama. Makanya kita memiliki bulan ulang tahun yang sama."

Taufan tersenyum redup.

Melihat reaksi Taufan, Halilintar mengernyit paham, "Maaf soal tadi pagi—kami tak bermaksud meremehkan ibumu—"

"Tidak," Taufan memotong kalimat Halilintar. "Maksudku, enggak apa-apa, Pangeran. Maafkan aku juga karena sudah emosi."

Halilintar menatap senyum redup Taufan. Makhluk yang selalu menjadi sasaran amarah dan selalu menjadi bulan-bulanan emosinya. Meski begitu, Halilintar hampir tak pernah melihatnya tersenyum redup tanpa gairah—kecuali jika membahas ibunya.

Lady Hannah adalah salah satu dari selir istana yang memiliki kekuatan khusus. Penyihir dengan kemampuan sihir level enam, dan merupakan salah satu dari sepuluh Penyihir Suci—penyihir terbaik seluruh Persatuan Eschotta. Kemampuannya bahkan jauh lebih baik ketimbang Lady Artroinne yang memiliki kemampuan sihir level 4. Lady Hannah menjadi selir di istana dan berkawan baik dengan Ratu Elianne sekitar 19 tahun yang lalu.

Hingga delapan tahun kemudian, Lady Hannah tewas di tangan musuh Signaria saat Perang Ambracas—yakni perang mempertahankan perdamaian di perbatasan Kerajaan Lohlia dan Serikat Vele.

Jika Halilintar tak salah ingat, Perang Ambracas merupakan salah satu perang terbesar bagi dunia sihir. Perang Ambracas sering disebut juga sebagai perang sihir putih melawan sihir hitam di kala itu. Pertempurannya cukup sengit—walaupun Halilintar tak pasti apa pemicu perang tersebut. Kerajaan Lohlia saat itu sempat kewalahan dan akhirnya membutuhkan bantuan Kerajaan Signaria dan Thremor. Hannah dan Artroinne yang merupakan penganut sihir putih, akhirnya memilih untuk turut ambil andil dalam perang tersebut. Meski pada awalnya tak disetujui sang Raja, tapi akhirnya Raja bersedia mengikutsertkan keduanya dalam perang tersebut, dengan syarat sang Raja dan pasukan ksatria-nya turut menyertai dalam perang.

Meski Signaria dan Thremor akhirnya memenangkan peperangan, namun Signaria kehilangan sebagian besar aset perangnya. Termasuk Lady Hannah yang tewas di tangan musuh.

Halilintar mengamat-amati wajah Taufan, mengingat-ingat reaksi Taufan saat ibunya yang ia sayangi saat itu tak pulang bersama sang ayah.

.

.

.


.

.

.

.

"AAAAAAAAAAAAAHHHHHH—!"

"TU—TUAN MUDA! TENANGLAH!"

Beberapa orang berusaha menenangkan si kecil Taufan, yang kini menangis berteriak melawan langit. Sementara itu Ratu Ellianne sudah jatuh pingsan di tangan Artroinne saat mendengar berita itu. Ruang utama Istana menjadi kacau.

Raja menekuk lututnya. Di belakang Raja Abaross berbaris pasukan yang baru saja tiba dan membawa bendera kemenangan bersamanya—namun tanpa sorak riang dan gelak kemeriahan. Sebagai gantinya, hanya wajah-wajah yang berduka perih, kehilangan orang-orang yang dicintai.

Tangis pilu itu bergaung di istana, menambah suasana penyesalan pasukan Signaria. Raja meraih si kecil Taufan ke dalam dekapannya—tak peduli jika ia masih menggunakan baju zirah perang kotornya. "Maafkan aku, Taufan—"

Suara maaf Abaross tenggelam bersama suara pekikan putus asa bocah ceria di hadapannya. Inilah pertama kalinya penghuni istana melihat pangeran yang sering tersenyum usil itu menangis dalam kepedihan.

.

.

.

Demikian juga dengan Halilintar. Mereka tak pernah akur, dan selalu bertengkar di setiap kesempatan. Tapi, ini satu-satunya momen dimana Halilintar merasa simpati dengan sasaran pertengkaran sekaligus rivalnya itu. Itu pertama kalinya, sungguh pertama kalinya, Halilintar merasa ia harus memeluk Taufan. Tapi tangannya tak cukup panjang untuk meraih Taufan saat itu. Tangannya terlalu mungil, dan ia terlalu takut untuk merasa bahwa ia cukup pantas untuk melakukannya. Namun pada akhirnya, itu menjadi satu-satunya hal yang paling disesalkan Halilintar seumur hidupnya.

.

.


.

.

Kenangan itu menyulut Halilintar untuk menatap lebih lama wajah adik tirinya.

Taufan menundukkan wajah, membuat jarak keduanya menipis. Mata Halilintar meredup sayu, berkedip santai.

"Hali… Maafkan aku."

"Maaf? Kenapa?"

Taufan menarik nafas, bibirnya mengkerut cepat, "Aku tak setuju jika kau jadi Raja."

"Apa kau tak suka kalau aku sibuk dan tak menghiraukanmu? Tak bertengkar denganmu lagi? Atau berburu bersamamu lagi? Kau takut kesepian?"

Punggung Taufan kembali tegak, ia menatap ke arah lain. Halilintar ikut bangkit, lalu duduk sila dan menatap dekat Taufan.

"Jadi itu, masalahnya?" Halilintar menggaruk kepala belakangnya.

"Bukan, bego, pede amat," Taufan mengetukkan ujung jari telunjuknya ke dahi Halilintar. "Kamu ini gila perang, aku tahu itu. Kau suka dengan hal-hal berbau misi, perang, dan taktik menghadapi musuh. Aku sudah bersamamu semenjak bayi—ya, seperti yang kau bilang tadi—jadi aku tahu, kalau kau jadi Raja, kau pasti akan berambisi untuk memperluas wilayah Persatuan Eschotta."

Halilintar senyum-senyum senang, "Aku memang suka semua itu—tapi aku ragu akan punya ambisi sebesar yang kaukatakan. Dengar, aku bahkan tak berambisi untuk jadi Raja, apa kau tahu itu?"

"Tapi kau juga tak benci jadi Raja, kan?"

Pertanyaan serangan balik Taufan membuat Halilintar berhenti berargumen, dan tak menyangkal. "Kau benar. Aku tak benci jadi Raja."

Taufan menusuk-nusukkan telunjuknya ke pipi Halilintar dengan wajah komikal, "Itulah! Aku tahu, walaupun kau pasrah dan legowo soal tahta, tapi ketika kau naik tahta, aku khawatir ambisimu akan tumbuh mengakar seperti Pohon Ek!"

"Tidak, aku ragu soal itu—tapi… jika seandainya itu benar, apa yang kau khawatirkan? Kalau Persatuan Eschotta meluas, bukankah itu bagus?"

Taufan menyipitkan matanya serius. "Katakan, jalan apa yang akan kau tempuh untuk memperluas Eschotta?"

"Delegasi? Atau konferensi internasional, dengan cara damai tentunya."

"Uh-huh," Taufan mengangguk, seolah sudah paham Halilintar akan menjawab begitu. "Jalur moderat dan diskusi dingin. Lalu? Apa yang akan terjadi jika mereka menolak tawaranmu dalam konferensi itu?"

Halilintar berkedip beberapa kali, baru paham maksud Taufan. Jika Halilintar berambisi memperluas Persatuan Eschotta, ia akan menempuh banyak perang. Tentu saja, perang adalah hal yang paling Halilintar suka, tapi itu tetap bukan ide bagus untuk menjaga kestabilan ekonomi kerajaan, bersama enam kerajaan lainnya.

"Maksudmu… Kau takut Eschotta akan goyah perekonomian-nya?"

Taufan menggeram kesal mendengar jawaban polos itu. "Persempit cara berpikirmu! Apa wajahku kelihatan seperti manusia yang peduli ekonomi?!"

"Err—" Halilintar mulai tak yakin, ia mencoba jawaban lain, "Ah—kau benar, banyak nyawa manusia yang akan mati sia-sia."

Taufan semakin depresi dengar jawaban itu. Melihat reaksi Taufan, Halilintar menyerah. "Apa sih? Masih salah juga, maumu apa—"

"DEMI TUHAN, PIKIRKAN KESELAMATANMU, PANGERAN-YANG-GAK-PEKA!" Taufan mengamuk akhirnya. Halilintar berkedip melihat Taufan berubah ganas, terlebih lagi dengan jawaban yang baginya konyol itu.

"Aku mana peduli dengan ekonomi dan nyawa ratusan orang yang terancam, toh aku bukan Tuhan!" Taufan melanjutkan omelannya, "Tapi satu hal yang perlu kau ingat, jika perang meletus, nyawamu juga akan ikut terancam! Itu sebabnya aku gak mau kamu jadi Raja! Sifatmu akan menggiringmu selalu dalam bahaya!" Nafas Taufan tersengal, tanpa ia sadari, ia sudah mengomel sambil berdiri dan menatap rendah pada Pangeran pengampunya yang kini hanya menatap Taufan dengan bingung.

"Aku takkan mati—"

"DIAM. CUKUP," Taufan mengangkat tangannya, "CUKUP SAMPAI SINI AJA GAK PEKA-NYA."

Halilintar semakin tak mengerti. "…Kamu lagi PMS, ya," tanyanya akhirnya.

Taufan sampai pada puncak kekesalannya, ia bahkan tak melawan argumen Halilintar, dan hanya menatapnya dengan tatapan mengerikan. Beberapa detik kemudian, Taufan berpaling, masuk tenda sambil menghentakkan kaki.

"He—Hey!" Halilintar mengejarnya ke dalam tenda, memandang Taufan yang mulai membuka selimut, lalu tidur meringkuk membelakangi Halilintar.

"Ah, jadi intinya—kau mengkhawatirkan keselamatanku, jika aku jadi Raja? Tapi… kau akan selalu ada untukku kan? Kau akan melindungiku, kan? Aku takkan mati."

Tak ada jawaban dari lawan bicaranya untuk beberapa saat.

Hingga akhirnya Taufan sedikit menengokkan kepalanya, dan memandang Halilintar dari ekor matanya.

.

.

.

"Terkadang," katanya pelan, "Ada kalanya aku juga merasa bahwa aku tak cukup kuat untuk melindungimu. Dan itulah yang sebenarnya membuatku takut…" Taufan memberi jeda, "Jika kau menjadi Raja."

Halilintar berkedip. "Oh, ayolah. Kau salah satu dari Kstaria Eschotta strata empat. Kau sudah memimpin banyak perang perdamaian! Jauh lebih banyak ketimbang Air! Apa lagi yang harus kautakutkan?" Ia tak mengerti—atau lebih tepatnya terkejut mendapati seorang penderita narcisist stadium akut seperti Taufan bisa mengeluarkan pendapat minus mengenai dirinya sendiri.

Taufan diam sejenak, ia tak menjawab pertanyaan-pertanyaan sang Grand Prince. Hingga akhirnya Halilintar menghela nafas menyerah, ia mendekati Taufan, dan menyentuh lengannya. "Kenapa… Kau tiba-tiba berpikir begitu?"

Taufan bangkit duduk, ia menyingkirkan selimut, lalu membuka kancing kemejanya satu persatu.

"…" Halilintar shock. "Tu—tunggu, apa yang kaulakukan?!"

Tapi Taufan tak menghentikan gerakannya. Ia menurunkan kemejanya, lalu berlutut di depan Halilintar.

"Ta—Taufan?!" Halilintar gelagapan sendiri. Kontras merah di wajahnya terang—sampai ia melihat perut Taufan yang membiru, bahkan sebagian sudah mulai keunguan. Lebam, dan hampir seperti daging mati meski tak berdarah. Halilintar membelalakkan matanya, melihat lebam yang hampir menutupi seluruh bagian ulu hati Taufan.

Taufan memiringkan kepalanya, menatap Halilintar dengan tatapan dingin.

"Ini… hasil hantaman Air, tadi pagi."

Halilintar mendelik. "K—Kau!" ia bangkit, mendekati perut Taufan. "Kenapa kau tak bilang padaku?! Luka separah ini—k—kau bilang Air dan kau hanya latihan?! Kenapa sampai begini?"

"Aku berbohong di depan Fang. Karena jika Fang tahu, aku cukup yakin kalau dia akan menceritakannya pada Gempa. Dan… Aku yakin Gempa akan marah sekali pada Air."

Halilintar terdiam sejenak, "Sudah kuduga… Ia serius ingin melawanmu. Begitu juga dengan Api."

Taufan melirik luka lebamnya sendiri. "Ya, Api juga serius ingin melawanmu."

Halilintar berdecak, "Daripada memikirkan itu—Apa sudah kau obati lukamu?"

Taufan mulai mengenakan kemejanya kembali, "Sudah, tapi seperti yang kau tahu, luka akibat serangan sihir, takkan sembuh semudah itu," saat sedang mengaitkan kancing kedua dari bawah, Taufan terhenti dan terdiam.

Halilintar menatap Taufan. Beberapa lama mereka terjebak dalam suasana hening, hingga Halilintar memecahkan sepi.

"Kau merasa terlampaui oleh adikmu sendiri—dan kau mulai berpikir 'melindungi diriku sendiri saja tak bisa, apalagi melindungi Halilintar'—ya kan?"

Taufan duduk sila di depan Halilintar. Kesunyiannya terhadap pertanyaan Halilintar, cukup membuktikan bahwa ia tak bisa memungkiri tebakan Halilintar.

"Makanya… Sejak tadi pagi, aku mulai dihantui rasa takut," Taufan menyembunyikan matanya di balik helai poni hitam, menunduk, tak berani menatap lawan bicaranya.

"Aku takut jika kau jadi Raja suatu saat, aku tak bisa melindungimu," Taufan melihat tangannya, lalu mengepalkannya, "Aku takut kekuatanku ini suatu saat akan bertemu dengan titik apesnya seperti tadi."

Halilintar melipat tangannya, "Ini tak seperti kau yang biasanya. Yang selalu cuek dan tak peduli meski kuhina dan kukata-katai. Sekarang kau mau membuatku menyesal karena selalu bersikap merendahkanmu?"

Taufan kembali mengaitkan kancing kemejanya. "Hah, kau benar. Aku tak merasa seperti diriku sendiri hari ini. Mungkin karena pikiranku kacau dengan semua yang terjadi tiba-tiba. Perjamuan Eschotta, pengumuman dadakan tiga kandidat pewaris tahta, perang saudara, atau bahkan Gempa yang kini entah bagaimana keadaannya."

.

.

Semuanya begitu tiba-tiba bagi Taufan.

.

.

Taufan menutup kedua matanya dengan tangan kiri.

"Aku tak suka semua ini. Aku tak suka perang seperti kau, Halilintar."

.

.

Taufan menggemertakkan giginya.

"Karena perang—merampas orang yang paling berharga bagiku."

.

.

Bahu Taufan mulai gemetar. Otot lehernya menegang, dan membuat Halilintar yakin, Taufan menahan luapan emosinya dengan segala yang ia bisa.

"Aku tak mau. Aku tak mau kehilangan siapapun lagi. Aku tak mau melawan Air, aku tak mau kehilangannya."

.

.

Taufan menelan ludah.

"Aku tak mau kehilangan Gempa, aku ingin menyelamatkannya dan menghindari perang sebisa mungkin."

.

.

Halilintar mendekat, tangan kanannya meraih leher belakang Taufan. Dibawanya pelan kepala Taufan ke dekapan dadanya. Karena ia mulai melihat barisan bulir air mata mengalir di pipi orang yang disayanginya.

"Aku tak mau kehilangan kau… Pangeran. Aku ingin selalu bersamamu."

.

.

Halilintar memejamkan mata.

"Aku juga, Taufan. Aku ingin selalu bersamamu."

.

.

Ini kali kedua sudah Halilintar melihatnya menangis. Tapi Halilintar tak memiliki rasa penyesalan dan risau yang sama dengan kejadian 10 tahun yang lalu, karena…

Akhirnya Halilintar dapat menjangkau Taufan, dan memeluknya. Bukan hanya melihat dari kejauhan—menerima mentah-mentah suara bocah menjerit dan menangis dengan nestapa.

.

.

Beberapa menit Taufan menangis, meski tidak sesenggukan ataupun penuh jeritan. Kali ini caranya Taufan mengeluarkan air matanya, benar-benar dalam senyap—seolah ia tak ingin membiarkan siapapun mendengar seorang Ksatria Istana menangis—bahkan jika ini di tengah hutan sekalipun. Halilintar dengan sabar tetap memeluknya dan akhirnya membawa Taufan berbaring. Ia menyelimuti Taufan, dan hendak meninggalkannya pelan-pelan untuk berpindah posisi ke kantung tidurnya sendiri. Namun sebuah tarikan di pergelangan tangan, menahannya.

"Hali…" suara serak Taufan efek akibat menahan suara tangis, membuat Halilintar menengokkan kepala.

"Hmm?" Halilintar menyahut pelan. Halilintar yang biasanya akan menyebar tantrum emosi dengan menjawab sinis. Kalau bukan karena Taufan yang sedang seperti ini, mana mungkin sang pangeran menjawab pelan seperti itu.

Taufan membuka matanya sayu, ia tersenyum di antara wajahnya yang merah dan basah, "Sebenarnya aku benci kau jadi Raja. Tapi… aku akan berusaha sebaik mungkin untuk selalu menemanimu kemanapun kau pergi," ia memberi jeda, lalu terkekeh kecil. "Meskipun kau sadis dan menyebalkan."

Halilintar balas senyum, ia mengelus pipi Taufan, menghapus sisa air mata di sana. "Dasar Guardian Prince yang merepotkan."

Taufan tersenyum, "Sama-sama."

.

.

.

.


.

.

.

.

Keesokan harinya.

.

.

.

.

.

.

"Kita tiba di Herdes lebih cepat, kau benar. Aku salut kau menggunakan otakmu itu," Halilintar memandang tak percaya ketika ia berhasil keluar dari hutan, dan menemukan peradaban di lembah bukit. Padahal beberapa jam yang lalu, Halilintar sempat meragukan kepercayaan diri Guardian Prince miliknya yang suka iseng itu.

Taufan menggosok hidungnya bangga.

Sang Grand Prince mulai melangkah melanjutkan perjalanan, ia melompat rosot ke salah satu lereng landai dekat gerbang kota mengikuti Taufan.

"Bagaimana kau bisa tau jalan pintas itu?" tanyanya setelah berjalan melewati batas kota, kemudian mengambil botol minum di pinggangnya

"Eh? Aku tak pernah memberitahumu, ya?"

Halilintar melempar wajah tanya pada Taufan, sambil menyesap beberapa teguk air minum.

"Ini kota kelahiran Ibuku."

"AP—" Halilntar menyemburkan air yang tadi diminumnya.

"O—Oi! Jangan menghamburkan air! Jis…" Taufan mengernyit, lalu merampas botol minum itu, dan menenggak beberapa tegukan air minum juga. "Tapi ibu Ratu bilang ia pernah mengajakmu ke sini."

"Mana aku ingat! Mama mengajakku waktu aku bayi!"

"Ah—Mungkin dia lupa. Yah, welcome to Herdes. Kota perbatasan Signaria dan Thremor, sekaligus pusat Kota Sihir terbaik di Eschotta~" Taufan merentangkan tangannya, seolah menyambut kedatangan Halilintar di kota itu.

Halilintar menatap jalanan di hadapannya. Kota yang terdiri dari bangunan-bangunan kokoh dengan gaya arsitektur Reinaisance terlihat mewah di sana. Meski bangunan kokoh itu tak sebanding dengan bangunan di Signaria yang menjulang, tapi kebudayaan generasi lama terasa lebih kental dan asri di sini. Sehingga membuatnya terlihat berbudaya dan eksentrik. Di sepanjang jalan yang mereka lewati, terdapat toko-toko dengan papan nama yang bercorak cat berwarna kontras tabrak warna. Beberapa toko di antaranya bahkan membangun monumen khusus di atas papan iklannya untuk menarik perhatian pengunjung.

"Kebanyakan di sini toko peralatan sihir," komen Halilintar melihat ke sana kemari. Tatapannya sedikit waspada, kalau-kalau ia melihat Gempa—atau segerombolan orang dengan pakaian dan barang bawaan mencurigakan. Karena bisa saja mereka memasukkan Gempa ke dalam karung, barrel minuman, atau gerobak sapi dan mengikatnya sehingga tak ada yang mencurigai mereka.

"Kau benar, di sini memang pusat alat-alat sihir. Kota ini merupakan salah satu saksi bisu Perang Ambracas yang tercetus delapan tahun lalu. Jauh sebelum Perang Ambracas, ibuku dan Bibi Artroinne sering berbelanja peralatan sihir di sini. Hmm, seingatku dulu Api dan Air juga sering diajak kemarin oleh Bibi Artroinne."

"Ah, begitu," Halilintar mengangguk paham, tapi matanya masih siaga melihat ke sana kemari. "Pokoknya untuk sekarang, kita cari penginapan dulu. Hari sudah mulai gelap, kita takkan melanjutkan perjalanan jika gelap."

"Ah, kau benar," Taufan membuka lipatan peta dari kantongnya, dan menunjuk sebuah garis setelah tulisan 'Herdes'. "Setelah Herdes, kita akan berjalan melewati Jalur Parsia. Ini jalur yang dikenal berbahaya karena banyak sekali perampok dan pencuri di sana."

"Ah, paling-paling perampok kalengan," Halilintar terlihat tak peduli. "Ayo cepat, gerakkan kakimu, kita cari tempat penginap—"

"Taufan? Apa itu kau?"

Halilintar dan Taufan menoleh, "Eh?"

Laki-laki itu tersenyum tepat saat ia tahu bahwa yang menoleh kepadanya benar-benar orang yang ia cari. Laki-laki itu langsung menghamburkan dirinya memeluk Taufan. Halilintar mengernyit melihat laki-laki itu.

"…H—huh?"

.

.

Laki-laki itu membuka pelukannya, "Apa? Kau tak ingat aku? Ini aku! Thorn!"

.

.

.

Taufan mendelik shock, wajahnya pucat, terbalut peluh dingin.

Halilintar melipat tangannya, menatap jengah keduanya, mendengus malas.

'Siapa pula, orang ini.'

.

.

.

.

.


Bersambung.


.

.

[Today's Trivia] Sebenarnya malas bikin. Tapi… siapa tahu ada yang kurang jelas. *author dilempar beneran ke jurang*

SERIKAT VELE (dibaca: fele) : Sebuah persatuan kerajaan, sama seperti Eschotta. Letak benua nya lebih jauh ketimbang Eschotta, makanya kecil informasi mengenai mereka. Hanya saja seperti yang dijelaskan Halilintar, konon Vele memiliki persatuan Kerajaan yang lebih banyak dan jauh lebih adikuasa ketimbang Signaria. Beberapa kerajaannya juga ada yang bukan merupakan dari suku manusia, yakni Suku Tengkotak.

SUKU TENGKOTAK: Sudah nonton Boboiboy The Movie? Yak, sudah dapat bayangan berarti ya, tokohnya siapa saja.

PERSATUAN LOTHIS (dibaca : Lotis) : Sebuah persatuan selain Signaria dan Vele.

HERDES (dibaca sesuai tulisannya) : Kota pusat peralatan sihir. Sebagian kotanya masuk wilayah Signaria, dan sebagian lagi wilayah Thremor. Dari kota ini menuju Totis membutuhkan waktu dua hari.

PERANG AMBRACAS (dibaca : ambrakas) : Perang yang terjadi di perbatasan Lohlia dan Vele. Sebenarnya letak Kerajaan Lohlia berbeda daratan dengan Signaria, sehingga untuk kesana harus menggunakan transportasi laut. Di benua Eschotta, Lohlia merupakan Kerajaan yang membatasi Eschotta dengan dunia wilayah timur yaitu Serikat Vele. Mengenai apa yang terjadi di Perang Ambracas, mungkin akan dibahas di chapter-chapter selanjutnya.

PENYIHIR SUCI DAN LEVELNYA: Untuk menjadi anggota Penyihir Suci, harus setidaknya memiliki kemampuan sihir level 5, dari 10 level yang ada.

JALUR PARSIA : Semacam Jalan arteri, yakni jalan yang menghubungkan antar kota besar. Mungkin kalau sudah masuk cerita Jalur Parsia, author bakal rajin minum kopi—untuk mikirin adegan pertarungannya. *muka mikir*

HALITAU : Ialah sepasang manusia yang ngakunya pangeran sejati, tapi gak jelas maunya apa di chapter ini. Bentar-bentar berantem, bentar-bentar mesra, bentar-bentar bego sendiri. *lelah*


.

.

.

Jangan bosan untuk review atau mengikuti cerita fanfic ini. :)

.

.

Reviews are always welome.
Let me hear your opinion about the story.