Disclaimer: Boboiboy Galaxy punyanya Monsta itu keren.

A/N: Kemarin untuk tuna HaliTau. Hari ini untuk tuna ApiAir. Mungkin.

Warnings: Typo and foul words.


.

.

.

.

.

.

.

.

"T—Thorn," Taufan menelan ludah, "He—Hey."

Lelaki yang disapa Thorn itu tiba-tiba saja merangkul leher Taufan dengan akrab, kemudian mengacak kepala Taufan dengan gemas dan gembira—seolah menyiratkan lamanya renggang waktu mereka tak berjumpa. Sementara itu, Halilintar mengernyit saat kedua lelaki itu berdampingan.

"Siapa kau? Apa hubunganmu dengan Taufan?"

Taufan semakin berkeringat dingin, seperti yang ia duga, Halilintar cepat atau lambat akan menanyakan hal itu. Taufan membuka mulutnya hendak menjelaskan, namun laki-laki di sampingnya menyambar satu detik lebih cepat.

"Ah, kau pasti Halilintar!" Laki-laki itu tersenyum lugu, dengan mata hijaunya yang cerah, "Perkenalkan, aku Thorn. Hai, Pangeran!"

Halilintar menyipitkan matanya, ketika tahu, seseorang telah mengetahui identitasnya.

.

.

.

.

.

=xXx=

ROYAL x GUARDIAN
BOOK SIX

"The Dancer Lady and The Pickpocket Prince"

=xXx=

.

.

.

.

.

Api menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dilihatnya sekeliling, lalu cemberut ketika ia tak menemukan satu sosok yang ia cari.

Api memandang ke salah satu papan gedung bertuliskan 'Root Bar', lalu menghampirinya. Berdiri beberapa lama di depan pintu, dan mendengar riuh suara beberapa laki-laki yang tertawa senang dan sesekali diselingin suara pekikan penuh dorongan emosi dari sudut lain. Berpikir bahwa ia mungkin akan menemukan orang yang ia cari di sini, Api masuk melalui pintu depan.

Pintu dibuka, dan Api bisa merasakan suara-suara riuh itu lenyap ditelan udara malam yang masuk bersamanya. Pasangan-pasangan mata menatapnya bersamaan dengan pandangan intimidasi. Api tak peduli dengan tatapan pria-pria kekar itu, ia hanya terus mengangkat kakinya dengan penuh nada bangga ke arah meja bar dimana seorang bartender berkumis tipis berdiri dan menatapnya.

"Ada yang bisa kubantu," bartender itu menambahkan dengan nada meremehkan, "Nak?"

Api mendengus kasar. Agaknya ia paham kenapa ia dipanggil begitu. Umurnya baru menginjak 16 tahun, dan ia pasti terlihat sangat muda dia antara orang-orang penikmat minuman memabukkan di sana.

"Makan. Siapkan aku makanan," katanya cepat.

Paman bartender itu memiringkan kepalanya. Ia melirik penampilan Api dari bawah hingga atas. Baju putih kotor dengan pangkal lengan yang robek, serta sepatu kulit lembu berkualitas rendah, membuat paman bartender itu tak yakin jika ia akan memperoleh bayaran untuk makanan yang ia siapkan nantinya.

Api mengangkat kepalanya. Seolah mengerti, ia melempar dua koin emas asli ke atas meja. Koin-koin itu menggelinding ke hadapan sang bartender, yang langsung disambut cengiran ramah. "Segera, tuan."

Api mendesah, setelah ruangan sedikit demi sedikit kembali riuh. Keberadaannya di bar itu, kini tak lagi mengundang tanda tanya.

Bartender tadi kembali dengan sepiring nasi goreng serta daging panggang yang mengepul hangat, dan segelas besar susu sapi segar. Api menatap semua makanan itu dengan air liur hampir menetes, aroma makanan yang tak diciumnya sejak pagi menggoda nafsu makannya.

"Se—Selamat makan!" seru Api, lalu memasukkan suapan-suapan porsi besar ke dalam mulutnya dengan cepat. Gayanya makan seperti tidak pernah makan selama berhari-hari, membuat sang bartender bertanya-tanya.

"Anda sedang dalam perjalanan jauh, tuan?" katanya sambil mengelap gelas-gelas besar untuk root beer andalannya. Api melirik manusia di hadapannya ketika ia menyadari panggilan untuknya beralih dari 'nak' menjadi 'tuan'. Ia tertawa pelan, lalu mengangguk.

"Yup, ah, aku sedang mencari saudaraku. Apa kau melihatnya?"

"Saudara? Bagaimana ciri-cirinya?"

"Hmm, wajahnya sedikit mirip denganku, hanya saja… ada aura karismatik yang tinggi darinya," ia mengingat-ingat sosok Gempa.

"Uhm—ada ciri yang lebih spesifik?"

"…Biar kuingat. Hidungnya satu dan lucu seperti aku, matanya dua dan indah seperti aku, kulitnya mulus seperti aku, dan wajahnya tampan seperti diriku—"

"—Itu sih gak spesifik," kata sang bartender cepat sebelum narsisme lawan bicaranya bikin mual. Ia melanjutkan, "Tapi kalau kau bilang mirip denganmu, kurasa tidak. Aku tak pernah melihat wajah yang mirip denganmu berkeliaran di dekat sini. Kenapa, tuan? Saudaramu hilang dari rumah?"

Api mengangguk lemas, ia melanjutkan kegiatan makannya sambil curhat. "Dia menghilang dua hari yang lalu, dan aku bermaksud untuk mencarinya hari ini bersama saudaraku yang lain. Namun karena sesuatu hal, saudaraku yang mencarinya bersamaku juga ikut hilang, ditambah aku kelaparan. Kemudian saat aku berjalan mencari di kota ini, aku menemukan bar milikmu. Ya sudah, aku masuk, sekaligus berharap mendapatkan petunjuk soal keberadaan mereka." katanya curhat panjang lebar, diakhiri dengan nada lesu yang dibuat-buat. Menghela nafas sejenak, Api melanjutkan kegiatan makannya dengan nafsu yang sama hingga makanan tersebut tak tersisa.

"Kemana lagi aku harus mencari mereka?"

Bartender itu merapihkan kembali gelas-gelas, lalu menggelengkan kepala. "Kau tahu, Kota Porto adalah kota yang besar, dan ketika kau kehilangan seseorang di kota ini, kau akan malah semakin sulit mencarinya kembali."

Api menepuk perutnya yang kenyang setelah berhasil menandaskan makanan-makanan terhidang di hadapannya tadi. Ia mengambil tusuk gigi, membersihkan giginya sambil bicara dengan cuek. "Mana aku tahu, aku kan baru tiba di Porto tadi pagi. Aku dan saudaraku berencana untuk pergi ke Herdes, kota perbatasan Signaria dan Thremor, lalu melanjutkan perjalanan ke Totis."

Api menggigit-gigit tusuk giginya, sementara sang bartender hanya mengangguk-angguk paham. "Kenapa anda tidak melewati jalur hutan saja, tuan? Hanya membutuhkan waktu setengah hari untuk sampai ke Herdes."

Api mengerjapkan matanya, "Eh? Ada jalan pintas ke Herdes?"

Sang bartender mengangguk sekali lagi, "Ada, jalurnya 5 KM sebelum pintu masuk Porto. Tapi… kalau anda sudah berada di sini, anda sudah tak bisa melewati hutan itu lagi karena harus memutari gunung. Malah lebih jauh."

Api mendengus kasar dengan sebal. Dia tidak tahu akan hal itu, jika ia tahu, tentu saja ia akan tiba di Herdes lebih cepat. Api menggaruk kepala belakangnya dengan emosi.

"Gaaah—! Tau gitu aku lewat hutan!"

Bartender berkumis tipis itu hanya tersenyum kecil melihat tingkah pemuda di hadapannya.

"Ngomong-ngomong, bagaimana anda bisa kehilangan saudara anda di Porto?"

"Ah… itu…"

Api melirik ke atas, mengingat-ingat kejadian tadi siang.

.

.

.

.


.

.

"Hwee… Air… Aku haus—"

Api mengeluh dengan badan yang sengaja dibungkuk-bungkukkan, supaya laki-laki di sampingnya bersimpati. Tapi tidak bagi Air yang tetap menatap lurus ke depan sambil menggendong ranselnya dengan payah.

"Berisik. Aku juga haus, kak."

"Hey, tak bisakah kita gunakan sihir-mu itu untuk minum—" Api menatap lesu saudara tirinya.

Air mendengus, "Bukankah ibu sering bilang, waktu dulu? Kita tak bisa memakan atau meminum sihir, karena sihir berbahaya untuk pencernaan manusia."

Api merengut. Dia tahu itu, tapi entah kenapa ia tak bisa berhenti memikirkan sihir air milik saudara tirinya yang selalu terlihat menyegarkan dan seolah dapat diminum untuk melegakan kering di tenggorokannya.

"Bertahanlah. Sebentar lagi juga kita bakal sampai di Porto," ia berhenti sebentar menatap saudara tirinya itu, "Lagian gara-gara siapa, coba? Perbekalan air minum kita untuk 3 hari ke depan, habis hanya dalam 2 detik, hm?"

Api menjatuhkan dirinya di atas tanah, lidahnya terjulur keluar, ia menatap langit terang di hadapannya. Warna langit yang menyilaukan mata, membuatnya semakin merasa panas dan lelah. "Uhh… Itu kan karena aku haus—lagipula kita kan udah jalan selama enam jam, Air… jadi wajar, kan? Apa kamu gak kasian sama aku… Hiks," katanya dengan tetesan air mata palsu, dan sukses membuat Air melemparkan badannya dan menyikut perut Api tanpa belas kasihan, hingga tubuhnya refleks melengkung nyeri. "—GUUUUHH!"

"Manja," datar Air. Ia menatap tak peduli Pangeran yang sedang berguling kesakitan ke sana kemari. Melihat Api seperti itu, malah membuat Air semakin lelah, dan energi malasnya keluar. Pada akhirnya ia ikut melengserkan badannya di samping sang Pangeran, menarik nafas lelah. "…Aku juga capek, kak."

Api tertawa setelah berhenti berguling, lalu mengistirahatkan kepalanya di perut Air. "Mending istirahat sebentar di sini," ia melirik sekeliling. Sejauh pandangan matanya memandang, hanya padang rumput yang menemani penglihatannya. "Nggak ada rumah satu pun di sini…"

Air ikut mengangkat kepalanya, "Pohon juga cuman ada dua atau tiga," ia kembali menghempaskan kepalanya ke tanah. "Namanya juga Tanah Grass-Lot. Lebih banyak rumputnya ketimbang pohonnya."

Api memejamkan matanya, "Kak Hali sama Kak Taufan lewat sini juga gak, ya?"

"Harusnya sih lewat, kalau mereka menuju Herdes—" kalimatnya terhenti ketika telinganya yang jeli mendengar suara aliran air. Air mengangkat setengah tubuhnya, lalu menengokkan kepala ke arah barat tubuhnya.

Melihat tingkah Air, Api menaikkan alis kirinya. "Kenapa, sih?"

"Sepertinya ada sungai di sana," Air menunjuk salah satu bukit kecil yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya itu, "Di sana, dibalik bukit itu."

Api melompat berdiri, lalu menyipitkan mata. "Hng—Bagaimana kau bisa tahu—? Ah, kalau soal air, indra-mu jadi tajam, ya."

Air tak menanggapi, ia yang sedari tadi sudah menahan dahaga karena kekurangan asupan air, segera melesat ke arah yang tadi ditunjuknya. "Kakak tunggu sini! Biar Air yang ambil airnya!"

"Okay!" Api melambaikan tangannya dengan senyum gembira, kemudian berdiri bertolak pinggang. Masih tersenyum ke arah kepergian Air, hingga Air hilang dari sudut matanya.

Dan ia terus berdiri dengan senyum seperti orang idiot, sampai hari kian gelap. Ia berdiri di sana selama tiga jam.

Ketika bulan sudah muncul, Pangeran Api baru sadar.

.

.

.

"SIALAN. GUE LUPA KALO ADA SUNGAI DIA GAMPANG HANYUT—"

.

.

.

Api menggemertakan giginya lalu melesat ke arah tempat Air menghilang dari sudut pandangnya tadi.

Setelah ia menuruni bukit tinggi, Api yang tak bisa melihat dengan jelas karena gelap, akhirnya menyalakan sihir api di tangannya. Cahaya api sedikit demi sedikit menerangi jalannya, kini ia bisa lihat, di balik bukit itu benar-benar mengalir sebuah sungai jernih dengan lebar dan kedalaman tak sampai lutut manusia. Api mendekati daerah aliran sungai yang dipenuhi batu-batuan kali tersebut. Ia mengangkat tangan ber-apinya lebih tinggi, lalu menengokkan kepala ke sana kemari dengan gusar saat ia tak melihat sosok guardian prince kesayangannya itu.

"OI~! AIR! KAMU DIMANA~?!" Teriaknya panik, mengarahkan satu-satunya cahaya ke sekeliling. Ia mulai melangkah menyusuri sungai sedikit demi sedikit, hingga suara sepatunya mengetuk sesuatu terdengar. Ia melirik ke bawah, tampak di matanya botol coklat berbahan kaca beling terhampas sinar cahaya bulan menggelinding menjauhi kakinya. Ia mendekati botol itu selangkah dua langkah, kemudian jongkok dan memungutnya. Mata Api mengernyit saat ia melihat botol dari bekal perjalanannya yang tadi dibawa Air kini tergeletak begitu saja. Ia bisa membayangkan pemiliknya sudah hanyut entah kemana.

Hela nafas. Semua ini terjadi karena ia lupa satu kebiasaan jelek sang adik yang sangat ia benci.

.

.

Ya. Adiknya mudah terbawa aliran sungai manapun yang ia lihat.

.

.

Kau tidak percaya? Tapi ini sungguhan.

Sejak kecil Pangeran Air punya keunikan yang mungkin membuat orang terheran-heran. Keunikan ini mulai disadari oleh Lady Artroinne yang ketika itu memandikan anaknya yang berumur tiga tahun di sungai—hingga akhirnya hilang begitu saja, hanyut terbawa aliran sungai. Padahal jika dipikir-pikir, aliran sungai itu dangkal, tidak dalam. Namun Air dapat hanyut dengan mudah.

Air tidak bisa berenang, katamu? Bukan, bukan.

Justru Air adalah salah satu dari enam pangeran yang paling mahir soal renang. Makanya, ia ditunjuk menjadi Ksatria Maritim Strata Empat oleh sang Ayah. Hanya saja, ada salah satu kebiasaan buruk Air ketika kulitnya yang putih pucat bersentuhan dengan air sungai. Air sungai yang jernih dan mengalir, sering mampu menghipnotis dirinya untuk sekedar merendam diri di sungai dengan pikiran kosong. Anehnya karena tubuhnya yang ringan bak batu apung, ia akan mengambang seperti baju cucian yang hanyut di sungai. Air akan terus mengikuti aliran sungai dengan tatapannya yang kosong ke hadapan langit, dan hanya hempasan dari air laut di hilir sungai saja yang dapat membuatnya sadarkan diri, jika seseorang tidak menariknya dari sungai.

Api mengumpat kesal, dan bagaimana ia bisa lupa soal kebiasaan adiknya yang satu itu? Bisa jadi karena sudah beberapa tahun terakhir ini Api dan Air tak pernah lagi menghabiskan waktu di Hutan Signaria tempat kedua saudara angkat dan Lady Artroinne bermain dan belajar bersama. Alasannya sih, karena ia takut Air akan merasa sedih ketika pergi ke tempat itu lagi tanpa kehadiran sang ibu. Sejak itu, Air tak pernah menyentuh air sungai.

Api menggigit bibir bawahnya kesal. Ia terus menyusuri sungai tanpa menyerah, walaupun ia mulai kekurangan energi karena belum makan sejak pagi, dan menyebabkan sihir api di tangannya mulai melemah.

Namun tepat saat ia ingin menyerah, ia melihat sebuah cahaya-cahaya peradaban tak jauh dari batas khatulistiwa sudut pandangan matanya.

Api menahan nafas, "Porto," lirihnya riang. Melihat aliran sungai itu juga melewati kota, ia bernafas lega. Karena kemungkinan besar akan ada yang memungut adiknya dari aliran sungai dan menyelamatkannya. Yaa, masa' sih, kota sebesar itu tak ada yang berbudi baik mau memungut bocah malang yang hanyut bagai cucian baju?

Api menarik nafas senang, ia segera berlari ke arah gerbang besar Kota Porto.

.

.

.


.

.

.

"Intinya… dia hanyut," katanya singkat tanpa penjelasan apapun kepada sang bartender. Bapak kumis tipis itu tersenyum kaku.

"Dia hanyut di sungai?"

Api mengangguk. Sang bartender sudah tak tahu harus berkomentar apa lagi. Ia hanya menggelengkan kepala, menarik nafas yang seolah mengisyaratkan bahwa ia lelah. Lelah, Pak Kumis sudah lelah.

"Ah, ngomong-ngomong," Api mulai angkat bicara sambil menyesap susu hangatnya, "Apa di sekitar sini ada penginapan?"

"Oh," Bartender itu sumringah, "Sekitar lima rumah dari sini kau akan menemukan penginapan," ia melirik kiri dan kanan, lalu berbisik pada Api dengan tatapan jenaka, "Di sana juga ada gadis-gadis cantiknya, lho."

Api memiringkan kepalanya tak paham dengan wajah Pak Kumis yang menatapnya dengan cengiran mesum.

.

.

.

.

.

.

.

Dan begitulah ceritanya, bagaimana Api bisa berakhir di ruang bawah tanah sebuah penginapan. Ia tak habis pikir kenapa ia harus berada di tengah-tengah orang-orang yang berteriak atau bersiul antusias ke arah panggung—atau tepatnya ke arah gadis-gadis cantik yang sedang melenggokkan pinggulnya dengan pakaian-pakaian minim. Api tak mengerti, kenapa gadis-gadis itu harus melenggakkan pinggulnya di depan para pria dengan pakaian minim? Apa mereka tidak merasa malu? Dan yang lebih penting… apa mereka tak merasa kedinginan?

Api saja menggigil. Malam-malam begini dengan pakaiannya yang tipis ia harus berada di bawah tanah dan menyaksikan pertunjukkan tak penting gadis-gadis itu. Jika bukan karena pemilik penginapan yang menawarkan daging iga panggang gratis di restauran bawah tanah miliknya itu, ia tentu takkan membuang waktu untuk datang kemari. Belum lagi dengan kenyataan saudaranya yang hilang, dia harus memastikan dirinya tidur tak terlalu larut, supaya bisa melanjutkan pencarian saudaranya yang hilang.

Bukan. Bukan saudara yang hanyut. Saudara yang diujung benua Eschotta sana. Ngapain repot-repot cari yang hanyut?

Yang hanyut, mungkin sekarang juga sedang berada di suatu penginapan di kota ini. Atau mungkin di rumah orang. Api tak harus repot memikirkan Air, mengingat dia adalah seorang Guardian Prince, dan menurut instingnya sang doi sekarang tak berada jauh. Jika ia berjodoh dengan Air, mungkin mereka akan bertemu di ujung kota Porto—atau bahkan di Herdes sehari atau dua hari lagi.

Api menyesap teh hangatnya yang masih ia sesali karena bukan beer. Jika umurnya sudah cukup, mungkin ia bisa minum beer sepuasnya malam ini hanya untuk melupakan kedua saudaranya yang seenaknya saja menghilang itu.

Api menatap gadis-gadis penari itu yang kini turun panggung untuk menghampiri para pria dan mengajaknya berdansa bersama. Tak terkecuali dirinya yang dihampiri salah satu wanita berambut hitam lembut panjang. Kepalanya dihiasi pernak-pernik ala timur tengah, dengan setengah wajahnya ditutup kain tembus pandang. Gadis itu mengerling nakal pada pria dihadapannya, lalu mulai menarik tangan Api.

Tatapan cantik mata gadis itu, entah kenapa membuat Api terpana. Api yang tadinya tak tertarik dengan para wanita itu, kini akhirnya ikut bangkit berdiri dan balas tersenyum nakal. Gadis itu menaruh kedua tangan Api di pinggangnya, sementara ia mengalungkan kedua tangannya yang putih mulus di leher Api. Mereka berdua menari bersama mengikuti ketukan kendang.

Api memiringkan kepalanya, menatap sayu nan mabuk dengan goyangan teman kencan dansanya itu. Gadis itu melenggokkan badannya di hadapan tubuh Api berulang kali dengan eksotis. Api menjilat bibirnya sendiri, masih tersenyum terbuai.

Gadis itu terus menari, sekaligus menyeret kerah pasangannya keluar dari ruang bawah tanah, menuju toilet. Ia membawa dirinya sendiri untuk terperangkap di dinding toilet, membiarkan pria tampan di hadapannya memojokkan dirinya melawan tembok. Api menyeringai puas saat tahu wanita di hadapannya membawanya ke toilet—seolah menawarkan diri untuk Api.

Api menatap sayu lawannya. Bagai terhipnotis, sang Pangeran mulai merendahkan kepalanya. Mereka saling tatap, tanpa kedip di antara dua pandangnya. Wanita itu tersenyum manis setelah Api membuka kain penutup wajahnya.

Lawannya sudah memejamkan mata, memiringkan kepala, tanpa sadar ia mengusap leher belakang sang Pangeran—memanjakannya. Api menyeringai tajam, menatap mesra bibir lawannya.

Api terus mendekatkan wajahnya ke arah bibir orang itu, sampai akhirnya tiba-tiba belok ke telinga sang "gadis".

.

.

.

.

"…Aku gak tau kalau sekarang hobimu adalah jadi cross-dresser," Api menatapnya datar. "Air."

.

.

.

.

Air membuka matanya lalu nyengir, ia melepas wig panjang yang jadi penutup kepalanya itu. "Tau, toh? Kupikir penyamaranku perfect."

"…Kamu sengaja ingin menggodaku, atau gimana—"

Air menggeleng cepat, wajahnya merah, "MANA ADA! Aku kan bawa kamu ke sini supaya kita bisa ngobrol bebas!" ia mendorong tubuh Api untuk menyingkir dari tubuhnya. Api menyingkir, lalu menatap saudara laki-lakinya yang kini tengah memakai pakaian wanita itu dari belakang.

"Ngobrol bebas?" Api mengerjapkan matanya. "Jangan bilang kau sedang menyamar?"

Air menganggukkan kepalanya.

"…Tapi kenapa harus nyamar jadi cewek—cewek dancer di klub malam lagi—Kau harus tau, aku hampir tergoda dengan goyangan pinggulmu, dan aku hampir khilaf kalau saja aku tak membuka kain penutup wajahmu, tadi." Api menatap datar saudara tirinya. Wajah Air membumbung merah.

"GAAAHH! ITU TADI CUMAN AKTING, OKAY!"

"Akting apa? Bahkan saat kau memejamkan mata dan mengelus leherku?" Api menyeringai.

"Itu karena masih ada orang di belakang kita, tadi!" Air berkilah. Api hanya manggut-manggut berusaha percaya.

"Lalu? Bagaimana kau bisa ada di sini?"

"I—itu… Ketika aku sadarkan diri, aku sudah berada di dalam kereta kuda dengan tanganku terikat rantai. Saat kulihat sekeliling, ternyata aku ada di dalam kereta perbudakan wanita."

"Maksudmu… orang yang menemukanmu ketika hanyut itu penjual budak?" Wajah sumringah Api berubah gelap setelah mendengar kata 'perbudakan'. Ia tak sangka di bawah bendera kebangsaan Signaria, masih ada yang berani memperjualbelikan budak. Air menyadari kilat mata Api yang berubah marah, lalu segera menepuk pundaknya.

"Aku paham perasaanmu, kak. Tapi… ada informasi penting yang bisa dapatkan dari penjual budak ini, jadi kau jangan bertindak gegabah untuk meringkusnya seenak jidatmu."

"Masa' aku harus membiarkan orang yang mengikatmu berkeliaran bebas? Dan aku gak akan biarkan pemilik penginapan ini keluar hidup-hidup di siang bolong lagi jika aku tau mereka telah membelimu, dan memaksamu untuk mengenakan pakaian itu."

Air melirik pakaian ala wanita timur tengah yang sedang dikenakannya, lalu mengerling kepada sang kakak setelah ia mengenakan kembali wig rambut hitam panjangnya.

"Tapi aku manis, kan?" Air berpose ala girlband.

"…" Api menatap datar sang adik tiri, dan sukses membuat Air merasa bodoh sendiri dengan pertanyaannya.

Air mendengus, "Sialan. Seenggaknya katakanlah sesuatu—"

"Iya, iya, manis kok," Api mendengus menyerah pada akhirnya, melambaikan tangannya cepat bagai angin lalu. Air membalas tatapan lelah kakaknya dengan cengiran usil, sebelum akhirnya berdehem untuk melanjutkan topik utama mereka.

"Mengenai penjual budak dan pemilik restauran itu… Kak, aku rasa mereka ada hubungannya dengan Kak Gempa."

Api memiringkan kepalanya kaget, "Darimana kau tahu?"

"Aku tak sengaja mendengar percakapan penjual budak itu di kereta," Air mulai mengingat-ingat kejadian tadi sore.

.

.

.


.

.

.

Air membuka matanya, ia dapat rasakan goncangan yang hebat di tubuhnya hingga mampu mengembalikan kesadarannya yang hilang.

"Huh? Aku hanyut di sungai lagi, ya—" Air mencoba meraih kepalanya yang pening akibat goncangan itu, namun terkejut cepat ketika ia merasa tangannya terlilit sesuatu di belakang tubuhnya. Air menengokkan kepala, dan mendapati kedua tangannya dirantai serta digembok. Ia menyipitkan mata saat ia dapat merasakan bahwa rantai tersebut juga tersambung dengan tangan selain miliknya.

Air mendangah, matanya melebar melihat sekeliling banyak wanita-wanita kurus yang juga tak sadarkan diri dan bernasib sama dengannya.

Air mengernyit. Kenapa ia harus di tengah-tengah wanita ini?

Air berlutut, pandangannya mencoba meraih jendela kecil di salah satu dinding. Ia melihat pohon-pohon dan pematang bergerak cepat melewati matanya. Ia juga dapat mendengar suara erangan kuda beberapa kali, dan suara orang mengobrol di dinding berlawanan yang sedang ia pelototi.

Air menengokkan kepalanya, ia melihat siluet dua orang sedang berbicara dari balik jendela yang tertutup kain putih tipis.

"Kita beruntung menemukan satu orang lagi di sungai. Lumayan," salah satu siluet itu bersuara.

"Tapi aku belum memastikan jenis kelaminnya, aku terlalu terburu-buru mengikat dan memasukkannya ke kereta tadi. Aku takut ada yang melihat kita dengan budak-budak itu dan melaporkan kita ke Kerajaan."

"Tenanglah, kita bisa memastikan jenis kelaminnya nanti setelah kita sampai ke Porto."

Air mengernyit mendengar nama kota yang sedang ditujunya itu. Diam-diam ia tersenyum senang karena tak perlu mengeluarkan tenaga untuk menghancurkan kereta dan sang pengendara hingga habis. Air bisa duduk tenang dan berpura-pura jadi budak yang baik supaya dapat tumpangan gratis hingga Porto, setelah sampai sana, ia baru bisa menghajar orang-orang yang telah mengikatnya seperti anjing itu dengan sihir es-nya.

Beberapa lama Air berdiam diri di antara budak-budak itu, sampai akhirnya kereta berhenti, dan ia bisa rasakan lonjakan sang kusir turun dari kereta. Air bisa mendengar suara orang riuh ramai dari luar kereta, dari situ ia bisa menarik kesimpulan bahwa mereka sudah sampai di Porto. Ketika ia bersiap-siap untuk mengeluarkan sihir supaya bisa mendobrak pintu, sebuah suara terdengar lagi dari arah luar.

"Ini pekerja-pekerja yang kaujanjikan?"

Air menekan kembali sihirnya.

"Ya, sudah semua. Ditambah satu, kami temukan di sungai. Anggap aja bonus, lah."

Sialan… gue dianggap bonus—protes Air kesal dalam hati.

"Hm. Okay. Sampaikan salamku untuk Tuan Borara kalau aku sangat suka berbisnis dengannya," mereka hening sebentar, sebelum suara yang sama kembali melanjutkan dengan suara kecil, "Dan katakan padanya, selamat karena sudah berhasil membawa Pangeran Kedua."

Air mendelik.

"Ah, jadi kau tau soal rencana itu, ya?"

"Beberapa hari yang lalu aku mendengar kabarnya dari seorang pedagang kain di ujung jalan, bahwa ia melihat beberapa orang suku tengkotak melintas, dan sedang melanjutkan perjalanan menuju Herdes. Jika mereka sudah kembali menuju Herdes dan berencana ke Delianna, itu artinya mereka berhasil, kan?"

"Ah, aku belum dapat kabar soal itu. Bos Borara belum katakan apa-apa pada kami. Jadi… aku tak bisa katakan apakah berhasil atau tidak."

"Begitu? Yah, jika benar, sampaikan saja kata selamat dariku."

Setelah itu, Air bisa mendengar suara pintu kereta dibuka. Kini perasaan ragu menghalangi gerakan sihir Air. Ia yang tadinya yakin akan menghajar orang-orang itu, kini menjadi ragu, apakah jika setelah orang-orang itu ia hajar, ia akan dapatkan informasi yang berguna mengenai kakaknya? Air tak ingin mengambil resiko. Selain itu, ia tak ingin mengundang keributan sebelum ia dapatkan informasi lebih banyak mengenai siapa "Borara" ini.

Air memutuskan untuk pura-pura tertidur. Terima kasih pada tubuhnya yang kecil dan tidak terlalu berotot seperti Api, ia akhirnya dianggap perempuan dan disuruh mengenakan pakaian perempuan seperti yang lain. Awalnya ia merasa terhina dan tak terima, tapi demi informasi, ia tetap melanjutkan aktingnya.

Hingga ia bertemu kembali dengan Api.

.

.

.


.

.

.

.

Api menatap Air dengan tatapan iri.

"Kamu naik kereta, sementara aku jalan kaki menyusuri sungai mencarimu untuk sampai Porto? Dunia ini adil sekali," katanya sarkas. Air tertawa.

"Balasan buat yang menghabiskan perbekalan air kita."

Api mendengus, "Lalu, sampai kapan kau mau bekerja di sini jadi budak? Kau tahu kita tak punya banyak waktu. Mungkin kita bisa dapatkan info soal siapa yang menculik Kak Gempa. Tapi jika kita terlalu lama di sini, kita gak akan bisa menyusul Kak Gempa, dan gak bisa ketemu yang lain di Totis."

"Aku tahu," tampik Air cepat, "Aku berencana kabur besok, berhubung aku juga sudah bertemu denganmu."

"Kalau aku tak bertemu denganmu hari ini, kau takkan kabur besok? Dan terjebak di sini selamanya?"

Air tertawa lagi. "Enggak, lah. Aku tetap akan kabur besok. Aku tahu kau pasti akan menemuiku di ujung Kota Porto atau mungkin di Herdes."

Mimik wajah Api yang tadinya merengut, kini sedikit senang ketika tahu mereka memiliki pola pikir yang sama. Api kini merasa benar, bahwa ia memang seharusnya tak khawatir soal adiknya yang hobinya hanyut ini.

"Jadi, sampai sejauh ini, info apa saja yang sudah kaudapat?" Api mulai dengan topik baru.

Ketika Air hendak membuka bibirnya untuk bicara, suara pintu toilet terbuka, mengagetkan mereka berdua.

"Hei, kamu! Kenapa malah di sini! Apa yang kaulakukan?!"

Api menatap seorang laki-laki paruh baya, mengenakan topi fedora dengan cerutu tebal di bibirnya. Menatap penuh amarah ke arah Air. Air memasang wajah pura-pura takut.

"Ma—Maafkan aku, tuan—" katanya dengan suara kecil melengking ala perempuan. Api nyaris tertawa mendengar itu, jika saja ia tak keburu merasa sakit di perutnya akibat sikutan maut sang adik.

"Kembali bekerja!" pria itu menghardik tak suka, saat Air mengangguk dan hendak melangkah melewati si tua bangka itu, Api menahan pergelangan tangan Air.

"Tunggu," ia menatap pria itu, "Kau pengelola panggung di restorasi penginapan ini, kan?"

Pria itu mengernyit, menatap heran Api. "Ya? Apa maumu?"

Api tersenyum, memeluk pinggang Air dan meliriknya dengan tatapan mesum yang dibuat-buat.

"Aku ingin tidur dengan gadis ini, malam ini. Berapa biayanya untuk satu malam?"

"WHA—?!" shock Air menatap Api. Ingin rasanya Air menghajar muka Api sekarang juga—meski ia tahu, wajah mesum itu hanya tipuan Api—tapi tetap saja melihatnya yang biasa polos dan penuh cengiran ceria menjadi seperti ini, rasanya menjengkelkan bagi Air.

"Apa? Dia gak dijual, tuan, aku takkan membiarkanmu merusak pegawaiku—"

Api melemparkan sebuah kantong kecil ke arah si tua. Orang tua itu membuka isinya dan melihat beberapa belasan koin emas asli berhamburan ke dalam genggamannya. Seketika saja tatapannya berubah baik. Ia tersenyum ke arah Api.

"Ah, tapi jika itu maumu, silahkan, tuan. Bawa saja dia ke kamarmu, terserah mau tuan apakan dia."

Air menatap datar sang pengelola, sebelum akhirnya Api merangkul pundaknya dan setengah menyeretnya keluar dari toilet. Air hanya diam sepanjang perjalanan mereka menuju lantai tiga, kamar Api. Hingga Api membuka pintu kamar, dan menutup pintunya kembali, suara hantaman terdengar cukup keras dari dalam kamar Api.

.

.

BUUUGH!

"MATI KAU, KAKAK KAMPRET."

.

.

"—GUUUHHHH!"

Api terkapar seketika. "APA SALAHKU, OI!" ia protes sambil memegangi pipinya yang terkena bogem mentah dari Guardian Prince-nya sendiri. "Aku kan cuma mempermudahmu supaya kamu gak perlu lagi susah-susah kabur dari mereka besok!"

"Tanpa bantuanmu pun aku masih bisa kabur besok! Lagian cara macam apa itu?! Kenapa aku jadi semacam wanita jalang sekarang?!" protes Air kalut.

"…" Api terdiam sejenak, ia melanjutkan dengan suara bervolume rendah, "Dengar, ada tiga hal yang perlu kau ketahui. Pertama, kau bukan wanita. Kedua, kau tidak jalang. Ketiga," Api menatap Air langsung di mata. "Aku tak suka melihatnya menghardikmu seperti itu."

Air tertegun sejenak, lalu berpaling dengan wajah bersalah, "Maaf, kak," ia menggaruk kepala belakangnya. "Tapi… gak ada pilihan lain. Aku juga gak ingin menciptakan keributan. Aku gak pengen mereka tahu siapa kita."

"Aku tahu," Api mendesah, lalu melepas topinya. Ia bangkit berdiri, lalu menghampiri Air. Ia menaruh topinya di atas kepala Air, dan tersenyum di hadapan wajahnya, "Tapi kau itu penjagaku. Punyaku. Kamu gak boleh melayani orang lain selain aku. Paham?"

Air menatap sayu sang kakak, lalu tersenyum tipis.

"Paham."

.

.

.

.

.

.

.

.


Bulan dan bintang berselaras terang malam ini. Tiga orang melangkahkan kakinya dengan hati-hati melintasi jalan utama Kota Herdes. Meski sudah malam, pusat perbelanjaan sepanjang jalan utama itu masih ramai dan gegap gempita dengan kemeriahan orang-orang yang berkumpul di toko sihir kesukaannya, atau sekedar bermain dengan teman-temannya di malam minggu. Halilintar berjalan santai, dengan tangan yang tetap siaga di kantong laras revolver-nya, ia tetap waspada melihat sekeliling.

Atau mungkin, ia lebih waspada dengan makhluk tengik yang ada dihadapannya dan kini tengah heboh bercerita jenaka dengan Taufan.

"Lalu, apa kau tahu apa yang dilakukan wanita-wanita itu demi melihat Pangeran Siegyart? Mereka memanjat pagar kerajaan! Gila betul, mereka rela melakukan apa saja untuk mendapatkan hati pangeran sombong itu, ah aku tak tahu lagi, Taufan, itu menye—"

"Oi," Halilintar memutus cerita panjang Thorn. "Berhenti membual. Kau belum jawab pertanyaanku."

Thorn dan Taufan melirik ke belakang, menatap si perusak suasana.

Thorn hanya tersenyum kecil, "Ah, soal apa?"

Halilintar memutar bola matanya ketus, "Tentang kau siapa."

Thorn kembali berjalan ke depan, ia saling pandang misterius dengan Taufan. Taufan sedikit berkeringat dingin, karena beberapa saat yang lalu pertanyaan itu dapat dengan mudah mereka hindari. Tapi tentu saja seharusnya Taufan sadar, kalau pangeran pengampunya tak mudah ditipu.

"Dia… err…" Taufan menggaruk pipinya, "Bagaimana mengatakannya…"

Halilintar memiringkan kepalanya, menatap Taufan dengan pandangan menuntut penjelasan. Sementara itu pria yang mengenalkan dirinya sebagai Thorn, hanya mengulum senyum menatap Taufan.

"Singkatnya," Thorn ambil alih, setelah Taufan lama berdiam diri dalam kebingungan. "Aku dulu partner in crime dia," katanya sambil menunjuk Taufan dengan jempol ke belakang.

Halilintar mendelik singkat, "Huh? Apa maksudmu?"

Taufan memberanikan diri buka mulut. "Uhm, kau ingat? 4 tahun yang lalu, saat kita berumur 14 tahun, Raja menyuruhku mengikuti ujian pendidikan kenaikan strata? Dari strata tiga menuju strata empat?"

Halilintar melirikkan matanya sejenak mengingat-ingat, "Ah, ujian strata 1 tahun itu, ya—aku tak tahu Papa menyuruhmu kemana, yang jelas tahu-tahu kau sudah hilang waktu itu."

"Yaa, Ujian kenaikan strata Ksatria. Ujiannya waktu itu adalah bertahan hidup tanpa perbekalan dan tanpa uang sepeser pun, mencari benda-benda langka. Kemudian… saat aku hampir mati kelaparan di hutan, aku bertemu dengan Thorn. Dia yang menyelamatkanku. Lalu… karena aku butuh uang untuk membiayai perjalananku waktu itu, aku ikut terlibat sesuatu di sini bersama Thorn."

"Terlibat sesuatu?"

Thorn tersenyum malu, "Kurang lebih… seperti ini," ia melambaikan sebuah dompet di depan wajahnya. Halilintar terkejut, ia kontan meraba kantung celananya, saat dirasa kantung celananya kosong, ia segera menggeram emosi, mengeluarkan pistol cepat dan mengarahkannya ke dahi Thorn.

"Kembalikan dompetku."

Thorn tak menghiraukan lubang laras yang mengarah pada dahinya dan terus tertawa. Sementara Halilintar mencoba merebut sang dompet, Thorn dengan tanggap melempar dompet itu ke arah Taufan—namun sayangnya Taufan malah melemparkannya kembali ke arah Halilintar dengan percuma. Halilintar menangkap, lalu memasukkannya kembali ke kantong dengan seringai sombong di wajahnya.

"Che, kau membosankan, Taufan," ia merangkul Taufan, "Ayolah, kita kerja sama lagi? Kembali seperti empat tahun yang lalu mengerjai orang-orang kaya itu?"

"Ogah," Taufan membanting tangan Thorn, menjauh dari pundaknya. "Waktu itu kulakukan untuk bertahan hidup sekaligus membiayai perjalananku dalam menyelesaikan misi ujian pendidikan. Jangan harap aku melakukannya lagi."

Halilintar melipat tangannya, "Jadi… singkatnya… kau seorang pencopet? Dan…" Halilintar menatap Taufan dengan pandangan berbeda, "Kau pernah jadi pencopet juga?"

Taufan panik, "Waktu itu aku tak punya pilihan lain, oke? Lagian aku hanya melakukannya satu kali!"

Halilintar menyipitkan matanya.

"Sungguh!"

Thorn tertawa, lalu menepuk pundak Halilintar, "Itu benar, dia hanya melakukannya satu kali, itupun karena aku menipunya. Aku bilang kalau dompetku diambil orang, dan aku ingin ia mengambilkan dompet itu kembali ke tanganku," Thorn tertawa kecil, "Dia tak tahu kalau dompet itu bukan punyaku. Aku hanya menipunya saja," Thorn menyeringai usil ke arah Taufan yang disambut wajah sebal.

"Jika aku tak ingat kau mengeyelamatkan hidupku sebelumnya, aku pasti sudah menghajarmu karena berani menipuku, waktu itu."

Thorn tertawa sekali lagi, kembali melangkahkan kakinya, disusul kedua orang di belakangnya.

"Jadi… apa yang kaulakukan di sini, Thorn?" Taufan menatapnya.

Tatapan Thorn sejenak berubah, ia menatap jalanan dengan hampa, "Sama seperti kalian. Aku juga sedang mencari seseorang. Kudengar orang itu ada di Totis. Aku sedang dalam perjalanan ke sana."

Taufan tersenyum, "Wah! Kebetulan! Kami juga sedang menuju ke Totis! Benar, kan Hali?"

Halilintar tak menjawab, hanya mendengus.

"…?" Taufan memiringkan kepalanya heran sejenak, lalu kembali ke wajah Thorn. "Ah, bagaimana kalau melanjutkan perjalanan bersama ke Totis?"

Halilintar menatap Taufan dengan shock, Thorn melirik reaksi Halilintar, lalu tertawa. "Hahaha, aku tak yakin itu ide yang bagus. Lagian, aku tak ingin membuat perjalanan kalian yang nyaman, berubah jadi perjalanan yang berbahaya."

Mendengar kata 'berbahaya', Halilintar maju satu langkah. "Apa maksudmu berbahaya?"

"Well, kau tahu, aku sudah berhenti mencopet dan hal-hal kriminalitas lainnya semenjak adikku sakit, setahun yang lalu. Tapi… penjahat-penjahat mafia Signaria seperti Banckard dan Gunman masih saja mengejarku sampai hari ini. Aku takut perjalanan kalian tidak aman dan tenang kalau aku ikut dengan kalian."

Halilintar sedikit terperangah, "Itu… kelompok mafia besar. Aku terkejut kau masih hidup hingga hari ini," Halilintar melirihkan pujian dengan caranya.

Thorn terkekeh malu, menggaruk kepala belakangnya, "Yah, kurasa aku hanya beruntung," Thorn menatap ke depan saat mereka sampai di pertigaan jalan. "Ah, di sebelah sana ada penginapan, beberapa gedung saja dari sini," tunjuknya ke salah satu jalan.

"Bagaimana denganmu?" tanya Taufan.

"Uhm, Aku mau belanja beberapa perbekalan dulu, nanti aku menyusul," Thorn melambaikan tangannya, lalu berlari ke arah berlawanan, menghilang di antara kerumunan orang-orang.

Halilintar dan Taufan saling pandang, lalu mengernyit bersamaan.

.

.

.

.

.

Sementara itu, tak jauh dari sana.

.

.

.

"Itu dia. Bocah tengik yang berani kabur dari kita. Kita cegat dia sekarang, pak!"

"Tidak. Tunggu. Jangan sekarang. Jika benar ia sedang mencari adiknya di Totis, seharusnya ia akan melewati Jalur Parsia. Kita cegat saja di sana."

"Ah betul juga Pak!"

Lalu mereka tertawa bersama, menghilang di balik kegelapan.

.

.

.

.


Bersambung.


A/N: Whoooo~ Seperti biasa saya lama sekali apdetnya—padahal nganggur—orz. Kalau ada yang tanya apa kabar dengan fanfic "My Brother and I", sementara ini ide lagi bertebaran di "Royal x Guardian", jadi… belom ada ide untuk fanfic My Brother and I. Btw saya open rujukan ide, bagi kalian yang mau ngasih ide baik itu untuk fanfic "My Brother and I" atau "Royal x Guardian" monggo, saya tunggu di review. Dan karena chapter ini gak banyak istilah yang bisa saya ulas, saya gak adakan Trivia. Hohoho~

Sore jya, arigatou gozaimasu! Sampai berjumpa!