Malam itu ribuan penjar api berkobar. Entah sudah berapa gulungan asap hitam yang membumbung di udara, yang jelas suara jeritan-jeritan memekakkan telinga mulai melengkingkan nestapa. Belum ditambah suara ratusan kuda yang menghentakkan bumi, mengambrukkan pohon dan rumah-rumah pribumi. Satu di antara rumah yang ambruk itu, menangis seorang anak kecil dengan kacamatanya yang pecah. Air matanya meleber keluar bersamaan darah akibat serpihan kaca-kaca yang menancap di sekitar pelipisnya. Ia menangis, meraup memanggil seseorang.
"A—ABAAAANG—"
Suara pecut kuda terdengar dari kejauhan. Lima langkah sebelum dekat, si kecil sempat mendangah untuk melihat, tapi sebuah tangan keburu menyambar pinggangnya.
Anak kecil berambut ungu itu mengerjapkan matanya, ia heran melihatnya kini berada di atas leher kuda, dipeluk erat dengan tangan baja. Si kecil mendangah, berusaha mengira-ngira siapa yang memungutnya di tengah kekacauan itu.
Raja Signaria muda membuka topeng bajanya, wajahnya yang berpeluh dan mengepulkan nafas hangat, berusaha tersenyum lembut ke arahnya.
"Tenang, nak. Kau aman sekarang."
.
.
.
"Apa yang kaupikirkan, Abaross!" Seorang pria dewasa berbaju zirah, terlihat sibuk mondar-mandir di tengah ruang base-camp.
"Oh, Hustle, Hustle Bee. Aku tak punya pilihan lain," Abaross tertawa ringan sambil memangku bocah yang malam lalu ia pungut. "Aku melihatnya menangis sendirian di tengah desa yang kita datangi itu. Dan ia penuh luka."
Hustle kelihatan tak senang, ia meringis penuh amarah. "Kau tahu yang kita datangi itu desa APA, kan?" Nadanya terdengar tertekan, "Yah, meski kita memang datang sebagai Blok Kuasa Netral dan untuk menyelesaikan kesalahpahaman pada perang ini, tapi bukan berarti kita harus bertindak pahlawan dan memungut orang seenaknya saja!"
Abaross masih tersenyum dengan caranya. Ia kini menatap si kecil di pangkuannya—meski yang ditatap hanya tidur pulas dengan polosnya, seolah tak tahu bahwa wajah dan mata kirinya kini penuh perban akibat luka serius.
"Justru karena aku tahu ia datang dari desa itu makanya aku ingin membesarkannya sebagai anak."
"KAU GILA!" Hustle menggemertakkan giginya tak sabar. "Dia anak dari Keluaga Dao Shi! Dia penganut sihir hitam! Sihir yang menyebabkan perang ini pecah!" nadanya terdengar memperingatkan tapi terlalu menyentak dan terkesan memaksa. Meski begitu, Abaross tetap tersenyum.
"Dao Shi bukan keluarga yang jahat. Mereka penganut sihir hitam, tapi bukan mereka penyebab Perang Ambracas ini meletus, ingat itu, Hustle."
Hustle seketika terdiam. Wajah tak setuju seketika turun menjadi wajah bingung. Abaross melanjutkan.
"Aku tahu, dalang dari seluruh runtutan masalah ini bukan mereka. Kerajaan Thremor telah salah pandang soal masalah ini—" Abaross terdiam sejenak, tatapannya hambar sekejap, "—begitu juga dengan selirku, Hannah—dan istrimu, Artroinne."
"Maksudmu… ada orang dari Persatuan Eschotta yang ingin memecah dunia sihir hitam dan putih?"
Abaross menelan ludah, ia memijat keningnya dengan tatapan seolah enggan menjawab. "Aku tak bisa berkata dengan pasti, tapi… di antara orang-orang keturunan Soldia seperti kami ini masih banyak yang memiliki masalah kesenjangan sosial dengan mereka yang memiliki kekuatan sihir, Hustle. Tak sedikit dari kaum Soldia kami sendiri yang ingin memboykot istana-istana yang memiliki kebijakan soal sihir seperti tujuh negara besar Eschotta, termasuk Kerajaan Signaria dan Thremor."
Hustle ambruk ke kursinya, helaan nafasnya terdengar tak setuju lagi.
"Tapi kalian keturunan Soldia! Kalian adalah orang-orang yang memang tak perlu belajar sihir! Kekuatan kalian tak berasal dari Mana, kekuatan kalian berasal dari kinetis tubuh. Jika kalian para Soldia belajar sihir, ada efek kerusakan pada otot dan stimulus di tubuh kalian!" sejenak ia melirik ke pintu, mengira-ngira semoga istrinya yang kini sedang terlelap tidur dan tak mendengar suaranya.
Hustle kembali melanjutkan, "Anda harus paham, Yang Mulia. Inilah alasan sebenarnya para pangeran keturunan kerajaan tak boleh mempelajari sihir, bukan?"
Abaross menganggukkan kepala dengan sabar. "Kau benar. Meski kau bukan keturunan Soldia, tapi tidak ada yang lebih benar dari ucapanmu."
Abaross hela nafas panjang. Perdebatan panjang ia dan Guardian miliknya itu memang tak bisa dipungkiri, meski demikian, Abaross masih gagal menyangkal buah pikir akibat firasat jelek yang ia rasakan saat ini.
"Tapi…" Sang Raja merenung, "Entah kenapa meski sihir putih menang pada Perang Ambracas ini, aku punya firasat buruk—"
Suara seseorang membuka pintu base camp terdengar lantang dan terkesan kurang ajar. Abaross mendelik ke arah pintu, dilihatnya seorang pengawal dengan wajah penuh keringat dan pucat menatapnya gemetar.
"Y—Yang mulia! M—Maafkan atas kelancangan hamba—"
"Ada apa?" Abaross berdiri lalu mendudukkan bocah kecil berambut ungu itu ke kursi yang ia tempati tadi.
"I—Ini… s—soal Lady Hannah—"
Abaross mendelik—meski sang prajurit belum menyelesaikan kalimatnya, tapi barangkali ia sudah bisa menerka apa yang akan disampaikannya melalui ekspresi panik sang prajurit. Tanpa aba-aba—bersama Hustle—mereka berhambur keluar base camp, lalu melompat ke atas pelana kuda.
"Y—Yang Mulia—T—tunggu! I—Ini berbahaya—"
"Bodoh! Tunggu apalagi kau! Cepat tunjukkan aku jalan ke tempat Hannah!"
"Ba—Baik!"
.
.
.
Sang Raja mendangah, bibirnya ternganga tak percaya. Iris matanya bergetar ketika siluet tubuh manusia terpaku di atas pohon setinggi 3 meter dari tanah, membayang pada sorot matanya. Tubuh itu kaku, demikian juga amis dari darah yang mengalir dari perut, tangan, dan kakinya yang dipaku sadis layaknya binatang.
Di bawah sinar rembulan yang nyata.
Hannah kini menjadi seonggok mayat yang terpasung di Pohon Cendana tanpa makna.
.
.
.
.
.
.
Raja terbangun dari mimpi buruknya di tengah malam. Kerut wajahnya penuh keringat, dan rambutnya basah. Nafas sang pemimpin 124 Kerajaan itu sangat tidak nyaman dan seperti tercekik angannya sendiri. Diliriknya sang istri, yang kini kelihatan resah dan panik menatapnya.
"K—Kau… tidak apa-apa, sayang?" Mata bening kekuningan Elianne bergetar, tercetak jelas mimik khawatir di sana.
"Maaf, Elianne. Aku membangunkanmu. Aku…" Abaross menopang dahinya dengan gemetar, "…Aku hanya teringat dengan kejadian 11 tahun lalu…"
Elianne menatap takut, "Maksudmu… Perang Ambracas? Kematian Hannah?" suaranya bergetar, ia mengelus lengan suaminya—berusaha menenangkannya.
Abaross tersenyum seolah menujukkan bahwa ia baik-baik saja, sekaligus membenarkan. "Entah kenapa aku ingat itu tiba-tiba," ia tertawa hambar kemudian, "Mungkin ini karma karena aku telah membohongi para pangeran soal tiga kandidat absolut pewaris tahta itu. HAHAHAHA!"
Rambut Elianne mencuat komikal. Ia tahu kebiasaan suaminya yang tampan—meski seram—itu jika sedang merasa takut atau gugup. Pasti selalu membual atau melontarkan lelucon-lelucon konyol yang garing—dan tentu saja receh.
"Sayang, kita berdua tahu kalau kau tak sepenuhnya bohong soal tiga kandidat absolut itu, kan? Walaupun peraturan Kerajaan selalu menjatuhkan pewaris tahta absolut pada anak pertama—kau sendiri sering khawatir apakah Halilin mampu memimpin Signaria dengan benar suatu saat nanti."
Abaross tak membantah pernyataan istrinya. "Kau benar. Meski Halilintar orang yang cerdas dan ahli strategi, tapi dia tak punya keahlian diplomasi sama sekali. Jangankan itu, bicara pada wanita saja gugup. Meski Taufan sering membantunya, tapi aku tak yakin Taufan bisa diskusi dan diplomasi. Berbeda sekali dengan Fang yang jago diplomasi dan manipulasi suasana percakapan. Fang tahu bagaimana caranya menyenangkan hati orang—jika itu ia rasa ada untungnya untuk Kerajaan. Nah, sama seperti Gempa, dia orang yang cakap, berpengetahuan luas, dan tahu bagaimana bercengkrama dengan semua lapisan masyarakat. Tapi… Sayangnya, Fang orang yang terlalu egois serta hanya ramah pada kita dan Gempa. Selain itu, Gempa sendiri masih enggan menjadi Raja."
Elianne mengangguk setuju, terutama di kalimat akhir Abaross. "Alasan Gempa enggan menjadi Raja memang benar-benar kompleks, Yang Mulia. Tapi… aku rasa karena fisiknya lemah?"
Raja menatap istrinya dengan tatapan heran. "Oh, Ellianne. Sampai kapan kau akan menganggap fisiknya lemah—hanya karena dia berbeda dari yang lain?"
Elianne terdiam, ia tak menatap suaminya balik. "Apa menurutmu dia enggan jadi Raja karena kejadian itu?"
Raja mengernyit, lalu menggeleng. "Aku tak tahu. Aku tak yakin."
Elianne terdiam lagi. Kali ini lebih lama. Sampai ia tiba-tiba mengembungkan pipinya marah dan melipat kedua tangannya karena sebal.
"Oh, dan jangan lupa kau berhutang maaf karena membuat Api menjadi kandidat, kau tahu. Dia masih 16 tahun! Dia terlalu kecil dibanding kakak-kakaknya."
"Hmm. Dia memang masih kekanak-kanakkan, tapi… Aku rasa dia bisa jadi Raja yang hebat suatu saat nanti. Selama dia mau memperbaiki sifat emosionalnya—" Abaross hening sejenak, "Tapi mau bagaimanapun, sebenarnya jika ia menjadi Raja, itu akan jadi keputusan paling beresiko, karena dia mempelajari sihir."
Sang Ratu merenung, ia menatap suaminya. "Kau benar. Tapi… sudahlah. Tak perlu kaupikirkan. Mari kita tunggu perkembangan mereka sebentar lagi. Ayo tidur."
Abaross mengangguk, ia merebahkan kembali tubuhnya, disusul sang istri. Mereka kembali tertidur.
.
.
.
.
.
=xXx=
ROYAL x GUARDIAN
BOOK SE7EN
"Parsia Lane and The Man in Cassock"
=xXx=
.
.
.
.
.
"Itu dia. Bocah tengik yang berani kabur dari kita. Kita cegat dia sekarang, pak!"
"Tidak. Tunggu. Jangan sekarang. Jika benar ia sedang mencari adiknya di Totis, seharusnya ia akan melewati Jalur Parsia. Kita cegat saja di sana."
"Ah betul juga Pak!"
.
.
.
"Hng?" Halilintar melirik ke arah salah satu gang tanpa cahaya di sudut jalan. Ada perasaan ganjil ketika ia memandangi mulut lorong gang itu. Ia menyipitkan mata berusaha fokus dengan sesuatu yang ada dibalik kegelapan itu, namun tarikan Taufan di lengan bajunya, membawa Halilintar kembali berpaling, menatap Taufan.
"Kenapa? Apa yang kau lihat?"
Halilintar mengernyit sebentar, kemudian mencengkram lengan Taufan. Menyeret sang Pangeran Penjaga pergi dari jalan itu dengan cepat.
"He—Hey!" Taufan protes.
"Ayo," katanya tajam, "ada yang harus kita pantau."
Taufan diam menatap sang Honorable Prince, serta membiarkan dirinya diseret, entah kemana.
.
.
.
.
.
.
.
Thorn menatap isi tas kulitnya dengan sumringah. Ia gembira melihat tas yang tadinya hanya berisi makanan itu, kini memiliki peralatan yang diperlukannya untuk perjalanan selanjutnya. Setelah mengalungkan kembali tas slempangnya, ia melirik ke arah jalan besar yang bertuliskan 'Semoga Perjalanan anda Menyenangkan', lalu beralih ke sudut jalan dimana ia berpisah dengan si duo Pangeran tadi.
"Maafkan aku, Taufan. Sepertinya aku terpaksa buru-buru berangkat malam ini juga, sebelum mereka menemukanku terlebih dahulu," lirih Thorn, entah pada siapa, kemudian membalikkan badan, mulai melangkah keluar—mengikuti petunjuk arah menuju "Jalur Parsia".
Jalur Parsia ialah sebuah jalan yang menghubungkan Kota Herdes dan Kota Totis. Ribuan tahun yang lalu, daerah Parsia merupakan danau seluas 4.000 hektar yang konon telah menjadi sumber kehidupan untuk 5 juta penduduk selama puluhan tahun. Sayangnya, seiring perubahan iklim yang ekstrim, danau tersebut akhirnya mengering, dan hanya menyisakan lahan kering berbatu. Banyak penduduk yang mati akibat perubahan drastis dari tempat itu, sehingga sedikit demi sedikit penduduk yang bertahan mulai meninggalkan daerah Parsia dan pindah ke daerah lain.
Kini tempat itu hanyalah padang pasir besar dengan jajaran batupasir seukuran bukit yang terbelah membentuk jurang di antara keduanya. Jurang ini biasa dilewati para pelancong, dan biasa disebut dengan Jalur Parsia. Beberapa bahkan menyebutnya sebagai "Relung Senandung".
.
.
Thorn tiba di jalur itu sekitar 20 menit setelah melewati padang pasir. Thorn sebenarnya tahu, ini ide yang buruk berada di sana malam hari, mengingat Jalur Parsia dikenal sebagai jalur berbahaya—bukan hanya karena jalurnya yang gelap seperti labirin ketika malam, tapi juga karena kabarnya tempat itu merupakan sarang perampok.
Thorn meremas tali selempang tasnya, dengan tangan lainnya memegang lampu cempor sebagai penerangan. Ia menghirup udara sedalam-dalamnya, hanya untuk mengumpulkan keberanian sebelum ia masuk jalur itu.
Seiring ia melangkah masuk, suara lembut seperti sebuah seruling menggema di antara dinding-dinding besar batupasir itu. Thorn mengangkat lampu cempor di tangannya, lalu mendangah.
"Ah… Aku paham sekarang kenapa disebut 'Relung Senandung'. Angin padang pasir yang masuk ke sela-sela bebatuan dan memantul di dinding jurang, membuatnya seperti bernyanyi tiada henti di malam hari," lirihnya pada diri sendiri. Ia kemudian memiringkan kepalanya menahan dagu. Mode berpikir.
"Pantas saja jadi tempat persembunyian para perampok. Suara-suara ini membuat telingaku jadi tidak sensitif dengan suara kecil—tidak heran kalau aku nanti tidak mendengar suara langkah orang yang mengikutiku dan membunuhku," mengangguk-angguk dengan hasil pendapatnya sendiri, "Hmm—Mhmm. Rupanya begitu."
Thorn terus melangkah. Ditemani cahaya lampu cempor yang remang-remang, ia mengumpulkan sekelumit keberaniannya. Jika bukan karena ia yang sedang terburu-buru mengejar adiknya di Totis, atau memikirkan keselamatan dua kawan yang baru dijumpainya di Herdes, ia takkan mau repot-repot melewati jurang itu malam-malam.
.
.
.
Beberapa lama ia melewati jurang itu, ia mulai diserang rasa kantuk. Sayang sekali, senandung yang diperdengarkan oleh jurang itu, mulai seperti lullaby baginya. Thorn menguap, mengucek matanya yang mulai buram. Entah karena ia mengantuk, atau karena angin berpasir yang menghampiri matanya. Meski ia sudah mengenakan jubah tebal dan kacamata google, namun itu tetap membuatnya kedinginan dan terserbu ribuan pasir.
Ia berjalan pelan, hingga berhasil melewati hampir separuh dari perjalanan di Jalur Parsia.
.
.
.
Namun tiba-tiba saja, sesuatu yang berat menghantam tubuhnya dari belakang. Thorn ambruk, dagu menghantam langsung ke tanah dengan suara mendarat yang tak sedap.
.
.
"AP—SIAPA?!" ia spontan memberontak, tapi tangannya keburu tertahan cegatan tali tambang. "Argh—"
"GYAHAHAHAHA—! Bos! Kita dapat dia bos!"
Thorn berusaha menengokkan kepalanya ke belakang. "SIAPA—" sesaat matanya menjemput jawaban, ia mendelik tak percaya.
.
.
"Hahaha! Akhirnya kami mendapatkanmu! Sudah ratusan kali kau berhasil lolos dari kami, dan kini tiba saatnya mencincang tubuhmu. HAHAHAHA!" Salah satu orang bertubuh gempal tertawa gembira. Dengan matanya yang memicing tajam ke arahnya.
.
.
"…Uhm," Thorn hening sejenak dan mengernyit, lalu nyengir, "Siapa ya?"
Kedua pria gempal dengan rambut kemerahan gondrong berantakan dan janggut kepang itu berkedip beberapa kali dengan wajah tolol.
"Ap—Apa?! Tipuan apa lagi kali ini?!" teriak mereka heboh nan lebay dengan background petir.
"Serius. Aku gak ingat… Kalian siapa?" tanya Thorn dengan wajah bodoh, masih dalam posisi tak berdayanya—tengkurap di atas tanah.
Mereka berkedip beberapa kali, sampai salah satu pria meludah, "Pih!" katanya dengan kasar, "Bedebah kau, pandai betul tak ingat setelah apa yang kaulakukan pada kami dasar penipu kecil!"
Thorn berkedip lagi, "Penipu? Heh, maaf saja ya, walaupun aku seorang pencopet, aku tak pernah menipu siapapun!—oke, kecuali Taufan—tapi sisanya aku tak pernah menipu siapapun!" Thorn berkata dengan nada bangga dan dengan pancaran kepolosan.
Salah satu dari pria itu berkedip lagi. "Kau benar-benar tak kenal kami? Kami salah satu anggota Banckard, Hoopkin bersaudara!"
Mereka berpose keren mengenalkan diri saat meneriakkan nama mereka—yang mana merupakan adegan percuma karena author malas mendeskripsikan pose najis itu.
.
.
Thorn menggeleng polos. "Aku gak kenal kalian."
Thorn kemudian menyeringai.
"Tapi… terima kasih karena mau mendengarkan bualanku dan mengulur waktu untukku."
.
.
"Huh?" delik mereka bersamaan, sekejap kemudian pandangan mereka menjadi jauh dari tanah. Mereka kontan menjerit panik.
"AH—AHHHHHHH!"
.
.
Thorn berdiri santai setelah tubuhnya tak lagi digencet. Ia mengibaskan jubahnya dari pasir, lalu mendangah sambil meringis. Melihat dua om-om gondrong bertubuh gempal menggantung terbalik dengan kaki terikat pada batang pohon hijau berduri yang sedang tumbuh kian meninggi—membuat Thorn tertawa tanpa beban.
"Kalian mungkin berhasil lolos dari tipuanku, tapi kalian terlalu lengah sampai gak sadar kalau sihir akar berduriku sudah melilit di kaki kalian," ia tersenyum penuh kemenangan.
"A—Abang! Aku takut ketinggian—UWAAAAA—"
Thorn sweatdrop komikal melihat om-om berjenggot tapi berteriak seperti perempuan. Entah kenapa, ia jadi ingat seseorang.
"Ah—terserah deh. Pokoknya selamat bergelantung, tuan-tuan. Bye!" Thorn tersenyum ringis, melambaikan tangannya lalu segera berlari menjauhi kedua anggota mafia itu.
.
.
"Cih, aku tak tahu kalau bocah keparat itu ternyata penyihir juga—" sang abang menggemertak kesal, lalu menarik kapak yang hampir sebesar tubuhnya sendiri itu dari punggung. Ia pun menebas pohon hijau berduri itu dan melompat turun, kembali ke tanah bersama sang adik.
Melihat Thorn yang berlari hampir jauh, sang adik menatap takut kakaknya. "Bagaimana ini, Abang Hui?"
"Tenanglah,Gui," Hui menyatukan kedua tangannya, menciptakan suara keras. "Level Two, Sand Spell," Hui menarik nafas, lalu menghantamkan kapak ke depan kakinya, "QUICKSAND GRAB!"
Thorn merasa tanah di sekitarnya bergetar, ia segera berhenti berlari karena tanah menjadi tak stabil. Dalam sekejap, pasir di sekitar kakinya mendadak melorot turun—seolah-olah menariknya turun ke bawah tanah.
"UWAAAA—" Thorn menjerit panik, ia sempat refleks meraup tanah di sekitarnya agar tak semakin merosot, namun nyatanya ia malah semakin tertanam.
Hui tertawa. "HAHAHAHAHA!"
Thorn mengangkat tangannya ke arah menhir batu pasir yang letaknya paling dekat dengannya.
"Level Two, Forest Spell: THORNWHIP!"
Sebuah untaian panjang akar berduri muncul beruntun dari tengah-tengah kepalan tangannya. Dengan cepat, ia mencambukkan akar berduri itu agar melilit dengan kuat pada cagak menhir.
"Hngaaah—" Thorn menggemertakkan giginya, berusaha sekuat tenaga menyeret tubuh melawan gravitasi pasir isap sihir lawannya. Bukan main perjuangannya—tapi sayangnya itu sia-sia ketika Hui membuka kedua tangannya yang menangkup tadi.
"Heh," Hui menyunggingkan senyum, "Lemah."
Hui mengepalkan tangan kirinya. Seolah mengikuti aba-aba tangannya, pasir-pasir di sekitar Thorn melayang naik dan segera menyelimuti seluruh tubuh Thorn kecuali wajahnya. Seiring pasir-pasir itu memeluknya, kekuatan sihir Thorn semakin lengah dan tak kuasa menahan. Akar berduri di genggamannya pun putus dan terlepas. Kandas sudah harapan Thorn untuk kembali mengeluarkan sihirnya—karena pasir-pasir itu tak hanya menggencet pernafasannya, tapi juga menekan kekuatan Mana dalam tubuhnya.
"Guuuh—"
Pandangan Thorn semakin buram. Di antara sadar dan tidaknya alam pikir, Thorn masih mendengar suara tawa Hoopkin bersaudara tak jauh darinya.
"S—Sial—Aku—Tak bisa mati di sini—Seseorang—Siapa saja—"
Pandangan Thorn semakin terhalang pasir.
"Tolong aku—"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Fang mengemas barang. Semua keperluan ia masukkan dengan rapih ke dalam tasnya. Ia sangat serius untuk menimbang dan memilih benda mana yang akan ia bawa ke Totis. Ia bahkan menghitung jumlah perlengkapan korek api beberapa kali.
"Semua benda itu… untuk apa, Fang?"
Fang melirik, manusia tiruan yang berdiri di pintu kamarnya itu hanya diliriknya dengan ekor mata.
"Aku sudah bilang, kan. Kenapa kau tanya lagi."
Jawaban ketus Fang membuat sang penanya terdiam lama, dengan wajahnya yang penuh senyum datar. Ia melenggang masuk ke kamar Fang, lalu duduk di tepi kasur Fang, di antara benda-benda berantakan yang akan menjadi teman perjalanan Fang beberapa hari ke depan.
"Tapi… itu artinya aku akan sendiri di sini?"
Fang terkejut, barulah kini ia menatap penuh manusia tiruan itu. Fang mengernyit.
"Kau hanyalah Holonoia-nya Gempa, atau singkatnya Holo-Gempa. Tak mungkin kau merasakan apa yang disebut kesepian."
Holo-Gempa itu menatapnya. Meski tatapannya terkesan datar, tapi ada sesuatu di matanya yang menyiratkan kilatan emosi. Fang menangkap kilatan itu, ia menekan kacamatanya.
'Holo-Gempa mulai punya emosi. Aku tak sangka efek samping Silosh bekerja lebih cepat dari yang aku bayangkan. Ini gak bagus… Jika Holo-Gempa mulai punya emosi seperti ini, aku curiga Gempa yang asli sudah mulai tergerus ingatannya.'
Tenggelam dengan pikirannya, Fang hening cukup lama. Sampai tatapan polos Holo-Gempa, hadir tiba-tiba di depan wajahnya.
"E—EH?!" Kaget Fang ketika sadar, dan hampir jatuh ke belakang jika saja ia tak cepat menopang tubuhnya dengan kekuatan sihir bayang. "BEGO! Ngagetin, tau!"
Benda produksi Silosh itu hanya memiringkan kepala, menatap dengan polos.
"Eh? Aku gak bermaksud ngagetin Fang... Maaf."
Fang memalingkan wajahnya, semburat tipis tampak di wajahnya.
'S—Sial… ia semakin mirip sama aslinya—'
Fang membalikkan badan, berdehem, lalu duduk di kursi meja kerjanya bertopang kaki.
"Pokoknya, dengar. Kau harus mengikuti rencana. Seperti yang kubilang waktu itu, kau cukup berada di istana. Terserah apa maumu, baca buku, berkebun, rapat, atau yang lainnya. Yang jelas, kau harus ingat jika Yang Mulia menanyakan keberadaanku, katakan bahwa kau yang telah memerintahkanku untuk membelikan beberapa barang untukmu di luar istana dan mungkin butuh beberapa hari untuk kembali. Selama kau mengatakan kalau aku pergi atas perintahmu, Yang Mulia takkan curiga jika aku pergi. Paham?"
Fang menjelaskan panjang lebar, dan Holo-Gempa hanya mengangguk-angguk komikal dengan patuh beberapa kali.
'…Asyik juga kalau Gempa menurut seperti ini padaku, mehehehehe, aku kan jadi bisa—Eh tunggu, sial. Apa yang kaupikirkan, FANG!'
Fang tetiba mengalami perang batin sendiri.
"Uhm…" Holo-Gempa memecahkan keheningan dan menyadarkan Fang yang baru saja menjedutkan dahi beberapa kali dengan tampang bego ke atas meja kerjanya. "Fang? Kau tak apa?"
Fang sigap berdiri dengan darah memancar komikal dari dahinya.
"YA! GUE GAK APA-APA," Jawabnya cepat dan anehnya terkesan antusias.
Fang mengontrol emosinya, lalu berdehem sekali lagi.
"Pokoknya, intinya aku akan berangkat besok pagi-pagi sekali ke Totis. Aku harap kau mau bekerja sama soal ini."
Holo-Gempa tersenyum manis. "Ya, Fang. Tentu saja."
Senyum manis Gempa yang terasa mirip dengan aslinya membuat Fang sedikit terenyuh. Entah kenapa pikirannya kembali melayang ke kejadian 11 tahun lalu saat ia dulu ditemukan Raja pertama kali di tengah peperangan. Meski Fang tak ingat betul bagaimana sang Raja bisa menemukannya, tapi ia ingat betul kejadian dimana kakaknya yang ia kasihi hilang di balik timbunan dan puing hitam rumahnya yang ambruk dan terbakar. Fang merengut tak senang ketika ia mengingat kejadian itu.
Holo-Gempa kembali menghampiri, melihat Fang yang melamun dengan senyum kecut, membuatnya tergerak untuk menyentuh tangan Fang.
"Kalau kau sedang dalam keadaan yang tak sehat, tak usah pergi."
Fang tersentak dengan sentuhan di tangannya, tapi di detik selanjutnya ia sedikit terharu dengan tatapan khawatir sang manusia tiruan.
"Tidak," Fang menjawab tegas dengan cepat, "A—Aku… Aku harus menyelamatkan Gempa yang asli. Bagaimanapun, semua ini adalah salahku karena aku tak menjaganya dengan baik. Ini tidak akan terjadi jika setelah Perjamuan Eschotta saat itu aku tak membiarkannya sendiri."
Holo-Gempa menatap Fang sambil tersenyum manis sekali lagi, "Aku mendoakan keberhasilanmu. Semoga kau cepat menemukan diriku yang asli."
"Ya," seulas senyum mampir di bibir Fang—si Pangeran jutek. Wajah sang Holo tetiba memerah karenanya.
"Dan… Uhm… Kalau kau berhasil menemukannya, sesuai rencana, kau akan menghancurkanku, kan? Uhm…"
Fang sedikit mendelik, tapi akhirnya ia memutuskan untuk kembali menatap Holo-Gempa dengan tatapan stoic-nya. "Ya. Kenapa?"
"Uhm… Aku punya satu permintaan sebelum kau menghancurkanku."
Fang memiringkan kepalanya, "Apa itu?"
"B—bisakah kau… uhm, tak melupakanku? Aku… mungkin hanya sebuah manusia tiruan… Tapi… Aku ingin sekali ada yang mengingatku—supaya aku merasa kalau aku benar-benar terlahir di sini…"
Fang mendelik. Antara kasihan, merasa bersalah—dan khawatir bercampur aduk pada perasaannya kini. Ia iba dengan manusia tiruan itu, dan ia merasa bersalah karena sudah mempergunakannya seenak hati. Tapi ia juga khawatir dengan keadaan Gempa yang asli di sana—karena mungkin ingatannya makin tergerus kini.
Fang menekan kacamatanya, enggan menatap balik lawan bicaranya.
"Tentu saja. Aku takkan melupakanmu."
Rona gembira tercetak pada wajah Holo-Gempa.
"Terima kasih! Fang!" ia tersenyum gembira.
Fang mengangguk kikuk, sambil melanjutkan kegiatan beres-beresnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sebuah suara kibasan tirai jendela, membuat Api terjaga dari tidurnya di tengah malam. Sang pangeran kemudian membuka mata, melirik ke arah jendela. Dilihatnya sang adik yang telah mengganti pakaian 'wanita'nya dengan pakaian ganti—kini sedang asyik menatap keluar jendela. Meski awalnya Api berpikir tatapan Air hanya menerawang kosong—tapi lambat laun Api mulai sadar ada kernyitan di antara kedua alis sang adik, ditambah posisi berdiri Air yang terkesan menghindari kaca jendela. Api bangkit duduk.
"Air? Ada apa? Belum tidur?"
"Sssh—" sergah Air, sambil menaruh telunjuk di bibirnya, tanpa menatap Api balik dan terus fokus melihat keluar jendela.
Geram dengan jawaban sambutan dari sang adik, Api segera berdiri dan menghampirinya. Tepat sebelum Api benar-benar dekat, Air menarik sang Pangeran Pengampu ke sisinya—menghindari jangkauan cahaya rembulan yang masuk lewat jendela.
"Kenapa sih?!" Heran Api di luar kesabaran.
Air berbisik tenang, masih tanpa menatapnya.
"Kak, liat deh. Orang yang berdiri dekat lampu jalan itu," Air menunjuk pemandangan yang ia maksud dengan dagunya. Api mencari pemandangan yang dimaksud.
"Hah? Orang yang pakai jubah abu-abu ber-hoodie itu?"
Air mengangguk tanpa basa-basi, "Iya, dari tadi sejak aku ganti baju, dia berdiri di sana terus. Dan sedikit-sedikit ngelirik ke sini. Mencurigakan, gak sih?"
"Wah?! Jangan-jangan dia stalkermu?!"
Air menatapnya datar, ingin rasanya ia jadikan kakak-nya yang satu ini es serut.
"Bukan, kak. Lihat, deh."
Api yang penasaran melongokkan kepalanya ke jendela dengan ceroboh. Kontan saja, orang yang dicurigai itu terkejut, dan langsung membalikkan badan dan pergi.
Api semakin menggemertak tak sabar. Ia membuka jendela, dan berteriak dari lantai tiga penginapan.
"OI! TUNGGU!"
Api spontan melompat keluar.
"BEGO! Jangan dikejar—" Air ingin mencegah, tapi terlambat, Api dengan serampang sudah mendarat di tanah dan mengejar orang itu. Air menepuk muka lelah. "Astaga—" keluhnya sejenak, mau tak mau ia akhirnya ia ikut melompat keluar jendela dan menyusul Royal Prince ceroboh itu.
.
.
.
"HEI! Keparat! Berhenti!" Teriak Api, dan mengejar orang itu, di tengah kabut malam, melintasi jalan-jalan rumah penduduk. Hampir semua penduduk yang ia lewati semuanya langsung menyalakan lampu rumah akibat suara berisik yang ia ciptakan. Air yang berada tak jauh dari punggung Api berulang kali menghela nafas untuk meninggikan batas kesabarannya.
Sementara itu orang misterius yang mereka kejar terus berlari tanpa menyerah, meski kenyataannya kekuatan fisiknya tampaknya tak seapik yang mengejar karena larinya mulai lambat dan tak tentu arah. Orang itu bahkan kini mencoba menjatuhkan tumpukan barang apapun yang dilewatinya seperti gelonggong-gelonggong kayu atau tumpukan kandang-kandang ayam hanya untuk menghalangi usaha pengejaran Api. Tapi tentu saja itu hanya sia-sia ketika Pangeran Api dengan sigap dan semena-mena melempar bola-bola api ke arah barang itu.
"Hey!" Air menghindar ketika salah satu benda yang dibakar sang Pangeran hampir mengenai kepalanya. "Oi! Kak! Hentikan!"
"Grrr—Dia membuatku kesal sekarang!" Pangeran Api malah semakin mempercepat larinya.
Manusia bertudung di depannya sempat menoleh, lalu berteriak panik. Ia juga semakin mempercepat larinya—walau tampaknya itu bukan ide yang bagus karena akhirnya kakinya kelelahan dan malah tersandung kain jubahnya sendiri. Ia pun terjatuh dan terguling menabrak tumpukkan keranjang sampah salah satu rumah penduduk.
Api segera menghampiri orang itu, lalu mengangkat kerah jubahnya dengan satu tangan—membuat orang itu terangkat sekian centimeter dari tanah. Api kini mengepalkan tangannya yang lain, seolah mengancam orang itu dengan tinjuan.
"Oi! Kenapa kau menguntit kami?!" Api mencabut hoodie di kepala orang itu dengan kasar. Api mendelik tak percaya, sementara Air tiba di tempatnya dengan nafas tersengal.
Air sedikit heran karena Api tiba-tiba terdiam, sampai ia ikut menatap wajah penguntit misterius mereka. Air menoleh, dan ia sama terkejutnya dengan Api.
"Kak… Gempa?"
Api dan Air melongo tak percaya, berbicara bersamaan. Tapi yang ditatap menatap mereka sama terkejutnya.
"A—Apa? Kalian kenal aku?"
"H—Huh? Kau tak kenal kami? Ini kami! Api dan Air! Adikmu!"
"E—Ehh? Uhm… Siapa?"
.
.
.
.
.
.
=xXx=
The Silosh effects has taken its role?
And what the hell Gempa's doing in Porto Town?
BERSAMBUNG
=xXx=
.
.
.
A/N: Aku gak mati kok. Cuma butuh inspirasi aja buat ngetik. Ehe. *kedip cantik(?)*
.
.
~TRIVIA~
Hiya kids! Lama gak jumpa! Akhir-akhir ini saya terlalu banyak main game dan bercinta dengan laptop. Rasanya kangen banget nulis trivia di fanfic yang satu ini. Ahh~ ❤ /diusir
Mungkin trivia kali ini sedikit panjang. Yah, mau dibaca silahkan, enggak ya sudah. Hohoho~
DAO SHI CLAN: Merupakan clan atau kelompok keluarga yang semua keturunannya bermata sipit. Maaf, bukan rasis. Berhubung fanfic ini punya universenya sendiri, jadi orang-orang keturunan chinese atau tionghoa dari dunia kita disebut dengan kalau di fanfic ini. Secara harfiah, "Dao" dalam bahasa cina dapat diartikan sebagai "kompas" dan "Shi" yang bisa diartikan sebagai benar atau kematian. Jadi Dao Shi bisa diartikan sebagai penunjuk arah baik ke arah kebenaran atau kematian. Pada dasarnya, orang-orang Dao Shi memiliki loyalitas yang tinggi dan mereka dikenal multi-talented, hanya saja kadang-kadang beberapa orang menyalahgunakan kebaikan orang-orang dari Dao Shi. Dao Shi punya tradisi bahwa anak yang sudah berusia lebih dari 15 tahun harus mencari kerja sendiri di luar desanya.
Sir Hustle Bee: Beliau adalah sugar daddy(?) terkeren setelah Abaross. Sebelum Abaross naik tahta, Hustle Bee merupakan Guardian Prince berstrata 5 dari Kesatuan Angkatan Laut Signaria. Dan semenjak Abaross dipilih jadi Raja, Hustle Bee selalu mendampingi beliau sebagai seorang Panglima Tertinggi dari seluruh Lima Kesatuan Kerajaan yang ada (Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Pasukan Pengintai Kerajaan, dan Pasukan Keamanan untuk Rakyat). Tahun pertama Abaross memerintah, Hustle Bee menikah dengan Artroinne dan kemudian memiliki satu putra yang mereka beri nama 'Air'. Sayangnya Hustle Bee berumur tak cukup panjang karena dua tahun setelah Perang Ambracas berakhir beliau jatuh sakit dan meninggal di istana.
SOLDIA: Mungkin sedikit terungkap di sini mengapa keturunan murni Kerajaan tidak boleh mempelajari sihir. Singkatnya, Soldia merupakan orang-orang yang pada dasarnya memiliki kekuatan tubuh yang luar biasa karena otot mereka 200 kali lipat melebihi kekuatan manusia biasa—itulah sebabnya mereka pada zaman dahulu ditakuti manusia-manusia biasa sehingga bisa berkuasa dan akhirnya dipercaya manusia-manusia biasa untuk mendirikan kerajaan. Namun meski sedemikian kuatnya otot-otot ini, tetap ada kelemahannya. Terutama jika otot-otot ini mengenal sumber kekuatan selain dari darah mereka sendiri—yaitu Mana. Jika mereka memiliki Mana dalam tubuh mereka, otot-otot ini akan mengendur dan kehilangan kekuatan mereka karena sang pengguna terlalu sering bergantung pada kekuatan Mana ketimbang darah mereka sendiri. Ketika otot-otot ini diberi kekuatan bukan berasal dari pompa darah mereka sendiri, maka otot-otot spesial itu akan mengalami disfungsional. Meskipun menurut para peneliti efeknya akan lama, tapi tetap tak dapat dipungkiri seorang Soldia yang memiliki Mana telah mengurangi umur hidupnya sendiri 10 atau 20 tahun. Sekarang… Apa kamu paham kenapa Abaross marah waktu tahu Pangeran Api mempelajari sihir? 😊
MANA: Sering main game soal penyihir… atau… DOTA mungkin? Ya, istilah Mana sudah umum dikalangan para gamers. Tapi apakah Mana itu? Menurut Om Wiki, dalam bahasa Austronesia, Mana diartikan sebagai kekuatan, efektifitas dan martabat, dimana kekuatan di sini dihubungkan dengan kekuatan supranatural. Dalam arti Polenesia dulu, Mana sendiri diartikan dengan kekuatan dalam diri sendiri, atau kekuatan yang menggerakkan tubuh kita. Kita dapat berlari, kita dapat memindahkan batu, kita dapat berbicara, semuanya dikendalikan oleh Mana. Namun seiring berkembangnya jaman, Mana juga diartikan sebagai sumber energi kekuatan yang dimiliki para penyihir atau mereka yang memiliki kekuatan supernatural. Sama seperti di dunia dalam fanfic ini, Mana diartikan sebagai sumber kekuatan sihir para penyihir. Memunculkan Mana dalam tubuh dapat dilatih oleh siapapun bahkan yang tak memiliki bakat sekalipun seperti Pangeran Api yang merupakan seorang Soldia.
BANCKARD: Geng Mafia yang pernah di mention di chapter dua. Hoopkin bersaudara merupakan anggota geng mafia ini.
.
.
If anything you don't understand, Let us know via review! Pertanyaanmu nanti akan kami bahas di Trivia Book Nine.
