Disclaimer: Boboiboy, Fang, and other characters not mine. Except for the queen and the king. And Of course Lady Hannah.

.

.

Author's Note: HIYAAAAA! KALIAAAAANNNNN! Uweeeeee seneng banget akhirnya bisa nerusin ini lagi ;;;;;; Tahun ini hectic sangat ;;;; But I'm glad I finally made a comeback!

Mungkin beberapa di antara pembaca be like, "Ahh... Akhirnya dia update, tapi pasti bakal update lama lagi ini lanjutannya. Setahun pulak."

It's sad but true, I don't know when will I release more chapters for this story. Padahal, dari semua fanfic yang pernah kubuat, aku paling suka cerita ini. It's wide, and it's grind me to let out everything I know. Really tough and challenging. Aku bener-bener minta maaf karena menerbitkannya sangat-sangat gak konsisten setiap chapternya. Well, harusnya aku bersikap lebih profesional sebagai penulis... But I can't help it, really busy out there. ;;;;

Buat yang masih setia baca, saya ucapkan terima kasih, dan semoga gak bosen baca sampai seterusnya. Even if you are a silent reader, I still appreciate it. Karena teman-teman sekalian, fanfic ini juga sempat lolos proofreading dan jadi nominasi di Indonesian Fanfiction Awards (IFA) 2016 untuk kategori Multichapter Adventure in Another Universe. It shocked me this fanfic can made that far ;;;; Thank you guys ;;;;;;;

Ah—curhatku kepanjangan :') Alright, langsung aja baca ya! Arigathanks gonyaimuch!


.

.

.

.

~=xXx=~

ROYAL x GUARDIAN
BOOK EIGHT: PROLOGUE

"The Broken Promise"

~=xXx=~

.

.

.

.

Perang.

Ialah bentuk cara dari ambisi sekelompok orang atau individu tertentu. Mereka yang punya ambisi percaya bahwa perang menyelesaikan bentrokan ambisi mereka. Siapa yang menang, itulah yang pantas mempertahankan ambisinya untuk ke tahap selanjutnya. Kapanpun dan dimanapun, selama mereka berhasil berdiri di atas puncak perang, bentuk idealisme dari ambisinya akan terwujud sempurna—dan 'kesejahteraan' yang mereka yakini di dalam daftar dunia idealnya, akan berkibar sebagai bendera kemenangan.

Tapi tidak untuk beberapa orang tertentu. Mereka yang terseret ke dalam perang—habis terkoyak oleh ambisi orang lain dan merugi—kita bisa sebut mereka korban. Meski idealisme itu dirasa benar, tapi akan terasa salah jika masih ada yang menderita karena pembelaan idealisme itu. Maka dari itu, sebenar apapun tujuan perang, tetap terasa salah dalam pengawasan nurani kita. Tetap terasa menyedihkan jika melayangkan banyak jiwa yang dicintai keluarganya.

Perang bukanlah perwujudan idealisme. Perang hanyalah satu cara untuk membuat penguasa merasa benar atas idealismenya.

Raja Abaross tahu itu. Ia paham betul akan dasar pemikiran itu. Dia tak pernah suka perang, tapi sayangnya perang selalu menjadi syarat perbedaan dan selisih pendapat. Pertempuran di medan perang, telah menghilangkan nyawa orang-orang yang dicintainya.

.

.

.

Seperti kejadian saat Perang terkutuk, Ambracas. Perang yang meloloskan nyawa Lady Hannah. Pikiran Abaross terbang kembali ke masa 5 tahun silam sebelum mencetusnya perang Ambracas.

.

.

.


.

17 tahun lalu.

.

.

.

Seorang wanita duduk di bangku taman kerajaan, di sampingnya, seorang balita tengah bermain dengan mainan-mainannya yang tergeletak di atas bangku taman. Balita itu terlihat riang, dan berulang kali melambaikan tangannya ke udara. Ia menirukan suara gemuruh pesawat dengan lidah cadelnya. Wanita itu mengelus kepalanya, sementara wanita lain yang sedang hamil, tiba-tiba menghampirinya dengan wajah khawatir.

"Hannah, kudengar dari Yang Mulia kau akan tetap mengikuti perang? Kau yakin dengan keputusan ini? Kau yakin ingin ikut perang ini? Aku tahu kau penganut sihir putih, tapi... kau tidak harus ikut dalam perang ini, kan?"

Ellianne terlihat gusar, ia mengangkat roknya dengan gelisah, jalan bolak-balik di hadapan sahabatnya itu dengan tatapan tak santai. Sementara Sang Raja, Abaross, hanya berdiri dengan ekspresi tak nyaman. Meski terlihat biasa saja, tapi hela nafasnya jelas terdengar tegang. Hannah tetap mengelus kepala anaknya dengan penuh kasih.

"Oh, Elli. Kau dan Raja sangat baik. Sepeninggalan suamiku, kau bahkan mengijinkan Raja untuk memasukkanku sebagai selir utama—hanya untuk mengangkat derajatku."

"Suamimu salah satu mantan pendiri Kesatuan Kepolisian Signaria, dia orang yang hebat dan aku berhutang nyawa padanya. Kalau tak kulakukan itu, aku tak tahu bagaimana menghadapinya nanti di dunia sana," Abaross menggelus dagunya, "Aku hanya berharap orang-orang tidak lagi menganggapmu janda veteran perang," Abaross menjelaskan dengan tenang, tanpa keraguan. Sepertinya jawaban itu sudah berkali-kali dilontarkannya.

"Aku akan menjagamu sebagaimana Tuan Hau Makani menjagamu dan si kecil Taufan," liriknya pada Taufan yang masih bermain dengan gembira sendiri.

Ellianne akhirnya duduk, di tempat kosong sebelah Hannah. Ia menatap gusar lawan bicaranya. "Kau tak perlu khawatir soal itu. Aku sudah menganggap Taufan seperti anakku sendiri, begitu juga dengan Abaross. Aku kenal betul Tuan Makani seperti apa, dia orang yang ceroboh, tapi dia orang yang baik. Kami ingin memastikan kau tetap aman."

Hannah tersenyum, tatapannya sendu sejenak. Mengelus pelan kepala Taufan, "Aku tak bisa hidup seperti ini, Ellianne. Aku tak bisa hidup di bawah bayang-bayang wajah mereka yang membunuh suamiku tanpa alasan. Setiap malamku terbangun—melihat kenangan wajah manusia berhati binatang itu menyiksa suamiku, dan menyeretnya dengan kuda perang hingga kepalanya berguling di hadapan kakiku. Itu mimpi buruk. Mimpi buruk yang harus kuakhiri dengan tanganku sendiri."

Ellianne dan Abaross saling berpandangan dengan tatapan prihatin, lalu kembali menatap Hannah.

"Hannah..."

Hannah menatap mereka berdua, "Oh ya, sebagai gantinya, aku sedang mengusahakan pembuatan perisai lindung sihir untuk Istana. Perisai ini akan dapat melindungi istana dari sihir manapun. Saat ini aku dan Artroinne masih melakukan penelitian, tapi... akan kupastikan sebelum Perang Ambracas meletus, perisai lindung itu sudah rampung."

Ellianne memeluk Hannah, "Oh, Hannah, terima kasih..."

Hannah memeluk balik sahabatnya itu dan tersenyum, sampai Ellianne membuka pelukannya, terkejut melihat si kecil Taufan membuat angin kecil dengan tangannya—kemudian menghembuskan angin-angin dari tangan-tangannya itu ke mainannya.

"H—Huh? Taufan bisa sihir! Lihat!" teriak Ellianne gembira. Mereka bertiga langsung mengalihkan fokusnya pada si kecil Taufan.

Abaross mengelus janggut tipisnya, "Hmmm, kalau dipikir-pikir... Taufan anak pertama di kerajaan yang terlahir NOLA. Kalau tidak salah... Nola itu, lebih dominan darah Mana ketimbang darah Soldia di dalam tubuhnya?"

Hannah mengangguk ceria, "Yep! Menurut buku penelitian Signaria, jika seseorang Soldia menikah dengan pengguna Mana, maka darah Mana lebih dominan ketimbang jumlah darah Soldia-nya. Jadi tak heran kalau Taufan bisa menguasai Mana di umur segini."

Ellianne berkedip, "Apa itu artinya umurnya akan pendek?"

Hannah balas berkedip lalu tertawa terbahak-bahak, Wajah sang Ratu kontan sebal komikal menerima reaksi seperti itu seolah bertanya 'kenapa sih?'.

Hannah menghapus air matanya setelah puas menertawakan Ratu dari 124 Kerajaan itu, lalu menjelaskan, "Sayangku, Ellianne, Nola berbeda dengan Soldia yang mempelajari penggunaan Mana secara tiba-tiba!"

Ellianne memiringkan kepalanya bingung. "Beda?" lalu menatap suaminya.

Abaross berdehem, "Iya. Beda," jawabnya cantas, pada sang Istri.

Hannah lanjut menjelaskan, "Nola, ialah kelahiran dari dua jenis manusia yang berbeda. Ketika Pria Soldia menikah dengan Pengguna Mana Wanita, dua gen di dalam embrium si calon bayi akan membentuk, dan keduanya saling menyesuaikan dengan informasi genetika yang ada. Informasi genetika dari darah Soldia tidak akan membentuk dan berdiri sendiri, karena adanya informasi gen lain dari seorang pengguna Mana, sehingga formasi zat-zat dalam darahnya tidak akan terbentuk seperti seorang Soldia yang sempurna—melainkan terancang dengan sendirinya untuk membentuk Soldia yang sudah siap menerima gen pengguna Mana dan siap menggunakan Energi Mana," Penjelasan panjang Hannah terhenti ketika melihat kepulan asap keluar dari kepala Ellianne. Abaross hanya mengipasi istrinya yang tak kuat menahan terjangan ilmu sains itu.

Hannah sweatdrop, lalu melanjutkan, kali ini memastikan ia menggunakan bahasa yang lebih simpel.

"I—Intinya! Seseorang yang terlahir menjadi Nola, lebih siap menggunakan energi Mana dan tidak akan mengurangi umurnya sendiri. Karena struktur darahnya memang sudah terbentuk dan terancang untuk menggunakan energi Mana. Berbeda dengan seseorang yang sudah dilahirkan menjadi seorang Soldia sejati, tubuhnya, serta struktur darahnya tidak siap menggunakan kekuatan energi asing. Tidak sedikit Soldia yang mempelajari sihir malah akan membuat tubuhnya sendiri tergerus sedikit demi sedikit akibat selisih bentrokan kekuatan."

"Ya, dan itulah sebabnya Kerajaan Signaria melarang keturunan kerajaan yang berdarah Soldia asli untuk mempelajari sihir," Lanjut Abaross.

Ellianne tambah ngebul.

"G—Gitu ya. Ya, walaupun tetep ga ngerti, tapi... intinya Taufan baik-baik saja, ya?"

Hannah nyengir, ia tersenyum ceria sambil memainkan tangan anaknya yang sudah tertidur. Melambaikan tangan si kecil bagai boneka ke arah Ellianne, "Aku anaq sehad qoq!" katanya sambil menirukan suara anak kecil, nan alay. Melihat tingkah usil Hannah, membuat Abaross dan Ellianne tertawa, hingga akhirnya Ellianne tiba-tiba berdiri dan teringat.

"Oh! Aku sampai lupa! Ini waktunya menyusui untuk Gempa dan Halilin!" Ellianne menatap Hannah sambil tersenyum terburu-buru, "Maaf, aku akan segera kembali!"

Ellianne berlari ke dalam istana.

"Elli! Jangan berlari, kau kan sedang mengandung—!" Raja memperingati, tapi terlambat, Ellianne sudah masuk dalam istana sambil berlari. Abaross menghela nafas, sementara Hannah yang masih memangku anaknya tertawa kecil.

"Ratu orang yang sangat sibuk, ya. Padahal dia bisa saja menyerahkan tugas menyusui kepada para ibu susu kerajaan. Seharusnya dia tetap fokus dengan anak ketiganya yang sedang dalam kandungan. Sudah berapa bulan?"

"Lima bulan," Abaross tersenyum, "Dia memang seperti itu. Lebih suka menyibukkan diri."

Abaross kemudian terdiam sejenak. Kini tatapan Abaross berubah serius, dan kembali dingin.

"Kau yakin dengan keputusanmu itu?"

"Soal perang? Jika itu memang akan terjadi, tentu saja," Jawab Hannah mantap. "Jika... Terjadi sesuatu padaku, aku titipkan Taufan padamu, Yang Mulia."

Raja menatapnya serius. "Tidak, tidak akan kubiarkan sesuatupun terjadi padamu. Aku akan menyertakan pasukanku dalam Perang Ambracas, Signaria akan melindungimu dan Artroinne dengan segenap tenaga. Akan kubawa kau pulang kembali."

Hannah tersenyum. "Terima kasih, Yang Mulia. Aku berhutang banyak padamu."

"Jangan kuatir," Tatap Abaross dengan nada bijak. "Aku berhutang sama banyaknya padamu."

Hannah tersenyum, "Jika Makani—mendiang suamiku—melihat ini, aku yakin ia akan berkata," Hannah memajukan dagunya dan bertolak pinggang, menggunakan suara berat ia sengaja berbicara dengan gaya laki-laki. Ia berteriak, "Jangan bercanda, Abaross! Hutang hanya ada pada teman! Tapi untuk saudara sepeguruan, yang ada hanya cinta! Cinta!"

Abaross tertawa. "Astaga, kau mirip sekali dengan Makani—hahaha! Benar, dia pernah berkata begitu padaku! Aku kaget waktu dia mengatakannya kencang-kencang seolah aku ini pacarnya," bibirnya tersenyum, seolah masih menatap kenangan itu di depan matanya.

Hannah meringis, "Oh astaga, dia memang begitu. Frontal. Mengatakan segalanya harus penuh dengan cinta ini, cinta itu," Hannah kembali tertawa.

Abaross mengangguk. "Tapi karena itulah rakyat Signaria mengenalnya sebagai pahlawan. Bukan karena kematiannya—" Abaross menelan ludah, "Tapi caranya menjalankan hidupnya, sangat heroik bagi masyarakat. Ia dicintai semua orang."

Tatapan Hannah meredup. "Ya," katanya setuju dengan nada layu dan melamun. Hannah melirik Taufan yang ada pada pangkuannya, pucuk tangan Hannah yang lembut mengelus kepalanya penuh hikmat dan cinta. "Nama Taufan kuambil dari namanya. Ia pernah bilang kalau namanya terdiri dari nama yang bertentangan. Angin Topan, tapi sejuk dan semilir. Aku ingin Taufan mewarisi sifat ayahnya yang penuh cinta—menyebarkan cinta dengan angin topannya yang semilir," ia terkekeh, "Klise banget, ya?"

Abaross menggeleng. Ia menopang separuh tubuhnya dengan tangan di atas lutut, sambil menatap si kecil Taufan yang masih tidur dengan pulas meski suara gaduh dua orang dewasa mengobrol itu sama sekali tidak pelan. Tangan Abaross yang besar meraih kepala mungil Taufan, mengelusnya seperti anaknya sendiri.

"Simpati Makani tinggi terhadap kemanusiaan," lanjut Abaross, "Bahkan rasa keadilannya lebih tinggi dariku yang seorang Raja ini. Aku banyak belajarnya darinya. Aku harap jika ia mewarisi nama ayahnya, ia akan seperti Ayahnya—penuh cinta dan berhati baja—mampu melindungi orang-orang di sekitarnya."

Hannah tersenyum.

"Dia orang yang ceroboh, kau tak perlu terlalu memujinya," Hannah tertawa kecil menghibur dirinya sendiri, lalu terdiam cukup lama. Abaross melirik dengan sudut matanya, ia bisa lihat paras Hannah sesaat berubah kelam—seperti tanpa haluan. Entah apa yang ia lamunkan hingga ia tak sadar menggigit bibir bawahnya sendiri. Tangan yang memeluk si kecil Taufan itu semakin terlihat erat dan gemetar.

Abaross menepuk pundaknya lalu berdiri, "Aku tahu, Hannah. Aku paham perasaanmu. Jika peperangan ini tak dapat terhindarkan lagi, apa boleh buat. Aku juga ingin tahu wajah orang-orang keji yang berani menghunuskan sihirnya pada sahabatku itu. Keadilan harus ditegakkan," Abaross menyilangkan kedua tangannya pada belakang tubuhnya, menatap hamparan taman istana dengan penuh perhatian.

"Karena itu, aku takkan menghalangimu pergi—seperti yang kubilang tadi. Tapi dengan satu syarat,"

Hannah menatap Abaross.

"Kau harus selalu mengikuti perintahku pada peperangan nanti. Jangan langgar satupun perintahku. Kita takkan tahu apa yang akan terjadi di medan perang nanti jika seandainya benar-benar terjadi."

.

.

.

Hannah menjawab setengah melamun. "Aku berjanji."

.

.

.

.

.

Tapi ia melanggar laranganku dan diam-diam menghilang di malam sebelum puncak peperangan, kemudian muncul sebagai seonggok raga bisu yang tak mampu menjelaskan tentang apa yang terjadi pada tubuhnya malam itu. Dan insiden itu jadi titik balik kemenangan Signaria yang rendah dan tidak manusiawi. Tidak ada satu kemenangan pun yang pantas dirayakan—atas kematian orang banyak. Perang hanya mewariskan satu dendam ke dendam lainnya—ia menyembuhkan ambisi semata, tapi tidak dengan hati yang terluka lara akibat kehilangan orang-orang yang kita kasihi.

Perang Ambracas adalah sebuah kesalahan terbesar yang pernah menjadi keputusan Abaross.

.

.

.

.

.

Lamunan Abaross buyar, ketika ia melihat Gempa dari seberang jendelanya, tengah duduk dan berbincang dengan Ochobo. Abaross menatapnya lama, sebelum akhirnya beranjak dari kursi, dan keluar dari ruang kerja.

.

.

.

.

.


.

.

.

.

.

.

.

~=xXx=~

.

ROYAL x GUARDIAN
BOOK EIGHT

"Unveiling The Lead"

.

~=xXx=~

.

.

.

.

.

.

.

.

"K—Kau tidak mengenali kami, lagi, kak?" Api memburu, menggenggam kedua pundak orang itu dan mengguncangnya. "KAAAAK—!" teriaknya dramatis kemudian.

Sementara Pangeran Air hanya menyipitkan matanya. Lama kemudian, ia menyeret orang itu ke bawah lampu jalan, dan membuka tudung yang menutup kepalanya dengan sempurna.

Api dan Air terkejut bersama, ketika wajah yang muncul tidak sesuai dengan harapan terbesar mereka.

"Siapa kau?"

"...M—Maaf. Seharusnya aku yang tanya begitu. Kalian siapa?"

.

.

.

Beberapa waktu kemudian.

.

.

.

Pangeran Api memangku tangannya di atas meja makan sebuah restauran. Ia menatap jengah pria berjubah abu-abu gelap di hadapannya dan tengah makan dengan nafsu makan luar biasa. Pangeran Api mendecih berulang kali, lalu melirik kantung uangnya yang hanya menyisakan sedikit untuk perjalanan. Air yang duduk di sebelah si Involucre Prince ini, mengintip sejenak pada objek fokus mata sang kakak tiri, lalu menahan senyum saat tahu kakaknya jatuh miskin akibat menolong seseorang. Itu sudah biasa, kan? Melihat kakaknya kurang uang akibat perbuatannya sendiri menolong orang.

Tapi sesuatu hal yang tidak biasa adalah ketika ia melihat sang kakak mendesah lelah setelah menutup kantung uangnya. Tidak biasanya kakaknya itu menimang berat akan keputusannya untuk menolong seseorang. Air menerka-nerka kemungkinan kakaknya seperti itu, bisa jadi karena apa yang diharapkannya dua jam lalu kandas setelah mengetahui identitas asli dari orang yang dikejarnya habis-habisan sampai dirinya sendiri hampir diciduk Polisi Porto malam-malam.

"Jadi..." Api kembali memasukkan kantung uangnya ke dalam sakunya, lalu menatap orang itu dengan tatapan menahan kesal. "Ulang lagi, penjelasan identitasmu?"

Air menahan tawa, lagi. Ini sudah ketiga kalinya Api meminta orang itu perkenalan diri.

Setelah menelan daging yang dikunyahnya, pria yang kemungkinan sedikit lebih tua ketimbang mereka itu malah menatap polos dan kembali mengulang perkenalan diri yang sudah ia lakukan lebih dari satu kali itu.

"Ah. Namaku Solar. Umurku 16 tahun 10 bulan. Aku sangat lapar dan aku butuh makanan. Sudah berhari-hari aku belum makan," katanya dengan mimik bosan mengucapkan kalimat itu.

Api menggeram. "Enggak, enggak. Bukan itu yang harus kamu jelasin. Aku gak butuh perkenalan macam itu. Aku cuma ingin tahu, pertama, kenapa wajahmu mirip kakakku? Dan kedua, kenapa kamu nguntit adikku? JAWAB!" Pertanyaan Api diakhiri dengan suara gebrakan meja dan wajah galak tak sabar.

Solar bergidik kaget, begitu juga dengan orang-orang di sekitar mereka yang mulai melihat Api dengan tak nyaman. Air dengan repot-repot akhirnya tersenyum ke arah mereka menggunakan wajah minta maaf yang datar.

"Hehe, tenang dululah, bro. Mari bicarakan baik-baik," kata Solar nyengir gugup tapi berusaha membawa segalanya dengan santai. "Pertama, aku gak tahu siapa kakakmu, kedua aku gak menguntit kalian," tatapnya takut dan sedikit jengah karena menjadi sasaran salah tuduh. Setelah hela nafas, ia melanjutkan.

"Aku kemari dalam rangka menyelidiki perompakan yang berbisnis perbudakan. Aku di sini karena mensinyalir adanya bisnis perbudakan di penginapan tempat kalian menginap itu. Kebetulan jendela kamar kalian bersebelahan dengan kamar salah satu pemilik penginapannya," ia berhenti sejenak, lalu menatap keduanya dengan tatapan menghakimi. "Karena kalian tiba-tiba berteriak dari jendela kalian dan turun mengejarku, aku jadi panik karena takut orang yang sedang kuselidiki itu sadar dengan keberadaanku. Makanya aku lari. Sekarang, terima kasih pada kalian, aku jadi harus melacak mereka kembali dari nol."

"Ohh..." balas keduanya dengan kompak. Sesudahnya mereka kembali nyengir menahan malu.

Pangeran Air menatap datar sang kakak, "Ini semua salahmu, kak, kau terlalu cepat mengambil kesimpulan."

Pangeran Api semakin bingung. Api melepas topinya, lalu menggaruk kepalanya dengan nestapa.

"Sebentar," katanya setelah mengembalikan topi ke tempat semula, "Jadi kau ini detektif?"

Solar ikut menggaruk kepalanya. "Uhm. Bukan. Sebenarnya aku ini mantan budak yang kabur dari perbudakkan di Delianna. Aku mencari perompak perbudakkan yang pernah berurusan dengan kakakku," ia tiba-tiba terhenti dengan canggung. Api dan Air saling berpandangan sejenak menyadari keganjilan logat bicara laki-laki di depannya itu. Sadar dicurigai, Solar tiba-tiba melirik sejenak pada Api, lalu mengalihkan pembicaraan. "Ah, ngomong-ngomong wajahmu dan adikmu memang gak asing, sepertinya aku pernah melihat kalian."

Deg.

Api dan Air berkeringat dingin. Pengalaman menjadi budak wanita di dalam kereta—atau jalan kaki menyusuri sungai dalam keadaan lapar menuju Kota Porto—atau diceramahi Polisi Porto malam-malam—sudah dirasa cukup bagi mereka untuk sengsara. Mereka tak ingin masalah baru dengan terbongkarnya identitas mereka.

"Aaa—aaa! I—Itu—!" mereka sibuk coba menjelaskan, tapi Solar memotong mereka.

"Ah! Aku tahu!" Ia tiba-tiba berdiri, menghantam meja dengan kedua tangannya. Api dan Air terkejut—harap-harap cemas.

"Kau Blaze kan?! Blaze yang Juara SSFU empat kali berturut-turut?!"

Api berkedip, "Eh?" dan menyipit heran. Tak sangka nama yang hampir tak pernah ia gunakan kecuali di lingkungan Ibu Kota Signaria, malah kini terdengar di kota lain.

"I—Iya... kau tahu tentangku?"

"Tentu saja!" Tatapan tegang Solar menguap, berganti dengan wajah antusias. "Aku penggemarmu! Kau hebat! Kau bisa menjatuhkan lawan-lawan besarmu dengan sekali hantaman! Dan tinjumu bisa mengeluarkan api!"

Solar menatap Air.

"Oh! Kalau dia Blaze, artinya... kau Ice?"

Alis kiri Air naik.

"Darimana kau tahu?"

"Tentu saja! Kau satu-satunya petarung SSFU yang bisa menang tanpa melakukan apa-apa, dan sering hanya kalah ketika berkata 'menyerah' dengan santai sebelum bertarung! Rumor mengatakan kalian kakak beradik dan sering terlihat bersama. Jadi aku menyimpulkan kau Ice."

Wajah Solar berbinar—tapi Api dan Air hanya saling pandang dengan wajah heran sekali lagi. "Ah, senang bertemu kalian! Tak kusangka aku bertemu kalian di sini!"

"Kau pasti sering sekali menonton SSFU," terka Air.

Solar mengangguk. "Mhm! Sering! Dulu aku sering menontonnya dengan kakakku! Ada macam-macam jenis petarung di sana! Arenanya luas, dan semua pria seluruh Eschotta berkumpul di sana! Aku menyukainya!"

"Oooh," Api berkacak pinggang dengan bangga, "Aku juga menyukai tempat itu. Seleramu bagus!"

"Tapi... Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Solar henyak kemudian, kembali duduk dan menggigit tulang bebek panggang.

Air dan Api saling pandang lagi sejenak, lalu menatap Solar dengan sungguh-sungguh.

"Kami sedang dalam perjalanan mencari seseorang," lugas Air, "Saudara kami yang lain. Kebetulan, sosokmu mirip dengan kakak kami. Model rambutmu dan paras wajahmu sama dengannya. Hanya saja, kau lebih pendek dan kecil ketimbang kakak kami. Maaf karena kami salah orang."

Solar menggeleng mengangkat kedua tangannya, "Yah, aku sempat kesal tapi... Enggak apa-apa, hahaha! Hal-hal begini sering terjadi. Santai saja, bro!"

Air terdiam melihat Solar mengangkat tangannya. Lepas dari gaya bicaranya yang gaul, ada hal yang lebih penting disorot oleh perhatian Air. Sekilas ia melihat bekas luka-luka yang keberadaannya cukup mengganggu mata. Ia mendekat ke arah sang kakak, lalu berbisik. "Kak. Tangannya."

Api mengubah fokus matanya pada tangan Solar—yang kini sedang melanjutkan kegiatan makannya dan fokus ke piring.

Api menyadari apa yang dimaksud sang Pangeran Penjaga, ia lantas membuka pertanyaan baru.

"Kamu bilang kalau kamu baru kabur dari perbudakkan di Delianna, kan?"

Solar mengunyah sambil mengangguk, menatap Api dengan tatapan polosnya sekali lagi.

"Apa kau tidak lihat di sana seseorang yang mirip dengan kami? Maksudku, mirip denganmu—Ya pokoknya itu, lah."

"Maksudmu kakakmu? Hmmm." Solar mengingat-ingat. "Sepertinya tidak."

Air mengernyit. Menopang dagunya. Kernyitan di antara dua alisnya terbentuk jelas. "Jadi... 'Pangeran Kedua' yang dimaksud penjual budak tempo hari bukan Kak Gempa?" bisiknya pada Api.

Api segera menoleh, balas berbisik. "Mungkin itu pangeran kedua dari kerajaan lain? Kita terlalu terburu-buru ambil kesimpulan."

Air terdiam lama, bergumam dengan ekspresi berarti dan cukup terdengar oleh lawan bicaranya. "Penyelidikan kembali dari nol... ya?"

"Jangan begitu. Penyelidikanku juga kembali dari nol. Kita impas," kata Solar setelah mendengar itu, sembari menghabiskan mangkok porsinya yang terakhir. Solar kemudian menatap kedua pemuda di depannya dengan wajah penasaran. "Kalau boleh tahu, nama kakakmu yang menghilang, siapa?"

Api menjawab dengan gugup, "A—ah. Namanya... Enggak penting."

"Enggak penting?" Solar tertawa terbahak-bahak. "WAKAKAKAK! Namanya aneh!"

'Gak nyadar sama nama sendiri, nih bensin sialan.' Air dan Api menatap malas pada Solar.

"Maksudku, kau tak perlu tahu namanya!" sebal Api, hampir membunuh seseorang malam ini dengan bobola apinya. Kali ini Air tak berupaya menghentikannya jika benar terjadi, mengingat ia sama jengkelnya sama manusia satu itu.

Solar meringis, mengangguk paham. "Canda doang, san's bro," katanya kemudian, menghentikan amarah Api. "Jadi... apa? Kakak kalian orang penting sampai namanya tak boleh diketahui orang lain?"

Api mendengus, "Kau bisa bilang begitu," katanya sambil meminum segelas jus yang sejak tadi bertengger tak acuh di depan tubuhnya. Sementara kakaknya minum, Air mengambil kesempatan menjelaskan.

"Kami hanya tahu kakak kami akan dibawa ke Delianna oleh oknum tertentu. Tapi kami tidak tahu pasti siapa yang membawanya. Jadi kami memutuskan untuk mencarinya di Delianna," jelas Air, "Meski begitu kami harus mengumpulkan informasi dan strategi terlebih dahulu di Totis. Apa kau tahu sesuatu tentang oknum-oknum organisasi besar di Delianna yang suka menculik orang?" tanya Air.

Solar menggeleng, "Aku hanya tahu organisasi yang menculikku saja, mereka hanya organisasi kacang-kacangan" ia tertawa gugup, "Kalau soal organisasi besar yang kaumaksud... Sepertinya hanya kakakku yang tahu. Dia ahlinya soal mafia-mafia besar bawah tanah."

"He? Kakakmu penjahat?" tanya Api spontan dengan su'udzon.

Solar tertawa kecil, menggelengkan kepala dengan cepat. Agaknya ia terbiasa dengan tuduhan seperti itu.

"Bukan, dia hanya memiliki penyakit Kleptomania."

"Kepomania? Tukang kepo?" cerocos Api sembarangan.

Sementara itu Air dengan senang hati memukul dengan sekuat tenaga kepala sang Pangeran ketiga Kerajaan Signaria.

"ADUH! APA SIH?!" protes Api sambil mengelus belakang kepalanya dengan sebal.

"Kleptomania, kak. Itu penyakit psikologis—seseorang yang tidak bisa berhenti mencuri barang yang bukan miliknya," jelas Air dengan singkat.

Solar tersenyum mendengar penjelasan Air, dan membenarkan. "Nah, itu," katanya gembira—karena tak harus repot menjelaskan.

Solar melanjutkan, "Karena kakakku punya penyakit itu, akhirnya dia memutuskan untuk pergi diam-diam, dan mencuri beberapa barang. Baginya mencuri beberapa barang itu menarik. Semakin sulit barang tersebut untuk dicuri, semakin membuatnya senang. Oleh karena itu, dia jadi sering berurusan dengan beberapa organisasi-organisasi papan atas. Kepalanya sering jadi incaran mafia-mafia yang kesal dengan perbuatannya. Ia berjuang untuk menghindari mereka dari waktu ke waktu dan akhirnya mau tidak mau paham soal siapa saja yang mengincar kepalanya."

"Oi, oi. Bukankah artinya kakakmu dalam bahaya? Kamu gak khawatir?" tanya Air.

"Waa—Kakakmu keren!" respon berbeda datang dari Api. Air menghela nafas mendengar respon kurang manusiawi itu.

"Hmmm," Solar memiringkan kepalanya sambil memejamkan mata dan mengernyit. "Khawatir sih, tapi... aku gak bisa cegah. Dia memang begitu sejak umur enam tahun. Dan, ya, dia kakak terkeren yang aku punya. Sihirnya juga hebat."

"Oh? Dia pengguna Mana?" tanya Api mulai tertarik. "Lalu, dimana kakakmu sekarang? Apa dia tahu kalau kau jadi korban perbudakan?"

"Hmm. Mungkin tahu, dan mungkin dia sekarang sedang menuju Totis mencariku."

Air menatapnya malas. "Lalu kenapa kau malah ada di Kota Porto?"

"..." Solar hening beberapa lama. "Seperti yang kuceritakan tadi. Aku membuntuti seseorang yang kusinyalir gembong perompak dan perbudakkan. Aku hendak menyeret orang itu pulang ke is—err—uhmm, kampung halamanku, dan kuberikan pada yang berwenang. Tapi... Setelah insiden banyaknya Polisi Porto tadi menghampirimu, aku sangsi dia masih di sini sekarang. Sepertinya aku harus merelakannya, dan kembali ke Totis, untuk menemui kakakku," jawabnya setengah bergumam.

Api mengangguk paham, sementara Air hanya terus memperhatikan cara duduk Solar yang ia sadari mulai sedikit tegang. Entah kenapa, Air mulai menaruh curiga pada orang ini.

"Baiklah, kalau begitu, kita lanjutkan perjalanan bareng aja, ke Totis. Gimana?" Tanya Api, lalu melirik pada Air, "Gimana menurutmu? Gak apa-apa, kan? Dia ikut kita, Ice?"

"..." Air hanya terdiam beberapa lama menatap Solar. Solar menatapnya balik, sejenak ada tatapan berkilat sayu yang ditujukan pada Air. Air membalas tatapan itu dengan tatapan kilat yang sama.

"Ho? Baiklah," jawab Air. Meski jawabannya setelah pertanyaan Api, tapi jawaban itu tidak terasa untuk jawaban Api. Tapi tertuju pada tatapan Solar padanya.

Sesaat setelah Api kembali menatap Solar, ekspresi Solar kembal normal. Ia tersenyum pada Api. "Aku gak keberatan, ini tentu akan menyenangkan!" jawabnya sumringah, lalu teringat sesuatu, "Ah ya, apa kalian masih punya simpanan uang berlebih?"

Api dan Air saling pandang.

.

.

.

.

.


.

.

.

.

Keesokan harinya.

.

.

.

.

.

Awan putih membumbung tinggi. Cahaya matahari mulai menelanjangi jalanan Kota Porto dari gelap gulita malam dan selubung kabut. Kini langit biru pertama di musim panas, mulai menyapa para penduduk yang mulai beraktivitas. Seiring datangnya hari baru, tiga laki-laki muda, keluar dari jalan utama kota itu dengan kuda menjadi tunggangannya masing-masing.

Akhirnya setelah mereka keluar dari kota, Api berteriak lantang.

"AAAAAAAHHHHH! Jadi ini toh rasanya naik kuda?! Jadi gini rasanya Kak Hali naik kuda?! Arrrrhhh kenapa ga dari dulu aku naik kuda ajah jalan-jalan di Signaria naik ini—WOUWOOOUWOOOUWOOOOOOO!"

Air menutup telinga, "KAK! BERISIK!"

Tapi Api tak peduli, ia tetap mengoceh berisik dengan penuh energi jiwa muda, bersemangat menempelkan tubuhnya sekaligus memeluk dan mengusap-usap leher sang kuda. Air menatap kakaknya dengan tatapan malas dan seolah kakaknya itu lebih rendah dari bulu ketek Fang.

"Tau gitu gue beliin Llama aja biar diludahin," sebal Air lirih, memegang tali kusirnya penuh emosi.

Solar yang menunggangi kuda hitam lainnya, menyusul gerakan kuda Air, menyamakan irama langkah kudanya. "Memangnya dia tidak pernah naik kuda sebelumnya?"

Air menggeleng, "Pernah, kok. Malah kami pernah dapat pelajaran naik kuda. Dia selalu seperti itu ketika naik kuda, teriak-teriak girang seolah itu pengalaman pertamanya, padahal sudah pernah naik enam atau tujuh kali lebih. Bahkan Raj—ah—Maksudku, 'Ayah'—pernah membelikan kami kuda. Tapi kudanya mati karena terlalu sering dia kasih makan."

"Mati kekenyangan?" Solar sweatdrop.

Air mengangguk dengan wajah lelah. "Dia penyayang binatang. Tapi dia buruk soal memelihara hewan. Sangking sayangnya sama hewan, dia memperlakukan hewan itu berlebihan. Dia pernah memelihara kelinci, yang berakhir tragis mati kedinginan karena sering dimandiin di musim dingin. Dia juga pernah memelihara Lynx yang mati tercekik saat ia bawa tidur. Ia juga pernah tak sengaja memecahkan cangkang penyu peliharaannya hingga mati—gara-gara membersihkan cangkangnya dengan tenaga berlebihan. Karena kematian-kematian hewan inilah akhirnya Ayah tak mengijinkan Api memelihara hewan lagi sejak umur 12 tahun."

Wajah Solar pucat komikal, lalu melirik ke belakang, menatap Api yang masih girang mencium dan mengelus kuda itu.

"Oi, oi. Gapapa nih, dia dikasih kuda?"

"Kalau kau khawatir pada kudanya, kau bisa kembalikan kuda itu sekarang dan biarkan dia menumpang di kudamu."

"Idih, ogah," Solar menggeleng cepat.

"Aku saja yang adiknya, enggak mau. Apalagi kau orang lain. Jadi biarkan saja dia gembira dengan kuda barunya. Biarkan kuda itu menikmati detik-detik masa hidupnya yang terakhir."

"... Kau kejam," Solar kini memastikan kudanya dan kuda Air berada pada jarak aman. Air meringis tak peduli.

"Ngomong-ngomong, berapa lama waktu untuk sampai ke Totis?" tanya Air.

"Kita harus melewati Herdes terlebih dahulu untuk sampai ke Totis. Kalau dengan kuda, aku rasa nanti malam pun sampai ke Totis."

"Ah. Lebih cepat, lebih baik," jawab Air sedikit lega.

"Tapi..." Solar memotong, "Di antara Kota Herdes dan Totis, ada jalur Parsia. Jalur berbahaya karena kudengar banyak rampoknya. Kusarankan tak melewatinya pada malam hari."

Suara kuda lainnya terdengar mendekat, menselaraskan langkahnya dengan mereka berdua. Di atas pelana kuda, berbaring santai Api menatap langit dengan kedua tangan melipat di belakang kepala.

"Kau membuat perjalanan dengan dua orang petarung SSFU paling tangguh, dan kau masih ragu jalan malam di Jalur Parsia?" ucapnya dengan lagak tinggi. Solar hanya sweatdrop sama makhluk banyak gaya satu ini.

"B—Bukan begitu. Aku tahu kalian hebat, tapi... kita tak tahu apa yang akan terjadi bukan?"

"Pfft—kau bukan tipe orang penakut kan?"

"Apa? Aku—"

.

.

.

"ITU DIAAA!"

Mereka bertiga menoleh.

.

.

.

"ITU BUDAKKU YANG KABUR! TAK SALAH LAGI!"

"AH?!" spontan Air kaget melihat banyak pria-pria berkuda memacu kecepatan ke arah mereka. Mimik wajah Air antara terkejut dan mendelik jenaka. "KAK! AYO LARI!"

"KEJAR MEREKA!"

.

.

.

.

"Kau bercanda, untuk apa lari!"

"Eh?"

.

.

Api berdiri gagah di atas pelana kudanya—berdiri dengan tompangan kuda-kuda siap bertarung. Tangannya mengepal tinju ke arah beberapa pria berkuda yang mengejar di belakang mereka dengan kekuatan penuh dari arah Porto. Tatapannya serius, serta tingkat konsentrasinya tinggi.

.

.

"FIRE SPELL, LEVEL ONE," pekiknya serius. "BOBOLAA—"

.

.

.

.

Air memotong aksinya dengan cantas, "GAK BISA. AYO LARI AJA!" kemudian memukul kuda tunggangan Api, membuat Kuda itu meringkik dan berlari dengan kecepatan penuh.

Adegan keren Api otomatis tertanggalkan—berganti dengan adegan Api terjungkang ke belakang kuda. Dengan kaki tersangkut di tali kusir—akibat gerakan tiba-tiba sang kuda yang meluncur berlari—Kepala Api pun terhantam berulang kali ke bokong dan punggung kuda.

"WAAAA—KAU KEJAAAAAAAAAAAM—!" teriak Api penuh nestapa. Air mendengus tak peduli.

Solar menatap kedua kakak beradik itu sambil tertawa renyah.

"Oh, beberapa hari ke depan bakal seru, nih!" bisiknya pada diri sendiri.

"Ayo, Solar! Kita juga!" seru Air, kemudian memacu kudanya lebih cepat, menyusul kecepatan kuda milik Api sementara gerombolan pria berkuda itu semakin mendekat pada mereka.

"Oke, siap!" Solar memacu kudanya segera menyusul mereka.

.

.

.

.

.

.

.

=xXx=

ONWARDS! FULL SPEED TO TOTIS!

.

.

BERSAMBUNG

=xXx=

.

.

.

.


.

.

.

.

.

=X=...TRIVIA... =X=

Udah lama gak nulis trivia lagi di fanfic ini. Ehe. Semoga dengan adanya trivia ini, menambah pengetahuan teman-teman, ya. *lopeh lopeh*

.

.

Tuan Hau Makani (harfiah: Hau artinya Topan, dan Makani artinya angin sejuk dalam bahasa Hawaii): Suami Lady Hannah—alias, yup, Ayahanda Tercinta dari Taufan. Beliau meninggal tepat saat Taufan dilahirkan. Beliau seorang kaum elit militeris, dan salah satu pencetus Kesatuan Kepolisian Signaria yang bertugas menjaga keamanan Rakyat. Kesatuan Kepolisian Signaria ini ada macam-macam divisinya, salah satunya Secret Agent Army (Tentara Agen Rahasia)—divisi yang diketuai oleh Fang. Ada berbagai alasan kenapa Abaross dan Hannah hampir tak pernah menyebut Hau Makani sebagai ayah kandung Taufan, mungkin pembaca akan mengetahuinya melalui perkembangan cerita.

NOLA: Seperti yang dijelaskan Lady Hannah kita tercinta, Nola adalah keturunan darah Soldia dan Penyihir. Untuk mempermudah, darah Nola memiliki 80% kekuatan Penyihir, dan 20% kekuatan Soldia. Walau lebih dominan kekuatan Mana, tapi dia tetap memiliki struktur tubuh yang kuat seperti seorang Soldia. Itulah kenapa Taufan saat diserang oleh Air masih baik-baik saja—padahal orang normal mah mati keknya, ya. /JimLupaUntukSerius

SSFU: Signaria Street Fight Underground. Ingat SSFU, ingat book two, ingat kebaperan duo Api dan Air. /eh

Kleptomania: Menurut Om Wikipedia, Kleptomania adalah sebuah penyakit/gangguan kendali impulsif, dimana seseorang kecanduan untuk mencuri barang yang bukan miliknya. Udah dijelasin sama Air, sih, tapi yaudahlah, ngisi Travia biar banyak. :D

Kepomania: Gak ada. Itu murni karangan Api. Salahin aja dia.

.

.

.

.

Sekian. Singkat memang, langsung lanjut ke book selanjutnya saja. Douzo! Akoe cintah kahleanh! Mwah!