Disclaimer: Jadi gini. Boboiboy itu bukan punyaku. Iya, gitu doang.

Mengheningkan cipta sejenak untuk saudara-saudara kita yang terkena musibah Gempa. Tidak, maksudku, Gempa tidak salah—yang kumaksud bencana Gempa—ah, pokoknya itu. Semoga saudara-saudara kita disana diberikan ketabahan dan kuat menjalani cobaan dari-Nya. Amin.

.

.

A/N: *The author is currently dying after writing this chapter—he is now cursing why the fu' he had to write a damn adventure with battles*

Anyway, enjoy!

*kembali sekarat*

.

.

.


.

.

.

Malam itu, pertarungan di Jalur Parsia.

.

Thorn mulai kehilangan nafas—asanya mulai putus ketika pasir-pasir itu berhasil menenggelamkan seluruh tubuhnya, menyisakan jemari yang menengadah ke udara malam mencari secercah asa—sebelum akhirnya ia sepenuhnya tenggelam ke dalam pasir.

.

.

.

Tiba-tiba sebuah tembakan terdengar, mengubah ritme pertarungan.

.

.

.

.

.

.

"ABANG HUI! AWAS!"

Salah satu Hoopkin bersaudara melompat, melindungi sang kakak.

Suara tembakan bergemuruh cantas di udara Jalur Parsia yang dingin. Dengan tekanan udara yang tinggi, suara tembakan itu terasa lebih lambat ketimbang waktu sesungguhnya sang peluru meluncur dari pistol sang Pangeran Merah Agung.

.

.

Suara tembakan itu disusul dengan suara teriakan memekik sakit dan teriakan seorang perempuan.

.

.

"Haiya, Tuan Thorn!"

.

Seorang perempuan berkacamata bundar mengenakan topi kupluk kuning kebiruan dan seorang pria berseragam kanvas hijau berlari cepat ke arah Thorn yang kini keadaannya hampir tertelan pasir. Mereka berdua segera menolong Thorn keluar dari pasir dan menyeretnya ke tempat aman, sementara Gui mulai menghantam tanah dan bersimbah darah.

"Gui!" Pekik salah satu Hoopkin bersaudara, dengan cuma-cuma ia menanggalkan sihirnya yang sempat membelenggu Thorn tadi, lalu menghampiri sang adik yang tergeletak di pasir tenggelam dalam darah.

"GUI! Kau tidak apa-apa?!"

"A—Abang—" Rintih adiknya dengan payah. Meski sang penembak berhasil menghindari titik vitalnya, tapi sasarannya tetap saja mengalami nasib buruk tertembus peluru.

.

.

Melihat adiknya merintih seperti itu, irama nafas Hui berubah.

.

.

Ditatapnya orang yang menodongkan pistol ke arahnya—dengan mata merah yang congkak. Kemarahan seketika mengisi hati Hui, ia berdiri, dengan menjejakkan kakinya pada tumpuan kuat. Menanamkan kakinya pada pasir, ia menunduk, kemudian memberatkan otot-otot tangannya hingga menampakkan urat-urat nadi yang tebal. Bahkan dorongan kekuatan Mana dari dalam tubuhnya membuat kapak besar yang berada di belakang tubuhnya retak, dan bajunya pun poyak akibat perubahan signifikan ukuran tubuhnya.

"A—Apa—Tubuhnya membesar!" Pekik Taufan kaget melihat musuhnya yang tumbuh menjadi sesuatu yang lain dari wujud manusia. Seketika hembusan angin hitam pekat tertiup dari arah Hui, menerbangkan pasir menghalangi pandangan semua orang di sekitarnya.

"Hati-hati, Hali!" teriak Taufan, spontan memunggungi Pangeran Merah itu sambil menghalangi pasir masuk ke mata dengan tangannya, sementara tangan lainnya sigap memegang erat pedangnya, bersiap melindungi sang Pangeran.

Halilintar tetap tenang di belakangnya. Mewaspadai setiap inchi perubahan musuhnya.

.

.

.

.

.


.

.

.

~=xXx=~

.

ROYAL x GUARDIAN
BOOK NINE

"Black Sand in Parsia's Night"

.

~=xXx=~

.

.

.


.

.

.

.

Sementara di tengah kegaduhan itu, perempuan dari clan Dao Shi dan pria paruh baya itu berhasil mengeluarkan Thorn dari liangnya. Thorn sempat tak sadarkan diri, sebelum perempuan itu menaboknya beberapa kali.

"BOCAH TENGIIIIKK! BANGUUUNN! Haiyaaaaa—"

.

PLAK! PLOKK! PLAKK! PLOKKK!

.

Gadis itu dengan senantiasa menamparnya bolak balik, hingga Thorn mau tak mau membuka mata dengan rasa perih menemani alam sadarnya.

"SAKIT YING!" Thorn bangkit duduk sambil mengelus pipinya yang bengkak dan babak belur. Meski dibentak, gadis itu hanya meringis tanpa minta maaf.

"Haiya, Tuan! Untung aku dan Pak Motobo cepat kemari! Kalau tak, tuan tinggal sayonara!" gadis itu berbicara cepat dengan nada khawatir dan rasa syukur. Lelaki di sampingnya hanya manggut-manggut menyetujui ucapannya.

"Sayonara—sayonara—" tiru Thorn jengkel, "Tamparanmu itu yang bakal bikin nyawaku sayonara-bye-bye tau!"

"Iya deh, maaf!" ujar gadis yang tadi dipanggil 'Ying' oleh Thorn dengan nada mengalah tapi galak. "Ayo, Tuan, kita harus segera pergi dari sini!"

"Enggak, tunggu dulu, mana si duo Hulahoop itu?"

.

Yang benar HOOPKIN, Thorn.

.

"Dua anak yang kami temui tadi sekarang sedang menghadapi mereka, gak usah dipikirkan!"

"Dua anak?" tatap Thorn setengah hati. "Ja—Jangan-jangan...?"

Thorn berlari cepat meninggalkan mereka berdua.

"Ah! Tuan!" Pekik keduanya berbarengan hendak menyusul.

"Kalian di sini saja! Jangan keluar dari balik batu ini!" teriak Thorn pada mereka.

"Aku bisa membantumu, dengan Sihir Laju-ku, Tuan!" teriak Ying. Tapi Thorn menatapnya dengan mata dingin yang menusuk, sebelum akhirnya melanjutkan pelariannya ke arah luar persembunyian.

Tatapan dingin itu berhasil membuat Ying terpaku dan terpaksa mengalah, sementara Motobo hanya menggenggam pundak Ying untuk sekedar menghiburnya—dan meyakinkannya bahwa ia akan menemaninya.

.

.

.

.

Setibanya di balik batupasir setinggi enam kaki—tempat perlindungan mereka—Thorn langsung dihadang hempasan pasir hitam dan angin.

"Pa—Pasir hitam?! Ja—Jangan-jangan si Gui sialan itu—Gaaaah—sial, aku gak bisa liat apa-apa—" racaunya, sambil berusaha tetap melangkah maju di tengah badai pasir hitam dengan kedua tangannya menghalangi sebagian jarak pandangnya untuk menghindari pasir masuk ke matanya. Sedikit demi sedikit, ia mulai melihat siluet empat orang, dengan satu orang terbaring di tanah. Ia menyipitkan matanya, dan akhirnya ia melihat sosok yang familiar.

.

.

"HALI! TAUFAAN!" panggilnya di tengah badai, dan terus melangkah ke arah mereka.

"Thorn!" teriak Taufan, seiring Thorn melangkahkan kakinya berusaha mendekat.

"Taufan, gunakan sihir anginmu!" Teriak Halilintar.

"Enggak bisa! Kalau kita gunakan itu, malah akan tercipta badai tornado di sini dan itu malah akan menerbangkan kita semua!"

"Cih," umpat Hali, terpaksa memikirkan jalan lain. "Andai saja ada Air di sini, ia bisa membuat pasir ini berlikuifaksi dan tenggelam."

"Kita gak bisa menghadapinya dengan kondisi seperti ini!" teriak Thorn yang kini sudah berada dalam jangkauan kedua laki-laki itu, "Sihir tingkat duanya adalah sihir Pasir Hitam! Lingkungan ini menguntungkannya!"

"Selain itu, lihat bentuknya itu! Bentuk apa itu! Itu bukan manusia!" tunjuk Taufan pada sosok yang kini lebih mirip mutan raksasa Kadal Gurun Pasir, hanya saja dengan tinggi dua meter.

"Itu Uromastixia! Sihir perubahan wujud ke bentuk reptil gurun!" Jelas Thorn singkat, "Ketika dia dalam mode marah, ia akan mengaktifkan sihir peringkat akhir lalu berubah wujud! Dan aku tak pernah melihat manusia yang bisa lari hidup-hidup dari Mode Uromastixia milik Hui!"

Pasir di sekeliling Hui, dalam radius 100 meter perlahan menghitam dan mengkilat. Taufan menangkap beberapa pasir coklat yang kini berubah menjadi hitam itu ke dalam genggamannya. "Wah! Pasirnya berubah jadi pasir hitam! Mahal ini!"

Halilintar memukul kepala Taufan dengan segenap hati. Sementara Taufan mengaduh dan protes, hembusan angin semakin membesar, badai pasir hitam itu semakin pekat. Samar-samar, ketiga pria itu bisa melihat tubuh Hui yang tumbuh membesar, membesar, membesar, dan membesar.

.

Lalu berhenti di tinggi enam meter.

.

"Oh sial—Wujud Kadal dua meter saja sudah cukup menyusahkan—dan sekarang, ia hampir empat kali lipat tubuh kita!?" pekik Taufan galau, menyentuh kedua pipinya dengan panik.

Halilintar mendecih, "Apa tidak ada jalan lain untuk mengalahkannya?!"

Thorn berpikir, kemudian melirik bebatuan besar yang berada di belakang makhluk itu. "Aku tak tahu ini bisa berhasil atau tidak, tapi aku punya rencana! Kemari!" pinta Thorn, dan mereka menunduk bertiga untuk berbagi strategi. Thorn membuka tangannya memperlihatkan biji-biji hijau sebesar mata ikan.

"Apa itu?" tanya Taufan.

"Ini Tunas Nepenthes. Satu-satunya monster tanaman yang dapat tumbuh pada pasir hitam. Hanya dengan ini aku bisa menggunakan sihirku untuk membangkitkan Nepenthes di dalam pasir hitam miliknya dan menelan Hui—tapi untuk sementara saja, karena Mana-ku saat ini tak cukup banyak. Habis itu kita bisa kabur menjauh darinya. "

"Hui?" tanya Halilintar.

"Mereka Hoopkin bersaudara, Hui dan Gui, yang sedang mengamuk itu sang kakak, Hui. Hui sangat berbahaya, aku pernah bertarung dengannya," Jelasnya sepotong, sebelum kelilipan pasir, lalu melanjutkan kembali penjelasannya sambil mengucek matanya. "Nah, masalahnya adalah—Kalau dia dalam mode Uromastixia, dia mampu mengendalikan pasir-pasir hitam itu kemana pun yang dia mau, dan bagian telapak kakinya bisa merasakan gerakan sekecil apapun yang dihantar pasir. Bahkan gerakan jatuhnya biji Nepenthes ke dalam pasirnya."

"Lah, Jadi gimana dong?" tanya Taufan tak sabar, ia semakin jelas mendengar geraman Hui. "Aaaaaaah—! Dia datang!"

"Cepatlah! Kita tak punya waktu!" Halilintar memburu. "Bagaimana rencananya?"

"Begini."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sementara itu Hui semakin pongah dengan wujud barunya. Ia berteriak ke langit,

"AKAN KUBUNUH KALIAN SEMUAAAAA!"

.

.

Teriakan itu mengawali deburan pasir hitam besar yang terdengar mengancam dan bergerak ambisius di sekitar tubuh besarnya. Setiap gerakan deburan itu didalangi oleh alunan serta permainan jemari-jemari bersisik reptilnya, dan meluncur ganas seolah mencari mangsanya ke berbagai penjuru. Pertarungan di dalam badai pasir ini menguntungkannya, karena meski ia tak dapat melihat, ia masih bisa merasakan setiap gerakan melalui kulit di bawah kakinya. Bahkan satu gerakan berupa sentuhan tetesan air pun akan menyampaikan informasi lokasi pada kakinya.

"KALIAN TAKKAN LARI DARIKU!" Suaranya menggema, ia melebarkan jangkauan pasir-pasir dalam genggamannya. Ia menggerakkannya dengan membabi-buta untuk menemukan satu titik pergerakan.

.

"DISANA KAU RUPANYA!"

.

"—UWAAAAAA—!" Taufan berteriak, pasir-pasir itu menangkapnya, mengangkat tinggi-tinggi tubuh Taufan lalu merangkapnya.

.

"Sialan—!" umpat Halilntar payah. Sebelum tubuh Taufan benar-benar terbungkus, Halilintar segera menutup kantung peluru pistolnya, dan berlari dengan kecepatan petir menuju Hui Hoopkin. Dalam satu gerakan cepat, ia menjulurkan tangannya untuk menembak—sayang peluru itu ternyata hanya menang satu serempet tak berbekas pada pipi monster buas itu. Meski begitu, serangan kecil Halilintar berhasil membuat Hui lengah barang sebentar dan membuat pasir yang meliliti Taufan segera melonggar. Dengan sedikit sihir angin, tentu saja Taufan berhasil lolos kali ini.

"KEH," umpat Hui kesal melihat buruannya lepas dan kembali menghilang di antara badai pasir ciptaannya.

Halilintar berlari dengan kecepatan petirnya sekali lagi, ia melawan angin-angin berpasir itu dan berusaha mendekati Hui. Dengan satu tangan bertumpu di atas tangan kirinya, ia mengarahkan pistolnya ke arah mata Hui. Dengan konsentrasi penuh, Halilintar kini membuat sang peluru berkaliber panjang itu melesat dengan kekuatan petirnya, hingga membuat peluru itu kini melaju dua kali lipat lebih cepat.

.

.

Tetap saja, Monster itu berhasil menghindar. Ia tertawa.

"Kaupikir dengan membutakan mataku kau bisa membuatku tak dapat melihat kalian? Apa itu rencana kalian?! HAHAHAHAH!" katanya dengan tawa yang menggelegar dan sombong. Halilintar terdiam melihat pelurunya melesat begitu saja, sementara kakinya mulai bermanuver ke arah lain untuk menghindar setiap tumbukan pasir yang berusaha kembali menangkapnya dari bawah, sambil tetap terus menembaki monster itu di berbagai kesempatan.

Sementara itu Taufan juga tak kalah sibuk menghindari setiap serangan pasir yang dihalau.

"Cih, benar kata Thorn, pasir hitamnya merepotkan. Selalu mengikutiku kemanapun aku pergi—HIAH!" katanya menghindari setiap serangan sambil menebas setiap tumbukan pasir yang menginginkannya.

.

.

Shyussshh!

.

.

Sebuah peluru baru saja lewat dan nyaris meninggalkan bekas luka baru di pipi Taufan.

Taufan melongo sebentar.

.

.

"WOY! BANG*AD! NEMBAK NGIRA-NGIRA NGAPA, HALI!" protes Taufan sambil menghindari tumbukan-tumbukan pasir itu. Rupanya selain harus bertahan dari terpaan badai pasir hitam, kini Taufan juga harus mewaspadai semua peluru 'nyasar' Halilintar.

Sementara Halilintar tak menimpali balik, Taufan berpikir untuk mulai menyerang musuhnya. Saat setiap pijakannya semakin dekat dengan Hui, Taufan melompat dengan mengacungkan Furrygale di udara, angin berhembus di sekitar pedang Furrygale, sekejap kemudian pedang itu siap menyabet kepala musuh. Sayangnya serangan itu berhasil dihentikan Hui dengan tangan telanjang di bagian tulang kering. Suara nyaring ketika pedang dan sisik Hui beradu, membuat Taufan mendelik takjub.

"AP—SISIKNYA KERAS BANGET?!" Belum selesai Taufan terkejut, tangan musuh menyambar lehernya. "AHK!"

Hui menyeringai dengan gigi-gigi tajam nan besarnya. "Ho? Pedang yang bagus," katanya berkomentar setelah melihat pedang di tangan Taufan yang masih berjuang mencoba menebas tangan raksasa yang mencoba mencekik seluruh tubuhnya.

Tangan Hui mampu melingkar penuh hingga di leher Taufan, mencengkram kuat, membuat Taufan terbatuk hilang nafas.

"OHOOK—!"

Keberhasilan Hui mendaratkan tangan raksasanya pada Taufan, dirayakan dengan membuat semua pasir hitam yang bersliweran kesana-kemari itu turun diam kembali ke tempatnya di bawah kaki. Seiring itu pula Halilintar terkejut melihat Taufan kini terangkat tinggi di atas tanah dengan tubuh terancam remuk. Hui menyeringai melihat reaksi Halilintar, seolah memang itu tujuannya menurunkan semua pasir hitamnya kembali ke tanah.

.

.

"TAUFAAANN!" pekik Halilintar.

Hui menyeringai semakin jadi. Hidungnya yang mirip hidung reptil bersisik, megap menghembuskan nafas kemenangan yang hangat. Taufan merintih, darah mulai mengucur dari bibirnya. "Si—Sialan—"

Hui berteriak dalam perih dendam. Matanya melebar nyala—mengisyaratkan wujud kebengkakan hati atas apa yang dialami adiknya.

"Akan kulakukan! Akan kulakukan hal yang sama seperti apa yang kaulakukan pada adikku, lihat saja ini—" katanya sambil segera mengeratkan cengkramannya.

.

"Tung—" Taufan menjerit,

.

"GAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHH...!"

.

.

Pekikan Taufan melengking tajam, Halilintar mendelik merah dengan darah yang mendidih.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"SEKARANG, THORN!" hardik Halilintar.

.

.

"Owkay!" sigap Thorn. Laki-laki berjubah hijau itu melebarkan kakinya—mengambil kuda-kuda, dan menangkupkan kedua tangannya.

.

.

.

"LEVEL TWO, FOREST SPELL:" Thorn kemudian meninggikan kedua tangannya, bersamaan kedua kaki dan tubuhnya yang kembali tegap,

"NEPENTHES!"

.

.

.

"Ap—"

Tiba-tiba saja pasir-pasir di sekitar kaki Hui bergetar hebat.

"P—Pergerakkan apa ini?! Kenapa pasirku merasakan banyak sekali pergerakan makhluk hidup dari bawah—"

Sesaat kemudian bangkitlah tanaman-tanaman yang tumbuh dan kian menjulang ke atas dan perlahan membentuk kantung semar berduri dengan setiap mulut kantungnya bergigi keras serta berlendir kental nan anyir. Suara auman memekakkan telinga terdengar lantang dan sulit dielakkan. Tumbuhan hidup dengan kaki dari akar merambat layaknya gurita, dan tangan yang menjulur panjang layaknya dari batang hibrida—mereka mengairi setiap pasir yang berada di sekitarnya. Lendir-lendir dari tanaman menetes ke pasir-pasir hitam milik Hui dan membuat pasirnya mengental serta sulit digerakkan oleh pengendalinya.

"Se—Sejak kapan kalian—!" heran Hui dengan marah. Hui pun semakin kesulitan untuk menghindari batang menjalar sang kantung semar yang semakin melilit kakinya, hingga ia akhirnya spontan melepaskan Taufan.

"Taufan!" Teriak Halilintar seiring Taufan jatuh terkapar di tanah dan terbatuk. Halilintar segera menghampiri untuk memeriksa keadaannya. "Kamu gak apa-apa?"

Belum sempat Taufan menjawab, mereka tersentak dengan Hui yang memekik ketika kedua kakinya ditangkap gulungan tangkai rambat hijau lalu diseret dan dibawa semakin mendekat dengan mulut salah satu kantung semar. Banyaknya jumlah kantung semar serta tanaman-tanaman rambat itu bagai hutan belantara tropis lebat, sehingga mampu mengukung seekor reptil setinggi enam meter dan membuatnya tidak berdaya. Semakin Hui berontak, semakin kencang tanaman-tanaman itu mengikatnya, dan semakin dalam ia masuk ke dalam kantung semar. Perlahan-lahan Hui kehilangan kekuatannya dan mulai menyusut sedikit demi sedikit.

Sementara itu, Thorn berteriak memecahkan ketakjuban semua orang terhadap fenomena brutal dihadapannya.

"Ini cuma bisa menahan dia sementara! Cepat! Kita pergi dari sini!" Teriak Thorn selagi melompat kembali turun dari batupasir besar pijakannya.

.

.

"Ayo, Ying! Pak Motobo! Kalian juga, Hali, Taufan, segera menyingkir dari sana sebelum Nepenthes memakan kalian juga!" seru Thorn seiring ia melewati Ying dan Motobo yang sedari tadi hanya bisa mengawasi dari belakang batupasir besar dan menjadi pijakan pertarungannya.

Ying dan Motobo mengangguk pada Thorn dan segera mengikutinya berlari. Tapi Ying berhenti ketika melihat dua orang paling belakang tak mengikutinya. "Haiya, Jangan diam saja Tuan Halilintar! Tuan Taufan! Nanti kena makan wo!" teriaknya.

"Ayo, Taufan!" Halilintar hendak berlari mengikuti Ying, tapi ia terhenti saat sadar Taufan tak mengikutinya.

Halilintar melihat Ying dengan mata panik, lalu kembali menatap Taufan—namun yang ditatap tetap tak bergerak. Rupanya tatapan Taufan fokus pada hal lain.

.

.

Gui Hoopkin. Adik dari Hoopkin bersaudara yang masih terbaring di sana—entah hidup atau tidak.

.

.

"K—Kita gak bisa ninggalin dia! Dia pingsan dan terluka!" pekik Taufan yang akhirnya bergerak, ke arah dimana letak tubuh Gui terkapar. Tubuh Gui hampir ditelan tanaman menjalar para kantung semar—karena ia tak sadarkan diri, jadi para tanaman raksasa buas itu tak segera menyeretnya dan hanya menariknya perlahan.

"Biarkan saja! Dia sudah mati!" sentak Halilintar balik.

.

"..."

.

"Apa yang kaulakukan! Sihir Tuan Thorn tak banyak, sebentar lagi Kantung Semar ini bakal hilang, maa! Nanti diserang maniak pasir lagi, wo!" pekik Ying dari kejauhan.

Tapi Taufan tak mendengarkannya.

"TAUFAN!" pekik Halilintar melihat Taufan malah berlari menjauhinya, dan mendekati sekumpulan tanaman raksasa itu. Ia membebaskan Gui dari tanaman yang hampir menelannya—memotong tanaman-tanaman itu dengan pedangnya, lalu menyeretnya keluar dari sana.

"Bagaimana dengan manusia reptil itu?" tanya Taufan lirih, menatap tubuh manusia yang terperangkap di dalam kantung semar.

Halilintar melirik pada sudut matanya, menyusuri arah tatapan Taufan. Ia bisa melihat Hui masih berontak di dalam kantung semar—suara erangan melawan balik dan merutuk terdengar beradu dengan suara auman tanaman-tanaman hidup itu. Sementara itu, datang dari arah lain, salah satu tanaman sihir Thorn menyadari keberadaan mereka dan menghampiri dengan ganas.

"TIDAK! KITA HARUS SEGERA PERGI!" pekik Halilintar—panik melihat salah satu Nepenthes mulai mendekati mereka.

Taufan mengangguk menyetujui, mereka berdua segera menggotong Gui keluar dari jangkauan tanaman, mengikuti arah pelarian Thorn, Ying dan Motobo ke arah menuju Kota Totis. Semakin mereka menjauh, semakin hilang pula pengaruh sihir Thorn pada tanaman-tanaman itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sinar mentari mulai mengintip dari ufuk timur, dan gerbang kota Totis mulai tampak di khatulistiwa. Malam yang panjang terlampaui, tapi teman-teman Pangeran Sulung Kerajaan Signaria sama sekali tak terlihat lelah. Dengan muatan gotongan yang Taufan bawa, mereka memilih untuk berhenti sebelum mendekati gerbang Kota Totis.

Dan...

Penampakkan Taufan memiliki benjolan besar menumpuk tiga di kepalanya, pastinya bukan pemandangan luar biasa.

.

.

.

"KAMU MIKIR APA SIH, PELAYAN BEGO?!"

Apalagi dengan cacian Halilintar menggema.

.

.

"KALAU KAMU IKUT KEMAKAN SAMA TANAMANNYA THORN GIMANA,HAH?!"

"E—Eh... iya... maaf," tunduk Taufan dengan wajah bersalah yang komikal nan pasrah plus bekas jitakan menumpuk hasil karya yang galak.

Thorn nyengir gugup, menenangkan Halilintar, "T—Tenanglah, yang penting kita semua selamat, kan? Aku benar-benar berterima kasih pada kalian semua yang telah menyelamatkanku—"

Halilintar menjitak Thorn.

"—ADUH!"

Taufan tertawa nista melihat Thorn ikut kena sial.

"KAMU JUGA! Lain kali jangan pergi begitu saja dengan ceroboh! Sudah tahu Jalur Parsia terkenal dengan banditnya, pergi malam, sendiri pula. Untung saja kita di jalan tadi juga tak menemukan bandit-bandit lain seperti yang dikatakan rumor-rumor itu," cerocos Halilintar, bertolak pinggang. "Niatmu baik, kau pasti tak ingin melibatkan kami. Tapi kau juga salah kalau kau mati karena niat baikmu yang sepele itu. Otak udang."

Thorn berkedip sambil mengelus kepalanya. Lalu menatap Taufan.

"Apa dia selalu sebawel ini? Macam perempuan?"

Taufan menjawab dengan wajah serius, "Kini kau paham perasaanku yang merana, kan?"

Thorn mengangguk sama seriusnya.

Halilintar nyengir kelam.

.

.

Thorn dan Taufan pun istirahat dalam damai.

.

.

.

.

Maaf. Itu hanya harapan terpendam Halilintar. Kenyataannya mereka hanya dicekik dengan lengan Halilintar.

"AMPUNAMPUNAMPUNAMPUUUNNN! " keluh keduanya berbarengan, ditertawakan Ying dan Motobo.

.

.

.

"Sekarang," ucap Ying,

"Bagaimana dengan orang yang kita bawa ini? Kita gak mungkin membawanya hingga ke Totis, bukan?" tanya Ying membuka topik di tengah keheningan mereka di bawah mentari pagi. Di batas ufuk dari tempat mereka berdiri, sudah mulai tampak sebuah gerbang kota kecil, dan tentu saja itu adalah Kota Penginapan Kerajaan Thremor, Totis. Hanya tinggal melangkah dalam dua jam saja, mereka bisa mencapai gerbang itu. Hanya saja, kini tinggal bagaimana mereka menanggulangi masalah.

Sambil menatap orang yang kini digeletakkan di tanah—sang masalah yang dimaksud—Ying berjalan mendekati Taufan yang kini sedang mengobati luka Gui. "Bagaimana keadaannya?"

Taufan menatapnya kembali. "Aku sudah mengeluarkan pelurunya. Untungnya tidak mengenai tempat vital," jawab Taufan sambil membalut luka salah satu dari Hoopkin bersaudara itu dengan sobekan lengan kemeja milik Taufan. Ia tersenyum penuh bangga. 'Aku tahu... aku tahu kalau ia tak mati. Halilintar bukan pembunuh. Ia tak pernah belajar cara membidik bagian tubuh yang fatal', ucapnya dalam hati.

"Aku juga sudah mengobatinya dengan obat medis yang kubawa. Aku rasa sudah tidak apa-apa jika dia kita tinggalkan di sini," Taufan menepuk kedua tangannya setelah beres, dan berdiri.

"Kenapa kau menyelamatkannya?" tanya Thorn, menghampiri. "Kalaupun ia dimakan Nepenthes, ia takkan mati. Sihirku tak sekuat itu untuk membunuh orang. Aku memang menggunakannya untuk menahan Hui sementara."

"EH?! Iyakah?!" kaget Taufan dengan nada dibuat-buat—dan terkesan gimik. "Jadi monster reptil itu juga gak mati?!"

Thorn menggeleng. "Kau tahu kantung semar, kan? Sebenarnya butuh waktu lama bagi kantung semar untuk menyerap makanannya. Mungkin butuh dua hari. Bahkan seminggu. Mana-ku tak sekuat itu. Dan kau tahu sihirku, bukan? Semakin jauh dari tempat aku menanamkan sihirnya, semakin lemah juga sihirku. Aku hanya bisa mengendalikan sihirku tak lebih dari 800 meter."

"800 meter?" takjub Halilintar, "Itu saja sudah bagus!"

Taufan mengangguk menyetujui.

"Jadi? Kenapa kau menyelamatkannya?" Tanya Thorn ulang, untuk memastikan Taufan memang tidak sengaja menggiring topik ke arah lain. Ia yakin Taufan tak sebodoh itu—apalagi soal jenis sihir miliknya yang harusnya sudah Taufan pahami sejak pertemuan mereka pertama kali waktu dulu.

"E—h?" Taufan terkejut, umpan topiknya tidak dimakan. Ia akhirnya terpaksa mengatakannya. "Uhm... aku menyelamatkannya... karena—"

.

.

.

"ABANG HUI! AWAS!"

.

.

"GUI! Kau tidak apa-apa?!"

.

.

.

"karena—...," Tatapan Taufan meredup, seiring ia mengingat kejadian dimana salah satu dari duo kakak beradik itu tertembak. Taufan diam dalam henyak pikiran sejenak.

Gui hanya mencoba melindungi kakaknya, dan kenyataan bahwa Hui marah karena adiknya yang terluka—entah kenapa itu menjadi sorotan utama Taufan dan membuatnya merasa bersalah lebih cepat. Karena hanya dari satu kejadian itu saja, Taufan tahu, seberapa dalam hubungan kakak adik keduanya. Taufan bisa merasakan kalau keduanya sering bersama dalam setiap petualangan, dalam setiap kisah. Meski ia tak tahu persis siapa mereka—walau Ying sudah cerita mereka mafia—tapi tetap saja tak bisa menggiring opini Taufan untuk layak menghakimi keduanya seenak jidat. Bagaimanapun juga, bagi Taufan keduanya tetap saja Kakak dan Adik—mereka bersaudara dan saling melindungi satu sama lain.

Taufan menatap Halilintar. Yang ditatap hanya menatapnya balik dengan alis berkerut tak nyaman.

"Apa."

Taufan nyengir. "...Mungkin karena mereka mengingatkanku pada beberapa orang," jawab Taufan lirih. Kelopak mata Halilintar melebar sejenak—dan perlahan turun melembut. Mendengar perkataan lirih Taufan, membuatnya kini paham dengan maksud penyelamatan itu oleh Taufan. Halilintar tersenyum, lalu menarik lidah topinya agar menutupi sedikit bagian wajahnya.

Thorn menyipitkan mata komikal melihat Halilintar dan Taufan, kemudian memiringkan kepalanya aneh.

.

.

.

Motobo memotong pembicaraan. "Kalau aku... masih tak paham, bagaimana caranya Tuan Thorn bisa memunculkan Nepenthes?" Tanya Motobo.

"Ah—Itu..." Thorn menjelaskan, "Aku menyimpan biji tunas Nepenthes yang pernah kucuri dari salah satu Mafia di Negeri Hendria. Aku selalu membawanya kemana-mana untuk jaga-jaga. Jadi tadi..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mari mundur sejenak.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Lah, Jadi gimana dong?" tanya Taufan tak sabar, ia semakin jelas mendengar geraman Hui. "Aaaaaaah—! Dia datang!"

"Cepatlah! Kita tak punya waktu!" Halilintar memburu. "Bagaimana rencananya?"

"Begini, kita tipu perhatiannya," Thorn memberikan biji itu pada Halilintar yang menatapnya bingung. "Hali, masukkan biji-biji ini ke dalam selongsong pelurumu. Kau tembak saja ke arah monster kadal itu, toh takkan kena karena badai pasir ini. Setidaknya peluru akan masuk ke dalam pasir—meski ia bisa merasakannya—tapi ia takkan mencurigai apa isi selongsong peluru itu."

Halilintar mengangguk, ia segera mengambil biji itu dan mengisinya ke beberapa selongsong peluru kosong, lalu memasukkannya ke dalam pistol.

"Taufan, alihkan perhatiannya selagi aku mengisi peluru!" ujar Halilintar.

"Nih orang kayaknya seneng ya kalo aku mati karena jadi umpan—" cibir Taufan meski ia tak menolak pembagian peran itu. Ia beralih pada Thorn, "Bagaimana denganmu?"

"Aku harus ke tempat tinggi dan tanah padat yang tak terjangkau pasirnya, supaya ia tak mendeteksi sihir ku saat aku mencoba mengumpulkan cukup Mana untuk membangkitkan Nepenthes!" seru Thorn sambil berlari menghilang di tengah badai pasir. "Beri aku waktu!"

"OH—OKA—"

.

.

.

.

"AKAN KUBUNUH KALIAN SEMUAAAAA!"

.

.

.

.

Suara lantang dan memekakkan telinga terdengar. Taufan dan Halilintar menoleh ke sumber suara, hanya siluet besar yang tampak dari balik layar angin pasir.

"Ga—gawat, dia sudah selesai transmutasi!" teriak Taufan panik, "Cepat Hali!"

"Berisik! Alihkan dia sebelum dia menemukanku!"

.

"KALIAN TAKKAN LARI DARIKU!"

.

"Baiklah, kualihkan dulu sebelum—"

"DISANA KAU RUPANYA!"

"—UWAAAAAA—!"

Taufan terdorong pasir ke udara. Halilintar mendecih.

"Sialan—!" umpat Halilntar payah, ia segera menutup katup pistolnya dan menyelamatkan Taufan, memulai pertarungan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Oke, cukup, ayo maju lagi.

.

.

.

.

.

.

"...Gitu," cerita Thorn—menggunakan hak azasinya sebagai tokoh fiksi untuk memutar flashback.

"Haiya, Tuan Thorn pintar, wo!" puji Ying riang. "Jadi semua tembakan asal-asalan dan 'nyasar' Tuan Halilintar tadi, ternyata ada maksudnya, ya!"

"Ah, kau ini bisa aja," Thorn menggaruk kepala belakangnya, gembira tapi malu. "Ini juga berkat Halilintar dan Taufan yang cukup cerdik untuk mengalihkan Hui tanpa menyadari keberadaanku dan sihirku. Aku berhutang budi pada kalian."

Halilintar dan Taufan saling pandang, lalu menatap Thorn dengan senyum yang terkembang. "Tak usah sungkan," ucap mereka.

"Lagipula," sambung Taufan, "Kalau bukan insting Halilintar yang tajam dan bisa menemukan wanita ini dan paman itu," tunjuknya pada Ying dan Motobo, "kami takkan terpikir untuk mengejarmu."

"Ah, begitu," kata Thorn paham, kemudian beralih pada wanita bermarga Dao Shi itu.

"Lalu, kau sendiri bagaimana bisa ada di sini? Dan kenapa kalian bisa bertemu dengan Halilintar dan Taufan?"

"Tentu saja kami di sini, kan?!" cerocos Ying penuh emosi mendengar pertanyaan sembarangan Thorn—yang hampir seolah tak menginginkan keberadaannya dan Paman Motobo disitu. "Kami dapat tugas untuk menjagamu! Bisa-bisanya kau kabur dari kami?! Dasar bocah tengik!" Ying menginjak kaki Thorn.

Thorn mengaduh cepat. "ADUH!" ia melotot sambil mengelus kakinya. Menimpal cepat.

"Siapa suruh lengah, kan?! Lagian aku mau cari Solar! Kalau nunggu kalian doang, bisa-bisa Solar malah gak ketemu!" balasnya tak kalah garang.

"Mereka sedang mencari sebisanya, Tuan. Kami mohon anda jangan bertindak seenaknya dan menambah pusing mereka, serahkan saja kepada mereka," Motobo mencoba menenangkan keduanya. Ia kemudian menunjuk sopan pada Halilintar dan Taufan. Halilintar hanya terdiam, mengernyit.

Motobo melanjutkan, "Untung ada tuan-tuan ini yang menyadari kalau kami membuntutimu dari belakang. Walau awalnya mereka mencurigai kami, tapi akhirnya mereka mau mendengarkan kami. Mereka setuju membantu kami menemukanmu, dan lihat apa yang terjadi padamu. Kau hampir tertangkap mafia-mafia itu. Bagaimana kalau ada apa-apa terjadi padamu."

Tatapan kesal Thorn meredup. Berubah menjadi mimik penyesalan. "Maaf," kata itu meluncur dari bibirnya begitu saja. Semua orang terdiam.

Halilintar dan Taufan hanya saling menatap sejenak, lalu kembali menatap Thorn dengan simpati.

Halilintar menepuk pundak Thorn. "Aku tahu kau sangat mengkhawatirkan adikmu. Tapi cobalah untuk memahami orang yang ada di sekitarmu," ia melirik ke arah Taufan sejenak, teringat dengan kejadian saat berkemah di hutan tiga hari lalu. Ia kembali menatap Thorn. "...Orang-orang di sekitarmu—disadari atau tidak—mereka mencemaskanmu. Tak peduli semenyebalkan apa kau terhadapnya. Kali ini, turuti saja apa kata mereka, Thorn."

Thorn membuka segel vastcloak yang menyelimuti tubuhnya dengan sihir. Kembali ke mode rompi kulit dan tas selempangnya, menatap sesal tanah.

"Aku tahu," jawabnya meyakinkan semua orang.

Yang lain tersenyum, tapi hanya sebentar hingga Gui yang sadarkan diri, dan menatap Thorn. Semuanya terjaga, bersiap mengeluarkan senjata dan sihir masing-masing.

"A... Adikmu... Solar? K—Kau sedang mencari Solar?"

"Eh—?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Di istana.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Haaah, akhirnya Fang pergi, Ochobo," Gempa menghela nafas lelah, lalu membanting tubuhnya sendiri ke atas kursi di ruang tidurnya, di samping jendela besar. Di hadapannya telah berdiri dengan patuh, Ochobo, yang terkekeh pelan sambil menunduk, menawarkan segelas minuman segar di atas baki.

"Apa menjadi holonoia gadungan sangat melelahkan, Pangeran?"

Gempa menyipitkan mata dengan komikal sambil mengambil gelas dari sajian Ochobo. "Oh, kamu gak tahu betapa aku harus selalu menahan tawa melihat kelakuan sesungguhnya dari pangeran penjagaku yang kikuk itu."

Ochobo mengangkat bahu, lalu kembali tegap setelah Gempa menyesap minuman buatannya. "Memang begitulah sifat Master Fang ketika Anda tidak ada. Kuharap Anda lebih percaya sekarang."

Gempa menahan pelipis kanannya dengan tangan yang bertengger di atas pegangan kursi. Ia memainkan bibir gelas minumannya sejenak. "Iya, iya, aku percaya sekarang," katanya disela hela nafas.

Ochobo tersenyum, "Tapi... Beliau begitu karena ingin yang terbaik untuk Anda, Pangeran."

"Aku tahu," timpal Gempa—nyaris tak sabar.

"Jadi..." Ochobo menegapkan tubuhnya kembali. "Apa sekarang saya perlu menghubungi Kerajaan Syria dan Thremor untuk tahap selanjutnya, Tuan?"

Gempa menyesap minumnya, lalu meletakkan minumnya di atas meja. Ia berdiri.

"Ya," katanya lugas, "Kumpulkan seluruh petinggi Departemen Sains dan Teknologi Pertahanan, serta Dewan Pengadilan Penyihir Kerajaan. Kita rapat di Balai Agung Signaria. Aku yakin ayah sekarang sudah menunggu disana," Gempa berjalan keluar ruangan, "Dan juga tolong siapkan Fuusen Zero dan Golemn Giga I."

Ochobo terjengah.

"A—Anda berangkat sekarang, Tuan?"

Gempa tak menghentikan langkahnya, "Fuusen Zero membutuhkan waktu 1-2 hari ke Delianna. Kalau Fang sudah berangkat sekarang, artinya entah Kak Hali atau Kak Taufan, paling tidak sudah berada tak jauh dari Totis. Kita harus bergerak cepat, meluruskan kesalahpahaman, sekaligus melancarkan rencana kita memanfaatkan kesalahpahaman ini."

"A—Ah... Ba—Baik!"

Ochobo dengan terburu-buru berlari meninggalkan Gempa. Gempa tersenyum.

"Ini saatnya kutunjukkan pada kalian semua," Gempa menumbukkan kedua tinjunya berbarengan, "Apa kemampuanku yang sebenarnya."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

What?!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung.

.

.

.

.

.

.

.

Kaget? Daripada kaget dan penasaran, mending tongkrongin Trivia dulu. Mari. 😊

.

.

=X=...TRIVIA...=X=

Likuifaksi: Dalam bahasa ilmiah sederhana, artinya pencairan tanah. Yaitu perubahan wujud tanah dari yang asalnya padat menjadi mencair. Hah? Tanah bisa cair? Bisa. Cair dalam tanah yang dimaksud pada istilah teknik artinya mengurainya partikel tanah oleh air. Yaa, lihat tanah yang kena air, jadi apa? Becek, kan? Itu bisa jadi salah satu bentuk likuifaksi. Tapi kita bisa katakan likuifaksi kalau tanah itu benar-benar 'buyar' atau benar-benar 'cair' lalu menenggelamkan segala benda yang ada di atasnya. Contohnya jika ada getaran seperti gempa. Oke, Gempa, waktunya bergoyaaaang! Oi, itu sih terlalu erotis! Hentikan!

Uromastixia: Diambil dari kata latin Uromastyx—artinya reptil gurun. Sederhana sekali. Jadi Uromastixia artinya sihir perubahan wujud ke dalam bentuk reptil. Ada banyak jenis bentuk perubahan wujud dan semuanya biasanya bentuk tertinggi dari sihir. Ngomong-ngomong cita-cita Taufan ingin menguasai sihir breadxia. Sihir berubah menjadi roti. Iya maaf, hanya bercanda, Taufan.

Nepenthes: Lagi. Nama latin dari tanaman kantung semar. Ini salah satu tanaman hidup yang pertumbuhannya dapat dipercepat dan bahkan dikendalikan dengan bantuan Mana. Tapi tentu saja, hanya penyihir strata tinggi yang dapat melakukannya karena membutuhkan banyak sekali kekuatan Mana. Sebenarnya tanpa bantuan Mana, pun, tanaman ini dapat hidup dengan sendirinya—bahkan jalan-jalan di alam bebas. Sayangnya biasanya itu butuh ratusan tahun agar tanaman itu benar-benar hidup dan jalan-jalan kesana kemari seperti makhluk buas. Ingat dengan tanaman Ikaliktus pada book one? Ya, itu salah satunya. Artinya tanaman itu pun umurnya sudah ratusan tahun—mungkin lebih tua dari Kerajaan Signaria itu sendiri. Oleh Karena itu, tanaman ini sangat langka, dan sering diburu biji, tunas, atau hibrida-nya. Kalaupun mereka mati, mereka bisa kembali tumbuh dengan waktu dua kali lebih cepat dari masa hidupnya. Mereka hanya hidup di alam bebas, dan umumnya tidak mengganggu manusia kecuali jika merasa manusia itu menyakitinya. Jadi... kenapa Ikaliktus menyerang Taufan pada Book One? Yah, kita semua tahu seberapa usil Taufan pada lingkungannya sendiri. Harap bersabar, Hali, ini cobaan.

Vastcloak: Jenis pakaian benda sihir yang dapat berubah dari rompi menjadi jubah, dan kembali lagi jadi rompi. Aku pernah menjelaskannya di instagramku. IG-ku ashouji btw. /manusia hina malah promo

Fuusen Zero: Balon Udara hasil produksi Departemen Sains dan Teknologi Signaria. Seperti apa rinciannya, nanti akan diberitahukan di chapter-chapter selanjutnya.

Golemn Giga I: Senjata pertahanan hasil produksi Departemen Sains dan Teknologi bagian Pertahanan. Seperti apa rinciannya, nanti akan diberitahukan di chapter-chapter selanjutnya.

.

.

.

.

.

Author's Note (again):

Aku mengucapkan kesungguhan rasa terima kasih yang paling dalam bagi teman-teman yang sudah setia menunggu selalu terbitan fanfic ini. Beneran, ini, saya terharu, walau kenyataannya fanfic ini updatenya terlalu lama (Sampai setahun lebih lho) tapi teman-teman masih tetap menunggu kelanjutannya. Mudah-mudahan fanfic ini bisa membawa manfaat buat teman-teman semua, ya.

.

.

.

.

Kalimat barusan bukan perpisahan, hanya barisan kalimat spesial didedikasikan untuk pembaca semua. Berhubung fanfic ini masih punya banyak "PR" alias konflik yang harus diselesaikan satu per satu, jadi gak mungkin discontinued. Yah, mudah-mudahan tidak. :

.

.

.

Akhir kata,

Every review are worthy! So, all kind of reviews are welcome!