Disclaimer: Masashi Kishimoto

Fic ini asli milik Chimi

Warning: Ooc, typo, dan warning lainnya deh.

.

.

.

Harusnya Naruko tahu bahwa keputusannya untuk menyetujui bertukar tempat adalah salah. Tapi apakah ia bisa bila harus menolak permintaan Naruto. Tentu saja tidak. Terkadang ia mengutuki sifatnya yang terlalu mudah luluh oleh bujukan Naruto dan ia menyesali atas ketidak tegasan dirinya.

Dan harusnya Naruko memikirkan sejauh itu. Di tempat dan situasi baru, Naruko harus menyesuaikan diri dengan kehidupan Naruto sewaktu sekolah. Kenapa ia baru berfikir sekarang? Jika ia bertukar posisi tentu saja ia akan menjalani peran yang ada. Menjadi Naruto di sekolahnya. Beradaptasi dengan sekolahan yang jauh dari impiannya, beradaptasi dengan teman yang tak dikenalnya.

Teman?

Kata itu begitu menggelitik dirinya. Ia menoleh ke arah sekitarnya. Di sini banyak sekali temannya, ah lebih tepatnya teman Naruto bukan temannya. Bukankah selama ini ia tidak memiliki teman? Hanya beberapa, itu pun teman diskusi pelajaran, selebihnya tidak ada. Ia terbiasa sendiri, membaca novel dan memakan bentonya di bawah pohon nan rindang di halaman belakang sekolah. Ia terbiasa sendiri tanpa obrolan, gurauan dan pertengkaran. Ia biasa sendiri, menatap awan putih dan bertegur sapa dengan gumpalan putih itu.

Tapi saat ini, ia duduk dikelilingi banyak siswa. Dikelilingi orang-orang yang akan mengajaknya bicara, menemaninya memakan bekal yang ia bawa. Dan orang-orang yang akan ia sebut teman selama ia bersekolah di sini.

Naruko tersenyum tipis. Bahagianya menjadi Naruto, memiliki banyak teman, sedangkan ia tidak, justru yang ia miliki musuh yang berjibun. Beginikah rasanya memiliki teman? Ia bertanya di dalam hatinya. Naruko tersenyum samar, meskipun dirinya sangat susah beradaptasi dengan hal baru, tapi ia takan menyesal bila merasakan hal seperti ini.

"Naru-chan?" panggilan itu membuyarkan lamunan Naruko. Ia menoleh ke arah samping, dilihatnya siswi berambut blonde pucat tengah menatapnya intens. "Apa?" tanyanya polos. Ia melihat siswi yang ia kenal bernama Ino itu menghela nafas.

"Ada apa? Sedari tadi kau hanya diam. Kau bahkan tidak menyentuh bekalmu. Apa ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu?". Pertanyaan yang dilontarkan Ino sukses menarik perhatian Karin, Kiba, Gaara dan Chouji yang kebetulan berada satu meja dengannya. Mereka semua menatap Naruko penuh tanya.

Ditatap banyak orang membuat Naruko sedikit risih. Ia mengernyitkan keningnya, "Aku tidak apa-apa," ucapnya tenang. Ia menyeruput jus jeruknya yang tinggal setengah.

"Kau yakin, kau tak apa?"
"Ya,"
"Kau tidak sakit kan?"
"Tidak,"
"Kenapa kau jadi irit bicara, seperti bukan Naru-chan saja,".

Memang bukan! Naruko ingin menjawab seperti itu tetapi ia justru tidak mengatakan apa-apa. Ia juga mengutuk dirinya yang tidak bisa berpura-pura menjadi Naruto. Mungkin ia memakai nama Naruto, tetapi tetap saja ia menjadi seorang Naruko yang tenang, irit bicara. "Aku baik-baik saja ko," Naruko tersenyum tipis agar temannya tidak khawatir.

Dan mereka semua saling pandang dan mengangkat bahu.

.

.

.

Naruto menghela nafas panjang dan memandangi kotak bento di hadapannya dengan malas. Walau ia merasa senang karena pada akhirnya ia bisa menikmati bento buatan kaasannya setelah sekian lama tidak ia nikmati. Yah, itu karna dia di sekolah sebelumnya ia harus menyiapkan sendiri. Maklumlah, jarak antara rumah dan sekolah cukup jauh jadi ia tidak bisa pulang pergi dan mengharuskan tinggal di apartement dan jauh terpisah dari keluarganya.

Naruto menghela nafas kembali, harusnya ia senang. Tapi, kesenangan itu harus tersamar oleh kesepian. Manik shappirenya memandang seluruh penghuni kantin sekolah. Tawa dan obrolan riuh meramaikan suasana kantin. Tapi mengapa tidak ada satu pun yang berani duduk di sampingnya? Jangankan duduk, menyapa pun mereka enggan. Dengan keadaan seperti itu membuat Naruto merindukan sahabatnya di Seika high school. Ia merindukan banyolan Kiba, perhatian Gaara, omelan Ino dan sindiran Karin. Hah, lagi-lagi Naruto menghela nafas. Tanganya mengaduk-aduk bentonya malas.

"Bo-bolehkah a-aku duduk di sini?", Naruto menoleh memandang seorang gadis berambut indigo tengah memeluk bento miliknya. Naruto mengerjapkan matanya, memastikan bahwa ia tidaklah salah dengar.

"Bolehkah?"

Naruto tersentak dan ia tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Ia tersenyum girang.

"Tentu saja, kau boleh bergabung denganku,"ucap Naruto senang. Ia mengeluarkan cengiran lima jarinya menyambut keinginan gadis di hadapannya.

Gadis itu aka Hinata tercengang melihat senyum lebar Naruko aka Naruto. Ia tidak pernah melihat Naruko tersenyum begitu lebar. Yang ia tahu sosok Naruko itu pendiam, tenang dan irit bicara.

"A-arigattou," ucap Hinata menghentikan lamunanya. Ia pun duduk berhadapan dengan Naruto. Ia mulai membuka bento miliknya, sesekali melirik Naruto yang masih tetap memasang cengirannya.

"Um...a-ano, se-sepertinya Uzumaki-san sedang bahagia?" ucap Hinata penuh hati-hati.

"Ah iya, tentu saja. Aku sangat bahagia bila ada yang mau makan bersamaku," jawab Naruto senang.

"Bukankah Uzumaki-san yang selalu mengasingkan diri?"

Deg

Benarkah? Bahwa Naruko selalu sendiri. Mengasingkan diri? Apa maksudnya? Ia pikir kakak kembarnya sangat baik, jadi tidak mungkin bila Naruko tidak memiliki teman. Tapi ia memang tidak pernah mendengar Naruko bercerita tentang teman sekolahnya. Ia pikir karena Naruko malas untuk bercerita. Ternyata ini, ternyata memang tidak ada bahasan tentang teman.

"Go-gomen," cicit Hinata, ia takut kalau ucapannya menyinggung perasaan Naruto.

"Ah tidak apa-apa," Naruto tersenyum lebar.

"Sebenarnya aku ingin berteman dengan Uzumaki-san, tetapi Uzumaki-san selalu pergi sendirian ke taman belakang," ucap Hinata.

Fakta apalagi ini. Benarkah Naruko se'tertutup itu di sekolahnya. Ia menggigit bibir bawahnya.

"Maukah kau berteman denganku," Naruto mengulurkan tanganya. Mungkin ia tidak tahu apa-apa mengenai kakaknya sewaktu di sekolah. Namun tidak ada salahnya bila ia ingin mengubahnya walau sedikit. "Maaf bila mungkin aku mengacuhkanmu sewaktu dulu, tapi bisakah kita memulai dari nol," sambung Naruto.

Hinata tersenyum lebar. "Ha'i, Uzumaki-san,".

"Hei, kenapa kau masih formal begitu. Panggil saja Naruko," kata Naruto.

"Ruko-chan," Hinata dan Naruto tersenyum lebar lalu mereka berdua menikmati bento mereka dengan obrolan kecil, terkadang Naruto berceloteh hingga membuat Hinata tertawa.

Hinata tidak menyangka bahwa Naruko yang dingin bisa se'asyik ini. Dan yang ia tidak tahu adalah Naruko di hadapannya bukanlah Naruko yang ia kenal.

"Oiii apa yang kalian lakukan!" teriak Naruto sembari berlari. Di belakangnya segerombolan siswi berlari mengejarnya.

Naruto tidak mengerti apa yang terjadi hingga membuat dirinya terdesak seperti ini. Tiba-tiba saja saat bel pulang berbunyi, banyak siswi yang menunggu dirinya. Awalnya ia menganggap mereka hanya ingin menemui teman yang memang satu kelas dengannya, namun tanpa diduga, mereka justru menarik paksa dirinya agar mengikuti mereka. Tentu saja Naruto memberontak dan melepaskan diri dari jeratan mereka. Ia berlari dan terus berlari dengan mereka yang masih saja setia membuntuti.

Oke, sebenarnya dimana letak kesalahannya. Ia bahkan tidak mengenal mereka, jadi tidak mungkin ia membuat masalah.

Shit! Naruto mengumpat kesal karena ia terpojok di jalan buntu. Ia berbalik dan mendapati para siswi itu menyerigai senang. Ia menelan ludah ketakutan. Bila satu lawan satu mungkin masih bisa ia hadapi. Tapi ini, satu lawan dua puluh. Keadaan yang benar-benar tidak menguntungkan.

"Tangkap dia!" Seru salah seorang yang mungkin pemimpin mereka. Naruto meronta-ronta dalam kungkungan tiga orang siswi. Ia digiring seperti nara pidana hukuman mati. Bahkan murid-murid yang kebetulan masih ada di sekolah tidak berani membantunya, hanya bisa menatap iba ke arahnya.

Brakk

Tubuh Naruto terlempar ke dalam toilet. Ia berusaha bangkit dan menerobos pintu, namun sayang pintu itu telah lebih dulu tertutup.

Naruto menggedor-gedor pintu toilet dengan keras. "Oiii buka pintunya," teriak Naruto.

Tidak ada jawaban ataupun suara yang terdengar di koridor. Naruto menghentikan gerakannya. Ia melirik ke arah jam tangan yang terpasang manis di tangannya.

Pukul 15.00

Oh shit! Rupanya ia sudah berada di dalam toilet selama setengah jam. Naruto mendengus kesal.

"Siapapun di luar, tolong bukain pintunya," teriak Naruto kembali.

Masih tidak ada jawaban. Bodoh sekali dirinya, bukankah jam segini semua murid sudah pulang ke rumah? Mana mungkin ada yang mendengar teriakannya? Naruto bersungut ria di dalam hati.

Tap tap tap

Naruto menegakan tubuhnya saat ia mendengar suara langkah kaki. "Siapa di sana? Tolong aku," teriaknya berharap orang tersebut mendengarnya. Langkah suara itu makin mendekat dan Naruto tidak berhenti bersuara. Ia terus meminta tolong pada seseorang yang ia yakini telah berdiri di balik pintu.

Cklek

"Kau...?"

. . .

Naruko mendengus kesal. Tangannya terlipat di depan dada. Manik shapire'nya menatap malas ke arah siswa berambut ungu. Menunggu dengan jengkel siswa tersebut untuk bicara.

Tadi selepas bel sekolah. Siswa bernama Arashi ini mendatangi kelasnya. Mengajaknya ke taman belakang karena ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Tetapi hingga saat ini, pemuda itu tidak kunjung membuka suara. Hello, ini hampir 20 menit ia berdiri. Dia pikir tidak lelah berdiri seperti ini. Naruko mendengus dengan kasar.

"Jadi? Apa yang ingin kau sampaikan?" ucap Naruko yang sudah jengah dengan keheningan memuakan ini.

"Sebenarnya aku ingin mengatakan-" ucap Arashi memberi jeda. Naruko menaikan satu alisnya. "Aku menyukaimu, jadilah kekasihku," sambung Arashi.

Naruko melotot tak percaya. Apa dia bilang? Dia menyatakan cinta kepadanya? Ralat, maksudnya pada adik kembarnya? Oh ya ampun, generasi macam apa ini. Hei ia masih sekolah, belum pantas berpacaran. Kalau mengagumi sih tidak apa. Tapi, itu pemikirannya. Ia tidak tahu pemikiran Naruto. Tapi, bukankah saat ini ia berperan menjadi Naruto. Jadi, tidak ada salahnya kan kalau ia yang menjawab menurut pikirannya.

"Terima kasih kau telah menyukaiku. Tapi maaf aku tidak bisa," ucap Naruko berusaha tidak menyakiti hati pemuda itu.

"Kenapa?"

Dan Naruko kembali terdiam mendapat pertanyaan itu. Kenapa? Dia mengatakan kenapa? Tentu saja dia bukan tipenya. Eits, bukan itu, maksudnya ia ingin fokus sekolah.

"Aku ingin fokus belajar," jawab Naruko singkat. Dan ledakan tawa menyeruak dari bibir Arashi. Naruko mengernyit bingung. Apa jawabannya ada yang lucu? Kenapa Arashi tertawa? Apa yang ia tertawakan?

"Kau bercanda? Bukankah kau mengejar-ngejar si zombie itu. Dan kau bilang ingin fokus belajar? Hahaha, kau sangat lucu," ucap Arashi memegangi perutnya yang terasa geli.

Zombi?

Siapa dia? Pacar Naruto kah?

"Itu dulu, sekarang aku sudah berubah. Permisi," kata Naruko pergi meninggalkan Arashi dengan acuh. Ia tidak mau emosinya keluar bila terus meladeni Arashi. Ia lebih senang menghindari apapun yang membuatnya lepas kontrol, dari pada terjadi sasuatu yang tidak ia inginkan. Selalu seperti itu.

Arashi menatap punggung Naruko. Matanya menatap tajam. Tangannya terkepal dengan erat.

"Kau hanya milikku, Naru-chan,"

Naruto menjelajah ke seluruh kamar milik Naruko. Mencari-cari sesuatu yang ia ingini. Laci, lemari, meja belajar, namun nihil, barang itu tidak ada.

Naruto menghempaskan tubuhnya ke ranjang Queen size milik kakaknya itu. Maniknya menatap ke arah langit-langit kamarnya. Ia menghela nafas panjang dan menutup matanya sejenak.

Ia terus berpikir dimana Naruko menyimpan barang itu? Barang pribadi Naruko? Dimana biasanya seseorang menaruh benda berharganya?

Bawah kasur?

Kata itu meluncur bebas dari otaknya. Secepat kilat Naruto bangkit dari tidurnya. Ia mengangkat kasur yang lumaya berat itu dan... Ada? Barang itu ada.

Buku kecil berwarna biru. Naruto segera meraihnya dan membenarkan kasur itu kembali.

Naruto tersenyum puas. Ia memanglah mencari buku ini. Buku diary yang ia yakin milik Naruko. Mungkin ia bisa mendapat sedikit jawaban dari apa yang baru saja menimpa dirinya.

7 Agustus

Hari ini aku benar-benar sial. Fans gila itu mengejarku dan melempariku dengan telur. Cih, berani sekali mereka. Mereka pikir aku masuk Osis karena ingin dekat dengan idola mereka. Sasuke Uchiha? Mendengar namanya saja baru kali ini. Apalagi melihat wajahnya. Lantas apa yang membuat mereka berpikir kalau aku ingin masuk osis karena ada dia? Benar-benar otak udang.

Sasuke Uchiha?

Siapa dia? Naruto mengernyitkan keningnya. Dan Naruko juga tidak mengenalnya? Diary ini ditulis Naruko saat baru saja menjadi siswa baru di Konoha High School. Jadi Naruko memiliki musuh sebanyak itu semenjak kelas satu dan Naruko tidak pernah menceritakan apa-apa padanya. Kenapa saudaranya itu sangat tertutup?

Naruto mengeratkan kepalan tangannya. Ia merasa tidak berguna menjadi saudara karena membiarkan Naruko kesusahan sendiri.

Sasuke Uchiha

Ia akan menanam nama itu sebagai target utama untuk semua yang diterima Naruko. Ia berjanji akan memberi perhitungan pada siapa saja yang pernah menyakiti saudaranya.

.

.

.

Naruto mendengus sebal. Saat ini dirinya tengah mengikuti rapat Osis. Ia tidak habis pikir dengan saudari kembarnya itu, kenapa mau menjadi anggota Osis bila isinya hanya diskusi panjang lebar yang membuat dirinya mengantuk? Menurut Naruto, tidak ada untungnya menjadi anggota Osis. Ia hanya akan mati kebosanan bila terus terjebak di dalam ruangan ini. Tapi ia harus tetap menahan dirinya untuk tidak mengantuk.

Ia menoleh ke seluruh anggota yang hadir. Ia mengernyit saat melihat sebuah bangku yang masih kosong. Ternyata ada juga yang lebih malas darinya.

Cklek

Seluruh mata menoleh ke arah pintu, tepatnya ke arah siswa yang baru masuk. Rambut raven berbentuk seperti pantat ayam dan wajah dinginnya yang mampu membuat seluruh siswi mimisan. Mata onixnya yang kelam yang seakan mampu menyedot siapapun yang menatapnya.

Naruto melirik siswa itu dari ekor matanya. 'Uchiha Sasuke' sepertinya ia pernah mendengar nama itu. Naruto berusaha mengingat dimana ia melihat nama itu. Ah! ia ingat, ia pernah membacanya di dalam diary Naruko. Dan ia tahu siapa itu Sasuke.

Siswa yang membuatnya kerepotan dengan fansgirl'nya. Pemuda yang menjadi alasan pembully'an dirinya oleh para siswi kemarin siang. Ia tidak akan melupakan peristiwa siang itu. Bagaimana dirinya dilempari telur dan disiram air tanpa sebab yang jelas. Dan ia juga terkunci di kamar mandi. Untung saja ada penjaga sekolah yang menemukan dirinya. Kalau tidak, ia pasti terpaksa menginap di wc sekolah.

Naruto merasa jengkel dengan tingkah para siswi kepadanya. Ia juga merasa heran mengapa mereka melakukan hal itu kepadanya?Setelah ditelusuri lewat Diary Narukolah ia menemukan jawabannya. Dan sekarang ia tahu, dengan siapa ia harus meminta pertanggung jawaban.

Naruto masih sibuk melirik Sasuke di saat rapat berlangsung. Bahkan ia tidak mencatat apapun perihal rapat yang ia ikuti.

"Nah sekian rapat hari ini,"

Suara itu mampu membuyarkan fokus Naruto. Ia mengernyit seperti orang bodoh melihat teman-temannya merapikan alat tulis mereka.

"Minggu depan, aku menginginkan laporan hasil rapat tadi dari kalian," ucap siswa berambut merah dengan berwajah baby face itu.

Oh shitt, Naruto tidak mencatat apapun sedari tadi. Ia tidak mungkin menyerahkan laporan tanpa mengerti isi diskusi tadi. Mendadak ia menjadi panik sendiri.

"Ano senpai-"

"Ya Naruko," Naruto tersenyum kikuk melihat siswa bername tag Sasori itu.

"Um, aku lupa tentang isi diskusi tadi," Naruto menggaruk pipinya yang tak gatal menggunakan telunjuknya.

"Dobe,"

Ctak

Naruto mendengus kesal. Wajahnya merah padam dengan perempatan urat yang tercetak indah. Jika ini anime mungkin saat ini kepalanya tengah mengeluarkan asap panas dan siap melelehkan siapapun.

Siiinggg

Naruto menatap tajam sosok yang berani mengatainya. Dilihatnya Sasuke tersenyum miring padanya. Senyum mengejek yang membuat Naruto semakin naik pitam.

"Apa kau bilang, Teme?!" teriak Naruto kesal, tangannya menunjuk tidak sopan pada wajah yang masih menampakan raut datar.

"Ternyata selain dobe, kau juga tuli," Sasuke semakin melebarkan serigaian sinisnya, onixnya menatap remeh siswi di depannya.

"Teme bastard, damn it," bentak Naruto mendorong Sasuke hingga pemuda itu sedikit terdorong ke belakang.

Sasori yang melihat itu semua hanya bisa menghela nafa. Ia tidak pernah melihat Naruko lepas kontrol seperti ini dan bisa seceroboh ini, tidak mendengarkan rapat yang berlangsung. Tidak biasanya, yang ia tahu Naruko itu disiplin dan mampu menyembunyikan emosinya. Tapi apa yang ia lihat di hadapannya, Naruko dengan terbuka mengakui bahwa dirinya tidak menulis sedikit pun hasil rapat tadi dan sekarang... Bertengkar dengan Sasuke Uchiha.

"Kalian kalau mau bertengkar, lebih baik cari arena lain saja jangan di sini," ucap Sasori yang mulai jengah dengan pertengkaran saling lempar ejekan itu.

"Dia yang memulainya, Senpai. Apa salahnya kalau aku bertanya?"

"Salahnya karna kau Dobe,"

"Jangan memanggilku seperti itu, Teme. Aku ini jenius,"

"Jenius dalam hal mencontek,"

"Apa kau bilang, Teme?".

"Diaammmm!" seru Sasori yang mulai kesal. Ia menatap Sasuke dengan tajam. "Lebih baik kau keluar, bukankah rapat sudah selesai? Untuk apa masih di sini?" tanpa merespon ucapan Sasori, Sasuke melengos meninggalkan ruang osis. Sasori menghela nafas mendapati tingkah kurang ajar kohai'nya itu. Lalu ia menoleh menatap Naruto yang masih menekuk wajahnya.

Sasori meraih sebuah lembar kertas dan menyodorkan ke arah Naruto, "Kau bawa saja ini, kau pelajari dan berikan laporannya minggu depan," Sasori tersenyum tipis.

Naruto menatap penuh kagum melihat kebijakan Sasori dan senyum itu sedikit membuat Naruto merona. Ternyata bila diamati dari dekat, wajah senpai'nya ini sangat tampan. Tidak kalah dengan boy band yang tengah digandrungi para perempuan.

"Terima kasih," Naruto menerima kertas itu, ia tersenyum lebar ke arah Sasori. "Kalau begitu aku pamit dulu senpai," Naruto mohon diri meninggalkan Sasori di ruangannya.

.

.

.

Tbc

Fiuh akhirnya selesai juga chapter 2. Oke, Chimi akui ini masih jauh dari kata bagus. Hah, Chimi hanya berusaha melanjutkan apa yang sudah Chimi mulai. Untuk urusan bagus jeleknya fic Chimi, itu terserah penilaian readers semua. Chimi ucapkan terima kasih atas semua riview yang sudah masuk, yang mendukung Chimi. Asli Chimi terhura hiks hiks #plak ini fic pertama dengan pair SasufemNaru. Maaf ya, bila masih ada typo, Chimi sudah berusaha seteliti mungkin dalam menyunting. Makasih semua, kritik dan saran Chimi terima. Salam damai dari Chimi-tan, jaaa