Helm?-ceklist

Pemukul?-ceklist

Tameng?-ceklist

Naruto tersenyum puas melihat dandanan dirinya. Rambut pirang panjangnya ditekuk sedemikian rupa hingga masuk seluruhnya ke dalam helm biru yang ia kenakan. Tangannya memegang tongkat baseball, mengayunkannya ke kanan kiri dengan tangan kanannya, melatih dirinya agar terbiasa memukul dengan satu tangan. Kemudian tangan kirinya memegang sebuah tameng yang merupakan tutup panci yang ia ambil dari dapur rumahnya. Seragam sekolahnya telah ia lepas, tergantikan kaos orange bermotif bulat hitam kecil-kecil, dipadu dengan celana berbahan kaos berwarna hitam bergaris putih di samping kiri-kanan. Tas sekolahnya tlah menempel manis dalam gendongan punggungnya.

"Yosh! Saatnya beraksi!" Naruto mencengkram pemukul baseball itu makin erat, dengan langkah mantap ia berjalan menuju pintu toilet, meninggalkan ruang berbau menyengat tersebut.

Cklek

"Serbuuuu!" Saat pertama membuka pintu toilet, didapatinya puluhan siswi tengah menunggu dirinya. Naruto sudah tahu hal ini, maka dengan cepat ia berlari menerobos barisan siswi gila itu, tak memperdulikan beberapa siswi yang terjatuh akibat tubrukannya.

"Mana tenaga kalian, bodoh! Nyahaha!" teriak Naruto diikuti tawa kemenangan. Dapat ia dengar dari telinganya derap langkah kaki mulai mengejar, tak harus menoleh, ia sudah tahu siapa yang ada di belakangnya.

Drap drap drap

Naruto menuruni tangga yang begitu lenggang, karna sekolah sudah bubar sejak setengah jam yang lalu, mustahil ada murid masih berkeliaran kecuali kalau dia anggota Fansgirl tak berguna yang bertugas membully'nya.

Ada rasa kesenangan yang didapat oleh Naruto di setiap ia berlari, seperti sebuah film yang ia tonton, dimana sang tokoh utama tengah dikejar oleh pembunuh bayaran, ia bisa merasakan perasaan itu. Debar yang menyenangkan dan debar yang memuaskan.

Sett

Naruto menghentikan larinya di tengah lapangan depan. Ia membalikan tubuhnya dan mendapati para fansgirls gila itu menghentikan langkahnya pula. Ia menyerigai lebar.

Naruto menatap kantong-kantong yang dibawa para siswa itu dan ia bisa mengira bahwa itu bukan sesuatu yang baik. Persiapannya tidak salah, untung dia telah membawa tongkat baseball milik ayahnya itu. Yah meskipun ini sedikit keterlaluan.

"lempar!" titah seorang siswi yang merupakan ketua dari fans club Sasuke itu, namanya Tayuya.

Mendengar perintah komandannya, semua anggota SFC bergegas melempari sosok pirang yang tengah berdiri menantang dengan tomat busuknya.

Bugh

Naruto memukul sebuah tomat membalik arah dan 'crat' tomat busuk itu mendarat manis tepat di wajah Tayuya. Naruto tertawa kencang, tangannya sibuk melindungi diri sekaligus memukul tomat-tomat busuk yang membombardir dirinya.

Disclaimer: Masashi Kishimoto
Tidak ada keuntungan dalam pembuatan fic ini kecuali untuk kepuasan sendiri.

Cerita ini murni dari hasil otak saya, jika ada scene yang sama, itu tidak disengaja.

Warning: Au, Ooc, Typo, and etc.

Chapter 3

Malam tlah merambati kota Konoha. Lampu pijar mulai memasang sinarnya menerangi kota. Lalu lintas tetap masih padat merambati jalanan. Pemuda-pemudi keluar masuk area pertokoan. Tawa pecah yang menambah keramaian kota berselimut malam itu.

Sepasang muda-mudi masih terdiam di atas motor yang melaju menembus dinginnya malam. Dua orang berbeda warna rambut ini masih berkutat dalam kebisuan, membiarkan hiruk pikuk menjadi dawai musik yang mengiringi perjalanan mereka.

Naruko menghela nafas sejenak, manik seindah batu shappire'nya ia gulirkan pada toko-toko yang berjejer yang ia lewati. Sebenarnya dia bukanlah tipe yang suka pergi keluyuran di malm hari. Tetapi tadi sore dengan tiba-tiba Ino dan kawan-kawan menariknya untuk ikut bersama mereka. Katanya si gadis keturunan Yamanaka itu sangat ingin melihat sunset. Kalau ingin pergi kenapa dia mengajak dirinya turut serta? Padahal 2 teman saja cukup kan? Jadi ia tak perlu susah payah turut serta. Benar-benar merepotkan. Oke, ia jadi meminjam trade mark si Shikamaru, sahabat serta rivalnya dalam merebutkan juara sekolah.

Ckit

Tubuh Naruko sedikit maju ke depan hingga menempel di punggung pria di depannya. Naruko mendengus sebal dengan tingkah Gaara yang memboncengnya.

"Apa kau tak bisa tidak menge'rem mendadak seperti tadi?" dengus Naruko yang dibalas cengiran Gaara.

"Kau kaget?" tanya pemuda bermarga Sabaku menoleh ke arah Naruko yang memasang wajah sebalnya. "Oke, aku minta maaf," Gaara tersenyum simpul, menatap pada Naruko berharap agar gadis yang mungkin sedang badmood ini memaafkannya.

"Hm, kenapa berhenti?" tanya Naruko kembali yang tak menyadari dimana ia berada.

"Kita sudah sampai," jawaban Gaara membuat Naruko mengerjapkan matanya. Ia menoleh ke arah samping kanan, dapat dilihatnya bangunan menjulang tinggi dengan bertuliskan 'Moon Apartement'. Ah ternyata memang benar dia sudah sampai. 'Bodoh' kenapa ia tidak sadar kalau sudah sampai?. Dengan kikuk ia turun dari motor milik Gaara.

Ada rona merah menggantung di masing-masing pipinya, beruntung malam menyamarkan keadaannya. Ia sedikit malu karna sudah memaki Gaara tadi. "Makasih tumpangannya," kata Naruko dengan senyum dipaksakan, salah satu tangannya mengusap tengkuk yang sedikit kedinginan itu.

"Cuma itu," Naruko menaikan sebelah alisnya mendengar jawaban Gaara. Apa maksudnya, dirinya membatin.

Ia menatap Gaara yang tersenyum lebar lalu menunjuk pipinya sendiri. Naruko mendelik tak percaya. What! Apaan itu!

"Mau?" Naruko berkata dengan suara yang teramat sangat manis, tak lupa kerlingan jahil ia keluarkan. Tentu saja itu membuat Gaara semakin melebarkan cengirannya. Naruko mengangkat bogeman tangan'nya dan melirik ke arah Gaara dengan serigaian penuh arti, hingga membuat si rambut merah menghentikan senyumnya. Firasatnya mulai tidak enak.

"Terakhir, aku pernah meninju seseorang hingga pingsan. Kalau sekarang mungkin aku bisa membuat seseorang sekarat," ucap Naruko dengan senyum manisnya yang masih melekat.

Glek

Gaara menelan ludahnya dengan paksa. Wajahnya menatap horor ke arah Naruko yang masih tersenyum manis yang baginya mirip senyum iblis. Serigaian yang mengancam, mau tak mau membuat bulu kuduknya meremang.

"A-aku hanya bercanda, Naruto. Jangan kau anggap serius. Kita ingin kan teman," Gaara menepuk-nepuk bahu Naruko dan menyingkirkan bogem yang siap dilancarkan itu ke bawah. Ia memasang wajah paling imut berakting bahwa ia benar-benar bercanda agar gadis di depannya tidak murka.

Oh heloo, ia harus berpikir ulang jika membuat Naruto murka. Ia pernah menyaksikan sendiri bahwa gadis di depannya ini menghajar senpainya yang hendak meminta uang padanya.

Naruko mendengus kasar. Untung ia menemukan coretan tangan Naruto di tengah-tengah buku pelajaran bahwa adik kembarannya itu pernah menghajar orang dan sanggup membuat Gaara takut padanya. Oke, dia jadi sedikit ngeri jika harus membayangkan adiknya seperti itu. Tapi yah, anggap saja pengalaman Naruto sebagai poin keberuntungan untuknya. Setidaknya menyelamatkan keadaan seperti tadi.

"Baiklah, kalau begitu aku pulang." pamit Gaara memasang helm merahnya yang tadi sempat ia buka. Sebelum menyalakan motornya, ia menatap Naruko sekali lagi dengan senyum manisnya. "Selamat malam," ucap Gaara sedikit mengacak rambut Naruko dengan gemas, yang membuat gadis itu mendelik galak ke arahnya.

Belum sempat Naruko mengeluarkan protesnya, Gaara sudah lebih dulu pergi berlalu.

Naruko bersungut ria menatap punggung Gaara yang tlah menjauh bersama dengan kencang lajunya kendaran milik pemuda itu. Ia menyentuh rambut pirang yang tadi sempat dirusak oleh Gaara.

"Apa-apaan dia, berani sekali mengacak rambutku, huft!" sungutnya sebal tapi ada seulas lengkungan bibirnya yang membentuk senyum samar tercetak di wajah yang memerah karna hawa dingin itu. Gadis sulung kembar dari pasangan MinaKushi akhirnya melenggang masuk, menggerakan kakinya menuju apartement miliknya yang berada di lantai 2 itu, sebelum hawa dingin menusuk tubuhnya. Mungkin segelas coklat panas mampu menghangatkan tubuhnya.

.

.

.

sori banget harus ku potong, soalnya bakalan gantung kalo ku ptong pas akhir ketikanku, sedangkan aku lg malas ngetik lagi. maaf kan aku. tapi akhir Seotember ini akan ku update lagi, okey.