Chapter 2

.

.

.

.

.

Seoul, 08:00 AM

Kringg.. Kriinggg...

Baekhyun terpaksa membuka matanya dan meraba meja di samping kasurnya. Dalam hati dirinya mengutuk orang yang telah mengganggu istirahatnya. Ia sangat lelah karena semalam Ia shooting hingga tengah malam dan mulai tidur pukul dua pagi.

"Halo?" Ucap Baekhyun dengan suara ketus.

"Cepat kemari, di gedung agensi. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan." Balas suara diseberang telepon dengan nada serius.

"Kyuhyun-ssi, kau bahkan bisa mengatakannya sekarang. Kenapa harus bertatap muka dahulu?" Baekhyun masih dongkol karena tidur nyenyaknya diganggu.

"Ini bukan sekedar meeting biasa. Cepat. Jangan banyak alasan. Kutunggu kau di ruang pertemuan lantai pertama." Kyuhyun buru-buru menutup teleponnya.

Baekhyun terpaksa meninggalkan kasurnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dirinya menggerutu di dalam hati.

Baekhyun kesal karena Kyuhyun sering sekali mengganggu tidurnya dan mengatakan ada hal penting sehingga Ia terburu-buru menemuinya yang ternyata hanya untuk menemani Kyuhyun memakan ramyeon.

Baekhyun keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaian serba hitam. Jangan lupakan masker, topi hitam, jaket denim, dan kacamata bulat ala Harry Potter miliknya. Ia keluar dari apartement secara diam-diam. Takut jika ada fans yang menguntit dirinya nanti.

Baekhyun pergi menuju ke agensi menggunakan mobil pribadinya. Ia melaju dengan kecepatan sedang. Sesampainya di gedung agensi, dirinya langsung menuju ke tempat yang dijanjikan Kyuhyun di telepon tadi.

Ia masuk ke dalam ruang pertemuan dan langsung mendudukkan diri. Ia melepas jaket, masker, serta topinya. Kacamatanya tetap Ia pakai agar penglihatannya makin jelas. Baekhyun mulai mengungkapkan kekesalannya.

"Ada apa menyuruhku kemari? Sungguh aku ingin menendangmu karena telah mengganggu tidurku. Aku lelah sekali." Kata Baekhyun dengan nada kesal sambil berusaha menahan kantuknya.

"Aku yakin kau akan terkejut, mungkin sedikit tidak terima dengan hal yang akan kukatakan nanti. Omong-omong, orang itu belum sampai disini. Lama sekali." Balas Kyuhyun sambil melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit.

"Siapa? Orang yang akan kau ajak untuk makan ramyeon bersama hari ini?" Baekhyun masih kesal rupanya hingga mengungkit sikap Kyuhyun yang lalu.

"Kau ingin mencari ribut denganku disini?" Kyuhyun mulai emosi dengan sikap artisnya.

Cklek

Pintu terbuka seolah melerai perdebatan antara sang artis dan managernya. Amethyst Baekhyun memandang dengan pandangan lurus ke arah orang yang berada di depan pintu.

'Dia lagi? Ada urusan apa lagi?' Batin Baekhyun terheran.

"Selamat pagi. Maaf aku telat. Tadi ada kecelakaan di jalan sehingga perjalanan kemari menjadi terganggu." Kata lelaki itu sambil membungkukkan badannya sebagai tanda maaf.

"Ah, tidak apa-apa. Silahkan duduk" Ramah Kyuhyun.

Lelaki itu mendudukkan diri didepan Baekhyun. Pandangan Baekhyun sedetik pun tak terlepas dari sosok tinggi yang duduk didepannya. Pikirannya masih bertanya-tanya apa maksud sang manager mengundang pria itu lagi. Kyuhyun mulai membuka suaranya.

"Baiklah. Langsung to the point saja. Aku mengundurkan diri sebagai managermu. Aku akan melanjutkan usaha ibuku dan akan membuka usaha yang berpenghasilan lebih menjanjikan. Maaf, Baek. Maaf karena tidak memberitahumu terlebih dahulu. Aku sudah mengajukan permohonan ke agensi, dan orang yang sekarang duduk didepanmu lah yang akan menggantikan posisiku." Ucap Kyuhyun dengan nada yang serius.

"APA-APAAN INI?! AKU BAHKAN BARU BERTEMU DIA DUA HARI YANG LALU! KYUHYUN-SSI, KEPALAMU TERBENTUR APA SAAT PERJALANAN KEMARI HAH?" Baekhyun sontak berdiri sambil mengepal tangannya di atas meja dan dengan ekspresi marah bercampur terkejut. Rasa herannya terhadap sosok lelaki didepannya menghilang, terganti dengan perasaan marah yang teramat sangat.

"Sekali lagi aku minta maaf, Baek. Aku ijin pamit dahulu. Ada tamu yang menunggu di rumah. Jika ada sesuatu yang ingin kau tanyakan aku akan selalu siap membalasnya. Terimakasih. Aku pamit dulu." Kyuhyun keluar dari ruangan dengan tergesa.

"HEI!! JANGAN PERGI DULU! KITA BERDUA MASIH ADA JANJI DAN BANYAK JADWAL MENUNGGU!!" Baekhyun mengacak rambutnya frustasi.

Baekhyun duduk sambil menghentakkan kakinya. Nafasnya memburu akibat emosi yang menggebu. Laki-laki didepannya hanya diam menunggu emosi Baekhyun mereda. Membiarkan Baekhyun yang terlebih dahulu memulai pembicaraan. Beberapa saat kemudian, Baekhyun mulai berbicara.

"Maaf, aku emosi tadi. Aku kesal sekali dengan Kyuhyun-ssi. Tidurku diganggu, dan sekarang dia malah mengundurkan diri dengan alasan yang tidak jelas. Memangnya usaha apa yang dia jalankan? Dia pikir menyesuaikan diri dengan orang baru semudah menendang bokongnya?" Gerutu Baekhyun.

"Maaf saya tidak bisa melakukan apapun untuk Anda tadi." Balas lelaki didepannya dengan nada datar.

"Ah, jangan berbicara dengan formal. Bersikap biasa saja denganku. Aku jadi tidak enak. Toh nanti kita juga akan bersama mau tidak mau. Omong-omong, kau Park Chanyeol kan?" Baekhyun mencoba melembut. Ia berusaha memberikan kesan pertama yang baik bagi manager baru nya.

"Iya, aku Park Chanyeol. Orang yang menjadi pengawas script pemotretanmu dua hari yang lalu." Chanyeol memperkenalkan dirinya ke Baekhyun.

"Aku ingin bertanya beberapa hal. Kenapa kau memilih menjadi managerku? Bukannya menjadi pengawas script pemotretan mempunyai penghasilan yang bisa dibilang cukup besar? Kerjanya pun tidak membutuhkan tenaga yang banyak."

"Menjadi pengawas script hanya pekerjaan sampinganku. Sehari-hari aku biasanya berkeliling Seoul lalu menemukan tempat atau benda unik dan aku memotretnya. Hal itu membuatku harus mengeluarkan uang ekstra. Walaupun menjadi pengawas script mempunyai gaji yang cukup besar, tapi tidak setiap hari aku dipanggil untuk menjadi pengawas script. Terkadang, aku hanya dipanggil dua kali dalam sebulan. Jadi aku berinisiatif untuk mencari pekerjaan tetap yang bisa mendukung hobiku." Ucap Chanyeol fasih.

"Ah begitu rupanya. Semoga kau betah bekerja sama denganku ya Chanyeol-ssi."

"Semoga saja. Uhm, bolehkah aku memintamu agar memanggilku seperti teman akrab? Kita seumuran."

"Oh, baiklah tidak apa-apa. Aku ingin bertanya lagi. Maaf kali ini agak pribadi sifatnya. Kau mempunyai tanda yang sama denganku di leher. Apa itu tato? Tapi jika dilihat lebih lama lagi, tanda itu terlihat asli. Bolehkah aku menyentuhnya?" Baekhyun memicingkan matanya agar dapat melihat tanda itu semakin jelas.

"Tentu. Silahkan saja." Chanyeol membuka kancing teratas kemejanya dan memperlihatkan lehernya yang membentuk tiga tanda koma.

Baekhyun tidak tau, jika yang dapat melihat tanda itu hanyalah dia dan pengikut Chanyeol di Tartaros. Dengan kata lain, hanya orang terkutuk yang dapat melihatnya.

Baekhyun beranjak dari tempat duduknya dan menempatkan diri di samping Chanyeol. Perlahan Ia mulai mendekatkan jarinya yang lentik ke leher pria dengan rambut merah itu. Tetapi baru sedetik Ia menyentuh, Chanyeol mengeluarkan reaksi tidak terduga.

"ARGH!!"

"Chanyeol, kau kenapa?"

"Permisi, aku mau ke kamar mandi dulu."

Chanyeol berlari ke kamar mandi meninggalkan Baekhyun yang merasa heran dengan tingkah Chanyeol.

'Apakah aku melakukan hal yang menyakitkan? Kukuku tidak panjang, kulit tanganku tidak kasar. Kenapa dia?' Batin Baekhyun keheranan.

Sementara itu Chanyeol di kamar mandi berkeringat dengan nafas yang putus-putus akibat menahan sakit. Dirinya terheran karena tidak pernah merasa sakit saat disentuh oleh seseorang.

Saat Ia menyentuh ataupun disentuh orang yang dia kutuk tidak bereaksi apapun. Tapi berbeda dengan orang yang Ia kutuk kali ini. Badannya seakan disetrum listrik ribuan volt dan ditusuk banyak jarum. Sakitnya memang hanya sekejap, tapi itu cukup membuat Chanyeol berteriak hingga orang diluar ruangan itu ikut mendengar padahal ruang pertemuan didesain sedemikian rupa agar kedap suara.

Baekhyun menyusul ke dalam kamar mandi dan hendak menyentuh Chanyeol tetapi teringat dengan kejadian tadi, buru-buru Ia menjauh.

"Kau tidak apa-apa, Chanyeol?"

"Oh kau menyusul kemari. Aku tidak apa-apa. Hanya sakit gigi tadi. Gigiku rasanya seperti disetrum. Terima kasih sudah menyusul kemari." Ucap Chanyeol sambil tersenyum

"Tidak apa-apa. Yasudah pulang saja. Kau butuh obat dan istirahat."

"Hm, baiklah. Aku pamit dulu, Baek."

Chanyeol dan Baekhyun keluar bersama dan berpisah didepan kamar mandi. Baekhyun ke ruang pertemuan untuk mengambil jaket dan pernak-perniknya, sementara Chanyeol menuju ke tempat parkir mobilnya.

Didalam mobil Chanyeol masih terheran-heran dengan kejadian yang barusan Ia alami.

'Apa yang sebenarnya terjadi?'

'Jika begini terus bagaimana caranya aku bisa berdekatan dengan manusia itu?'

'Aku harus ke Tartaros.'


Author's note:

Annyeong~

Banyak drama dibalik pembuatan chapter 2 ini. Dari file ilang, gabisa dibuka, sampe listrik mati dan file nya ga ke save. Jadi aku sebagai author minta maaf ya karena ga maksimal buatnya. Ini ff ngebosenin bgt ya wkwk. Terima kasih~

ENJOY! XOXO