Yasuna Katakushi Present…

One Word, Say Sorry..

Pairing: Naruto Uzumaki, Hyuuga Hinata.

Genre: Romance, Drama, H/C.

Word: 3,502

Summary: (Penokohan), Hyuuga Hinata. Gadis cantik, manis, sempurna, tapi siapa sangka. Sosok berbalut kulit seputih porselen itu merupakan punggawa kebanggan tim futsal sekolahnya? Gadis berkedudukan sebagai ujung tombak tersebut sudah di percaya tim futsal inti sekolahnya untuk terjun langsung di arena pertandingan. Normalnya futsal putri akan bertarung melawan tim futsal putri juga. Tapi apa jadinya jika tim futsal putri akan melawan tim futsal putra, yang jauh lebih mumpuni dalam bidang sepakbola? / Naruto Uzumaki, punggawa tampan dengan garis wajahnya yang tegas, di tambah dengan tiga pasang goresan di dua sisi pipinya yang menambah kesan manis pada wajahnya. Sosok pangeran dari sekolahnya, sekaligus anak tunggal dari pemilik saham terbesar di dua tim setan lapangan asal Inggris. Manchester United dan Chelsea, Ayahnya. Minato Namikaze, pengusaha yang menguasai hampir separuh dari total saham di kedua tim raksasa tersebut.

Summary: (Cerita) bertepatan dengan hari jadi perusahaan yang bergelut di bidang entertainment Nazu Production, pada hari jadinya yang ke 20 tahun. Nazu Production mengadakan event laga persahabatan, termasuk bidang olahraga futsal, dan dalam laga tersebut. Tim putra dan putri akan bertarung, pertarungan dengan perwakilan sekolah ini akan berlangsung kurang lebih selama 45 hari lamanya. Dan apa yang akan terjadi jika tim futsal putra bertarung dengan tim futsal putri? Akankah berjalan secara Sportif?

Pemberitahuan!

Hari ini berjalan seperti biasa, datang sekolah, masuk kelas, belajar, istirahat, masuk lagi, dan pulang. Kegiatan monoton yang di lakukan para siswa Konoha Gakuen, tapi bukan berarti mereka tidak memiliki warna dalam kegiatan mereka sehari-hari. Sepulang sekolah, pasti selalu ada saja siswa yang mengikuti klub-klub di sekolahnya. Itulah yang menjadi warna dalam keseharian mereka.

Dan hari ini warna itu lebih indah dari yang sebelumnya, Hyuuga Hinata tampak tersenyum terus-menerus sejak memasuki gerbang sekolahnya. Bagaimana tidak? Captain dari tim Futsal Nazu Gakuen datang kesekolah mereka guna mengantarkan undangan laga persahabatan untuk sekolah mereka.

Tidak hanya futsal, ada 5 kompetisi di bidang berbeda yang di selenggarakan oleh pihak Nazu sendiri. Bukan siapa yang mengantarkan undangan itu yang membuat senang, Hinata senang karena di final nanti ada kemungkinan futsal putra dan futsal putri bertemu. Dan impian Hinata hanya satu! Menjadi lawan untuk tim futsal putra Nazu Gakuen.

Jika di sini Hinata senang dengan undangan yang di bawa oleh perwakilan Nazu, mari kita lihat bagaimana perasaan dari si pengantar surat sendiri beberapa waktu yang lalu.

.

.

.

Naruto berjalan santai di lorong sekolahnya, ada beberapa murid di sana yang juga berlalu lalang. Naruto yang terkenal di kalangan siswi sekolahnya, tampan, pintar dan kaya. Siapa yang tak ingin memiliki pria yang seperti itu? Tapi kadang Naruto juga sering bersifat dingin pada para penggemarnya, bukan karena sombong. Dia punya maksud lain untuk itu.

Berjalan menuju ruangan asistan dari Ayahnya sekaligus kepala sekolah Nazu Gakuen, matanya sesekali terpejam menikmati alunan musik yang mengalun melalui earphone miliknya. Rambut pirangnya di permainkan oleh angin musim panas, kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celana sekolahnya.

Tujuannya sekarang adalah ruang kepala sekolah, perkara apa dia di mintai bantuan untuk datang langsung ke ruang kepala sekolah belum dia ketahui. Tapi kemungkinan ini adalah urusan penting. Jika bukan karena urusan penting, Naruto amat malas pergi ke ruang kepala sekolah. Terpaksa, ya. Dia terpaksa pergi ke ruang kepala sekolah.

Naruto mendorong pintu kaca ruang kepala sekolah, ruangan yang cukup besar itu terdiri dari 5 lemari besar untuk menyimpan data-data terpenting siswa, 1 meja bundar untuk rapat, satu set meja kerja beserta kursinya, ada juga 3 lemari kaca yang di gunakan untuk menyimpan piala prestasi para siswa.

Berdiri tepat di depan meja kepala sekolah, menyanggah tubuhnya dengan kedua tangan kekarnya. Matanya menatap serius sosok melawan gravitasi di depannya, mata sayunya memandang santai Naruto.

Sedangkan Naruto sendiri merasa gerah dengan situasi yang terbilang bertele-tele ini, sapphirenya memutar bosan. Kebosanannya menjadi-jadi saat sang kepala sekolahnya tidak kunjung bicara, melainkan kembali melanjutkan kegiatannya dengan tumpukkan dokumen yayasan.

Apa yang sebenarnya ingin di sampaikan oleh pria dewasa berambut perak ini sebenarnya?

"Cepat atau aku akan pergi!" Ujar Naruto cepat setengah membentak.

"Konoha Gakuen, Brenna Hidatsu. Aku mau kau lakukan hari ini, kau. Bukan orang lain!" Ujar sang kepala sekolah tegas.

Naruto mendecak kesal, menunggu Kakashi Si Kepala sekolah yang sedang mengambil berkas yang akan di berikannya pada tujuan yang di maksud Kakashi.

"Kenapa harus aku?" Tanya Naruto mencoba menghindari tugasnya kali ini.

Kakashi memandang sapphire Naruto serius, dan kembali melanjutkan kegiatannya.

"Karena kaulah captain tim sekolah ini, Naruto." Decakkan dan helaan napas terdengar dari Naruto, sebal. Ya. Dia sebal, kenapa harus dia meskipun dia captain tim futsal.

"Ya-ya! Akan ku lakukan!" Ujar Naruto merampas surat yang di sodorkan oleh Kakashi.

Kakashi hanya tersenyum miring melihat Naruto yang menurutinya tanpa adu argumen menegangkan lebih dahulu. Di pihak lain, Naruto berjalan pergi menuju kelasnya, mengambil kunci motornya dan jaket miliknya. Tambahan, dia juga mengabaikan Anko yang tengah mengajar di kelas.

Menarik tuas motor sport miliknya, dan pergi meninggalkan Nazu Gakuen. Sejujurnya Naruto sudah mendengar tentang Konoha Gakuen dari mulut ke mulut, tapi dia belum pernah datang langsung ke sekolah tersebut. Sekolah Negeri terbaik di Jepang, tapi di pikirannya. Itu belum seberapa di banding dengan Nazu Gakuen, begitu pikirnya.

Tepat di sebuah jalan kecil, ada sebuah p'lang penunjuk jalan. Dan Konoha Gakuen ada di dalamnya, Naruto mengikuti penunjuk jalan itu. Jalan yang awalnya dia pikir sudah dekat dan hampir sampai, tapi ternyata amat jauh. Dan kesabarannya semakin berkurang.

Dari kejauhan, Naruto melihat sebuah sekolah bertingkat lima dengan dominasi warna cat coklat pastel dengan kuning pastel. Tidak terlalu elit, tapi juga tidak terlalu sederhana.

.

.

.

Naruto sudah berada di halaman parkir Konoha Gakuen, sekolah yang amat bertolak belakang dengan ekpektasinya tadi. Sekolah ini terlihat megah, walau berbeda jauh bila di banding dengan Nazu Gakuen. Dan satu hal yang tidak akan dia lihat di Nazu adalah, segerombol siswa dan siswi yang berjalan menuju perpustakaan dan kembali membawa buku-buku tebal.

Naruto akui, sekolah ini memang layak di sebut yang terbaik secara kualitas. Bukan kuantitas.

Sapphirenya beralih mencari tanda-tanda keberadaan anggota Futsal yang mungkin sedang berkumpul, tapi mereka sulit di temui. Para pelajar di sana nyaris terlihat kembar di matanya.

Mau tidak mau dia harus mencari ruang tata usaha atau ruang guru mungkin, dalam perjalanan menuju ruang guru, Naruto melintasi pintu utama perpustakaan. Di sana ada segerombol siswi yang berbaur dengan siswa lain. Pacaran, begitu komentarnya dalam hati.

"Tapi itu tidak akan terjadi jika tidak ada adu pinalti! Ku yakin, Mata bisa membobol gawang Sunderland!" Koar suara ayu seorang siswi di sana.

Dengan langkahyang sengaja di buat perlahan, Naruto mencoba mendengar kalimat mereka. Siapa tau dugaannya kalau mereka adalah anggota Tim Futsal sekolahnya adalah benar?

"Kau terlalu yakin Ten-Ten! Saat ini Red Devils sedang terpuruk, apa lagi dengan penggantian pelatih. Setidaknya mereka harus menyesuaikan diri dengan Van Gaal.." Sahut siswi lain.

"Aku amat tidak senang saat mereka di latih oleh Moyes!" Ujar siswi berambut indigo yang baru tiba, dia lewat persis di depan Naruto.

Seakan menonton film yang di putar ulang, tapi di tempat berbeda. Itu yang sekarang Naruto dan Hinata rasakan.

Mereka saling menatap selama beberapa detik, sebelum akhirnya mereka mengganti objek pandangan mereka ke tempat lain. Tapi entah penasaran atau sekedar memastikan, mereka kembali saling menatap. Tapi ada sesuatu yang lain yang tersirat di dalamnya.

"Apa kau siswi kelas Sepuluh?" Tanya Naruto membuka percakapan.

"Ya!" Jawab Hinata pasti.

"Bisa kau tunjukkan di mana ruang guru, atau mungkin ruang sekretariat Futsal sekolah ini? Aku ada keperluan penting!" Ujar Naruto dengan nada yang di buat ramah.

Hinata tak menjawab, dia segera berjalan menuju arah gedung utama sekolah itu. Naruto yang tidak mengerti hanya diam di tempat, bingung kenapa dia di tinggal. Sedangkan Hinata, yang merasa Naruto tidak mengikuti segera menoleh ke arah belakang. Dan mendapati Naruto yang masih terdiam di tempat.

"Apa aku harus berbicara jika hendak melakukan sesuatu?" Tanya Hinata dengan nada menyindir.

Naruto yang tidak mengerti hanya menatap Hinata dengan salah satu alis yang terangkat.

"Kalian itu memang lebih suka bicara di banding bekerja ya, ayo cepat ikuti aku!" Ujar Hinata, dan segera berbalik menuju ruangan guru.

Naruto yang sempat terdiam beberapa detik, akhirnya melangkah maju mengikuti guide dadakannya. Naruto sukses di buat kesal oleh Hinata, untuk pertama kalinya dia di perlakukan kurang menyenangkan oleh seorang gadis.

Dan dia juga gadis yang di temuinya kemarin saat di depan Gerbang Nazu Gakuen, gadis yang cuek. Naruto ingin tahu, pria mana yang di idam-idamkannya? Kenapa pria seperti Naruto yang sudah melebihi standar para gadis di luar sana tidak di liriknya?

.

.

Di ujung lorong, Naruto sudah bisa melihat ruangan yang di bagian atasnya terdapat papan bertuliskan ruang guru. Senyum cerah terbit di bibir Naruto, itu artinya tugasnya akan selesai sedikit lagi.

Tapi senyum itu langsung menghilang, kala Hinata berbelok menuju lorong lain yang ada sebelum ruang guru tersebut. Alisnya berkerut, apa Hinata mencoba menipunya? Amarahnya memuncak, tangannya terkepal kuat. Tapi hati, pikiran, dan tindakkannya tidak berjalan beriringan. Hati yang kalut, pikiran punuh emosi, tapi langkah kakinya terus mengikuti arah Hinata berjalan.

"Mau kemana kita?" Tanya Naruto masih dengan nada ramahnya, dia tidak mau membuat kesan buruk di depan gadis ini. Terutama di sekolah ini.

Hinata diam bergeming mengabaikan ucapan Naruto.

"Aku bertanya, kita akan kemana?" Tanya Naruto dengan nada yang sedikit lebih kasar walau tidak terdengar kasar.

Hinata berhenti berjalan, matanya terpejam. Tapi dia sedikit menoleh ke arah kiri,

"Kau yang meminta!" Ujar Hinata bersamaan dengan itu, lavendernya kembali terbit tapi dengan cahaya berbeda di dalamnya.

"Apa maksudmu?!" Tanya Naruto setengah membentak.

Hinata berbalik, menatap tubuh yang lebih tinggi 10 senti darinya, menerobos masuk dalam sapphire cerah itu.

"Kau ingin datang ke ruang guru, di tanyai pertanyaan tidak berguna. Atau ingin langsung menemui pengurus dari pihak yang terkait dengan tugasmu datang kesini." Ujar Hinata dengan nada menginterogasi, tak ada sama sekali keraguan yang tersirat di dalamnya.

"Tentu saja langsung pada pihak terkait!" Jawab Naruto yang memang tidak suka bertele-tele.

"Kalau begitu, diam. Jika tidak, urusanmu tidak akan pernah selesai." Ujar Hinata kembali berjalan di depan Naruto menuju ruang yang tidak terlalu besar di belakang ruang guru.

'FOOTBALL FUTSAL BROTHER SISTER'

Sebuah grafitty dengan tulisan seperti itu tergambar jelas di depan pintu masuk ruangan tersebut, di dalamnya penuh dengan perlengkapan Futsal yang lengkap. Mulai dari Decker lutut dan tulang kering, kaus kaki khusus, sepatu Futsal, foto tahunan, piala prestasi, puluhan bola Futsal, poster beberapa Tim ternama di Eropa, juga poster pemain terbaik tiap tahunnya.

Ruangan ini amat rapih, jauh dari kesan berantakkan khas ruangan para anak laki-laki. Naruto segera masuk kedalam menghampiri Hinata yang sedang membuka beberapa buku dan map.

"Dari mana asal sekolahmu?" Tanya Hinata masih dengan kegiatannya.

"Nazu Gakuen." Sahut Naruto singkat.

Hinata terdiam sejenak, mengolah kalimat Naruto. Dan kembali meneruskan aktifitsanya.

"Keperluanmu?" Tanya Hinata yang mulai mencatat di buku besar milik Futsal sekolahnya.

"Aku ingin mengantarkan surat undangan laga persahabatan yang akan di selenggarakan oleh Nazu Gakuen." Ujarnya sambil menyerahkan surat yang tadi di bawa olehnya.

Hinata membaca isi surat itu, mulai dari Rules berjalannya pertandingan, persyaratan pendaftaran, dan kapan pelaksanaannya. Juga struktur kompetisi, mulai dari hari pertama sampai hari terakhir.

Lavendernya membulat, mimpi yang jadi kenyataan. Tim Futsal dari Nazu Gakuen akan menjadi lawan di pertandingan Final, ini mimpi Hinata sejak dia tau situasi perlombaan. Dan siapa yang menjadi penguasa lapangan sepakbola futsal Jepang.

Naruto yang bingung Hinata hanya terdiam melangkah maju memposisikan diri di samping gadis indigo tersebut, Naruto kemudian menatap lavender yang bulat sempurna itu. Entah kenapa, Naruto merasa ada yang aneh pada dirinya. Hingga dia enggan memalingkan pandangannya, seakan dia beru melihat objek asing yang unik yang tidak akan dia temui di tempat lain jika dia tidak melihatnya sekarang.

Hinata PoV

Apa aku tidak salah dengar, ini… ini sungguhan 'kan? Nazu Gakuen mengundang Konoha Gakuen secara langsung untuk bertanding Futsal. Walau kemungkinan kami akan bertemu di final amat kecil…

Tapi.. perwakilan mereka datang langsung ke sini untuk mengantarkan undangan.. kadang mereka jika ada keperluan hanya mengirim utusan. Mereka malas untuk datang langsung, apa mungkin laki-laki tadi adalah anggota futsal dari Nazu?

Tapi pria di hadapannya ini lebih terlihat seperti seorang artis di banding seorang pemain lapangan, Walau warna kulitnya terlihat lebih gelap dari warna kulit kebanyakkan warga Jepang pada umumnya.

Ah sial! Kenapa aku jadi mengagumi pria ini? Aku tak seharusnya begitu, tapi memang secara tidak langsung aku sering membayangkan bagaimana sosok pemain lapangan dari Nazu Gakuen yang selalu di bangga-banggakan oleh para siswi di sekolahku. Apa aku salah? Jika ya, tolong beri tahu aku!

Tapi kesampingkan dulu pandangan pribadiku tentang dia, timnya, dan sekolahnya. Jika memang iya Konoha Gakuen di undang, tapi tadi dia bilang Futsal. Tidak menyebutkan secara spesifik, apa mungkin tim futsal putra dan putri yang di maksud?

Semoga saja iya…

"Apa ada yang aneh?" Tanya siswa dari Nazu ini, ah! Bahkan aku lupa akan tugasku!

Aku bergegas mengambil pulpen yang tadi kau geletakkan di dekat buku pembukuan futsal, membaca peraturan dan syarat-syaratnya.

"Siapa namamu?" Tanyaku tetap berusaha dingin, walau sebenarnya tubuhku terasa panas.

"Naruto, Naruto Uzumaki." Jawabnya singkat, entah mengapa aku beranggapan bahwa siswa Nazu amat sombong. Tapi apa mereka juga bisa menjadi sosok yang ramah?

"Apa jabatanmu?" Tanyaku, kini ku beranikan melihat wajahnya walau hanya sekilas.

Sapphire, hal pertama yang ku tangkap saat aku menoleh. Walau dari nada bicaranya terkesan angkuh, tapi dari matanya dan caranya menatapku dia terlihat ramah.

"Aku Captain dari tim futsal Nazu." Jawabnya kini dia makin mendekat ke arahku, matanya menatap Koran minggu lalu yang tergeletak di dekat ku sekarang.

"Captain dari Kyuubi rupanya." Ujarku mencoba tidak terlalu kaku.

Sebenarnya saat pertandingan futsal, setiap perwakilan sekolah wajib mengirim 10 orang anggota untuk satu tim. 5 0rang anggota tim cadangan, dan 5 orang lagi anggota tim inti. Tapi untuk Nazu sendiri, aku sering dengan berita bahwa hanya ada 9 orang dalam 1 pertandingan. Bukan karena mereka kekurangan orang atau bagaimana, tapi salah satu di antara mereka selalu berhasil menyelinap di antara para penonton di tribun sana.

Maka itu mereka di beri julukkan Kyuubi, tapi biar bagaimana pun mereka tetaplah terdiri dari 10 anggota yang terdiri dari dua set tim futsal.

"Aku lebih senang jika kau menyebutnya dengan Kurama, itu jauh terdengar lebih baik." Ujarnya dengan nada ramah, ternyata pelajar Nazu tidak seburuk dugaanku.

Mereka cepat mengakrabkan diri.

"Kyuubi lebih condong pada jumlah bila di banding dengan nama, kau sekaan menyebutnya sesuai urutan. Bukan dengan panggilan asli mereka." Dia berjalan makin dekat, ah! Maksudku Naruto.

"Tanda tangani ini." Ujarku, berusaha tidak terlihat canggung.

Dia mengambil buku besar itu dari tanganku, memandang semua tulisan tanganku di sana. Dia mulai menggoraskan tanda tangannya di lembar kedua bagian paling bawah tersebut. Tanda tangannya hampir mirip dengan tanda tangan dari Van Persie, tapi seperti ada perpaduan huruf Katagana di bawahnya. Dan tulisan asal GGMU. Apa mungkin dia salah satu dari penggemar Red Devils?

Aku menatapnya sesaat, entah kenapa tanda tangan laki-laki ini terlihat rapih di mataku. Padahal kebanyakkan tanda tangan akan sulit di baca, tapi ini lebih terlihat seperti sebuah kaligrafi yang indah di mataku. Apa itu karena tanda tangannya menyerupai tanda tangan pemain idolaku?

Hinata PoV End.

Naruto PoV

Kenapa dia? Apa ada yang salah denganku? Dia terlihat tidak ingin mendekatiku, bahkan dia terkesan dingin.

Tapi entah kenapa, aku merasa ingin tau terhadap sisi dirinya yang seperti itu. Aku ingin membuatnya tidak menjadi seorang pendiam.

Aku ingin membuatnya terbuka padaku, apa mungkin aku menyukainya. Tapi mungkin bisa di bilang, aku ingin bersahabat dengan gadis ini.

Mungkin…

Setelah aku menanda tangani daftar surat masuk milik Futsal KoGa sebutan akrab untuk sekolah di mana aku berada sekarang, kami. Aku dan gadis itu terlibat keheningan cukup lama.

Dia yang sibuk dengan surat-surat serta pembukuan Futsal, dan aku yang sibuk memainkan posel pintar milikku. Ponsel ini hanya pengalih, tidak mungkin aku terus menatapnya saat dia sedang melakukan tugasnya. Jadi aku memilih memainkan ponselku, itu jauh lebih baik dari pada aku terus berdiam diri memperhatikkannya.

.

.

.

Setelah tugasku selesai, aku tidak langsung kembali ke sekolah. Aku merasa enggan mengikuti jam pelajaran terakhir, aku lebih memilih pergi ke salah satu taman di dekat KoGa. Aku duduk di salah satu bangku taman yang menghadap langsung ke arah sebuah taman kanak-kanak.

Aku melihat banyak anak kecil laki-laki maupun perempuan tengah bermain, mereka bermain sambil menggiring sebuah bola sepak plastik berukuran kecil. Ku akui mereka lumayan gesit dalam menggocek, ya… walaupun cara mereka menggiring bola masih jauh dari kata benar.

Di sana ada seorang anak perempuan yang membuatku terpikat, dari segi keahlian dia jauh lebih hebat dari pada teman-temannya. Caranya men-dribling bola sudah amat baik, walaupun dia belum sehebat anak-anak yang berusia jauh di atasnya.

Dia sudah cukup mengerti teknik bermain sepakbola, tapi walau aku senang dengan caranya bermain. Ada sisi lain diriku yang seakan mencoba mengingatkanku pada suatu hal, tapi entah apa aku melupakkannya.

Tapi sampai aku mengendarai motorku dan kembali tiba di sekolah, diriku masih merasa janggal. Seakan ada yang hilang dan tertinggal, dan aku merasa hal itu cukup penting dan tidak seharusnya aku melupakkannya.

Tapi entah apa aku tidak ingat…

.

.

.

"Ya! Dan aku yakin mereka bisa membuatnya goyah… Tidak! Tidak, bukan mereka. Hanya seorang saja. Aku amat yakin, aku sudah melihatnya langsung… Tidak mungkin aku melakukan suatu hal tanpa perencanaan yang matang sebelumnya.. Kita lihat saja nanti, aku berharap mereka sanggup maju terus… Jika kau melihatnya nanti kau akan percaya! Ah baiklah! Akan ku jelaskan secara rinci jika kita bertemu!"

Ini masih pukul setengah lima pagi, tapi siapa yang menghubungi Ayahku sepagi ini? Seingatku Ayah tidak akan seramah itu jika ada orang yang mengganggu waktu istirahatnya.

Tapi siapa orangnya dan apa beritanya? Entahlah? Itu tidak terlalu penting, lagi pula itu bukan urusanku.

.

.

.

Tapi sampai sekarang aku masih bertanya tim Futsal mana yang akan sanggup bertemu dengan tim Kurama, jika peringkat tim futsalku di tingkat nasional belum menurun. Maka pada pertndingan ini tidak akan di dapat juara 1, karena Kurama adalah tim yang memborong piala juara 1 nya.

Tapi jika aku bertemu dengan tim futsal putri maka tim futsal putri mana yang terbaik yang layak untuk berada dalam satu lapangan laga yang sama denganku, apa mereka adalah sekelompok gadis-gadis cheer? Semoga tidak, karena jika ya! Mereka akan merepotkan!

PoV End

To

Be

Continued

Gak ke bayang bisa update cepet, rencananya mau di update tanggal 7 nanti. Tapi sayangnya… kuota Suna di isi dalam waktu yang cepat, jadi bisa update cepat seperti sekarang ini…

Ada beberapa review yang nyantol di fic ini… berikut cekidotttt….

Tsukikohimechan: cantumin pair NaruHina-nya author-san

Ah ya! Diriku lupa mencantumkan hal penting tersebut.. terimakasih sudah mengingatkan

Byakugan no Hime: Next J kayanya menarik ficnya, so tuangkan terus imajinasimu :D

Apa iya menarik? Ku kira engga, apa lagi backgroundnya Futsal. Terkesan aneh ku pikir… terimakasih sudah mampir dan review. Jika memang Hime-san bilang fic ini menarik, akan ku buat menarik.

Megane Gals: Kyakya…. Hinata jadi pemain futsal. Naruto juga. Ehem, saya rasa karakter cowo disini terlalu Gary stu. Tapi, tidak apalah. Ini keren kok. Makasih udah nulis NH. Soalnya NH jarang banget sekarang hikseu :"V

Ada juga aku yang bilang makasih udah mau mampir plus review, Hinata-nya mau aku buat antimaenstream. Bosen kan kalo Hinatanya manis dan dia yang pertama suka sama Naruto? Jadi inilah Hinata versi aku :P Garu stu itu apa? Aku gak ngerti? Jadi maf untuk pertanyaan yang satu ini berhubung Authornya minim pengetahuan jadi gak bisa jawab *gubrak*

Dinaforever86: ohayou Yasuna-chan, aku suka fic ini, konflik ke depannya aku harap seru ya, huhuhu benar" langka sekarang ic NaruHina, dan lagi harapanku ini bisa jadi fict yg panjang hehe. Ganbatte buat mu…

Ohayou mou (hugs), untuk konflik aku kurang yakin bisa buat konflik seperti yang di harapkan, soalnya ya… antara Futsal dan cinta itu lumayan rumit. Jadi aku mau coba rangkai dulu kerangkanya baru di kembangin, untuk panjang fic… aku gak jamin, mungkin dari summary tokoh dan cerita bisa di tarik kesimpulan seberapa panjang fic buatanku. Rencananya sih… ya… sekitar 10 chapter ke atas… tapi entah mampu apa engga hihi :D

Ini ada fic ke Sembilan yang Suna publish, mungkin ke sepuluh jika di hitung dengan fic collab milik Suna dan Vanny Zhang. Sekarang fic ini sudah masuk di chapter 2, Suna sudah menyimpan dokumen fic ini di Akomi-kun selama 1 bulan. Mungkin untuk fic ini tidak akan ada istilah telat update, mungkin. Bukan berarti sempurna lhooo….

Suna pakai hotspot handphone soalnya, jadi kalo misalnya paketan Suna habis. Maka Suna juga tidak bisa publish atau pun update cerita buatan Suna.

...

...

..

.

Baiklah, kalian bisa menghubungi Ken-Ken (tumben sebut nama asli) melalui Facebook, Twitter, maupun BBM.

Jika melalui PM, Ken-ken jarang on FFn, kalau via Facebook pemberitahuan yang masuk di handphone Ken-Ken terlambat, jadi membalaspun terlambat.

Jika ada yang berniat menghubungi Ken-Ken melalui BBM, Ken-Ken tidak melarang. Silahkan saja, toh memang 75% kontak Ken-Ken adalah warga Negara FFN.

54F6566B, itu adalah PIN BBM Ken-Ken. Bisa di invite, bukan maksud promote.

Dari pada ada yang review dan Ken-ken tidak bisa balas, juga sebagainya. Jadi di sarankan melalui BBM, jika beberapa yang sudah menghubungi Ken-Ken via FB atau yang lainnya tidak apa-apa. Hanya saja, mohon maaf jika Ken-Ken membalasnya lama.

Terimakasih atas pengertiannya.

Salam,

Yasuna Katakushi.

Next Update 17 September di jam yang sama. Semoga bisa lebih cepat seperti sekarang…