Yasuna Katakushi Present…

One Word, Say Sorry..

Pairing: Naruto Uzumaki, Hyuuga Hinata.

Genre: Romance, Drama, H/C.

Word: 3,089

Summary: (Penokohan), Hyuuga Hinata. Gadis cantik, manis, sempurna, tapi siapa sangka. Sosok berbalut kulit seputih porselen itu merupakan punggawa kebanggan tim futsal sekolahnya? Gadis berkedudukan sebagai ujung tombak tersebut sudah di percaya tim futsal inti sekolahnya untuk terjun langsung di arena pertandingan. Normalnya futsal putri akan bertarung melawan tim futsal putri juga. Tapi apa jadinya jika tim futsal putri akan melawan tim futsal putra, yang jauh lebih mumpuni dalam bidang sepakbola? / Naruto Uzumaki, punggawa tampan dengan garis wajahnya yang tegas, di tambah dengan tiga pasang goresan di dua sisi pipinya yang menambah kesan manis pada wajahnya. Sosok pangeran dari sekolahnya, sekaligus anak tunggal dari pemilik saham terbesar di dua tim setan lapangan asal Inggris. Manchester United dan Chelsea, Ayahnya. Minato Namikaze, pengusaha yang menguasai hampir separuh dari total saham di kedua tim raksasa tersebut.

Summary: (Cerita) bertepatan dengan hari jadi perusahaan yang bergelut di bidang entertainment Nazu Production, pada hari jadinya yang ke 20 tahun. Nazu Production mengadakan event laga persahabatan, termasuk bidang olahraga futsal, dan dalam laga tersebut. Tim putra dan putri akan bertarung, pertarungan dengan perwakilan sekolah ini akan berlangsung kurang lebih selama 45 hari lamanya. Dan apa yang akan terjadi jika tim futsal putra bertarung dengan tim futsal putri? Akankah berjalan secara Sportif?

Persiapan!

Nazu Gakuen, sekolah berstandar Internasional yang menggunakan kurikulum sendiri. Sekolah yang merogoh kocek lebih dari 7,5 juta Yen setiap tahunnya, ya. Sekolah milik yayasan keluarga Namikaze dan Uzumaki ini memang sekolah elit yang tersebar di Jepang, sekolah yang memiliki lebih dari 150 cabang di Jepang ini baru berdiri tak lebih dari 20 Tahun. Tapi biar masih berusia muda, Nazu Gakuen dapat berkembang pesat di tengah gencar-gencarnya bisnis sekolah.

DBUKK! DBUKK! CRASSH! DBAMM!

Suara dentuman pagar jeruji pembatas lapangan futsal yang beradu dengan bola blitter, tendangan demi tendangan terus di lakukan para punggawa Kurama beserta anggota Futsal lainnya. Tanpa di suruh pun mereka akan berlatih dengan sendirinya, futsal adalah bagian dari hidup mereka. Juga sudah menjadi rutinitas wajib bagi mereka.

Naruto melangkah masuk ke dalam ruangan tempat biasa mereka berlatih, tubuhnya sudah di balut pakaian sepak bola berwana putih dengan kaus kaki panjang berwarna hitam. Tak lepas juga sepatu futsal hitam dengan torehan oranye di sisi luar sepatunya.

Berdiri memandang para adik kelasnya yang sedang melakukan streaching dan passing ringan, entah kenapa dia bosan suasana monoton seperti ini. Latihan Indoor? Itu sudah biasa!

Tidak selamanya futsal di lakukan di tempat tertutup, jika suatu hari nanti mereka bertanding di lapangan terbuka dan mereka tidak terbiasa? Itu akan berdampak pada hasil akhir pertandingan bukan?

"Guys!" Seruan suara baritone menggema. Bersamaan dengan itu seisi ruangan pun menoleh ke asal suara.

"Kita berlatih di luar!" Perintah Naruto lalu berjalan keluar ruangan.

Jika berlatih di luar ruangan Naruto sudah terbiasa, bagaimana tidak? Nyaris sehabis pulang sekolah dia akan mampir di salah satu lapangan futsal terbuka dan bermain dengan para remaja yang memang kebetulan sedang ada di sana.

Menjadi anak orang kaya dan sekolah di sekolah elit tidak menjadi alasan bagi Naruto untuk tidak bergaul. Dia adalah tipe orang yang friendly, dia mau bergaul dengan siapa saja asal mereka bisa membuatnya nyaman.

Naruto berdiri di luar gedung sekolahnya, memandang sekolah megah yang terdiri dari 4 kompleks jenjang sekolah tersebut. Sapphirenya berhenti pada gedung Nazu Gakuen yang terdiri dari 8 lantai, dan kemudian beralih pada lapangan basket di bagian sudut kompleks sekolah.

"Kita lari 10 menit mengelilingi lapangan ini! Tidak boleh ada yang jogging, jika sampai aku melihat ada yang jogging. Akan ku hukum kalian!" Ujar Naruto saat melihat semua anggota tim futsal sudah keluar dari ruangan.

"Kau akan kemana?" Tanya Sasuke yang baru keluar dari kelasnya.

"Aku mau melakukan Streaching ala-ku sendiri." Ujar Naruto singkat. Dan pergi menuju gedung Gakuen.

Sedangkan Sasuke dia pergi menuju jemputannya dan langsung ke tempat shootingnya, kegiatan club ataupun ekstrakulikuler memang kebanyakkan di laksanakan sepulang sekolah. Tapi ada juga yang di laksanakan di luar hari sekolah.

.

.

.

Naruto berlari menuju gedung utama, dan menuju tangga Darurat. Gedung utama ini di pakai sebagai gedung Sekolah Menengah Atas, gedung yang terdiri dari 8 lantai ini lebih sering menggunakan lift untuk menjadi sarana siswa maupun guru untuk naik dan turun. Maka dari itu tangga darurat amat jarang di gunakan.

Naruto berlari sekarang dia sudah berada di lantai 3 gedung utama, dia lebih suka melakukan streaching dengan cara lari naik turun tangga di banding dengan lari keliling lapangan selama 10 menit.

Lari terus berlari.. dia akan naik turun tangga darurat menuju lantai 8 sebanyak 2 kali. Atau mungkin lebih dari itu, dan sekarang dia sedang turun dari lantai 8 menuju lantai 7. Kakinya sudah terasa gemetar, tidak seperti biasanya.

Jika biasanya dia akan merasa kelelahan saat di turun dari lantai 8 di putaran ke dua, tapi putaran pertama saja dia sudah kewalahan.

'Ada apa ini?' Batinnya gusar.

Sekarang dia tidak sedang berlari, dia memilih berjalan. Dia sudah tidak sanggup, walaupun masih tersisa 3 lantai lagi untuk sampai pada lantai dasar.

.

.

.

"Brother!" Panggil Hinata pada seorang pria berambut hitam jabrik.

"Ada apa?" Sahutnya singkat.

"Kapan kita mulai berlatih, atau mungkin melakukang sparing?" Tanya Hinata sambil mengatur napasnya.

"Benar juga! Nazu sedang membuka peluang!" Pria ini tampak berpikir untuk memilih waktu yang pas untuk futsal putra dan putri untuk berlatih.

"Nanti akan ku pikirkan lagi!" Sambung pria yang menjabat sebagai guru kepala perpustakaan tersebut, Yamahiko Baressi.

Hinata tak menjawab, dia hanya memasang ekspresi kecewa. Bukan jawaban ini yang dia inginkan, dasar pelatih yang tidak pengertian!

"Tapi untuk para Sisters, kalian ku izinkan untuk melakukan latihan di luar sampai 1 minggu sebelum tanggal pelaksanaan!" Ujar guru tadi sambil berlalu pergi.

Hinata hanya tersenyum, ini juga bukan jawaban yang dia inginkan. Tapi ini juga tidak terlalu buruk. Jauh lebih baik dari pada tidak di tanggapi.

_SKIP TIME_

Naruto masih mengawasi para anggota klub lainnya, di antara mereka ada yang melakukan passing dengan sesama, ada pula yang berlatih dribbling, dan menggocek bola dengan media corong beraneka warna.

Sedangkan dia sendiri sambil mengawasi mencoba passing dengan tembok yang di anggap sebagai lawan, bukan karena dia malas dengan lawan manusia. Caranya mempass bola menggunakan tenaga yang lumayan kuat, pernah terjadi. Dia menendang bola terlalu kuat, dan berakhir membuat tulang kering lawannya nyaris retak.

Dan itu membuatnya trauma sampai sekarang.

.

.

.

H-1 perlaksanaan.

.

.

Hinata berjalan masuk menuju sekolahnya, kakinya terasa bergetar. Dan terlebih lagi, bibirnya yang tersenyum dan bibir bawahnya yang sengaja di gigit. Hari ini hari yang telah di tunggunya sejak 3 minggu yang lalu, hari di mana dia bisa bertanding langsung. Dan berkesempatan bertanding dengan tim Futsal Nazu Gakuen, tidak! Kurama, ya nama tim itu adalah Kurama.

Hari ini Hinata dan timnya akan melakukan persiapan mental, mereka hanya akan mendapat 'siraman' pedas dari Brother mereka. Baressi, dia akan melakukan hal yang tidak akan kalian pikirkan sebelumnya. Menyiapkan mental para anak didiknya dengan cara tersendiri.

"Cepat!" Teriak Baressi dan di susul tiupan pluit yang menggantung apik di lehernya.

Tida perlu di perintah 2 kali, para Brothers dan Sisters langsung berkumpul di depan Baressi membentuk sebuah barisan.

"Siapa kalian?" Tanya Baresi dengan nada rendah.

"Football Futsal, Brother Sister, Brother Sister KoGa!" Seru semua yang ada di sana serempak dengan nada semangat.

"Aku Tanya SIAPA KALIAN?!" Tanya Bressi setengah berteriak.

"Football Futsal Brother Sister, Brother Sister KoGa!" Seru anak-anak itu tak mengurangi nada semangat pada tiap kata yang di ucapkannya.

"Jika itu benar, buktikan! Kalian sudah di kenal di luar sana, mereka mengenal siapa Futsal yang dapat di perhitungkan! Dan untuk para Sisters, aku tidak ingin kalian menangis saat kalian kalah!" Kata-kata terus keluar dari mulut Baressi tanpa henti, kalimat ampuh untuk membakar para adik-adiknya.

Keluarga, mereka adalah keluarga kecil yang amat besar. Second home yang 'tak 'kan terlupakan. Rumah di mana bisa kalian temui di banyak tempat. Futsal, itulah keluarga yang mengikat mereka sekarang.

"Aku ingin melihat kalian bermain sportif, jika keadaan sudah mendesak. Out-kan bola itu, atau oper kembali pada tim di belakang! Jangan sampai kalian menguasai bola itu sendiri tanpa memikirkan yang lain!" Baressi berhenti sesaat, menunduk. Itu yang dia lakukan sekarang.

Takut, siapa yang tidak takut jika anggota keluarga kalian bertanding membawa nama baik keluarga kalian? Sipa yang tidak gusar jika adik tersayang kalian pergi meninggalkan rumah dalam waktu yang cukup lama? Siapa yang tidak khawatir jika apa yang berharga bagi kalian akan menjadi barang taruhan?

Itu yang sekarang di rasakan oleh Baressi, air matanya mengalir keluar. Dia terkenang kembali saat beberapa tahun yang lalu, saat di mana dia masih menjadi murid dari Konoha Gakuen. Saat di mana sekolahnya hanya sekolah biasa yang hanya memiliki 12 ruangan, saat di mana segala-galanya masih di pandang sebelah mata.

Saat di mana dia berjuang mati-matian untuk bisa membuat adik-adiknya bisa berlatih Futsal, saat di mana dia berusaha mencari dana sendiri untuk membiayai perlombaan untuk Futsal Sekolahnya. Saat di mana mereka hanya bertanding dengan kostum yang memiiki warna yang sama namuan berbeda corak, bukan kostum khusus pertandingan.

Dan perlahan tapi pasti, sekolah mereka mulai mendapat perhatian lebih dari pihak pemerintah. Itu semua berkat prestasi yang sekolah itu raih, terbawa suasana yang tercipta. Baik Brothers maupun Sisters, mereka menundukkan kepala. Mereka sudah sering mendengar ceramahan seperti ini dari Baressi, tapi entah kenapa mereka merasa ada sesuatu yang berbeda yang terselip di dalamnya.

Mereka ingin menangis, tapi jika mereka menangis. Sama juga mereka menghina Baressi, mereka tidak mau di panggil Pendurhaka, atau si Kurang Ajar. Mereka hanya mampu terpejam.

"Bukan piala maupun sertifikat yang aku inginkan, tapi bukti latihan kalian selama ini. Buat apa mereka berlatih selama 3 jam sehari, tapi tidak bisa memberikan yang terbaik. Sama saja bohong! Untuk apa kalian kelelahan selama ini, untuk apa kalian membuang waktu berjam-jam selama ini? Hanya untuk di pamerkan ke orang lain?! Atau hanya untuk formalitas saja?!" Mata Baressi terbuka, retinanya mulai memerah. Ingin menangis, tapi air matanya tak cukup untuk mewakili dirinya.

"Atau yang lebih buruk untuk menghinaku, jeri payahku, juga nama baik sokolah ini. Iya?!"

Mereka kembali terdiam, kembali merenungkan masa-masa kelam yang dahulu pernah di alami oleh Baressi. Bukan karena tangis atau apa, hanya saja ini bentuk dari rasa syukur mereka. Bersyukur mereka bisa bersekolah dengan segala fasilitas dan perlengkapan belajar lainnya yang lengkap.

"Tidak Brother!" Jawab mereka serempak.

.

.

Someone PoV

Apa yang kalian pikirkan saat kalian mendengar kata cantik? Itu unik bagiku! Dia cantik, dan dia unik. Dia berbeda dari yang lain, dia tidak sama dengan yang lain!

Aku suka segala sesuatu yang ada pada dirinya, dia memiliki segala yang aku butuhkan. Wajah cantik, sifat baik, di tambah skill tak terduga yang tertutup rapih di balik case gadis yang di milikinya.

Dia Hyuuga Hinata, aku belum mengenal baik dirinya, bahkan aku berani jamin. Dia tidak mengenal diriku, bahkan mungkin siapa diriku tidak akan pernah terlintas di pikirannya. Tapi aku berani jamin. Akan ku buat dia bertekuk lutut terhadapku!

Someone PoV EnD

.

.

.

"Sparing?!" Teriak suara cempreng yang keluar dari mulut Captain tim futsal Nazu Gakuen.

"Kenapa kau takut? Pertandinganmu saat di final kan?" Sahut suara dewasa dengan nada yang lebih santai di banding orang sebelumnya.

"Bukan begitu, hanya saja.. ada yang ingin aku lakukan selama pertandingan berlangsung." Jawab Naruto sayu, semangatnya seakan hilang lenyap entah kemana.

Bagaimana tidak? Kurama di jadwalkan sparing dengan tim lawan yang mengikuti Liga Futsal Jepang, dan itu akan berlangsung saat pertandingan perdana Laga Persahabatan Nazu Passions di mulai yaitu besok!

Sparing dadakan?! Oh ayolah apa tidak salah memilih hari? Apa tidak salah memilih tim? Apa yang sebenarnya di inginkan oleh para tim itu sih?! Mungkin itu adalah beberapa umpatan yang keluar dari mulut Naruto, tapi umpatan itu hanya di wakilkan dengan sebuah decakkan tak senang.

"Oh ayolah Naru, itu tidak seburuk asumsimu…" Ujar salah satu bagian dari Kurama. Obito Uchiha.

"Terserah sajalah, aku lapar. Dan kalian tau harus mencariku kemana!" Seru Naruto pergi meninggalkan anggota tim Futsal Nazu yang lainnya.

"Dia mulai lagi.." Keluh Obito selepas kepergian Naruto, di susul anggukan kepala yang lainnya.

.

.

.

Setelah 'siraman' tadi, kini para Sisters dan Brothers sedang melakukan game ringan. Game tumpang tindih, game antara tim futsal putra dan putri begitulah mereka menyebutnya.

Hinata berlari menuju ke arah salah satu anggota tim futsal putra yang sedang serius menggiring bola, tubuh kecil nan ramping sangat menguntungkan Hinata. Terutama dalam hal berlari, seakan tubuhnya ringan tanpa beban sedikitpun.

"Sleding Teackle!" Seru Hinata sambil melakukan gerakan sleding dari arah belakang, dan tubuhnya dengan mulus meluncur melalui sela-sela antara kaki kanan dan kaki kiri lawan.

Bersamaan dengan itu, bola yang sedang di giring pun terdorong akibat gerakkan Hinata. Hinata yang muncul dari arah bawah tubuh lawan, dengan gesit langsung bangun dari posisinya lalu mengejar bola dan mendribling berputar menjauhi gawang timnya.

Terus mendriblingnya dan melakukan pola Difen (Author lupa tulisannya yang bener kaya gimana), dan mengoper ke arah Ten-Ten yang sudah siap di arah belakang Hinata.

"Teackle out!" Ujar Hinata men-teackle bola ke arah Ten-Ten.

"Teackle out success!" Ujar Ten-Ten saat berhasil menangkap bola dari Hinata, sedangkan Konan sudah bersiap dengan tendangan kidal andalannya.

"Tsubatsa Tecnique!" Seru Konan, bersamaan dengan itu bola tertendang ke arah gawang tim futsal putra.

CTAKKK!

Bola tadi menabrak tiang bagian bawah gawang, dan al hasil gol gagal tercetak.

"One More Sleding!" Seru Hinata melakukan gerakan sleding, dan menjadikan lutut kirinya sebagai alas untuk melakukan gerakan sleding.

"GOOOL!" Seru anggota tim futsal putri yang lainnya.

PRITTT!

Tiupan pluit yang berasal dari Baressi terpaksa menghentikan aksi selebrasi konyol ala futsal putri yang menamakan diri mereka dengan sebutan Tsubatsa team.

Mereka semua berkumpul, membentuk posisi berbaris walau dalam keadaan duduk. Ada yang bersandar satu sama lain, ada pula yang tiduran saling tumpang tindih. Mereka tampak kelelahan, Baressi yang melihatnya hanya dapat tersenyum.

"Aku sudah mendapat jadwal pertandingan kita." Ujar Baressi santai, dan di susul dengan gerakkan sigap penuh kepenasaran para adik-adiknya.

"Baiklah, di minggu pertama. Kita hanya akan bertarung sebanyak 10 kali, itu terdiri dari 6 kali pertandingan untuk para Brothers dan 4 kali untuk para Sisters kita." Mereka saling melirik sama lain.

"Pertandingkan akan di laksanakan di hari pertama, kedua, kelima, dan keenam. Kita sendiri berada di group B dan untuk para Sisters, kalian berada di group E. Jadwal kita tidak bentrok dan ini sangat menguntungkan, jadi ku harap kalian dapat melakukan yang terbaik." Ujar Baressi menatap semuanya satu persatu.

"Tapi biar begitu, lawan lama kita telah kembali." Ujar Baressi dengan rahang yang mengeras.

"Setelah 3 tahun vacuum dari laga maupun sparing terbuka, mereka kembali datang. Dan tentunya, mereka selalu siap menjatuhkan kita saat ada celah. Bisa jadi kita akan bertemu dengan mereka atau dengan Nazu saat di final nanti." Ujar Baressi dan di susul bisik-bisik dari para member yang lain.

"Mereka tidak pernah menampakkan ekspresi saat berada di lapangan."

"Yang ku dengar, bahkan mereka dapat mematahkan tulang lawannya."

"Mereka tidak segan-segan melukai lawannya."

"Mereka sangat senang bermain kekerasan."

Sekian banyak ucapan yang keluar dari mulut para Brothers membuat bulu kuduk Hinata dan para Sisters yang lain merinding, sebenarnya mereka itu siapa. Sampai banyak sekali gambaran-gambaran mengerikan mengenai mereka.

"Itu bukanlah mereka, jika dulu mereka menampakkan wujud iblis mereka. Tapi sekarang, mereka akan menampakkan wujud malaikat dan di susul sifat buas mereka." Ujar Baressi membuat yang lain makin pansaran.

"Tapi aku berharap kalian dapat lolos di babak penyisihan group, setidaknya.. sanggupkan stamina semangat dan fisik kalian sampai di penyisihan perempat final. Ini masih terlalu awal utuk kalah, tapi terlalu cepat dan tidak akan menyenangkan jika kita tidak menang bukan?" Ujar Baressi dengan nada mengejek dan di susul sahutan seperti tawaan, cemoohan, dan kalimat hiburan lainnya.

Mereka selalu dapat menyesuaikan suasana, dan mereka selalu dapat menjadi yang terbaik. Demi orang-orang yang mereka kasihi.

"Baik, sekarang sudah pukul 10, dan itu artinya kalian sudah boleh bubar dan pulang ke rumah masing-masing."

Baressi pun pergi di susul dengan tanda tanya yang terus melintas di pikiran anggota futsal yang lainnya.

Siapa sebenarnya sosok tim tersebut?

"Kita akan segera bertemu sayang, cepat atau lambat. Dan ku pastikan mereka tidak akan menjadi penghalang jalannya rencanaku." Senyum sinis terpatri di bibir pemuda tadi, nada bicaranya yang meremehkan. Juga otak jahatnya yang berpikir licik untuk ke depannya.

To

Be

Continued

Oke, chapter ketiga terlah update. Suna gak tau kenapa semangat banget nulis fic satu ini, apresiasi readers yang emang bikin Suna semangat. Di chapter ini sengaja Suna skip sampai 3 minggu, supa bisa langsung masuk di konflik. Kalo emang mau di bahas sampe 3 minggu itu bisa sampe berapa chapter, jadi Suna persingkat. Word chapter ini juga lebih pendek, gak sebanyak chapter sebelumnya (bukan jumlah total word, tapi di bagian ceritanya aja).

Untuk beberapa event futsal yang jadi pokok bahasan cerita, itu Suna selingin sama real story, kalo cuma berkhayal takut hasilnya aneh *jduaaakkk*

Naah… sekarang tiba saatnya untuk membalas review…

Byakugan no Hime: Yah jarang aja ada fic para cewe pemain futsal, jdi menarik aja ceritanya J yup lanjutkan

Ini sudah di lanjut, terimakasih atas dukungannya. Semoga kata menarik itu tetap dapat ada pada fic ini sampai chapter terakhir nanti…

Megane Gals: Greget sumvah sama NaruHina di sini. Suka banget sama cerita beginian. Apalagi latarnya anti maenstrum. Futsal! Gary stu itu tokoh cowok yang terlalu sempurna gitu. Kaya, pinter, banyak yang naksir, dan sebagaianya. Saya ngerasa jika Naruto dkk itu terlalu Gary stu disini.

Lanjut! :3

Naruto dkk terlalu sempurna yaa? Kalo memang iya, maka Hinata akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi mereka punya kelemahan yang juga antimaentream macam background fic ini, hanya saja gak akan di munculkan di awal. Munkin di pertengahan atau menjelang akhir cerita.

Sifat atau karakteristik seseorang dapat menjadi sebuah boomerang, kekurangan, dan lain sebagainya. Dan ada banyak hal lain yang ga Suna sebutkan sebagai kelebihan Naruto dkk, dan mungkin itulah kekurangannya.

Terimakasih atas partisipasi dan terimakasih sudah mau mampir…

Dinamrdliana: Hehehe bagus deh kalo yasu-chan update cepet yang seneng kan readers ny ckck… Tambah seru nih, alurny enak cius deh, yang psti makin semangat aja deh buat Yasu-chan nulisny, kgak sabar nunggu chap 3 ny.. Ganbatte

Fic ini alurnya enak gara-gara nulisnya sambil tiduran :P makasih atas pujiannya, author juga mau update cepet. Soalnya pernah ngerasain di php dengan iming-iming update cepet, tapi nyatanya lama bukan main.

Manggilnya Suna aja biar lebih srek, ini chapter 3 sudah update

Guest: Hwaaa… cerita na bikin greget atuh, cpetan aja ya, keren bgt dah cerita na, anti-maenstream. Jaa ne

Makasih atuh, udah nyempetin waktu na buat ngabaca carita buatan abdi. Punteun nyaaa… kalo carita na kurang bagus di chapter katilu ieu. Punteun juga nyaa.. update na kalamaan, ieu chapter katilu udah di update.

Sekian balasan review dari chapter sebelumnya, silahkan cantumkan review di kolom review yang tersedia.

Terimakasih atas waktunya, Jaa…. Sampai bertemu di chapter 4

next update... maunya kapan nih?

sekarang tanggal 16 september, gimana kalo tanggal 30 aja? gapapa kan? kalo sempet di undur jadi tanggal 25 tapi kemungkinan paling lambatnya yaa... tanggal 30 september... oke!