Yasuna Katakushi Present…

One Word, Say Sorry..

Pairing: Naruto Uzumaki, Hyuuga Hinata.

Genre: Romance, Drama, H/C.

Word: 3,724

Summary: (Penokohan), Hyuuga Hinata. Gadis cantik, manis, sempurna, tapi siapa sangka. Sosok berbalut kulit seputih porselen itu merupakan punggawa kebanggan tim futsal sekolahnya? Gadis berkedudukan sebagai ujung tombak tersebut sudah di percaya tim futsal inti sekolahnya untuk terjun langsung di arena pertandingan. Normalnya futsal putri akan bertarung melawan tim futsal putri juga. Tapi apa jadinya jika tim futsal putri akan melawan tim futsal putra, yang jauh lebih mumpuni dalam bidang sepakbola? / Naruto Uzumaki, punggawa tampan dengan garis wajahnya yang tegas, di tambah dengan tiga pasang goresan di dua sisi pipinya yang menambah kesan manis pada wajahnya. Sosok pangeran dari sekolahnya, sekaligus anak tunggal dari pemilik saham terbesar di dua tim setan lapangan asal Inggris. Manchester United dan Chelsea, Ayahnya. Minato Namikaze, pengusaha yang menguasai hampir separuh dari total saham di kedua tim raksasa tersebut.

Summary: (Cerita) bertepatan dengan hari jadi perusahaan yang bergelut di bidang entertainment Nazu Production, pada hari jadinya yang ke 20 tahun. Nazu Production mengadakan event laga persahabatan, termasuk bidang olahraga futsal, dan dalam laga tersebut. Tim putra dan putri akan bertarung, pertarungan dengan perwakilan sekolah ini akan berlangsung kurang lebih selama 45 hari lamanya. Dan apa yang akan terjadi jika tim futsal putra bertarung dengan tim futsal putri? Akankah berjalan secara Sportif?

Permulaan!

Para Sisters bersekolah seperti biasa, hari ini adalah hari pertama liga persahabatan yang di adakan oleh Nazu Gakuen. Lebih tepatnya sore nanti baru akan di adakan upacara pembukaan, pelaksanaan sendiri akan di adakan di sebuah lapangan futsal indoor yang memang milik Nazu Gakuen. Letaknya sendiri tidak jauh dari Nazu Gakuen, hanya saja letak lapangan menyesuaikan dengan para peserta yang juga berasal dari luar kota.

Lapangan yang di gunakan sendiri tidak hanya satu buah lapangan, tapi lapangan yang di gunakan terdiri dari 7 lapangan. 5 di antaranya indoor, dan 2 di antaranya adalah lapangan outdoor.

4 lapangan utama berada dalam satu komplek yang sama, yaitu U-Zhi Gym lapangan ini adalah lapangan indoor. Tapi 3 lapangan lainnya berada di tempat berbeda, 1 lapangan indoor dekat dengan hotel para peserta luar kota. Dan dua lapangan sisanya merupakan lapangan outdoor yang terletak di salah satu pusat olahraga publik.

Letaknya sendiri berada di alun-alun Konoha, pelaksanaan liga sendiri yang letaknya dekat dari sekolah cukup menguntungkan. Mereka masih dapat berseklah seperti biasa, dan berangkat menuju Nazu Gakuen saat mereka pulang sekolah nanti.

"Kau sudah mempersiapkan semuanya?" Tanya Sarah yang memang satu kelas, juga duduk sebangku dengan Hinata.

"Kostum sudah, sepatu dan perlengkapan cadangan sudah, perlengkapan captain sudah, bekal sudah, uang sudah, apa lagi yang kurang?" Tanyanya pada Sarah sambil memperhatikan perlengkapan yang di bawa olehnya.

"Jaket!" Seru Hinata dan Sarah bersamaan.

Yah… Futsal KoGa memang memiliki jaket yang di pakai menutupi jersey mereka, Jaket yang menyerupai sebuah almamater dari bentuknya sekilas, tapi dari segi design bentuknya lebih condong ke arah jaket ketimbang sebuah almamater.

Jaket dengan background biru dongker dengan bordiran 4 huruf capital berwarna kuning terang terjahit manis pada punggung belakang jaket 'FFBS'. Dan bordiran berwarna kuning terang dengan otlline putih bertuliskan kepanjangan dari 4 huruf di atasnya. 'Football Futsal Brother Sister'.

Nama yang amat familiar di kalangan petarung lapangan, tapi ada dua buah nama lagi yang berdampingan satu berada di depannya, dan satu lagi sejajar dengannya. Kurama punggawa futsal Nazu dengan fisik rupawan, dan legenda yang sudah lama tertidur dan di kabarkan sudah terbangun dari tidur pulasnya. Entah siapa mereka, tidak ada yang tau pasti.

"Kau sudah dapat selebaran untuk jadwal nanti?" Tanya Hinata pada Sarah.

"Sudah." Jawabnya sambil menunjukkan enam lembar kertas yang di satukan dengan penjepit kertas.

Hinata melihatnya dengan seksama, mulai dari group A tim putra, sampai group E tim putri. Ada satu nama yang mengganjal, nama sebuah sekolah. Yang terkenal akan kedisiplinannya,

"Sekolah Penerbangan Kagutsuki?" Tanya Hinata pada Sarah sambil melafalkan nama sekolah tersebut.

"Aku tidak tau itu sekolah macam apa, dan bagaimana tim futsalnya. Tapi yang ku tau, kita harus mewaspadainya, kita tidak tau tim mana yang di maksud oleh Baressi Brother." Ujar Sarah mengambil kembali jadwal pertandingan miliknya.

.

.

.

Sekolah Penerbangan Kagutsuki di dirikan pada tahun 19XX oleh pria berkebangsaan Jepang-Jerman, pria ini merupakan salah satu pilot yang cukup terkenal di eranya. Terutama saat bendera Nazi masih berkibar, dan Hitler masih berkuasa.

Sekolah ini dahulunya di khususkan untuk para laki-laki saja, dan hanya ada di tingkat perguruan tinggi. Tapi seiring perkembangan jaman, Kagutsuki membuka tingkatan sekolah baru yaitu Chogakko dan Gakuen. Pesatnya dunia pendidikan membuat Kagutsuki membuka cabang lain di jepang.

Sampai saat ini setelah lebih dari 80 tahun bergelut di dunia pendidikan Kagutsuki sudah memiliki 120 cabang lebih, yang terdiri dari TK dan sekolah dasar umum, dan SMP dan SMA yang lebih mengarah ke penerbangan. Dan tidak melupakan Sekolah Tinggi Penerbangan yang menjadi dasar berdirinya Yayasan Kagutsuki.

Hinata membaca artikel yang di carinya di internet, kurang. Semua artikel yang sudah di bacanya kurang lengkap, tidak adakah pihak yang berniat mencari tau tentang sekolah ini?

Bahkan halaman web resminya saja di tulis dalam bahasa Jerman bukan Jepang.

"Ahh!" Keluh Hinata.

Informasi tak di dapat, kouta habis pula. Bagai jatuh tertimpa tangga.

.

.

.

Saat kabut datang, kepanikan melanda.

Saat matahari datang, kebencian terlahir.

Saat hujan turun, amarah membuncah.

Tapi, saat busur itu muncul.

Busur lain pun tercipta.

Senyum seindah pelangi.

.

.

Naruto sedang berada di ruang OSIS, ruang yang memang di pergunakan sebagai ruang panitia. Di dalamnya Naruto sedang mempelajari dan melihat jadwal acara pertandingan.

"Jika Kazefield bertemu dengan Iwa Garden School, mungkin hasil akhir akan menjadi… 4-2. Ah tidak! Bisa jadi imbang dan berakhir pada tendangan pinalti, atau mungkin… selisih yang lumayan jauh. Tapi tetap Kafi yang memimpin. Ahh! Mereka membuatku gila!" Ocehan demi ocehan keluar dari mulut Naruto.

Dia hanya mencoba menebak siapakah yang dapat masuk di final nanti, akan ada dua tim yang bertemu dengannya di final nanti. Futsal putra dan futsal putri, dua tim berbeda gender yang tidak bisa di remehkan kemampuannya.

"Sekolah Penerbangan Kagutsuki?" Gumam Naruto membaca nama sekolah yang berasal dari Group C.

Kagutsuki

Kagutsuki

Kagutsuki

Nama itu… mencoba mengingatnya, dan kembali pada saat 3 tahun yang lalu. Dan berita menggemparkan 5 tahun yang lalu, tepatnya 2 tahun sebelum keputusan itu mereka ambil.

Menggambil Smartphone miliknya dan segera membuka situs internet, apa lagi kalau bukan google. Situs terpercaya untuk mencari sebuah informasi terbaru, bahkan terlama sekalipun

Bone Team memilih vacuum untuk waktu yang tak dapat di pastikan, banyak yang bilang. Mereka akan vacuum selama 5 tahun, atau mungkin tidak akan kembali lagi. Pasalnya sekolah mereka berada di ambang batas.

Sekolah yang tahun ini resmi berusia 56 tahun di kabarkan akan menutup separuh dari cabang yang mereka miliki. Dan kembali vacuum dari dunia pendidikan umum, dan kembali fokus pada dunia penerbangan.

Kaget, ya! Sekolah elit yang mampu menyaingi Nazu ini akan di tutup separuh saham, ohh.. jangan bercanda. Mereka terlalu berprestasi jika harus berhenti berkarya sekarang, tapi banyak sumber yang mengatakan bahwa ada campur tangan pihak dalam. Dan kabar ini hanya kebohongan, dan sebagai alasan pengalih perhatian publik.

Naruto menggelengkan kepala, tidak ada informasi yang cocok dengan fakta yang sebenarnya, jika memang tidak ada yang akurat. Setidaknya berikan berita atau artikel yang hampir mendekati sebenarnya, walau harus di beri bubuk-bubuk kebohongan sedikit.

Ibu jarinya bergerak untuk mengklik link website selanjutnya, tapi matanya teruju pada link terkait yang ada di bagian paling bawah halaman inti.

"Skandal yang mengharuskan Kagutsuki di tutup." Alisnya terangkat, skandal? Dia tidak pernah tau Kagutsuki di tutup karena skandal?

Kagutsuki adalah sekolah yang mengikat para siswanya untuk terus berkarya demi nama baik sekolah, tidak ada tau pasti kenapa hal ini menjadi sorotan publik . Tapi ada berita simpang siur yang beredar mengatakan bahwa mereka melatih siswanya terlalu keras, bahkan gencar di kabarkan di media massa bahwa ada siswi mereka yang meninggal karena perlakuan melanggar HAM ini.

Belum lagi skandal seks bebas yang menjerat sekolah ini beberapa waktu yang lalu, di tambah lagi dengan merosotnya para peserta yang di kirimkan oleh Kagutsuki dalam Olimpiade Nasional. Berita ini semakin di perkuat dengan hal-hal tersebut.

Sekolah penerbangan terbaik asuhan keluarga Kaguya ini semakin merosot dengan naiknya Nazu Gakuen sebagai pemenang Olimpiade Sains, di tambah dengan Konoha Gakuen yang mulai berani menunjukkan taringnya di kancah Nasional.

Semakin terpuruklah sekolah ini, belum lagi jumlah peserta didik yang masuk ke sana semakin berkurang dengan adanya berita ini.

Di kutip dari Media Harian Menteri Pendidikan dan Situs pemantauan Anak Konoha.

Naruto terdiam, memandang langit-langit ruang OSIS. Jika berita ini benar, bagaimana bisa Kagutsuki bangkit kembali? Apa ada seorang promotor yang sudah kelebihan uang sehingga memberikan uangnya untuk Kagutsuki?

Atau mereka mencuri dana yang di sediakan pemerintah bagi sekolah-sekolah Negeri yang memang sudah di sediakan?

"Mencari tau rupanya."

Naruto menoleh ke asal suara, pria tinggi berambut perak dengan mata lavender pucat yang tengah berdiri memandangnya dengan tatapan tidak suka.

"Kami tidak semudah itu jatuh." Ujar sosok itu sarkasme.

"Dan kau tidak akan pernah bisa naik lagi!" Ujar Naruto bangkit dari duduknya.

"Ku rasa, ada baiknya Nazu merasakan apa yang dulu pernah Kagutsuki rasakan."

"Tidak akan ku biarkan kau mengusik keluargaku!" Bela Naruto.

"Bukan sekarang waktunya, tapi akan ku pastikan itu saat di final nanti." Sosok itu pergi meninggalkan Naruto yang masih berusaha menahan emosinya.

Bagaimana? Hanya pertanyaan itu yang dapat muncul di kepala Naruto.

Setan lapangan yang sebenarnya sudah datang, dan mereka siap melahap apa saja yang akan mengganggunya.

Naruto tidak ingin ada hal buruk yang mengganggu jalannya pertandingan nanti, ini mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Iblis. Lucifer yang berkeliaran di dunia nyata.

"Mari kita lihat." Ujar Naruto dengan sapphirenya yang berubah kelam.

.

.

.

Sekarang sudah pukul dua siang, dan sekarang sebuah lapangan futsal sintesis indoor sudah di penuhi oleh banyak peserta maupun penonton yang ingin melihat jalannya pertandingan. Lapangan yang memiliki kapasitas 5000 orang tersebut sudah di penuhi oleh riuh suara para penonton.

Di bagian tengah lapangan, Naruto dan punggawa Kurama yang lainnya sedang mengkoordinasi pada EO yang bertugas. Wajah mereka semua di cat dengan cat khusus sebatas setengah wajah. Naruto sendiri wajahnya di cat menyerupai rubah dengan otline dasar orenye.

Mengangguk tanda memberi aba-aba pada yang lain, bahwa acara siap di mulai.

JDUAARRR! JDUAARRR! CTASSHH!

Kembang api beraneka warna saling tumpang tindih di langit cerah Konoha, kembang api berwarna ungu dan biru dongker tersebut amat kontras dengan warna cerah pada langit Konoha.

Di tempat lain, Hinata sedang gelisah. Upacara pembukaan sudah di mulai, tapi dia belum juga sampai. Risih rasanya, entah kenapa dia merasa takut jika akan di diskualifikasi dari pertandingan.

Tidak lucu jika pertandingan belum berjalan tapi kita sudah kalah bukan? Setidaknya izinkan dia berjuang sampai perempat final nanti. Dan entah kenapa mendadak motornya tidak bisa di gunakan karena akan di pakai oleh Hanabi untuk sekolah.

"Sial!" Gerutu Hinata, entah ini untuk yang keberapa kalinya.

TIN! TIN!

Sebuah motor sport berhenti di depannya, tidak! Tidak sebuah, melainkan sekelompok.

"Butuh tumpangan?" Tanya seorang pria di dalamnya.

Hinata memiringkan kepalanya, mengingat-ingat sosok di depannya. Iya! Dia yang waktu itu! jerit inner Hinata dalam hati.

"Baiklah, mungkin memang seharusnya." Ujar Hinata menerima tawaran pria tersebut.

Dan mereka pun berjalan pergi menuju tempat pertandingan, tak butuh waktu lama. Mungkin hanya sekitar 15 menit perjalanan mereka sudah tiba di tempat pelaksanaan.

Hinata turun dari motor tadi, membukukkan badan sekilas dan segera pergi meninggalkan lapangan parkir pertandingan. Beberapa temannya yang sudah datang lebih dulu darinya menatap dengan tatapan heran bercampur bingung, pasalnya Hinata jarang terlihat dekat dengan pria asing. Dan lagi sejak kapan Hinata sekolah tanpa membawa tunggangan pribadinya?

"Tunggu!" Panggil suara baritone dari arah belakang Hinata.

Melirik sekilas dan memberikan tatapan bertanya, hal wajar yang di lakukan oleh punggawa cantik nan manis ini jika terhadap orang baru.

"Siapa namamu?" Tanya pria itu memberikan senyum ramahnya.

"Hinata." Jawaban singkat dan kembali pergi menuju tempat teman-temannya berkumpul.

"Namaku Otsutsuki Toneri. Kau bebas memanggilku apa saja!" Teriak pria tadi dari arah belakang Hinata.

Hinata tak menjawab dan terus melanjutkan langkahnya…

.

.

.

Saat kabut itu datang, kau menjadi panic.

Dan kau bahkan melupakan segalanya.

Seakan kau tak bisa melihat, diriku yang berdiri di depanmu.

Dengan kesadaran aku melangkah mundur.. pergi menjauh.

.

.

.

Naruto masih sibuk mempersiapkan keperluan pertandingan, dia berjalan mondar-mandir ke beberapa tempat yang memang menjadi titik-titik vital dalam acara ini, tidak boleh ada kesalahan, tidak boleh ada kegagalan, dan tidak boleh ada hal yang melenceng dan keluar dari jalurnya yang sudah di tentukan.

Begitu pikir Naruto, tapi.. itu di luar dugaan. Kala seorang pria datang dengan membawa ancaman bagi keluarganya, itu berita buruk. Belum lagi, sekarang dia melihat pria itu bersama dengan gadis yang akhir-akhir ini menjadi beban pikirannya.

Gadis tomboy yang juga anggota tim futsal Konoha Gakuen, juga gadis dingin yang dia temui saat jam pulang di gerbang Nazu Gakuen.

Entah kenapa dia amat kesal, apa lagi saat pria aneh itu melayangkan senyum aneh ke arah Hinata. Tipuan kuno!

Apa-apaan maksud dari pria itu tersenyum? Menebar pesona hah?!

Hinata melangkah semakin jauh dari arah Toneri, menghampiri kumpulan siswa dan siswi perwakilan dari tim futsal dan beberapa perwakilan bidang lain dari Konoha Gakuen. Hinata terlihat bahagia berkumpul dengan teman-teman seperjuangannya.

Ya… mereka sama-sama berjuang untuk nama baik sekolah mereka dalam ajang ini. Naruto hanya dapat melihat dari jarak jauh, kakinya serasa ingin datang menghampiri dia mencoba menahannya, ia tidak ingin di kira tidak waras akibat ulahnya.

"Naruto!" Panggil sebuah suara lembut dari arah belakang Naruto.

"Apa Senpai?" Naruto berjalan mendekati salah satu alumninya yang juga turut membantu berjalannya acara.

"Tolong kau berikan ini pada salah satu perwakilan dari Konoha Gakuen, ini berisi data-data para perwakilan kontingen sekolah. Ini sangat diperlukan untuk daftar ulang nanti." Ujar alumni tadi sambil menyerahkan form data tersebut.

"Baik senpai." Entah kebetulan dari mana, Naruto tidak bisa menolaknya. Ya… walau terkadang merasa kesal jika harus di jadikan bahan suruhan oleh orang lain, tapi jika ada untungnya kenapa tidak?

Naruto berjalan melangkah menuju arah Hinata dan teman-temannya berkumpul, tak jauh dari tempatnya berada Toneri terlihat sedang memandangnya. Naruto yang mengingat kejadian tadi di ruang OSIS langsung memberikan tatapan tidak suka, sedangkan Toneri sendiri hanya memberi tatapan bingung ke arah Naruto.

"Maaf, ini form daftar ulang kalian. Silahkan di isi dan berikan pada panitia yang nanti akan menangani bagian daftar ulang." Ujar Naruto sambil menyodorkan form tadi.

Hinata yang posisinya paling dekat mengambil form tadi, dan membacanya singkat. Sedangkan ada beberapa gadis yang berbasa-basi dengan Naruto berharap pria itu lebih lama lagi bersama mereka.

"Ah dan satu lagi!" Ujar Naruto mengalihkan perhatian beberapa orang yang sebelumnya tidak tertarik dengan kedatangannya.

"Akan ku tunggu tim futsal kalian saat di final nanti!" Ujar Naruto memberikan senyum simpul miliknya.

Hinata tertegun, apa Kurama juga menantikan tim dari Konoha Gakuen? Tapi bagaimana bisa.

"Terimakasih atas dukungannya, kami juga berharap seperti itu." Ujar Baressi menanggapi perkataan Naruto.

"Tapi ku berharap kalian tidak tewas dengan Kagutsuki, mereka amat berbahaya." Ujar Naruto dengan tatapan jahilnya.

"Mereka tidak semudah itu membunuh kami." Ujar Baressi percaya diri.

"Tapi… mereka sudah berubah banyak sejak saat itu. Aku tidak berani menilai seberapa banyak mereka berubah, tapi nama yang terus melekat pada kostum away mereka tetap berpengaruh di lapangan." Jelas Naruto yang terlihat mulai akrab dengan Baressi.

"Mereka baru bangun, dan nyawa mereka belum sepenuhnya terkumpul… hahahaha…" Sindir Baressi di susul gelak tawa yang lainnya.

"Mungkin kau ada benarnya juga, dan kau juga harus melindungi gawang kalian terhadap Iwa Garden. Mereka membawa pasukan baru, mereka tidak terlihat seperti kemarin!" Kali ini Naruto berbicara sambil melirik ke arah tim di belakangnya yang mengenakan Jas Almamater berwarna merah bata dengan list berwarna abu-abu.

Baressi mengikuti arah pandang Naruto, alisnya mengernyit benar apa yang di katakan oleh Naruto. Regenerasi Iwa selalu bisa melebihi para senior-senior mereka. Dan mereka pantas untuk di perhitungkan.

"Kau tidak melihat siapa Keeper kami?" Ujar Baressi melirik dua orang pria dan dua orang wanita yang memakai jersey lengan panjang dengan ban lengan bertuliskan Keeper.

"Kami memiliki 4 buah pagar beton, bahkan dengan eskafator sekalipun kami tidak akan runtuh." Ujar Baressi tetap memandang keempat orang tadi dengan pandangan aneh.

Sedangkan empat orang yang bersangkutan, memandang Baressi dan naruto kesal. Tapi itu semua tidak sinkron dengan mulut mereka, mereka tertawa terbahak terbawa suasana.

"Aku baru mengenal kalian, tapi kalian serupa dengan sekumpulan orang gila yang di pelihara oleh Nazu.." Mereka pun kembali tertawa melupakan status bahwa mereka suatu hari nanti saat di final akan menjadi lawan.

"Mereka bukan orang gila, mereka adalah sekelopok mutan yang gagal.." Celetuk salah satu keeper yang sedari tadi hanya bungkam.

"Kau banyak bicara, Chouji!" Sentak Baressi di susul sindiran dari punggawa-punggawa yang lainnya.

Sedangkan Naruto hanya memandang sekelopok teman dadakannya ini dengan tatapan konyol, dan tidak lupa kepalanya yang menggeleng-geleng. Teman-temannya ini benar-benar bisa mengalahkan eksistensi dari sahabatnya sendiri.

.

.

.

Seorang pria berambut perak panjang berjalan memasuki sebuah lorong sebuah gedung, mata hijaunya memandang tajam setiap orang yang di lihatnya. Rahangnya menguat, dan senyum sinis menjadi sebuah nilai tambah tersendiri.

Angkuh.

Ya. Itulah dia, seorang anak dari salah satu pengacara terkenal di kota Kyoto. Ayahnya adalah pengacara dari Sekolah Penerbangan Kagutsuki. Skandal yang berkepanjangan yang melanda sekolah itu 8 tahun terakhir, mau tidak mau membuat yayasan elit itu menyewa pengacara handal untuk mempertahankan yayasan mereka untuk dapat tetap berdiri walau di atas pasir sekalipun.

-BRAAKK-

Pria tadi mendobrak pintu dengan kasar, matanya memicing. Memandang kepala yayasan dengan jajarannya yang tengah mengadakan rapat internal.

"Kalian yang memulai. Maka kalian pula yang harus menentukan akhirnya!" Ujarnya setengah marah.

"Kau tenang saja Kimimaroo… Kami akan tetap berada dalam jalur." Ujar salah satu guru meyakinkan Kimimaroo.

"Kalian hanya meminta untuk mendapatkan kembali hati dan kepercayaan masyarakat. Bukan perkara dari Nazu Gakuen!" Bentak Kimimaroo masuk ke dalam ruang rapat menuju meja kepala yayasan.

"Apa maksudnya ini?!" Tanya Kimimaroo pada yang kepala Yayasan.

Kepala yayasan itu hanya memandang dokumen yang di berikan Kimimaroo dengan pandangan tidak percaya, benar. Kagutsuki tidak akan pernah bangkit jika mereka bermasalah dengan Nazu.

"Tidak mungkin." Ujar kepala yayasana memandang dokumen tadi, tangan kanannya dia gunakan untuk menutup mulutnya. Anaknya sudah di luar batasan.

"Aku tidak tahu menahu tentang hal ini, ini sudah di luar kontrak perjanjian. Jika Nazu menuntut pihak Kagutsuki, kami tidak bisa berbuat banyak. Aku dan ayahku sudah lelah menjadi budak kalian, kami akan mencari klien yang lebih konsisten dengan perjanjian di banding dengan kalian!" Ujar Kimimaroo meninggalkan kepala yayasan tadi.

.

.

.

Saat Matahari datang, kau membenci kehangatan yang di berikannya.

Bahkan kau menyia-nyiakannya, aku cukup paham dengan itu.

Dan aku akan terus terbit, sampai hari akhir tiba.

Hanya untukmu, rembulanku.

.

.

.

Naruto kini berada di bangku panitia, dia sedang memandang laga penyisihan group A. Padahal sekolah yang tidak pernah ia perhitungkan, dapat bermain dengan baik. Waktu 2 kali 10 menit ini terasa lama, lihat saja. Dari awal pertandingan di mulai, sudah terjadi 4 kali tendangan penalty dari kedua belah pihak, dan 3 tendangan pojok. Dan serangan mereka nyaris saja menjebol lawan masing-masing.

PRIIITTT!

Wasit meniupkan pluit tanda permainan usai, pertandingan imbang untuk group A, dan 2-1 untuk group B, 3-0 untuk group C, dan 2-3 untuk group A futsal putri.

Ini benar-benar di luar dugaan! Sekolah yang tidak pernah ia dengar namanya di dunia sepakbola futsal, amat sangat mumpuni untuk dapat bertemu dengan Nazu saat di final nanti.

Bahkan niat awalnya dia di sini hanya untuk mendengarkan music, dan sekedar mencari hiburan dari beberapa tim yang bermain asal. Tapi ternyata kenyataannya sangat di luar dugaan.

Untuk Futsal putri sendiri, Naruto belum bisa tersanjung dengan pertandingan mereka. Dalam satu tim tidak semua pemain memiliki ilmu yang sama tentang sepak bola. Beberapa dari mereka tau asal tentang olahraga ini, ada pula yang asal main. Dia hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala saja.

Tapi, di kepalanya ada satu beban pikiran.

Kagutsuki

Nama yang sukses membuatnya stress seharian ini, selain Hinata tentunya.

"Semuanya akang bangkit, dan kau akan jatuh terpuruk. Dan dugaanmu tidak akan pernah benar! Tidak akan! Kau akan merasakan semuanya.. semua yang dulu ku rasakan!" Ujar sosok bertudung yang sedari tadi duduk di antara tribun penonton.

To…

...Be…

…Continued

PHP fast update?

Dulu juga sering ngerasaan, dan sering melakukan itu terhadap readers yang baca fic-ku yang lain :'(

Someone PoV's itu siapa?

Sudah terjawab pada chapter ini.

Menarik, jarang yang buat fic dengan background futsal putri.

Ya, hanya sekedar inspirasi. "Unleash Your Imagination" Ingat slogan utama FFn.

Nambah Berita:… Alasan adanya One Word, Say Sorry

Tentang Fic "One Word, Say Sorry"

Fic ini adalah Fic semi real, dengan background yang di ambil dari background Author sendiri yang adalah seorang anggota tim Futsal sekolah. Author hanya berfikir, jika kita membuat fic dengan mengusung nilai romance. Itu mungkin sudah lumayan banyak, Author tidak akan menghilangkan unsur itu. hanya saja, mengemasnya dalam tampilan berbeda.

Author hanya mencoba membuat fantasy nyata, alur yang berdasarkan khayalan. Tapi tetap masuk di akal sehat dan logika manusia. Fic ini lumayan berat, karena sulit untuk mencari konflik yang cocok untuk fic ini. Jadi Author mohon dengan sangat, harap maklumi Author dalam menulis cerita sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk update. Bahkan lebih dari 1 minggu, untuk sekarang mungkin lebih cepat 1-2 hari dari jadwal masih akan terjadi, tapi untuk kedepannya Author tidak menjamin. Terutama jika sudah memasuki chapter 7 ke atas, kemungkinan Author tidak memberitahukan tanggal pastinya, hanya rentang waktunya saja yang di beritahu.

Kenapa Fic yang ini sering update sedangkan yang lain tidak?

Fic ini merupaka proyek yang lumayan berat untuk Author yang pada dasarnya adalah seorang pemula, Proyek besar lainnya adalah Fic "Best Friend Become Lovers" Berhubung feel untuk fic tersebut hilang, Author mengantikan dengan Fic ini. Dan Author usahakan untuk dapat complete di waktu yang bersamaan, mengingat lamanya rentang waktu Author untuk update di fic tersebut.

Kenapa harus Futsal?

Ini hanya pandangan Author saja, jika basket untuk putra dan putri sudah biasa. Pemikiran dasar Author adalah, bahwa seorang laki-laki adalah pemain sepakbola. Bukan berarti basket adalah permainan female, tidak! Hanya, setelah kekalahan Indonesia dengan Malaysia beberapa tahun yang lalu. Author berfikir, kita punya banyak potensi di bidang sepakbola. Hanya saja pemanfaatannya yang kurang di maksimalkan.

Terimakasih untuk:

Tsukikohimechan, Baykugan no Hime, Megane Gals, Dinamrdliana, Guest, Yudi Arata

Untuk chaper depan Author akan mencondongkan sedikit clue kearah Kagutsuki, biar para reader dapat sedikit gambaran tentang siapa yang sesungguhnya dalang dari konflik pertama di fic ini.

Rencananya akan ada 3 konflik pokok yang melibatkan NaruHina… dan beberapa konflik kecil lainnya.

Dan maaf atas keterlambatan update, hp Suna di sita dan gak ada hotspot buat buka internet. Yah… maklumlah, lagi musim ujian.

Di mohon review dari para readers yoooo….

Next update… 20-25 antara itu.

Last… time to review…