Yasuna Katakushi Present…
One Word, Say Sorry..
Pairing: Naruto Uzumaki, Hyuuga Hinata.
Genre: Romance, Drama, H/C.
Word: 4,547
Summary: (Penokohan), Hyuuga Hinata. Gadis cantik, manis, sempurna, tapi siapa sangka. Sosok berbalut kulit seputih porselen itu merupakan punggawa kebanggan tim futsal sekolahnya? Gadis berkedudukan sebagai ujung tombak tersebut sudah di percaya tim futsal inti sekolahnya untuk terjun langsung di arena pertandingan. Normalnya futsal putri akan bertarung melawan tim futsal putri juga. Tapi apa jadinya jika tim futsal putri akan melawan tim futsal putra, yang jauh lebih mumpuni dalam bidang sepakbola? / Naruto Uzumaki, punggawa tampan dengan garis wajahnya yang tegas, di tambah dengan tiga pasang goresan di dua sisi pipinya yang menambah kesan manis pada wajahnya. Sosok pangeran dari sekolahnya, sekaligus anak tunggal dari pemilik saham terbesar di dua tim setan lapangan asal Inggris. Manchester United dan Chelsea, Ayahnya. Minato Namikaze, pengusaha yang menguasai hampir separuh dari total saham di kedua tim raksasa tersebut.
Summary: (Cerita) bertepatan dengan hari jadi perusahaan yang bergelut di bidang entertainment Nazu Production, pada hari jadinya yang ke 20 tahun. Nazu Production mengadakan event laga persahabatan, termasuk bidang olahraga futsal, dan dalam laga tersebut. Tim putra dan putri akan bertarung, pertarungan dengan perwakilan sekolah ini akan berlangsung kurang lebih selama 45 hari lamanya. Dan apa yang akan terjadi jika tim futsal putra bertarung dengan tim futsal putri? Akankah berjalan secara Sportif?
Hari Pertama…
Seorang pria paruh baya dengan rambut perak kecoklatan memandang miris dokumen pemberian dari Pengacara yang di sewa olehnya, ini bisa di bilang sebuah berita buruk. Bagaimana tidak? Salah satu dari putra kembarnya membuat ulah… mendatangi Naruto –putra dari pemilik Nazu Production- dan memproklamirkan sebuah perang secara tidak langsung.
Gila! Ini sudah di luar batasan!
Ashura memijit pelipisnya, oh ayolah… sedikit lagi Kagutsuki akan mendapatkan nama mereka kembali, kenapa harus putranya yang memulai perang?
"Ku harap kau bisa membantuku menyelesaikan ini semua… Hanya kau yang bisa mengerti dirinya… Ku harap kau bisa menjadi adik yang lebih dewasa di banding dengan kakakmu.." Doa Ashura, helaan napas pasrah terdengr jelas di ruangan tempatnya berada.
.
.
.
Hari ini adalah hari pertama pertandingan selama full time, mulai pagi hingga malam hari nanti. Naruto sendiri sedang menonton pertandingan antara Kazefield dengan Kagutsuki, dua sekolah yang sama-sama memiliki pamor di bidangnya masing-masing
Kazefield yang merupakan sekolah yang menerapkan system subsidi silang untuk para siswanya, dan Kagutsuki yang merupakan rival abadi Nazu di masa lalu. Dua sekolah yang masing-masing memiliki pamor, dan tentunya.. sama-sama mumpuni di bidang olahraga futsal.
Tapi matanya menatap dua sosok yang amat mirip tak terelakkan, Toneri. Dan salah satunya… mungkin itu saudara kembarnya. Mungkin… itu hanya asumsinya saja.
Dua saudara kembar itu terus menggocek bola bergantian, dan saat hampir sampai di kotak penalty bola itu kembali di rebut oleh pihak lawan. Adegan rebut-dan-di rebut terus berlangsunng secara sengit.
Waktu terus berjalan, dan pertandingan pun berakhir dengan waktu tambahan 2 menit. Tak ada yang berhasil mencetak gol dari pihak mana pun, benar-benar lawan yang imbang. Tapi bukan pertarungan sengit yang ingin dia lihat! Tapi bayangan dari tubuh asli yang tidak pernah terlihat.
Semuanya, dari kedua belah pihak belum sama sekali menunjukkan sifat mereka yang sesungguhnya. Menipu penonton di pertandingan awal, tapi satu yang mencolok dari pihak Kagutsuki. Mereka menatap sengit ke arah kontingen dari Iwa Garden, Wilden School, Dammascus Laboratory, dan terutama Nazu.
Mereka menatap dengan tatapan yang benar-benar amat sulit untuk di jelaskan, seperti salam perjumpaan yang mematikan. Ini masih pertandingan awal, dan Kagutsuki sudah berani bermain mata dengan panas. Apa mereka sudah bosan hidup?!
.
.
.
Setelah pertandingan usai, Toneri pergi menghampiri Hinata yang sedang bersiap-siap untuk memulai pertandingannya. Senyum ramah ditorehkan Toneri untuk Hinata, tanpa menyadari belasan pasang mata yang menatap mereka tidak suka.
.
.
Kini adalah pertandingan antara para punggawa cantik nan tangguh, mereka berasal dari dua sekolah Negeri yang memang tergolong sekolah favorit. Sekolah itu adalah Konoha Gakuen dan lawan mereka, Sekolah Perbankan Konoha.
Pertarungan ini akan berlangsung, dan keduanya tidak menunjukkan tanda-tanda seorang pemain futsal handal. Mereka lebih terlihat sebagai seorang shopaholic yang sedang beradu tatap memperebutkan gaun termahal dan termodis, beberapa dari mereka bahkan terlihat mengerucutkan bibir mereka.
"Datanglah pada Bunda sayang…" Elu Hinata terhadap lawannya.
Yang di ejek hanya diam saja, tidak memperdulikan kalimat lain yang mencemooh tim mereka.
Wasit masuk kedalam lapangan, dan menaruh sebuah bola berwarna oranye dengan corak api hitam dengan lambing Nazu Gakuen di tengahnya. Mengangkat tangan, meminta para perwakilan tim berkumpul di tengah lapangan. Merundingkan sesaat, tim dari Perbankan menerima kesempatan menendang bola lebih dulu. Dua orang gadis cantik berdiri mengarah ke gawang tim Konoha, saling beradu tatap sekilas.
PRIIT!
Bersamaan dengan di tiupnya pluit, bola itu kini berpindah tempat. Meninggalkan poros sebelumnya, mengarah ke arah salah seorang bek dari Perbankan. Dan Ten-Ten dengan cepat melakukan gerakan sleding, dan bola itu tertendang masuk ke wilayah pertahanan lawan. Wajah sang keeper berubah drastic, tidak siap mungkin menerima goal di awal pertandingan? Mungkin.
Ten-Ten menggiring bola tadi menuju gawang lawan, tapi usahanya tidak berjalan mulus, saat hampir masuk ke dalam kotak penalty dia di hadang oleh tim lawan yang lain. Tubuhnya jauh lebih besar dari tubuhnya, bahkan untuk melihat wajahnya saja Ten-Ten harus menengadah. Dia terlihat seperti monster batin Ten-Ten kesal.
Tanpa sadar bola di rebut oleh tim lawan, tapi tak semudah itu. Hinata sudah mulai unjuk taring, dia melakukan sleding dan mendibling bola menjauhi lawan yang tadi membawanya.
"Sedikit hiburan mungkin ada bagusnya." Ujarnya menatap bola di bawah pijakkannya.
Melakukan gerakan seperti juggling, memantulkan bola ke atas dengan ujung sepatunya. Dan kemudian di tahan oleh lututnya untuk di pantulkan lebih tinggi lagi, menganggkat bahu seolah dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dan saat bola itu turun jatuh nyaris mengenai kepala indigonya, Hinata sudah lebih dulu meng-heading bola tadi hingga masuk ke gawang lawan melalui celah kaki kanan dan kiri keeper lawan.
Sorak-sorai terdengar di sekitar lapangan.
Hinata menguncir rambut indigonya lebih tinggi lagi, mengambil sebuah bandana sport berwarna senada dengan rambutnya yang memang sudah dia sediakan sebelumnya. Dan langsung memakainya, payudaranya yang tidak terlihat menonjol membuatnya hampir menyerupai anak laki-laki.
Mungkin jika kalian melihatnya, kalian akan berpikir kalau dia adalah seorang Uke yang sedang bermain futsal demi Semenya atau… sudah lupakan saja Author yang mulai menggila ini.
.
.
.
Pertandingan berakhir dengan skor 2-1 dan di menangkan oleh tim dari Konoha Gakuen, dan jangan berharap bahwa poin 1 itu mereka dapatkan karena kecerobohan keeper Konoha. Melainkan sebuah kecurangan. Bagaimana tidak, sebuah kerikil di lemparkan kea rah Brenna dan saat itu Brenna spontan menoleh. Dan saat itulah lawan mencetak goal mereka, dan mereka juga mendapatkan kesempatan emas karena tendangan bebas.
"Saat itu situasi menguntungkan mereka, wasit sedang tidak melihat. Coba saja jika wasit melihat, sudah ku jamin mereka akan ku buat tewas mengenaskan!" Seru Hinata mengacungkn tinjunya.
.
.
.
Someone's PoV
Aku melihatnya hari ini, dia cantik, manis. Tapi aku tidak suka dengan pria itu, Hinata selalu menatapnya dengan tatapan berbeda. Bukan tatapan cinta, tapi juga bukan tatapan kebencian… seperti-
Tatapan persahabatan-
Aku tidak tau pasti perasaan dia yang sebenarnya, tapi aku hanya ingin satu kepastian. Hinata harus menjadi milikku, cepat atau lambat.
Kini aku berjalan memasuki ruangan persiapan para peserta, ruangan ini hanya di isi oleh perwakilan sekolah saja. Dan aku segera menghampiri seorang gadis yang mewakili sekolahku dalam bidang Mata pelajaran Fisika, ku lihat dia sedang menangis. Entah karena apa?
"Ada apa?" Tanyaku mencoba sedikit peduli padanya.
"A-aku gagal… me-mereka jauh melibihi apa yang selama ini aku perkirakan…" Tak ada isak-tangis, ya! Aku mengancamnya untuk tidak menangis di depanku, itu hal yang menjijikan bagiku.
"Sudah, masih ada kesempatan lainnya, Mikha." Ujarku menyemangati.
Wajahnya masih menunduk, tangan porselen itu masih terus menutupi matanya. Dan sekarang dapat dilihat rambut hijau toscanya berantakkan.
Mengangkat dagunya paksa, dan memagut bibirnya sekilas. Dia tampak terkejut, tapi tidak denganku. Ini sudah lumrah bagiku.
Manik keemasannya menatapku seakan bertanya, aku tidak memperdulikannya. Segera bangkit dari posisiku, aku ingin kembali ke rumah dahulu. Ada keperluanku yang tertinggal disana, keperluan untuk boneka ku yang maskulin.
.
.
.
Saat menuju ke parkiran, aku kembali melihatnya dengan pemuda pirang itu. Entah apalagi sekarang?! Dasar penjilat! Mereka seakan ingin memamerkan kedekatan mereka di hadapanku, bosan hidup rupanya. Eh?!
Tanpa sengaja, Putra Mahkota dari keluarga Namikaze itu menyeringai padaku. Baik, sekarang kau menang. Tapi tidak untuk nanti bocah sialan!
Someone's PoV end.
Frozen inside without you're, without you're love
Darling, only you are the life among the death…
-Bring Me To Life-
Aku tidak membual, tapi aku memang penipu.
Itu adalah fakta.
Ada banyak cara Tuhan menghadirkan cinta, mungkin engkau adalah salah satunya
Dalam sepi, engkau datang
Beriku kekuatan tuk bertahan
Kau percaya, aku ada
Kau yang aku inginkan selamanya
Kau adalah hatiku
Kau belahan jiwaku
Dan saat aku mati kelak,
Hanya kau orang terakhir yang ingin ku lihat.
Tiga sloganmu yang selalu membakar semangatku.
Dan itu masih terngiang-ngiang hingga hari ini.
Hinata berjalan menuju ruang ganti perempuan, tak ada senyum terlukis di bibirnya. Tapi wajahnya menyiratkan kebahagiaan, pelatihnya. Baressi, hanya mengharapkan para Sisters-nya untuk menang satu kali pertandingan. Mengingat lawan mereka yang lumayan dapat di perhitungkan.
Dan mereka sudah berhasil mewujudkannya, harapan mereka. Mereka dapat lebih dari ini.
Hinata berjalan masuk ke dalam ruang ganti tersebut, di dalam masih banyak orang lain. Dan terutama lebih di dominasi oleh para anggota futsal putri yang baru saja melawannya tadi, mereka menatap tidak suka ke arah Hinata.
Cantik, pintar, jago bermain sepakbola futsal, dan… memiliki banyak penggemar 'tak kasat mata' yang menganggumi dirinya. Itulah yang membuat para perempuan yang tengah bersolek itu menatap tidak suka Hinata.
Hinata tak menghiraukan dan langsung masuk menuju bilik ganti yang masih kosong, tak memiliki firasat buruk terhadap semua orang yang berada di luar bilik tersebut.
-5 menit-
Lima menit berselang, Hinata keluar dari bilik ganti. Semua orang tadi sudah pergi, tapi ada bayangan seseorang di luar sana. Tapi siapa? Kenapa tidak masuk saja dari pada harus menunggu di luar sana?
Hinata memberanikan diri berjalan keluar, dan di luar sana. Memang ada yang sedang menunggunya, seorang pria berambut perak panjang. Hampir mirip dengan Toneri. Hanya saja Toneri berambut pendek, dan rambutnya agak 'sedikit' gondrong menurutnya.
"Permainanmu tadi sangat memukau, aku kagum melihatnya." Ujar pria itu memberi pujian.
Tapi bukannya balas bebasa-basi, Hinata hanya membungkuk sekilas, mengucapkan terima kasih. Kemudian melenggang pergi meninggalkan mahluk yang menurutnya asing tadi.
"Hinata!" Teriak seorang laki-laki lagi.
Tapi kali ini dia sedikit mengenal suaranya, walau tidak spesifik.
"Ada apa lagi?!" Tanya Hinata, dari kalimatnya terselip nada tidak suka dengan kedatangan pria aneh ini.
"Aku hanya ingin mencari Baressi-senpai, apa ada yang salah?" Tanya Naruto tak menggubris nada bicara Hinata yang terdengar tidak suka tadi.
"Sana." Jawab Hinata lemah, sambil mengarahkan pupil lavender beningnya ke arah Baressi dan kawan-kawannya berada.
Dan berjalan meninggalkan Naruto yang masih setia berdiri di tempat sebelumnya.
.
.
.
Sejak pertemuannya dengan Baressi beberapa waktu yang lalu, Naruto semakin akrab dengan para murid dari Konoha Gakuen. Tapi tidak dengan Hinata, gadis itu terkesan cuek padanya. Entah apa alasannya.
Sekarang sudah berselang lima jam sejak pertemuannya dengan Hinata didekat ruang ganti perempuan tadi siang, dan itu adalah saat terakhir di mana dia berbicara dengan Hinata. Selebihnya gadis itu selalu menghindar.
"Hinata!" Panggil Naruto yang sedang berjalan menuju rombongan Hinata dan para wanita anti-maenstream tersebut.
Hinata tak menjawab, hanya menatap Naruto dengan tatapan menyelidik. Singkat, bahkan terlalu singkat.
"Besok kau tidak ada jadwal bertanding kan?" Tanya Naruto.
Hinata terlihat berpikir sejenak, mengingat-ingat jadwal pertandingannya.
Gelengan –"Tidak ada."- dan dua kalimat menjadi jawaban atas pertanyaan Naruto.
"Bagus, kalau begitu besok pagi aku akan menjemputmu di KoGa. Kita akan menemui Ayahku." Ujar Naruto dan segera berjalan pergi.
"Hey?!" Tolak Hinata spontan.
"Beliau tidak mau mendengar penolakan Hinata." Ujar Naruto, yang tentunya mutlak.
.
.
.
Konoha, 5:30 pagi.
Hinata sedang mondar-mandir di kamarnya, pagi ini dia akan bertemu dengan Kepala Yayasan Keluarga Namikaze-Uzumaki Gakuen. Atau yang lebih di kenal dengan panggilan mereka yakni Nazu Gakuen, entah apa alasan utama yang membuat Hinata merasa nervous bertemu dengan Ayah dari Si Kepala Pirang aneh tersebut.
Hinata hanya berpikir singkat, gerangan apa konglomerat yang masuk ke dalam daftar 50 orang terkaya di dunia memanggil dirinya. Apa mungkin ia memiliki hutang secara tidak langsung? Tidak, bukan itu alasannya! Lalu apa?!
Ketimbang mondar-manidr tidak jelas, Hinata memilih untuk mempersiapkan keperluannya untuk sekolah. Dan juga beberapa peralatan lainnya, dan bahkan dia melupakan satu hal…
Mari kita beri sejenak waktu untuk Hinata mengingat kembali hal apa yang dia lupakan.
.
.
.
Hari ini Hinata memutuskan berangkat lebih awal, mengingat hari ini ada pelajaran Matematika. Bukan masalah jika pelajarannya sulit, tapi adalah siapa yang mengajarnya. Guru yang mengajarnya merupakan salah satu guru yang menyebalkan dan tidak memiliki toleransi sama sekali. Terlambat 5 menit saja di anggap alfa, kelas kotor dihukum membuat soal 50 tiap babnya, dan yang lebih parah. Mereka seisi kelas wajib menyiapkan 1 buah flashdisk dengan kapasitas 64 Giga Bytes yang kabarnya di gunakan untuk mencatat seluruh pelanggaran seisi kelasnya. Apa-apaan hal tersebut?!
Hinata datang menggunakan motor matic miliknya, motor semi-sport tersebut di kendarai dengan kecepatan yang cukup di atas rata-rata. Padahal hari ini dia tidak mungkin datang terlambat, tapi itulah Hinata. Racing adalah hobby-nya selain menjadi seorang pemain sepakbola, dan jangan lupakan hobby-nya sebagai seorang gamers dan hackers.
Hinata hendak ingin memasuki lapangan parkir sekolahnya, tapi entah kenapa pagi ini masih 30 menit lagi hingga bel masuk berbunyi. Tapi pintu gerbang sekarang ini sedang ramai, bahkan untuk menyelip di antara puluhan motor yang biasanya mudah di lakukannya kini menjadi amat sulit. Benar-benar tidak ada celah sama sekali!
Hinata memutuskan memarkirkan motornya pada sebuah bengkel yang memang belum buka pagi itu, mengunci stangnya. Dan berjalan diantara jajaran motor yang benar-benar tidak ada pergerakan sama sekali.
Menggulung lengan jaketnya, dan menguncir asal rambutnya. Dan jangan lupakan derapan sepatu semi boot yang di kenakannya.
"Hey, kau! Bukankah sudah dilarang untuk tidak menggunakan sepatu itu di lingkungan sekolah?!" Bentak salah satu seniornya yang mengenakan jas OSIS Konoha Gakuen.
"Kau terlalu banyak bicara, Senpai!" Ujar Hinata terus berjalan tanpa menghiraukan tatapan kesal senpai-nya tadi.
Langkahnya terhenti saat dia berada di depan gerbang, saat salah seorang seniornya dari kelas tiga memaksanya untuk melepas sepatu hitam dengan corak merah berbahan dasar kulit tersebut.
"Kau menginginkan sepatu milikku ini senpai? Ambilah, aku masih punya banyak di rumah. Lagi pula, ini koleksi terburuk yang ada di lemari koleksiku." Ujar Hinata bergerak melepas sepatu miliknya, dan disusul dengan sepatunya yang di lemparkan ke dalam sebuah keranjang yang berisi sepatu yang ada di luar ketentuan sekolah.
Sekitar sepuluh langkah Hinata menepi, dan melihat kebelakang. Tatapannya bersiborok dengan salah seorang senpai yang dia ketahui kurang senang padanya, mengendikkan bahunya singkat. Dengan sigap Hinata mengeluarkan sebuah tas jinjing berwarna hitam transparan, di dalam tas tadi terlihat tiga pasang sepatu berbahan dasar kulit dengan warna dominan berbeda dengan torehan corak hitam yang membuatnya semakin terlihat indah.
"Aku masih memiliki 3 pasang, dan 5 pasang di bawah jok motorku. Dan 1 yang sudah kalian sita tadi, menurut kalian mana yang harus aku pakai lebih dahulu?" Tanya Hinata mengangkat tas jinjing miliknya, disusul dengan beberapa kekehan yang terdengan dari luar pagar.
"Mungkin hari ini aku akan memakai sebuah sepatu yang ku dapatkan dari Neverland, sepatu yang di dedikasikan untuk mendiang Michael Jackson. Dan di dominasi warna merah terang kesukaanku, dengan torehan tanda tangan Robin Van Persie di sisi dalamnya." Oceh Hinata samba mengeluarkan sepatu yang sedang di deskripsikan olehnya.
Dengan sigap Hinata memakai sepatunya-
"Indah bukan?"
-tanyanya meminta komentar dari para OSIS yang di buat 'geregetan' oleh tingkahnya.
"Sudah drama paginya?" Tanya suara baritone dari arah belakangnya.
"Apalagi sekarang?" Tanya Hinata dengan nada tidak suka memandang sapphire Naruto datar.
"Kau lupa dengan janjimu, manis?" Tanya Naruto mengeluarkan kalimat ajiannya.
"Tch, terserahlah." Ujar Hinata mengikuti Naruto yang melangkah menuju mobilnya.
"Lalu bagaimana dengan Akomi?!" Pekik Hinata mengingat nasib motor maticnya.
"Sudah ikut saja!" Naruto tanpa permisi langsung menyeret Hinata menuju mobilnya.
Sedangkan Hinata jangan ditanya, wajahnya sudah terlipat 8 lipatan tidak beraturan. Salahkan saja Naruto yang main asal seret terhadapnya.
.
.
.
Di dalam mobil mereka hanya terdiam seribu bahasa, Naruto sibuk dengan mengemudinya. Dan Hinata sibuk membuka level baru dalam game Geometri Dush yang sedang menjadi tranding topic di sekolahnya.
Naruto sendiri menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang terbilang lambat, dia enggan terburu-buru datang tepat waktu menemui Ayahnya. Entah kenapa dia merasa itu tidak terlalu penting untuk di perioritaskan. Dasar Naruto durhaka.
.
.
.
"Kembalikan!" Bentak Hinata mencoba merampas kembali handphone miliknya, tapi sayang. Pergerakkannya terhalang oleh sabuk pengaman yang digunakan olehnya.
Naruto mengangkat tangannya ke arah belakang tubuhnya sehingga susah diraih oleh Hinata, dan Naruto sendiri memilih tetap fokus pada jalanan yang sedang dilalui olehnya. Hinata sudah mulai berhenti melancarkan agresinya, dia sekarang lebih memilih menatap ke arah luar kaca jendela mobil Naruto.
Sedangkan Naruto sendiri, hmmm… menghack handphone Hinata sedikit tidak salah bukan? Sesekali, kapan lagi dia bisa mengutak-atik handphone wanita cantik nan pandai mengolah Si Bundar berkulit.
Wanita yang pertama kali dapat mengacuhkan semua yang di milikkinya, unik. Itulah yang menjadi alasan Naruto balas berbuat sesuatu yang 'sedikit' atau mungkin mengusik keseharian Hinata.
Paling tidak membuat sebuah ciri khas yang membuatnya berbeda dari laki-laki yang pernah di temui oleh Hinata selain dirinya, tertarik. Itulah deskripsi yang tepat mengenai keadaan Naruto sekarang.
Banyak temannya bilang, bahwa perempuan tomboy sangat amat sulit untuk ditaklukan. Butuh waktu setengah dari sisa umur dari laki-laki yang melakukannya, tapi jika mereka sudah berhasil menaklukannya. Maka mereka akan mendapatkan 'perlakuan' limited edition dari perempuan dengan penampilan fisik menyerupai seorang laki-laki ini.
Naruto hanya penasaran ini nyata, atau hanya sekedar sebuah tipuan? Mungkin sekarang dia berani berteriak bahwa dia jatuh hati pada Ujung Tombak nan cantik di sisinya sekarang.
Saat ini mereka sedang berada di depan gerbang Namikaze Uzumaki Production Office, sebuah komplek perkantoran yang terdiri atas 4 bidang tersendiri. Pendidikan, perusahaan, asuransi, dan jangan lupakan Nami-Uzu sebagai Agen Produser terbesar di Jepang.
Menuju sebuah bangunan yang dominan terbuat dari kaca, dengan design didalamnya yang memiliki corak berwarna. Indah. Dan saat masuk, kalian akan makin tertegun melihatnya. Dinding-dinding pembatas yang terbuat dari papan kayu yang di penuhi oleh gambar doodles art, grafitty, kaligrafi, kriptografi, dan banyak karya seni lainya. Dan jangan lupakan Mascot dari Negeri Matahari terbit ini, anime.
Berjalan menuju sebuah ruangan yang di batasi oleh papan kayu bergambar aneh, bagaimana tidak. Gambar tersebut terdiri atas bangunan abstrak yang membentuk menjadi sebuah gambar seperti wajah seorang wanita
"Apa Ayahmu menyukai Salvador Dalli?" Tanya Hinata berjalan perlahan sesekali mengelus gambar yang ada di papan kayu tersebut.
"Kau mengidolakan Dalli?" Tanya naruto berhenti melangkah dan memperhatikan Hinata yang sedang terkesima melihat gambar yang memang terinspirasi dari salah satu seniman Dunia.
Hinata tak menjawab, hanya anggukan saja yang dia berikan sebagai jawaban. Naruto maju mendekati posisi Hinata sekarang.
"Aku lebih suka terhadap Doodlling, atau teknik Prespektif dan Cubisme." Ujar Naruto berdiri di samping Hinata.
Hinata beralih menatap Naruto, bagaikan slow motion teori geografi Big Bang. Yang sedang melanda Bintang Lavender dan Sapphire yang mengakibatkan planet baru, atau mungkin teori Nebula.
Teori Big Bang, teori yang masih sanggup bertahan sampai detik ini.
Selain teori Nebula tentunya.
Fakta mengenai teori Big Bang sendiri amat banyak.
Di antaranya adalah pergerakkan antara galaksi yang saling menjauhi.
Bukankah setiap kali ledakkan terjadi kedua benda yang menjadi pemicunya akan berhamburan dan saling menjauh?
Tapi, apa jika saat ini meledak dan pemicunya adalah kau sendiri, apa kau juga akan pergi menjauh?
Aku tau Matahari memang panas, dan aku bisa mati di buatnya.
Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku terpesona, dan… dan aku… aku menginginkan kehangatan yang dia punya.
Sekalipun jika dengan demikian aku akan mati, mati dan cahayaku akan redup.
Dan mungkin aku akan menjadi sebuah planet yang hanya dapat mengandalkan cahayanya saja mungkin.
Teori Cinta.
Terserah kalian jika kalian mengiraku gila, tapi itulah fakta yang kalian lihat.
Teori Big Bang menyatakan bahwa ada dua buah bintang besar, ah tidak! Aku tidak ingat jelas.
Intinya mereka berdua adalah pusat dari segala yang ada disekitar mereka, sejujurnya orang yang membuat teori itu sedang jatuh cinta.
Bagaimana tidak, coba saja kalian para remaja yang sedang memasuki masa pendewasaan dan sudah terlepas dari masa pubertas. Pasti kalian akan mengerti, bahwa yang menemukan dan mengemukakan teori Big Bang sedang di landa ombak kasmaran.
Mungkin teori itu adalah penggambaran seberapa bahagia si ilmuan merasakan indahnya jatuh cinta, indahnya di cintai, terutama dengan gadis yang memang sudah di incarnya.
Bahkan penggambaran ini lebih berlebihan dari apa yang di ucapan Ayahku pada Ibuku setiap pagi.
Dan jika kalian tidak percaya, kalian boleh datang ke rumahku dan menginap.
Maka kalian akan melihat drama picisan murahan yang tersaji setiap saat di rumahku!
Nanauna.
"Itu adalah sebuah tulisan tangan buatan putraku, dia terlalu lama melajang sehingga dia menjadi terlalu hyperbola dalam menggambarkan sesuatu." Ujar seseorang yang berada di depan pintu masuk ruangan sambil menunjuk deretan kata-kata sastra tadi.
"Hei! Bisa Ayah diam? Ayah mengotori pikirannya Ayah…" Rengek Naruto berjalan memasuki ruangan Minato, dan meninggalkan Hinata yang masih terdiam melihat tingkah 'sopan' Naruto terhadap Ayahnya.
Hinata yang masih bingung langsung dirangkul oleh Minato untuk segera masuk kedalam ruangannya, Hinata sempat takjub beberapa saat. Bagaimana tidak, ruangan ini di penuhi foto-foto liburan keluarga Namikaze-Uzumaki. Foto yang menyiratkan kebahagiaan.
Yang Hinata tau, para artis atau konglomerat sering melakukan perceraian dengan pasangan mereka. Dan Hinata berpikir demikian terhadap orang tua Naruto.
"Ayah! Jangan merangkul Hinata seperti itu!" Sentak Naruto membuyarkan lamunan Hinata.
"Itu salahmu menolak memiliki adik, jika saat itu kau menerima untuk memiliki adik. Mungkin saat ini adikmulah yang Ayah rangkul." Sanggah Minato yang tidak terima dengan ucapan anaknya.
"Atau jangan bilang kalau dia ini kekasihmu?" Tanya Minato memberikan lirikan jahil pada Naruto dan Hinata.
"Ti-tidak" Ujar mereka bersamaan.
Wajah Minato merah seketika, bibirnya ia katupkan kuat-kuat. Sedangkan Naruto dan Hinata hanya mampu saling melempar pandang, mereka bingung ada apa gerangan Direktur yang sering meminta dirinya di panggil Baginda ini menjadi seperti anak kecil.
"BWAHAHAHAHAHA…" Tawa menggelegar Minato terdengar di seluruh penjuru ruangannya.
"Mulut kalian bilang tidak, tapi tubuh kalian?" Tanya Minato memandang Naruto dan Hinata bergantian.
"Ayolah, umurku sudah 45 tahun. Dan aku sudah berpacaran dengan 4 wanita, dan Kushina adalah yang kelima sekaligus yang terakhir! Aku pernah merasakan saat-saat seperti kalian, jadi jangan pernah menyangkal, okay?" Tanya Minato dengan nada berwibawanya kembali.
Sedangkan reasksi dari para muda-mudi di ruangan itu, Naruto yang mendengus kesal. Dan Hinata yang berlalu dengan membuang muka ke arah berlawanan dari Naruto dan Minato.
"Baik, Naruto! Aku menyuruhmu mengajak Hinata pagi ini ke divisi pusat, aku ingin dia menjadi Nambas bersama denganmu." Ujar Minato memulai perbincangan seriusnya.
"Akh! Maaf memotong, apa itu Nambas?" Tanya Hinata yang kurang mengerti dengan bahasa yang di gunakan oleh Minato.
"Nambas adalah sebutan untuk sepasang pria dan wanita yang menjadi duta pemuda dibidang kesehatan jasmani dan rohani yang dibina di bawah naungan Nazu Production, berhubung kalian menggeluti bidang yang sama ku rasa tidak sulit untuk kalian mengakrabkan diri. Dan mungkin kalian memang sudah akrab sebelumnya." Minato membungkuk mengambil sebuah map kerja miliknya yang di simpan di laci meja kerjanya.
"Tugas Nambas adalah dengan merangkul para kaum marjinal yang tidak seberuntung kalian, untuk hal ini aku tidak memiliki keinginan untuk melakukan pencitraan. Ini murni berhubungan dengan kemanusiaan." Sambung Minato tersenyum.
"Bukankah sesuatu yang berhubungan dengan kemanusiaan hanya dapat di pertahankan dan diselesaikan bersama mereka yang memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi? Jadi aku membutuhkan para pemuda seperti kalian." Ujar Minato sambil memberikan sebuah map dengan 500 lembar kertas berukuran folio kosong.
"Untuk apa ini?" Tanya Hinata yang bingung kenapa dia di berikan 500 lembar kertas HVS berukuran folio, dan... kosong.
"Aku tidak tau, insting remaja kalian yang akan membuat kertas HVS itu memiliki goresan didalamnya." Ujar Minato di akhiri dengan senyuman penuh arti.
Dan apa pula yang harus mereka kerjakan sekarang?! Teriak inner mereka menjerit dan meronta tidak terima.
-pria dan wanita, pria dan wanita, pria dan wanita, pria dan wanita.- Mereka berdua secara bersamaan didalam hati dan tidak di sengaja mengucapkan kalimat itu di waktu yang hampir berbarengan.
"Maaf, apa mungkin-bfft!-"
"Baik kami akan segera melaksanakan tugas kami secepatnya!" Ujar Naruto semangat dan segera menyeret Hinata keluar dari ruangan laknat tersebut.
.
.
.
"Apa-apaan kau ini?!" Bentak Hinata sekeluarnya mereka.
Naruto tidak menjawab, dia terus mondar-madir sambil membelakangi Hinata, merasa di acuhkan dan diabaikan. Hinata langsung berjalan hendak menhadap Naruto.
Naruto terlihat memejamkan matanya, dan tangan kirinya menyentuh pelipisnya. Masih dengan keadaan modar-mandir tanpa menyadari keberadaan Hinata di depannya.
Dan tangan kanannya berada-
'ASTAGA!' Pekik Hinata di dalam hati, bagaimana tidak.
-tangan kanan Naruto berada di area vital laki-laki, dan Naruto sedang menyentuh benda kecil nan berbahaya tersebut. Sesekali Naruto terlihat meremasnya, entah kenapa Hinata tidak mau mengalihkan pandangannya.
Dan satu lagi yang dia sadari, di dalam celana blue jeans yang Naruto kenakan seperti ada sebuah bola yang menggembung di dalamnya. Dan Hinata tau pasti benda apa itu.
"Jangan terus memandangnya, lebih baik kau pergi keparkiran dan kendarai mobilku. Aku akan kesana kurang dari 5 menit." Ujar Naruto menyerahkan kunci mobilnya pada Hinata, dan langsung bergegas pergi.
.
.
.
Hinata sudah di tempat parkir sekarang, dan ini sudah 15 menit dari waktu terakhir kali dia dan Naruto janjian, kemana laki-laki itu? Tanya Hinata.
Mengingat sebuah 'mahluk mutan' yang di edo tensei secara mendadak, Hinata menjadi paham kemana Naruto melangkah pergi. Kamar mandi atau toilet umum misalnya? Dan sekarang wajah Hinata memerah dibuatnya.
"Kau boleh jalan sekarang." Ujar Naruto yang entah sejak kapan sudah masuk kemobil.
Dia sekarang duduk di deretan kursi jok yang paling belakang, tanpa memperdulikan lagi Hinata menuruti dan melaju dengan kecepatan rendah. Mengingat bahwa dia masih baru dalam mengendarai mobil.
Sesekali di intipnya Naruto melaui spion tengah, dan alangkah terkejutnya dia.
Sekarang Naruto tengah terpejam akibat sensasi yang di buat oleh tangannya sendiri, dan sesekali bibirnya menggumamkan nama seseorang yang tidak dapat Hinata dengar. Tubuhnya serasa panas, ini pertama kali dalam hidupnya berada dalam jarak yang amat dekat dengan pria yang sedang terangsang.
CTAKKK
Terdengar suara benda jatuh dari arah belakang, Hinata kembali melirik melaui spion tengah apa yang terjadi dibelakang sana. Ternyata adalah Naruto yang beru saja membuang sebuah botol plastic sembarangan di tengah jalan.
"Lain kali jika kau melakukannya ada baiknya dengan laki-laki!" Seru Hinata saat Naruto berhasil mendarat dengan selamat di jook samping kemudi.
"Memangnya kenapa?" Tanya Naruto tidak mengerti.
"Karena aku menyukai YAOI dibanding dengan yang STRAIGHT." Ujar Hinata terlalu polos.
To
Be
Continued
Ini baru permulaan kisah hentai NaruHina, disini Author akan masukin chapter full hentai. Tapi gak sekarang, ini baru awal ketertarikan mereka berdua.
Dan untuk kejelasan hubungan NaruHina sendiri akan mulai jelas sekitar 3 atau 4 chapter ini, dan chapter ini adalah jalan masuk menuju hubungan mereka yang makin fluff mungkin
Untuk 3 konflik pokok, Suna buka kesempatan untuk para readers member masukan. Berikut beberapa kategori yang Suna siapkan dan bisa dipilih via review maupun PM.
1. Konflik asmara
2. Konflik eksternal (Nazu Vs Kagutsuki, Naruto Vs Mr. X, dan konflik lain yang diluar konflik asmara tapi bersenggolan dengan asmara tokoh utama)
3. Konflik dukungan (contoh, teman-teman Naru yang tidak setuju kalau Naru bersama dengan Hina, dan sebaliknya, atau dalam bentuk dukungan lainnya)
4. Konflik pandangan (konflik ini gak berat, cuma jadi tambahan aja. Konflik ini dalam bentuk keraguan tokoh utama.)
5. Konflik sporty (konflik dilapangan hijau yang melibatkan kisah asmara tokoh utama)
6. Konflik terakhir yang Suna siapin itu konflik keluarga, jadi sejenis masalah keluarga yang nimpa salah satu dari kedua tokoh utama kita ini.
Sekian opsi dari Suna, jika ada tambahan bisa dimasukkan dipm maupun review. Terimakasih
Balasan review chapter 3
Balasan review chapter 4
Untuk chapter selanjutnya akan Suna update tanggal 10 November 2015 malam, berhubung siangnya Suna keluyuran didunia nyata. Maka semua fic Suna akan Suna tetapkan update malam, yah… hitung-hitung nemu fic yang asem-asem hehe...
Chapter depan full NaruHina
Maaf kalau hari ini Suna update telat…
Gomen
