Yasuna Katakushi Present…
One Word, Say Sorry..
Pairing: Naruto Uzumaki, Hyuuga Hinata.
Genre: Romance, Drama, H/C.
Word: 3,046
Summary: (Penokohan), Hyuuga Hinata. Gadis cantik, manis, sempurna, tapi siapa sangka. Sosok berbalut kulit seputih porselen itu merupakan punggawa kebanggan tim futsal sekolahnya? Gadis berkedudukan sebagai ujung tombak tersebut sudah di percaya tim futsal inti sekolahnya untuk terjun langsung di arena pertandingan. Normalnya futsal putri akan bertarung melawan tim futsal putri juga. Tapi apa jadinya jika tim futsal putri akan melawan tim futsal putra, yang jauh lebih mumpuni dalam bidang sepakbola? / Naruto Uzumaki, punggawa tampan dengan garis wajahnya yang tegas, di tambah dengan tiga pasang goresan di dua sisi pipinya yang menambah kesan manis pada wajahnya. Sosok pangeran dari sekolahnya, sekaligus anak tunggal dari pemilik saham terbesar di dua tim setan lapangan asal Inggris. Manchester United dan Chelsea, Ayahnya. Minato Namikaze, pengusaha yang menguasai hampir separuh dari total saham di kedua tim raksasa tersebut.
Summary: (Cerita) bertepatan dengan hari jadi perusahaan yang bergelut di bidang entertainment Nazu Production, pada hari jadinya yang ke 20 tahun. Nazu Production mengadakan event laga persahabatan, termasuk bidang olahraga futsal, dan dalam laga tersebut. Tim putra dan putri akan bertarung, pertarungan dengan perwakilan sekolah ini akan berlangsung kurang lebih selama 45 hari lamanya. Dan apa yang akan terjadi jika tim futsal putra bertarung dengan tim futsal putri? Akankah berjalan secara Sportif?
Studio Photo
Sekepergian mereka dari Official Nazu, mereka segera bergegas pergi menuju studio yang digunakan untuk foto mereka nantinya. Mereka tidak hanya bekerja dilapangan, tapi mereka juga akan menjadi model tambahan Nazu Production.
Dalam perjalanan Hinata terus serius dengan jalanan yang dilaluinya, maklum saja. Hinata masih belum mahir dalam berkendara, ditambah perjalanan mereka yang tidak sebentar. Sekarang sudah 45 menit kepergian mereka dari Official Nazu, tapi mereka tidak kunjung sampai ditempat.
Sedangkan Naruto, dia sedang asik dengan smartphonenya. Posisi smartphonenya yang dibuat landscape, hanya ada 2 opsi. Dia sedang bermain game atau, menonton video.
"Akh, shit!" Umpat Naruto tiba-tiba.
Hinata yang mendengarnya hanya melirik sekilas melalui spion tengah, Naruto terlihat sedang menengadah dengan mata terpejam. Dan handphonenya yang diaacuhkan begitu saja, ada apa gerangan ini?!
"Video apa itu?" Tanya Hinata sambil memelankan laju mobil Naruto mengingat dia berkendara sambil menoleh kebelakang.
"Bukan apa-apa." Ujar Naruto dan maju hendak pindah ke jook disamping kemudi.
"Katakan, atau aku rampas!" Ancam Hinata sambil mendorong tubuh Naruto kebelakang.
Naruto mendelik sekilas, dan kemudian menyerahkan smartphonenya pada Hinata. "Pindah, biar aku yang kemudikan mobilnya." Ujar Naruto setelah Hinata menerima handphonenya.
Hinata diam tak bersuara kala ia melihat video apa yang baru ditonton oleh Naruto, matanya terus memperhatikan adegan yang terjadi dilayar handphone Naruto.
"Dari mana kau dapatkan video ini?" Tanya Hinata tak mengalihkan pandangannya.
"Aku, aku hanya mencuri dari teman sebangku-ku." Ujar Naruto datar.
Hinata memeluk handphone touch screen tadi, matanya melotot dengan taburan blink-blink di sekitar area retina lavendernya.
"Boleh aku pinta?" Tanya Hinata memohon.
"Hhh… untuk apa? Video itu diperuntukkan untuk laki-laki, apa kau punya kelainan eh?" Tanya Naruto melirik Hinata.
"Bukan begitu… aku perlu ini dipertandingan selanjutnya…" Ujar Hinata mengeluarkan Puppy eyes no Jutsu miliknya.
"Terserah, itu pola yang amat sulit. Aku tidak berani menjamin kau bisa menerapkannya, bahkan aku saja memerlukan waktu 2 minggu untuk mempelajari 1 bagian pola. Dan aku gagal." Jelas Naruto.
"Itu karena kau bodoh!" Ujar Hinata spontan.
"Memangnya kau bisa?!" Tanya Naruto nyaris membentak Hinata.
"Jika aku tidak bisa melakukannya untuk apa aku bicara, lagi pula. Pria memang egois tidak mau mengalah pada wanita, kalian selalu merasa lebih hebat dari kami. Memangnya jika kalian hebat kalian bisa hidup soliter hah? Kalian tetap saja mengandalkan wanita, baik ibu maupun istri, kekasih atau siapapun. Intinya pria adalah mahluk manja!" Ujar Hinata panjang lebar dan keluar dari topik utama.
Naruto mengusap wajahnya kasar, wanita disebelahnya ini benar-benar membuat segala isi perut dan otaknya teraduk secara kasar dan dia tidak bisa mengendalikan dirinya jika didekat wanita ini.
"Itu terserah denganmu, wanita juga butuh pria bukan?" Tanya balik Naruto memberikan tatapan meremehkan.
Hinata membuang muka, dia sudah tidak perduli lagi pada topik yang mereka bicarakan sekarang. Intinya dia ingin segera pulang dan bermain game kesayangannya, mungkin hari ini akan berjalan amat panjang. Atau mungkin tanpa akhir sama sekali?
Mereka akhirnya tiba setelah perjalanan selama 1 jam 20 menit, ah… yang benar saja. 30 menit mereka lalui dengan perang dingin.
"Naruto-sama, anda sudah ditunggu oleh Ayame-san didalam." Ujar salah satu penjaga pintu masuk studio photo tersebut.
Naruto hanya mengangguk sekilas tanpa berucap dan segera masuk menuju tempat orang yang sudah menunggunya tadi.
.
.
.
"Maaf membuatmu menunggu lama." Ujar Naruto saat sudah masuk kedalam ruangan milik Ayame.
"Sejak kapan kau tidak terlambat? Itu kebiasaanmu kan?" Tanya Ayame tanpa memalingkan matanya dari layar monitor komputernya.
"Berisik!" Gumam Naruto nyaris tak terdengar.
"Ini!" Ujar Ayame sambil menyerahkan sebuah map berisi agenda foto mereka, jadwal kegiatan seminggu kedepan, dan beberapa tugas yang harus mereka kerjakan selama menjadi Nambas.
"Tugas kalian mudah, isi 1 rim kertas yang sudah di berikan sesuai dengan urutan materi agenda yang sudah disiapkan. Aku ingin kalian membuat rangkuman bersama, aku tidak ingin kalian bekerja sendiri. Apapun rangkuman yang kalian buat, itu murni hasil dari kesepakatan kalian berdua. Aku tidak ingin kalian memiliki pendapat yang berbeda dalam catatan kalian itu, buat sekompak mungkin mengerti?!" Ujar Ayame sedikit memicingkan matanya, terutama dengan Naruto. Dia tau, pasti anak itu akan mengandalkan Hinata saja.
"Hn," Ujar Naruto mengambil map tadi dan langsung berjalan keluar, sedangkan Hinata hanya diam dan menatap bingung Naruto yang sudah melangkah pergi.
"Hyuuga-san." Panggil Ayame lembut, berbeda dengan sebelumnya.
"Ya?" Sahut Hinata.
"Aku mohon, kau atur bocah besar itu. Semua kendali ku serahkan padamu." Ujar Ayame.
"Ku usahakan!" Setelah itu, Hinata langsung pergi menyusul Naruto, mungkin anak itu ada diparkiran.
.
.
.
"Apa-apaan ini?" Ujar Naruto panik
"Kau ini kenapa?" Celetuk Hinata yang baru tiba diparkiran.
"Semua materi yang ditugaskan tidak ada yang kumengerti sama sekali!" Rengek Naruto setengah histeris.
Hinata segera merampas map yang digenggam Naruto, dan langsung masuk kedalam mobil Naruto. Naruto yang merasa diacuhkan segera mengikuti Hinata masuk kedalam mobil. Dia tidak mengerti, ini mobilnya, dan dia yang lebih tua. Kenapa jadi dia yang dikendalikan oleh bocah tomboy ini?
.
.
.
Kini mereka sudah berada di sebuah kolong jembatan, dan sekarang sudah nyaris tengah hari dan mereka belum makan apapun sejak pagi. Mereka sudah tidak memikirkan diri mereka lagi, tugas sudah menguasai mereka.
"Untuk apa kita disini?" Ujar Naruto yang merasa tidak ada tugasnya dia disini sekarang.
"Dimana lagi kita akan menemukan kaum marjinal dengan mudah kalau bukan dikolong jembatan?" Ujar Hinata dengan nada yang sulit dijelaskan.
"Oh ayolah, di Tokyo akan sulit mencari kaum marjinal. Apa lagi di kolong jembatan, mereka sudah memiliki tempat khusus." Sambar Naruto dengan nada mutlak.
"Kau pikir aku bodoh? Aku sudah tau itu, aku tinggal di Tokyo sudah lebih dari 10 tahun. Dan aku banyak tau tentang kota ini! Dan aku tanya padamu, jika tempat yang disediakan pemerintah berada disudut kota. Apa kau mau membawa mobilmu kesana, dan kau ingin membuat mobilmu hancur tergores dengan tembok perumahan kumuh yang ada disana?" Jelas Hinata panjang lebar dan disusul gelengan kencang dari Naruto.
"Jika kau sudah mengerti, cepat parkirkan mobilmu di SPBU sana!" Titah Hinata mutlak.
.
.
.
Setelah memarkirkan mobilnya, Naruto dan Hinata berjalan menuju pemukiman para kaum marjinal disudut kota. Mereka berjalan melalui gang sempit dan tentunya amat tidak tertata, sekalipun Tokyo adalah kota elit. Tapi tetap saja ada sisi dimana kaum bawah menetap dan memberi kesan berantakkan pada kota tersibuk nomor 3 di dunia ini.
Beberapa kali terdengar decihan dari bibir Naruto, dia amat tidak suka dengan pemandangan menjijikan didepannya. Apa juga mau Ayahnya, menyuruh dia melakukan hal aneh semacam ini?!
Kenapa pula harus dia? Apa tidak ada orang lain di Nazu yang sedang menganggur, Menma misalnya. Jika hal yang dikerjakannya lebih 'steril' dia tidak keberatan, tapi ini menyangkut rumah kumuh. Biarpun Naruto sering bergaul dengan kelas menengah kebawah, setidaknya derajat mereka lebih tinggi dari para marjinal yang hendak ditemui Naruto sekarang.
Asik melamun, Naruto tidak sadar jika dia sudah sampai ditempat tujuan. Matanya terbelalak kaget, bagaimana tidak. Hinata sedang berdiri dan menggendong sepasang anak kembar, dan yang lebih mengejutkan lagi Hinata dengan berani menggesekkan hidungnya dengan hidung mereka. Oh ayolah… apa kau tidak takut jika kau tertular penyakit yang mereka idap, eh?
Naruto nyaris saja memekik tidak suka saat melihat pemandangan itu, tapi ada hal yang aneh. Dia nyaman melihat Hinata menggendong anak-anak kembar itu, seperti ada yang menghangatkan hatinya. Dan dia suka jika Hinata melakukannya, ada rasa tidak mau menyuruh Hinata menurunkan anak kembar itu dari gendongannya.
Tanpa sadar pun Naruto tersenyum pada seorang anak yang tengah menatapnya takut, entah takut karena Naruto adalah orang baru atau mungkin cara Naruto menatap mereka yang membuat mereka ketakutan.
Dan sejujurnya, Naruto juga tidak tau mengapa ia tersenyum pada anak tadi. Bibirnya melengkung tanpa dia kendali, karna dia sudah terlanjur tersenyum. Dia pun melangkah menghampiri anak tersebut.
"Kenapa kau takut, hm?" Tanya Naruto berusaha ramah terhadap anak tersebut.
Gelengan, "A-aku tidak takut, aku… aku hanya… m-malu." Ujar anak itu sambil melangkah mundur bersembunyi dibalik sebuah tanaman yang berukuran lebih besar dari tubuhnya.
Naruto terkekeh sebentar, wajahnya berpaling kebelakang menatap Hinata yang sedang menggendong anak lain. Tersenyum simpul dan kembali menghadap anak yang malu-malu tadi.
"Untuk apa kau malu, kau 'kan pakai baju. Jadi tidak perlu malu!" Seru Naruto dengan nada ramah dan berjalan peralahan mendekati anak tadi.
"Aku malu karena pakaianku jelek, pakaian Onii-san bagus." Jawab anak itu jujur.
"Baju ini kau bilang bagus? Baiklah, akan ku buat baju ini menjadi jelek!" Ujar Naruto dengan nada yang bisa dibilang sedikit ketus.
Naruto berjalan kearah salah satu pot yang baru saja disiram, menyentuhnya dengan kedua telapak tangannya dan melulurinya kebaju yang dia kenakan. Setelah dia merasa bajunya cukup kotor, dia berjalan mendekati anak tadi.
"Apa baju ini sudah cukup jelek? Jika sudah, apa boleh aku berteman denganmu?" Tanya Naruto ramah.
Anak itu berjalan keluar dari tempat persembunyiannya, sorot matanya masih tersirat ketakutan matanya tak berani menatap wajah Naruto. Tapi kakinya terus berjalan mendekati Naruto.
"Kau tidak jijik padaku?" Tanya anak itu lugu.
"Tidak!" Jawab Naruto pasti. Dan tangan kekarnya berusaha menggendong anak itu, tubuhnya amat ringan. Bagai menggendong sekantung kapas.
"Banyak yang takut mendekatiku, mereka bilang aku sangat menjijikan. Bahkan ada yang pernah menyuruh ibu kepala untuk mengusirku, tapi ibu kepala tidak mau menuruti kata-kata orang itu." Ujar anak itu sambil menahan tangis.
"Siapa namamu adik kecil?" Tanya Hinata yang baru datang sambil mengelus-elus tangannya.
"Namaku, Amaru." Ujar anak itu.
"Baiklah Amaru, kau mau menunjukkan pada kami dimana teman-temanmu yang lainnya?" Tanya Hinata ringan.
Amaru tak menjawab, dia mengangguk. Jari telunjuk kecilnya menunjukkan arah dimana teman-temannya yang lain berada, salah satu tangannya yang bebas merengkuh kuat leher Naruto. Seakan hanya itu pegangan terakhir yang mampu menyelamatkan hidupnya jika ada gempa atau tsunami melanda.
Naruto yang merasakan tangan kecil Amaru hanya terkekeh ringan, dan Hinata yang awalnya ikut tertawa menatap bingung pada Naruto.
"Oi bodoh! Apa yang kau lakukan dengan bajumu?! Kau seperti bocah yang tidak memiliki mainan lain saja selain lumpur?!" Pekikkan kecil Hinata saat melihat betapa kotornya baju Naruto.
"Amaru tidak mau aku dekati jika pakaianku masih bersih, dia bilang kalau dia malu." Ujar Naruto menjelaskan kronologi mengapa pakaiannya bisa kotor karena lumpur.
Hinata hanya menghela napas sebentar, matanya kembali menatap tubuh kurus Amaru. Ingin sekali bertanya, tapi dia takut kalau kata-katanya melukai hati Amaru. Dia tidak tega jika ada seorang anak kecil yang menangis, apa lagi jika anak itu dalam keadaan ringkih seperti Amaru sekarang ini.
"Berhenti!" Seru suara kecil Amaru.
Naruto yang sedang berjalan dalam kecepatan yang terbilang cukup cepat langsung berhenti secara spontan. Matanya menatap Amaru heran, beralih dari Amaru. Dia mentap sekitarnya dan benar, disini ada banyak anak-anak dari rentang umur 3-12 tahun dengan pakaian kurang layak. Wajah mereka amat kotor, dan tak jarang dari mereka yang memiliki luka karena penyakit gatal-gatal. Atau mungkin karena hal lainnya.
Suasana yang awalnya ricuh, sekejab diam dan sunyi. Mereka semua menatap heran kedatangan Naruto dan Hinata, terutama Amaru yang sedang digendong oleh Naruto. Tatapan kebencian langsung menyerbu Naruto Hinata dan juga Amaru, Amaru yang tahu itu semua karena dirinya langsung menyembunyikan wajahnya dibalik curug leher Naruto.
Dari dalam rumah tua disana ada seorang ibu paruh baya yang sedang mengintip kedatangan Naruto dan Hinata, dengan langkah ragu. Dia melangkah mendekati Naruto dan Hinata, tersenyum simpul dia yakin Naruto dan Hinata tidak ada maksud jahat datang kesini.
"Maaf, ada keperluan apa kalian datang kesini?" Tanya Ibu tadi sopan.
"Kami datang untuk mengajarkan anak-anak ini, Bu." Jawab Hinata cepat sebelum Naruto buka mulut.
"Kami adalah perwakilan dari Nazu Ambassador, kami datang untuk menjalankan tugas pertama kami. Kami ditugaskan untuk merangkul kaum marjinal, dan sebagai awal. Kami ingin merangkul anak-anak seperti mereka." Ujar Naruto memperjelas maksud kedatangannya.
"Ahh… aku mengerti. Kau pasti putra dari Namikaze-sama, tak ku sangka kau mau datang ketempat kumuh seperti ini. Maaf jika kau merasa kurang nyaman dengan tempat ini." Ujar Ibu Kepala dengan nada sedih.
"Kami bekerja atas dasar profesionalitas, bukan demi pencitraan pihak lain. Kami melakukannya atas dasar kemanusiaan dan atas dasar hati nurani kami." Ujar Hinata lembut.
Ibu kepala tadi tersenyum simpul, 'tak menyangka ada sepasang muda-mudi dari kalangan atas mau datang ke yayasannya. Apa lagi dengan tujuan anak-anak asuhannya. Sungguh amat teramat senang dia mendengarnya. Bahagia, tentu! Kapan lagi akan ada yang perduli dengan anak-anak ini?
"Berapa lama kalian akan mendampingi anak-anak ini?" Tanya Ibu kepala sambil mengajak mereka masuk menuju ruang tamu yayasan.
"Kami belum menentukan kapan kami akan menyelesaikan tugas kami disini, dan sejujurnya kami tidak memiliki deadline untuk tugas kami." Ujar Naruto membuat suasana yang sebelumnya canggung menjadi lebih bersahaja.
"Ah… baiklah aku dapat mengerti, sebelumnya aku lupa memperkenalkan namaku. Aku adalah Itsuma, kalian boleh memanggilku dengan sebutan Ibu kalau kalian mau." Ujar Itsuma ramah.
"Maaf, apa boleh kami mengajari anak-anak itu sekarang? Hari sudah siang, dan ada kegiatan lain yang harus kami lakukan." Ujar Hinata yang sudah mulai serius dengan tujuannya datang kesini.
"Ah… tentu saja, kalian bisa memulainya sekarang. Tunggu disini, dan aku akan pergi sebentar memanggil anak-anak itu."
.
.
.
Sekepergian Ibu Itsuma, Naruto dan Hinata terlingkup dalam keheningan. 'Tak ada yang memulai pembicaraan apapun. Mereka hanya saling terdiam, Naruto ang terduduk dengan kepala menengadah, dan Hinata yang diam dengan Criminal Case-nya.
"Apa yang kau lakukan tadi?" Tanya Naruto merobek tirai pembatas diantara mereka.
"Yang mana?" Tanya balik Hinata masih sibuk dengan bab barunya dalam game tersebut.
"Saat kau menggendong anak-anak tadi, dan kau menciumi hidung mereka." Jelas Naruto, yang langsung mempertegak posisi duduknya.
"Oh, yang itu! Aku sangat menyukai anak kecil, jadi aku langsung seperti tadi." Ujar Hinata masih 'tak berpaling dari layar smartphonenya.
"Apa kau tidak takut, jika mereka membawa virus penyakit pada dirimu? Apa kau tidak takut, jika mereka membuatmu tidak nyaman? Apa kau tidak takut, jika-"
"Kau terlalu banyak omong, itu semua terjadi jika kau terus memikirkannya. Dan –hei! Sejak kapan kau perduli padaku?!" Sahut Hinata sambil terpekik pelan.
Naruto tersentak kaget, benar juga. Sejak kapan ia jadi peduli pada gadis ini, ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Menggaruk tengkuknya, dan terus bergantian seperti itu.
"Heh, kau merubahku, tahu! Kau datang, dan kau membuatku tidak bisa menjadi diriku lagi." Ujar Naruto polos.
Hinata memandang Naruto bingung, apa ini pernyataan cinta secara tidak langsung?
"Hei, dengarkan baik-baik. Aku baru mengenalmu akhir-akhir ini, kurang dari 3 bulan. Dan kau berhasil membuatku penasaran, kau perempuan pertama yang ku temui dan kau sangat tomboy. Kau itu unik tahu! Dan karena kaulah aku ada disini sekarang." Ujar Naruto dengan nada yang belum pernah Hinata dengar sebelumnya.
Sesaat sebelum Hinaat buka mulut, segerombol anak-anak datang menghampirinya. Mereka berlari dengan sangat kencang, dan dibelakang mereka ada Ibu Itsuma dengan wajah lelahnya.
Hari itu Hinata habiskan dengan perkenalan, dan Naruto hanya diam memperhatikan tanpa banyak ikut campur.
.
.
.
Hari ini mereka kembali menuju Nazu Official pukul 7 malam, setelah sebelumnya mereka makan terlebih dahulu. Mereka masih terdiam sampai saat ini, Naruto dengan jalan-jalan Shibuya yang padat kendaraan. Dan Hinata, dengan Geometry Dush-nya yah… hitung-hitung menunggu energynya di Criminal Case kembali penuh dan bisa kembali dimainkan.
"Hinata!"
Hinata tak menjawab dengan kalimat yang jelas, hanya sebuah gumaman saja sebagai wakil dari jawabannya.
"Apa kau marah?" Tanya Naruto mencoba memastikan dugaannya.
"Tidak juga." Sahut Hinata ringan.
Naruto memutar matanya bosan, ada apa dengan gadis satu ini? Apa mungkin karena dia Hinata menjadi seperti ini? Tapi apa penyebabnya? Apa kalimat yang tadi siang dia ucapkan saat di panti asuhan?
"Maaf soal yang tadi siang." Ujar Naruto pelan, tak mau membuat mood Hinata semakin buruk.
"Tadi yang mana?" Tanya Hinata mem-pause Geometry Dash-nya.
"Kau lupa tentang yang tadi?" Tanya Naruto lagi.
Hanya gelengan.
"Hah, aku harap kau tidak mensalah artikan kalimatku tadi." Ujar Naruto lesu.
"Ohh… maksudmu soal merubahmu itu? Bukankah itu bagus, jika saat kau bertemu denganku sifat burukmu dapat hilang? Kenapa kau harus bilang mensalah artikan?" Ujar Hinata setelah tak mengucapkan kalimat apapun sedari tadi.
"Bukan itu bodoh! Mungkin ini terlalu cepat, dan aku tidak meminta jawaban apapun dari kau Hinata. Tapi, jika kau ingin memberikan jawaban juga tidak apa-apa." Ujar Naruto nyaris berbisik.
"Maksudmu?" Tanya Hinata memajukan tubuhnya karena dia tidak mendengar apa yang baru diucapkan oleh Naruto.
"Kapan kau pertama kali bertemu denganku?" Naruto memelankan laju mobilnya, wajahnya memandang serius wajah merona Hinata.
"Mungkin sekitar 2 bulan kurang." Ujar Hinata dengan ekspresi wajah berfikirnya.
"Hhh… Aku menyukaimu." Pernyataan Naruto dengan mata terpejam.
"Banyak yang sudah bilang seperti itu padaku, jadi jangan terlalu sungkan." Sahut Hinata santai.
"Bu-bukan itu maksudku aneh!" Sseru Naruto dengan wajah kesalnya.
"Aku menyukaimu!" Sahutnya lagi.
"Ya, sudah banyak pria yang bilang seperti itu padaku. Dan jujur, aku belum terlalu tau banyak tentangmu." Jawab Hinata lembut.
Naruto mengehela napas pelan, tangan kanannya mengapal kuat.
"Akan ku buat kau menyukaiku suatu hari nanti." Gumamnya sarkartis.
"Maaf kau tadi bilang apa?" Tanya Hinata polos.
"Tidak. Abaikan saja." Sahut Naruto.
.
.
.
To
Be
Continued
Gomenasai minna kalau Suna update terlalu lama, Suna lagi sibuk prepare buat turnamen futsal. Jadi fic ini terbengkalai, ditambah tugas kelompok yang tugasnya tuh suruh buat film. Kalo fanfic suna semangat. Lah ini, suruh buat film. Okeh, gak banyak basa-basi.
Entah kalian mau nganggap Naruto dichapter ini nembak Hinata atau enggak, tapi yang pasti kalian bakal tau jawabannya dari next chap.
Chapter 7 full Hinata PoV,
NEXT UPDATE, MINGGU TERAKHIR FEBRUARI 2016. SPESIFIK SUNA AKAN UPDATE MUNGKIN JAM 1 MALAM.
TAMBAHAN, SUNA AKAN UPDATE MALAM. DAN KEMUNGKINAN JUM'AT MALAM SABTU,AKAN DIBERLAKUKAN MULAI CHAPTER KE-8.
12/22/15/W-B/CP6/A-ECA/YK/9:26
