Yasuna Katakushi Present…
One Word, Say Sorry..
Pairing: Naruto Uzumaki, Hyuuga Hinata.
Genre: Romance, Drama, H/C.
Word: 3,046
Summary: (Penokohan), Hyuuga Hinata. Gadis cantik, manis, sempurna, tapi siapa sangka. Sosok berbalut kulit seputih porselen itu merupakan punggawa kebanggan tim futsal sekolahnya? Gadis berkedudukan sebagai ujung tombak tersebut sudah di percaya tim futsal inti sekolahnya untuk terjun langsung di arena pertandingan. Normalnya futsal putri akan bertarung melawan tim futsal putri juga. Tapi apa jadinya jika tim futsal putri akan melawan tim futsal putra, yang jauh lebih mumpuni dalam bidang sepakbola? / Naruto Uzumaki, punggawa tampan dengan garis wajahnya yang tegas, di tambah dengan tiga pasang goresan di dua sisi pipinya yang menambah kesan manis pada wajahnya. Sosok pangeran dari sekolahnya, sekaligus anak tunggal dari pemilik saham terbesar di dua tim setan lapangan asal Inggris. Manchester United dan Chelsea, Ayahnya. Minato Namikaze, pengusaha yang menguasai hampir separuh dari total saham di kedua tim raksasa tersebut.
Summary: (Cerita) bertepatan dengan hari jadi perusahaan yang bergelut di bidang entertainment Nazu Production, pada hari jadinya yang ke 20 tahun. Nazu Production mengadakan event laga persahabatan, termasuk bidang olahraga futsal, dan dalam laga tersebut. Tim putra dan putri akan bertarung, pertarungan dengan perwakilan sekolah ini akan berlangsung kurang lebih selama 45 hari lamanya. Dan apa yang akan terjadi jika tim futsal putra bertarung dengan tim futsal putri? Akankah berjalan secara Sportif?
WHAT THE…
Apa-apaan dia ini? Menembakku?!
Hei-hei...bocah durian ini masih terlalu cepat, setidaknya izinkan aku mengenalmu lebih dalam dan lebih lama lagi. Bagaimana jika kita berpacaran namun saling tidak mengenal? Hah, kau mau berganti-ganti pasangan tiap 1 minggunya. Iya?
Mohon maaf aku bukan tipe perempuan yang dengan senang hati diperlakukan demikian, tidak akan pernah. Dan tidak akan sama sekali!
Aku senang dengan ia berkata jujur, tapi aku juga tidak senang dengan kata-katanya. Terutama dengan nada angkuh yang entah mengapa melekat padanya akhir-akhir ini, itu sama sekali bukan dia.
Itu memang hanya asumsiku semata, tapi salahkah jika aku menginginkan dirinya menjadi diri sendiri dikala ia ingin menjalin hubungan denganku?
Aku senang dapat menarik perhatian dari salah seorang yang terbilang memiliki pesona tersendiri, tapi aku juga tidak ingin. Ditengah popularitas yang dirinya miliki, dan aku muncul diatas puncak?
Oh ayolah, aku hanya seorang gadis yang berasal dari palung terdalam samudra pasifik. Apa aku layak berada di atas puncak mount everest ? Mungkin jika aku adalah orang yang tidak tau malu, dan memang menginginkan apa yang dimilikinya selama ini.
Aku ingin menjadi diriku sendiri, aku ingin memiliki pasangan yang memang sederhana. Juga cocok dengan dunia yang aku geluti, aku juga sempat merasa risih dengan apa yang ia lakukan pada seorang anak dipanti saat itu.
Aku tau ia mengotori kaosnya karena ia sebal tidak mendapat tanggapan positif dari anak kecil itu, jadi ia mengotori kaosnya dengan alasan ia sudah sama seperti anak itu.
Itu sama sekali tidak mencerminkan sifat seorang ayah pada anaknya, itu lebih menggambarkan kekesalannya pada anak ini. Dan terlebih lagi saat ia menatap Toneri dilaga pertandingan dengan pandangan tidak suka.
Memangnya apa salah Toneri hingga ia menatapnya seperti itu?
Jika memang ia tidak suka kedekatanku dengan Toneri itu akan membuat aku jatuh cinta dengan kekasihku, itu hal yang salah. Toneri tidak pernah berlaku baik padahal aku adalah pasangannya, dan terlebih aku adalah istrinya.
Dan oh ayolah, aku masih kelas 1 dan aku ingin belajar agar aku dapat masuk dalam kelas unggulan yang aku minati. Bukan berpacaran secepat ini, aku ingin focus dengan pendidikanku.
Jika memang Naruto akan membuatku jatuh cinta padanya suatu hari kelak dengan cara yang diucapkannya tadi, akan ku tunggu hingga saat itu tiba.
Tapi jika tidak, aku akan berpaling. Hah...aku masih ingin mendekati pemuda aneh itu.
Seorang pemuda misterius yang berteman denganku pada sebuah game online yang aku mainkan, ia juga memainkan game Call of Duty. Game itu jarang aku mainkan, aku lebih sering memainkannya kala bosan saja.
Pemuda ini hacker hebat, dan mungkin akan menyenangkan jika memiliki seorang hacker hebat. Dan yang lebih menyenangkan adalah saat aku mengetahui jika dia juga seorang Football Player.
Oh God!
Tapi aku tidak senang kala ia tidak ingin mengajarkan aku sebagian dari trik yang ia kuasai, ia dan Naruto sama! Meremehkan kemampuanku, padahal mereka sendiri sama-sama tidak tau sampai dimana batas kemampuanku.
Dan itu menyebalkan!
.
.
.
Kheh...
Apa aku salah? Tapi ini 'kan yang disebut dengan hidup?
Ada menang dan kalah, manis dan pahit, positif dan negative?
Bahkan kedua kutub bumi saling bertolak belakang.
Tapi perbedaan itukan yang membuat semua ini terlihat kompleks dan menarik untuk ditelusuri?
Kita hanya manusia, tugasnya hanya berjalan, merawat dan memelihara.
Kita tidak memiliki sehakpun untuk menjadi sekumpulan orang-orang homogeny, kita ini heterogen karena itulah kita terlihat unik dan mengesankan.
.
.
.
Gemuruh itu terdengar kencang, tapi aku merasa sunyi.
Aku yang akan memboyong trophy itu untuk sekolahku, keluargaku, dan untuk diriku sendiri…!
Kalian hanya pengganggu…!
Suara itu berseru dengan semangat, memanggil semua nama yang mereka kenal...!
Dan namaku juga turut dilontarkan.
.
Ini menakjubkan, aku berdiri ditengah lapangan. Berdiri sebagai seorang defender, berdiri dengan formasi yang memang sudah menjadi andalan kami. Prinsipku sekarang, siapapun mereka. Tak 'kan ku biarkan bola itu menggelinding melewatiku.
Otot betis dan pahaku sudah mengencang, seturut dengan tenaga yang memang kupusatkan pada bagian kakiku. Ini berguna saat aku akan mengeksekusi bola, juga untuk berlari. Baik, jika aku lolos, mereka akan ku habisi...!
.
Suara gemuruh semakin mengencang, seturut dengan suara tiupan pluit yang menandakan dimulainya pertandingan.
Suara terompet dan nyanyian yel-yel berkumandang memenuhi lapangan dan bergema hingga keluar.
Maju dan terus maju, aku hanya perlu melewati 3 orang. Yah hanya 3, terkecuali untuk satu orang yang berada ditengah itu.
.
Ten-Ten mengoper bola padaku, aku menahannya pada telapak kakiku. Mereka semua tidak langsung mengejar bola ini, apa itu stategi mereka?
Aku melirik Brenna-senpai yang menatapku seakan member kode untuk eksekusi jarak jauh, ohhh... aku tidak bodoh, aku tidak ingin pamer kekuatan.
Tapi aku juga tidak suka saat Naruto merendahkanku tentang tehnik yang selalu dikuasai para adam yang angkuh itu..!
Aku meng-keeping bola secara perlahan kearah kanan, menatap para lawan yang berada didepanku, Brenna, Ten-ten dan yang lain bingung dengan apa yang aku lakukan. Tapi aku melihat satu orang yang mengerti apa yang hendak aku lakukan, Naruto membulatkan mata di tribun sana.
Kheh...
Aku tidak butuh 2 kali bicara, aku hanya butuh kepercayaan dan pokoknya saja.
Masih terus dengan gerakan yang sama, menutup mataku dan mencoba mencari saat yang tepat kapan aku harus beraksi.
Mengangkat lututku keatas dan menginjak bola yang ada dibawah sana dengan kencang hingga bola tersebut melambung kedepan, dan terus melambung semakin tinggi. Tim lawan semakin kencang berlari mengejar bola itu.
Aku melangkah mundur dengan langkah yang besar, Brenna terbelalak melihatku yang seakan membiarkan bola itu direbut oleh tim lawan. Begitupun teman setimku yang berusaha merebut bola yang masih melambung diatas.
Masih mundur, kudapatkan 5 langkah besar. Kini aku berdiri sejajar dengan gawang tapi tidak sampai menyentuh garis out side, berlari dengan langkah yang sangat besar sebesar yang aku bisa.
Satu...
Aku masih terpejam
Dua...
Tetap terpejam menghayati gelap yang mengukungku
Tiga...
Menambah speed dan tenaga pada kakiku
Empat...
Memusatkan semuanya pada kaki kiriku
Lima...
Aku terbang...
Aku berhasil, tinggal sedikit lagi maka aku berhasil...
BRUKKK...!
Semuanya hening... kurasakan sakit yang lumayan pada kepala dan punggungku, ternyata aku kurang sedikit, tapi ini termasuk hebat untuk pemula.
GOOOAAAALLL...!
Kurasakan paramedis datang menyentuh kepalaku dan kakiku, aku mencoba menolak secara halus, mencoba bangkit dan dibantu oleh Brenna yang berlari menghampiriku kala aku terjatuh setelah berhasil meng-heading bola tadi.
Kurasakan kepalaku masih berdenyut, aku masih belum sanggup membuka kelopak mataku saat kurasa tempatku berpijak bergoyang.
HAAP!
Kurasakan sesuatu yang hangat mendekapku, kulihat Baressi senpai yang menggendongku ala bridal style wajahnya menyiratkan kepanikan, dan tangannya terus mengusap hidungku yang terasa basah.
.
.
.
"Bagaimana kabarmu hari ini?"
"Aku baik-baik saja... bagaimana dengan sekolah barumu?"
"Seperti biasa, berkumpul ditengah para bangsawan dan penerus muda... kau sendiri?"
"Aku baik, Arashi-kun. Aku sedang menyiapkan untuk masuk di Konoha Gakuen, mereka mencetuskan banyak atlet hebat! Dan aku ingin menjadi salah satu dari mereka!"
"Hinata, kau tidak enggankan berpacaran denganku? Maaf kita tidak bisa dan tidak pernah bertemu, tapi aku akan tetap menjadi milikmu."
"Kau tidak perlu bilang seperti itu, kita adalah satu meski berada di tempat berbeda. Pasti ada saat dimana kita bertemu, meski waktu akan berputar dengan lambat."
"Bagaimana jika kita bertemu saat kita sudah tua?"
"Tidak mungkin?"
"Jika mungkin?"'
"Aku yang akan membuat waktu takluk padaku!"
"Kau sombong!"
"Jika aku tidak sombong, kau tidak mungkin mau padaku."
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena kau juga sombong!"
"Kheh... akan kucium kau jika kita bertemu!"
"Silahkan saja, aku selalu siap!"
"Hinata, aku pernah berkata padamu bahwa aku lebih tua darimu. Bagaiman jika umur kita terpaut 10 tahun?"
"Mana ada orang berumur 23 tahun sedang bersekolah di Senior High!"
"Aku, yang akan lebih dahulu menaklukan waktu untukmu!"
"Tidak akan bisa!"
"Aku memang bisa, kaulah sang penakluk waktu, aku hanya membuka peluang untukmu."
"..."
"Kesempatan tidak datang 2 kali, akan kubuat mereka datang beribu-ribu kali padamu!"
.
.
.
Aku membuka mataku, sebuah ruangan. Unit kesehatan ternyata, semuanya yang hening perlahan mulai terdengar. Mencoba bangkit meski punggungku terasa remuk, mencoba bangkit dan berjalan dengan perlahan. Aku juga tidak ingin memaksakan tubuhku dan membuatnya semakin tersiksa.
Aku sudah sampai di sebuah pintu yang menghubungkan ruang unit kesehatan dengan arena pertandingan. Sudah di babak akhir, dan timku masih memimpin. Ternyata aku meninggalkan lapangan hingga hari ini pertandingan kedua mereka, dan aku tidak membantu.
"Ahh..." pekikku merasakan sakit pada punggunggku dan rubuh, tapi ada yang menahanku.
Akashi New Method, Next Generation, Orion Stars
Aku tidak asing dengan nama tersebut, tapi dimana?
"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto yang mengkhawatirkan keadaanku.
Aku hanya menggangguk menanggapi pertanyaan Naruto, masih menatap sebuah lambang klub pada dada kirinya yang amat familiar bagiku.
"Ada apa?"
"Tidak."
Setelah itu hanya mencoba kembali pada ranjang pasien, sekilas aku melihat Brenna senpai sedang menatapku dengan tatapan sendu, apakah ini rasanya mempunyai kakak yang selalu mengkhawatirkan kita?
"Sini, biar aku bantu!"
Naruto dengan sigap dan tanpa diperintah merangkulku dan menuntunku pada ranjang pasien yang terdekat dengan posisiku berdiri saat ini.
"Maaf aku merendahkanmu waktu itu..." ujar Naruto membuka pembicaraan.
Aku tak menjawab hanya menatapnya dengan datar, tak berniat berbicara banyak. Tapi jujur aku merasa menang membuatnya berkata demikian.
"Akashi member?" ujarku dengan nada bertanya.
"Iya. Kau tau?" tanya Naruto menatapku serius. Ia menarik bangku yang berada di belakangnya dan duduk berhadapan denganku.
Aku menatap kakiku yang tidak terbungkus oleh sepatu futsal maupun kaos kaki yang sebelumnya aku kenakan.
"Kau kenal Akashi?" tanyaku dan ia terbelak kaget.
"Dari mana kau mengenalnya?" tanyanya spontan.
"Dia kekasihku, ada yang salah?" tanyaku balik seakan tidak mengerti situasi.
"Aku...mengenalnya." jawabnya lesu.
Ia kemudian terdiam dengan ponselnya begitupun juga dengan diriku.
DRRRTT... DRRRTT... DRRRTT...
Ponselku bergetar, sebuah pesan masuk dari salah satu media social miliku. Arashi mengirim sebuah pesan baru padaku setelah nyaris ia tidak menghubungiku selama 6 bulan.
"Maaf"
Dengan sigap aku mengetikkan balasan untuknya
"Maaf untuk apa?"
Ekspresi Naruto dapat terlihat olehku meski aku tidak menatapku, ia menatapku penuh keterkejutan.
"Maaf, waktu telah takluk padaku. Akulah pemenangnya."
Aku terdiam, waktu?
Jantungku berdegup dua kali lebih kencang disbanding biasanya, apa aku pernah bertemu dengan Arashi? Tapi dimana? Mengapa aku tidak menyadarinya?
"Tidak mungkin!"
Kali ini aku tidak terlalu mengharapkan balasan, aku melihat Naruto bersandar pada sandaran kursi yang didudukinya, matanya menatap langit-langit seakan sedang berpikir.
Naruto melirik kembali ponselnya dan kemudian mengabaikannya kembali.
"Maaf tapi aku tidak yakin waktu dapat kau taklukan, jadi aku melakukannya sebelum kau melakukannya."
"Kau tidak menolakku karna Akashi kan?" Tanya Naruto.
Aku terdiam, itu salah satu dari alasanku menolaknya. Tapi tidak juga, aku mungkin dapat menduakan Akashi selagi pria itu tidak tau. Mungkin, atau tidak juga.
"Tapi kenapa?"
Aku memilih membalas pesan dari Akashi dari pada menjawab Naruto, lagi pula untuk apa aku menjawabnya. Aku tidak ingin memberi gambaran tentang apapun antara diriku dan Arashi.
"Kau tau, bahkan para member pun tidak tau bagaimana Akashi yang kau maksud, dia tidak pernah muncul!" ujar Naruto menusuk.
"Apa maumu?" tanyaku tidak senang.
"Siapapun itu, dan apapun itu dapat ia taklukan. Itu yang aku dengar." Ujarnya dengan bibir yang mengerucut meledek.
Ia menatapku dengan senyum yang belum pernah aku lihat sebelumnya, senyum penuh kemenangan.
"Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan Arashi?" tanyanya kemudian, berjalan menuju pintu dan bersandar pada daun pintunya.
Wajahku menunduk, tidak mampu menjawab. Membayangkannya saja sudah membuatku senang.
"Jika kau tidak dapat bertemu dengannya, bahkan sampai tua sekalipun, sampai rambut gelapmu kehilangan warnanya, apa kau akan tetap bertahan dengan kekasih semu milikmu itu?" tanyanya lagi.
Aku terdiam, jika Naruto adalah bagian dari Akashi Member dan ia tidak pernah bertemu dengan Akashi sendiri, mana mungkin aku yang hanya tau dari media social dapat mengenalnya?
"If you think you can do it, you can do anything. If you think you can't do it, you can't do anything." Ujar Naruto, membuatku terbelalak.
"I known." Ujarku faham dengan perkataan Naruto.
"You know?" ujar Naruto berjalan mendekat dengan langkah perlahan.
"Who am I? tanyanya kemudian semakin mendekat.
"Kau siap jika bertemu denganku?"
Hinata melirik handphonenya menatap balasan dari Akashi,
"Aku siap, tapi tolong jelaskan kapan pertama kali kita bertemu!"
"Gerbang Nazu Gakuen, 9 tim inti Kurama!"
Hinata terbelak, ia hendak menatap Naruto. Tapi tak disangka, hidung mereka sudah menempel satu sama lain. Wajah Naruto sudah terpejam, menikmati aroma tubuh Hinata.
Hinata mengatupkan bibirnya kuat-kuat takut akan suasana yang dibuat oleh Naruto.
Kini bibir atas Naruto sudah menempel dengan bibir atas Hinata, mata Naruto memandang lurus pada mata Hinata tanpa berkedip sedikitpun.
Dari posisi ini Hinata dapat mendengar deru napas Naruto yang terdengar bagai gemuruh, angin yang siap menelannya tiba-tiba.
Tangan kiri Naruto meraba pinggul kanan Hinata dengan gerakan lembut dan perlahan, kostumnya pun tersingkap seturut dengan tangan Naruto yang naik menjalari tubuhnya. Memasuki kaos yang Hinata gunakan, da meraba perut datar Hinata, dan naik menuju gundukan yang Hinata miliki.
"Apa yang mau kau tunjukan padaku, untuk membuatku percaya bahwa kau adalah Arashi?" tanya Hinata dengan lembut tapi menggoda.
"...mesum!" ujarnya kemudian.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Naruto, ia memulai kembali sifat sombongnya.
"Sebuah challenge, perkenalkan dirimu pada member Arashi yang sudah kau bodohi!"
"Tidak bisa,"
"Maka aku juga tidak bisa percaya padamu!"
"Bisakah kita memulainya?" tanyanya menginginkan diriku
"Tidak!"
Tanganku menyentuh tangannya yang sudah meremas dadaku sejak tadi, menatapnya meminta pengertian.
"Tapi kenapa?" tanyanya murung seakan meminta lebih padaku.
"Kau hanya meminta ciuman bukan erangan!" jawabku spontan.
"Apa tidak boleh lebih, baiklah kau akan kucium semalaman nona." Ujarnya terdengar nakal tapi aku tidak perduli.
"Tapi bibirmu sudah menyentuh bibirku, dan aku anggap itu sebagai ciuman."
Naruto melongo setelah aku mengatakan hal tersebut…
.
.
.
"Syukurlah kau sudah siuman, Hinata!" ujar Brenna senpai.
"Aku kenapa?" tanyaku polos.
"Kau pingsan setelah mencetak gol tadi."
"Apa aku barusan bermimpi?" tanyaku pada mereka semua dan dibalas gelengan mereka.
Aku melirik layar handphoneku, sebuah pesan masuk dari Arashi.
"Salam kenal, Hinata Uzumaki."
"Sial!" umpatku dalam hati.
.
.
.
To
Be
Continued
.
.
.
Next update, sebelum 16 Juni 2016 (diusahakan)
Alurnya tak semudah yang kalian bayangkan, untuk jadwal pertandingan karena suna bingung siapa saja lawannya jadi tak usah dihiraukan jika nanti muncul dalam cerita, dan jangan bayangkan alur yang menarik dan manis dalam hubungan mereka.
Sesuai tema, anti-mainstream jadi semuanya juga anti-mainstream, termasuk alur.
Jadi harap maklum.
No coment, see you.
