Yasuna Katakushi Present…
One Word, Say Sorry..
Pairing: Naruto Uzumaki, Hyuuga Hinata.
Genre: Romance, Drama, H/C.
Word: 5,637
Summary: (Penokohan), Hyuuga Hinata. Gadis cantik, manis, sempurna, tapi siapa sangka. Sosok berbalut kulit seputih porselen itu merupakan punggawa kebanggan tim futsal sekolahnya? Gadis berkedudukan sebagai ujung tombak tersebut sudah di percaya tim futsal inti sekolahnya untuk terjun langsung di arena pertandingan. Normalnya futsal putri akan bertarung melawan tim futsal putri juga. Tapi apa jadinya jika tim futsal putri akan melawan tim futsal putra, yang jauh lebih mumpuni dalam bidang sepakbola? / Naruto Uzumaki, punggawa tampan dengan garis wajahnya yang tegas, di tambah dengan tiga pasang goresan di dua sisi pipinya yang menambah kesan manis pada wajahnya. Sosok pangeran dari sekolahnya, sekaligus anak tunggal dari pemilik saham terbesar di dua tim setan lapangan asal Inggris. Manchester United dan Chelsea, Ayahnya. Minato Namikaze, pengusaha yang menguasai hampir separuh dari total saham di kedua tim raksasa tersebut.
Summary: (Cerita) bertepatan dengan hari jadi perusahaan yang bergelut di bidang entertainment Nazu Production, pada hari jadinya yang ke 20 tahun. Nazu Production mengadakan event laga persahabatan, termasuk bidang olahraga futsal, dan dalam laga tersebut. Tim putra dan putri akan bertarung, pertarungan dengan perwakilan sekolah ini akan berlangsung kurang lebih selama 45 hari lamanya. Dan apa yang akan terjadi jika tim futsal putra bertarung dengan tim futsal putri? Akankah berjalan secara Sportif?
Twin Couple [1]
.
.
.
SIAPKAN MATA KALIAN, CHAPTER KALI INI AKAN MENYAKITKAN.
'Tuhan, semoga aku berada dijalan yang benar!'
Seorang pria dengan mata lavender pucatnya tengah berjalan dilorong sebuah sekolah, sekolah yang hanya menempati satu lantai ini amat luas dan saling dihubungkan dengan banyaknya lorong dan koridor.
Pria ini terus berjalan, menuju ujung koridor yang menghubungkan kelas dengan beberapa saung yang menjadi tempat untuk belajar bersama para siswa maupun siswi.
Menghembuskan napas dengan kasar, matanya menatap sebuah lambang yang sudah memudar catnya. Lambang Bone Team. Tim futsal Kagutsuki sebelum mereka roboh oleh Nazu. Kesalahan sepenuhnya bukan ada di Nazu, melaikan Kagutsuki yang kurang kuat dalam membangun fondasi.
Langkahnya semakin diperlambat saat ia nyaris tiba pada sebuah monumen dimana lambang tersebut berada, menatap lekat batu marmer yang sudah mulai gompal dibeberapa sisi. Beberapa coretan yang ditulis oleh tangan-tangan jahil juga tidak luput dari pengamatannya, air matanya turun begitu saja.
"Gomen, onii-chan!" ujarnya parau disela tangis tanpa suara yang ia keluarkan.
Angin berhembus menerbangkan beberapa helai daun kering yang sudah gugur ketanah, memejamkan matanya menghalau debu yang hendak masuk dan melukai retina matanya. Membayangkan kembali apa yang terjadi 5 tahun belakangan ini, air matanya semakin deras mengalir.
"Hikss..." satu isakan mengawali isakan lainnya untuk keluar.
Kulit putih pucatnya semakin memucat saat angin semakin kencang menerpa, sekarang sudah pukul 9 malam tapi ia tidak ada niatan untuk keluar dari sekolah yang sudah sepi tersebut. Memilih menjatuhkan tubuhnya dan memberikan beban sepenuhnya pada lutut dan tulang keringnya.
Terus menangis dan mencurahkan semua isi hatinya, menatap sebuah piala lambang kehebatan Kagutsuki dimasa lalu dalam bidang akademik maupun non-akademik. Piala berwarna asli kuning keemasan yang pada kakinya ada sebuah medali sebagai lambang pemenang Olimpiade, dan piala sebagai lambang pemenang Lomba maupun kompetisi non-akademik.
Tangisnya semakin pecah saat mengenang arti dari tiga pasang tetes air yang seakan terciprat berwarna merah, gambar air tersebut melambangkan banyaknya alumnus dari Kagutsuki yang sudah mati saat mereka menjadi atlet atau akademisi bagi Negara mereka.
Dan lambang bintang pada bagian tengah atas logo melambangkan semangat untuk terus menjadi yang terbaik, ia sadar betul nyaris semua dari makna gambar tersebut tidak lagi diterapkan.
Menunduk dan menatap lambang sekolahnya yang berada di dada sebelah kirinya, lambang yang dikenal sebagai sekolah para pekerja keras kini hilang ditelan waktu.
"Indra!" memaki udara yang terus bertiup membelai pipi pucatnya.
"Kau sialan!" terus menangis dan berteriak, sesekali tangannya meninju tanah yang menjadi alasnya berpijak.
"Bodoh!" ujar sebuah suara entah dari mana asalnya.
"Apa yang kau lakukan disini?!" tanyanya sinis pada sosok asing yang mungkin sedang memata-matai dirinya.
"Hei, Toneri. Kenapa kau tidak dekati saja gadis itu?" tanya sosok yang mirip dengannya. Berjalan dengan mata lavender yang sedikit bercampur dengan tosca.
"Diam kau Indra!" desis Toneri tidak terima saat Indra sudah mulai membahas sosok seorang gadis.
"Kau menyukainya 'kan?" tanya Indra dengan nada mengejek.
"Kau tidak mengerti apa-apa! Enyahlah kau manusia terkutuk!" tangis Toneri semakin pecah membanyangkan kembali hal gila yang sedang disusun oleh Indra.
Tatapan penuh emosi Indra hilang tergantikan dengan tatapan datar tidak senangnya, ekspresinya turut mendingin. Tidak senang dengan umpatan yang baru saja ditujukan untuknya.
"Aku, kau bilang tidak mengerti?! Tidak mengerti saat kakek tua sialan itu secara sengaja menghancurkan keluarga kita?! ITU YANG KAU SEBUT TIDAK MENGERTI?!" teriak Indra menggema dilorong-lorong gedung kosong tersebut.
"Bone Team hancur karenanya, dan aku yang akan menghidupkan kembali!" ujar Indra berjalan pergi meninggalkan Toneri yang masih terpaku dengan segala kengerian yang akan segera datang menimpa dirinya.
"Kheh... aku hanya sebuah batu yang terus berjalan tanpa nyawa yang disebut asteroid, tapi pada hakekat alaminya cahaya matahari hanya untuk bulan, bukan untuk bumi maupun siapapun digalaksi ini! Dan aku hanya asteroid yang terus berjalan tanpa orbit yang melintas tepat diantara bulan dan matahari yang saling berjajar manis." Setelah berkata demikian Toneri berjalan pergi menuju salah satu ruangan di gedung sekolah tersebut.
Mengambil sebuah kontainer plastik dan membawanya dengan motor sport miliknya, menghilang dikegelapan malam. Tapi ada satu hal yang ia lupakan dari lambang usang tersebut.
N.A.Z.U Schartz
Yah... siapa yang tau, hanya karena tetesan air tulisan Nazi secara tidak langsung membuat sebuah huruf lain dengan kata baru dengan arti baru.
.
.
.
Nazu Schartz, sebuah bank swasta yang lagi-lagi dikelola oleh yayasan keluarga Namikaze-Uzumaki. Bank dengan background badan amal ini sedang gencar-gencarnya melakukan penggalangan dana untuk para penderita Kanker dan Thalasemia yang sedang mewabah.
Disalah satu ruangan seorang wanita berambut merah sepunggung tengah mengerjakan tugasnya sebaik mungkin, kacamatanya yang nyaris merosot ia naikan kembali. Matanya terus menelisik beberapa data yang memang tidak sengaja ia temukan digudang arsip, sebuah ruangan khusus arsip penting yang belum waktunya untuk dibuang. Kertas putih yang sudah menguning tersebut, isinya ditulis dalam bahasa Jerman.
Dahinya mengkerut, memikirkan kembali siapa pemilik dari kertas usang tersebut. Biarpun tanpa nama, karena ia menemukannya digudang arsip kemungkinan ini adalah kertas penting walau bukan lagi zamannya.
Bahasa yang digunakan adalah Jerman, sedangkan keluarga Namikaze maupun Uzumaki tidak memiliki ikatan darah maupun bisnis dengan Negara tersebut saat tanggal kertas tersebut ditulis.
"Nee, Reetha-sama, apa yang sedang kau lakukan?" tanya seorang pemuda berambut hitam jabrik dengan mata biru lautnya.
"Kau juga bagian dari Uzumaki, baka! Untuk apa kau memanggilku layaknya memanggil atasanmu?!" tanya wanita –lebih tepatnya gadis- bernama Reetha tersebut.
Menma tersenyum menanggapi ucapan dari saudara jauhnya ini, memang benar mereka masih dihubungkan oleh pertalian darah. Jadi tidak semestinya ia memanggil Reetha dengan imbuhan seperti tadi.
"Jadi, apa yang Nee-chan sedang lakukan?" tanya Menma lagi.
Reetha tersenyum manis saat Menma tidak lagi berbicara formal padanya, berjalan mendahului Menma menuju salah satu tempat duduk terdekat yang ada disana.
Duduk dengan anggunnya dan kembali melirik kertas yang ada dalam genggaman tangannya tersebut, mendesah pelan dan menatap Menma lembut.
"Yah.. yah.. baiklah! Jadi sekarang apa?" tanya Menma berjalan mendekat menuju posisi Reetha.
"Kau bisa bahasa Jerman kan?" tanya Reetha to the point.
"Mana?" tanya Menma meminta teks yang akan diterjemahkannya.
Tanpa ragu Reetha memberikan kertas tadi pada Menma, ia menatap raut wajah Menma yang nampak kesulitan. Pemuda yang memang tidak pintar akademik tersebut dibekali kemampuan menguasai 4 bahasa, berbeda jauh dengan Naruto yang hanya mampu menguasai 2 bahasa secara menyeluruh dan 1 bahasa dalam pembelajaran.
"Jadi?" tanya Reetha menuntut jawaban dari Menma.
"Aku tidak mengerti secara keseluruhan, disini banyak menggunakan kata kiasan yang sudah jarang digunakan di Jerman sendiri. Tapi pokok bahasannya adalah bahwa Si Penulis menyatakan kesukarelaannya untuk menyetujui dan menjalankan semua yang sudah dijanjikan, tapi perjanjian apa yang dimaksud tidak dicantumkan disini." Ujar Menma menjelaskan sambil membolak-balik kertas usang tersebut.
Reetha ikut kebingungan, gadis dengan tubuh semampai tersebut memandang Menma penuh tanya. Kalimat kiasan? Mana ada surat pernyataan yang menggunakan kalimat kiasan, terlebih surat yang ditulis tangan.
"Eh?!" Menma tersentak.
"Ada apa?!" tanya Reetha yang juga ikut terlonjak.
"Ini tidak mungkin?!"
"Memangnya apa yang kau temukan bodoh?!" tanya Reetha kesal.
"Ini surat perjanjian peminjaman uang untuk operasional perawatan pesawat boeing, tapi pesawat itu.. ah!" Desah Menma frustasi.
"Apa maksudmu?!" tanya Reetha yang binggung dengan pembicaraan monolog yang Menma lakukan.
"Jadi begini, Penulis adalah orang berdarah Jerman berkebangsaan Jepang. Dia berniat meminjam uang pada Schartz Banking, itu adalah nama awal Nazu Schartz." Menma mulai menjelaskan dan Reetha hanya menyimaknya dengan seksama.
"Ia berniat meminjam uang kepada kita untuk biaya operasional perawatan pesawat boeing yang ia miliki, orang ini tinggal didekat distrik Hagoyama. Sekitar daerah industri tekstil Hagane, bagian timur dari Fumby Resort." Menma meberikan jeda sejenak sambil terus menerjemahkan kata-kata yang ia bisa artikan.
"Biaya operasional tersebut harusnya menggunakan uang iuran para mahasiswa penerbangan yang diasuhnya, tapi karena beberapa sebab uang itu tidak mencukupi dan ia berniat meminjam kepada kita untuk menambahi kekurangan uang tersebut."
"Apa biayanya juga ikut ditulis didalamnya?" tanya Reetha menyela penjelasan Menma.
"Disini tidak dituliskan, tapi ia membuat pernyataan bahwa ia rela mengorbankan setengah dari asset yayasan yang ia kelola sebagai jaminan apabila uang itu tidak dibayar tepat pada waktunya. Nama orang itu Bone O. Reagan." Tutup Menma akan penjelasannya.
"Bone? Dia manusia atau kerangka yang biasanya ada di Lab Biologi?" tanya Reetha dengan nada bodoh.
Menma tidak menjawab hanya menatap datar kerabatnya itu, melemparkan kertas tadi pada Reetha.
"Itu baru halaman pertama dari 3 halaman lainnya, tapi hanya satu halaman yang kau berikan padaku. Kabari aku jika kau menemukan yang dua lembarnya lagi, aku mulas!" ujar Menma berjalan menuju toilet yang berada disisi kiri tempat mereka berbincang-bincang barusan.
"Ku coba tahan bau ini, ku kira berasal dari gudang. Ternyata Si Anak Kunyuk yang baru saja kentut." Ujar Reetha yang meratapi nasib mencium gas methana yang diproduksi oleh perut Menma.
.
.
.
Toneri melajukan motornya dengan kecepatan sedang, ia hendak menuju salah satu sekolah milik Kagutsuki yang sudah ditutup. Ia ingin menyelesaikannya sendiri, jalanan semakin sepi mengingat larutnya malam ini.
Ia terus menarik tuas gasnya menuju salah satu kompleks lapangan terbang yang dimiliki oleh Kagutsuki, menuju salah satu bank harta karun yang sengaja disembunyikan oleh semua anggota keluarga. Ia pun tau karena menguping pembicaraan antara beberapa anggota keluarganya.
Harta ini memang nyata, hanya saja keluarganya yang lain enggan mencarinya mengingat lokasinya yang tidak spesifik dijelaskan. Sebuah pagar yang terbuat dari anyaman kawat sudah menghadang jalannya, didalamnya ada sebuah jalan yang hanya dapat dilalui oleh pejalan kaki mengingat lokasinya yang tidak jauh dari laut membuatnya perlahan tergenang oleh air laut. Dan ditambah lagi malam ini puncak pasang air laut dibulan tersebut. Jadilah jalan tersebut tertutup air pasang.
Melempar kontainer plastik yang tadi ia bawa kedalam gerbang dan memanjatnya, memanggul kontainer tadi dan berjalan masuk.
"Tuhan, semoga aku tidak mati tenggelam didalam sana." Ujar Toneri saat menatap air laut yang sudah menggenang sampai setengah betisnya.
"Apa benar ini air laut?" tanya Toneri kemudian mencolek sedikit airnya dan mencucukkan kelidahnya.
Mengecap untuk sesaat, ekspresi tidak suka ia tunjukan.
"Air ini terlalu asin, ibuku bilang jika masakan terlalu asin akan menyebabkan hipertensi." Ia pun kemudian berjalan dengan beban yang ia berikan pada bahu sebelah kanannya untuk membawa kontainer tadi.
"Apa mungkin semua ikan dan mahluk laut itu mengidap hipertensi, mengingat betapa asinnya air ini?" Toneri kemudian terus bermonolog ria, meskipun tidak ada yang mendengarnya.
.
Twin-kle Twin-kle little stars
How I wonder what you are?
Twin-kle Twin-kle little stars
How are you today?
Twin-kle Twin-kle little stars
Twin-kle Twin-kle little stars
Twin-kle Twin-kle little stars
Twin-kle, Twin-kle, Twin-kle, Twin-kle, Twin-kle
Twin, hear me! Don't miss again okay?
Yes, Captain!
Are you ready?
Ay yay, Captain!
I can't hear you?
Ay yay, Captain!
Oooo...
.
"Tempatnya kan ada dibawah tanah? Kenapa tidak ada tangga untuk kebawah tanah langsung?" tanya Toneri pada dirinya sendiri.
"Oy-oy?! What are you doing here?" teriak sebuah suara dari belakang Toneri.
Toneri terdiam, ia tidak bisa menoleh sepenuhnya mengingat beban yang ia bawa sedari tadi. Ia hanya dapat melihat seonggok –sesosok- manusia yang tengah berjalan menuju posisinya sekarang.
"Dude, what are you doing?" tanya orang itu untuk yang kedua kalinya.
"Apa kau tau dimana ruang bawah tanah gedung ini?" Tanya Toneri bingung.
"Ah... tunggu! Siapa kau?!" tanya orang itu dalam bahasa manusia.
"Manusia." Jawab Toneri polos dan meneruskan jalannya menyusuri gedung yang sudah terendam air laut sampai pingganggya tersebut.
"Jangan melemparku pakai sandal bodoh!" maki Toneri saat orang itu melemparnya dengan sandal gunung.
"Ku tanya namamu, bukan spesiesmu I do it!" sahutnya kesal.
"Do it? Memangnya apa yang hendak kau lakukan?" tanya Toneri balik saat mendengar akhir kalimat yang diucapkannya.
"I-Do-It, it same idiot. C'mon!" ajaknya membiarkan Toneri yang masih terdiam layaknya orang bodoh.
.
Mereka berdua berjalan menyusuri air yang semakin meninggi, bukan air laut yang semakin pasang. Tapi posisi tanah yang gedung itu gunakanlah yang semakin landai menuju pantai.
"Gedung ini sudah ditutup, sedang apa kau malam-malam begini?" Tanya orang asing yang mengenakan topi rajut berwarna hijau lumut tersebut.
"Sekolah ini milik keluargaku, sebelum gedung ini hancur ada yang harus aku ambil." Jawab Toneri masih terus melangkah dengan kontainer yang cukup besar itu dibahu kanannya.
"Kau sendiri?" tanya Toneri.
"Kau dari keluarga Ootsutsuki yah?"
"Hmm.."
"Baiklah.. aku memang biasa kesini untuk ronda, banyak orang-orang yang usil dengan mencuri barang-barang yang ada didalam gedung. Sebelum air pasang melanda gedung ini, pihak bank membuat sebuah taktik. Menyembunyikan semua benda baik berharga maupun tidak diruang bawah tanah, mereka membuat pintu ruang bawah tanah didalam gedung dan meninggikan beranda gedung agar air pasang tidak dapat masuk kedalam gedung."
"Siapa kau, bisa tau sampai sejauh itu?"
"Namaku Uzumaki Menma, aku sepupu dari Naruto. Putra paman Minato." Ujar Menma sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Toneri tercekat, ia takut rencananya ketahuan. Meskipun semuanya akan berakhir dengan keluarga dari Naruto dan Mahluk didepannya ini, tapi ia belum siap jika semuanya dibongkar secepat itu.
"Tenang, jika sudah malam aku tidak menggigit, hanya mampu menggonggong saja." Ujar Menma.
Kini mereka sedang menaiki tangga yang cukup tinggi, mungkin sama tingginya dengan lantai 3 gedung perkantoran.
"Untuk apa tangga setinggi ini?!" Maki Toneri saat melihat tangga tersebut.
"Kan sudah kubilang, please God." Desah Menma kala tingkat loading Toneri yang amat terbilang lamban.
"Tangga inilah yang membuat orang-orang enggan untuk mencuri, jika kau melangkah pada tempat yang salah. Maka kau akan tergelincir." Ujar Menma kemudian.
"Dan kenapa kita harus lewat pada bagian tengah tangga, kau lihat?! Kita lebih mudah tergelincir disini! Anak tangganya juga sangat curam!" Maki Toneri yang terlihat bergetar menapaki anak tangga.
"Boleh tidak, aku kembali besok pagi saja. Menunggu air laut surut." Ujar Toneri mengurungkan niatnya karena takut.
"Air tidak akan surut." Ujar Menma mebuatnya semakin bergidik ngeri.
"Kemarikan kontainer milikmu!" pinta Menma kepada Toneri.
Menma dengan mudahnya melemparkan kontainer milik Toneri tadi keatas salah satu anak tangga dan kemudian mengejarnya sebelum boks itu meluncur kebawah dengan cepat.
Ia terus melakukan itu tanpa menyadari tatapan kaget Toneri.
"Isinya hanya kain, biarkan saja." Desah Toneri yang menapaki tangga dengan cara merangkak.
"Kau kenapa?" tanya Menma yang sedang membuka kunci pintu masuk gedung.
"Aku takut jatuh." Ujar Toneri seperti rintihan.
"Jika kau tidak percaya, coba kau buka alas kakimu dan jejakkan keatas anak tangga. Bedakan dengan anak tangga yang lain." Suruh Menma yang dijawab gelengan kepala oleh Toneri.
Beberapa menit berselang, Toneri berhasil menyusul Menma kepuncak anak tangga.
Mereka kini berada disebuah ruangan yang amat luas dengan dominasi cahaya temaram dari lampu yang berwarna kemerahan yang mulai meredup, benar kata Menma. Didalam gedung itu sudah tidak ada apa-apa lagi.
Menma berjalan menuju sebuah tiang steen leis steel, sambil menyeret kontainer yang tadi dibawa oleh Toneri. Melemparnya menuju lantai bawah tanah yang berada dibawah ruangan gedung tersebut.
"Hei! Apa yang kau lakukan, bodoh!" pekik Toneri tidak senang saat kontainernya dilempar dari ketinggian oleh Menma.
"Diam, ikut aku atau kau tidak akan pernah bisa keluar untuk seterusnya." Ujar Menma mendahului Toneri menuju ruang bawah tanah yang ada didalam gedung tersebut.
Toneri mengikuti Menma memeluk tiang steen leis tadi dan meluncur menuju ruang bawah tanah yang dimaksud, Toneri terdiam menatap ruangan dengan dominasi cat coklat pastel dengan cahaya lampu yang berada diatas pijakan lampu yang hanya dapat menyinari area yang terbatas.
Toneri menatap sebuah pintu besi yang hanya dapat dilalui oleh seorang anak berusia 7 tahun, berkedip dengan cepat tanpa mau melepaskan pelukannya pada tiang yang mengantarkannya ketempat ini.
"Akhirnya kau datang juga, Otoutou-chan!"
"Tidak mungkin!"
.
.
.
Seorang pemuda dengan rambut peraknya tengah melangkah menuju lapangan utama tempat pertandingan antara Alumnus Nazu dengan para punggawa Kurama, mata toscanya tidak berhenti menatap bergantian antara pemuda berambut pirang dengan gadis berambut indigo yang berada disisi yang berlawanan.
Tangan kanannya terus memutar-mutar kunci mobil yang ia gunakan sebagai kendaraannya untuk dapat tiba ditempat ini, tangan kirinya menyentuh sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan dari adiknya sendiri.
"Kau tidak pernah tau, Toneri. Mereka yang telah membunuh Grandpa, kau tidak tau bagaimana sakitnya! Aku berbeda denganmu, kau merasakan cinta dari orang tua. Sedangkan aku merasakan cinta dari Grandpa dan Grandma, akan ku akhiri semua ini dengan cepat." Ujar pemuda tadi terus berjalan menuju tribun yang berdekatan dengan gawang Kurama, matanya menatap nyalang keeper dari tim alumni Nazu yang sedang memberikan arahan pada anggota timnya yang lain.
"Akan ku buat kau merasakan apa yang aku rasakan dulu!" Ujar Indra, saudara Toneri berjalan menuju ruang kepanitiaan.
Langkahnya tenang tanpa merasakan risau akan badai yang hendak dibawanya, tangannya ia masukan kedalam saku celananya mengisyaratkan dirinya yang amat tenang bagai air yang tidak beriak.
Wajahnya amat santai, tapi otak dan matanya terus menyingkronkan suasana untuk melancarkan rencananya.
.
Saat kau hendak bersembunyi, bahkan awanpun menyatakan bayanganmu
Matahari menertawakan engkau, yang hendak bersembunyi dibawah awan
Saat kau hendak bersembunyi, bahkan anginpun menyampaikan desah napasmu pada lawanmu
Bebatuan pun tersenyum menatap engkau yang dengan lugunya berlari diatas air
Akhir kata, segala sesuatunya adalah kesia-siaan
Hanya kesia-siaan belaka
.
Naruto terengah-engah seusai pertandingannya, ia bermain 2 babak penuh dua kali dua puluh menit. Naruto merebahkan tubuhnya pada kursi pemain yang berada diruang ganti, ini pertempuran yang paling mengerikan.
Bayangkan saja, dari tim Kurama sudah habis 1 orang yang berakhir dengan kartu merah dan 2 kartu kuning. Sedangkan dari tim alumni sudah lenyap 2 orang dengan kartu merah yang melekat pada dahi mereka.
Napasnya masih belum beraturan dengan aksi heroiknya yang dapat menyamakan kedudukan pada tiga puluh detik terakhir dan pertarungan mereka berakhir dengan tendangan pinalti yang dipimpin oleh Kurama.
Decak kagum dan teriak kengerian terdengar dipenjuru lapangan selama pertandingan berlangsung, sekarang baru pukul 7 malam. Tapi ia bingung apa yang harus ia lakukan saat ini.
Merogoh saku celananya dan membuka handphone touch screen miliknya, membuka salah satu aplikasi game bulding yang ada dan kembali membangun sebuah proyek yang menjadi goals utama clannya.
Sampai saat vibrate hanpdhone-nya harus membuatnya mengalah, menarik notification scroll dan mengklik salah satu notif dari social media yang dimilikinya.
Senyum sumringah terpancar saat membaca siapa pengirim dari pesan singkat tersebut, chat baru dari group chatting miliknya.
Next Generation
Orion Minor : Cih, pembual
Aquarius Major : Siapa yang kau sebut pembual
Orion Stars : Yoo.. Minna!
Orion Stars : Masih ingat dengan gadis kidal 4 tahun yang lalu?
Sirius White : Forgot
Aquarius Minor : If you forgot it, I'll kill you White Sir
Orion Stars : Hei-hei..! Akashi tidak senang melihat kalian seperti itu okay?
Blackhole : Muncullah, Little Boss!
.
Bagai disengat satu koloni komplit lebah Naruto terdiam, alisnya nyaris menyatu karena memikirkan hal yang tidak mungkin untuk dibuat menjadi mungin.
Akasih New Method, Next Generation, dan Orion Stars hanya sebuah group garapan miliknya yang semuanya hanyalah orang-orang yang tidak dikenal. Mereka sama sekali belum bertemu secara langsung, beberapa dari mereka membuat group chat terpisah dan saling bertukar sedikit informasi pribadi mereka. Beberapa dari mereka juga ada yang pernah bertemu langsung, sebagai pendiri hanya tinggal Naruto yang keberadaan dan indetitasnya masih misterius.
Tapi herannya, semua anggota group chat yang dibuat olehnya mengenal Hinata. Hinata adalah pasangan atau bisa dibilang salah satu kekasih Naruto dalam game yang dibuat oleh Menma sepupu Naruto.
Dan untuk beberapa kondisi, bisa dibilang merekalah yang menjadi dewa pelindung dari Hinata jika kebetulan posisi mereka dekat dengan Hinata dan saat terjadi situasi genting yang mencekam.
Naruto tercekat mendengar chat dari salah satu akun bernama Blackhole yang menuntutnya untuk muncul kepermukaan, tidak sulit memang. Tapi bolehkah ia sedikit tenang dan bahagia kala mendapatkan teman dan sahabat yang menemaninya tanpa memandang status dan materi keluarganya?
Naruto memilih menonaktifkan sambungan data pada handphonenya, ia enggan menerima chat dan notifikasi social media dari siapapun. Meskipun dari Hinata. Ngomong-ngomong soal Hinata, hari ini ia belum mengecek kondisi gadis petakilan tersebut.
Naruto kembali tersenyum saat ia bisa menyaksikan secara langsung gadisnya melakukan acrobat dilapangan beberapa waktu yang lalu, kheh gadisnya? Kapan ia mendapatkan hak milik Hinata adalah gadisnya?
Baru sesaat ia tersenyum tentang Hinata, kini wajahnya kembali menampakan raut masam. Belum lagi ancaman dari pemuda berambut perak yang sempat mengancamnya beberapa waktu yang lalu.
Kepalanya terasa berdenyut, apa lagi yang hendak dilakukan oleh pemuda beruban tersebut. Ia tidak masalah jika pemuda itu mengancam untuk membunuhnya meskipun ia adalah anak satu-satunya dari keluarganya, tapi ia tidak senang jika pemuda itu sampai mengancam dengan membawa-bawa keluarganya.
Saat dirinya sedang melamun tentang apa yang akan terjadi kemudian, sebuah siluet pria berambut hijau tosca datang menghampirinya. Tidak ingin menghiraukan, mungkin pria itu hendak menemui orang lain yang kebetulan saja berada diruangan yang sama dengan dirinya saat ini.
Lama kelamaan semua orang yang berada didalam ruangan tersebut melangkah keluar, hingga atmosfer yang tercipta menjadi canggung.
"Orion menjadi yang terindah karena didalamnya ada Sirius, jangan pernah berharap kau akan unggul jika sosok Sirius itu undur dari padamu!" ujar orang itu memulai percakapan dengan kiasan yang sarat akan makna.
"Siapa kau?" tanya Naruto dengan nada tidak senang.
"Semuanya akan lenyap jika lubang hitam sudah menelannya." Ujar lawan bicaranya tanpa memperkenalkan diri.
"Bishop sialan!" maki Naruto yang mengerti akan ucapan lawan bicaranya.
"Gracias.. Little Boss." Ujarnya merunduk dan menyunggingkan sebuah senyum yang amat tulus.
"Dari mana kau tau?" tanya Naruto yang mulai tertarik dalam perbincangan dan melupakan sejenak apa yang menjadi beban pikirannya.
"Kau berkumpul diantara para bangsawan dan para penerus muda, itu hanya ada di Namikaze-Uzumaki Gakuen. Sekolah milik yayasan keluarga Namikaze dan Uzumaki, benar bukan?" tanya Sang Bishop.
"Hahh.. jadi apa yang bisa Putra Mahkota ini lakukan untuk Panglimanya?" tanya Naruto dengan nada menggoda.
"Ehh.. ?!" kini gilirang Si Bishop-lah yang tersentak.
"Kami ada kabar untukmu!" ujar seorang pria dengan warna rambut coklat pastel.
"Siapa lagi kau?!" tanya Naruto yang mulai heran dengan kemunculan para anggota chat groupnya.
"Dark Horse, siap bertempur!" ujar sepasang anak kembar dengan rambut berwarna biru terang dengan warna mata yang berbeda satu dengan yang lainnya, -unggu dan biru-.
"Aku Neon." Ujar pemuda dengan rambut coklat pastelnya.
"Scartz melapor, komandan!" seru pemuda berambut merah dengan ban lengan berlambang nazi.
"Frosty, mendapat channel dan link yang akurat untuk anda pergunakan."
Naruto masih menatap tidak percaya beberapa orang yang hadir dihadapannya saat ini juga, dan sosok dengan pakaian serba hitam menarik perhatiannya.
"Jika tuanku hendak bertanya, akulah Blackhole. Yang menelan mereka hingga tiba disini." Ujarnya yang mengerti tatapan mata Naruto kepadanya.
"Tapi, bagaimana?" Tanya Naruto yang masih tidak mengerti.
"Tuanku cukup bodoh untuk menyembunyikan siapa diri Tuanku yang sebenarnya, jersey itu bertuliskan Arashi. Itu sudah cukup bagi kami sekalian." Sahut Blackhole yang memang menjadi kompas untuk beberapa orang yang lainnya.
"Bisa kalian bersikap biasa padaku, setidaknya perkenalkan diri kalian secara real!" pinta Naruto yang merasa kikuk berbicara langsung kepada mereka semua.
"Akan kami lakukan jika Tuanku juga turut memperkenalkan diri secara real kepada kami sekalian, saat kami semua berkumpul." Ujar Dark Horse menengahi.
"Maaf, dimana Queen?" tanya Bishop.
"Ia ada diruang kesehatan, aku sudah jujur padanya. Tapi aku salah." Ujar Naruto dengan nada sendu.
"Itu bisa dibereskan. Frosty mendapat kabar buruk dari salah satu link yang dimilikinya." Ujar Bishop memandang seorang gadis dengan kulit tan serupa dengan Naruto dengan warna rambut unicorn.
"Sekarang selamatkan keluargamu, dirimu dan Queen. Selebihnya, kami yang akan maju." Ujar Frosty angkat suara.
"Ini masalahku, kalian tidak perlu ikut capur. Lagi pula, kalian hanya manusia maya!" ujar Naruto sarkastik.
"Orang sarkastik memang cerdas dan kreatif, tidak salah kau menjadi Little Boss. Naruto-sama." Ujar Mikha yang berjalan maju dengan sebuah topi rajut yang menutupi rambut hitamnya.
"A-ada apa lagi ini?!" tanya Naruto yang masih bingung ditambah dengan kedatangan Mikha.
"Maaf Naruto-sama, akulah Keys." Mikha menjelaskan dengan senyum simpul sebagai penutup.
"Jadi apa rencana dan tujuan kalian, para Trouble Makers?" tanya Naruto menyerah dengan segala rencana yang sudah dibuat oleh para bawahannya.
"Begini Little Boss.." Frosty angkat suara menjelaskan.
.
.
.
Toneri masih menatap tidak percaya ruangan yang ada dihadapannya sekarang ini, semuanya. Banyak koin emas milik Jerman dari masa Koloni Nazi berkembang hingga saat ini, memang jika dipergunakan untuk kegiatan jual beli koin itu tidak lagi bernilai. Tapi itu cukup untuk menguras isi dompet para kolektor barang-barang dan koin-koin antik.
"Ini mustahil!" pekik Toneri yang masih tidak percaya.
"Berarti kontainer yang aku bawa itu kurang?" tanya Toneri yang merasa usahanya dengan membawa sebuah boks besar itu sia-sia.
"Kau memang tidak berubah, Otou-chan. Kau tinggal mengajak mereka datang ketempat ini, dan tunjukkan apa yang kita miliki. Selesai!" pekik sosok yang masih bertahan berdiri dalam kegelapan lampu yang temaram.
"Lalu, bagaimana dengan Indra?" Tanya Toneri dengan nada yang ragu-ragu.
"Tenanglah Twin jika dia mati, kau tidak akan mati. Yah.. meskipun kalian terlahir bersama." Ujar orang itu dengan nada yang mengejek.
"Pihak Nazu tidak akan membencimu." Ujar sosok itu berlalu pergi meninggalkan Toneri yang masih bingung –sekaligus terpukau- dengan apa yang saat ini berhadapan dengannya.
"Nazu tidak benci padaku, tapi mereka membenci Indra. Dan itu sama saja!" desah Toneri berjalan pergi meninggalkan kontainer besar yang menjadi penghalangnya untuk bisa datang ketempat ini.
.
JANGAN MEMBUAT INI SEMAKIN BURUK!
.
Hinata menundukan kepalanya pada stang motor matic miliknya, ia masih enggang meninggalkan tempat ini meskipun jarum jam sudah menunjukan pukul delapan malam kurang. Seakan-akan rumah menjadi momok menakutkan untuknya.
Kali ini tidak ada game dan music mengingat ponselnya yang sudah diambang kematian, mendesah pasrah saat ingat bahwa power bank miliknya hancur lebur saat ia mencoba track baru didekat rumahnya dengan motor kopling milik saudaranya.
"Yah.. kali ini aku benar-benar menjadi seorang gamers miskin." Ujar Hinata memutar kunci motornya dengan tidak bersemangat dan mencoba menstarter motornya.
Sampai sebuah sosok didepannya yang menghilang dibalik bayangan, bersamaan dengan itu suara derap lari terdengar mendekatinya. Terlihat Mikha yang tengah berlari sambil mencoba meraup udara disekitarnya.
"Ada apa?" Tanya Hinata menatap Mikha melalui spion motornya sambil memperbaiki posisinya.
"Boleh aku menumpang? Setidaknya sampai jalan arteri didepan sana, disekitar sini tidak ada angkutan umum." Ujar Mikha dengan tatapan memohon.
"Aku ke Konoha Town, kau kemana? Aku gila saat membawa motor, nyawamu taruhannya. Kau siap?" Tanya Hinata beruntun.
"Kita searah! Rumahku dekat dengan toko buku St. Maurice, tepatnya ada disebrangnya." Ujar Mikha menjelaskan.
"Kau bilang apa? Kenapa kita tidak pernah bertemu?! St. Maurice adalah milik bibiku, aku kesana setiap hari. Kalau begitu naiklah, ku berikan potongan harga untuk penumpang pertama." Ujar Hinata memarkirkan motornya.
"Ahh.. terimakasih, berikan juga potongan harga di St. Maurice.." ujar Mikha menggoda.
"Ku berikan, jika kau membeli buku beserta dengan raknya juga." Ujar Hinata melajukan motornya saat Mikha sudah duduk dengan benar di atas motor.
.
.
.
"Sial! Gadis itu..!"
.
.
.
Ashura tengah bingung, pasalnya ini sudah hari keempat Indra tidak pulang kerumah keluarga mereka. Toneri meminta izin untuk menginap dirumah temanya mengingat beberapa waktu yang lalu Indra dan Toneri sempat terlibat dalam pekelahian.
Mereka jarang seperti itu, apalagi dengan kondisi Toneri yang adalah introvert. Sangat sulit menyulut perkelahian dengannya, mungkin jika hal tersebut adalah tabu untuk dinegosiasikan.
Mungkin jika ia berhasil tidur malam ini, ia tidak akan berhasil membuka kelopak matanya lagi. Ucap Ashura dalam hati sambil terkikik geli, jika memang ia harus mati. Ia terima, tapi tolong izinkan dia untuk dapat kembali melihat putra sulungnya yang sudah lama menghilang dari peradaban klan Ootsutsuki.
Setidaknya hanya anaknya itu yang mampu membuat Indra menjadi jinak, terlebih sejak kematian kakek dari tiga bersaudara itu. Mengingat kematian ayahnya, Ashura kembali termenung. Setidaknya ia ingin berdamai dengan Nazu, dan ia ingin kembali membersihkan nama keluarganya dari media yang terus memojokkannya akhir-akhir ini.
"Tuhan, Kau itu ada atau hanya motos belaka? Jika Kau ada, buat aku mampu hidup untuk melihat putra sulungku. Dan buat aku mampu untuk berdiri hingga jam pasir itu habis." Pintanya sambil menatap sebuah bingkai yang menampilkan seorang pria tua dengan rambut putihnya.
"Kheh.. dasar Tulang!" ujarnya sebelum bangkit keluar dari ruangannya.
.
.
.
"Aku mengerti, tapi apa jalan yang kau ambil tidak terlalu berat?"
"Aku tau ini berat, tapi ini pilihanku dari awal. Aku tidak akan mundur!"
"Bean! Ingat akan anak cucumu! Mereka juga membutuhkan itu semua!"
"Kawan, kau kenal aku dengan baik bukan? Ku yakin kau akan mengerti, maaf. Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan!"
"Bean! Sudah ku katakan, semua itu tidak ada artinya!"
"..."
"Baik, kau lihat ini Bean?! Aku sudah merobeknya, perjanjiannya sudah hilang!"
"Maaf, aku tidak bisa kembali. Biarkan mereka membangunnya kembali dari awal, sampaikan maafku pada Indra!"
"..."
"Minato, kau anak yang baik. Kau yang akan meneruskan pekerjaan dari Si Tua Bangka ini, jadilah teladan. Apapun yang terjadi, jangan lupakan perjanjian ini meskipun ayahmu sudah merobek surat perjanjiannya."
"Maksud Bean-Jiisan?"
"Kau akan segera mengerti, anak manis!"
.
.
.
Naruto terdiam didalam kamarnya, membuka kembali salah satu buku note yang diberikan oleh gadis yang disebut Frosty tadi kepadanya. Membaca kembali beberapa informasi yang sudah ia dan timnya dapatkan, Naruto tidak habis pikir. Para manusia itu dengan sangat niat membantunya, padahal ia tidak menceritakan sedikitpun tentang dirinya. Tapi mereka terus mencari tau.
"Mungkin aku tidak layak menjadi sebuah rasi bintang..." desah Naruto putus asa saat menyadari semua yang ia miliki tidak dapat menjamin untuk menyelesaikan masalahnya ini.
Naruto terdiam menatap sebuah poster tim sepak bola, mereka berfoto dengan background sebuah monumen marmer dimana disana terukir dengan jelas logo klub futsal mereka. Tim tersebut memakai jersey berwarna hitam dengan sebuah garis putih yang dimulai dari pergelangan tangan kanan belakang tengkuk hingga unjung pergelangan tangan kiri, keeper mereka menggunakan sebuah jersey berwarna putih dengan enam pasang garis yang menyerupai tulang rusuk yang ada dikiri dan kanan jersey tersebut dan saling terhubung dibelakang tubuh pemain tersebut.
Sampai sebuah lingkaran kembar berwarna merah membuatnya kaget, menatap jam dan menyadari kini sudah tepat tengah malam. Tidak mungkin ia mendatangi ayahnya hanya untuk bertanya dari mana asal poster tersebut.
Poster itu memang miliknya, tapi ia menemukan itu digudang. Ia hanya memanfaatkan poster itu hanya untuk kamuflase, mengingat poster sebenarnya berada dibalik poster tim futsal tersebut.
"Free..!" teriak Naruto menyadari batapa liciknya ia untuk menutupi semua kebejatannya.
"Poster laknat..!" sambungnya dan segera memeluk guling miliknya dan tidur tanpa melepas jersey kebanggaan miliknya.
.
.
.
Ashura menatap miris dokumen yang diberikan oleh Kimimaro beberapa hari yang lalu padanya, Indra sudah memancing api dan asap untuk menelannya. Bukannya bagaimana, ini masalahnya murni berawal dari Kagutsuki. Nazu tidak ada hubungannya sama sekali..!
"Daddy, bukan sebuah warisan yang kau berikan padaku..! Ini perkara yang sukar aku selesaikan, separuh hidupku ku habiskan untuk terus membuatnya tertimbun oleh waktu. Dan kau berhasil membuatnya ketahuan..!" Monolog Ashura dengan ruang kosong penuh dengan dokumen Kagutsuki.
"Kau tau, Gamma belum pergi. Buat Indra percaya bahwa Gamma tidak pergi bersama denganmu pada hari itu, Apapun caranya, buat ia paham.." Ashura menutup matanya, terdiam dalam heningnya malam.
"Otou-san?" panggil sebuah suara pemuda yang berasal dari sisi kiri Ashura.
"Toneri, kau sudah pulang? Dari mana saja kau? Kenapa baumu seperti bau air laut?" tanya Ashura berentet dengan wajah aneh saat mencium bau pakaian Toneri.
"Hehe.. Memancing dimalam hari itu menyenangkan." Ujar Toneri dengan cengiran lugu.
Ashura terdiam, kala pikiran benang kusut melilit pikirannya saat ini. Toneri, putra bungsunya berhasil menghiburnya. Ashura menghapus air matanya dengan dalih mengusap wajahnya dengan kasar, biar bagaimana pun, ia tidak ingin siapapun turut dalam kesedihannya.
"Otou-chan sudah makan?" tanya Toneri dengan dialek cadel khas anak kecil, wajahnya dibuat selugu mungkin dengan tatapan polos bin datar kepada Ayahnya.
Ashura tertawa lepas, Toneri benar-benar berhasil menghibur dirinya. Dengan ekspresi yang tidak sinkron dengan usianya saat ini, juga dengan suara anak kecil yang dibuat-buat, terlebih lagi dengan tingkah konyolnya yang kembali muncul.
"Hei.. kau membuat lantainya basah." Keluh Ashura kala Toneri memeras mantel yang ia gunakan diatas lantai ruang kerja Ayahnya, akibat ulahnya tercipta genangan air diatas lantai ruang kerja Ashura. Juga noda kotor akibat alas kaki Toneri yang menjejaki lantai ruangan tersebut.
Toneri menatap ayahnya tidak peduli, menggembungkan salah satu pipinya dengan satu sisi bibir bagian atas yang dinaikkan. " biarin Otou-san 'kan jarang mengepel." Balas Toneri berjalan keluar meninggalkan ruang kerja ayahnya dengan jejak kaki lumpur pasir yang membekas dari pintu masuk hingga posisi terakhir Toneri berdiri, hingga kembali lagi kepintu.
"Mungkin seisi rumah ini memang harus dipel berkat Toneri-chan." Putus Ashura menyadari Toneri yang terus bernyanyi denga suara yang makin mengecil menandakan ia melangkah semakin menjauh.
.
"About my family"
Dear, I love you all
Grandpa, besok Daddy akan ajak aku ke taman kota
Grandma, Mommy janji akan ajari aku cara membuat cupcake
Daddy, Daddy jangan ingkar janji lagi yah...
Mommy, aku mau buat cupcake yang enak seperti buatan Mommy
Hehehe... kalian jangan bilang siapapun, besok Toneri akan ulang tahun.
Aku ingin memberinya kejutan, ia suka cupcake, dan aku suka membuat cupcake.
"Twin.. where are you?"
Owh no! Gamma...
Tuhan buat dia jangan membaca buku ini.
Amin.
.
Seorang pemuda dengan rambut hijau tosca muda berjalan membuka satu persatu pintu kamar yang ada dalam rumah besar dengan interior mewah namun sederhana, mata abu gelapnya menyusuri setiap tempat yang mungkin bisa dijadikan sebagai tempat bersembunyi.
'Kaing..! Kaing..! Kaing..!'
Manik kelabunya segera berpindah arah menuju sumber suara, gonggongan seekor anak anjing kecil.
"Twin-In, kau apakan lagi doggy milikmu hmm?" tanya pemuda tersebut sambil melangkah dalam lorong yang menghubungkan dapur dengan ruang keluarga.
'Kaing..! Kaing..! Kaing..!'
Suara itu kembali terulang, alisnya nyaris bertaut satu dengan yang lainnya. Tidak biasanya Rexy merintih seperti itu, tidak mungkin adiknya menyakiti hewan kesayangannya tersebut.
"Indra..! What are you doing?!" ia kembali bertanya berharap mendapat sebuah jawaban, jika memang terjadi sesuatu pada Rexy, setidaknya ia dapat mempersiapkan jantungnya dan fungsi organ yang lain dengan baik.
Bukan hanya mengkhawatirkan keadaan Rexy, panggilannya barusan tidak mendapat respon dari adik kecilnya, dan kaingan Rexy semakin menjadi-jadi. Jika Rexy dapat bersuara, apakah mungkin ini pertanda buruk dengan keadaan adik pertamanya?
'Kaing..! Kaing..! Kaing..! Kaing..! Kaing..! Kaing..!'
Kaingan itu semakin menyedihkan saat ia hampir tiba di dapur, cahanya temaram kekuningan dari atas langit-langit dapur menjadi sumber pencahayaannya saat ini.
Bahunya meregang saat ia melihat Indra tengah memegang sebuah cupcake yang baru saja akan dimasukkan kedalam oven, mata yang sama dengan warna rambutnya itu menatap kaget kearah kanan pemuda itu.
"Ohh... Lord..! Indra, what are you daing hah?!" tanya Si Pemuda dengan nada membentak, kedua tangannya mengguncang bahu adiknya dengan kasar.
Bulir air mata jatuh dengan kasar dari kelopak mata Indra, tanpa sadar adonan cupcake yang ingin dioven tersebut ikut terjatuh dan tumpah diatas lantai dapur.
"Dia bunuh diri.." gumam Indra nyaris 'tak terdengar.
"Ah! disini rupanya- Indra?! Dad-Daddy?! Rexy?! Owh God..!"
.
.
.
Twinkle-twinkle litte stars
Just little, not twin.
How I wonder what you are?
I lost in the darkness
Twinkle-twinkle litte stars
Just little, I'm not a Stars
How I wonder what you are?
Hell
Twinkle-twinkle little stars
I'm not a Stars, I'm loser
How I wonder what you are
Azta La Vista Baby..!
Twinkle-twinkle little stars
How I wonder what you are
Twinkle-twinkle little stars
Twinkle-twinkle
Twinkle
Twin
I love you, Twin...
Two-bee-count-tie-new
.
.
.
Hohoho…
Target itu 10k word, ternyata gak sampe.
Sempet mikir, buat apa saya membuat fic tapi tidak ada yang merespon. Yang review terakhir saya lihat itu 30'an 40 aja belom sampe. Dan ini chapter ke-9 One Word, Say Sorry.
Fav and Follow pun tidak mencapai target saya, padahal di statistic readersnya lebih dari 2k yg baca, masak review pun 100 aja belom tembus?!
Saya tau saya newbie disini, baru setahun setengah, beda sama yang udah jadi master, jadi belom layak untuk dapat review, fav and follow banyak kayak yang lain.
Dichapter ini mungkin bisa jadi authornya nge-discontiunued, sudah berpikir sekuat tenaga tapi ternyata review pun yah.. gitu-gitu aja.
Bukanya tidak berterimakasih pada readers yang menyempatkan waktu untuk mereview, tapi apakah iya cuma butuh waktu 5 menit aja gak bisa? apa iya 5 menit untuk ngetik susah, disbanding dengan mem-flame karya orang lain?
Kalian hanya berkorban 5 menit, dan saya? Untuk chapter ini saya makan waktu lebih dari 2 minggu, bahkan sudah dimulai sebelum chapter 8 update. Berkali-kali saya menggembar-gemborkan akan update fic lain buatan saya, tapi saya urungkan karena fic ini. Melihat dibanding dengan fic saya yang lain, fic saya yang ini cukup mendapat respon.
Dengan harapan 10 review perchapter ternyata susah, membagi waktu dengan real-life, jam belajar, belum yang lainnya, jika memang respon untuk chapter ini kurang, mungkin saya mendis-continued-kan fic ini.
Tapi capek lhoo.. udah ngetik buang-buang waktu tenaga dan pikiran untuk sebuah cerita yang tidak memberikan benefit apapun, dan dibuang begitu saja. Iya sih gak ada benefit, tapi haruskan perjuangannya dibuang?!
Keputusan kembali pada reader, saya memperjuangkan chapter ini agar lebih panjang dari yang sebelum-sebelumnya, mengusahakan agar feel yang didapatkan pas, tapi ternyata tidak.
Haruskah saya update tiap setahun sekali untuk mendapatkan 10 review perchapter? Haruskah saya bubuhkan konten dewasa untuk pembaca dibawah umur agar review tembus 10 review perchapter? Haruskah saya tambahkan adegan action untuk pembaca sekalian?
TIDAK..!
Saya mati-matian mikir gimana caranya fic ini lanjut, tapi mboh ya.. pada ogah mampir di fic saya. Banyak juga kok author yang pindah dimensi dan mendapat dukungan, kalau memang saya diharuskan migrasi ID dari yang biru-biru ke yang oren-oren untuk bisa mendapatkan review dan tanggapan yang lebih memuaskan, maka akan saya lakukan.
Kalian minta cerita dan kelanjutan, saya minta review fav-and-follow. Mudahkan?
Sakit hati dengan curahan hati saya? Yasudah, leppy saya sudah kepanasan 4 jam ngetik cerita ini, ketik-apus-ketik-apus.
Maaf jika fic saya semakin hari semakin busuk, jika memang bau busuknya sudah menyebar. Dengan senang hati saya akan membuangnya.
.
.
Ngetik sampe 10k perchapter... perih mata saya ngetik mulu.
.
.
Mohon maaf lahir dan bathin,
Maaf atas fic busuk ini yang memakan space di archieve FFN Naru-Hina.
Ayo, Valac-san, shinigami-san
