~Higanbana : Reincarnation~
Disclaimer : Naruto and the other are not mine
Setahun sudah aku berada di dunia ini. Selama itu, aku tetap tinggal bersama Rayleigh. Pria tua itu sudah memutuskan untuk mengadopsiku sebagai cucunya, dan kuterima dengan senang hati. Lagipula jika bukan bersama Rayleigh, dimana lagi aku tinggal. Hanya dia yang kukenal di dunia ini.
Selama setahun, aku isi dengan berlatih Kenjutsu disamping membantu Rayleigh mengurus ladang. Kemampaun Kenjutsu-ku bisa dibilang sudah cukup bagus, walau belum bisa dikatakan sempurna.
Hari ini Rayleigh memutuskan untuk mengajarkan hal lain. Dia melihat bahwa kemampuan Kenjutsu-ku sudah cukup bagus, jadi dia berniat mengajarkan hal lainnya, yaitu penggunaan energi Mana.
Dan disinilah sekarang, aku bersama Rayleigh berdiri berhadapan di halaman depan rumah.
"Baiklah, kau sudah tahu apa itu Mana bukan?"
Aku mengangguk menjawab pertanyaan Rayleigh.
Mana adalah energi magis yang ada di dalam tubuh setiap makhluk hidup. Energi itu layaknya sebuah life force bagi makhluk hidup. Jika Mana dalam tubuh habis sampai tak bersisa, maka kita akan mati. Itulah penjelasan tentang energi Mana.
"Hm, bagus. Kalau begitu aku akan langsung mengajarkanmu cara untuk menggunakan energi Mana."
Kembali aku mengangguk dan bersiap menyerap semua penjelasan dari Rayleigh setelahnya.
"Mana bukan hanya digunakan untuk melakukan fenomena sihir. Tapi juga bisa digunakan untuk memperkuat tubuh, dan memperkuat serangan fisik. Caranya, dengan mengalirkan Mana kebagian tubuh yang ingin diperkuat. Contohnya seperti ini …."
Rayleigh menganggat lengan kanannya yang terkepal. Lalu kulihat lengannya itu terselimuti sebuah aura berwarna putih pucat. aku melihat Reyleigh berjalan kearah sebuah pohon tak jauh dati tempat kami. Dan kemudian pria tua itu memukulkan tinju tangan kanannya yang terbungkus aura pada batang pohon.
Hasilnya sangat mengejutkan. Batang pohon yang ditinju oleh Rayleigh menghasilkan sebuah cekungan besar. Itu membuktikan seberapa besar kekuatan tinjunya.
"… dengan melapiskan Mana pada lenganmu, itu akan membuat lenganmu semakin kuat. Dan jika kau gunakan untuk menyerang, maka kekuatannya akan meningkat dari aslinya, seperti ini." Rayleigh menjelaskan sambil menunjuk hasil tinjuannya di batang pohon tadi.
Aku mengangguk mengerti mendengar penjelasannya yang mudah kupahami.
"Baiklah, sekarang giliranmu. Aku ingin kau melakukan apa yang kulakukan tadi," pinta Rayleigh.
Aku mengangguk dan kemudian berjalan mendekati salah satu pohon lain.
"Fokus dan rasakanlah aliran Mana yang ada di tubuhmu. Lalu tuntun itu menuju lenganmu."
Tanpa berlama-lama aku melakukan apa yang dikatakan Rayleigh. Aku memejamkan mataku, mencoba merasakan Mana dalam tubuhku. Itu berhasil, ada sesuatu yang kurasakan mengalir di dalam tubuhku. Rasanya panas tapi tidak berlebihan. Lebih seperti hangat rasanya.
Kemudian aku mencoba menuntunnya. Mana dalam tubuhku kutuntun menuju lengan kanan. Aku merasakan ada perbedaan di lengan kananku. Saat aku membuka mata, sebuah aura kecil berwarna merah melapisi lengan kananku.
Aku melihat itu sejenak, lalu setelahnya menatap batang pohon di depanku. Kukepalkan tangan kanan yang terlapisi Mana lalu memasang kuda-kuda yang kumiliki. Setelah itu kupukulkan tangan kananku kebatang pohon sekuat mungkin.
Braak
Hasilnya mengejutkan. Pukulanku menghasilkan sebuah cekungan di batang pohon itu. Walau tidak sebesar Rayleigh tadi, tapi ini sudah membuktikan pukulanku cukup kuat. Dan aku tidak merasakan sakit sama sekali setelah memukul batang pohon itu.
"Hm, bagus. Kau dapat melakukannya dengan baik walau baru pertama kali. Orang yang berasal dari dunia lain memang hebat." Rayleigh memujiku. Aku hanya tersenyum kecil membalasnya.
Aku menatap lenganku yang masih terbungkus Mana berwarna merah. Dahiku mengerut melihat perbedaan warna Mana-ku dengan milik Reyleigh tadi.
"Hei, Oyaji … kenapa warna Mana-ku berbeda denganmu?" Aku memutuskan bertanya akan hal ini daripada kebingungan.
"Itu karena atribut sihir-mu berbeda dengan milikku."
"Atribut sihir?"
"Ya. Setiap orang memiliki artibut sihir yang berbeda-beda, dan terkadang ada juga yang tidak memiliki atribut sihir. Mereka disebut Non-elemen, Mana mereka berwarna polos atau putih pucat …."
"… atribut sihir biasanya terdiri dari lima elemen alam. Tapi ada juga atribut unik seperti elemen es dan sihir ruang waktu …."
"… aku sendiri adalah seorang Non-elemen, dan dilihat dari warna Mana milikmu, sepertinya atribut sihirmu adalah elemen api."
Aku mengangguk mendengar penjelasan Rayleigh tentang atribut sihir. Tidak kusangka ternyata setiap orang memiliki warna Mana yang berbeda tergantung atribut sihir mereka. Kukira semuanya sama saja.
Kulihat kembali lengan kananku yang masih terbungkus Mana berwarna merah. Jadi atribut sihirku adalah elemen api, ya. Aku cukup beruntung karena menurutku elemen api adalah elemen yang unik karena tidak memiliki wujud yang pasti.
Tak lama Mana yang melapisi lenganku perlahan memudar sampai akhirnya hilang. Aku menatap bingung hal itu. Aku tidak melakukan apapun sungguh.
"Hm, sepertinya hanya sampai sana batasmu dalam menggunakan Mana." Reyleigh berkata tiba-tiba. Aku menatapnya dengan pandangan bertanya menuntut penjelasan.
"Pengendalian Mana-mu masih rendah. Itu wajar mengingat kau baru pertama kali menggunakannya, tapi aku cukup terkesan kau dapat mempertahankannya sampai beberapa menit. Biasanya orang-orang hanya dapat mempertahankannya beberapa detik saja saat pertama kali menggunakan Mana," jelas pria tua itu.
Aku mengangguk mengerti. Jadi pengendalian Mana-ku masih rendah, ya.
"Baiklah, untuk sekarang aku ingin kau melatih pengendalian Mana-mu. Itu sangat penting karena membuatmu dapat menggunakan Mana secara leluasa. Dan juga dengan itu kau dapat memporsi banyak Mana yang kau gunakan …."
"… cara melatihnya sederhana, kau hanya perlu terus menggunakan Mana sambil beraktifitas seperti biasanya. Namun jangan anggap mudah, karena untuk melakukan itu memerlukan fokus yang sangat tinggi untuk tetap mempertahankan Mana disamping kau melakukan hal lain."
Aku mengangguk mengerti dan dengan segera melakukannya. Aku mengalirkan kembali Mana-ku yang kali ini keseluruh tubuh. Disamping itu aku melakukan latihan Kenjutsu secara bersamaan. Dan benar apa yang dikatakan Rayleigh. Sangat sulit mempertahankan Mana-ku tetap melapisi tubuh. Bahkan kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Aku berasumsi jika semakin luas area lapisan Mana yang kulakukan, maka akan semakin sulit.
Kembali aku mengalirkan Mana keseluruh tubuh dan berlatih Kenjutsu bersamaan. Dan kembali aura Mana yang melapisi tubuhku hilang tak lama kemudian. Sangat sulit untuk membagi fokus ke dua hal yang berbeda. Sedikit saja aku terlalu fokus pada hal lain, aura Mana yang melapisiku akan segera hilang karena hilangnya fokusku pada hal itu.
Namun aku tidak menyerah. Aku terus mengulanginya berkali-kali. Sampai hari sudah sore, aku menghentikan latihanku dan masuk ke dalam rumah. Membersihkan diri, makan malam lalu tidur.
-Higanbana-
Dua minggu terlewat. Selama itu aku gunakan untuk pengendalian Mana disamping melakukan kegiatan sehari-hari. Bisa kukatakan, pengendalian Mana-ku sudah berkembang dibanding pertama kali. Kini aku bisa mempertahankannya selama 30 menit. Itu cukup bagus menurut Rayleigh untuk anak seusiaku.
Hari ini Rayleigh mengajakku pergi ke kota menjual hasil ladangnya. Sebelumnya aku tidak pernah menemaninya menjual hasil ladang, jadi ini pertama kalinya aku pergi ke kota. Entah apa alasannya pria tua ini mengajakku kali ini. Saat aku menanyakannya, dia hanya bilang jika aku akan tau nanti. Jadi aku memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.
Di atas kereta kuda, aku duduk di belakang bersama sayuran yang akan kami jual. Rayleigh berada di depan menjadi kusir. Guncangan kurasakan begitu roda kayu kereta ini melewati jalan bebatuan yang menuju ke kota Fort. Kota yang berada di bawah bukit tempat rumah kami berada.
Tak perlu waktu lama untuk kami sampai di kota tujuan mengingat jaraknya tidak terlalu jauh. Kini aku dan Rayleigh berada di kota Fort. Bangunan-bangunan berdinding bata merah berjajar menyambut kami di sisi kiri dan kanan jalan yang di lalui kereta kuda ini. Kota ini tidak terlalu besar, bahkan kupikir ini masih belum pantas disebut kota. Mungkin karena struktur bangunan di kota ini yang lebih bagus dari sebuah desa, maka di sebut sebagai kota.
Kereta kuda terus masuk ke dalam kota. Sampai kami masuk di wilayah yang bisa kusebut sebagai pasar. Kios-kios berjejer, bangunan toko berdinding bata merah kudapati di sepanjang jalan yang kami lalui.
Kereta kuda tiba-tiba berhenti di depan sebuah penginapan. Di depan penginapan itu, sudah ada seorang pria paruh baya berkumis menunggu kami. Aku melihat ke tempat kusir di mana Rayleigh sudah turun dari sana.
"Kita sudah sampai, ayo bantu aku menurunkan sayuran ini."
Aku mengangguk, lalu menurunkan keranjang-keranjang berisi sayuran yang kami bawa.
"Ah, Rayleigh. Akhirnya kau datang." Pria paruh baya berkumis yang berdiri di depan pintu penginapan berkata. Dia tersenyum pada Rayleigh.
Reyleigh dan aku meletakan keranjang berisi sayuran di depan penginapan. Pria tua berambut silver itu balas tersenyum pada pria paruh baya di depan kami saat ini.
"Oh, siapa anak muda ini, Rayleigh?" Pria paruh baya itu bertanya pada Rayleigh sambil menatapku.
Rayleigh menatap kearahku, lalu dia merangkul pundakku dan menarikku berdiri sejajar dengannya.
"Anak ini adalah cucu angkatku, namanya Naruto. Aku menemukannya pingsan di dalam hutan setahun yang lalu." Rayleigh memperkenalkan diriku pada pria paruh baya di depan kami.
"Dan Naruto, dia adalah pemilik penginapan tempat aku biasa menjual sayuranku. Namanya Kurahasi Kurai." Lanjut Reyleigh memperkenalkan pria di depan kami yang ternyata pemilik penginapan ini.
"Salam kenal, Oji-san." Aku membungkuk singkat pada pria pemilik di depanku.
"Oh, anak yang sopan. Bagus, aku suka."
Setelah itu, kami bertiga membawa keranjang sayur yang aku dan Rayleigh bawa ke dalam penginapan. Kami meletakannya di dapur penginapan itu, setelah itu kami bertiga kembaki keluar.
"Baiklah, ini bayaran untuk sayuranmu. Seperti biasa, 20 koin perak." Pemilik penginapan memberikan sebuah kantong berisi uang koin pada Rayleigh.
Di dunia ini, uang terdiri dari koin emas, perak dan perunggu. 1 koin emas sama dengan 100 koin perak, dan 1 koin perak setara dengan 100 koin perunggu.
Rayleigh menerima kantong pemberian dari pemilik penginapan lalu menyimpannya.
"Dan ini untukmu, Naruto-kun. Anggap sebagai bayaran telah membantu mengangkat sayuran tadi." Pemilik penginapan sedikit membungkuk dan memberikan dua keping koin perak padaku.
Aku menatap dua koin perak itu dengan ragu-ragu sebelum kemudian menerimanya.
"Terima kasih, Oji-san." Pria paruh baya itu mengangguk sambil tersenyum mendengar ucapan terima kasihku.
"Baiklah, kalau begitu kami pamit pergi, Kurai-san. Terima kasih atas bayarannya."
"Seharusnya aku yang berterima kasih, Rayleigh. Karena kau sudah mau menjual sayuranmu padaku."
Reyleigh mengangguk mendengar itu. Lalu kami berduapun kembali naik ke kereta kuda dan pergi dari sana.
"Kita akan kemana lagi, Rayleigh?" Aku bertanya bingung pada Rayleigh yang sedang mengemudikan kereta kuda. Pasalnya, bukannya pergi menuju gerbang kota untuk kembali ke rumah, kami malah masuk lebih dalam kota Fort.
"Kita akan ke pandai besi sebentar, lalu setelah itu kita kembali ke rumah."
"Pandai besi? Untuk apa?"
"Kau akan tau nanti saat kita sampai."
Rayleigh berkata sambil tersenyum misterius. Aku menatap Rayleigh dengan mengerut bingung lalu kemudian mengangkat kedua bahuku melupakannya.
Tak butuh waktu lama kami sudah sampai di depan sebuah toko pandai besi. Aku dan Rayleigh segera turun dari kereta kuda lalu masuk ke toko itu.
Bunyi lonceng terdengar begitu kami membuka pintu toko pandai besi ini, dilanjut dengan berbagai senjata dapat kulihat tersusun rapi di dalam toko. Seorang pria berbadan besar berdiri di belakang meja konter.
Mataku mengedar, melihat berbagai senjata yang ada di dalam toko. Tombak, longsword, kapak, belati dan senjata lainnnya ada di sini. Bahkan ada juga sebuah tameng.
"Hoho, Reyleigh, kau datang lagi." Pria berbadan besar yang kuasumsikan sebagai pemilik toko pandai besi ini berkata. Wajahnya menampakan senyum lebar.
Rayleigh berjalan mendekati konter dan aku mengikutinya dari belakang.
"Hm, apa anak muda ini yang kau katakan waktu itu, Rayleigh?" Pemilik pandai besi bertanya sambil dia menatapku dengan lengannya yang memegang dagu seakan pria itu tengah menilaiku.
"Namanya Naruto, dia adalah cucu angkatku …." Rayleigh menarikku ke depan, memperkenalkan diriku pada pemilik toko pandai besi.
"… dan Naruto, dia adalah Tenma. Pemilik toko pandai besi ini."
"Salam kenal, Oji-san. Namaku Naruto." Aku sedikit membungkukkan baganku pada pria bernama Tenma itu. Pria itu hanya mengangguk sambil mengelus dagunya.
"Jadi, apa pesananku sudah selesai, Tenma-san?" Rayleigh bertanya. Aku mengerut bingung mendengarnya. Apa yang Rayleigh pesan pada pandai besi ini? Itulah yang ada dipikiranku.
"Tentu, aku sudah menyelesaikannya lima hari lalu." Tenma mengambil sesuatu dari bawah meja konter. Itu adalah sebuah pedang tersarung yang sangat familiar di mataku.
Itu adalah katana. Dilihat dari bentuknnya aku sangat yakin jika itu adalah pedang khas negaraku. Tapi bagaimana bisa? Bukankah pedang itu tidak ada di dunia ini?
Rayleigh menerima pedang itu, manatapnya singkat lalu memberikannya padaku.
"Ini, ambilah. Pedang ini untukmu."
"Eh?"
Aku menerima pedang itu dengan terkejut. Kutarik pedang itu keluar dari sarungnya, melihat bilah pedangnya yang terbentuk sempurna berwarna perak indah.
Seketika aku teringat sesuatu.
"Rayleigh, apa ini alasan kau meminjam bokken-ku dua minggu yang lalu? Untuk digunakan sebagai desain memesan pedang ini?"
Dua minggu lalu Rayleigh meminjam bokken-ku saat dia pergi ke kota untuk sebuah urusan yang tidak kuketahui. Aku tidak tau saat itu untuk apa dia meminjamnya, ternyata sebagai desain untuk membuat pedang ini.
Rayleigh mengangguk sebagai jawaban. Aku lalu kembali melanjutkan ucapanku.
"Dan kau menggunakan pedangmu sebagai bahan untuk pedang ini, bukan?"
Di hari itu dia juga membawa pedang kesayangannya saat pergi ke kota. Namun saat kembali, pedang itu kulihat tidak lagi dibawanya.
Tak ada jawaban. Tapi melihat pria berambut silver itu tersenyum, sudah membuktikan jika dugaanku benar.
"Kenapa? Kenapa kau melebur pedangmu untuk dibuat menjadi pedang ini dan memberikannya padaku? Bukankah itu benda berharga yang kau miliki?"
Rayleigh pernah berkata, jika pedang longsword miliknya itu adalah satu-satunya benda berharga yang dia miliki. Tapi kenapa dia rela meleburnya dan dibuat menjadi sebuah pedang baru, dan diberikan untukku?
Rayleigh tersenyum teduh. Dia berjongkok mensejajarkan tingginya denganku, lalu mengelus kepalaku dengan lengan kekarnya.
Sebuah perasaan muncul dalam diriku saat merasakan elusan itu. Ada perasaan kesal dan jengkel, karena merasa aku seperti dianggap anak kecil walau penampilanku memang begitu. Tapi aslinya mentalku adalah remaja yang sudah matang.
Selain itu, ada juga perasaan nyaman yang kurasakan. Dan itu lebih dominan dibanding perasaan lainnya. Entah kenapa aku bisa merasa seperti itu. Tapi aku menikmati elusan Rayleigh padaku, dan tidak sedikitpun berniat menghentikannya.
"Memang benar, pedang itu adalah benda berhargaku satu-satunya …."
Aku hendak berkata menyanggah ucapan Rayleigh, namun terhenti begitu dia melanjutkannya.
"Tapi itu dulu. Sekarang, aku memiliki sesuatu yang lebih berharga dibandingkan pedang itu. Yaitu kau, Naruto …."
"Jaga baik-baik pedang itu. Gunakan untuk melindungi dirimu. Aku tidak ingin kau terluka, karena kau adalah harta yang kumiliki saat ini."
Bersamaan dengan senyum Rayleigh yang mengakhiri ucapannya, aku diam membisu. Mataku menatap terkejut akan ucapan pria tua ini. Aku tidak menyangka, sampai segitunya Rayleigh menganggapku.
Air mata tidak bisa kubendung lagi. Rasa haru yang kurasakan saat ini membuatku tak kuasa menahan cairan bening itu untuk tidak keluar.
"Oyaji, kau … terima kasih."
Dengan senyum setulus mungkin yang kubisa, aku mengucapkan terima kasih. Hanya itu yang bisa kukatakan, dan kupikirkan saat ini.
Raylaigh tersenyum dia kembali mengelus kepalaku, yang sangat kunikmati.
"Jujur, pedang bernama katana itu adalah pedang yang bisa kukatakan sangat hebat. Dengan bilahnya yang sedikit melengkung, itu dapat memberikan luka sayatan yang dalam."
Pemilik toko pandai besi, Kurai membuka suara. Menghentikan keharuan yang terjadi antara aku dan Rayleigh.
"Aku awalnya berniat menduplikat pedang itu untuk kujual nantinya. Tapi Rayleigh melarangku. Dia bilang dia hanya ingin pedang katana itu hanya digunakan olehmu selaku orang yang membuat desain-nya. Aku menyetujuinya meski sedikit kecewa sebenarnya." Ada raut wajah kecewa walau sedikit yang terlihat di wajah pemilik toko ini diakhir ucapannya. Membuktikan jika dia benar-benar kecewa karena tidak bisa menduplikat katana ini.
Aku melirik Rayleigh memastikan apa yang dikatakan Kurai-san itu benar atau tidak. Dan pria silver itu tersenyum, membuktikan jika itu benar.
Aku menatap katana di tanganku. Tidak kusangka Rayleigh benar-benar segitunya untukku. Bukan hanya melebur pedang kesayangannya untuk dibuat menjadi katana ini, bahkan dia juga melarang Kurai-san menduplikatnya agar hanya aku yang menggunakan pedang ini.
'Rayleigh, aku akan menjaga pedang ini sepenuh hatiku, dan menggunakannya untuk melindungi diriku. Seperti yang kau katakan. Dan itu adalah janjiku seumur hidup.'
.
.
.
.
~Mana dan Pedang~
To be continue
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini
