~Higanbana: Reincarnation~
Disclaimer: Naruto and the other are not mine
Di atas batang pohon, aku berdiri tenang. Mata terpejam mencoba terfokus pada apa yang sedang kulakukan saat ini, yaitu berusaha mendeteksi sekitarku.
Aku mempelajari ini dari Rayleigh. Dengan menyebarkan Mana-ku ke sekitar, maka aku dapat merasakan hawa keberadaan makhluk lain yang ada di sekitarku. Ini mempermudah perburuan yang kulakukan, dan juga dapat melatih pengendalian Mana-ku ke tingkat yang lebih tinggi. Aku dapat merasakan sampai jangkauan 30-50 meter.
Aku merasakannya. Sebuah hawa keberadaan yang sudah tidak asing lagi untukku. Rasanya seperti ada sengatan listrik di kepalaku. Aku segera turun dari pohon, dan kemudian berlari menuju hawa keberadaan itu.
Langkah kaki kubuat semininal mungkin tidak menimbulkan suara, agar tidak membuat mangsaku mengetahui keberadanku. Sambil terus memantau pergerakan mangsaku melalui deteksi Mana yang terus kuaktifkan.
Tak lama aku melihatnya, seekor babi hutan dewasa yang tengah makan rumput. Bulunya berwarna coklat yang cukup tebal menutupi tubuh, dan ada dua gigi besar mencuat dari mulutnya. Tanpa mengurangi kecepatan lari, aku mengeluarkan sedikit katana pemberian Rayleigh yang ada dipinggang dari sarungnya.
Babi hutan itu menyadariku, namun bahkan itu sudah terlambat saat aku sudah berada di dekatnya dan mengayunkan pedangku. Dengan mudah katana-ku memotong lehernya. Kepala babi hutan jatuh menggelinding di rumput, disertai darah yang keluar deras dari lehernya yang sudah tak berkepala. Tubuh itu jatuh tak lama kemudian.
Aku memasukan katana-ku kembali ke dalam sarungnya. Berjalan menuju tubuh babi hutan yang telah menjadi mayat kemudian memasukannya ke dalam Dimensional Storage-ku. Begitupun kepalanya, gading babi hutan cukup berharga dan dapat dijual dengan harga lumayan tinggi.
Dimensional Storage adalah sihir umum yang bisa dipelajari setiap orang, namun tidak semua dapat menguasainya. Alasannya karena ada yang tidak mengerti dengan konsep sihir ini sendiri. Aku mempelajari sihir ini dari buku pemberian Rayleigh yang berisi sihir-sihir umum.
Ada kelemahan besar dari sihir ini sendiri. Yaitu semakin banyak barang yang di simpan dalam Dimensional Storage, maka akan semakin besar beban mental yang diterina oleh pengguna. Aku juga merasakannya saat pertama kali menggunakan sihir ini, rasanya seperti ada sesuatu yang membebani kepalaku yang membuatnya sedikit sakit. Tapi sekarang itu tidak terlalu kurasakan. Aku bisa menyimpan barang seberat 10 kg dalam Dimensional Storage tanpa mempermasalahkan beban yang dihasilkan.
"!"
Aku tersentak. Merasakan hawa keberadaan lain melalui deteksi Mana yang masih aktif. Hawanya ada dua dan sangat asing untukku. Juga terasa sedikit gelap dan … menjijikan. Aku tidak tau kenapa aku merasakan seperti itu, namun memang hawa keberadaan ini terasa sedikit menjijikan.
Aku penasaran, jadi kuputuskan untuk mencari tahu hawa keberadaan apa itu. Dengan cepat kakiku berlari menghampiri asal hawa keberadaan yang kurasakan, dengan masih mengaktifkan deteksi Mana-ku untuk memantau pergerakannya.
Kurasakan itu bergerak pelan menjauh melalui deteksi Mana. Itu membuatku mempercepat lari dengan menambahkan Mana pada kakiku.
Akhirnya aku sampai di tempat asal hawa yang kurasakan. Di balik semak-semak aku dapat melihatnya, dua ekor monster Goblin membelakangiku berjalan menjauh. Aku dapat memastikan mereka memang Goblin karena penampilannya mirip dengan yang sering kulihat dalam game RPG.
Aku tidak menyangka ternyata ada monster di hutan ini. Sejauh yang kutahu, hutan ini sangat aman dan hanya ada binatang biasa yang menghuninya. Jadi aku sedikit terkejut dengan ini.
Ini berbahaya. Monster biasanya memakan manusia untuk menjadi lebih kuat. Dan di bawah bukit hutan ini ada sebuah kota, yang sialnya tidak ada penjaga yang menjaga kota itu. Dan selain itu, monster seperti Goblin ini biasanya menculik wanita untuk dijadikan tempat memperbanyak populasi mereka.
Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tahu apa yang harus kulakukan saat ini. Dengan sekali hentakan kaki, aku keluar dari semak-semak menuju dua Goblin itu.
Kedua monster itu menyadariku. Mereka berbalik, menatapku dan kemudian menyiapkan senjata mereka yang berupa tombak berbilah batu.
Satu goblin membuat gerakan menusuk ke kepalaku. Aku dengan mudah menghindari serangannya, lalu mengayunkan katana di tangan kanan yang kugenggam erat memotong tombak milik goblin itu, dilanjut mengubah arah ayunan dan memotongnya tepat di leher.
Darah segar keluar dari leher goblin yang sudah tak berkepala. Menghujaniku dan rumput hijau di tempat ini dengan cairan merah kental itu yang sedikit berbau busuk.
Goblin yang tersisa menyerang. Tombak ditangannya ditusukan menuju ke perutku yang dengan mudah dapat kuhindari dengan gerakan menyamping. Lengan kiriku yang bebas kugunakan memegang tombak miliknya, menahan tombak itu yang berusaha ditarik oleh si goblin. Kaki kanan kuangkat menendang dada lawanku, melemparnya menuju sebuah batang pohon. Lalu dengan cepat aku melempar tombak milik si goblin di tangan kiri padanya.
Dengan tepat lemparan tombakku menancap di dada goblin itu. Memuncarkan darah segar berbau busuk yang mengenai tumput dan batang pohon tempat dia berada. Goblin itu meronta-ronta sejenak dan berteriak kesakitan sampai akhirnya diam tak bergerak. Kematian menjemputnya dengan sangat menyakitkan dibanding temannya yang sebelumnya kubunuh.
Aku mengibaskan katana-ku, menghilangkan noda darah yang ada di sana setelah itu memasukannya ke dalam sarung di pinggang kiriku. Aku menatap kedua mayat goblin yang sudah kubunuh.
Tidak kusangka akan semudah ini membunuh mereka. Gerakan mereka lambat begitu juga refleknya. Ini diluar dugaanku yang kupikir akan sedikit sulit.
Apa aku terlalu berhati-hati? Berpikir melawan kedua goblin ini akan sedikit sulit.
Aku memang mengetahui jika goblin adalah monster terlemah. Tapi tidak kusangka akan selemah ini sampai dapat dengan mudah mengalahkannya.
Sepertinya aku jadi sedikit paranoid di dunia ini, dibandingkan saat di duniaku yang dulu. Tapi itu tidak apa-apa bukan? Lagipula Rayleigh selalu bilang untuk jangan pernah meremehkan apapun. Selalu berhati-hati di setiap situasi. Jadi kupikir sedikit paranoid bukanlah masalah.
Aku kembali menatap kedua mayat goblin. Dari yang kutahu, goblin adalah monster yang selalu berkelompok. Mereka tidak pernah hanya ada satu atau dua ekor saja. Pasti masih ada goblin lain di hutan ini. Jadi kuputuskan untuk menyisir area di sekitar hutan ini dengan deteksi Mana.
Mana kembali kusebar ke sekitar. Mencoba merasakan apakah ada goblin lainnya. Namun sampai jarak 30 meter aku tidak merasakan apa-apa yang akhirnya aku meningkatkan jankauannya sampai 50 meter yang merupakan batas maksimal yang bisa kulakukan.
Aku merasakannya. Aura goblin yang berada di tiga tempat di utara, selatan dan timur. Setiap tempat terdapat dua goblin.
Aku mendecih kesal. Ini akan sedikit memakan waktu karena tempat mereka berjauhan. Aku lebih suka mereka berada di satu tempat agar aku bisa membereskan mereka bersamaan.
Aku mulai bergerak lari. Untuk pertama aku akan mulai dari selatan, setelah itu timur dan kemudian bagian utara. Kuharap ini berakhir sebelum matahari terbenam.
-Higanbana-
Crass!
Suara tebasan terdengar di hutan ini ketika katana-ku dengan mudah memotong leher goblin yang tersisa dari dua goblin yang kulawan. Darah segar berbau busuk segera keluar deras menyiramiku dan rumput di tempat ini.
Aku menghela nafas sejenak. Mengibaskan katana-ku menghilangkan darah goblin yang kubunuh setelah itu memasukannya ke dalam sarungnya.
Ini adalah goblin terakhir dari enam goblin yang kurasakan beberapa puluh menit yang lalu. Semuanya telah kubereskan dengan mudah. Namun meski begitu aku memiliki firasat jika masih ada goblin lainnya di hutan ini. Jadi kuputuskan untuk kembali menggunakan deteksi Mana.
Aku tersentak. Merasakan hawa keberadaan goblin yang banyak di satu tempat berjarak 43 meter ke utara.
Dengan segera aku berlari ke tempat itu. Untuk mengecek keadaan.
Aku sampai di tempat yang kurasakan banyak hawa keberadaan goblin. Di balik pohon, aku dapat melihat ada banyak goblin berkumpul di depan sebuah gua. Jumlahnya ada 20, yang diantaranya memiliki senjata berupa longsword yang sudah rusak dan berkarat.
Darimana mereka mendapatkan pedang? Itulah yang kupikirkan saat melihat diantara mereka dipersenjatai sebuah longsword yang sudah rusak.
Melupakan hal itu, kupikir aku bisa mengalahkan semua goblin itu sekaligus. Tapi niat itu kuurungkan. Selain karena aku sendiri sudah sedikit lelah sekarang, aku juga punya firasat jika di dalam gua itu masih ada banyak goblin lagi.
Akan jadi sangat buruk jika setelah aku membunuh semua goblin itu dan lelah, goblin lain berdatangan dari dalam gua. Pikirku.
Untuk saat ini mungkin lebih baik aku mundur dulu dan pulang, lalu besok aku akan menghabisi semua goblin ini. Dan mungkin aku harus membicarakan ini juga dengan Rayleigh.
Dengan itu, aku berlari menjauh dari sarang goblin itu. Sambil berharap semoga para goblin itu tidak segera bergerak mencari mangsa mereka.
-Higanbana-
Matahari sudah terbenam sejak lama. Kini aku dan Rayleigh berada di ruang makan rumah kami yang menyatu dengan dapur setelah selesai makan malam tadi.
"Oyaji, ada yang ingin kubicarakan." Aku berucap pada Rayleigh yang sedang membereskan peralatan makan malam kami.
"Hm? Apa yang ingin kau bicarakan?" Rayleigh menyahut. Dia menatapku dengan pandangan bertanya.
"Aku menemukan sarang goblin tak jauh dari sini di dalam hutan."
Raut wajah Rayleigh yang awalnya biasa saja berubah serius setelah aku mengatakan itu.
"Kau serius?"
"Ya." Aku mengangguk.
Aku mengerti kenapa Rayleigh menjadi serius seperti ini.
Pada dasarnya, keberadaan monster itu sangat mengancam, meski monster itu adalah yang terlemah sekalipun. Itu tetap berbahaya.
Ditambah dengan adanya kota Fort-kota kecil yang berada di bawah kaki gunung ini yang sayangnya tidak memiliki penjaga, akan sangat berbahaya jika ditemukan adanya monster.
Aku memutuskan membicarakan perihal sarang goblin yang kutemukan saat perburuan tadi siang pada Rayleigh, berharap dia mau membantuku untuk menghabisi para goblin yang ada di sana.
Meski aku sendiri yakin bisa menyelesaikannya sendiri, tapi akan lebih mudah jika Rayleigh ikut membantu juga.
"Aku berniat membasmi mereka besok. Jadi aku ingin kau membantuku."
"Tanpa kau mintapun aku akan membantumu." Rayleigh tersenyum.
Aku mengangguk. Sudah kuduga Rayleigh pasti akan membantu. Dengan ini, pembasmian goblin besok pasti akan lebih mudah dan cepat.
-Higanbana-
Keesokan harinya, aku dan Rayleigh sudah siap untuk melakukan pembasmian goblin seperti yang telah kami bicarakan kemarin malam.
Pedang katana pemberian Rayleigh yang kini terpasang rapi di pinggangku adalah senjata yang akan kugunakan untuk melakukan pembasmian ini. Sedangkan Rayleigh sendiri hanya mempersenjatai dirinya dengan sebuah pedang kayu yang sering digunakan saat kami latih tanding.
"Apa kau yakin? Menggunakan pedang kayu itu untuk melawan para goblin nanti." Aku bertanya pada Rayleigh.
Memang dia tidak memiliki pedang lagi setelah pedangnya di lebur dan dijadikan pedang katana yang sekarang kumiliki. Tapi setidaknya dia bisa memakai sebuah belati atau panah. Bukannya malah menggunakan pedang kayu.
"Tenang saja. Pedang kayu ini saja sudah cukup bagiku. Kau akan terkagum nanti saat melihat bagaimana aku menggunakan pedang kayu ini untuk membunuh para goblin itu." Rayleigh tersenyum sambil mengatakan itu. Membuatku bertanya-tanya apa maksudnya.
Jujur aku sedikit khawatir pada Rayleigh yang hanya menggunakan pedang kayu. Mengingat para goblin yang akan kami lawan dipersenjatai oleh tombak bermata pisau batu dan juga pedang walau sudah rusak dan berkarat.
Tapi melihat keyakinannya akan ucapannya tadi, kupikir kekhawatiranku tidak berguna. Lagipula Rayleigh itu kuat. Sangat kuat sampai aku masih belum bisa mengalahkannya dalam latih tanding sampai saat ini.
"Baiklah Naruto, pimpin jalannya."
Aku mengangguk. Lalu mulai berlari masuk ke hutan memimpin Rayleigh menuju sarang goblin yang kemarin kutemukan.
Tak butuh waktu lama bagi kami sampai. Kini aku dan Rayleigh berada di depan gua yang merupakan sarang goblin yang kutemukan kemarin. Dapat kami lihat dari balik pohon para goblin berkumpul di depan gua dengan masing-masing senjata di tangan mereka. Jumlahnya lebih banyak dari yang kemarin kulihat.
"Apa kau punya rencana, Oyaji?" Aku bertanya pada Rayleigh yang berada tak jauh di depanku.
"Tentu."
"Apa itu?"
"Maju dan bunuh mereka semua!"
Rayleigh berlari menerjang para goblin. Aku sendiri masih terdiam setelah mendengar rencananya.
Sungguh, itukah rencananya?
Aku yang masih merasa dongkol dengan rencana Rayleigh yang kelewat sederhana itu, melihat jika pria tua yang sering kusebut Oyaji itu sudah membunuh beberapa goblin dengan pedang kayunya.
Melihat itu, aku juga dengan segera menerjang menuju para goblin yang sedang sibuk menyerang Rayleigh dari berbagai arah.
Pedang katana kukeluarkan dari sarungnya, mengayun memotong leher satu goblin yang berniat menusukkan tombaknya dari belakang Rayleigh. Tak sampai di situ, aku kembali menggerakan katana-ku mengayun membunuh goblin lainnya.
Pembantaian singkat terjadi di sini. Aku dan Rayleigh dengan mudah membunuh semua goblin yang ada di depan gua.
"Ini sangat mudah." Aku berucap sambil mengibaskan katana-ku membersihkannya dari darah goblin.
"Ya memang. Goblin adalah monster terlemah, tapi mereka licik dan juga pintar." Rayleigh membalas ucapanku. Aku mengangguk karena memang itulah faktanya.
"Saa te, sekarang tinggal memeriksa gua ini. Aku yakin masih ada goblin lain di dalamnya," ucap Rayleigh yang lalu berjalan masuk ke dalam gua yang kami pikir merupakan sarang dari goblin-goblin yang telah kami bunuh beberapa saat lalu.
Aku mengikuti Rayleigh di belakangnya mau ke dalam gua. Segera bau yang tidak sedap tercium olehku saat memasuki gua ini.
"Ugh, gua ini sangat bau." Aku mengeluh akan bau tidak sedap yang masuk kedalam indra penciumanku.
Rayleigh kulihat biasa saja akan bau tidak sedap ini. Dia tidak berusaha menutup hidungnya sepertiku. Apa dia sudah terbiasa?
"Berhati-hatilah Naruto, gua ini cukup sempit. Jika kau ceroboh mengayunkan pedang, pedangmu akan tertahan oleh dinding gua ini." Rayleigh berkata memperingatiku.
Aku mengangguk mendengarnya. Gua ini memang cukup sempit. Jadi aku tidak bisa leluasa mengayunkan pedangku nanti jika kami bertemu goblin di dalam sini.
Duk! Duk! Duk!
Kami berhenti saat mendengar suara langkah kaki dari depan kami. Tak lama kemudian, belasan goblin muncul. Mereka membawa longsword rusak di tangan mereka masing-masing.
"Biar aku yang menghadapi mereka." Rayleigh berkata lalu kemudian menerjang belasan goblin di depan kami.
Pria tua itu dengan lihai membunuh para goblin menggunakan pedang kayunya yang kulihat terlapisi pendar putih pucat.
Pedang kayu itu terlapisi Mana.
Sebelumnya aku bingung bagaimana Rayleigh bisa memotong tubuh para goblin dengan menggunakan pedang kayu. Dan sekarang aku tau jawabannya adalah karena dia melapiskan Mana pada pedang kayunya. Jujur itu membuatku kagum.
Pada dasarnya Mana itu layaknya sebuah elemen listrik. Itu bisa mengalir jika melalui konduktor yang cocok. Dan tubuh sendiri merupakan konduktor paling baik untuk melakukannya.
Mana juga bisa dialirkan pada benda lain selain anggota tubuh. Tapi itu cukup sulit karena tidak semua benda dapat digunakan sebagai perantara energi Mana.
Sebagai contoh seperti yang dilakukan Rayleigh, jika kau mengalirkan energi Mana pada pedang kayu, itu sangat sulit. Karena jika kau mengalirkan Mana dalam jumlah besar maka pedang kayu itu akan hancur karena tidak kuat menahan tekanan energi Mana. Dan jika kau mengalirkan terlalu sedikit, itu juga akan gagal karena Mana yang melapisinya akan cepat hilang.
Tapi Rayleigh bisa melakukan hal itu dengan mudah. Itu sudah membuktikan seberapa hebat dia menggunakan Mana-nya.
Tak butuh waktu lama bagi Rayleigh untuk membunuh semua goblin yang menghadang kami. Setelah itu kamipun kembali menelusuri gua ini lebih dalam.
Kami sampai di sebuah ruang yang cukup luas, yang merupakan percabangan dari gua ini karena sekarang ada dua jalan lain di depan kami.
Dari salah satu jalan, terdengar suara langkah kaki yang banyak, yang tak lama kemudian belasan goblin lagi muncul di depan kami. Rayleigh kembali menyuruhku diam sedangkan dia sendiri akan melawan para goblin itu lagi sendirian. Aku menyanggupinya dan membiarkan pria tua itu melawan para goblin.
Aku memperhatikan dengan cermat Rayleigh yang bergerak membunuh satu persatu goblin. Untuk mengembangkan gerakan kenjutsu-ku, aku melihat bagaimana Rayleigh bergerak menggunakan pedang kayunya itu. Yang kuakui dia sangat hebat. Aku masih harus belajar banyak darinya.
Gerombolan goblin lain berdatangan tak lama setelah Rayleigh menghabisi gerombolan goblin sebelumnya. Aku menarik katana-ku dan memutuskan membantu Rayleigh kali ini saat melihat nafas pria tua itu yang sudah mulai tidak beraturan.
"Bukankah sudah kubilang untuk menyerahkan semuanya padaku." Rayleigh berkata tepat ketika aku berada di sisinya.
"Dan membiarkanmu bertarung sendirian dengan kondisi kelelahan seperti itu? Jangan bodoh Oyaji. Kau harus tahu batasmu juga."
Aku menoleh dan melihat Rayleigh yang tersenyum kecil.
"Terserah kau saja."
Rayleigh melesat maju menerjang gerombolan goblin yang datang. Aku mengikutinya dari belakang.
Katana-ku berayun, memotong lengan satu goblin yang memegang longsword rusak sebelum dia mengayunkannya. Darah menyembur keluar dari lukanya, disusul dengan teriakan kesakitan goblin itu. Aku segera mengakhiri hidup goblin yang sudah cacat itu dengan memenggal kepalanya.
Tiga goblin menyerangku dari tiga arah. Salah satunya mengayunkan pedang rusak di tangannya padaku. Aku menangkisnya dengan mudah lalu menendang tubuh goblin itu. Melemparnya hingga menabrak goblin lain yang sedang dilawan Rayleigh.
Goblin lain menyerang dari samping. Tombak berbilah batu yang dibuat sedemikian rupa tajam bergerak menusuk ke arahku. Aku menghindari tusukan tombak itu, memegangnya kemudian menarik tombak itu. Membuat pemilik tombak juga ikut tertarik. Lalu aku menggunakan pedangku menusuk diantara mata goblin pemilik tombak, membuat darah keluar dari sana disertai teriakan sakit si goblin sebelum kemudian berhenti saat dia mati.
Tombak yang ku genggam di tangan kiri kutarik jauh ke belakang. Suara daging yang tertusuk memberitahu jika tombak itu menusuk sesuatu, tepatnya goblin yang berniat menyerangku dari belakang yang kuketahui berkat deteksi Mana.
"Naruto awas!"
Suara teriakan Rayleigh terdengar olehku. Aku melirik ke arahnya yang terlihat panik. Segera setelahnya aku mengetahui penyebab kepanikannya. Sebuah bola api berukuran cukup besar terlihat di pandanganku, itu menuju ke arahku.
Dengan cepat aku melompat menghindar. Membiarkan bola api itu menghantam tempatku sebelumnya, menciptakan ledakan sedang.
Aku melihat tempat ledakan itu. Sebuah kawah kecil terbentuk akibat ledakan, dan mayat-mayat goblin yang sebelumnya kubunuh hangus. Mengeluarkan bau daging gosong yang memuakan. Kemudian aku melihat asal bola api itu tadi.
Di sana aku melihat satu goblin yang berbeda dari goblin lainnya. Alih-alih memiliki tubuh kecil dengan perut buncit, goblin itu terlihat kurus tapi lebih tinggi dari goblin lainnya. Dia memakai pakaian yang terlihat seperti suku Apache, dengan sebuah hiasan kepala. Lengan kanannya merentang ke depan, pada sebuah lingkaran merah yang mengambang berpola rumit. Itu adalah lingkaran sihir. Lengan yang lain memegang sebuah tongkat kayu.
"Berhati-hatilah, goblin itu sudah berevolusi." Rayleigh si sampingku berkata sambil menunjuk goblin yang berbeda itu.
Itu menjelaskan bagaimana goblin itu bisa melakukan sihir untuk menyerangku dengan bola api tadi. Itu karena goblin itu sudah berevolusi.
Pada beberapa kasus, monster bisa menjadi lebih kuat dengan berevolusi. Menjadi monster jenis baru dengan sebuah kemampuan khusus. Itu bisa terjadi saat monster telah memakan banyak manusia atau hidup di sebuah tempat tertentu.
Goblin yang menyerangku tadi adalah goblin yang sudah berevolusi. Menjadi goblin jenis baru yang bisa melakukan sihir. Itu mengejutkan sebenarnya.
Aku menggenggam erat katana di tangan kananku. Menatap waspada goblin pengguna sihir yang dikawal lebih dari 20 goblin lain di belakangnya. Mereka juga berbeda dari goblin biasanya. Terlihat lebih berisi otot. Aku mengasumsikan jika mereka juga goblin yang sudah berevolusi. Pastinya mereka lebih kuat dari goblin lainnya dan mungkin juga lebih pintar.
"Kau punya rencana?"
Aku bertanya pada Rayleigh, sambil terus memperhatikan goblin pengguna sihir yang belum melakukan tindakan.
"Aku akan mengurus goblin-goblin yang ada di belakangnya, lalu disaat itu kau harus membunuh goblin pengguna sihir itu. Dia adalah pemimpinnya. Ketika sebuah pasukan kehilangan pemimpinnya, mereka akan tercerai berai."
"Aku mengerti. Tapi apa kau yakin melawan semua goblin lainnya sendirian? Mereka lebih banyak dari sebelumnya dan terlihat lebih kuat."
"Jangan remehkan aku, Gaki. Meski aku sudah tua, tapi jika hanya melawan goblin itu bukan masalah bagiku."
"Aku ragu dengan itu. Lihat, kau sudah kelelahan seperti itu. Apa kau masih yakin mau melawan mereka sendirian?"
Rayleigh sudah kelelahan. Itu terlihat dari nafasnya yang sudah sedikit tidak beraturan dan keringat yang memenuhi wajahnya.
"Kau tenang saja. Aku masih sanggup untuk melawan mereka. Kau fokus saja pada membunuh goblin sihir itu."
"Baiklah jika itu maumu."
Aku dan Rayleigh maju bersamaan. Goblin pengguna sihir berteriak, memerintahkan goblin berotot di belakangnya untuk menghadang kami. Rayleigh langsung memancing mereka semua menjauh, membiarkanku untum melawan goblin pengguna sihir sendirian seperti yang sudah direncanakan.
Goblin pengguna sihir merentangkan lengan kanannya, menciptakan lingkaran sihir merah seperti sebelumnya yang mengeluarkan sebuah bola api kecil ke arahku. Aku melompat ke samping menghindari bola api itu. Bola api lain meluncur ke arahku. Aku dengan susah payah menghindarinya selagi masih dalam keadaan melompat. Kemudian aku melompat mundur, menjauh dari goblin pengguna sihir itu.
Goblin pengguna sihiri berteriak. Dan setelah itu beberapa goblin berotot yang sedang di lawan Rayleigh berbalik arah menuju ke arahku. Rayleigh berusaha mencegah mereka namun dihadadang goblin lainnya.
Tiga goblin berotot menyerangku. Pedang longsword rusak mereka berayun secara bersamaan padaku. Aku menangkis itu semua dengan katana-ku.
Trank!
Bunyi logam beradu terdengar nyaring. Kekuatan serangan dari letiga goblin ini cukup menekanku. Mereka lebih kuat dari goblin yang sebelumnya kulawan. Aku menghentakan pedangku, lalu melompat mundur menjauh dari mereka.
Mereka tidak membiarkanku lari. Dengan cepat mereka kembali menyerangku. Satu goblin menyerang dengan tebasan dari atas, yang kutahan drngan pedangku. Goblin lain menyerang dari samping. Aku menghentakan pedang goblin yang sedang kutahan, lalu berbalik menendang goblin yang menyerang dari samping.
Tanpa disangka tendanganku berhasil ditahan olehnya. Goblin terakhir menyerang dari arah lain. Dan serangan berupa bola api yang berasal dari goblin pengguna sihir juga menuju ke arahku yang sedang tertahan.
Dalam keadaan satu kaki yang tertahan, aku menggunakan kaki satunya untuk melompat kemudian menendang wajah goblin yang menahanku. Membuatnya terdorong ke belakang dan melepaskan kakiku. Aku jatuh tengkurap dengan sengaja menghindari serangan bola api. Membuat serang itu berlalu melewatiku. Kemudian aku berdiri dan melompat menghindari serangan goblin berotot yang terakhir.
Goblin-goblin ini benar-benar berbeda. Mereka bisa bekerja sama dengan sangat baik dan juga lebih kuat. Ditambah goblin pengguna sihir yang tahu jika pertarungan jarak dekat denganku tidak menguntungkannya. Itu membuatnya memerintahkan goblin bawahannya untuk menahanku agar tidak mendekatinya.
Aku melirik Rayleigh sejenak yang sedang melawan goblin berotot lainnya. Dia terlihat sedikit kewalahan dan juga lebih kelelahan dari sebelumnya. Aku harus segera menyelesaikan pertarunganku kemudian membantu Rayleigh. Aku khawatir padanya.
Aku menatap kembali lawanku. Tiga goblin berotot yang di belakang gobling pengguna sihir selaku pemimpin mereka. Dari pertarungan sebelumnya, goblin berotot memiliki reflek lebih baik dari goblin biasa, begitu juga kecepatan dan kekuatan mereka. Satu-satunya cara adalah menyerang dengan kecepatan yang lebih dari sebelumnya. Dan kebetulan kecepatan adalah spesialisku.
Aku mengalirkan sejumlah Mana pada kedua kakiku, untuk menambah kecepatan gerakku. Juga aku mengalirkanmya pada pedang katana di tanganku. Lapisan Mana merah tipis mengaliri katana yang kugenggam dengan kedua tangan. Karena pedang ini terbuat dari logam khusus yang dapat mengalirkan Mana dengan baik, aku tidak perlu repot-repot untuk mengatur porsi Mana yang harus kugunakan. Aku hanya perlu mempertahankannya tetap stabil.
Pada akhirnya aku memutuskan menggunakan Mana dalam pertarungan ini. Awalnya aku berpikir membasmi goblin ini akan mudah mengingat mereka itu lemah, ditambah dengan adanya Rayleigh bersamaku. Tapi dengan adanya goblin yang sudah berevolusi, ini menjadi lebih sulit dari yang kuduga.
Selesai dengan persiapan yang kubutuhkan, aku mejejakkan kakiku kuat, membawa diriku menuju pada lawanku. Para goblin itu bertindak. Satu goblin berotot menghadang lajuku. Pedangnya siap untuk menahan serangan. Dengan cepat aku menghujamkan tebasan horizontal pada goblin yang menghadangku. Katana-ku beradu sejenak dengan longsword rusaknya kemudian memotong pedang rusak itu dan berlanjut memotong lehernya.
Dengan kecepatan serangan dan lapisan Mana yang mengaliri katana-ku yang membuatnya menjadi lebih tajam, aku dapat dengan mudah memotong pedang goblin itu di tambah pedangnya yang memang sudah rusak dan berkarat.
Aku berlanjut menuju goblin berotot lain. Seperti sebelumnya, aku menghujamkan serangan horizontal yang ditahan dengan sia-sia oleh goblin itu karena pedangnya juga terpotong ketika beradu dengan katana-ku. Kepalanya terlempat ke atas begitu dengan mudahnya aku memotong leher goblin itu, mengakhiri nyawanya.
Aku ingin ini cepat selesai. Jadi aku mengincar bagian vital lawanku yang akan membuat mereka mati seketika, yaitu bagian leher mereka.
Berlanjut pada goblin berotot terakhir, goblin itu bernasib sama seperti kedua temannya yang lain ketika aku menyerangnya. Pedangnya terpotong dan berlanjut ke lehernya yang juga ikut terpotong setelahnya.
Kini hanya tersisa goblin pengguna sihir di depanku. Wajahnya terlihat mengeras. Goblin itu pasti marah karena aku telah menghabisi bawahannya.
Goblin itu merentangkan lengannya yang tidak memegang tongkat, menciptakan lingkaran sihir yang bukan hanya satu, melainkan tiga sekaligus. Ketiga lingkaran sihir itu mengeluarkan sejumlah bola api seukiran bola basket yang langsung melaju ke arahku.
Aku menghindari serangan goblin pengguna sihir, kemudian berlari mengitarinya yang terus membombardir bola api padaku. Strategiku adalah menguras habis Mana-nya. Dengan itu dia pasti tidak akan bisa menyerangku lagi karena kuperkirakan semua serangannya terspesialis pada sihir. Tanpa Mana, itu berarti dia tidak akan dapat menggunakan sihir lagi.
Aku terus berlari mengitari goblin pengguna sihir yang terus memberikan rentetan seramgan bola api padaku. Sampai saat ketiga lingkaran sihirnya berhenti mengeluarkan serangan dan menghilang, aku berhenti kemudian berbalik lari ke arahnya.
Aku menjejakkan kakiku. Membawa tubuhku sendiri terlempar cepat ke arah goblin pengguna sihir. Pedang katana sudah kugenggam erat dengan kedua tangan siap memberikan serangan pada area vitalnya.
Tanpa disangka, goblin itu kembali menciptakan lingkaran sihir yang kali ini lebih besar dari sebelumnya yang kemudian mengeluarkan sebuah bola api dengan diameter sekitar 1 meter lebih.
Aku terkejut melihat itu. Berusaha menghindari serangan itu sangat tidak mungkin karena aku yang masih terlempar di udara menuju ke arahnya tidak memiliki pijakan. Alhasil aku memutuskan menerima serangan itu.
Aku mengalirkan Mana ke seluruh tubuh untuk memperkecil dampak serangan yang akan kuterima. Aku juga mengalirkan Mana ke pedangku yang kuposisikan vertikal di depan.
Bola api itu dengan telak mengenaiku. Memberikan rasa panas juga luka bakar kecil pada tubuhku. Bola api itu juga membakar sebagian pakaian yang kugunakan.
Sambil menahan sakit dan panas yang kurasakan, aku terus melaju menembus bola api itu. Goblin pengguna sihir terkejut saat aku berhasil menembus serangan bola apinya dan dia terlihat berniat melarikan diri. Aku tidak membiarkannya melakukan itu.
Secepat mungkin aku berlari kearahnya saat sudah berpijak. Aku mengayunkan katana-ku menuju leher lawanku. Goblin itu menahan seranganku dengan tongkatnya yang ternyata cukup keras sampai tidak terpotong oleh pedangku. Dia pasti mengalirkan Mana pada tongkatnya karena terlihat tongkat itu berpendar merah sedikit.
Aku menambahkan lebih banyak Mana mengalir di pedangku. Kemudian aku dengan sekuat tenaga berusaha memotong tongkatnya. Tongkat itu terpotong tak lama kemudian, lalu tanpa ada lagi halangan pedangku memotong lehernya. Kepala yang terlepas dari tempatnya itu terlempar di udara, dan semburan darah berbau tidak sedap keluar dari lehernya yang terpotong. Tubuh goblin itu ambruk ke tanah tak lama kemudian.
Aku menatap singkat tubuh goblin tak bernyawa itu, kemudian beralih melihat ke arah Rayleigh yang masih sibuk melawan beberapa goblin berotot yang tersisa. Melihat itu aku langsung berlari menuju kearahnya untuk membantu.
Aku menyerang satu goblin berotot dari belakang. Memotong lehernya saat dia tidak menyadariku yang dengan seketika mengakhiri nyawanya.
"Kau terlihat berantakan, Oyaji."
Aku melirik Rayleigh di belakangku. Keringat memenuhi wajahnya dan nafasnya juga memburu pertanda dia sangat kelelahan.
"Kau juga sama berantakannya Naruto. Bahkan lebih parah." Rayleigh membalas sambil tersenyum padaku. Aku tidak membalasnya karena faktanya aku sendiri memang dalam keadaan berantakan.
Dengan pakaian yang sudah tak utuh lagi juga beberapa luka bakar kecil di tubuhku akibat serangan bola api dari goblin pengguna sibir tadi, wajar jika Rayleigh mengatakan keadaanku lebih berantakan darinya.
"Kita selesaikan ini Oyaji."
"Tentu. Ayo!"
Aku dan Rayleigh berlari bersama menerjang para goblin berotot. Mereka memiliki kerja sama yang sangat baik, tetapi aku dan Rayleigh berhasil mengatasi itu.
Aku dan Rayleigh sudah sering melakukan latih tanding, jadi sedikit banyaknya kami tau gerakan dan kemampuan masing-masing. Itu membuat kami bisa melakukan berbagai kombinasi serangan dengan koordinasi yang sangat baik. Jadi bahkan kerja sama para goblin berotot dapat kami atasi walau kami kalah jumlah sekalipun.
Cukup lama akhirnya kami berhasil membunuh semua goblin yang tersisa. Rasa lelah kami berdua rasakan setelahnya. Membuat kami mengistirahatkan tubuh kami sejenak di ruang terbuka gua ini.
"Ayo kita lanjutkan. Aku yakin masih ada goblin lagi di sini." Rayleigh berkata sambil berdiri dan membersihkan celananya dari drbu yang menempel saat kami duduk beristirahat di tempat ini.
Aku mengangguk lalu ikut berdiri. Setelah itu kami mulai berlanjut mencari goblin lain di gua ini. Kami memulai dari arah dimana para goblin yang tadi kami lawan datang.
Suara langkah kaki dari kami berdua bergema di gua ini. Suasana yang gelap ditambah bau yang tidak mengenakan dari gua ini membuatku begitu muak. Bukannya aku takut pada hantu atau apapun. Hanya saja aku tidak tahan dengan gua ini yang menurutku begitu menjijikan.
Akhirnya kami sampai di ujung jalan gua ini. Mataku mengedar ke sekitar melihat ruang yang sedikit lebih kecil dari ruang terbuka tempatku dan Rayleigh bertarung melawan goblin evolusi tadi. Di tempat ini aku melihat ada beberapa kurungan yang terbuat dari kayu.
Aku melihat isi dari kurungan-kurungan itu dan seketika terkejut. Isi dari kurungan-kurungan itu adalah beberapa wanita, yang dalam keadaan … entah bagaimana aku harus mengatakannya. Yang pasti tidak baik untuk dilihat sama sekali. Dan mereka semua sudah mati.
"Mereka pasti wanita-wanita yang para goblin jadikan sebagai tempat memperbanyak populasi mereka." Rayleigh di belakangku mengatakan itu dengan nada rendah.
Mendengar itu, amarah seketika kurasakan. Aku memang tahu jika goblin sering menculik wanita dan menggunakan mereka sebagai alat untuk memperbanyak diri. Tapi melihat langsung bagaimana keadaan wanita-wanita yang telah mereka gunakan untuk memperbanyak diri, membuatku seketika marah. Pasalnya bahkan beberapa diantara wanita-wanita yang kulihat di dalam kurungan, ada yang bahkan masih memasuki masa remaja.
Aku melihat satu kurungan lain yang tersisa, dan melihat jika ternyata isinya bukanlah mayat wanita yang habis digunakan para goblin. Melainkan beberapa goblin yang masih kecil atau dengan kata lain, mereka adalah anak-anak goblin.
Amarah yang kurasakan semakin besar melihat itu. Dengan langkah berat, aku menghampiri kurungan itu lalu membukanya dengan paksa.
Anak-anak goblin di dalamnya mundur ketakutan melihatku. Wajah mereka terlihat memelas, seakan meminta pengampunan padaku.
"Maaf saja, aku tidak akan memberikan belas kasihan sedikitpun pada makhluk menjijikan seperti kalian."
Aku menarik katana-ku, mengayunkannya membunuh satu anak goblin, lalu berlanjut membunuh yang lainnya di dalam kurungan itu sampai tak bersisa sedikitpun.
"Aku terkesan. Kau tidak merasa kasihan sedikitpun dihadapankan dengan tatapan memelas anak-anak goblin itu. Kau tahu, orang-orang yang baru pertama kali melihatnya kebanyakan akan mengampuni mereka dan membiarkan mereka hidup."
Rayleigh berkata sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada setelah aku selesai membunuh semua anak goblin yang ada di dalam kurungan.
"Jika aku melakukan hal itu, maka anak-anak goblin tadi hanya akan membuat masalah di masa deoan nanti."
"Pemikiran yang bagus."
Aku tidak membalas perkataan Rayleigh. Aku sibuk dengan membersihkan darah dari anak-anak goblin yang kubunuh yang ada pada tubuh dan pedangku.
"Ayo kita telusuri lagi gua ini. Mungkin saja masih ada goblin lain lagi yang tersisa."
Aku mengangguk lalu mengikuti Rayleigh dari belakang, menelusuri gua ini lagi mencari apakah ada goblin lain yang tersisa. Namun setrlah kami menelusuri semua tempat dan jalan di gua ini, kami tidak menemukan goblin satupun. Sepertinya tidak ada goblin lagi yang tersisa di gua ini. Anak-anak goblin yang kubunuh sepertinya adalah yang terakhir.
Kami memutuskan untuk pulang setelah yakin jika tidak ada lagi goblin yang tersisa. Saat kami keluar dari gua, matahari sudah sedikit condong ke barat, menandakan sudah memasuki waktu sore hari.
Aku tidak akan pernah melupakan hari ini. Hari dimana akhirnya aku tahu, jika monster adalah makhluk paling menjijikan yang pernah ada.
.
.
.
.
~Pertempuran melawan monster~
To Be Continue
Balasan Review;
Suriken: Yap, Dunia awal Naruto cuma dunia modern biasa.
Paijo Payah:
- Di dunia Naruto yang sekarang gak ada Chakra, yang ada Mana. Naruto punya Mana tapi kapasitasnya normal. Gak besar tapi juga gak kecil.
- Untuk kemampuan pedang Naruto, tentu bakal meningkat secara bertahap. Tapi bakal ku skip sampe tingkat dimana dia bisa melawan monster tingkat rendah dan beberapa monster tingkat menengah.
Terima kasih buat yang sudah support fic ini, dan mohon maaf jika masih banyak kekurangannya.
Akhir kata, Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini.
