Terima kasih atas dukungan kalian.
Chapter 2: Uzumaki Naruto
Mata itu terpejam. Merasakan kegelapan yang seakan menyelimuti tubuhnya. Perlu beberapa detik hingga mereka bertiga tiba di dunia lain. Rasa mual menggoyang perut mereka akibat efek dari perpindahan ini. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah hutan.
Naruto membuka mata perlahan, menghirup udara segar khas pagi hari. Hutan yang nampak dalam garis penglihatannya tidak berbeda jauh dengan hutan di Konoha. Ia lalu melirik pria di sampingnya.
"Apa kita sudah sampai?"
Sirzechs mengangguk. "Ya, kita sudah sampai. Lebih tepatnya kita tiba di bumi tempat manusia bermukim."
Naruto mengangguk pelan. Sirzechs memberitahukan bahwa lokasi kedatangan mereka berada di kaki bukit kota Kuoh. Cukup dekat dengan villa milik keluarga Gremory. Mereka akhirnya sepakat pergi ke sana. Villa itu akan dijadikan tempat istirahat Naruto untuk sementara waktu.
Sesuai yang dijanjikan Sirzechs tentang jaminan Naruto di dunia ini, ia akan menyiapkan rumah mewah di pusat kota Kuoh untuk Naruto tinggali. Remaja pirang itu juga akan mendapat uang saku tiap bulannya selama ia hidup di sini terlepas apakah Naruto jadi menikah dengan adik Sirzechs atau tidak. Semua itu tergantung situasi ke depannya.
Hal yang Naruto lihat pertama kali setelah keluar dari hutan adalah pemandangan kota Kuoh. Sungguh menakjubkan dengan bangunan-bangunan tinggi yang menembus awan. Kendaraan yang Naruto tak tahu apa itu dan masih banyak lagi. Nampaknya ia harus belajar beradaptasi dengan cepat.
"Jadi dunia ini sudah menginjak zaman modern, bukan begitu?" tanya Naruto.
"Benar sekali. Mungkin akan ada banyak hal yang baru untukmu, tapi aku yakin kau akan beradaptasi dengan cepat. Bukankah itu salah satu kelebihan seorang shinobi?"
"Hn. Beradaptasi dengan lingkungan seperti apa pun merupakan skill dasar seorang ninja."
Sirzechs tersenyum. "Baguslah."
Butuh beberapa waktu untuk mereka sampai di villa yang dituju. Villa itu berukuran sangat besar dan mewah. Terdapat kolam renang dan pemandian air panas di dalamnya. Namun, tidak ada seseorang yang terlihat di sana.
"Villa ini tidak dibuka untuk umum," ucap Sirzechs seakan tahu apa yang Naruto pikirkan.
Villa yang telah didirikan sejak 10 tahun ini awalnya bertujuan untuk tempat tinggal jika keluarga Gremory berlibur di dunia manusia. Villa ini juga sering digunakan Sirzechs beristirahat jika ada kepentingan politik di dunia manusia.
Untuk keamanan villa ini sangat terjamin karena dipasang oleh sihir pelindung berlapis. Mustahil untuk musuh dengan kekuatan menengah ke bawah menghancurkan sihir itu.
Grayfia mengarahkan mereka ke sebuah kamar yang ukurannya sangat luas di lantai 2. Kamar ini memperlihatkan langsung pemandangan kota Kuoh serta terdapat balkon yang sangat nyaman untuk beristirahat. Sebuah ranjang berukuran king size dengan taburan kelopak mawar merah menjadi perhatian Naruto.
"Apa kau sudah mempersiapkan ini jika seandainya aku jadi menikahi adikmu, Sirzechs-san?"
"A-ah … mempersiapkan semuanya di awal sangat penting bukan?"
Naruto mendengus. Tidak mengerti apa yang ada di pikiran kepala merah itu. Lagi pula ia belum tentu setuju untuk menikah dengan adik pria di depannya. Perjanjian Naruto dengan Sirzechs hanya satu, membantu melepaskan adiknya dari jerat pertunangan yang tidak diinginkan.
Itu saja, tidak lebih pula tidak kurang. Masalah kehidupan Naruto yang akan dipenuhi semuanya oleh Sirzechs itu adalah jaminan untuk Tsunade. Tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan perjanjian mereka berdua.
Terlepas jika memang benar adik Sirzechs memiliki paras yang cantik dan tubuh indah, itu tidak akan membuatnya langsung terpincut. Naruto bukan pribadi seperti itu. Dia pria yang berbeda dari kebanyakan pria yang lainnya. Biarkanlah hatinya yang memilih siapa yang akan ia cintai.
Sirzechs dan Grayfia pamit setelah memberi tahu beberapa hal pada Naruto. Ia juga bilang akan mengirim beberapa maid keluarganya segera. Naruto hanya mangut saja dengan tatapan biasa. Lagi pula ia butuh beberapa pelayan untuk mengurus hidupnya di dunia yang belum ia kuasai.
Sirzechs dan Grayfia pergi dengan lingkaran sihir teleportasi.
Sirzechs merebahkan tubuhnya di kursi kebesarannya sambil mendengus lega. Grayfia masih setia berdiri di hadapannya dan terlihat hendak berbicara sesuatu. Mereka saat ini sudah kembali ke Mekai, tepatnya ruang kerja Sirzechs sebagai Maou Lucifer.
"Sirzechs-sama–"
"Sirzechs saja. Kita sudah tidak dalam situasi formal."
Grayfia mengangguk singkat. "Sirzechs, apa kau yakin dengan pemuda itu? Aku tidak merasakan adanya pancaran Chakra seperti kebanyakan shinobi di dunia sana. Kau juga pasti sudah menyadarinya, bukan?"
Pria itu mengangguk tanda setuju. "Ya, seperti yang kau katakan. Pemuda bernama Uzumaki Naruto itu sama sekali tidak memancarkan kekuatan dalam tubuhnya. Ia layaknya manusia pada umumnya."
"Terus kenapa kau setuju dengan rekomendasi dari wanita bernama Tsunade itu dan berakhir dengan membawanya ke sini?" Ini adahal hal yang benar-benar Grayfia dibuat bingung.
"Pemikiranmu memang tidak bisa disalahkan. Tapi berdasarkan apa yang Tsunade bilang, pemuda itu adalah pahlawan yang telah menyelamatkan dunia dari mimpi tiada akhir. Mendengarnya saja sudah membuat aku yakin bahwa Uzumaki Naruto itu adalah orang kuat. Mungkin setara dengan Hashirama di masa kejayaannya dulu," jelas Sirzechs.
"Lebih baik kita tak perlu mengkhawatirkan Naruto. Kita harus fokus menyusun rencana selanjutnya. Lagi pula pada akhirnya kita akan tahu kekuatan pemuda itu."
Tepat seperti yang dikatakan Sirzechs, tidak lama setelah kepergiannya muncul lingkaran sihir dengan dominasi berwarna merah dan memperlihatkan lima wanita berparas cantik dengan pakaian maid. Mereka membungkuk hormat pada Naruto.
"Kami adalah pelayan keluarga Gremory yang diutus oleh Sirzechs-sama untuk menyiapkan segala kebutuhan Uzumaki-sama," kata salah satu pelayan.
"Ah iya, aku sendiri. Nanti sampaikan ucapan terima kasih dariku pada Sirzechs-san."
"Sesuai perintah Anda."
"Pertama-tama aku ingin makan sesuatu."
Malam hari yang tenang dengan bintang bertaburan di langit. Naruto duduk santai di kursi balkon sambil mengamati langit. Langit di dunia ini tidak terlalu indah jika dibandingkan dengan dunia Elemental. Mengingatkan kembali akan sejarah yang diceritakan Sirzechs, Naruto jadi kepikiran jika langit telah rusak oleh mereka yang memiliki kekuatan besar.
Kembali larut dalam ingatannya, Naruto ingin membuka lembaran baru di sini. Ia tidak akan menjadi dirinya yang dulu; periang dan penuh impian. Ingatannya tertuju saat Sirzechs menjelaskan kalau manusia adalah makhluk paling lemah di antara makhluk lainnya. Otomatis ia akan dipandang rendah jika bertemu dengan makhluk supernatural.
Ia memang manusia tapi ia bukanlah orang lemah. Apa yang harus Naruto lakukan, bagaimana sikap yang harus ia perlihatkan? Ia tidak ingin diremehkan oleh orang yang sama sekali tidak tahu asal-usulnya. Jadi, Naruto memutuskan untuk merubah sifatnya seperti Sasuke atau bahkan mungkin Madara akan cocok. Sifat arogan, tenang, santai, dan mematikan akan menjadi sifat yang cocok untuk menyebut 'hallo' pada para makhluk supernatural.
Ini adalah hal yang mudah baginya. Di antara semua shinobi Konoha Naruto adalah orang yang paling berbakat dalam Henge no Jutsu. Meniru adalah keahliannya.
Naruto mendengus pelan. "Bersikap seperti Madara. Remehkan lawanmu, junjung tinggi harga dirimu. Hm, nampaknya aku mulai terbiasa dengan ini."
Naruto mendekat pada dinding pembatas. Melihat kota Kuoh yang indah dengan cahaya kerlap-kerlip. Ia merasakan banyak sekali aura bercampur menjadi satu. Kebanyakan aura manusia, sisanya hitam dan putih. Naruto sadar bahwa bukan saja manusia yang tinggal di sana, pasti makhluk sejenis Sirzechs juga tinggal di Kuoh.
"Kalau tidak salah kepala merah itu pernah menjelaskan tentang stray devil. Iblis yang terbuang dari ras mereka dan bersembunyi di antara para manusia selagi mereka memakannya. Ini akan menjadi permulaan yang baik untukku."
Bersamaan dengan angin yang berhembus, Naruto hilang menuju ketiadaan. Tidak ada yang menyadari hal itu bahkan maid yang ditugaskan untuk mengawasi Naruto.
Beralih tempat menuju bangunan yang tidak terpakai. Bangunan ini sudah tak memiliki atap. Dari balik kegelapan sesosok monster berwujud manusia sedang memakan sesuatu. Darah terlihat mengotori tangannya. Monster yang menyerupai wanita berambut panjang hitam itu tengah memakan tangan manusia. Tangan dari laki-laki yang mungkin terbujuk rayuan mautnya.
Naruto muncul tanpa suara yang terdengar sedikit pun di ujung puncak tembok yang masih berdiri kokoh. Kehadiran pemuda itu belum disadari sampai ia mengucapkan kalimat sapaan ringan.
Iblis liar itu menoleh dengan mata yang membulat sempurna. Tidak pernah sebelumnya ia kecolongan seperti ini. Ia menghentikan acara makannya dan berbalik menatap Naruto. Tubuhnya kini tersorot oleh sinar rembulan yang tepat berada di belakang Naruto, memperlihatkan tubuh indah seorang wanita.
"Souka, jadi pria yang ada di belakangmu tergoda oleh tubuhmu itu? Mungkin aku akan berterima kasih pada diriku karena tidak melihat wanita dari parasnya saja."
"Kisama, manusia! berani-beraninya kau mengganggu acara makanku." Gigi iblis wanita itu bergetar, menimbulkan suara decitan.
"Jangan salah paham, kau yang sudah mengganggu malam indahku." Naruto berkata dengan sinis sambil tangannya berkacak pinggang. Rambut halusnya melambai pelan saat terkena terpaan angin.
"Apa katamu? Kau yang tiba-tiba datang–"
"Cukup! Telingaku sakit mendengar suara cemprengmu. Akan lebih baik kalau kau diam dalam kehampaan."
Tubuh iblis liar itu menegang saat manusia di depannya menutup mata. Hawa yang mulanya tenang tiba-tiba berat saat pancaran kekuatan mulai terasa dari manusia itu. Pada puncaknya, saat Naruto kembali membuka mata dan memperlihatkan sinar merah mematikan, iblis itu jatuh berlutut.
Mata yang bersinar di bawah cahaya rembulan. Mata yang bagi siapa pun melihatnya seakaan nyawa mereka sedang ditarik. Sharingan. Sebuah Doujutsu kuat dari clan Uchiha. Hanya dengan keberadaannya saja sudah mampu membuat dunia di bawah ketakutan.
Tiga tomoe berputar pelan mengitari satu titik hitam. Naruto mendapat Sharingan dari Sasuke sesaat sebelum kematiannya. Pada hari itu Sasuke berkata bahwa ia harus menggunakan Sharingan untuk kebaikannya. Itulah wasiat yang Sasuke berikan pada Naruto.
"Kenapa kau berlutut, Inu? Bukannya tadi kau dengan bangga memperlihatkan kearogananmu? Sekarang ke mana sifat itu?"
Tangan Naruto terangkat secara perlahan. Api hitam berbentuk tombak muncul dari ketiadaan di atas telapak tangannya.
"Ah benar juga, inu sepertimu memang layak berlutut dihadapanku."
Dengan gerakan yang ringan Naruto melempar tombak api hitam itu. Mengenai tepat pada perut iblis liar yang kondisinya sudah tak bisa dibilang baik dengan mulut yang mengeluarkan busa. Saking takutnya pada aura yang dipancarkan Naruto otak iblis liar itu sudah tak bisa bekerja dengan baik.
Api hitam mulai membakar apa saja yang mengenainya. Perlahan tapi pasti tubuh iblis liar itu terbakar sampai menjadi debu. Ia tak meninggalkan apa pun bahkan teriakan kesakitan. Sementara itu Naruto terus memandang tempat yang permukaannya gosong. Aroma daging panggang ia cium. Tangannya mengepal erat. Jadi seperti ini kondisi manusia yang hidup berdampingan dengan makhluk supernatural?
"Menyedihkan. Sangat menyedihkan sampai aku ingin mengeluarkan isi perutku," kata Naruto sinis.
Naruto sebenarnya tidak peduli akan nasib manusia di dunia ini. Ia bukanlah siapa-siapa, bukan tokoh utama yang datang dari dunia lain untuk mengangkat derajat umat manusia dengan kekuatannya.
Ia bukanlah tokoh utama yang mengemban takdir membosankan seperti itu.
Sekali lagi, ia menghilang dari ketiadaan dan kesunyian.
Hidangan yang mewah tersaji di meja makan yang mewah pula. Di sana sudah terlihat empat orang yang duduk. Tiga orang memiliki rambut merah sedangkan satunya berbeda. Mereka adalah keluarga besar Gremory. Tadi siang Sirzechs menyampaikan pesan bahwa ada hal penting yang ingin dibicarakan berkaitan dengan pertunangan adiknya.
Setelah mereka selesai makan, gadis cantik yang merupakan topik utama membuka pembicaraan.
"Onii-sama, sudah aku bilang aku tidak setuju dengan pertunangan ini. Mau berapa kali aku katakan aku tidak setuju menikah dengan pria bajingan sepertinya!"
"Rias, berhenti berbicara seperti bukan dari keluarga bangsawan! Aku tahu kau menyimpan rasa tidak suka kepada anak Lord Phenex tapi jaga ucapanmu." Seorang lelaki yang menjadi kepala keluarga berbicara lantang.
Sirzechs buru-buru meredakan situasi yang semakin tidak terkendali. "Sudah cukup Rias, aku tahu kau tidak menginginkan pertunangan ini dan aku sedang mencari jalan keluarnya."
"Jadi apa Onii-sama sudah menemukannya?"
Sirzechs mengangguk.
"Bagaimana caranya?" tanya antusias dia.
"Aku sudah mendapatkan calon suami yang pas untukmu, Rias."
"Tunggu, jadi maksud Onii-sama untuk membatalkan pertunanganku dengan pria bajingan itu aku akan ditunangkan dengan pria lain? Bukankah itu berarti keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya?"
Sirzechs menghela napas. "Pikirkan lagi Rias, hanya itu cara satu-satunya untuk menekan desakan Lord Phenex tentang pertunangan ini. Aku akan katakan bahwa kau telah memiliki calon dan jika Lord Phenex masih bersikeras maka jalan satu-satunya adalah menentukan siapa yang akan menjadi calonmu dengan bertarung. Itu adalah rencana yang paling bagus untuk situasi seperti ini."
Rias terdiam dengan wajah tidak suka. "Lalu siapa yang akan menjadi calonku? Issei? Dia memang memiliki potensi tapi saat ini mustahil untuk mengalahkan pria bajingan itu."
"Hoo, kenapa kau tiba-tiba memikirkan jika Hyoudou-kun yang akan kujadikan calonmu?"
"Karena dia memiliki Sacred Gear tipe Longinus di dalam dirinya. Dan sudah pasti suatu saat Issei akan menjadi kuat," jawab Rias.
"Lalu apakah kau memiliki rasa kepadanya?"
Rias menggeleng pelan. "Aku memanjakannya agar kekuatan yang ada dalam dirinya bangkit."
"Begitu, tapi bukan Hyoudou-kun yang aku maksud. Aku sudah memilih orang yang mungkin akan cocok untukmu. Seorang suami yang baik. Yah, itu berlaku jika kau benar-benar akan menikah dengannya."
"Maksud Onii-sama?"
"Aku telah melakukan perjanjian dengannya untuk membantuku menyelesaikan masalah ini. Berpura-pura menjadi calonmu demi menggagalkan pertunangan ini dengan satu kondisi yang harus dipenuhi. Jika keadaannya mengharuskan kau menikah dengan calonmu untuk menghindari pertunangan ini maka ia bersedia menikahimu."
Rias bangkit dari duduknya. Mukanya sudah memerah. "Tu-tunggu apa Onii-sama tidak memikirkan perasaanku? Bagaimana jika aku tidak setuju dengan calon yang Onii-sama pilih? Bukankah artinya itu sama saja?"
Sirzechs tersenyum pelan membuat dua orang yang sedari tadi diam menyimak penasaran. "Tenang saja. Aku pastikan kau akan menyukai calon dariku. Aku tahu bagaimana pria yang kau sukai."
"Apa perkataan Onii-sama bisa dipercaya?"
"Tentu saja."
"Baiklah, aku akan mengikuti permainan yang Onii-sama mainkan. Tapi ingat satu hal, aku berhak memutuskan hubungan dengan calon Onii-sama apa pun resiko yang akan ditimbulkan."
"Bagus, dan satu hal lagi."
"Apa?"
"Dia manusia."
"Hah!"
Esok harinya Sirzechs mengunjungi Naruto yang sedang rebahan di kasur king size. Sirzechs berkata bahwa hari ini ia akan dipertemukan oleh adiknya yang bernama Rias Gremory di mansion utama. Naruto menanggapi perkataan Sirzechs dengan cuek. Asal mengangguk saja.
Entah kenapa sejak kejadian kemarin malam ia malas berinteraksi dengan makhluk supernatural, terutama iblis yang terkenal dengan sifat arogannya. Meski begitu perjanjian tetaplah perjanjian, ia harus memenuhi hal tersebut.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di Mekai menggunakan sirih teleportasi. Mereka bertiga telah berada di depan pintu gerbang mansion Gremory. Jajaran maid menyambut mereka layaknya orang penting.
Naruto mengikuti langkah dari dua orang dewasa di depannya. Masuk ke dalam mansion. Melewati beberap koridor hingga akhirnya berhenti di depan pintu besar berlapis perak. Dari balik pintu itu pasti terdapat ruang keluarga atau tamu. Dua maid yang menjaga segera membuka pintu itu.
Dari balik pintu, Rias dengan gaun merah cantiknya sudah menunggu kedatangan orang yang akan menjadi calon suaminya dalam rencana Sirzechs. Dia duduk di sofa dengan anggun bersama dua orang tuanya yang senantiasa berada di sampingnya.
Rias melihat pintu terbuka. Buru-buru mereka berdiri untuk menyambut kedatangan Sirzechs yang membawa calon suami Rias. Kedua orang tuanya juga penasaran pria seperti apakah yang dipilih Sirzechs.
Sementara Naruto masih mengekor di belakang. Ia tak bisa melihat siapa yang ada di dalam ruangan karena terhalang oleh punggung tegap Sirzechs. Naruto hanya bisa mendengar suara dari tiga orang yang berbeda. Salah satunya pasti suara adik Sirzechs.
"Maaf menunggu lama, Rias, Okaa-san, Otou-san. Seperti yang sudah kujanjikan, aku membawa calon untuk Rias. Naruto, silahkan perkenalkan dirimu," kata Sirzechs yang bergerak ke samping agar Naruto terlihat oleh yang lain.
Hal yang pertama Naruto lihat adalah wajah Rias, begitu pula sebaliknya. Kedua orang itu saling tukar pandang cukup lama hingga Naruto bersuara. Ia tersenyum tipis. "Salam kenal, namaku Uzumaki Naruto. Aku adalah orang yang Sirzechs-san maksud."
Naruto berkata sopan sambil membungkukan badan. Memberi kesan positif pada Rias dan orang tuanya. Venelana tersenyum sumrigah saat melihat bagaimana tampannya pemuda bernama Naruto. Ia mendekat dan meraih tangan pemuda itu.
"Selamat datang di mansion keluarga Gremory. Silahkan duduk Uzumaki-kun."
"Terima kasih."
Mereka duduk berhadapan. Rias bersama orang tuanya dan Naruto bersama Sirzechs serta Grayfia. Rias terlihat menundukan kepala, tidak mengeluarkan sepatah kata untuk menyambut kedatangan Naruto.
Beberapa pertanyaan Venelana lontarkan seputar diri Naruto. Pertanyaan umum dari seorang ibu untuk calon suami anak perempuannya. Rias masih diam sampai Venelana menyikutnya pelan. Rias tergagap. Kembali sadar dari lamunanya. Sifat anggunnya sudah luntur sejak tadi.
"Mulailah mengobrol dengan calon suamimu," bisik Venelana.
Gadis itu mengangguk dengan gugup, matanya melirik blue shappire Naruto kemudian cepat-cepat menghindar saat pemuda itu hendak melirik balik. Ia berdehem pelan untuk memulihkan jiwanya yang sempat terguncang. Rias telah kembali dalam mode Ojou-sama-nya.
"Perkenalkan, namaku Rias Gremory."
"Begitu, jadi Anda yang bernama Rias ya. Hm, cantik seperti yang dikatakan Sirzechs-san," balas Naruto dengan senyum menawannya.
Lagi. Rias kembali terpana dengan senyuman itu. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan rona merah dan mempertahankan sifat anggunnya. "A-ah Onii-sama terlalu melebih-lebihkanku. Aku tidak secantik yang dia katakan."
"Tidak, justru kecantikanmu melebihi apa yang dikatakan Sirzechs-san."
"Be-benarkah?"
Naruto menangguk. "Tentu."
"Ka-kalau begitu terima kasih, aku bahagia mendengarnya."
Perbincangan selanjutnya adalah mengenai Naruto yang kemungkinan terburuk akan melawan anak Lord Phenex. Ini yang membuat Venelana, Rias, dan Lucius khawatir. Jika Naruto kalah maka semua rencana yang mereka susun akan hancur. Namun, Naruto menegaskan bahwa ia akan menang. Sirzechs juga membantu meyakinkan kedua orang tuanya. Akhirnya orang tua Rias setuju untuk Naruto menjadi calon suami Rias dalam rencana menggagalkan pertunangan ini.
Naruto dan Rias disuruh jalan berdua untuk mendekatkan diri dan mengenal masing-masing. Rias membawa mereka ke taman belakang. Di sana mereka duduk berdua di sebuah bangku. Naruto yang sejak tadi memasang senyuman kini membali ke sifat aslinya. Datar dan cuek.
Perubahan ekspresi dan auranya cukup membuat Rias terkejut. "Naruto …."
"Hn?"
"Apa benar ini Naruto yang ada di ruang tamu tadi?" Rias memastikan.
"Dasar bodoh. Tentu saja aku adalah Naruto. Memangnya kenapa?" Naruto melirik Rias melalui ekor matanya.
"Ti-tidak. Hanya saja perubahanmu terlalu besar."
Pemuda itu mendengus bosan. Jujur hal pertama saat ia melihat Rias adalah biasa saja. Tidak ada daya tarik yang membuatnya menginginkan gadis itu. Rias cantik? Entahlah Naruto tak memikirkan hal sepele seperti itu.
Ia bangkit berdiri dan maju beberapa langkah. Menatap bulan dunia Mekai. Menjijikan. Tidak ada indahnya sama sekali.
"Biar kuperjelas, hubungan kita hanya sebatas rencana si kepala merah itu. Aku tidak sedikit pun berniat menjalin hubungan denganmu bahkan menikahimu."
Rias tersentak, ia bangkit dan mendekati Naruto. "Apa kau merencanakan sesuatu agar aku tetap menjalankan perjodogan yang tak kuinginkan?"
"Tidak. Perjanjian tetaplah perjanjian. Aku pastikan akan membebaskanmu dari perjodohan konyol ini."
"… bahkan jika harus menikahiku?"
Naruto diam sebentar, ia mendecak. "Jika itu adalah satu-satunya jalan aku akan lakukan. Perjanjian adalah perjanjian."
"Kalau begitu kenapa tidak langsung kau nikahi aku saja?"
Naruto mendengus sebal. "Tidak, terima kasih."
Bersambung
Update kilat mumpung lagi mood nulis. Terima kasih atas dukungan kalian terhadap fic ini, saya sungguh senang. Mungkin dari kalian ada beberapa yang menerka-nerka kelanjutan ceritanya, dan inilah kelanjuan cerita versi saya. Berikan kesan kalian di kolom review ya!
Satu lagi, mohon maaf untuk guest yang minta bergabung dengan grup kami. Syarat utama untuk masuk adalah memiliki akun FFN, jadi sekali lagi saya ucapkan maaf.
#RAMAIKANFFN2020
[8/1/2020]
