Karena target sudah terpenuhi maka saya update kilat. Semoga menghibur.
Warning: Semua chapter fanfic ini tidak melalui editing maupun beta reader. Jadi maklum kalau typo bertebaran. Saya mau ngeliat sampai batas mana skill menulis saya yang tanpa editing.
Chapter 3: Strongest Human
Malam ini, Rias tak bisa tidur dengan tenang. Kepalanya dipenuhi oleh wajah manusia bernama Naruto itu. Sosok pemuda tampan yang memiliki mata indah membuat hati Rias berdebar ketika berada di dekatnya.
Sudah tiga jam berlalu saat pertemuan itu selesai. Sirzechs menyampaikan rencananya bahwa besok saat ia kedatangan tamu bernama Riser Phenex maka saat itulah Naruto hadir sebagai orang yang lebih dulu menjadi calon untuk Rias. Semua rencana akan dikendalikan oleh Grayfia yang menjadi kubu penengah saat pertemuan besok.
Rias mengambil napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Ia dengan lembut mendekap guling di sampinya dan membenamkan wajah cantik itu. Rias sedang dalam keadaan tanpa busana karena ia tak bisa tidur jika ada pakaian yang masih melekat di tubuh indahnya.
"Naruto …," gumam Rias pelan dengan rona tipis di wajahnya.
Untuk pertama kalinya ia merasakan cinta pada pandangan pertama. Ada hal yang melekat di diri Naruto yang membuat pemuda itu terlihat berbeda dari kebanyakan remaja lain. Bahkan dari auranya Rias bisa merasakan ketenangan dan kewibawaan di saat yang sama.
Dari segi itu sudah bisa dinilai jika Naruto bukanlah manusia biasa. Ia spesial. Hanya saja, ada satu hal yang membuatnya khawatir. Kekuatan. Naruto tidak memancarkan aura kekuatan sama sekali bahkan Rias tak bisa merasakan kehadiran Sacred Gear–yang menjadi sumber utama kekuatan umat manusia selain Mana–dalam tubuh pemuda pirang itu.
Rias juga yakin Naruto bukan berasal dari keluarga penyihir yang memiliki Mana dalam tubuh mereka. Ia juga tak bisa merasakan energi itu. Ini adalah hal yang paling membuatnya khawatir sekaligus bingung.
Apa kekuatan Naruto?
Sebuah pertanyaan hadir dalam otaknya yang ingin sekali ia cari jawabannya. Angin berhembus memasuki kamar gelap itu. Rias tak pernah menutup jendela kamarnya jika pada musim yang berhawa hangat.
Tenggelam dalam pikirannya, ia terlelap.
Melewati waktu yang begitu singkat. Hari di mana pertemuan antara Rias dan Riser telah berada di depan mata. Iblis cantik itu sedang menunggu sang tamu yang tak diharapkan kedatangannya di ruangan ekstrakulikuler yang ia pimpin. Ruangan nyaman dengan dekorasi interior bergaya eropa abad pertengahan.
Tidak hanya Rias saja yang berada di ruangan itu. Terdapat dua wanita cantik berbeda umur yang tentu saja salah satunya adalah Grayfia. Di sisi lain sofa, sosok wanita anggun dengan rambut hitam mengkilap senantiasa menemani majikannya di situasi apapun. Ia adalah Himejima Akeno. Queen dari jajaran peerage Rias.
Mengesampingkan dua wanita berseragam sekolah itu, pandangan Grayfia mengobservasi seluruh sudut ruangan, mencari sosok pemuda pirang yang menjadi kunci keberhasilan rencana ini. Ia agak jengkel karena manusia itu belum tiba. Rencana tidak akan berjalan jika Naruto tak hadir di sini.
Dalam keheningan yang sedikit berhawa berat, sebuah sihir berwarna orange tercipta di lantai tepat di hadapan mereka bertiga. Lingkaran sihir itu berukuran sangat besar dan tak lama kemudian memunculkan banyak orang. Mereka bergender wanita kecuali satu orang yang menjadi perhatian ketiga wanita tersebut. Siapa lagi kalau bukan Riser Phenex.
"Yo Rias, sudah lama kita tidak bertemu. Aku rindu padamu," sapa Riser dengan seringai di wajahnya.
Rias memberi ekspresi tidak suka saat mendengar itu. Tangan yang sejak tadi menyatu terlihat mengeras. Menahan amarah yang meluap.
"Hn." Rias membalas sapaan itu dengan acuh. Riser nampak tidak tersinggung dan lebih memilih berjalan menuju sofa dan duduk di atasnya. Berseberangan dengan Akeno. Sementara itu peerage Riser masih setia di tempat semula.
Suasana hening tercipta untuk beberapa saat sampai Riser melirik Rias dan berkata, "Apa di sini tidak mempunyai adat tamu harus disuguhi minuman atau semacamnya?"
Tersinggung dengan perkataan anak Lord Phenex itu, Akeno bangkit berdiri dan hendak menuju dapur sebelum Rias memberi kode tangan supaya Akeno tetap di tempat. Sangat jelas Rias tak ingin memberi apa pun yang ada di sini para Riser meski hanya satu gelas teh. Iblis Phenex yang mengetahui situasi hanya terkekeh pelan. Tak peduli.
"Kalau begitu mari kita mulai pertemuan ini," kata Grayfia.
"Aku akan katakan untuk terakhir kalinya bahwa aku tidak sudi menjalankan pertunangan ini!" Rias berbicara dengan lantang dan tegas.
Riser menghela napas lelah. "Dan sudah berapa kali aku katakan kalau pertunangan ini harus dilaksanakan apa pun yang terjadi. Ingat! Kedua orang tua kita pernah berjanji dan lagi pula ini penting untuk menambah jumlah iblis berdarah murni. Bahkan para tetua sangat mendukung pertunangan antara pewaris clan Gremory dan Phenex."
"Aku tidak peduli pada kumpulan orang bau tanah itu! Aku memiliki hak penuh untuk menolak!"
Riser menggelengkan kepalanya dengan jari-jemari yang memijit pelipis dengan pelan. "Pikirkan kembali Rias, jika Gremory dan Phenex menghasilkan anak maka tidak menutup kemungkinan jika anak itu akan sangat kuat. Perpaduan antara darah abadi dan Power of Destruction akan menjadi superior di kalangan iblis!"
"Jika kau hanya mengincar kekuatan maka kenapa tidak bertunangan dengan siapa pun wanita yang berasal dari clan Bael? Sumber utama Power of Destruction."
"Hn, aku tidak suka clan itu."
Perdebatan ini semakin tidak menemui titik terang. Di disaat seperti ini ketidakhadiran Naruto membuat situasi semakin runyam. Seharusnya Rias sudah mengatakan jika ia memiliki calon yang lebih dulu dijodohkan dengannya jika saja Naruto sudah hadir.
'Apa yang harus aku perbuat? Langsung saja menjalankan rencananya?' pikir Grayfia.
"Ah aku lupa memberi tahumu tentang suatu hal," ucap Rias membuat Grayfia meliriknya. Apa ia akan memulai rencananya tanpa kehadiran sosok utama?
"Apa itu?"
"Aku telah lebih dulu dijodohkan dengan orang lain sebelum dirimu. Jadi mulai sekarang jangan harap pertunangan kita akan dilaksanakan," kata Rias.
"Kau telah lebih dulu dijodohkan? Jangan bicara ngawur Rias. Lalu sekarang di mana orang yang kau maksud, hem?" Riser menyeringai tipis. Ia tak sebodoh itu termakan kebohongan wanita merah tersebut.
Rias terdiam. Ini situasi yang gawat. Ia harus memutar otak untuk mencari alasan kuat. Sementara Akeno memandang ketuanya dengan bingung. Ia sedikit paham jika Rias berbohong sebagai bentuk dari melakukan apa saja agar pertunangan ini batal.
Riser berdiri, melangkah menuju calon tunangannya. Tangannya dengan pelan menyentuh dagu Rias dan jemari itu memainkan bibir Rias. Akeno yang melihat itu terbakar amarah tapi, ia hanya bisa menahan amarah itu tanpa melakukan tindakan.
"Aku tantang kau, jika memang benar kau telah dijodohkan sebelum aku maka bawalah calon yang kau bilang itu, hm? Atau kau memang sejak awal tidak memiliki calon yang kau sebutkan."
"Yang dimaksud Rias adalah aku."
Suara pelan tapi terdengar sangat mematikan. Semua perhatian tertuju pada orang yang berdiri di samping jendela, pemuda yang mengarahkan pandangannya pada luar jendela. Sejak kapan dia ada di sana? Begitulah isi pikiran sebagian besar makhluk di ruangan itu.
Pandangan mata pemuda itu perlahan bergeser dan berhenti tepat pada Riser. Sorot mata tajam bagaikan elang membuat siapa pun secara otomatis meneguk ludah. Naruto membuka mulutnya pelan. "Dan jangan sentuh calon istriku dengan tangan kotormu, Sampah."
Riser menyeringai sadis, terhibur. Ia melepaskan tangannya dari dagu Rias. Grayfia menghela napas lega melihat kehadiran Naruto sedangkan Rias merona merah melihat betapa kerennya Naruto.
Riser mendekati Naruto. Memandang remeh pada pemuda yang sedikit lebih pendek darinya. Kemudian ia beralih pandangan pada Rias lagi. "Jangan bilang kalau calonmu adalah manusia rendahan ini? Aku sempat tidak percaya kalau kau mau bertunangan dengan makhluk lemah macam mereka."
Wajah Naruto mengeras. Satu orang dengan sifat yang paling ia benci. Ah, entah kenapa Naruto ingin sekali menghajar habis-habisan iblis di depannya. Dengan gerakan santai ia bersidekap dada.
"Sampah sepertimu berbicara tentang makhluk lemah. Apa kau tidak sadar kalau kau juga termasuk ke dalam devinisi itu?"
Satu pertanyaan yang membuat amarah iblis Phenex itu memuncak terbukti dengan mata yang melotot dan terdapat banyak urat merah. "Jangan bermain api dengan makhluk yang lebih kuat darimu." Ia melebarkan seringai. Berjalan mundur perlahan lalu menjentikkan jari.
"Mira!"
"Ha'i."
Dari kumpulan peerage itu seseorang bergerak cepat menuju Naruto. Gadis yang memiliki tongkat sebagai senjatanya. Ia mengarahkan tongkat itu untuk menyerang Naruto.
Remaja pirang itu hanya melirik gadis yang bernama Mira melalui ekor mata. Baginya pergerakan gadis itu sangat lambat. Matanya sudah biasa melihat pergerakan yang jauh lebih cepat dari ini. Dengan gerakan sederhana ia menangkap ujung tongkat itu membuat seluruh orang yang ada di sana tersentak.
Wajah Mira mengeras. Tongkatnya tak dapat ia gerakkan. Dengan satu tarikan pelan Naruto membuat keseimbangan Mira hancur. Ia dengan mudah menghancurkan tongkat itu dengan genggamannya lalu meraih rambut Mira, mengarahkannya pada lutut yang sepertinya enak jika bersentuhan dengan wajah.
Suara benturan antar muka dan lutut menjadi suara horror bagi mereka semua. Darah mengalir deras dari hidung gadis yang sudah tak memiliki kesadaran itu. Mira ambruk di hadapan Naruto.
Remaja itu kembali mengalihkan pandangannya para Riser. "Aku baru ingat kalau kau tadi menyentuh bibir Rias. Kau telah berani menyentuh bibir yang akan menjadi saksi biru ciuman pertamaku? Sampah sepertimu membuatku jijik."
Rias yang mendengar itu kembali merona. Meski ucapan Naruto sangat dingin tapi di dalamnya terdapat gombalan yang bisa membuatnya seperti ini.
"SIALAN KAU!"
Satu peerage yang tersulut emosi maju ke depan, hendak menyerang tapi dihentikan oleh Grayfia yang sigap mengendalikan keadaan. Inilah waktunya ia beraksi.
"Riser Phenex-sama, mengingat bahwa Rias-ojousama telah memiliki calon tunangan lain, bagaimana jika kalian menentukan siapa yang cocok menjadi pasangan dengan cara bertarung?"
Naruto mengalihkan perhatiannya pada Grayfia, ia mendecih karena sudah tahu rencana terselubung Sirzechs. 'Dasar iblis picik, jadi memang ia sengaja ingin aku bertarung dengan sampah itu untuk menggagalkan pertunangan. Bukan itu saja, si kepala merah juga akan bisa melihat secuil kekuatanku.'
Riser seketika tertawa. "Apa kau serius? Aku melawan makhluk lemah seperti dirinya?"
"Jika Riser-sama memang tidak takut padanya, seharusnya Anda menyetujui usulanku."
"Tck. Baiklah, aku terima usulanmu. Siapa yang menang akan mendapatkan tubuh Rias. Hahahaha itu terdengar sangat menyenangkan!"
Grayfia kemudian melirik Naruto, meminta jawab. Yang dimaksud hanya mengangguk singkat.
"Baiklah, karena kedua belah pihak telah setuju maka pertarungan antara Riser-sama melawan Uzumaki Naruto untuk mendapatkan Rias-ojousama resmi diadakan."
"Oy Bocah, aku akan berbaik hati untuk menentukan jadwal pertandingan kita sesuai maumu. Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk bersiap melawanku, satu minggu? Satu bulan? Aku dengan sabar menanti," kata Riser dengan nada remeh.
"Besok."
"Huh?"
"Aku akan melawamu besok. Sampah sepertimu tidak baik untuk didiamkan terlalu lama."
"Kau benar-benar sialan. Baiklah, sampai jumpa di Mekai manusia rendahan. Dan Rias, aku tidak sabar mencicipi tubuhmu."
Setelah perkataannya Riser dan semua peerage-nya hilang dalam sihir teleportasi.
Hawa seketika meringan. Akeno bernapas lega dan menyenderkan punggungnya. Ia kemudian menatap Rias, menuntut jawab.
Gadis merah itu tersenyum kaku. "Aku akan menjelaskan semuanya nanti." Setelah perkataannya ia mendekati sosok yang mencuri hatinya. Naruto yang semula memerhatikan hal lain kini perhatiannya tertuju pada sosok iblis betina yang sedikit membungkukan badan di depannya.
"Terima kasih."
"Jangan berterima kasih. Ini memang sudah menjadi peranku."
"Ara ara, jadi pemuda ini yang kau maksud calon suami, Rias?" Akeno tersenyum sambil menutup mulutnya. Ia kembali ke sifatnya yang suka menggoda.
"Benar," jawab Rias tanpa ragu dengan senyuman. Sementara Naruto hanya menatap sinis wanita itu.
"Aku akan pergi untuk menyiapkan semuanya," kata Naruto cuek.
"Besok aku akan menjemputmu. Aku yang akan mengantarkanmu ke Mekai," kata Grayfia.
"Hn."
Setelah gumaman ambigu itu Naruto keluar dari ruangan melewati satu-satunya pintu yang ada di sana. Sementara di dalam Akeno mendesak agar Rias menjelaskan semuanya. Terpaksa ia harus menjelaskan dari awal untuk membuat Akeno berhenti merengek padanya.
Mekai. Tempat para iblis bermukim. Berita tentang pertarungan Riser melawan Naruto yang seorang manusia tersebar luas sampai para clan besar mengetahuinya. Arena yang menjadi tempat pertarungan itu telah diisi penuh oleh banyak penonton yang berasal dari berbagai kalangan.
Tidak akan ada habisnya jika satu per satu diperkenalkan, yang pasti semua jajaran Maou telah hadir. Para pewaris clan besar juga ikut menonton bersama para peerage mereka. Di tempat khusus, Lucius Gremory dan Lord Phenex berada dalam satu tempat sebagai tamu utama hari ini.
Rias memilih duduk di samping Sirzechs ditemani oleh Grayfia yang tadi telah mengantar Naruto ke sini.
Sebuah arena layaknya colloseum menjadi tempat yang dipilih Grayfia. Arena ini berada di wilayah kekuasaan Gremory. Para penonton berbisik-bisik dan menerka siapa yang akan menjadi pemenang dan mendapatkan Rias. Mereka tentu saja lebih memilih Riser.
Tidak lama kemudian dua lingkaran sihir muncul di masing-masing sudut arena. Lingkaran sihir itu memunculkan Naruto dan Riser. Pakaian yang Naruto pakai tidak berbeda dengan yang ia pakai saat pertama kali menginjakkan kaki ke dunia baru. Hal yang membedakan adalah sebuah katana di genggamannya.
Kusanagi no Tsuguri. Sebuah katana pemberian Sasuke sebelum kematiannya.
Wasit untuk pertandingan kali ini adalah iblis yang berasal dari keluarga menengah. Tidak tahu siapa dia tapi dia telah cukup berpengalaman dalam menjadi wasit untuk pertandingan seperti ini.
Ia menyuruh mereka untuk bersiap-siap. Para penonton telah hening dan fokus untuk melihat bagaimana Riser bermain dengan manusia malang itu–setidaknya ini yang ada di pikiran mereka.
Sementara di tempat lain. Rias menatap Naruto cemas. Kemarin malam ia sudah memberi tahu pada pemuda itu tentang kekuatan Riser, terutama api keabadiannya yang bisa meregenerasikan bagian tubuh dengan cepat. Yang menjadikan Rias khawatir adalah Naruto tak peduli dengan penjelasannya.
"Onii-sama, apa Naruto akan menang melawan bajingan itu?"
"Jujur saja aku tidak tahu Rias. Aku tidak pernah melihat Naruto bertarung sebelumnya. Tapi tenang saja, pilihan kakakmu tidak akan pernah salah."
"Aku harap begitu."
Kembali ke arena. Pertarungan sudah berjalan beberapa detik lalu tapi nampak tidak ada yang menyerang. Mereka masih saling tukar pandang. Riser mengangkat tangannya dan memberi isyarat seakan ia menyuruh Naruto untuk menyerang duluan.
Naruto menanggapi hal itu dengan cuek. Ia berkata, "Sampah sepertimu tidak seharusnya menyuruhku untuk menyerang. Ketahuilah posisimu di mana."
"Oy oy, bukannya kalimat itu harusnya keluar dari mulutku? Brengsek! Aku sudah muak denganmu. Terimalah ini dan mati dengan tubuh terpanggang, manusia rendahan!"
Dengan amarah yang memuncak Riser membuat bola api berukuran besar dengan panas yang tidak main-main. Bola api itu berjalan lurus menuju Naruto.
Pemuda yang menjadi target bola api Riser masih tenang di posisinya. Sebelah tangan yang tidak menggenggam katana terangkat dan membentuk simbol–dan itu sukses membuat Sirzechs tertarik melihatnya lebih lanjut. Detik berikutnya Rias, Grayfia, dan Sirzechs dapat merasakan pancaran kekuatan dalam diri Uzumaki Naruto.
Setelah remaja pirang itu selesai dengan segel tangan tunggalnya, katana yang tadi tersarung kini ia buka. Melempar sarung katananya ke sembarang arah, lalu dengan satu gerakan kecil ia membelah bola api itu menjadi dua.
Semua terkejut melihat hal itu terutama mereka yang mengkonsumsi bidak knight. Sebuah skill berpedang yang dapat membelah api adalah skill tinggi. Hanya dengan mengetahui hal itu Naruto bisa disebut sebagai ahli pedang hebat.
"Sampah memang tidak bisa berhenti membuatku jijik. Apa kau sangat bodoh berpikir bisa mengalahkanku dengan gumpalan tai seperti tadi?" tanya Naruto coba memprovokasi.
"Tck. Kau memang mau cari mati ya, manusia rendahan!"
Sepasang sayap api keluar dari punggung Riser. Tangan kanannya terselimuti oleh api dengan derajat panas tertinggi yang bisa ia keluarkan. Api yang semula berwarna orange kebiruan kini berubah menjadi putih. Beberapa penonton meneguk ludah kasar melihat api mengerikan itu. Hanya dengan terkena auranya saja dapat membuat tubuh menjadi gosong dengan cepat.
Rias menjadi sangat cemas melihat Riser yang sudah mengeluarkan kekuatan penuhnya. Begitu juga dengan Grayfia dan Sirzechs meski mereka bisa memasang wajah tenang.
"Hahahaha kau tidak bisa lolos dari kekuatan terbesarku. Matilah dengan menjadi debu di hadapanku!"
Riser melesat dengan tinju yang siap menghantamkannya pada Naruto kapan pun. Sementara di sudut lain remaja pirang itu masih berdiri dengan tenang. Perlahan mata kananya tertutup, terbuka tidak lama kemudian dan memperlihatkan Eternal Mangekyou Sharingan.
Sirzechs adalah orang yang paling kaget dari semua orang yang melihat mata itu. Ia tersenyum sekaligus berkeringat dingin melihat mata yang dahulu membuatnya bertekuk lutut untuk pertama kali.
Dahulu, di hadapan Madara, di hadapan mata merah itu ia dibuat ketakutan. Mata yang memancarkan aura jahat sekaligus memberikan keindahan. Sirzechs tersenyum tipis, ia berkata, "Aku sudah tahu siapa pemenangnya."
Kembali ke arena, Naruto melakukan kuda-kuda dengan katana yang digenggam erat oleh kedua tangan. Posisi katana itu sejajar dengan kakinya. Ia berlari. Menantang Riser beradu jutsu.
"PERGILAH KE NERAKA, MANUSIA!"
Setelah Naruto memasuki jarak serangnya, Riser melepaskan tinju api putih itu. Naruto dengan tenang dapat menghindari pukulan yang ia rasa sangat amatir dengan bergerak sedikit ke samping. Kini gilirannya menyerang, menggumam sesuatu sebelum ia menarik napas panjang.
"Enton."
[Kuro Hi no Kokyu: Ni no Kata – Enkei Sokon]
Dengan pengendalian api hitam yang sudah sempurna, Naruto memusatkan api hitamnya ke kusanagi. Katana itu terselimuti api hitam tanpa terkena nampak buruk. Ia dengan cepat menebas Riser dengan laju pedang berbentuk dua lingkaran.
Tebasan itu membuat tangan Riser yang terselimuti api putih terpotong, sebelah kakinya dan terlihat lehernya tergores cukup dalam. Ia jatuh beberapa meter. Meronta ringan sebelum tertawa keras.
"Apa kau bodoh menyerang seperti tadi? Itu tidak ada gunanya. Aku dapat memulihkan tubuhku seperti semula." Meski mulutnya mengeluarkan banyak darah, Riser masih dapat tersenyum.
"Coba saja kalau kau bisa," kata Naruto dingin.
Wajah yang semula menampilkan senyuman lebar kini berubah menjadi panik. Tangan yang tertebas dan terbakar api hitam itu tidak kunjung beregenerasi, begitu juga dengan leher yang terus mengeluarkan darah. Api regenerasi yang ia miliki lebih dulu dilahap oleh api hitam Naruto. Dalam keadaan panik dan tak bisa berpikir jernih untuk menganalisis keadaan. Riser membuat kesalahan fatal karena ia berusaha menyingkirkan api hitam itu dengan sebelah tangannya.
"Sampah yang bodoh."
Bukannya menghilang, api hitam itu malah menjalar ke tangan yang lain.
"Api apa ini, aku tak bisa bergenerasi. Sialan kau! Apa yang kau lakukan kepadaku?"
"Membunuhmu perlahan."
"Tck. Ugh … ARRGHHHH SIALAN KAU!"
Panas. Teramat sangat panas. Riser meronta kesakitan dan mendesak agar seluruh api abadinya keluar, membuat ia sekarang terselimuti api sendiri dalam penderitaannya.
"Sekarang waktunya penutup," kata Naruto dengan seringai tipis. Ia melangkah pelan mendekati Riser.
"HENTIKAN!"
Sebuah teriakan nyaring membuat perhatian Naruto teralihkan. Ia mendongkak dan melihat iblis wanita mendekat pada mereka dan mendarat di dekat Riser. Wajahnya mirip dengan pria itu. Ia adalah Ravel Phenex.
"Sudah cukup! Onii-sama sudah tidak bisa bertarung lagi. Jadi aku mohon jangan sakiti dia lagi."
"Siapa kau?"
"Aku adalah adiknya, Ravel Phenex."
Naruto menepuk pelan sisi katana lainnya di bahu. "Jangan kau pikir aku akan mengampuni Sampah itu hanya karena kau adiknya."
Ravel tertegun. Sepasang kakinya bergetar kecil. Ia merasakan takut yang teramat besar hanya dengan melihat mata terkutuk itu. Meski ketakutan itu menyelimuti tubuhnya, rasa ingin menolong kakak laki-lakinya lebih besar sehingga ia bisa mengendalikan kesaradan dan pikirannya.
"Aku tidak peduli! Aku mohon padamu untuk mengampuni Onii-sama meski harus menuruti semua keinginanmu!"
Naruto membuat seringai tipis. "Kau yakin?"
Ravel mengangguk dengan gugup.
"Baiklah, kalau begitu kau harus menuruti semua yang aku katakan. Pertama, memohonlah padaku dengan cara bersujud dan ganti sebutan onii-sama-mu memakai sampah. Kedua, setelah kau memohon padaku jilatlah sepatuku!"
Mata Ravel melebar sempurna. Terbuka tanpa sepatah kata keluar dari sana. Ini sangat konyol. Ia adalah salah satu anggota keluarga dari clan terhormat di Mekai dan ia harus membuang harga dirinya?
"RAVEL! Jangan lakukan hal bodoh itu. Apa kau membuat harga diri Phenex hancur?" Riser yang masih menahan sakit berteriak memperingati adiknya.
Wajah Ravel mengeras. Tangannya terkepal erat. Ia menjawab perkataan Riser dengan hal yang tak terduga. "Meski itu akan menghancurkan harga diri Phenex, selama hal itu akan membuat Onii-sama selamat maka aku tidak peduli."
"Jawaban yang bagus. Kalau begitu cepat lakukan."
Ravel menarik napas dalam, menyiapkan mentalnya. Ia lalu bersujud dengan wajah menyentuh lantai. "Aku mohon tolong kau ampuni sampah itu." Mulut Ravel ngilu. Kalimat yang selama ini ia tak ingin ia keluarkan malah di luar perkiraan. Setelah perkataannya, Ravel lalu mendekat dan menjilat sepatu Naruto. Linangan air mata tak berhenti mengalir dari matanya.
Ravel telah membuang harga dirinya jauh-jauh demi sang kakak. Bersujud ditambah menjilat sepatu di hadapan banyak orang bahkan para Maou. Ia sudah tak memiliki muka untuk ditampilkan di depan umum.
Sementara dengan Naruto, ia tertegun. Diam bergeming. Tidak lama kemudian tangannya meraih pucuk kepala Ravel. Ia berkata, "Sudah cukup."
Ravel berhenti menjilati sepatu Naruto kemudian berdiri. Memandang Naruto.
Naruto menghela napas pelan, menonaktifkan Eternal Mangekyou Sharingan setelah berkonsentrasi untuk menghilangkan api hitam yang membakar hampir seluruh tubuh Riser.
"Aku telah mengampuni Sampah itu, kau puas?"
Bersambung
AN: belum satu minggu dan sudah 3 chapter yang dirilis. Semoga kalian suka. Untuk pertarungannya saya tidak membuatnya panjang dan berbelit. Cukup singkat saja namun epic!
Masih banyak yang bertanya pair, saya tegaskan fanfic ini single pair! Tidak ada side pair atau bahkan NTR. Lihat dulu genre yang tertera sebelum berkomen tak jelas, awok!
Silahkan pertanya apa pun yang kalian inginkan, saya akan menjawab seadanya melalui PM. Satu lagi, fanfic ini termasuk fanfic ringan jadi tidak akan ada alur yang membuat Naruto menyelamatkan sebuah fraksi atau bahkan dunia.
Jangan lupa favs, foll, dan review! Saya tunggu dan jika sudah mencapai target akan fast up lagi.
[10/1/2020]
