Terima kasih karena telah menunggu fic ini update.
Chapter 4: Ravel Phenex
Mata Ravel berkaca-kaca melihat kobaran api hitam yang perlahan hilang dari tubuh kakaknya. Ia kembali melirik Naruto sambil tersenyum lalu membungkuk singkat. Naruto dibuat sedikit tersentak. Lagi, ia menyaksikan hal yang di luar dugaannya.
Tak mau berpikir lebih jauh, Naruto berjalan menuju sarung katananya yang tergeletak tak jauh dari tempat pertama ia melawan Riser. Pemuda tersebut membungkukan tubuhnya agar tangannya bisa meraih benda yang ingin di ambil. Namun, gerakan Naruto terhenti saat ia merasakan kekuatan yang meluap melesat cepat menuju arena. Arahnya dari atas.
Ia melirik Ravel yang hendak meneteskan sesuatu kepada tubuh kakaknya. Lirikan Naruto sedikit bergeser ke atas, ke sebuah bola api maha besar yang melesat menuju kakak beradik tersebut.
Di sisi lain, Ravel merasakan hawa panas yang tak tertahan, ia mendongak dan terkejut melihat gumpalan api berbentuk bola hendak menghantam dirinya. Tidak ada satu pun orang yang melakukan tindakan. Mereka semua masih terpaku pada peristiwa tadi. Bahkan, para Maou pun–yang meski mereka bisa kembali menguasai diri dengan cepat–tak bisa menyelamatkan kakak beradik itu karena keterbatasan waktu.
Serafall yang telah membuat naga air untuk menahan bola api tersebut tidak akan tepat waktu mengingat naga airnya lebih lambat.
"Sial."
Naruto, satu-satunya orang yang berada paling dekat dari mereka segera bereaksi. Ia memusatkan seluruh Chakra yang ia bangunkan tadi sebelum pertandingan ke kakinya. Membuat satu lesatan dengan kecepatan setara jutsu Shunshin. Satu detik kemudian ia sudah berada di antara dua kakak adik tersebut dan memegang bagian tubuh mereka. Detik berikutnya mereka sudah keluar dari radius serangan bola api tersebut.
Dentuman keras terdengar. Tanah bergetar tatkala arena pertandingan terkena serangan itu. Menciptakan kepulan asap dan kawah cukup dalam. Naruto berhasil menyelamatkan mereka berdua.
Ravel yang menyadari ia masih punya nyawa melirik Naruto. "Terima kasih," ucapnya pelan dengan sorot mata yang tak bisa diartikan. Naruto mengangguk sebagai tanda balasan.
"RAVEL!"
Suara keras terdengar bersamaan dengan munculnya seseorang dari langit. Tiga pasang sayap api terlihat begitu indah sekaligus menyeramkan. Ia lantas mendarat tepat di sisi arena yang tak terkena radius serangan.
"Otou-sama …."
Naruto melirik gadis Phoenix itu. "Ayahmu?"
Ravel mengangguk. Ia berusaha berdiri meski kedua kakinya bergetar karena merasakan intimidasi kuat dari ayahnya, Lord Phoenix.
Dalam sudut pandang Naruto, sosok yang disebut ayah oleh Ravel itu memiliki hawa yang berbeda dari iblis pada umumnya. Hawa seorang petarung professional. Bahkan jika dibandingkan dengan Sirzechs, Lord Phenex memiliki hawa yang lebih kental pertanda ia telah melewati begitu banyak pertarungan mematikan.
"Dia bukan iblis biasa," batin Naruto dalam hati sambil meningkatkan kewaspadaannya. Kemungkinan besar target kemarahan akan diarahkan kepadanya.
"RAVEL PHENEX!"
Sekali lagi. Orang itu mengeluarkan suara lantang dan berat memanggil nama anak perempuannya. Ravel mundur satu langkah dan tanpa sadar menggenggam erat ujung baju Naruto.
"BERANINYA KAU MEMPERMALUKAN PHENEX DI DEPAN BANYAK ORANG!"
Naruto sedikit tersentak karena alasan kenapa orang itu marah berbeda dari yang ia bayangkan. Apakah sumber kemarahannya karena Ravel yang telah bersujud–dengan kata lain merendahkan diri–kepada Naruto di depan banyak orang? Kemungkinan besar iya.
"T-tapi Otou-sama, aku melakukan itu untuk menyelamatkan Onii-sama." Ravel mencoba membela diri meski rasa takut menyelimuti semua jiwa raganya.
"AKU TIDAK PEDULI DENGAN ALASANMU! JIKA DIA MEMANG KALAH MAKA BIARLAH KALAH SEKALIPUN ITU MEMBUNUHNYA. KAU TELAH MENCEMARI NAMA PHENEX! KAU AKAN KUUSIR!" Lord Phenex menunjuk Ravel dengan mata tajam. Baginya, tidak peduli siapa itu, orang yang membuat nama Phenex rusak tidak akan ia maafkan sekali pun itu adalah anaknya sendiri.
"Tunggu dulu orang tua, bagaimana denganku? Akulah yang meminta gadis ini untuk bersujud-"
Belum sempat Naruto menyelesaikan omongannya, dari penglihatannya Lord Phenex tiba-tiba menghilang dan hanya menyisakan beberapa api. Detik berikutnya Lord Phenex muncul tepat di hadapan Naruto dengan tinju api yang siap menghantam perut pemuda pirang itu.
Satu kata yang terlintas di benak Naruto. "Cepat."
Buakh!
Suara tinju itu bergetar di sepanjang arena pertandingan. Membuat beberapa percikan api menyebar ke segala arah. Beberapa ada yang mengenai Ravel. Lord Phenex menurunkan pandangannya lalu menyeringai.
"Rupanya kau bisa menahan serangan tercepatku heh, manusia." Ada dana penekanan di akhir kalimatnya, seakan ia membenci apa yang baru saja ia tekankan.
Telat satu detik saja Naruto mungkin akan terpental jauh keluar arena ini. Ia dengan timing yang tepat mampu menahan tinju api itu dengan telapak tangannya.
"Kesialanku adalah menerima pukulan ini saat Sharingan tidak aktif. Jika saja telah aktif maka aku dapat dengan mudah menghindari serangan orang tua ini."
"Tapi, apakah kau bisa menahan panas dari apiku heh, MANUSIA?"
"Ugh …." Naruto dapat merasakan jika panas apinya mulai naik. Perlahan kulit telapak tangan Naruto mengelupas. Terbakar. Terus merambat hingga mencapai siku. Remaja itu akhirnya tak mampu menahan dorongan disertai api yang panas dan berakhir dengan terhempas hingga menabrak dinding di belakang. Menciptakan kepulan debu yang menghalangi sosok Naruto.
Setelah selesai Lord Phenex segera mencengkram erat tangan Ravel. "Kau akan kubawa ke rumah."
"Ugh … Otou-sama."
"LUCIUS! PERTUNANGAN INI DIBATALKAN. AKU TIDAK MAU LAGI BERHUBUNGAN DENGAN GREMORY!"
Setelah perkataannya muncul lingkaran sihir dengan lambang Phenex di bawah kaki mereka berserta Riser yang berada tak jauh. Perlahan tapi pasti tubuh mereka bertiga diselimuti oleh api mulai dari kaki.
Naruto keluar dari kepulan debu itu dan terlihat melemparkan sesuatu yang begitu kecil lalu mengenai punggung Ravel sesaat sebelum tubuhnya benar-benar telah di teleport. Melihat Lord Phenex yang sudah pergi Rias segera menghampiri Naruto diikuti oleh Sirzechs dan keluarga Gremory. Sementara itu penonton masih belum membuka suara. Mereka sibuk mencerna apa yang terjadi. Akhirnya satu per satu meninggalkan kursi penonton dengan perasaan dan penilaian masing-masing. Satu hal yang mereka setujui. Manusia bernama Naruto itu mengerikan sekaligus menarik.
"Naruto, kau tidak apa-apa?" tanya Rias khawatir dan tanpa sadar ia memeluk tubuh remaja pirang itu. Naruto pun tak bisa menghindar dari pelukan Rias karena ia sedang fokus pada tangannya yang terbakar hebat.
Sirzechs memberi kode mata pada Grayfia. Seakan mengerti, Grayfia mengangguk lalu menghampiri Naruto dan mengeluarkan sebuah botol dari saku roknya. Itu adalah air mata phoenix. Segera Grayfia menuangkan air mata itu ke tangan Naruto. Tidak butuh waktu lama untuk membuat tangan Naruto sembut total. Remaja pirang itu juga cukup terkejut melihat betapa cepat reaksi penyembuhannya.
Mata Rias terlihat berkaca-kaca. Memeluk erat pria yang baru dikenalnya tapi entah kenapa dirinya merasa familiar. Naruto yang terus dipeluk erat sedikit risih dan berusaha melepas pelukan itu dengan cara lembut. Ia lalu menjawab pertanyaan gadis itu yang tadi sempat menggantung.
"Aku tidak apa-apa."
"Syukurlah kalau begitu. Aku sempat takut tadi merasakan betapa mengerikannya hawa dari Lord Phenex," kata Rias sambil mengelus dadanya.
Naruto kemudian menatap Grayfia dan tangannya. "Terima kasih."
Grayfia menjawab perkataan Naruto dengan sedikit membungkuk lalu kembali berjalan ke belakang Sirzechs. Akhir dari pertarungan tadi adalah kemenangan telak untuk Naruto. Mereka memutuskan kembali ke kediaman Gremory dan merayakan keberhasilan ini.
Malam hari di kediaman Gremory, lebih tepatnya di salah satu kamar tamu yang digunakan Naruto. Pemuda itu terlihat sedang tiduran dengan mata menatap lurus ke atas. Ia sedang memikirkan sesuatu. Beberapa saat yang lalu Sirzechs berkata jika besok ia akan menepati janjinya. Naruto akan diberikan rumah di dunia atas–bumi–dan seluruh biaya hidupnya akan ditanggung oleh Sirzechs.
Ia juga akan didaftarkan di Kuoh Academy mengingat umurnya yang masih masuk umur seorang pelajar. Untuk perbulannya, Sirzechs berjanji akan memberikan Naruto uang sebesar 500.000 Yen.
Namun, bukan itu yang menjadi pikiran Naruto saat ini. hal terakhir yang Lucius tawarkan padanya sebelum diskusi itu berakhir adalah tawaran menikah dengan Rias. Naruto belum bisa menjawab tawaran itu.
Tenggelam dalam pikirannya membuat ia melamun. Sedetik kemudian suatu informasi sampai di otaknya yang membuat kesadarannya kembali. Ia bergumam, "Pada akhirnya dia diusir ya …."
Sesuai perkataan Sirzechs, esok harinya Naruto pergi ke kota Kuoh untuk melihat rumah barunya. Rumah ini terbilang besar dengan halaman yang luas meski hanya satu lantai. Desain rumah ini tidak terlalu modern dan masih mempertahankan model zaman dulu.
Lokasi rumah Naruto berada cukup jauh dari pusat kota menyebabkan suasana di sini tenang. Ia melihat tanda nama keluarga yang bertuliskan Uzumaki.
"Kapan kau membeli rumah ini?" tanya Naruto.
"Sehari setelah kau menginjakkan kaki di dunia ini," jawab Sirzechs.
Naruto mengakhiri obrolan itu dengan berdehem. Mereka lalu masuk untuk melihat suasana di dalam. Untuk bagian depannya rumah ini memasang pagar kayu tertutup yang di atasnya diberi hiasana tanaman merambat. Orang-orang yang berjalan tak akan bisa melihat apa yang ada di dalam. Pintu pagarnya juga terbuat dari kayu.
Hal pertama yang Naruto lihat saat masuk ke dalam adalah kolam ikan berukuran cukup besar dan sebuah taman kecil di seberang. Terdapat jalan setapak yang terbuat dari bebatuan menuju pintu rumah. Rumah ini memiliki 3 kamar, 2 kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga, dan dapur yang cukup luas. Semua perabotannya juga lengkap.
Di bagian belakang terdapat halaman luas dan garasi untuk menyimpan kendaraan. Di lingkungan halaman itu terdapat kolam renang kecil untuk bersantai. Singkatnya rumah ini sangat nyaman untuk ditinggali.
"Bagaimana penilaianmu?" tanya Sirzechs. Mereka saat ini sedang berada di ruang tamu untuk istirahat setelah melihat-lihat rumah ini.
"Bagus dan nyaman, aku suka." Naruto menjawabnya dengan singkat tapi jawaban itu sudah cukup untuk membuat Sirzechs tersenyum puas.
"Baguslah kalau begitu. Satu hal lagi, dalam waktu dekat ini aku akan mendaftarkanmu ke Kuoh Academy sebagai murid pindahan. Kau akan ditempatkan di kelas 3. Aku harap kau bisa cepat beradaptasi dengan kota ini."
"Ya, aku mengerti."
Sirzechs mengeluarkan amplop coklat yang berisikan uang. Ia menaruh amplop itu di atas meja. "Untuk bulan ini. Kau bisa menggunakannya semaumu. Aku pulang dulu ke Meikai."
Saat Sirzechs hendak mengeluarkan lingkaran sihir teleportasi, Naruto mencegahnya.
"Apa ada yang kurang?"
"Tidak. Hanya saja bolehkah aku meminta kertas teleportasi untuk ke Meikai dan kembali ke dunia ini?"
Sirzechs menatap Naruto bingung, tetapi pada akhirnya ia memberikan apa yang Naruto minta dan tidak bertanya lebih jauh lagi.
Ravel Phenex terduduk lemah di kursi taman. Ia menangis dalam diam sambil sesekali menyeka air yang keluar dari matanya. Dia sekarang sedang berada di taman kota, wilayah kekuasaan Phenex. Satu buah koper besar berada di sisinya.
Ravel telah diusir dari keluarga Phenex. Ia memang telah menduganya saat memikirkan permintaan pemuda bernama Naruto untuk menjilati sepatunya. Keluarga Phenex terkenal dengan kesombongan dan harga diri selangit. Mereka lebih mengutamakan harga diri dari pada nyawa. Oleh karena itu, Lord Phenex yang merupakan menganut prinsip itu tak segan mengusir anaknya sendiri. Ravel juga telah dikeluarkan dari struktur peerage Riser.
Ravel mencoba untuk tegar. Baginya, nyawa kakaknya sangat penting melebihi harga dirinya. Meski memang kelakuan Riser sangat buruk, tetapi hati kecilnya tetap menyayangi kakak yang dulu selalu bermain bersamanya.
Gadis Phenex tersebut menampar kedua pipinya agak keras hingga muncul warna kemerahan. Ia tak mempermasalahkan diusir atau tidak. Baginya yang seorang iblis, hidup sendiri di dunia manusia bukanlah perkara sulit.
"Yosh, pertama-tama aku harus mencari tempat tinggal di dunia manusia," gumam Ravel sambil memikirkan tempat tinggal seperti apa yang cocok untuknya.
Awalnya Ravel ingin mengambil koper dan pergi ke dunia manusia, tetapi hal itu diurungkannya karena melihat lingkaran sihir teleportasi muncul di hadapannya. Mata Ravel membulat saat melihat siapa yang ada di hadapannya.
"K-kau!" Ravel cukup gaket melihat kedatangan tiba-tiba seorang pemuda tampan yang ia kenal dengan nama Naruto.
Naruto melangkah mendekati Ravel. "Jadi, perkataan orang tua itu bukan hanya sekedar candaan saja ya." Mata Naruto melirik pada koper yang berada di samping gadis pemilik warna rambut sama sepertinya.
Ravel menatap tajam wajah datar itu. "Apa kau kesini hanya untuk mengejekku?"
Naruto menggeleng pelan seraya kakinya melangkah lebih dekat pada Ravel dan duduk di sebelahnya. Gadis tersebut tentu saja langsung menjaga jarak.
Naruto menatap Ravel penuh arti. "Pertama, aku minta maaf. Karena aku, aku jadi diusir dari rumahmu."
Ravel membuang muka sambil melipatkan lengannya di dada. "Hn. Aku tidak butuh permintaan maafmu."
Naruto menghela napas kecil. "Kalau memang seperti itu aku tidak akan memaksamu. Sekarang, kau akan ke mana?"
"Dunia manusia," jawab Ravel acuh tak acuh.
"Apa kau punya tempat tinggal di sana?" tanya Naruto lagi.
Ravel menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Apa kau punya uang untuk menyewa tempat tinggal di sana?"
Ravel terdiam. Ia lupa dengan hal itu. Salahkanlah kepada fasilitas bangsawannya yang membuat Ravel menjadi manja. Selama ia tinggal di mana pun dan kapan pun, ia tak pernah melakukan pembayaran langsung karena semuanya sudah ditanggung oleh kedua orang tuanya. Ravel menggeleng lagi sebagai jawaban tidak.
"A-aku akan melakukan sesuatu untuk mengatasi hal itu," kata Ravel cepat setelah diam-diam melihat Naruto menghela napas.
"Bagaimana caranya?" tanya Naruto.
Ravel terdiam sesaat. "Aku tak tahu." Gadis ini tidak ada pengalaman sedikit pun dengan kata 'pekerjaan'.
Naruto menepuk pundak Ravel pelan agar gadis itu mau melihatnya. Setelah itu ia menatap Ravel dengan tulus. "Aku hanya ingin bertanggung jawab."
Kedua pipi Ravel memerah tatkala ia melihat secercah sinar yang terpancar dari mata kelam itu. Ravel membuang pandangan karena tak sanggup menatap lebih lama.
Menyadari Ravel tak akan bersuara, Naruto kembali berbicara. "Kau mengingatkanku kepada teman-temanku." Naruto diam sebentar lalu memandang ke arah lain, mengingat bagaimana mereka rela mengorbankan nyawa demi dirinya. "Kau rela menyelamatkan orang yang kau sayangi meski konsekuensinya akan menghancurkan dirimu sendiri."
Ravel tertegun mendengar ucapan Naruto yang sama sekali tidak ada kebohongan. Nada itu sangat lembut dan jujur. Pipi Ravel kembali memerah. Terjadi keheningan beberapa saat hingga akhirnya gadis Phenex itu buka suara. "Bagaimana caramu bertanggung jawab?"
"Kalau mau, kau boleh tinggal di rumahku. Aku akan membiayai kebutuhanmu sepenuhnya," jawab Naruto.
Ravel memincingkan matanya seakan menangkap niat terselubung. "Kau tidak akan meminta imbalan, bukan? Semisal … tubuhku."
"T-tentu saja tidak. Itu bukan tanggung jawab namanya," kata Naruto cepat dan agak tergagap. Ia meyakinkan Ravel bahwa dirinya tak akan macam-macam.
Ravel menghela napas panjang. Akhirnya, ia mengangguk. Naruto tersenyum. Lalu keduanya berdiri bersama dengan Ravel yang sudah membawa kopernya. Naruto meraih tangan Ravel dan mengeluarkan selembar kertas. Kertas tersebut kemudian bercahaya dan berubah bentuk menjadi lingkaran teleportasi yang memakan mereka berdua.
Naruto dan Ravel menuju dunia manusia. Tepatnya rumah Naruto.
Bersambung
AN: Yang sudah menunggu fic Sinners up saya ucapkan terima kasih banyak. Ini adalah fic ringan pelepas penat saya kala memikirkan alur fic utama, Golden Magic. Ada pertanyaan? Silahkan saja bertanya.
Tunggu kelanjutan ceritanya ya.
[06/06/2020]
