Chapter 4 : Welcome to The Game
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
As you wish © Elevtron
Rating : T
Genre : Adventure, Tragedy
Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.
Pairing : Coming Soon
Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?
Menakjubkan. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan para hadirin di acara ulang tahun sekolah Konoha Gakuen. Dekorasi dengan tema 'Disney' tampak memenuhi aula gedung yang sangat luas. Para hadirin terkhusus tamu undangan dan siswa kelas 1 dapat melihat kualitas yang ditunjukkan oleh Konoha Gakuen sebagai sekolah yang memiliki kualitas tinggi. Para guru, siswa kelas 2 dan kelas 3 tidak terlalu terkejut dibanding hadirin yang lain mengingat di tahun-tahun sebelumnya Konoha Gakuen selalu membuat pertunjukkan yang menakjubkan. Contohnya peringatan acara ulang tahun sekolah sebelumnya saat Pein menjadi ketua OSIS. Ketua panitia yakni Zetsu menyulap kawasan Konoha Gakuen menjadi Green Room raksasa sebagai kampanye anti-global warming. Melirik sebentara ke arah para hadirin yang tengah menikmati dekorasi ala kerajaan negeri dongeng yang merupakan hasil usaha rekan-rekan OSIS nya, Sasuke terlihat merenung sebentar. Ekspresi nya sedikit tidak umum dibandingkan manusia normal yang pasti akan senang menyambut pagi yang cerah selagi melihat semua hadirin sudah berada di dalam gedung untuk persiapan acara ulang tahun sekolah. Bukan hanya Sasuke tetapi semua anggota OSIS juga memasang ekspresi yang sama. Meskipun semua hadirin tampak bersemangat tetapi para anggota OSIS tetap merenung mengingat teror yang mereka rasakan baru-baru ini. Melihat para anggotanya seperti manusia kurang motivasi, belum lagi ada yang sedang terlibat perang dingin Sasuke tidak tahan untuk membuka suaranya.
"Tentang kejadian semalam kita bahas nanti, yang terpenting untuk hari ini kita harus fokus untuk acara ini. Aku harap bisa mengandalkan kalian" Pinta Sasuke dengan nada datar
Seluruh anggota OSIS tampak menoleh ke arah ketu- ah tidak wakil ketua OSIS mereka. Mereka tahu betul Sasuke tak akan senang menggantikan posisi ketua yang telah di amanahkan kepada Shion hampir satu tahun ini. Semuanya sangat mengetahui jika bukan karena pembina mereka yaitu Kakashi-sensei tidak mendesak Sasuke, ia tidak akan mau menjadi pengganti Shion hingga diadakan pemilihan ketua OSIS yang baru.
"Yah mau bagaimana lagi kita sudah bekerja keras selama sebulan untuk hari ini kan" Desah Karin lelah
"Kita akan bicara setelah acara ini selesai, urusan pribadi bisa dikesampingkan" Ucap ino tanpa mengubah arah pandangnya ke teman-temannya
"Sepulang dari sini kita akan melihat Ukon" Ucap Gaara membuat atensi terarah kepadanya
"Tentu saja kalau itu tidak usah ditanyakan, sebagai sahabat sudah selayaknya kita menjenguknya" Ujar Naruto lengkap dengan cengirannya
Sasuke dapat dengan jelas melihat raut wajah Sakon yang sedikit lebih cerah akibat ucapan Naruto. Begitupun para perempuan terutama Karin, Ino, dan Sakura yang tampak mulai rileks dengan keadaan yang menghangat dan mulai melirik satu sama lain.
'Dasar para gadis terlalu gengsi untuk bicara duluan' Batin Sasuke
"Kalau begitu laksanakan sesuai pembagian kerja yang telah diatur masing-masing. Kita buat acara ini menjadi sukses" Ujar Sasuke disertai senyum tipis yang tidak disadari oleh orang lain
"Siap Laksanakan" Respon seluruh anggota dengan yakin
Seluruh anggota OSIS mulai menyebar sesuai pembagian kerja masing-masing
"Shikamaru dan Sakon kalian bersamaku, aku butuh bantuan di belakang panggung" Perintah Sasuke
"Baiklah, hahh hari ini akan sangat merepotkan" Jawab Shikamaru
Terlihat kondisi Shikamaru tidak begitu baik dikarenakan dirinya yang memang benar-benar tidak tidur semalaman. Langkah gontai mengiringi kepergiannya kebelakang panggung sedangkan Sasuke hanya bisa menatap datar sahabat nya itu seakan sudah biasa dengan sifatnya.
"Hey, Sasuke aku mau bicara" Ujar Sakon seraya menahan lengan Sasuke
"Hn, apa yang mau kau bicarakan?" Tanya Sasuke
"Adikku, Ukon kondisinya...aneh" Kata Sakon terlihat ragu-ragu
"Apa yang terjadi?" Tanya Sasuke lagi
"Sepanjang malam dia terus meraung-raung hingga membuat ia ditempatkan di ruang isolasi khusus pasien depresi dan paginya kami menemukan.."Sakon tampak tidak sanggup melanjutkan
"Kami menemukannya koma dan di dinding kamarnya ada kalimat yang ditulis dari darah!" Ucap Sakon dengan raut wajah frustasi
"Kalimat apa?" Sungguh kali ini Sasuke tidak bisa menyembunyikan raut wajah yang menunjukkan rasa penasarannya
Sakon memandang Sasuke dengan tatapan ketakutan dan putus asa. Suaranya keluar setengah berbisik tapi masih dapat terdengar jelas oleh Sasuke
"Shion Kembali" Jawab Sakon
Tanpa berkata sepatah katapun Sasuke berjalan meninggalkan Sakon untuk menuju tujuan awalnya yakni backstage. Ia tidak punya waktu yang cukup untuk memikirkan hal-hal irasional yang terus terjadi beberapa hari ini. Ia juga tidak punya waktu untuk mengingat 'dia', Sasuke lebih memilih menyibukkan dirinya sendiri untuk mengalihkan sedikit pikirannya dari hal-hal yang membuat kepalanya berdenyut.
"Dasar Bodoh" Tampak seorang wanita memukul kepala orang didepannya dengan karton
"Awww, Sakit Sakura-chan" Keluh Naruto
"Kenapa kemarin kau menghasutku membaca jurnalnya? Itu dapat membawa akibat buruk" Ucap Sakura yang tampak kesal
"Hehe...aku hanya penasaran. Lagipula aku tidak mengerti kata-katanya, apa maksudnya 'Kenapa Pohon apel bersemi di halaman dan kenapa tanaman rambat melekat di pagar' ?" Kata Naruto sambil memasang pose berfikir yang bagi Sakura membuat Naruto terlihat makin idiot
"Tidak usah dipikirkan, itu hanya tulisan tidak berarti dari orang yang sudah tiada. Membuang waktu saja memikirkannya" Balas Sakura cuek
Tingggg (pesan masuk)
Kondisi aula gedung Konoha Convention Center terlihat sangat berbeda setelah notifikasi pesan masuk terdengar cukup jelas. Penyebabnya ialah seluruh manusia yang ada di sana menerima pesan yang serupa. Seisi ruangan tampak riuh seakan kejadian tersebut ialah kejadian yang sangat luar biasa.
"Apa maksudnya ini?" Ungkap Matsuri bingung saat melihat layar handphonenya
Disisi lain
" ' Mereka tidak terlihat tetapi dapat memicu reaksi' apa sih ini?" Gumam Shikamaru membaca pesan SMS yang baginya sangat tidak jelas
"Di mana kau membacanya?" Sasuke langsung merespon secepat kilat ucapan Shikamaru yang kebetulan masih dapat di dengar olehnya
"Ada di pesan masuk, kurasa semuanya juga mendapatkannya" Tandas Shikamaru melihat suasana aula yang riuh membicarakan SMS misterius tersebut
"Kita harus menghentikan acara ini sekarang!"
Sasuke langsung berlari menuju panggung meninggalkan Shikamaru yang terlihat kebingungan. Sasuke ingat betul kalimat itu, susunan kalimat yang membuatnya kehilangan sahabat masa kecilnya di dalam sebuah ritual sakral leluhur Uchiha. Meskipun baginya itu adalah ritual konyol untuk menakut-nakuti anak-anak agar tidak berbuat jahat selama hidup di dunia.
'Sial, hal ini tidak boleh terjadi. Aku harus menghentikannya sebelum terlambat' Ucap Sasuke di dalam hati
Sarutobi-sensei kepala sekolah Konoha Gakuen yang ketiga setelah Hashirama Senju dan Tobirama Senju sedang menyampaikan sambutan di atas panggung
"Hal yang disayangkan kehilangan seorang ketua osis seperti-" Sambutannya terpotong
"Hentikan Pak!"
Sasuke berteriak dengan keras dari bawah panggung, hilang sudah wibawa Uchiha yang selalu tenang dan tidak mudah terbawa emosi yang selalu di jaganya.
"Tidak terlihat tetapi dapat memicu reaksi adalah suara!, Kita tidak boleh bersuara hingga-" Ucapan Sasuke terpotong
"KYAAAAA" Seisi ruangan berteriak histeris menyaksikan pemandangan yang terjadi
Para tamu undangan, guru, siswa, dan panitia terlihat sangat terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa melihat kejadian yang terpampang di depan mata mereka. Guru paling galak dan menyeramkan di Konoha Gakuen yakni Ibiki-sensei tergantung dilangit-langit panggung dengan kondisi yang mengenaskan. Kepalanya sudah tidak utuh, belatung sudah memenuhi tubuhnya dan bau busuk dari badannya bahkan membuat Sarutobi-sensei menahan muntah.
Tidak cukup sampai disitu suara bergemuruh yang berasal dari luar gedung menambah intensitas aura mencekam yang sudah ada di aula gedung Konoha Gakuen
Tingggg (Pesan diterima)
Bunyi itu kembali terdengar, dering khas notifikasi pesan dari gadget masing-masing yang menampilkan pesan bertuliskan
Jangan salahkan aku ini bukan salahku, bukankah kalian yang mengeluarkan suara?. Tapi, karena aku baik hati akan kuselamatkan kalian 'Kenapa Pohon apel bersemi di halaman dan kenapa tanaman rambat melekat di pagar', apakah kalian mengerti? Kuharap tidak.
"Ruangannya akan runtuh" Ucap salah satu siswa memecah keheningan sejenak yang barusan terjadi
"Ayo keluar dari sini" Teriak mayoritas siswa
Sasuke melihat sekeliling, matanya seakan menyadari sesuatu lalu menghubungi seluruh anggotanya melalui Walky Talky
"Semuanya aku mohon ke belakang panggung sekarang, percayalah itu tempat yang aman"
Bersamaan dengan itu Sasuke berlari ke belakang panggung menghindari reruntuhan batu serta menerobos arus teman-temannya yang menuju arah berlawanan darinya. Sasuke melihat ke sekeliling dan menyadari sesuatu.
'Gedung ini tidak runtuh, Ini seperti hujan batu di dalam ruangan' Ucap Sasuke dalam hati
Bersamaan dengan itu Sasuke melompat menghindari batu besar yang jatuh kearahnya. Ia terus berlari sembari berharap para anggotanya mendengar dan mengikuti intruksi yang dirinya berikan tadi, karena jika tidak Sasuke tidak bisa membayangkan dirinya harus mengikuti ritual terlarang milik klan Uchiha sendirian.
TBC
Author Note's : Aloha Elevtron kembali. Yaps di chapter ke empat ini pelan-pelan kita menuju konflik utama cerita. Permainan yang akan menentukan masa depan masing-masing chara. Elevtron gak mau terlalu banyak basa basi nanti takutnya spoiler wkwkwk. But, Elevtron juga gak melarang bila kalian ingin mencoba menebak-nebak jalan ceritanya. Kolom Review selalu terbuka untuk kalian para readers
Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.
Hope you enjoy it
Well see u in the next chapter
x
x
x
