Chapter 5 : Janji Masa Lalu
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
As you wish © Elevtron
Rating : T
Genre : Adventure, Tragedy
Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.
Pairing : Coming Soon
Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?
Mengerikan. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi di aula gedung Konoha Gakuen saat ini. Sia-sia sudah arsitektur megah yang susah payah dirancang dan dibangun oleh kontraktor penanggung jawab pembangunan gedung ini dimasa lalu. Semuanya hilang tidak berbekas terbukti dengan kondisi aula yang sudah seperti medan perang. Entah datang darimana batu-batu besar yang berjatuhan dari langit-langit gedung. Hipotesa pertama yang memperkirakan penyebabnya ialah akibat runtuhnya gedung harus dibuang jauh-jauh. Hal ini diakibatkan gedung Konoha Gakuen sendiri masih berdiri kokoh seakan-akan tidak terjadi apapun. Lagipula tidak ada waktu yang cukup untuk mengira-ngira penyebab lainnya jika melihat kondisi para hadirin yang tertindih batu-batu besar tersebut.
"Juugo, Suigetsu bangunlah!" Jerit pilu Karin melihat kedua sahabatnya tertimpa batu besar yang ia kira reruntuhan bangunan
"Tidak ada yang bisa kita lakukan Karin, kita harus ke tempat yang lain sesuai instruksi Sasuke"
Temari mencoba menenangkan Karin yang histeris, ia beberapa menit lalu sudah memastikan bahwa kedua rekan OSIS mereka sudah tidak memiliki denyut nadi lagi. Bukan hanya Juugo dan Suigetsu, Temari sudah memeriksa kondisi korban disekitarnya yang kini sudah dapat disebut sebagai mayat. Temari masih beruntung menemukan tempat bersembunyi di bawah dekorasi Donald Bebek khas Disney dan sempat meneriaki Karin untuk ikut bersembunyi bersamanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Karin dengan nada putus asa
"Aku tidak tau, tapi yang bisa kita lakukan sekarang ialah bergerak ke tempat yang lebih aman" Saran Temari
"Hiks...hiks"
Karin tidak bisa memberi respon, ia hanya bisa menangis. Temari? Sungguh ia sangat berusaha menahan air matanya tidak jatuh. Tidak lucu bukan saat kau berusaha menenangkan seseorang justru kau ikut menangis. Meskipun begitu ia tidak bisa menahan air matanya lebih lama lagi. Sungguh ia sangat shock melihat begitu banyak teman, guru serta orang-orang yang telah meninggal di sekelilingnya. Beban sebesar itu tidak mungkin bisa ia tahan dan hanya dapat ia keluarkan dengan ikut menangis bersama Karin.
Flashback on
"Papa..Papa" Ucap seorang gadis kecil dengan surai pendek berwarna kuning pucat
"Iya ada apa mama?" Ucap seorang bocah laki-laki dengan surai senada hanya saja sedikit lebih cerah
Tunggu dulu...Papa? Mama? mereka kan masih bocah
"Hei apa tidak bisa kita main yang lain?" Tanya seorang anak laki-laki di antara mereka
"Tidak mau, main lumah-lumahan ini asik tau" Tolak gadis tersebut dengan tangan disilangkan di depan dada dan pipi digembungkan
Ohhh ternyata sedang main rumah-rumahan kirain hehe...
"Tapi kita telah memainkan pelmainan ini puluhan kali Shion-chan, apa kau tidak bosan?" Mata oniks milik anak laki-laki itu beradu dengan amethyst milik Shion
"Tentu saja tidak Sasuke-kun. Lihat Naluto-kun saja tidak mengeluh dan bosan kok, iya kan Naluto-kun?" Shion menatap penuh harap bocah pirang di sampingnya
Bukan pertama kali perdebatan antara Sasuke dan Shion terjadi. Bahkan sangking seringnya mereka selalu menaruh keputusan akhir di pihak ketiga yakni Naruto. Bukan tanpa sebab hal itu dilakukan, dengan Naruto memberikan pendapat maka pendapat salah satu di antara mereka akan lebih banyak satu suara dibandingkan pendapat yang lain. Yah penyelesaian masalah secara demokratis adalah yang terbaik pikir ketiga bocah yang masih cadel tersebut. Maklum susunan gigi mereka membuat terhambatnya mengucapkan semua huruf dalam barisan alphabet secara benar.
"Emmm...kulasa pendapat Sasuke benal Shion-chan, i-ituu aku juga agak sedikit bosan" Jawab Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal
Mendengar jawaban Naruto, Sasuke langsung memasang ekpresi penuh kemenangan dengan senyum angkuh khas Uchiha miliknya. Sementara Shion berbanding terbalik, ia sudah siap-siap mengeluarkan air mata membuat kedua sahabat laki-lakinya menjadi panik
"Hiks...hiks...HUAAA" Kini Shion telah berhasil mengeluarkan air matanya
"Ehhh ja-jangan menangis Shion tadi kami hanya belcanda kok, benal kan Sasuke?" Tanya Naruto dengan ekpresi panik
"Hn"
"HUAAAA" Tangis Shion makin menjadi-jadi
"Ka-kami belcanda saat bilang bosan main lumah-lumahan. Sebenalnya kami sangat senang sekali apalagi Sasuke dia yang paling semangat lohhh" Ucap Naruto penuh dengan kedustaan
"Hiks...hiks..Benalkah?" Ajaibnya Shion terlihat percaya dan langsung menyeka air matanya
"Hn" Dengusan andalan kembali keluar dari mulut bungsu Uchiha
Beginilah jika dalam pemungutan suara untuk menyelesaikan konflik tidak memenangkan pendapat Shion. Ia akan langsung menangis membuat kedua sahabat laki-lakinya tidak ada pilihan selain menuruti keinginannya. Dengan kata lain tidak pernah ada penyelesaian masalah secara demokratis karena pasti keinginan Shion lah yang akan terwujud.
"Tentu saja, sebagai hukuman kalena membuat mama menangis papa akan membeli hukuman untuk anak kita ini" Naruto menunjuk tepat ke arah wajar datar Sasuke sembari melanjutkan akting rumah-rumahan mereka
"Hu'um" Shion hanya menurut saja
"Sekalang Sasuke sebagai hukuman cepat belikan pijatan kepada papamu ini" Ucap Naruto memerintah bagai orang tua tiri
Bosan bukanlah alasan utama Sasuke tidak setuju mereka bermain rumah-rumahan. Hal inilah yang membuat ia sangat malas untuk bermain permainan itu. Tingkah Naruto yang bagai orang tua tiri yang selalu menindas Sasuke seenaknya membuatnya cukup muak. Sungguh ia sangat berharap dapat mengeluarkan api dari dalam mulutnya dan mengarahkannya ke kepala sahabat pirang idiotnya ini, meskipun ia tahu hal itu tidak mungkin. Lagipula ia tidak bisa berbuat apa-apa karena jika ia membantah Shion akan kembali menangis sembari mengatainya anak durhaka yang tidak menuruti apa kata orang tua. Selain itu, hal yang membuatnya bingung ialah peran mereka selalu tetap sama yakni Naruto sebagai papa, Shion sebagai mama dan Sasuke sebagai anak durha-eh maksudnya anak tunggal. Berkali-kali Sasuke sudah mengatakan bahwa pembagian itu tidak masuk akal, maksudnya bagaimana bisa orang tua yang kedua-duanya memiliki surai pirang melahirkan anak dengan surai hitam sepertinya. Meskipun ini hanya permainan Sasuke tidak bisa menerima ketidaklogisan ini begitu saja.
"Shion-chan, kenapa aku tidak boleh beltukar pelan dengan Naluto?" Tanya Sasuke sambil memijat bahu Naruto setengah hati
"Kalena cuma Naluto yang bisa jadi suamiku" Jawab Shion riang
Kalimat yang dilontarkan Shion membuat kedua sahabat laki-lakinya cengo seketika. Ohh ayolah mereka belum genap 5 tahun. Bicara saja masih belum benar dan masih terlalu dini memikirkan calon suami
"Aku sudah melamalkannya" Sorot mata Shion berubah serius melihat ekspresi kedua laki-laki tersebut
Salah satu anugerah yang dimiliki Shion ialah kemampuan meramalnya. Naruto yang memang bodoh dan takut hantu percaya-percaya saja dengan ucapan Shion. Berbeda dengan Sasuke yang tidak langsung percaya, tetapi setelah Shion memberikan bukti dengan meramalkan bahwa kakaknya Itachi akan mengalami gejala penyakit jiwa dan ramalannya terbukti akurat. Dengan mata kepala Sasuke sendiri ia melihat kakaknya senyum-senyum sendiri sembari menggumamkan nama seseorang yakni Izumi berulang kali. Dengan bukti sekuat itu Sasuke tidak dapat menampik bahwa ia juga percaya dengan kemampuan meramal Shion.
"Hn, Baiklah"
Sasuke hanya bisa menurut dengan kata-kata Shion lagipula jika gadis itu tidak mau menjadikannya 'suami pura-puranya' Sasuke tidak dapat memaksanya. Pilihan yang tersedia jika ia tidak mau menjadi anak ialah menjadi suami atau istri Naruto. Sudah jelas sampai matipun Sasuke tidak akan mau menjalani peran tersebut. Dengan segera ia menggelengkan kepala mengusir pikiran nista itu dari kepalanya.
"Emmm Sasuke-kun, Naluto-kun" Panggil Shion
"Kenapa Shion-chan?" Tanya Naruto
Sasuke langsung menghentikan pijatannya berbarengan dengan Shion yang tidak lagi memanggil Naruto 'Papa'. Baginya itu pesan tersirat bahwa drama rumah-rumahan mereka sudah selesai.
"Telima kasih sudah jadi temanku" Ujar Shion
"Ehhh kau ini bicala apa Shion-chan? Tentu saja dengan senang hati kami jadi temanmu. Kita akan selalu belsama hingga maut memisahkan" Ujar Naruto
"Benalkah?" Tanya Shion dengan tatapan bahagia
"Tentu saja" Jawab Naruto semangat
"Hn" Sasuke masih dengan sifat cool nya
Tanpa mereka sadari hari itu telah terucap janji suci yang menjadi ikrar hubungan mereka yang begitu kuat dan tidak mudah lepas. Sebuah ikatan yang berlandaskan tekad untuk saling menjaga satu sama lain.
Flashback off
"Tidak kusangka aku terjebak di permainan ini lagi" Sasuke menjambak rambutnya frustasi
"Sasuke dimana yang lain?" Tanya Naruto
Pemandangan pertama yang Naruto lihat begitu membuka pintu belakang panggung ialah Sasuke yang duduk meringkuk di sisi ruangan. Tanpa menunggu lama ia dan anggota OSIS lain di belakangnya langsung masuk ke dalam. Sementara Sasuke terlihat menunjukkan ekpresi lega melihat teman-temannya berhasil selamat. Dirinya sempat berpikir bahwa hanya dirinya yang bertahan hidup mengingat hingga guncangan berhenti tidak ada yang mengikuti jejaknya ke belakang panggung.
"Aku tidak tau, kalian yang pertama sampai...Naruto dimana kau dapatkan itu!" Mata Sasuke terbelalak melihat benda di tangan Naruto, hilang sudah ekpresi datar andalannya begitupun ekspresi lega yang sempat ia tunjukkan
"Ini jurnal Shion, aku dan Sakura-chan menemukannya di loker saat memeriksa inventaris OSIS kemarin, kenapa?" Tanya Naruto bingung
"Itu tidak mungkin-"
Sasuke memberikan tatapan tidak percaya, ia ingat dengan jelas beberapa hari yang lalu polisi memberikan jurnal itu kepadanya sesaat sebelum mereka berangkat ke markas membawa hal-hal yang bisa mereka jadikan petunjuk akan kasus kematian Shion. Polisi tersebut dengan jelas mengatakan bahwa jurnal itu kosong sehingga tidak memberi petunjuk apapun dan mengembalikannya kepada pihak sekolah melalui pihak OSIS. Sasuke tanpa pikir panjang melakukan tindakan yang ia anggap tepat terkait barang peninggalan sahabatnya sedari kecil itu.
"-aku ingat persis aku sudah membakarnya" Lanjut Sasuke
Ucapan itu membuat segelintir orang yang sekarang sedang berada di belakang panggung terperangah, terutama Naruto dia refleks langsung menghempaskan jurnal Shion dari tangannya. Kini jurnal tersebut tepat berada di tengah ruangan dan sepertinya tidak akan berpindah tempat melihat tidak ada yang berani untuk menyentuhnya. Sasuke dan yang lain sangat terlihat mencoba menstabilkan mental mereka masing-masing yang sedang dilanda goncangan hebat. Satu lagi saja misteri aneh ataupun kejadian yang mengancam nyawa terjadi lagi. Maka dapat dipastikan mereka semua bisa stress hingga menjadi gila, kini hati mereka hanya bisa berdo'a semoga segala cobaan yang sedang menimpa mereka saat ini dapat segera berhenti.
TBC
Author Note's : Halo Elevtron kembali. Sekarang kita udah sampai di chapter ke lima yang berisi flashback yang bagi Elevtron agak fluffy hehe. Chapter ini juga menjadi alasan kenapa genre fic ini tragedy karena di dalam chap ini ada kematian massal, kurang tragedy apa coba?.
Sebenarnya saat awal menulis chapter ini Elevtron bermaksud untuk membuat flashback-flashback singkat yang bisa menjadi clue bagi readers untuk menebak-nebak jalan cerita. Tapi setelah dipikir-pikir lagi itu bisa jadi plothole dan membuat readers sendiri bingung sehingga tidak bisa memahami alur cerita milik Elevtron ini. Akhirnya Elevtron putuskan untuk membuat Flashback yang cukup panjang. Bagi yang punya request chara atau pair (?). Kolom Review selalu terbuka untuk kalian para readers
Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.
Hope you enjoy it
Well see u in the next chapter
x
x
x
