Chapter 6 : Sosok?, Zombie?, Mayat hidup?. Whatever!
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
As you wish © Elevtron
Rating : T
Genre : Adventure, Tragedy
Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.
Pairing : Coming Soon
Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?
Beginilah sekarang kondisi Lee, ia berjalan sendirian diantara reruntuhan batu dan para mayat yang memenuhi gedung aula. Sebenarnya, tadi ia berada di dalam ruangan yang terletak di belakang panggung karena ia termasuk dalam salah satu rombongan bersama Naruto. Akan tetapi, sang ketua OSIS 'sementara' yakni Sasuke memerintahkannya untuk mencari para hadirin yang masih hidup, terluka maupun masih memiliki kemungkinan untuk diselamatkan. Dirinya tidak bisa menolak seperti Shikamaru yang akan langsung berkata 'merepotkan' ataupun Naruto yang akan langsung marah-marah sembari mengatai ketua 'sementara' nya sendiri sebagai orang brengsek. Lee bukanlah orang seperti itu, Ia hampir tidak pernah menolak tugas yang diberikan padanya. Selain sifatnya, penyebab utama Lee tidak bisa menolak ialah saat Sasuke dengan ekspresi datarnya berkata "Kegiatan ini dapat menyalurkan geloran masa mudamu Lee" Membuat semangat Lee berkobar-kobar dan langsung beranjak dari belakang panggung. Penyesalan selalu datang terlambat, begitulah kini yang dirasakan Lee. Sudah hampir 15 menit ia melalui rintangan yang cukup sulit tetapi belum menemukan orang yang bisa ia selamatkan. Bukanlah hal yang nyaman saat kau berjalan dengan mayat-mayat yang ada di sekitarmu sembari mencari manusia yang masih hidup dengan kemungkinan yang kecil. Untungnya Kami-sama tidak memperpanjang derita yang dialami oleh Lee. Hal itu disebabkan, Lee dapat merasakan adanya tanda kehidupan berupa suara yang cukup familiar di telinganya. Tidak ingin membuang waktu, Lee langsung bergegas menuju asal suara tersebut
"Siapa yang bisa berbuat seperti ini?" Gumam seorang pria berbadan gempal
"Choji, kita harus ke tempat Sasuke sekarang" Ajak seorang pria berkulit putih pucat
"Apa yang dikatakan Sai-senpai benar Choji-senpai, saat ini berkumpul bersama adalah pilihan terbaik" Timpal seorang wanita diantara mereka
"Choji, Sai, Yukata kalian baik-baik saja?" Teriak Lee dari kejauhan
"Hey itu Lee-senpai ayo kesana" Ajak Yukata
"Bagaimana kalian bisa setenang ini? Apa kalian tidak lihat apa yang ada di langit-langit ruangan ini HAH!" Teriak Choji menumpahkan emosinya
Teriakan amarah Choji membuat suasana tempat mereka berada menjadi hening. Yukata terlihat ketakutan melihat Choji marah sementara Sai tetap dengan senyum palsunya. Kondisi ketiganya bisa dibilang baik-baik saja secara fisik tetapi secara mental jelas mereka mengalami guncangan hebat. Apalagi tepat di atas mereka tergantung sepuluh manusia lainnya dengan kondisi yang mengenaskan dan memberikan teror mencekam bagi yang melihatnya. Terlebih kesepuluh orang itu adalah para mantan rekan OSIS mereka yang diberhentikan secara tidak hormat oleh Shion dikarenakan kinerja yang tidak maksimal. Meskipun tidak tergabung di dalam suatu organisasi yang sama lagi, tetap saja kesepuluh orang tersebut tetap teman mereka. Beberapa di antaranya seperti Kankuro, Utakata, Yugito, dan lain-lain memiliki hubungan yang cukup dekat dengan mereka. Melihat kematian seorang teman dengan cara mengenaskan seperti itu tentu saja membuat siapapun mengalami shock berat.
"Apa berdiam diri disini dapat membuat mereka hidup kembali?" Sai masih dengan senyum palsu bicara dengan nada santai
"Apa yang kau bilang tadi? Kau mau kupukul?" Tanpa kesulitan Choji mengangkat tubuh kurus Sai
"Sudah cukup!" Lee mencoba melerai
Mendengar teriakan Lee kedua insan tersebut segera menjauh satu sama lain. Tidak lupa Choji meminta maaf karena tersulut emosi yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Sai.
"Lee-senpai orang-orang ini mereka..."Ujar Yukata
"Ya kau benar, mereka mantan anggota OSIS yang diberhentikan" Ucap Lee getir sambil melihat ke atas
"Ternyata benar, awalnya aku ragu karena kondisi mereka yang hm... tapi aku yakin karena mereka memakai blazer OSIS kita" balas Yukata
"Aku langsung bisa mengenal mereka saat melihat surai yang mereka punya, mereka...mereka adalah teman-teman kita" Sekuat tenaga Choji menahan air matanya
"Bisa kita bahas ini nanti? Kita harus ke tempat yang aman" Ujar Sai memotong pembicaraan
SREEETT
Pandangan mereka langsung beralih ke atas, tepat di lokasi dimana sebelumnya ke 10 mayat teman mereka berada. Mereka sangat terkejut saat memastikan bahwa ke 10 teman mereka yang tadi tergantung di langit-langit kini mengepung mereka ber empat.
"Astaga!" Ucap Yukata ia hanya bisa meringkuk di belakang ketiga senpai laki-lakinya
"Kan-kankuro sadarlah!"
Choji berteriak kepada sesuatu di depannya yang sudah seperti zombie. Wajah yang sudah tidak terlalu bisa di identifikasi membuat hanya surai hitam kecoklatan miliknya yang bisa dijadikan penguat identitas seorang kankuro.
"GRAHHH"
Kesepuluh zombie tersebut langsung meraung bersamaan dengan mencabut bilah hitam runcing di tubuh mereka dengan brutal. Akibatnya darah dan beberapa organ dalam milih zombie-zombie tersebut langsung berceceran. Lee, Sai dan Choji sekuat tenaga menahan isi perut mereka yang hendak keluar, sementara Yukata sudah pingsan sedari tadi.
SWINGG
Satu ayunan besi runcing tersebut hampir mengenai tubuh Lee. Tidak sia-sia latihan fisik yang ia lakukan setiap hari membuat gerak refleknya begitu cepat sehingga dia masih bisa menghindar.
"Ini gawat kita harus menghentikan mereka sebelum kita terbunuh" Ujar Sai
"Tapi bagaimana caranya? Kita tidak bisa melukai mereka, Kesepuluh orang ini adalah teman kita" Ucap Choji
"SADARLAH CHOJI!" Bentak Sai
Senyum palsu yang selalu ia tunjukkan seketika menghilang digantikan dengan ekspresi waspada tingkat tinggi yang dimilikinya. Kalimat hardikan yang diucapkan Sai barusan langsung membuat lidah Choji menjadi kelu dan tidak bisa memberi respon apapun.
"Makhluk ini bukan orang yang kita kenal lagi, coba kau lihat fisik dan kelakukan mereka. Zombie-zombie ini sungguh berniat membunuh kita. Jika kita tidak melumpuhkan mereka maka kita akan mati" Jelas Sai sambil terus menghindari serangan bilah tajam dari salah satu Zombie
Choji hanya mengangguk dan menggumamkan kata maaf. Ketiga lelaki itu langsung mengambil rongsokan kursi dan meja di sekitar mereka. Kedua rangka benda tersebut yang terbuah dari besi dapat mereka manfaatkan untuk melumpuhkan zombie di hadapan mereka
"Gerakan mereka cukup lambat sehingga kita memiliki kesempatan menyerang. Jangan lengah semuanya"
Bersamaan dengan intruksi Lee ketiga laki-laki tersebut langsung berusaha melumpuhkan para zombie di depan mereka. Sesuai perkataan Lee tidak cukup sulit untuk melumpuhkan zombie-zombie tersebut asal mereka tidak ceroboh. Apabila mereka ceroboh sedikit saja maka nyawa yang jadi taruhannya.
"CHOJI AWAS DI BELAKANGMU!"
Teriakan Lee bagaikan sambaran petir di telinga Choji. Reflek Choji melihat kebelakang dan melihat Zombie dengan surai seperti Utakata hendak menusuk dirinya dengan besi tajam yang dimilikinya. Baik Lee maupun Sai berada di posisi yang tidak bisa menjangkau dalam waktu singkat tempat dimana Choji hendak diserang sekarang. Bagai gerakan lambat iris Choji melihat zombie tersebut hendak mengayunkan besi tajam miliknya
CRASHHH
"Kau tidak apa-apa Choji?" Tanya Neji
Tepat sebelum zombie tersebut mengayunkan bilah tajam miliknya, Neji terlebih dahulu menusuk jantung zombie tersebut dengan bilah tajam milik salah satu zombie yang telah dilumpuhkan. Dewi fortuna masih menaungi Choji saat Neji datang pada saat momen yang tepat. Saat gendang telinganya mendengar suara gaduh seperti sebuah perkelahian Neji langsung memacu langkah kakinya secepat mungkin, terlambat sedikit saja maka Choji hanya akan tinggal nama sekarang
"Lee tolong kau gendong Yukata ke belakang panggung. Sekarang kita harus ketempat yang lain, berkumpul bersama menjadikan kita lebih aman" Perintah Neji
"Baik" Jawab Lee
Tanpa respon lanjutan mereka semua berjalan menuju tempat yang di intruksikan oleh Sasuke. Keheningan menyelimuti langkah kaki mereka. Hal itu wajar karena mereka sendiri terjebak di dunianya masing-masing. Otak mereka memikirkan kejadian yang baru saja hampir merenggut nyawa mereka dan kematian tragis teman, guru dan tamu undangan yang hadir pada acara ini.
TBC
Author Note's : Hi semua, di awal author notes ini Elevtron pingin ngasih tau kalau fic ini mungkin akan sedikit bermasalah terkait update. Tapi Elevtron akan berusaha sebaik mungkin untuk memuaskan para readers baik dari segi cerita maupun update. Terkait jalan cerita Elevtron memaklumi perasaan kalian yang mungkin agak sedikit kesal diberi ending gantung tanpa konflik wkwkwk. But, ini hanya bagian proses Elevtron untuk membangun kondisi cerita itu sendiri.
Terakhir mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.
Hope you enjoy it
Well see u in the next chapter
x
x
x
