Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
WARNING! Typo(s), OOC, Gaje, Crack Pairs, Alur dan Konflik yang tak jelas serta Penempatan tanda baca yang tidak sesuai dan banyak sekali kesalahan-kesalahan lainnya.
E : Empty
Minato menghela napasnya berkali-kali sejak beberapa jam yang lalu, wajah tampannya mengisyaratkan kekhawatiran berlebih, bahkan ia berjalan mondar-mandir dengan menggigiti jemarinya. Hah~? Seorang Namikaze Minato melakukan hal seperti itu? Mustahil! Namun, itulah kenyataannya, Pria jabrik itu tak hentinya memandang jam dinding yang terpajang di dinding rumahnya.
Sudah pukul 12 siang, namun ia tidak ke sini. Biasanya dia akan dengan ceria memasuki rumahnya dan menata makanan dan bunga yang ia bawa dengan sesuka hati, tak jarang gadis itu akan membersihkan rumah dan mencuci pakaiannya.
Lambat laun ia dapat menerima gadis itu, meskipun pada awalnya ia merasa risih dan terganggu, bagaimana cerewetnya dia, bagaimana ia menceritakan hal-hal yang selama ini ia lewatkan selama 'kematian'nya dan bagaimana seorang Yamanaka Ino tak pernah menyerah untuk memperhatikannya.
Lalu, bagaimana dengan hari ini? apakah gadis itu mulai menyerah dengan apa yang ia sudah mulai? Apakah seorang Yamanaka Ino menyerah lagi dengan cintanya?
"Minato-sama . . .!" teriak gadis itu ceria.
Sejak insiden bunga beberapa bulan lalu itu gadis Yamanaka itu rajin sekali menyambangi kediaman Namikaze, setiap hari ia akan menenteng tas berisi bunga dan makanan yang telah ia siapkan dari rumahnya.
Ah! Tentu saja banyak yang mencemoohnya! Tapi dia tidak akan menyerah dengan cintanya lagi sebelum ia memperjuangkannya.
Ia membuka pintu kayu berwarna cokelat dan menemukan Minato sedang membaca gulungan yang berada di tangannya. Gadis itu tersenyum dan menghampiri pria yang berbeda usia 11 tahun darinya itu, "Selamat pagi . . ."
"Selamat pagi, Ino!"
"Hari ini kau mau kemana? Apa aku harus membuatkanmu bekal?" tanyanya dan berlalu untuk meletakkan rangkaian bunga dan makanan yang ia bawa.
Dengan cekatan dan pandangan yang lembut pada bunga-bunga itu, Ino nampak sangat berbeda dan itu cukup membuat Minato ingin tersenyum memandang gadis itu, ah! Tidak! Rasa gengsinya ternyata lebih tinggi bak seorang Uchiha, "Sudah satu bulan kau melakukan hal ini! apakah kau tak mempedulikan perkataan orang di luar sana yang setiap hari mempergunjingkanmu? Apakah kau tidak kasihan pada ibumu, Yamanaka Ino?"
Ino terpaku sebentar dengan pertanyaan yang meluncur dari mulut Minato itu, tak ada jawaban yang keluar melainkan hanya helaan napas dari gadis itu.
"Kau tak mampu menjawabnya?" tanya Minato kembali, namun sang gadis Yamanaka itu hanya menyunggingkan senyumnya lembut, "Kau mengkhawatirkan diriku?"
"Aku hanya kasihan pada mendiang ayahmu dan juga ibumu! Putri mereka satu-satunya mengejar-ngejar orang yang sudah beristri, menurutmu gadis seperti apa dirimu Ino?"
Ya Tuhan! Apa yang baru saja ia katakan? Hei, gadis ini baru berusia 19 tahun dan dia seumuran dengan putranya, mengapa ia harus berkata sekeras itu padanya?
Dapat ia lihat jelas bagaimana perubahan ekspresi dari gadis itu, Ino menghentikan aktivitasnya menata makanan di meja makan, "Kau benar! Maafkan aku Minato-sama, aku memang gadis murahan jika itu yang anda maksud, ku rasa perbuatanku selama ini hanya menganggumu saja dan aku tak akan pernah mendapatkan cintamu meski sedikit, a-aa-aku … sebaiknya aku pulang."
Ahhh! Apa yang dia lakukan? Bahkan melihat gadis itu pergi dengan menahan tangisannya ia tak mampu berbuat apa-apa.
Ia telah membuat seorang gadis menangis, …
Kenyataan yang begitu dibencinya.
"Benar-benar sepi dan hampa tanpa keceriannya huh~?" ucap Naruto jahil, "Tapi aku tadi melihatnya sedang berjalan bersama Sai!"
Minato menghentikan langkahnya, Sai? Ino? mereka? Secepat itukah gadis itu berpaling darinya, padahal selama ini gadis itu berkoar-koar bahwa ia mencintainya?
"Tou-san!"
Pemuda itu menyunggingkan senyuman penuh arti manakala melihat sang ayah yang hanya berdiri terpaku begitu dirinya menyebutkan Sai sedang bersama dengan Ino, "Cemburu, huh?"
"Apa yang kau katakan Naruto?"
"Tou-san cemburu! Ayolah . . . akui saja bahwa kau sangat kesepian karena ketidakhadiran Ino-chan di sini!"
"Huh?"
"Mereka ada di Toko Bunga Yamanaka sekarang, cepat ke sana!"
"Naruto?"
"Aku akan menerimanya sebagai Kaa-san baruku, lagipula dia sudah banyak membuktikan pada Tou-san betapa ia mencintai Tou-san bukan? jangan pernah menyiakan cinta yang datang padamu Tou-san! Ku rasa Kaa-chan juga akan bahagia, bayangkan kau akan menimang bayi lagi, sifat Ino-chan juga kurang lebih sama seperti Kaa-chan, bukan? ohhh! Bayi yang akan kau besarkan dengan kedua tanganmu sendiri, mengamatinya tumbuh, dan mengajarkannya jutsu-jutsu andalanmu! Ayolah! Jangan bohongi dirimu sendiri!" Naruto menepuk pundak ayahnya hangat, "Aku hanya pulang untuk mengambil beberapa gulungan yang tertinggal! Aku ke atas dulu untuk mengambilnya!" ujar Naruto kemudian berlalu, membiarkan sang ayah berkutat dengan pikiran-pikirannya sendiri.
Bayi? Bayi? Bayinya bersama Ino?
Apa yang harus ia lakukan? Apa? Apa?
…
"Uhm, kau harus memberinya bunga ini, Sai!" Ino menunjukkan seikat bunga mawar merah pada Sai dan tersenyum lembut, "Siapapun wanita yang menerima bunga ini pasti bahagia!" Ino mengulurkan bunga itu pada Sai, yang kemudian diterima oleh pemuda berkulit pucat itu dengan senyuman mengembang pada paras tampannya, "Jadi bagaimana jika ku berikan bunga ini padamu?"
Sekarang giliran Ino yang sweatdrop mendengar pernyataan Sai tadi, "Sai! kau tahu benar bagaimana perasaanku sebenarnya, bukan?"
"Uhm, Terimakasih karena telah menerima cintaku Ino-chan . . ."
Apa? Ijinkan Ino berteriak sekarang! Apa-apaan pemuda ini?! haaah~
"Selamat siang Minato-sama . . ."
Mata Ino terbelalak demi mendengar perkataan Sai, Minato? Minato ada di sini? Ino menengok pada pintu kedatangan dan menemukan pria itu berdiri di ambang pintu dengan ekspresi wajah yang sulit dijelaskan.
"Terimakasih untuk sarannya Ino-chan! akan ku pastikan aku datang dengan berita bahagia!" Sai mengambil buket bunga yang Ino rangkaikan untuknya tadi.
"Uuh Semoga berhasil … Sai!" ungkap Ino yang masih terpaku memandang Minato, Sai sendiri sudah berada di hadapan Minato saat ini, pemuda yang konon katanya mirip dengan Sasuke itu mengeluarkan senyum khas miliknya, "Apa yang anda dengarkan tadi hanya lelucon! Dia sangat mengangumi dan sangat jatuh cinta pada anda, . . ." Sai memandang Ino yang menundukkan kepalannya dalam-dalam, kemudian memandang Minato dan tersenyum lagi, "Aku pergi dulu!" ungkapnya kemudian berlalu, menyisakan Minato dan Ino sendiri, Pria itu menghela napas panjang dan berjalan mendekati Ino, " Rangkaikan untukku rangkaian Daisy Merah, bunga Chrysanthemum putih, Mawar Pink dan Ungu!"
"Uh?"
"Apa kau mendengarkanku, Yamanaka?"
"B-B-Baik …" dengan segera Ino merangkai bunga-bunga itu untuk Minato, jantungnya berdegup dengan kencang ahhh~ bahkan ia tak berani sedikitpun untuk mencuri pandang pada laki-laki itu.
Tak lama kemudian rangkaian bunga itupun selesai, bagaimana ia harus menyerahkannnya pada Minato jika nyatanya saja untuk melihat pria itu ia sangat gugup?
"Ini, Minato-sama!" ia menyerahkan rangkaian bunga itu.
Tak ada sahutan dari Minato, membuatnya mau tak mau mendonggakkan kepala dan bertemu pandang dengan mata sebiru langit milik Hokage keempat Konoha itu, "Minato-sama . . ."
"Bunga Daisy Merah berarti cinta diam-diam, Chrysanthemum Putih berarti kejujuran, Mawar Pink ini berarti rasa kagum dan memintaku untuk percaya juga berarti rasa terimakasih, Mawar Ungu artinya cinta pada pandangan pertama, apakah benar itu yang kau rasakan padaku?"
"Aku? Aku? …" Ino menggigiti bibir bawahnya cemas, "Maafkan aku atas perkataanku kemarin, aku benar-benar tak bermaksud untuk mengatakan sesuatu yang dapat menyakiti hatimu!" ungkap Minato tersenyum kecut dan mengacak gemas pucuk kepala Ino, Ah? Rona kemerahan tergambar sempurna pada wajah ayu milik gadis Yamanaka itu, apa ini benar-benar Minato?
"Ja . . . jadi . . . jadi apa maksud semua ini?"
"Kau seorang gadis yang merepotkan Yamanaka Ino!"
"Huh?" Mata Ino terbelalak mendengar pernyataan Minato tadi.
Brugghhh!
AHHHH? YA TUHAN!
Tanpa terasa air mata gadis itu mengalir begitu saja, pipinya memerah, dan jantungnya berdegup dengan kencangnya, Minato memeluknya? Benarkah ini bukan hanya mimpi?
"Minato- . . . kun!"
Minato-kun ahhh panggilan yang telah lama tidak ia dengarkan, dengan memeluk gadis ini sesuatu yang terasa hampa di hatinya seakan terisi lagi, apa keputusannya telah benar? Apa semua akan berjalan dengan baik nantinya? Bagaimana reaksi penduduk nanti?
Karena sebenarnya ia tak mau ada yang menghina dan merendahkan gadis itu lagi.
.
.
.
.
The End (See You in F series) ^^
Hehehe ga nyambung Huruf tema sama ceritanya :v, maklum hari ini Kamis Kelabu #Curcol , fict pelarian dari ke-BAPER-an :'(
ENJOY ^^
#VALE
