Chapter 7 : When This Thing Start

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

As you wish © Elevtron

Rating : T

Genre : Adventure, Tragedy

Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.

Pairing : Coming Soon

Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?

Sasuke jurnal itu adalah kuncinya, aku sudah mencoba memberi petunjuk sebisaku. Maaf tidak bisa membantu, kumohon selesaikanlah apa yang kita mulai.

Sasuke menatap nanar pada pesan dilayar handphonenya. Tertulis keterangan pesan diterima sebulan yang lalu.

Tok..tok..tok

Pintu yang menjadi pembatas antara aula dan belakang panggung diketuk oleh seseorang. Inilah yang menjadi penyebab Sasuke mengintruksikan untuk berlindung di belakang panggung. Struktur yang dimiliki oleh Konoha Convention Center ialah bangunan berbentuk persegi dengan sedikit lekukan di sebelah utara. Jika dilihat dari atas hanya tampak seperti bangunan berbentuk persegi yang menyatu dengan aula. Bangunan tersebut tidak terlalu besar jika dibandingkan aula Konoha Convention Center. Namun, bangunan itu merupakan bagian belakang panggung. Dengan kondisi seperti itu tentu saja bagian belakang panggung tidak akan menerima hujan batu besar yang terjadi di aula. Selain itu, bagian belakang panggung hanya setinggi 3 meter sehingga apabila batu besar juga terdapat di sana akan langsung memblokir jalur masuk dan tidak dengan tiba-tiba menimpa mereka. Untungnya perkiraan Sasuke tepat dan akurat.

"Biarkan kami masuk" Teriak seseorang dari luar

"Siapa itu?" Tanya Matsuri yang berada di belakang panggung

"Ini Hinata aku bersama Karin, Lee dan yang lain"

Pintu terbuka dan membuat anggota OSIS yang tersisa berkumpul di suatu ruangan menambah sesak kondisi belakang panggung yang tidak terlalu luas. Setelah berusaha membuat Yukata tersadar dari pingsannya, keheningan kembali menyelimuti mereka.

"Temari bisa kita tukar tempat? Aku tidak tahan disamping wanita ini" Ujar Karin

"Kenapa? Kau sakit hati karena semua kekuranganmu adalah fakta" Ucap Ino sambil mengerling ke arah Sakura

"Kau tidak satu level denganku wanita murahan" Karin menggenggam kerah baju Ino

"Uhh Sakura tolong aku" Ucap Ino dengan nada manja yang dibuat-buat

"Tolong hentikan, ini bukan saatnya untuk bertengkar" ucap Naruto dingin

Pertama kali semenjak mereka mengenal bocah urakan berambut pirang tersebut berbicara layaknya seorang Uchiha. Membuat rekan yang lain sedikit terkejut dan langsung bungkam. Reaksi yang wajar jika melihat seseorang yang selalu ceria dan bertingkah konyol menjadi dingin dan minim ekspresi. Hal ini menandakan bahwa Naruto sedang dalam kondisi yang benar-benar bisa membuatnya meledak dan menghajar siapapun. Sementara Sasuke terlihat paling santai karena ia sudah pernah melihat mode sikap Naruto yang jauh lebih dingin darinya.

"Sasuke-kun sekarang kita harus bagaimana?" Tanya Sakura tiba-tiba memecah keheningan

"Sebelum itu bisa kau jelaskan apa yang terjadi Sasuke?" Tanya Shikamaru dengan pandangan menyelidik

Hening sejenak tidak ada respon dari Sasuke

"Pesan yang kita terima sebelum guncangan tersebut adalah teka-teki yang cukup sulit. Meskipun begitu dalam waktu kurang dari 3 detik kau langsung dapat memecahkannya. Aku tau otakmu cukup jenius sehingga hal itu wajar-wajar saja. Tetapi melihat reaksimu yang sangat ketakutan aku tau ada hal yang kau sembunyikan" Shikamaru memaparkan hasil analisisnya

Seluruh perhatian kini tertuju kepada Sasuke, tatapan mereka mengharapkan sebuah intruksi tentang apa yang harus mereka lakukan selanjutnya serta penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sasuke menghela nafas serta mematikan handphonenya, analisis yang dikemukakan Shikamaru benar-benar tepat sasaran sehingga ia tidak bisa membantah. Onix hitam itu sedang menatap balik kepada para anggotanya. Sasuke mencoba mengumpulkan tekad

"Yang terjadi adalah..."

Tinggg (Pesan masuk di terima)

Semuanya menatap kembali layar handphone nya

"Pesan ini lagi" Keluh Matsuri kesal

"Menusuk lebih tajam dari pedang, pilih dan gunakan dengan bijak karena tidak ada dua raja di satu tempat"

"Apa maksudnya?" Tanya Choji bingung

"Aku tidak tau apa yang terjadi" Sasuke melanjutkan ucapannya

Alis Shikamaru terangkat sebelah seakan tidak percaya dengan Sasuke dan menuding bahwa sang Uchiha sedang berbohong

"Nomor yang mengirim pesan itu adalah nomor yang meneror grub kita kemarin malam. Itulah penyebab yang menjadikan aku sedikit panik" Jelas Sasuke

"Aku rasa kita harus ketempat lain, berdiam diri disini berbahaya karena bangunannya bisa saja runtuh" Saran Neji yang tidak mau melanjutkan obrolan saling tuding yang akan memperburuk kondisi mereka sendiri

"Kurasa kita harus kesekolah" Saran Naruto

"Apa kau gila? Lebih baik kita ke kantor polisi sekarang atau ke rumah, itu jauh lebih masuk akal" Protes Kiba

"Ini hanya pendapatku, tapi setelah membaca jurnal milik Shion kita di beri petunjuk tentang semua kejadian ini. Semua teka-teki yang kita terima tertulis di jurnal milik Shion dan di dalam jurnalnya ada gambar abstrak dari sekolah" Jelas Naruto

"Itu tidak masuk akal! Untuk apa kita mengikuti catatan orang yang telah mati" Kata Kiba

Naruto hanya bisa terdiam begitu juga dengan Sakura walaupun dia tahu yang dikatakan Naruto benar adanya

"Aku setuju dengan Naruto" ujar Sakon tiba-tiba

"Apa maksudmu Sakon?" kali ini Shikamaru yang bertanya

"Semua kejadian ini berlangsung tiba-tiba dan kita bahkan tidak bisa menjelaskannya dengan akal sehat. Petunjuk sekecil apapun harus kita manfaatkan untuk menghindarkan kita dari bahaya yang lebih besar" Jelas Sakon

"Hahahaha Jangan bercanda Sakon! Aku tidak setuju dengan pendapat konyolmu" Bentak Gaara

"Sadarlah Gaara, aku rasa kau telah sadar bahwa sejak gempa itu handphone kita tidak bisa digunakan sama sekali dan hanya aktif saat kita menerima pesan misterius" Ucap Naruto membuat suasana kembali hening

"Bagaimana keluarga kita?"

Temari mencoba memecah keheningan tetapi nampaknya tidak berhasil. Ucapan tersebut justru menambah pikiran teman-temannya. Keluarga yang selalu ada untuk mereka dan tempat mereka memiliki tujuan untuk pulang sekarang kondisinya tidak diketahui. Sifat egois manusia sempat muncul sangat dominan saat keadaan terdesak sehingga hanya mengutamakan keselamatan diri sendiri. Kondisi yang lebih aman membuat mereka kembali memikirkan orang-orang yang berharga bagi mereka. Keluarga, teman, guru yang kini kondisi nya pun tidak mereka ketahui

"Aku setuju dengan Naruto kurasa kita harus kesekolah sekarang"

Ucapan Sasuke menyadarkan anggotanya sembari membuka pintu keluar gedung yang terletak di belakang panggung. Pintu yang menghubungkan mereka dengan kondisi di luar. Harapan untuk meminta pertolongan sirna saat pemandangan yang mengerikan langsung terlihat, kondisi kota mereka sudah luluh lantak seperti dilanda bencana alam. Akan tetapi, Sasuke sedikit gemetar karena dari kejauhan dia dapat melihat bahwa sekolah mereka masih berdiri kokoh seakan tidak terdampak sedikitpun. Petunjuk yang diberikan jurnal Shion makin terbukti akurat dengan kondisi mereka yang sekarang.

"Kita harus bergegas sebelum ada gempa susulan" Perintah Sasuke sembari mencoba menstabilkan rasa gemetar di tubuhnya

"Apa hanya kita yang selamat?" Temari bertanya ke yang lain

"Dimana yang lain?" Sakura menyambung pertanyaan Temari

"Ku-kurasa yang lain tidak selamat" Jawab Hinata

"Termasuk Juugo dan Suigetsu" Kali ini Karin yang berbicara nada datarnya berbanding terbalik dengan genangan air mata di pipinya

"Tchh sial!" Umpat Shikamaru

"Sa-saat mereka mencoba keluar, pintu masuk sudah tertimpa reruntuhan sehingga tidak ada yang selamat. A-aku mencoba menyelamatkan mereka ta-tapi aku sendiri terkurung di toilet"

Terlihat jelas bulir air mata sudah terkumpul di pelupuk milik Hinata. Ia tampak tidak sanggup melanjutkan penjelasan atas kejadian tadi. Tanpa pikir panjang Naruto langsung menepuk puncak kepala gadis indigo tersebut

"Ini bukan salahmu Hinata-chan kami tahu kondisinya menghambatmu untuk menyelamatkan yang lain. Sekarang kita semua harus bekerja sama dan saling menguatkan diri agar dapat melalui ini semua" Ucap Naruto dengan cengiran khasnya

Naruto tahu betul kondisi Hinata beberapa saat yang lalu karena dia sendiri yang memindahkan batu-batu yang memblokir pintu toilet. Hinata tampak sangat shock dan tertekan, mungkin dikarenakan jeritan pilu yang ia dengar saat para korban merenggang nyawa. Terlebih ia hanya sendirian, sebagai sahabat merupakan kewajibannya untuk menenangkan Hinata.

"Te-terima kasih Naruto-kun" Ucap Hinata dengan rona merah menghiasi pipinya

Naruto lah satu-satunya. Hanya Naruto yang dapat menenangkan hati Hinata seberat apapun masalah yang menimpanya. Meskipun sesaat setelah Hinata mulai tenang Naruto memintanya untuk ikut bersama Sakura selagi dia menyelamatkan yang lain, ia benar-benar tidak masalah. Hinata sangat senang saat Naruto yang menyelamatkannya karena baginya Naruto adalah mataharinya.

Flashback On

"La...la...la...aku senang sekali dolaemon~~"

Senandung cempreng dari bocah berambut pirang menemani langkahnya di hari yang cerah ini, siapa lagi jika bukan Naruto.

"Kau ini sepupunya Neji yang sombong itu kan?" Suara bocah laki-laki terdengar tidak jauh dari Naruto sehingga mengundang atensinya untuk menuju asal suara

"Hiks..hiks...maafkan aku...maafkan aku" Seorang gadis indigo tampak menangis dengan sebuah es krim yang telah jatuh dan meleleh di depannya

"Enak saja minta maaf. Kau itu sudah menjatuhkan Es krim milik kami, sekarang kau sujud dan minta maaf di depan kami bertiga sekarang!" Bentak bocah berbadan besar yang sepertinya merupakan ketua dari ketiga bocah laki-laki tersebut

BUAAAGHH

Satu bogem mentah berhasil mendarat tepat di pipi bocah berbadan besar tersebut. Bocah itu langsung tersungkur dan memegang pipinya yang sakit

"Kalian ini laki-laki tapi membuat seolang pelempuan menangis, apa kalian tidak malu?" Naruto yang merupakan pelaku bertanya dengan nada datar hasil latihan meniru nada suara sahabat raven nya

"Kau ini siapa hah? Dasar ayo hajar dia" Ucap salah satu bocah laki-laki lain

Naruto yang melihat kondisi ini pun sedikit khawatir, 3 lawan 1 jelas-jelas ia tidak diuntungkan. Mundur sekarang sudah sangat terlambat lagipula ia tidak mau menanggung malu dan di cap laki-laki pengecut oleh gadis indigo di belakangnya ini. Naruto mencoba memutar otak dan berhasil mendapat ide.

"Hei, apa itu olang tua kalian?" Tanya Naruto dengan nada polos sambil menunjuk kearah belakang ketiga bocah laki-laki itu

Sontak ketiga bocah tersebut menoleh kebelakang tepat ke arah yang Naruto tunjuk. Tanpa membuang waktu Naruto langsung menarik lengan gadis dibelakangnya

"Ayo lali" Bisik Naruto mencoba tidak terdengar ketiga bocah di depannya

Melihat tidak ada siapapun dibelakang mereka, ketiga bocah itu menyadari bahwa mereka telah ditipu sontak mereka kembali mengarahkan pandangan kedepan. Naruto sudah jauh berlari di depan mereka.

"HOY TUNGGU!"

Dengan sekuat tenaga ketiga bocah laki-laki itu mencoba mengejar kedua target mereka. Sialnya setelah beberapa tikungan mereka kehilangan jejak dan hanya bisa menyerah serta meratapi kebodohan mereka.

Di salah satu gang Naruto bersembunyi berharap tidak ketahuan oleh ketiga bocah laki-laki yang mencoba mengejarnya

"Hah...hah...kau tidak apa-apa?" Naruto mencoba menstabilkan nafas

"I-iya' Jawab gadis tersebut gugup karena tangannya masih digenggam erat oleh Naruto

"Syukullah, Siapa namamu?" Naruto melepas genggamannya dan mengajak bersalaman

"Hi-hinata, Hyuga Hinata" Sapa gadis itu sembari memainkan kedua telunjuknya di depan dada

"Ehhh, sikapmu aneh sekali. Pelkenalkan namaku Uzumaki Naluto, mulai sekarang kita adalah teman"

"Te-teman?" Tanya Hinata ragu

"Iya teman. Mau ikut belmain denganku?" Ajak Naruto

"Eee-ettoo..."

Tanpa menunggu respon dari lawan bicaranya Naruto kembali menarik pergelangan tangan gadis Hyuga membuat si pemilik tangan bersemu merah. Waktu terasa berlalu begitu cepat bagi Hinata hingga ia tidak sadar kini sudah berada di taman dan Naruto melepas pegangannya.

"Naluto-kun siapa itu?" Tanya gadis yang sudah terlebih dahulu berada disana

"Ohh Shion-chan pelkenalkan ini Hinata. Ia akan belmain belsama kita sekalang" Jawab Naruto

Pandangan Shion mendelik tidak suka terhadap Hinata. Ia tidak suka Naruto 'miliknya' di dekati oleh orang lain terlebih oleh seorang gadis. Meskipun begitu ia mencoba menutupi ketidaksukaan nya dengan mencoba bersikap baik. Shion tidak mau Naruto berpikiran bahwa dirinya adalah orang jahat

"Hm, Kenalin namaku Shion" Ucap Shion ketus meskipun baginya itu adalah nada ramah

"A-aku Hinata, salam kenal" Ujar Hinata dengan pandangan takut-takut ke arah Shion

Shion tidak melanjutkan obrolannya dengan Hinata karena kini perhatiannya tertuju ke arah lain. Sahabatnya yang lain yakni Sasuke terlihat berjalan dengan seorang gadis bersurai yang bagi Shion seperti gulali basi.

"Oyyy Sasuke siapa yang bersamamu itu, Pacarmu ya?" Ujar dengan Naruto dengan senyum jahilnya

Gadis bersurai pink di sebelah Sasuke langsung salah tingkah dengan pipi merona merah mendengar tuduhan Naruto

"Ck, jangan sembalangan Naluto. Pelkenalkan ini Sakula, dia adalah tetangga baluku. Kebetulan saat aku menuju kesini aku beltemu ibunya dan memintaiku untuk mengajak Sakula belmain belsama" Jelas Sasuke

"Ha-halo semuanya namaku Sakura. Salam kenal" Ucap Sakura yang masih merona akibat tuduhan Naruto

"Namaku Naluto, salam kenal"

"A-aku Hinata"

"Hn, Shion"

Mood Shion sangat buruk hari ini, kedua gadis yang sekarang menjadi teman baru kedua sahabatnya adalah penyebabnya. Hal yang paling Shion takutkan ialah dirinya akan tergantikan oleh orang lain, ia tidak ingin itu terjadi. Oleh karena itu, untuk menenangkan dirinya ia pamit pulang kepada kedua sahabatnya dengan alasan tidak enak badan. Selain itu, untuk menguatkan posisinya sebagai satu-satunya sahabat perempuan yang Naruto dan Sasuke miliki, Shion melakukan hal yang paling bertentangan dengan karakternya selama ia hidup

CUP

Ya benar Shion mencium Pipi Uzumaki Naruto

"Tidak usah mengantarku pulang aku bukan gadis manja. Jaa Papa~~"

Shion berlalu pulang sembari melambaikan tangan dengan ekspresi ceria. Ia meninggalkan keempat bocah di taman tersebut yang sedang memasang tampak terkejut mereka. Khusus untuk Naruto kini wajahnya merona hebat dan pikirannya melayang menuju dimensi yang tidak pernah ia bayangkan. Pikiran Naruto sekarang dipenuhi oleh anggapan bahwa Shion benar-benar bertekad untuk menjadikan hubungan mereka sebagai suami-istri di masa depan.

Flashback Off

Menghentikan otaknya untuk terus memutar memori nostalgia. Dia berdiri dari kursi yang dia duduki dan memandang ke bawah dengan tatapan penuh arti.

"Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kalian Sasuke dan Naruto-kun"

TBC

Author Note's : Halo sudah lama kita tidak bertemu. Elevtron hanya mau mengucap syukur cerita ini sudah memasuki phase 1 hehehe. Mohon doanya saja biar bisa sampe terselesaikan. Oke Elevtron gak mau panjang-panjang so mohon kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari. Elevtron juga akan sangat menghargai review yang kalian berikan apapun itu.

Hope you enjoy it

Well see u in the next chapter

x

x

x