Chapter 8 : Counting death
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
As you wish © Elevtron
Rating : T
Genre : Adventure, Tragedy
Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.
Pairing : Coming Soon
Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?
Tidak ada yang berbicara di sela perjalanan mereka, hanya obrolan antara beberapa individu yang membunuh keheningan disitu. Sasuke bersama rekan-rekannya mencoba melangkahkan kaki dengan benar menuju tujuan mereka yaitu Konoha Gakuen. Setelah terjadi keributan kecil yang menghambat perjalanan mereka karena kondisi histeris melihat se-antero kota Konoha luluh lantak serta ketidak berdayaan mereka menghubungi keluarga, polisi ataupun orang lain yang diakibatkan oleh malfungsi nya perangkat elektronik yang mereka miliki. Smartphone yang seakan menjadi kebutuhan pokok mereka kini bagai sebuah bangkai yang tidak berguna. Perangkat elektronik tersebut tidak bisa menjalankan fungsinya selain menerima pesan dari nomor misterius yang belakangan ini seakan meneror para anggota OSIS dengan kejadian-kejadian aneh selama beberapa hari kebelakang. Menelusuri jalanan kota Konoha yang seperti kota mati, mereka mencoba meniti harapan untuk menyelamatkan diri.
"Naruto-senpai" Bisik Matsuri
"Kenapa?"
"Apa kau berpikir bahwa ini ulah Shion-senpai?" Tanya Matsuri konsisten dengan volume suara yang kecil
"Apa maksudmu?" Naruto bertanya balik tidak paham dengan maksud Matsuri
"Dari penjelasanmu aku bisa simpulkan bahwa semua kejadian ini sudah ada di jurnal milik Shion-senpai, terlebih beberapa kejadian ini berbau supranatural. Contohnya apa yang terjadi di grub kita kemarin malam" Jelas Matsuri
"Kurasa kau benar, tetapi ada hal yang lebih membuatku bingung" Tatapan Naruto menjadi ragu
"Ohh ya, apa itu?" Tanya Matsuri ingin tahu
"Kenapa Sasuke membakar jurnal milik Shion?"
Tatapan Naruto tertuju ke punggung tegap milik Sasuke seakan ingin membaca pikiran wakil ketuanya tersebut. Akan tetapi, Sasuke tidak menyadari itu karena tatapannya hanya tertuju kepada tempat tujuan mereka yaitu gedung sekolah. Selain itu, kenangan yang tidak ia inginkan tiba-tiba terlintas di kepalanya membuat ia mau tidak mau terlarut dalam pikirannya sendiri.
"Hei bukankah itu Ukon?" Tunjuk Lee ke sebuah sosok di depan mereka
"Syukurlah tuhan! Hei Ukon bagaimana keadaan ayahku?" Tanya Gaara yang sejak tadi tidak berhenti mengkhawatirkan ayahnya. Namun, saat hendak menghampiri Ukon
"Tunggu Gaara, lihat baik-baik kondisinya. Kurasa bukan ide bagus menghampirinya" Ucap Shikamaru sambil menahan lengan Gaara
Tepat di depan mereka berdiri seorang berpakaian pasien rumah sakit dan berperawakan menyerupai Ukon. Namun, sosok itu berdiri dengan posisi yang aneh dengan beberapa posisi anggota tubuh yang tidak masuk akal. Apabila makhluk di depan mereka tidak berperawakan seperti Ukon, mereka akan mengira bahwa sosok di depan mereka adalah pejalan kaki yang ditabrak sehingga beberapa tulangnya bergeser dari posisi yang seharusnya. Keraguan Shikamaru bahwa sosok di hadapan mereka bukanlah Ukon semakin menguat karena sosok itu menghadap kebawah sehingga wajahnya tertutupi serta membawa sebilah besi tajam.
"Ukon, kau baik-baik saja?" Sakon berniat menghampiri adiknya
"Sakon, sebaiknya jangan..." Ucap Sasuke menahan Sakon
"Dia Adikku!" Bentak Sakon menepis tangan Sasuke
Sakon terus berjalan mendekati Ukon sementara teman-temannya sangat khawatir dan takut dengan kondisi teman mereka saat ini.
"Maafkan aku meninggalkanmu Ukon, ayo ikutlah bersama kami ke tempat yang lebih aman" Ajak Sakon sambil menepuk bahu adik kembarnya tersebut
"UGHHHH" Suara Sakon seiring sebilah besi menembus jantungnya
"UKON APA YANG KAU LAKUKAN?" Teriak Gaara tidak percaya. Sementara yang lain begitu shock hingga tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun.
Tubuh Sakon sudah tergeletak di tanah sementara sosok itu mengangkat kepalanya membuat seluruh anggota OSIS yang tersisa kaget setengah mati. Kondisi wajahnya seperti korban kebakaran, melepuh dan gosong sehingga sulit untuk menebak rupa wajahnya.
"Dia mendekat!" Teriak Sara
"Semuanya lari!" Perintah Shikamaru akan tetapi terlambat sosok itu sudah terlebih dahulu melompat dan menangkap Choji
"Arghhh, tolong aku!" Ucapnya panik
"Makhluk sialan, cepat lepaskan"
Sasuke mencoba mendorong makhluk itu tetapi gagal. Energi yang dimiliki oleh sosok tersebut sangat besar seperti monster.
BRUKKKK
Hantaman batu tepat mengenai sosok itu sehingga membuatnya terkapar dan cengkeramannya pada Choji terlepas
BRUKK BRUKK BRUKK
"Hey Naruto, hentikan kepalanya sudah hancur" Ucap Sasuke yang sudah terduduk lemas
"KENAPA KALIAN DIAM SAJA HAH?" Emosi Naruto meledak melihat teman-temannya justru lari dan terdiam tanpa niat menolong Choji
Tidak ada suara, tidak ada yang berani merespon Naruto, semuanya tertunduk dan diam sehingga menciptakan keheningan di antara mereka.
"Aku sudah muak, aku akan pergi dari sini" Ucap Kiba berjalan ke arah berlawanan dari tujuan awal mereka yaitu Konoha Gakuen
"Kiba kau mau kemana? Kita harus mengikuti petunjuk di jurnal Shion" Sakura mencoba mencegah kepergian Kiba
"Persetan dengan itu! Apa kau tidak sadar akibat kita mengikuti jurnal itu selama ini? Benda itu hanya membimbing kita ke maut" Bentak Kiba tanpa menghentikan langkahnya
Tingg (Pesan masuk diterima)
Cegah Kiba atau dia akan bergabung dengan Sakon
"Kiba kau harus berhenti! Lihat handphonemu" Sakura mencoba memperingatkan Kiba yang telah berjalan jauh
"Omong kosong!" Umpat Kiba sambil membuang handphonenya
Suara gemuruh terdengar kembali, entah berasal dari mana sebuah bangunan tiba-tiba saja muncul dari dalam permukaan tanah. Belum cukup sampai disitu, bangunan tersebut langsung runtuh ke arah Kiba.
"Tidak, aku tidak mau mati!" Ucap Kiba sambil berlari
Kiba berlari sekuat tenaga dari tempat itu. Akan tetapi, secepat apapun langkah kakinya reruntuhan bangunan itu tetap menimpanya bertubi-tubi
"Kiba astaga" Ten-ten terduduk lemas bahkan tenaganya sudah tidak tersisa untuk menangis
BUGHH
"Brengsek apa yang kau lakukan?" Sasuke mengumpat
"Sebaiknya kau mengaku sekarang atau terpaksa aku memukulmu lagi" Ujar Neji dingin
"Apa yang kau bicarakan Neji?" Tanya Choji seraya menahan tubuh Sasuke yang hendak membalas pukulan Neji
"Apa kalian tidak sadar? Bagaimana Sasuke bisa tau bahwa di belakang panggung adalah tempat yang aman? Selain itu, Sasuke lah yang dahulu paling dekat dengan Shion" Jelas Neji
Tidak ada yang salah dengan perkataan Neji. Shion tidak terlalu dekat dengan para anggotanya, hubungan mereka hanya seperti hubungan profesional rekan kerja. Hal itu membuat para anggotanya tidak terlalu mengenal pribadi Shion. Selain itu, Shion juga hanya berbicara seperlunya dan selalu memasang wajah datar bagai boneka. Sikapnya yang seperti itu membuatnya tidak dekat dengan siapapun. Hanya Sasuke dan Naruto lah sebagai sahabat masa kecil yang cukup sering berbicara dengan Shion. Tetapi, siapapun pasti mengetahui kalau obrolan yang mereka lakukan selalu memiliki topik pembicaraan yang serius mengingat ekspresi datar yang selalu mereka gunakan terkecuali Naruto dengan tampang idiot miliknya. Meskipun, setahun kebelakang terlihat lelaki pirang itu sudah jarang berinteraksi dengan Shion yang alasannya tidak mereka ketahui.
"Kalau begitu, kita juga harus bertanya pada Naruto" Ucap Temari
"Aku setuju, Naruto sudah membaca jurnal milik Shion sehingga dia pasti mengetahui bahwa hal ini akan terjadi tetapi dia tidak memberi kita peringatan" Sambung Karin
"Itu tidak benar, isi jurnal Shion adalah teka-teki membingungkan sehingga tidak mungkin Naruto bisa memprediksi apa yang terjadi hari ini" Ucap Sakura membela
"Bagaimana kau bisa tau?" Tanya Sai curiga
"Soal i-itu..."
"Maafkan aku, ini semua salahku" Potong Sasuke
"Tch, apa kau pikir permintaan maafmu dapat membuat mereka hidup hah?" tanya Neji sarkas
" Pesan yang kita terima 'Menusuk lebih tajam dari pedang' adalah kata-kata, kemudian 'tidak ada dua raja di satu tempat' Maksudnya adalah kebenaran dan kebohongan, karena aku telah berbohong kepada kalian dari awal aku tidak bisa mengatakan kebenaran. Jika aku mengatakannya aku akan bernasib sama seperti Kiba" Jelas Sasuke
"Selama 2 tahun ini aku mempercayai dan menghormatimu, Jika bukan karena apa yang terjadi pada Kiba aku pasti sudah pergi dari sini. Kau harus sadar keegoisanmu itu sudah membuat teman-teman kita terbunuh" Ucap Neji sambil membuang muka
"Kurasa aku bisa" Ucap Sakura
"Apa maksudmu Forehead?" Tanya Ino
"Dengarkan aku dulu Pig. Huh, begini aku belum pernah membicarakan apalagi berbohong tentang isi jurnal itu jadi kurasa tidak akan ada masalah, Naruto berikan jurnalnya" Perintah Sakura
Jurnal yang berada di tangan Naruto ia serahkan pada Sakura. Ada perasaan lega di dalam dirinya saat jurnal tersebut sudah terlepas dari genggamannya. Sebenarnya ia menolak saat diminta membawa jurnal tersebut, hanya saja keberadaan petunjuk yang tetap mereka butuhkan membuatnya terpaksa membawanya. Apalagi saat tidak ada orang lain yang berani, terlebih saat ia mencoba untuk protes si-Teme dengan santainya berucap "Kau kan sudah pernah membawanya. Jadi walaupun ada kutukan di jurnal itu, kau sudah kebal" membuatnya tidak bisa membantah lagi dan hanya mengumpat dalam hati. Ingin rasanya dia memukul wajah datar yang mengesalkan itu, mungkin nanti ia akan berterima kasih kepada Neji yang telah menyalurkan rasa kesalnya.
" 'Pohon apel bersemi di halaman dan tanaman rambat melekat di pagar' ada yang tau artinya?" Tanya Sakura
Hening seketika. Tidak ada yang bisa menjawab teka-teki yang ada di jurnal Shion
"Kurasa kita pikirkan di perjalanan saja, untuk sekarang kita harus ke sekolah sesuai petunjuk di jurnal Shion" Kata-kata Shikamaru menetralkan suasana
Rombongan itu kembali berangkat menuju ke tujuan mereka yaitu sekolah. Akan tetapi, kali ini Sakura yang berjalan di depan sebagai pembawa jurnal Shion sedangkan Sasuke dan Naruto berada di posisi paling belakang.
SREEK SREEK
"Suara apa itu?"
Tidak ada yang merespon pertanyaan Sara karena sisa anggota OSIS yakin pertanyaan tersebut telah terjawab dengan kejadian di depan mereka. Bongkahan batu maupun kerangka kayu atau besi tidak menghalangi para zombie untuk bangkit. Kondisi yang familiar saat mereka melihat apa yang menimpa Ukon. Hal ini membuat mereka menarik suatu kesimpulan bahwa seluruh penduduk kota telah berubah menjadi makhluk mengerikan yang tidak mempunyai hati naruni. Hal yang lebih buruk ialah saat ratusan mayat hidup mencoba mendekati mereka sembari memungut benda yang bisa mereka jadikan senjata untuk membunuh.
"SEMUANYA LARI!"
Teriakan Neji menyadarkan teman-temannya dari perasaan teror yang membuat tubuh mematung. Dengan reflek secepat kilat, mereka berlari sekuat tenaga.
"Sial! Ternyata lari mayat hidup itu cepat sekali!" Umpat Naruto tidak menyangka zombie itu bisa berlari
BUAAGHHH
Neji memberikan hantaman kepada mayat hidup yang menghalangi jalan mereka menggunakan balok kayu yang tadi ia pungut. Kejadian ini seperti film hollywood yang ia tonton dimana karakter utama dikejar oleh mayat hidup dari seluruh penjru kota. Jujur dulu ia pernah membayangkan pasti keren apabila bisa mengalami kejadian tersebut. Sekarang Neji ingin memberitahu kepada dunia bahwa hal itu sama sekali tidak keren. Neji sangat membenci versi dirinya ketika masih kecil yang masih begitu polos dan bodoh. Tentu saja ia hanya membayangkannya, sampai Hiashi-sama memiliki menantu seorang pahlawan pun Neji tidak akan mengakui kekurangan di dalam dirinya kepada orang lain. Harga diri seorang Hyuga, begitu pikirnya.
"Naruto cepat tutup pintunya!" Perintah Sasuke
"Ck, aku tau Teme"
Naruto dengan segera menutup pintu gerbang sekolah mereka tepat sebelum sosok mengerikan yang sedari tadi mengejar mereka merangsek masuk. Naruto sempat merasakan tarikan di rambut pirangnya akibat tangan zombie yang begitu bernafsu ingin mengambil nyawanya. Dengan reflek ia menepis tangan zombie tersebut sekuat tenaga. Kenapa sekuat tenaga? Karena energi yang digunakan makhluk ini begitu luar biasa hingga Naruto merasa bahwa kulit kepalanya akan robek. Langsung duduk dengan nafas terengah-engah setelah cengkraman zombie itu lepas, Naruto melirik ke arah belakang tepat di lokasi teman-teman nya yang lain. Kondisi mereka tidak berbeda dengan Naruto yang begitu takut serta dengan nafas terengah-engah mencoba menstabilkan deru nafas yang memburu. Lihat, bahkan ada yang terlihat hampir pingsan seperti Choji atau hanya berbaring seakan-akan hendak tidur seperti Shikamaru. Setelah merasa bahwa deru nafasnya sudah agak normal Naruto langsung berdiri dan menuju teman-temannya. Hingga sebuah suara membuat langkah terhenti.
Tinggg (Pesan masuk diterima)
Pohon apel dan tanaman rambat tidak menerima tamu hehehe...
'Hah, apa maksudnya?' Batin Naruto bingung melihat pesan yang diterima olehnya
"NARUTO DIBELAKANGMU!"
Terlambat, teriakan Sasuke begitu terlambat ketika Naruto membalikkan badannya dan langsung disuguhi pemandangan mayat hidup yang menyeringai sembari mengayunkan balok kayu menuju kepalanya. Naruto berpikir, bagaimana bisa? Seharusnya seorang mayat hidup tidak mengetahui cara membuka gerbang yang terkunci. Meski singkat ia masih dapat melihat beberapa zombie berhasil masuk dengan cara memanjat dinding pembatas sekolah. Jadi begitu, syukurlah paling tidak Naruto akan terhindar dari nasib menjadi arwah penasaran. Bicara soal nasib tiba-tiba Naruto merindukan sahabat masa kecilnya yang bisa menebak nasib seseorang. Ahhh tidak Naruto sangka ia akan bertemu kembali dengan sahabatnya secepat ini, apakah ia akan ditampar? Haha memikirkannya membuat Naruto sedikit meringis. Kini yang bisa ia lakukan hanya memejamkan mata berharap bahwa rasa sakit akibat kontak fisik dari balok kayu yang sebentar lagi menghancurkan kepalanya akan segera menghilang.
TBC
Author Note's : Yaps Update terbaru dari cerita ini. Disini Elevtron mau memastikan apakah para readers mendeteksi plothole sejauh cerita ini berjalan?. Jika ada mohon disampaikan di kolom review karena mungkin saja Elevtron terlalu asik menulis sehingga melupakan satu atau dua konflik. Berhubung cerita ini sudah mulai masuk ke konflik utama maka akan susah untuk callback kembali konflik di chapter sebelumnya yang secara tidak sengaja Elevtron lupakan. Jadi jika readers merasa gagal paham atau mendeteksi plothole kolom review selalu terbuka bagi kalian. Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.
Hope you enjoy it
Well see u in the next chapter
x
x
x
