Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
WARNING! Typo(s), OOC, Gaje, Crack Pairs, Alur dan Konflik yang tak jelas serta Penempatan tanda baca yang tidak sesuai dan banyak sekali kesalahan-kesalahan lainnya.
G : Gosip
Sudah biasa untuknya mendengar perkataan-perkataan miring tentang dirinya yang dilayangkan oleh beberapa penduduk desa, ia hanya bisa tersenyum dan diam ketika tak sengaja mendengarkan apa yang sedang orang-orang itu bicarakan tentangnya, bahkan mungkin orang-orang itu sengaja untuk memperbesar volume suara mereka agar terdengar olehnya.
"Lihatlah betapa tak tahu malunya ia berjalan dengan perut besarnya itu."
"Hahaha kau benar! Ku rasa ia berhasil menggoda Minato-sama agar menidurinya!"
"Ahhh atau mungkin bayi yang sedang ia kandung itu bukan bayi Minato-sama!"
"Mana mungkin Minato-sama mencintainya! Ia hanyalah bocah kecil untuk Minato-sama."
Hahhh~
Ino menghela napas panjang ketika beberapa orang yang ia jumpai di toko bahan makanan itu mempergunjingkannya yang kini tengah mengandung 5 bulan hasil hubungannya dengan Minato.
Apakah mereka melupakan jasanya bersama ninja-ninja lain saat Perang Dunia Shinobi demi Desa ini? teganya orang-orang itu berkata yang bukan-bukan tentangnya.
Hormon sialan!
Ia tak ingin menangis namun air matanya kini mendorong untuk keluar. Tidak! Dia bukan orang yang lemah bukan?!
Dengan cepat ia memasukkan bahan-bahan makanan yang ia butuhkan dan menuju kasir, "Ino-sama . . ." Sapa seorang gadis berambut cokelat padanya ramah.
"Kana-chan! tolong antarkan semua ini ke rumah ya, aku rasa aku sedang tidak enak badan dan akan kubayar semuanya di rumah nanti." Ungkap Ino pada sang gadis yang tersenyum ramah padanya.
Ia mengangguk mengerti, "Aku akan mengantarnya ke rumah anda Ino-sama dan menyuruh Ryu-nii untuk menjaga toko!"
Ino tersenyum dan mengacak rambut bocah berusia 12 tahun itu gemas, "Terimakasih Kana-chan. kalau begitu aku pulang dulu ya."
Dengan memegangi perutnya yang mulai membesar, wanita Yamanaka itu berkali-kali menghela napas panjang dalam perjalanannya pulang ke kompleks Hokage.
Sejak kapan ia mempedulikan gosip tentang dirinya? Sejak kapan ia membiarkan kata-kata orang itu menumbangkan dirinya, sedangkan orang-orang itu tak mengetahui apapun tentang dirinya dan Minato?
Semampunya ia mengenyahkan pikiran-pikiran itu namun nyatanya ia kini menangis. Segera setelah sampai dirumah yang ia tempati bersama Minato dan Naruto itu ia menutup pintunya rapat, tak mengindahkan Minato yang menatap kedatangannya dengan dahi yang berkerut. Bingung.
"Ino . . ." panggil Minato pada wanita yang bahkan belum ia nikahi meskipun kini wanita itu tengah mengandung anak mereka.
Ino tak menyahut. Ia seakan menutup rapat telinganya dan berlalu, menaiki anak tangga demi anak tangga menuju kamarnya bersama Minato.
"Huh?" Minato menaikkan satu alisnya, "Ada apa dengannya?"
Pria jabrik itu sudah akan menyusul Ino ke atas jika ia tak mendengar suara ketukan pada pintunya, mengindahkan rasa penasarannya tentang apa yang terjadi pada Ino, ia kemudian membalikkan badannya untuk membuka pintu kayu berwarna cokelat itu.
"Ohh?" ia nampak terkejut dengan kedatangan putri pemilik toko yang ia ketahui cukup dekat dengan Ino itu, "Kana-chan?"
"Hehehe, selamat siang Minato-sama," Sapa bocah itu ceria, "Aku mengantarkan barang belanjaan Ino-sama." Kana menunjukkan dua buah kantong yang ia tenteng dengan cengiran khas miliknya ia masuk ke dalam rumah dan meletakkan barang belanjaan Ino tadi di atas meja.
"Kau tahu apa yang terjadi pad Ino-sama, Kana-chan?" tanya Minato pada gadis itu.
Kana mengangguk, "Ino-sama datang ke meja kasir dengan menahan tangisnya, Minato-sama," bocah itu berkata dengan polosnya, "Ia mengeluh sedang tidak enak badan dan menyuruhku untuk mengantar belanjaannya ke rumah juga akan memberikan uangnya di sini, tapi . . ."
"Tapi apa Kana-chan?"
"Ada beberapa orang yang membicarakan tentang anda dan Ino-sama, tentang kehamilan Ino-sama dan … ah! Maafkan aku Minato-sama, aku sudah terlalu cerewet." Keluh gadis itu dengan menepuk dahinya pelan, "Aku harus segera pulang."
Mendengar pernyataan gadis cilik itu mau tak mau Minato tersenyum dan mengacak rambut cokelat gadis itu, "Sampaikan salamku untuk ayahmu, ini uang belanjanya dan sedikit uang saku untukmu!"
"Whaaaaa! Terimakasih Minato-sama!" pekik gadis kecil itu ceria, "Baiklah, aku pulang dulu." Dengan ceria gadis itu berlari keluar rumah meninggalkan Minato yang tertawa kecil dengan tingkah bocah itu.
Putrinya nanti pasti akan seperti Kana yang ceria, mungkin.
Ia menarik napasnya panjang dan memutuskan untuk menyusul Ino ke atas dan membawakannya Ginger Tea dan Ginger Cookies.
Gosip lagi?! Sampai kapan mereka akan berurusan dengan gosip murahan seperti itu? inilah yang ia takutkan selama ini, perkataan orang-orang tentang Ino.
Salahnya yang tak bisa menahan diri untuk menyentuh wanita itu, salahnya yang tak segera menikahi wanita itu.
Menikah?
Minato menelan ludahnya demi memikirkan sebuah pernikahan bersama Ino.
Tapi ia benar-benar tidak suka ketika harus mendengarkan perkataan orang tentang Ino, mengapa selalu Ino yang disalahkan sedangkan ia yang bersalah dalam hal ini.
"Ino . . ." ia membuka pintu kamar dan menemukan Ino yang tengah menghapus air matanya.
"Minato-kun!" ucapnya serak.
Keadaannya tak jauh lebih baik dengan bersandar di dashboard ranjang ia nampak berantakan, matanya sembab dengan jejak-jejak air mata yang menghiasi pipinya.
Minato berjalan mendekat, meletakkan ginger tea dan ginger cookie di meja kecil di samping ranjang yang kini tidak ditempatinya sendiri. Pria itu duduk di tepi ranjang, memandang dengan seksama sosok pirang di hadapannya, "Aku tidak mau anakku menjadi cengeng karena ibunya selalu menangis saat mengandungnya."
"Aku tidak menangis!" sergah Ino mengerucutkan bibirnya.
"Benarkah? Lalu ini apa?" Minato menghapus jejak-jejak air mata di pipi Ino dengan kedua tangannya, Pria pirang itu tertawa geli demi melihat ekspresi ibu dari calon anaknya itu.
"Aku tidak menangis, Minato-kun!" keluh Ino, gadis itu membelai perutnya yang mulai membesar, "Dan anakku tidak akan cengeng! Aku tidak cengeng!" sergah Ino pada Minato kemudian menagambil ginger tea yang diletakkan Minato di meja kecil dekat ranjang.
"Tapi semenjak bersamaku kau menjadi cengeng."
Minato menggoda Ino yang sedang meminum ginger tea-nya, "Kau kenapa, Minato-kun?" tanyanya setelah puas menghabiskan minuman itu tanpa sisa dan kembali meletakkan gelas kosong itu kembali pada tempatnya.
"Siapa yang membicarakanmu? Apa yang mereka bicarakan tentangmu?"
"Huh? Apa maksudmu?"
"Jangan menyembunyikan semuanya dariku! Sudah cukup, Ino! aku akan membuat perhitungan kepada mereka."
"Minato-kun …" Ino menggenggam tangan Minato erat, menggelengkan kepalanya agar sang pria Namikaze itu dapat menahan emosinya, "Aku bahagia sekali bahwa kau peduli padaku."
Ino melepaskan genggamannya pada Minato, merentangkan kedua tangannya agar Minato memeluknya, namun pria itu hanya memandangi wanitanya membuat Ino mengerucutkan bibirnya sebal, "Minato-kun!" rengeknya.
Menyebalkan sekali.
Tak mendapatkan respon dari sang 'kekasih' Ino kemudian mengelus perutnya lembut, "Lihatlah, nak! Otou-san benar-benar tidak mencintaimu, meskipun ia tidak mencintai ibu setidaknya ia harus mencintaimu bukan?"
"Ino . . ." Minato menggelengkan kepalanya dan memeluk wanita pirangnya erat.
Apa dia mencintai wanita ini? apa wanita ini telah berhasil merebut hatinya?
Maafkanlah dirinya yang terlalu egois ini, nyatanya bayang-bayang Kushina masih menghiasi hati dan pikirannya. Ia benar-benar merasa bersalah pada Ino, tapi benarkah ia tidak mencintai Ino padahal ia telah menyentuh wanitanya ini?
Ia tak akan pernah melakukan hal itu jika ia memang benar-benar tidak mencintai wanita dalam pelukannya ini, apakah kini ia telah mencintai Ino sepenuhnya?
"Maafkan aku! Maafkan aku! Maafkan aku!"
"Uh?" Ino mendongakkan kepalanya untuk memandang pria yang ia cintai, kedua mata yang mempunyai warna senada itu saling memandang, seakan menyelami perasaan masing-masing.
"Maafkan aku karena aku telah membuat posisimu semakin sulit."
"Dan kau menyesali keberadaan Minoru-kun?"
Minato membulatkan matanya bingung dan terkejut, "Mi-Mi-Minoru . . .?"
Ino menganggukkan kepalanya, tak ingin memandang wajah tampan milik Minato lebih lama ia memilih untuk mendengarkan detak jantung prianya itu, "Boleh ku beri nama anak ini Minoru? Minato, Ino dan Naruto hahahaha."
"Apakah Naruto turut andil dalam pembuatannya?" goda Minato yang membuat Ino melepas pelukannya dan cemberut "Apa kau tidak ingat apa yang telah kau lakukan malam itu hingga membuatku seperti ini?" Ino memandang prianya itu dengan ekspresi yang sulit diungkapkan membuat mau tak mau Minato merebut ciuman dari bibir tipis sang wanita Yamanaka itu.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Ino di sela ciuman mereka.
"Huh?"
"Aku mengerti." Ino mengembangkan senyum palsu, mirip sekali dengan senyuman milik Sai dan melepaskan pelukannya dari tubuh kekar milik mantan Hokage keempat itu.
Perasaan memang tak bisa dipaksakan bukan? ia sangat mengerti itu, setidaknya Minato membiarkannya untuk hidup dibawah satu atap yang sama bersama dengannya juga bertanggung jawab dengan benih yang ia tanam pada dirinya.
Ia sudah cukup bahagia dengan semua ini, bahagia mengetahui bahwa pria itu peduli padanya dengan ekspresi kemarahannya saat mendengar gosip-gosip tentang dirinya.
"Aku mencintaimu, Minato-kun!" ucapnya ceria.
Yamanaka Ino akan segera beranjak dari ranjangnya jika tangan besar milik Minato tak mencengkram pergelangan tangannya kuat, "Menikahlah denganku!"
Huh?
Ino terduduk mematung. Apakah Minato baru saja mengajaknya menikah? Apakah telinganya sedang tidak bermasalah?
"Aku tidak akan membiarkan orang-orang itu menghinamu lagi! Menghina ibu dari putraku! Aku tidak akan mungkin membiarkan apa yang terjadi pada Naruto terjadi pada Minoru juga, menikahlah denganku, Ino."
Menikah dengannya? Tanpa cinta?
Ino menghela napas panjang, "Aku mau Minato-kun!"
Wanita itu tersenyum cerah, mendekatkan wajahnya pada wajah Minato dan mencium singkat bibir milik pria itu "Demi Minoru-kun dan cintaku padamu, aku tak peduli bahwa mereka membicarakanku seperti apa! Sejak awal ini telah menjadi keputusanku untuk mengejarmu, untuk mencintaimu dan menyerahkan semuanya padamu," Ino kembali mencium bibir sang pria Namikaze "Jangan menyalahkan mereka karena mereka membicarakan hal buruk tentangku, sungguh aku tidak peduli karena aku tidak pernah merebutmu dari siapapun bukan? aku tidak akan menyuruhmu untuk melupakan kenangan tentang Kushina, aku juga tidak akan memintamu untuk mencintaiku lagi! Biarkan semua mengalir hingga kau mampu memberiku cinta sebesar cintamu pada Kushina."
Wanita itu memeluk Minato erat seakan tak ingin melepaskan pria itu yang kemudian dibalas pelukan prianya itu tak kalah erat.
Cinta? Apakah Minato bisa mencintainya nanti?
Ia sendiri tak tahu, hanya mampu berharap bahwa Minato akan segera membalas perasaannya dan gosip murahan tentang dirinya itu segera lenyap.
.
.
.
.
THE END (See Ya In H Series) ^^
I'm back with G Series. Maaf kalau ceritanya aneh dan semacamnya, salahkan ke-BaPer-an yang sedang melanda ini xD.
Ada ide untuk 'H'? :v
Terimakasih banyak untuk semua saran dan review yang masuk .
ENJOY ^^
#VALE
