Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

As you wish © Elevtron

Rating : T

Genre : Adventure, Tragedy

Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.

Pairing : Coming Soon

.

Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?

.

.

.

Chapter 9 : [Beginning Of The Game]

.

Hening.

'Apa aku sudah mati? Kenapa rasanya tidak sakit sama sekali?' Ucap Naruto dalam hati

Perlahan Naruto membuka mata, alisnya naik sebelah pertanda kebingungan. Sosok mayat hidup menyeramkan di depannya tiba-tiba saja menghilang. Kembali ia melirik ke arah dinding pembatas sekolah dimana para teman dari sosok mayat hidup di depannya barusan berubah menjadi debu sesaat sebelum mereka menginjakkan kaki di halaman Konoha Gakuen. Semua manusia disana kembali mematung sangking terjekutnya.

"A-apa yang terjadi?" Tanya Hinata kepada semua orang

"Ahh aku tidak mengerti. Kepalaku pusing" Sara memegang kepalanya yang berdenyut dikarenakan kejadian yang terjadi

"Buang handphone kalian" Ucap Neji tiba-tiba mengundang reaksi beragam dari teman-temannya

"Apa? Kenapa kami harus begitu?" Protes Ino menandakan bahwa dirinya tidak setuju dengan usul Neji

"Teka-teki yang Sakura tanyakan tadi aku sudah mengetahui artinya"

"Apa yang Neji-senpai bicarakan?" Tanya Yukata

"Pohon apel yang bersemi dan tanaman rambat di pagar itu semua hanyalah salah satu diantara kejadian alam. Sebenarnya bisa saja menggunakan perumpamaan lain tetapi yang namanya teka-teki tentu harus sulit ditebak. Kedua perumpamaan yang merupakan kejadian alam tersebut hanya bisa dikendalikan oleh satu makhluk yaitu-"

"Tuhan" Ucapan Neji terpotong oleh Sasuke

Neji hanya mengangguk kecil sebagai isyarat akan jawaban Sasuke. Perlu diketahui bahwa mereka tidak saling bertegur sapa setelah Neji memberikan hadiah kecil yang masih membekas di pipi sebelah kanan milik Sasuke. Meskipun begitu, mereka harus profesional apalagi sekarang tengah berada di dalam kondisi yang bisa mengancam nyawa

"Itu artinya semua yang terjadi disini adalah kehendak Tuhan dan tidak ada yang bisa kita lakukan mengenai itu. Kehadiran kita disini juga adalah kehendak Tuhan. Aku menyadarinya saat mengamati para zombie yang bisa kita katakan sebagai pihak luar, tiba-tiba berubah menjadi debu setelah masuk kesini. Oleh karena itu, jika kita membawa handphone itu berarti kita membawa akses untuk orang lain untuk bergabung bersama kita." Sambung Neji

"Dan Tuhan tidak akan menyukainya" Tandas Shikamaru yang kini telah duduk setelah sebelumnya berbaring untuk menatap awan

Neji kembali memberikan anggukan kecil kepada Shikamaru seakan membenarkan apa yang dikatakannya. Kalimat yang dilontarkan Shikamaru secara tidak langsung semakin memperkuat argumen Neji. Namun, masih banyak sorot ragu di wajah teman-temannya. Neji yang melihat itu kembali membuka suara

"Aku sudah membuang handphone ku dan tidak terjadi apa-apa pada diriku"

Neji menunjuk ke arah barat tempat dimana handphonenya mendarat setelah ia lempar. Melihat itu semua anggota OSIS yang tersisa mengikuti apa yang dilakukan Neji. Lagipula benda elektronik itu tidak berguna lagi bagi mereka, mengingat fungsinya kini hanyalah perantara bagi pesan misterius yang terus meneror tanpa henti. Kejadian selanjutnya adalah hal yang tidak pernah mereka duga, tidak berselang beberapa lama handphone tersebut terlihat melayang dan terbelah menjadi serpihan-serpihan kecil

"Sekarang kalian percaya kan?" Tanya Neji dengan nada sombong

"Sangat tidak bisa dipercaya" Ujar Gaara sambil memegang kepalanya

"Semua kejadian hari ini sudah diluar akal sehat, jadi biasakanlah diri kalian" Ucap Sakura tanpa bisa menyembunyikan wajah terkejutnya

"Sejak awal, ini sudah dapat diperkirakan" gumam Shikamaru

"Apa maksudmu?" tanya Temari yang ada didekatnya. Sepertinya hanya ia yang bisa mendengar gumaman Shikamaru

"Karena ucapan Neji tadi aku jadi mengerti, hanya anggota OSIS yang bisa selamat dari kejadian di aula gedung tadi karena 'Pohon apel dan tanaman rambat tidak menerima tamu' " Ujar Shikamaru dengan senyum getir

"Kau harus lebih positif, aku percaya masih ada yang selamat selain kita" Ucap Temari menatap Shikamaru dengan intens

Sejenak suasana canggung, kemudian keduanya sadar dan langsung membuang tatapan ke arah lain dengan wajah merona merah.

"Paling tidak kita bisa terbebas dari orang asing yang dari tadi meneror kita" Ucap Sara lega

"Yah kurasa Senpai benar" Ujar Yukata menyetujui

Akan tetapi, suasana tenang itu hanya terjadi sebentar karena sebuah suara dari pengeras suara terdengar dari seluruh penjuru sekolah

Selamat datang pada yang terhormat anggota OSIS.Perkenalkan aku pencipta permainan, namaku Uchiha Madara

Mendengar nama itu sontak mereka semua terkejut mendengar marga yang sangat familiar, kecuali Sasuke yang ekspresinya sedikit mengeras.

"Jadi ini semua ulahmu brengsek!" Umpat Choji kesal

Jaga bahasamu ke orang yang lebih tua, lain kali tidak akan kumaafkan. Baiklah sebelum mulai akan kujelaskan sedikit peraturannya

"Bukankah tadi dia bilang permainan?" Tanya Karin memastikan

"Apa yang sudah kami alami, apa semuanya hanya permainan?" Ekspresi Ten-ten nampak frustasi

Wahh kalian semangat sekali, padahal aku belum membuka sesi pertanyaan. Ohh hei Sasuke lama tidak berjumpa. Nampaknya kau mudah sekali kangen dengan leluhurmu ini ya Hahahahaha.

Semua mata tertuju pada Sasuke dengan beragam ekspresi. Sementara Sasuke hanya bisa mendecak kesal. Apa katanya tadi? Kangen? Lebih baik ia bertarung hidup mati dengan Aniki tersayangnya memperebutkan bola mata daripada harus memiliki rasa kangen terhadap leluhurnya yang telah Sasuke kelompokkan kedalam golongan orang yang menjijikkan.

Jangan berterima kasih padanya , Shion lah yang menjadi penyebab utama kalian ke permainan ini HAHAHA

Lagi-lagi anggota OSIS yang tersisa dibuat bertanya-tanya akan perkataan yang diucapkan oleh orang yang bernama Madara ini. Mereka bukan orang bodoh yang akan langsung percaya kepada orang asing begitu saja. Namun, melihat ekspresi Sasuke yang tidak lagi datar seperti biasanya membuat mereka sedikit demi sedikit terhasut perkataan Madara.

"Apa yang kau mau dari kami?" tanya Sakura

Aku hanya mau kalian membantuku. Dengarkan baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya, dalam permainan ini tujuannya adalah untuk membantuku mencari 9 artefak kuno. Jangan sampai kalian tidak menemukannya atau lari apabila kalian tidak mau bernasib sama seperti peserta yang lain. Peraturannya sederhana yaitu jangan mati sebelum tugas kalian selesai. Sekian terima kasih, semoga sukses

Tidak lagi terdengar suara, hanya kecemasan dan rasa takut yang tergambar di ekspresi para anggota OSIS yang tersisa

"Permainan apanya, dasar Madara sialan!" Umpat Choji

ARGHHH

Teriakan memilukan diiringi terlepasnya salah satu tangan Choji dari tubuhnya

"Astaga Choji-senpai!" Teriak Matsuri panik

"Kau sudah diperingatkan menjaga mulutmu, dasar ceroboh" Hardik Karin yang tidak kalah paniknya dibanding Matsuri

"Kita harus tutup lukanya agar darahnya berhenti, Shino minta jaketmu" Perintah Naruto

Tanpa banyak bicara Shino langsung melepaskan jaketnya hingga hanya menyisakan T-shirt putih yang ia gunakan sebagai dalaman. Jika saja sahabat gendut mereka tidak sedang meregang nyawa maka teman-temannya pasti akan mengabadikan momen ini. Jelas saja hal itu mereka lakukan, pasalnya sejak pertama kali mereka melihat Shino, ia tidak pernah sekalipun melepaskan jaket yang menutupi hampir semua tubuh bagian atasnya. Hal itu menjadi penyebab ia diberi julukan makhluk anti-gerah.

"Hiks...Apakah aku akan mati?" Muka chubby Choji seketika langsung pucat akibat kehilangan banyak darah

"Bertahanlah, tidak akan ada yang mati!"

Naruto terlihat berusaha menekan pendarahan Choji sekuat tenaga sedangkan yang lain terdiam melihat keadaan Choji. Terlebih di tangan yang masih melekat ditubuh gendut miliknya tiba-tiba tercetak goresan seperti sayatan pisau sehingga menimbulkan perih yang tak terkira bagi diri Choji. Goresan itu bertuliskan 'Aku sudah memperingatkanmu'

"Kau bisa jujur sekarang Sasuke" Ujar Neji

Mata amethyst khas klan Hyuga memandang onyx hitam milik Sasuke. Neji sebisa mungkin menahan diri untuk tidak terlarut kedalam emosi sehingga menuduh Sasuke hanya karena kebetulan pencipta permainan ini memiliki marga yang sama. Meskipun begitu, pengendalian diri Neji berbanding terbalik dengan Shikamaru yang menahan geram melihat kejadian yang menimpa Choji.

"Apa yang terjadi Sasuke?! Jika kau tidak bicara kita semua akan mati!" Shikamaru mencoba menambahkan perkataan Neji sekaligus mengenggam kerah baju milik Sasuke

"Baiklah, aku akan menceritakan yang sebenarnya" Ujar Sasuke sambil melepaskan tangan Shikamaru

Menghela nafas sejenak seperti ia tengah bersiap akan sesuatu yang tidak ingin manusia normal alami.

"Aku dan Shion pernah dalam permainan ini sebelumnya tapi kami kabur dan tidak menyelesaikannya-" Ucap Sasuke terhenti seketika

Teman-temannya dapat melihat di tangan dan leher Sasuke tiba-tiba saja tersayat cukup dalam dan mengeluarkan cukup banyak darah. Ternyata alasan yang dikatakan Sasuke tepat saat dirinya menolak berbicara dengan jujur. Kali ini tubuh Sasuke seakan menerima konsekuensi dari kejujuran yang coba ia utarakan.

"Aku dan Shion sudah mengambil 5 artefak, kami simpan di ruang OSIS agar siapapun tidak dapat menemukannya. Jurnal itu berisi petunjuk kode 6 digit yang kami atur untuk dapat membuka kotak penyimpanannya. Aku hanya mengetahui 3 digit pertama karena akulah yang memasangnya sedangkan 3 digit terakhir Shion yang tahu. Masing-masing dari kami tidak mengetahui 3 digit lainnya agar benar-benar tidak ada yang bisa membuknya. Dalam permainan ini setiap artefak memiliki rintangan dan tantangan untuk mendapatkannya UAGGHH" Sasuke mengalami muntah darah yang hebat meskipun belum menyelesaikan seluruh penjelasannya

"Oke cukup!" Karin berteriak akibat shock melihat keadaan Sasuke

"Baiklah, jadi kurasa tersisa 4 artefak tugas kita jadi sedikit lebih-" Ucapan Shikamaru terpotong oleh sebuah suara

TitTitTit

Waktu kalian hanya 24 Jam

"Yang benar saja, kita bahkan tidak tau dimana lokasi artefaknya" Keluh Ino

"Ino jaga mulutmu" Shikamaru mencoba memberi nasehat yang hanya dibalas dengusan oleh gadis bermarga Yamanaka itu. Shikamaru tidak ingin hal yang terjadi pada Choji turut menimpa sahabat masa kecilnya yang lain.

"Kurasa aku tau, semuanya tertulis di jurnal Shion" Ucap Sakura kepada semuanya

"Syukurlah, Kurasa pertama kita harus ke ruang OSIS untuk melihat artefak yang sudah diambil" Saran Lee diikuti anggukan semua orang

Sasuke hanya mengendikkan bahu mencoba mengacuhkan kata-kata Sakura tentang jurnal milik Shion. Sialnya, ia tidak bisa menutupi rasa ingin tahunya tentang bagaimana Shion mengetahui lokasi artefak yang tersisa. Hal ini mengingat dulu untuk mencari satu artefak saja paling cepat mereka membutuhkan waktu 3 jam nonstop. Sekarang? Dengan ada lokasi yang diketahui membuat semua terasa lebih mudah. Hanya saja Sasuke sedikit bergidik membayangkan rintangan yang pernah dilaluinya bersama Shion untuk mendapatkan benda itu.

Berbeda dengan Sasuke yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Rekan-rekan OSIS nya tidak bodoh untuk mencurigai pemuda Uchiha tersebut. Berbagai pertanyaan muncul seperti apa hubungannya dengan si-Madara itu? Bagaimana Sasuke dan Shion bisa terlibat ke dalam permainan ini? Dan apa alasannya? Serta bagaimana caranya Shion dan Sasuke selamat tanpa mengumpulkan keseluruhan artefak?. Sayangnya, pertanyaan-pertanyaan itu harus mereka simpan di lubuk hati masing-masing. Memaksa Sasuke untuk jujur sekarang sama dengan membunuhnya. Mereka tidak buta untuk melihat luka sayatan yang masih mengeluarkan darah di beberapa anggota tubuh Sasuke. Tentu rasa iba muncul melihat kondisi ketua 'sementara' itu.

"Tidak usah khawatirkan lukaku, kita fokus saja selesaikan masalah ini" Ucap Sasuke datar

Ya, begitulah Sasuke tetap menjadi pangeran berwajah datar. Melihat Sasuke yang tetap bersikap biasa membuat para rekannya tidak terlalu memikirkan lebih lanjut dan menganggap Sasuke baik-baik saja. Benarkah begitu? Sayangnya sahabat seperti Naruto tidak akan tertipu dengan raut wajah datar yang hanya berfungsi sebagai topeng untuk menutupi hancurnya seorang Uchiha Sasuke.

"Ne Sasuke, apakah nanti kita bisa bicara sebentar?" Tanya Naruto dengan berbisik

Sasuke tahu jika Naruto mengobrol dengannya tanpa memberikan panggilan 'sayang' khasnya itu berarti dia sedang dalam mode serius.

"Hn" Dengusan sejuta arti yang keluar dari mulut sang Uchiha

Kejadian selanjutnya tidak ada yang istimewa, hanya obrolan kecil antar manusia disana menemani langkah kaki menuju tujuan. Mengobrol santai memang baik untuk kacaunya mental mereka. Andai saja mereka tahu ada yang sedang menertawai mereka dari suatu tempat yang tidak mereka ketahui

"Hahahaha, sungguh menyenangkan"

Tawa riang pemuda berambut ikal memenuhi ruang yang didominasi warna gelap dengan dinding bagian belakang bermotif kipas khas jepang dengan warna merah putih

"Kau bisa berhenti sekarang Shisui" Tegur seorang pria dewasa

"Huh, kau tidak asik Madara-sama" Keluh pemuda itu yang ternyata bernama Shisui

Segera menyingkirkan tubuh dari kursi kebesaran ketua klan dan juga meletakkan microphone di atas meja, Shisui langsung berdiri menghampiri pria lain yang ada di ruang itu. Ia hanya mengendikkan bahu saat Madara memandangnya tajam dan bergumam mengatainya anak kurang ajar dan tak tau diuntung, Huh Shisui tidak peduli.

"Jangan mengangguku Shisui" Belum juga disapa lawan bicaranya sudah mendelik tajam, sebegitu hinakah ia memandang Shisui?

"Ck, kau sama saja dengan Madara-sama. Kau tidak asik Obito"

Tidak ada suara lagi setelah itu, dengan ini berakhirlah untuk sementara ocehan Shisui. Seorang pemuda paling Easy going sepanjang sejarah klannya. Tidak heran mengingat klan yang ia sandang yakni Uchiha, memang isinya hanya orang yang irit bicara dan berwajah datar. Shisui tau apa yang dipikirkan semua orang, klan Uchiha adalah klan yang banyak masalah.

TBC

.

.

.

Author Note's : Update baru dari cerita ini. Elevtron sejujurnya perlu membaca ulang beberapa chapter ke belakang untuk mendapatkan kembali feel menulis. But, untungnya motivasi untuk melanjutkan cerita ini masih cukup besar dan jadilah chapter ini. Elevtron harap readers tetap bersemangat untuk membaca fanfic ini wkwkwk.

Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.

Hope you enjoy it

Well see u in the next chapter

x

x

x