Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

As you wish © Elevtron

Rating : T

Genre : Adventure, Tragedy

Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.

Pairing : Coming Soon

.

Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?

.

.

.

Chapter 10 : [Kode dan Bento]

.

Konoha Gakuen terkenal sebagai sekolah yang melahirkan lulusan yang berkompeten baik dalam bidang akademik maupun non-akademik. Oleh karena itu, Konoha Gakuen tidak segan-segan memberikan fasilitas yang mewah kepada para siswanya, tidak terkecuali terhadap OSIS. OSIS Konoha Gakuen sendiri memiliki sebuah ruangan khusus untuk menunjang kegiatan organisasi mereka.

Saat seseorang memasuki ruang OSIS Konoha Gakuen, ia akan disambut dengan susunan meja dan kursi khusus bagi para anggotanya dilengkapi papan nama bertuliskan nama mereka. Setiap meja disediakan komputer dan printer untuk keperluan organisasi. Selain itu, OSIS juga memiliki ruang rapat khusus dengan meja besar berbentuk persegi panjang dan kursi khas pegawai kantoran bertuliskan nama mereka. Ruang rapat itu juga dilengkapi sound system serta proyektor untuk kebutuhan presentasi. Terakhir, ruangan ini juga memiliki kamar tidur dan kamar mandi sendiri. Hal ini dikarenakan tidak jarang anggota OSIS harus menginap di sekolah untuk mempersiapkan suatu acara.

Suasana di dalam ruang OSIS sendiri masih sepi seperti sebelumnya, belum ada yang memberanikan diri untuk buka suara. Para anggota OSIS kini berada di ruang rapat dan telah menempati kursi masing-masing. Namun, mereka hanya bisa merenung melihat kursi kosong milik teman-teman mereka yang telah tiada.

"Baiklah, mengingat kondisi kita sekarang dan kecurigaan kalian terhadap Sasuke. Untuk saat ini sebagai wakil sementara, aku akan memimpin rapat kali ini" Ucap Shikamaru memecah keheningan

Netra Shikamaru melirik ke seluruh rekan-rekannya yang kebanyakan menampilkan raut wajah lesu. Sasuke sedang memperban luka-lukanya, untungnya ada kotak P3K di ruang OSIS. Kondisi Choji yang paling mengenaskan karena wajahnya sangat pucat sebab kehilangan banyak darah. Selama perjalanan ke ruang OSIS sendiri ia harus dibantu oleh dua rekan-rekannya secara bergantian. Satu orang membopongnya agar mengurangi beban selama Choji berjalan sedangkan yang satu lagi berusaha menghentikan pendarahannya. Shikamaru hanya bisa memijat pelipisnya melihat situasi yang rumit ini.

"Alasan rapat ini yaitu untuk membuat kita semua berpikir jernih atas segala yang terjadi hari ini. Aku harap kalian serius karena mungkin ini adalah rapat terakhir kita" Sambung Shikamaru

"Sakura bisa kau laporkan kondisinya" Perintah Shikamaru kepada sekretaris OSIS mereka

"Saat ini kita hanya memiliki waktu 1 hari untuk mencari ke empat artefak. Berkat bantuan Sasuke di dalam sini sudah ada 5 artefak" Ucap Sakura sambil melihat ketengah ruangan, disana terdapat kotak penyimpanan artefak

"Jurnal ini sendiri merupakan petunjuk tentang keberadaan artefak dan kode yang diberikan Shion terhadap kotak penyimpanan ini" Sambung Sakura

"Boleh aku bertanya?" Tanya Karin sambil membetulkan posisi kaca matanya

Shikamaru hanya menganggukan kepala memberi isyarat

"Sebenarnya, artefak itu seperti apa? Maksudku apa yang bisa kita lakukan untuk menemukan artefak itu?" Tanya Karin

Tidak ada respon yang diberikan akan pertanyaan Karin. Shikamaru sedikit melirik ke sebelah kiri. Sasuke yang menyadarinya sedikit menghela nafas dan mengabaikan lirikan tajam dari Shikamaru

"Mungkin ini akan mengakibatkan aku terluka lagi atau lebih buruk, tapi akan kujelaskan" Ucap Sasuke mengawali pembicaraannya

"Artefak ini biasa disebut dengan biju. Perbedaan biju bisa dilihat dari jumlah ekornya. Setiap artefak memiliki nama sendiri, artefak itu baru bisa kita dapatkan saat kita menyebut nama dari biju tersebut. Dalam usaha untuk mencapai artefak, kalian akan menghadapi hambatan yang mengubah kondisi game. Sebagai contoh, saat aku mendapatkan matatabi si ekor dua aku harus mengalami luka bakar hebat karena terjebak dalam api biru" Ucap Sasuke

"Astaga" Sara tanpa sengaja memotong penjelasan Sasuke karena tidak bisa mengontrol keterkejutannya, merasa situasi sedikit terganggu Sara hanya memberikan senyum canggung.

"Untungnya waktu itu Shion menyelamatkanku" Lanjut Sasuke sembari memicingkan matanya, tanda bahwa ia sedikit mengingat masa lalu

"Kalau begitu sebaiknya kita memecahkan kodenya terlebih dahulu" Saran Shino

Tanpa menunggu waktu yang lebih lama Sakura langsung membuka Jurnal Shion. Alisnya naik sebelah saat tidak menemukan petunjuk apapun untuk 3 digit pertama.

"Sasuke-kun, apakah tidak ada petunjuk yang kau berikan?" Tanya Sakura

"Coba kau lihat baik-baik Sakura" Jawab Sasuke dengan nada cuek

"Aku serius disini hanya ada kertas kosong" Sakura menunjukkan halaman yang kosong kepada Sasuke

"Tepat sekali" Ujar Sasuke

Semua yang ada di ruangan tersebut langsung terheran-heran. Benak mereka bertanya tentang apa yang ada di kepala seorang Uchiha. Shikamaru yang mengerti petunjuk dari Sasuke hanya menghela nafas melihat ekspresi bingung para anggotanya.

"Kodenya 000" Ujar Shikamaru

"Hah?" Gaara tidak tahan untuk membuka suaranya

"Kalian sudah dengar tadi kan hanya ada kertas kosong, itu berarti kodenya hanya angka 0" Jelas Shikamaru

Mayoritas dari sisa anggota OSIS hanya bisa menepuk jidat mereka mendengar penjelasan Shikamaru. Lagipula kenapa mereka susah-susah berpikir, kan ada Sasuke yang langsung bisa memberikan kodenya. Sementara semua pandangan mengarah padanya, Sasuke lebih memilih menyibukkan diri menutup luka yang tiba-tiba muncul di pergelangan tangan kirinya.

"Baiklah Sakura. Kau bisa melanjutkannya" Ujar Neji setelah mengalihkan pandangan dari Sasuke

"Aahh I-iya baik selanjutnya petunjuk dari Shion. 'Keluarga yang tidak kupunya. Hanya bisa kurasa saat menyanyikan lagu anak-anak' " Ujar Sakura

"Wahhh itu mudah Senpai" Teriak Matsuri riang

"Apa jawabannya Matsuri-chan?" Tanya Gaara

"Kodenya 123" Ucap Matsuri dengan penuh percaya diri

"Hah?" Ten-ten tidak tahan untuk membuka suaranya

"Ehh memangnya kalian tidak pernah dengar lagu 'satu satu aku sayang ibu~~' " Jelas Matsuri sambil bersenandung

Untuk kedua kalinya anggota OSIS hanya bisa menepuk jidat mereka mendengar penjelasan Matsuri kecuali Gaara yang menaruh pandangan kagum pada kohai nya tersebut. Sialnya lagi saat Sakura memasukkan kode tersebut, kotak penyimpanannya terbuka. Hal ini membuktikan bahwa tebakan Shikamaru dan Matsuri benar. Sungguh mereka tidak mengerti dengan isi kepala pemberi kode yang terkesan absurd tersebut. Dasar para anggota OSIS dikasih yang simple malah minta yang rumit.

Berbeda dari rekan-rekannya Naruto justru merenung setelah mendengar petunjuk dari Shion.

'Shion, ternyata kau benar-benar kesepian' Batin Naruto seraya tersenyum kecut

Flashback On

Konoha Gakuen sebuah sekolah bergengsi yang setiap tahunnya akan menghasilkan lulusan berkualitas yang dapat bermanfaat bagi banyak orang. Oleh karena itu, setiap tahunnya para orang tua pasti akan mendaftarkan anaknya ke Konoha Gakuen yang mengakibatkan jumlah pendaftar menjadi membengkak. Meskipun hal itu membuktikan popularitas Konoha Gakuen. Namun, hal ini mengakibatkan proses seleksi yang ketat sehingga banyak calon siswa yang tersisih. Sudah hal lumrah hatimu akan menjadi sakit saat kau ditolak padahal kau sangat mengharapkannya. Dari hati yang sakit itu kau bisa mengeluarkan kata-kata tajam untuk menjelek-jelekkan hal yang pada awalnya sangat kau dambakan. Oleh sebab itu, Konoha Gakuen berusaha membuat proses seleksi se-transparan mungkin untuk membungkam mulut-mulut kurang ajar yang tidak menyadari ketidaklayakan diri mereka sendiri. Selain itu, hari-hari di Konoha Gakuen berjalan cukup normal bagi mayoritas murid.

Pada jam istirahat suasana koridor menjadi cukup ramai akibat siswa yang berlalu-lalang. Kebanyakan dari mereka akan menuju kantin untuk sekedar mengisi perut atau taman belakang hingga atap sekolah untuk sekedar bersantai. Namun, hari ini ada sedikit perbedaan. Seorang siswi dengan surai pucat berlari sepanjang koridor melawan arus orang-orang yang memiliki tujuan berbeda darinya. Mengabaikan keluhan orang-orang, segera ia masuk ke kelas yang ditujunya yakni kelas 1-J. Sungguh aneh bagi Shion yang merupakan anak kelas 1-A berkunjung kesini. Selain letak kelas yang sangat berjauhan, kelas 1-J merupakan kelas-kelas berandalan. Penghuni kelas tersebut sangat berbeda dibanding kelas 1-A yang di isi oleh anak pintar dan berprestasi.

Kembali kepada aktivitas Shion, kini gadis tersebut telah berada didepan pintu kelas 1-J. Tidak lupa mengucapkan kata permisi, Shion segera melangkahkan kaki ke bangku di sudut belakang.

"Na-Naruto-kun" Ucap Shion terbata-bata

"Enghhh..." Mata Naruto mengerjap mencoba melihat siapa yang menganggu tidur siangnya

"Ohhh, kau Shion. Ada apa?" Tanya Naruto masih setengah sadar

"I-ini aku membuatkan makan siang untukmu, a-aku sendiri yang memasaknya. Kumohon te-terimalah"

Shion segera menyodorkan kotak bentonya kepada Naruto sembari menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan semburat kemerahan yang tercetak jelas di wajah datar bonekanya. Naruto dengan senang hati menerima kotak bento Shion, kebetulan ia belum makan siang.

"Terima Kasih" Ucap Naruto

Tanpa basa-basi lebih banyak segera ia memakan bekal pemberian Shion. Naruto mungkin mengabaikan atau tidak tahu akan tatapan penasaran teman sekelasnya dan tatapan penuh harap milik Shion. Baru satu kali suapan, ekspresi ngantuk Naruto langsung berubah drastis

"Ehh, aku lupa bilang padamu Naruto-kun karena aku suka pedas jadi cabai nya kutambahkan sedikit" Ucap Shion polos

Mendengar itu Naruto tanpa basa-basi langsung meletakkan sendok dan berlari keluar dari kelasnya. Sementara Shion hanya mengerjapkan matanya bingung.

'Apanya yang sedikit, rasa masakannya seperti ia menggunakan cabai 10 kg' Batin Naruto dengan wajah memerah menahan pedas

Andai saja ia masih punya uang dengan segera Naruto akan pergi ke kantin dan langsung membeli air minum, sayangnya ia tidak punya. Tidak ada pilihan lain matanya melirik liar kesana kemari hendak mencari seseorang yang bisa dimintai bantuan. Berkat dukungan dewi fortuna, iris safir milik Naruto melihat seseorang yang dikenalnya

"HINATA-CHAN!" Teriak Naruto menggema sepanjang koridor

"Na-naruto-kun"

Mendengar suara yang familiar di telinganya sontak Hinata mengalihkan pandangan ke asal suara. Terlihat Naruto berlari dengan wajah memerah ke arahnya dan tanpa basa-basi langsung mencengkeram erat kedua bahu Hinata. Hal ini membuat si pemilik semakin merona hebat.

"Hinata aku minta air milikmu" Ucap Naruto

"I-iya" Reflek Hinata memberikan tumbler miliknya

Naruto meneguk dengan rakus air yang diterima langsung dari Hinata. Naruto tidak melewarkan satu tetes pun hingga benda itu kosong menandakan isinya habis.

"Hah, syukurlah aku pikir akan mati tadi. Terima kasih Hinata kau adalah penyelamatku. Hahaha, entah apa yang akan kulakukan bila tidak ada dirimu" Ujar Naruto dengan cengiran khasnya

Perkataan Naruto membuat kesadaran Hinata mulai memburam. Pikirannya terselimuti dengan kata-kata Naruto yang coba ia simpulkan maknanya. Naruto yang mengatakan akan mati, Hinata adalah penyelamat Naruto dan Naruto yang tidak tahu tujuannya bila tidak ada Hinata. Hinata merasa Naruto mengatakan bahwa ia adalah orang yang sangat berarti bagi Naruto dan Naruto tidak ingin melewatkan satu detik pun dalam hidupnya tanpa Hinata. Memikirkan hal itu membuatnya tidak bisa menahan rasa senangnya yang berlebihan hingga kesadarannya menghilang

BRUGHHH

"Ehhh, Hinata!" Naruto panik melihat Hinata pingsan

Bel tanda masuk sudah berbunyi. Namun, di koridor masih berjalan remaja berambut jabrik pirang.

"Hah, sialnya. Kenapa tiba-tiba Kurenai-sensei ada di ruang kesehatan" Keluh Naruto

Masih segar diingatannya saat ia mengantar Hinata ke ruang kesehatan tiba-tiba Kurenai-sensei datang. Tanpa menanyakan penyebabnya, Kurenai langsung menceramahi Naruto sepanjang-panjangnya karena dikira menjadi penyebab murid kesayangannya yang pintar, cantik, dan baik hati menjadi pingsan. Kurenai-sensei memang tidak sepenuhnya salah sih, hanya saja Naruto yang tidak peka tentu tidak mengetahui penyebab sebenarnya Hinata pingsan.

"Wah-wah lihat siapa yang kita temui disini" Ucap seorang pria dengan rambut pirang

"Kau benar Temujin, tidak kusangka diusir oleh si tua bangka Sarutobi adalah keberuntungan bagi kita" Balas pria berbadan besar terlihat ia mengenakan jaket hitam dengan bordir namanya yang bertuliskan Jirobo

Naruto hanya melirik datar ke arah orang-orang ini. Naruto sudah tahu bahwa ia akan kena masalah sebentar lagi

"Selamat siang Senpai, apa ada keperluan denganku?" Tanya Naruto sopan

"Hahaha, setelah menghajar teman-temanku kemarin sekarang kau berlagak sopan heh. Ya hal itu wajar karena kau pasti ketakutan dikepung oleh kami bersepuluh" Ucap Temujin sombong

"Maaf Senpai, saya tidak akan menghajar mereka jika teman-teman Senpai tidak memulai duluan" Ucap Naruto mencoba tetap sopan

"Apa katamu? Dasar anak yatim piatu. Seharusnya kau berterima kasih pada teman-temanku karena telah mengingatkanmu bahwa anak yang tidak punya siapa-siapa sepertimu tidak usah berlagak. Melihat wajahmu ini aku ingin sekali memukul-" Ucapan Jirobo terpotong

BUGGHHH

"Brengsek, aku sudah tidak tahan mendengar ocehanmu" Hardik Naruto

Mengabaikan umpatan dan kata-kata kasar yang tertuju padanya. Naruto langsung melancarkan serangan membabi-buta sehingga menimbulkan keributan di lorong dan membuat semua siswa dan guru yang sedang melakukan kegiatan belajar-mengajar menghampiri asal suara.

"Hah, sungguh sial. Gudang busuk itu kotor sekali" Ujar Naruto

Berterima-kasihlah kepada Ibiki-sensei yang belum cukup dengan ocehan panjang kali lebarnya menceramahi Naruto, justru menghadiahi Naruto hukuman membersihkan gudang. Lebih bagusnya lagi kesepuluh orang yang Naruto hajar tidak mendapatkan hukuman apa-apa. Berkat akting sekelas aktor pemenang OSCAR mereka menuduh Naruto yang dengan tiba-tiba memukul mereka sehingga membuat mereka terbebas dari hukuman.

Mengingat hal tersebut membuat mood Naruto semakin buruk. Dirinya hanya ingin cepat-cepat pulang untuk beristirahat, sehingga langkah kakinya membawa Naruto menuju gerbang sekolah.

"Naruto-kun" Suara yang familiar langsung terdengar di telinga Naruto saat hampir mencapai gerbang Konoha Gakuen

"Ehh, Shion sedang apa kau disini?" Tanya Naruto

"Tentu saja menunggumu" Jawab Shion dengan tersenyum lembut

"Kenapa kau menungguku? Apa kau tidak sadar sekarang sudah hampir malam?" Tanya Naruto

"Makanya sekarang kau harus mengantarku bodoh!" Ucap Shion sedikit kesal. Apa tidak bisa pria ini peka sedikit, begitulah yang ada dipikiran Shion sekarang.

"Baiklah"

Jawaban yang ia dengar membuat Shion langsung ceria dan menarik tangan Naruto untuk keluar dari gerbang sekolah. Mereka berjalan beriringan bak sepasang kekasih seakan melupakan kasus bento maut yang terjadi tadi siang. Tanpa Naruto sadari Shion sedang melihat wajah sendu miliknya.

"Awww, itu sakit" Keluh Naruto saat Shion menyentuh luka lebam di pipinya

"Salahmu sendiri kenapa berkelahi?" Tanya Shion

"Bukan aku yang memulai"

Kalimat yang dilontarkan Naruto seakan sudah diperkirakan oleh Shion. Hal ini bukan yang pertama kali terjadi. Semenjak kematian kedua orang tuanya karena kecelakaan mobil saat pengumuman diterima atau tidaknya di Konoha Gakuen. Naruto bukanlah Naruto yang sama, keberadaan dirinya yang mampu membuat orang lain merasakan kehangatan menghilang begitu saja.

"Jangan berkelahi lagi. Aku mencemaskanmu" Wajah boneka milih Shion menampilkan raut sendu

"Aku tidak janji" Jawab Naruto cuek

"Kau selalu saja bilang begitu" Shion menundukkan kepalanya

PUK

Sebuah headpat mendarat di kepalanya, belum cukup sampai disitu Naruto mengacak kecil rambut Shion. Shion yang mendapatkan perlakukan seperti itu hatinya menghangat dan semburat merah jelas tercetak di wajah cantiknya.

"Kau tidak perlu khawatir seperti itu, Mama" Ucap Naruto dengan cengiran khas miliknya

Tanpa melihat reaksi gadis di depannya Naruto kembali melangkah. Sementara Shion hanya menatap punggung Naruto. Shion tahu senyuman lebar itu hanyalah topeng untuk menutupi luka di hatinya. Shion juga tidak terlalu bodoh hingga tersipu hanya karena panggilan 'sayang' masa kecil yang Naruto berikan padanya, ia tahu Naruto hanya bercanda. Tapi, perlakuan kecil di kepalanya dan sikap Naruto yang memintanya untuk jangan khawatir karena Naruto bisa melindungi diri sendiri dan juga dirinya. Shion sangat paham lebih dari siapapun bahwa itu murni tulus dari hati Naruto. Dengan semburat merah yang makin jelas tercetak di wajah bonekanya, Shion mengelus pelan puncak kepalanya tempat dimana telapak tangan Naruto tadi mendarat. Seketika dirinya tersenyum, sebuah senyuman yang sangat tulus.

"Terima kasih, Anata" Gumam Shion

Shion mungkin paham bahwa Naruto bukanlah Naruto yang sama, keberadaan dirinya yang mampu membuat orang lain merasakan kehangatan menghilang begitu saja. Sekarang justru diri Naruto yang seakan membutuhkan cahaya untuk menerangi jalannya agar tidak jatuh ke dalam kegelapan. Oleh karena itu, bagi Shion hanya dirinyalah seorang yatim piatu sejak lahir yang bisa memahami kesepian Naruto. Hanya dirinya yang bisa menjadi cahaya bagi Naruto. Seburuk apapun perilaku Naruto sekarang, Shion tidak akan peduli karena bagi Shion Naruto adalah suami masa depannya.

Flashback Off

.

TBC

.

.

.

Author Note's : Oke, sedikit pembahasan untuk chapter kemarin yang sekilas menampilkan trio Uchiha. Well, sejujurnya Elevtron hendak menjadikan mereka villain utama (upss...spoiler). Akan tetapi, untuk pastinya kita lihat dulu perkembangan cerita.

Selanjutnya, untuk chapter ini. Pertama tentang kode, jujur itu aja yang ada di pikiran Elevtron. Jadi jangan nuduh sengaja bikin humor karena kalau bagi para readers garing kan malu wkwkwk. Kedua tentang flashback, Elevtron berkali-kali menimbang untuk memikirkan bagaimana cara membuat chemistry kuat antar karakter yang entah kenapa semakin membludak memasuki chapter ke 10 ini. Jawaban yang Elevtron dapat untuk Naruto dan Shion adalah perasaan yang cenderung romansa. Akan tetapi, belum tentu mereka jadi pair loh. Segala sesuatunya masih dipertimbangkan, serta momen yang tercipta di flashback Elevtron coba untuk sisipkan sedikit bumbu-bumbu petunjuk untuk konflik di chapter-chapter selanjutnya.

Lalu, Elevtron sangat mengharapkan review dan dukungan dari kalian para readers serta sejujurnya Elevtron akan lebih bersemangat menulis apabila readers menebak-nebak baik itu jalan cerita, pair, karakter yang akan muncul dan mati ataupun konflik yang akan tersaji di chapter-chapter selanjutnya. Jadi sempatkanlah waktu kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini.

Oke segitu dulu, maaf ini jadi bacot Elevtron yang terpanjang di author note wkwkwk.

Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.

Hope you enjoy it

Well see u in the next chapter

x

x

x