Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
WARNING! Typo(s), OOC, Gaje, Crack Pairs, Alur dan Konflik yang tak jelas serta Penempatan tanda baca yang tidak sesuai dan banyak sekali kesalahan-kesalahan lainnya.
J : Janji
Tap . . . Tap . . . Tap . . .
Ia melangkahkan kakinya perlahan menyusuri deretan pertokoan di tengah pusat desa Konoha yang kini telah berkembang pesat di bawah pimpinan Naruto, oh tentu saja ini tak luput dari bantuan sang ayah dan Shikamaru sebagai penasehatnya.
Senyumnya mengembang lebar, memandang bocah berusia 1 tahun yang kini tengah berada di gandengannya, ia nampak bersabar karena memang putra kecilnya itu baru saja bisa berjalan.
Dengan sedikit terhuyung bocah kecil itu melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit, "Bagus, Minoru! Apa kau sudah lelah?"
"Otou . . . tou!" ocehnya menunjuk kedai ramen Ichiraku yang kini juga sudah berkembang menjadi restoran yang besar, Minato memandang arah dimana jari telunjuk Minoru menunjuk tempat itu kemudian menggelengkan kepalanya seraya mengacak rambut pirang yang tumbuh lebat milik Minoru, "Tidak untuk sekarang, Jagoan! Kau tahu ibumu sedang menunggu kita?" Minato menjawil gemas hidung mancung putra pertamanya bersama Ino itu kemudian mengangkat tubuh bocah itu untuk ia gendong.
Di sepanjang perjalanan mereka pulang tak sedikit warga yang menyapa mereka atau sekedar memuji ketampanan dan kelucuan bocah yang berada di gendongan Minato.
"Tou . . . tou . . .!" ocehnya sebal ketika Shikamaru mencubit kedua pipinya saat tak sengaja mereka berpapasan di jalan, "Dia benar-benar cerewet seperti ibunya, Minato-sama." ledek Shikamaru dan hanya ditanggapi dengan gelak tawa Minato dan dengusan kesal bayi sahabatnya.
"Haahaha . . . kau mau kemana? Mau minum teh dengan kami? Tentu saja jika kau sedang tidak sibuk."
"Jiiii! Jiiiiii!" oceh Minoru yang mendapatkan hadiah dari Shikamaru berupa acakan lembut pada pucuk kepala bocah itu, "Kau mau ikut Ji-san?" tanya Shikamaru lembut dan mengambil Minoru dari gendongan Minato, "Kau benar-benar berat, Minoru!"
Minato tersenyum lembut memandang Shikamaru dan Minoru yang terlihat dekat, entah mengapa ia benar-benar bangga terhadap dirinya sendiri saat ini, Ino dikelilingi oleh Shinobi hebat seperti Shikamaru namun nyatanya wanita yang ia telah nikahi itu lebih memilihnya padahal bisa saja ia memilih Shikamaru, Chouji, Sai, Kiba, Lee, Shino atau bahkan Sasuke untuk bersamanya namun berbahagialah dia karena Ino lebih memilih dirinya.
"Ayo cepat, Minato-sama!"
"Oh?!" semburat merah muda terlukis indah pada kedua pipi milik mantan Hokage itu, ia kemudian menggaruk kepalanya dan berjalan menyusul Minoru dan Shikamaru yang sudah berjalan terlebih dulu di depannya. Apa yang baru saja ia pikirkan?
-M-
Rumah mereka termasuk dalam kategori mewah dengan segala fasilitasnya, terlihat manis dengan berbagai bunga yang ditanam oleh Ino di pekarangannya, di dalamnya terlihat minimalis dengan di dominasi warna putih dan cokelat muda.
"Selamat datang . . ." sapa Ino ceria dengan memakai apron dan keluar dari dapur, namun kemudian ekspresinya berubah ketika mendapati suami dan anknya pulang membawa Shikamaru, "Mengapa kau kesini, kepala nanas?!" seru Ino dengan dengusan kesal pada napasnya.
"Kau masih kesal padaku karena aku dan Chouji 'menculik' Minoru?"
Ino melipat kedua tangannya di depan dada, "Kau tidak tahu betapa takut dan khawatirnya aku, Rusa pemalas?"
"Kami sudah meminta maaf dan Minoru baik-baik saja, bukan begitu jagoan?" Shikamaru memandang makhluk mungil di gendonganya yang sedang asyik meminum susu dari botolnya.
Minoru mengangguk dan mengangkat kedua tangannya ke udara memberi tanda bahwa ia ingin digendong oleh sang Ibu. Tatapan Ino melembut melihat bayinya dan berjalan menghampiri sang putra, "Kau merindukan Kaa-san? Apa Shika-Ji menyakitimu lagi?"
Duhhh! Shikamaru berekspresi aneh, rasanya ia ingin sekali menjitak kepala mantan rekan setimnya ini jika saja tidak ada Minoru pada gendongannya, "Kau sangat berlebihan!"
"Aku tidak!"
"Sudahh . . . sudah . . . sudah!" bujuk Minato berusaha meredakan aksi Shikamaru dan Ino, "Huh! Kau selamat karena Minato-kun menghentikan ini semua," tatap Ino sebal pada sang sahabat dan mengalihkan pandangannya lembut pada Minato yang tersenyum lembut padanya, kedua pipi Ino bersemu merah melihat senyum manis milik suami mendiang Kushina sekaligus suaminya juga itu, teringat dengan apa yang telah terjadi semalam diantara mereka berdua. Ah tidak . . . tidak . . . tidak! Ino kembali ke alam sadarnya dan menyerahkan Minoru pada Minato, "Aku akan melanjutkan memasak, tolong awasi Minoru-kun dulu ya, Minato-kun!"
"Baiklah, aku dan Shikamaru akan ke ruang kerja, tolong buatkan kami teh!"
"Siap!" Ino tersenyum ceria dan secepat kilat mencium pipi sang suami membuat Shikamaru jengah dengan kelakuan kekanakan sang sahabat. Minato sendiri hanya terkikik geli menanggapi tingkah laku Ino, nyatanya ia mulai terbiasa dengan tingkah antik sang istri itu, "Ayo!" ajaknya pada Shikamaru, sesekali pria itu akan mengangkat tinggi-tinggi tubuh mungil putranya dan menciumi tanpa ampun Minoru, membuat sosok mungil itu tertawa terbahak dengan suara lucunya.
Shikamaru memandang lembut pemandangan hangat di depannya, rasanya ia ingin segera memiliki keluarganya sendiri sama seperti Ino.
.
.
.
.
.
"Maafkan aku jika kau harus melihat pemandangan seperti tadi!" ungkap Minato yang sedang memainkan jemari mungil Minoru.
Shikamaru tak menunjukkan ekspresi apapun, kemudian meletakkan teh yang dibuatkan Ino kembali ke nampan, "Ku rasa ia benar-benar bahagia sekarang, terimakasih karena anda membuatnya tersenyum kembali Minato-sama. Senyum yang benar-benar ceria. Semenjak kematian Asuma-sensei dan akhirnya Ayah kami, dia tidak pernah tersenyum selepas ini."
"Ino benar-benar beruntung memiliki sahabat sepertimu dan Chouji, apa yang ku lakukan belum ada apa-apanya dibanding kalian, terkadang aku masih sering menyakitinya tanpa sepengetahuanku," Minato menghela napas panjang, "Telah banyak yang ia lakukan untukku, tapi terkadang aku masih saja teringat pada Kushina dan menyakiti hatinya, maafkan aku karena aku tidak dapat menepati janjiku padamu untuk membahagiakannya."
Shikamaru menyunggingkan seringaiannya jahil, "Jika anda tidak bisa membahagiakannya mengapa Ino bisa terlihat sangat bahagia seperti tadi? Wajar saja jika anda mengingat Kushina-sama, telah banyak kenangan yang kalian ciptakan bersama jadi itu bukanlah sebuah masalah," Shikamaru menjawil gemas pipi gembil Minoru, membuat bocah kecil itu mengomel dengan bahasa yang hanya ia ketahui sendiri, "Dan kalian memiliki anak yang luar biasa. Aku pernah berjanji pada Asuma-sensei untuk menjaga Ino dan Chouji dengan baik dan sekarang kuserahkan tanggung jawab itu pada anda Minato-sama. Berjanjilah padaku!"
"Aku berjanji padamu, pada Chouji, pada mendiang Inoichi dan mendiang Asuma bahwa aku akan melindungi, menjaga dan . . ." Minato menggantungkan kata-katanya.
"Dan?" tegas Shikamaru.
"Mencintainya."
Shikamaru meyunggingkan senyum penuh arti.
Tanpa mereka sadari bahwa kini Ino tengah diam-diam menguping apa yang sedang mereka bicarakan, semburat merah jambu terlukis pada kedua pipi milik wanita yang telah resmi menyandang nama Namikaze itu.
Sungguh ia bahagia, bahkan ibu satu orang putra itu melompat kegirangan hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan dan ambruk menabrak pintu yang tak sempurna tertutup, berakhir dengan ia masuk ke dalam ruangan.
Shikamaru, Minato dan Minoru terkesiap, terkejut dengan tingkah 'bodoh' Ino itu.
"Mendokusai."
Ino membulatkan matanya, "Shikamaruuuuuuuuuuuu!"
Minato berdiri dari tempatnya duduk membawa pergi Minoru yang dengan polosnya tadi mengucapkan kata-kata andalan milik paman Shikamaru-nya dan berhasil membuat sang ibu murka.
Kedua pasang mata sebiru lautan mereka saling memandang, Minato tersenyum menatap bayinya, "Anak pintar!" ucapnya membelai lembut pucuk kepala Minoru, sejenak ia melihat istrinya yang sedang menjitak kepala sahabat nanasnya, kembali tersenyum ia kemudian memutuskan untuk tidak ikut campur dengan urusan kedua murid Asuma dan lebih memilih untuk menidurkan sang putra.
"Aku berjanji akan selalu mencintainya, Asuma, Inoichi."
"Apa yang kau ajarkan pada putraku, Rusa jeleeeeekkkkkk?" Teriak Ino memenuhi seisi ruangan.
.
.
.
.
The End (See Ya In K Series)
