Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

As you wish © Elevtron

Rating : T

Genre : Adventure, Tragedy

Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.

Pairing : Coming Soon

.

Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?

.

.

.

Chapter 12 : [Melodi Kematian]

.

Di sebuah jalan setapak dengan 2 cabang di ujungnya sehingga terbentuk sebuah pertigaan, terlihat sekelompok manusia sedang berjalan.

"Kurasa sampai disini saja Shikamaru" Ujar Neji

"Baiklah, terima kasih sudah menemani Neji" Ujar Shikamaru

"Apa maksudmu konyol? Tujuan kita memang searah. Dari sini kau ke kiri sedangkan aku kekanan"

"Aku tau, Hoaahmm merepotkan" Perlu dicatat saat menguap Shikamaru sama sekali tidak menutup mulutnya membuat Neji harus mundur beberapa meter.

"Aku jadi memikirkan perkataanmu tentang arti teka-teki itu Neji"

Perkataan Choji meminta atensi Neji hanya dibalas senyum getir. Kondisi Choji masih terlihat memprihatinkan, darahnya belum berhenti mengalir meski tidak sederas sebelumnya. Sejujurnya, Shikamaru memintanya menunggu di ruang rapat tapi Choji bilang bahwa lebih aman baginya jika pergi bersama-sama. Meskipun sekarang ia hanya bisa berjalan tertatih-tatih sambil mencoba menghentikan pendarahan di lukanya. Tak mendapat respon Neji, Choji kembali melanjutkan perkataannya.

"Tuhan begitu kejam kepada kita ya" Ucap Choji sambil memberikan senyum kecut

"Kurasa aku tidak setuju kepadamu Choji" Ujar Neji sembari memberikan senyum tipis

"Huh?"

"Apa kau pernah mendengar istilah bahwa penulis adalah tuhan bagi novel nya, pelukis adalah tuhan atas goresan di kanvasnya dan ilmuwan adalah tuhan dari penemuannya?" Tanya Neji

"Apa kau mau bilang bahwa di permainan ini tuhannya adalah Madara si perancang permainan. Itu berarti kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk melawan kehendak-Nya" Ujar Karin

"Kalian ini tidak mengerti apa yang kumaksud"

Neji menyilangkan kedua lengannya di depan dada dan sedikit menggantung perkataannya

"Kita juga bisa menjadi tuhan bagi diri kita sendiri" Sambung Neji dengan senyum meyakinkan

Mengerti akan apa yang dimaksud Neji, Gaara mencoba angkat bicara.

"Itu berarti suatu takdir tergantung dengan apa yang kita perbuat. Terlepas dari baik maupun buruknya kenyataan hidup, ada peran kita di dalamnya yang mengatur diri kita sendiri secara merdeka. Bukan begitu Neji?" Ucapan Gaara dibalas anggukan mantap oleh Neji

"Tidak ada yang namanya mati sia-sia. Seluruh pengorbanan dan kematian yang telah terjadi hari ini harus kita perjuangkan dengan memenangkan permainan ini dan menyelesaikan semuanya"

Perkataan Neji tanpa ia sadari telah membangkitkan semangat di mata para rekan-rekannya. Kini mereka yakin entah rintangan apa yang akan menanti mereka maupun kematian yang tiba-tiba saja bisa datang menjemput. Tujuan mereka hanya satu yakni memenangkan permainan ini.

Tim 1

Tanpa memakan waktu yang terlalu lama kini di depan ruang olahraga telah berdiri para anggota dari tim 1

"Huft, ayo kita masuk" Ajak Shikamaru

Saat pertama kali melangkahkan kaki mereka agak terkejut. Hal ini dikarenakan di depan mereka gedung olahraga tampak kosong. Bahkan alat-alat olahraga yang berperan besar dalam menjaga prestasi atlet Konoha Gakuen turut menghilang. Shikamaru dan timnya mencoba memastikan keadaan dengan berjalan ketengah aula gedung.

"Tampaknya 'mainan'mu menghilang Gaara" Sara memberikan tatapan jahil kepada pria yang memiliki surai sewarna dengan dirinya namun hanya dibalas dengan tatapan malas

BRAAAKK

"Apa itu?" Tanya Gaara dengan ekspresi terkejut

Tanpa ada respon yang diberikan, keadaan yang sekarang terjadilah yang menjadi jawabannya. Dari langit-langit gedung berjatuhan bola basket dan alat olahraga lainnya

"Ini berbahaya!, semuanya berlindung!" Perintah Temari

"Bola-bola itu mengejar kita" Ujar Sara

Kali ini semua alat olahraga tampak datang dari segala penjuru dan mengenai mereka dengan telak. Beberapa dapat mereka hindari namun lebih banyak yang mengenai mereka. Hal ini menyebabkan tim 1 merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Sebagai ketua tim Shikamaru tampak mencoba melihat ke seluruh penjuru gedung olahraga tetapi tidak menemukan apa-apa.

"Sudah berhenti" Ucap Temari setelah alat-alat olahraga berhenti mengejar mereka

"Syukurlah" Kata Shikamaru

Respon gembira ditunjukkan oleh tim 1 saat alat olahraga yang datang bagai air hujan itu telah berhenti. Akan tetapi-

"Astaga, Tuhan!" Teriak Sara

"Ini permainan paling gila yang pernah ada" Choji tampak terduduk kesakitan, luka robek pada lengannya semakin membesar

-kondisi tenang tidak bertahan lama karena tepat di depan mereka terlihat alat-alat olahraga tampak menyatu hingga membentuk monster menyerupai rakun dan mempunyai satu ekor setinggi 5 meter.

"Kurasa aku tau dimana artefaknya" Ucap Shikamaru

"Benarkah? Dimana?" Tanya Sara

"Di sana tepat di kepala monster itu" Tunjuk Shikamaru ke arah boneka berbentuk aneh yang dilindungi kotak kaca

"Bagaimana kau yakin?" Tanya Gaara ragu

"Lihat bentuk dan ekornya Gaara" Jawab Shikamaru penuh keyakinan

GRAHHHH

Teriak monster sambil membabi buta mengarahkan lengan besarnya ke Shikamaru dan teman-temannya. Terlihat ekspresi ketakutan di mata setiap anggota di ruang olahraga saat ini

"Mustahil! Kita bahkan tidak bisa mendekatinya" Ucap Temari sambil menghindari monster tersebut

UGHHH

Choji terkena tendangan moster tersebut sehingga terpental beberapa meter

"Choji kau tidak apa-apa? Astaga lukamu terbuka lagi!" Ucap Shikamaru menghampiri Choji dengan raut wajah khawatir

"Shikamaru jangan cemaskan aku, kau pikirkanlah strategi untuk mengambil bijuu itu. Aku akan mengalihkan perhatiannya" Perintah Choji

"Aku tidak bisa, cara itu bisa membunuhmu. Kau sudah dengar yang dikatakan Sasuke. Kita tidak boleh mati" Tolak Shikamaru

"Sadarlah!, Kita tidak ada pilihan lain" Bentak Choji

Merespon nada marah dari Choji, langsung saja Shikamaru melihat sekeliling. Tepat di dalam gedung olahraga teman-temannya berusaha mati-matian menghindari kebrutalan dari monster itu. Bersamaan dengan itu tampak Shikamaru menghela nafas dan mengangguk pada Choji.

"Kalian berdua awas!" Teriak Temari

Untung saja Shikamaru sempat menarik Choji dari tempatnya bersimpuh beberapa saat lalu. Kini Shikamaru mencoba memikirkan strategi yang tepat untuk mengambil bijuu di kepala monster tersebut.

Tim 2

"Hah, lega rasanya kita sudah sampai" Ucap Ino

"Kurasa kita bukan yang pertama sampai Ino-senpai, aku dari tadi mendengar suara gemuruh dari tempat dimana teman-teman kita berada" Ujar Yukata

"Itu wajar saja karena kita yang lokasi artefaknya cukup jauh dari ruang OSIS" Ucap Shino sambil membetulkan letak kaca mata hitamnya

Perbincangan basa-basi itulah yang menjadi isyarat bahwa Tim 2 sudah sampai di Pintu masuk kantin, tempat dari artefak lainnya yang harus mereka temukan

"Apa ada yang lapar?" Tanya Naruto tidak nyambung

"Kau ini bicara apa bodoh?!" Ucap Sakura kesal sambil mencubit pinggang Naruto

"Awww, sakit Sakura-chan. Aku dari tadi belum makan" Jelas Naruto dengan memasang ekspresi cemberut

"Lapar itu masalah pribadimu Naruto. Kau harus memikirkan permasalahan orang lain yakni keselamatan teman-temanmu" Ujar Shino

"Mendengar kau mengatakannya agak sedikit aneh" Cibir Naruto terhadap nada tanpa emosi milik Shino

"Hehehe..." Yukata hanya bisa nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya melihat interaksi abnormal dari para senpainya

"Dasar kalian ini, hentikan obrolan tidak jelas kalian dan bergegaslah. Kita harus cepat menyelesaikan permainan ini supaya cepat bebas" Ucap Ino ketus

"Hei lihat, ada satu kios yang lampunya menyala" Ucap Yukata dengan polos

Berbanding terbalik dengan Yukata, anggota OSIS yang lain jelas merasakan sesuatu yang janggal. Hal yang tidak masuk akal seseorang berjualan saat seluruh kota luluh lantak dan Konoha Gakuen tidak ditempati satu orang pun kecuali mereka. Meskipun begitu, sudah terlambat untuk mundur bagi mereka karena bagaimanapun mereka sudah bergabung ke dalam permainan.

"Ayo kita kesana" Ajak Naruto

"Tunggu Naruto, firasatku tidak enak" Sakura menahan tangan Naruto

"Aku juga. Tapi firasatku mengatakan di sanalah lokasi artefaknya"

Naruto memasang ekspresi serius sambil menatap wajah Sakura. Sakura tahu ekspresi itu bukan ekspresi biasa karena ia merupakan sahabat Naruto sedari kecil. Ekspresi ini hanya Naruto tunjukkan saat ia akan mempertaruhkan segalanya demi membuktikan perkataannya. Tatapan Naruto yang sangat tajam membuat Sakura membisu. Keheningan tercipta di kantin itu, tidak ada yang berbicara. Berbanding terbalik dengan kondisi Tim 3 yang penuh kericuhan

Tim 3

"Huft, kenapa sulit sekali menemukannya" Keluh Matsuri sambil melihat ke bagian bawah meja

"Sudah kubilang bisa saja biju tersebut berubah bentuk menjadi salah satu benda di sini" Ujar Karin

"Sadarlah kalian para gadis, yang paling masuk akal adalah kita salah mengartikan teka-teki di jurnal Shion" Ucap Sai dengan nada datar

"Sudah cukup!" Lerai Neji sambil memijat pelipisnya

"Pasti ada tombol rahasia di ruangan ini. Aku yakin!" Sambung Neji memberikan pendapat paling konyol dibanding yang lain

"Ka-kalau begitu bagaimana jika kita mencoba semua pendapat senpai?" Saran Matsuri takut salah bicara dihadapan seniornya

"Itu akan memakan waktu. Lagipula bagaimana jika diantara pendapat kami tidak ada yang benar?" Tanya Sai

"Kau yang punya ide kau juga yang tidak yakin"

Karin hanya bisa menatap malas Sai yang hanya mengendikkan bahu tidak peduli.

"Sekarang aku tahu. Pasti tombol rahasia yang kita temukan akan membuka ruangan rahasia tempat dimana biju berada" Ujar Neji masih konyol

"Ini bukan waktunya untuk ide anehmu itu Neji" Ucap Karin sambil memijat pangkal hidungnya

"Ini sangat sulit kita bahkan tidak mempunyai petunjuk" Keluh Sai frustasi

"Neji-senpai, kau yang paling pintar di seluruh sekolah. Aku yakin Neji-senpai bisa menemukan artefak ini" Kata Matsuri dengan nada yakin

"Baiklah aku akan coba memikirkan opsi lain" Ucap Neji

"Sekali lagi kau mengatakan hal konyol. Aku bersumpah akan menggunting rambutmu sampai botak"

Neji bukanlah tipe orang yang konyol, persis seperti yang dikatakan Matsuri ia adalah orang terpintar di sekolah jika dilihat dari nilai. Peringkat kedua ditempati oleh Sasuke yang cemerlang saat ujian namun terlalu irit bicara saat proses diskusi sedangkan si jenius Shikamaru berada di peringkat ketiga, salahkan saja si pemalas itu yang selalu tidur saat belum selesai mengerjakan soal ujian. Kembali ke topik utama, sekali lagi Neji bukanlah orang yang konyol. Neji hanya memiliki otak yang terlalu pintar sehingga hanya segelintir orang saja yang mampu mengerti jalan pikiran sang Hyuga.

"Kurasa aku sudah menemukan jawabannya" Ujar Neji

Semua yang ada di laboratorium tersebut serentak melihat ke arah Neji. Mereka seakan meminta jawaban secepatnya agar segera menyelesaikan permainan

Tim 4

"Jawabannya adalah langit-langit hahahahha" Tawa Lee sangat puas

"Teka-teki bodoh" Ucap Ten-ten kesal

Hinata hanya bisa tersenyum maklum melihat kelakuan Lee yang bisa dibilang hiperaktif. Sepanjang jalan ia terus mengobarkan semangat masa mudanya dan mengajukan permainan teka-teki untuk membunuh waktu mereka. Hinata hanya heran melihat perilaku santai teman-temannya di tengah kondisi yang genting ini. Ia ingin meminta mereka untuk sedikit fokus namun ia terlalu malu untuk mengatakannya. Belum lagi perasaan khawatirnya kepada laki-laki berambut pirang setelah mendengar suara gemuruh yang sangat besar.

"Santai saja Hinata, kita baru saja sampai disini kan" Ucap Sasuke tanpa melihat Hinata

Sasuke sedikit banyak tahu ekspresi khawatir di wajah gadis itu. Ia tidak bodoh seperti Naruto yang tidak peka terhadap perasaan gadis. Sasuke segera menggelengkan kepalanya saat memikirkan sifat ketidakpekaan Naruto. Itu adalah hal yang dia benci. Sesaat setelah mengalihkan pandangan ke arah samping, atensi miliknya dan teman-temannya teralih saat mendengar dentingan piano diikuti dengan alat musik lainnya. Meskipun tidak ada orang yang memainkannya

"Ini beethoven" Gumam Lee kepada diri sendiri

Sasuke melihat sekeliling dengan seksama, mata dan pikirannya terfokus untuk mencari artefak tersebut secepatnya. Alat musik di ruangan tersebut terus memainkan lantunan simfoni dengan nada yang semakin lama semakin tinggi

SINGGGGG

"Aghhh, sakit" Ucap Ten-ten sambil menutup kedua telinganya

"Bertahanlah Ten-ten, kita harus cepat menemukan artefaknya" Ucap Lee

"I-ini dapat membunuh kita" Ujar Hinata yang sudah jatuh meringkuk

"Beethoven tuli sehingga dia tidak peduli seberapa tinggi nada yang dia buat" Sasuke kali ini tidak sanggup berdiri

'Ayo Sasuke cepat berfikir, ayo berfikir!' Sambung Sasuke di dalam hati. Sesaat matanya melebar menyadari sesuatu.

"Lee apa musik yang pertama kali dimainkan Beethoven?" Tanya Sasuke

"Bagaimana aku tau, aku bukan orang tuanya" Jawab Lee sarkas dengan nada konyol

"Andai saja Sai ada disini. ARGHHH Cobalah berfikir bodoh, telingaku rasanya mau pecah!" Umpat Ten-ten tidak tahan

Tidak masuk akal saat mengasumsikan seluruh alat musik itu memainkan diri mereka sendiri. Pasti ada seseorang atau sesuatu yang memberikan komando. Alat musik yang pertama kali dimainkan Beethoven memiliki kemungkinan tersebut. Namun, Sasuke segera menyadari bahwa ada benda yang lebih masuk akal untuk menghentikan alunan nada mematikan ini terlintas di kepalanya.

"Partiturnya...kita harus merobek kertas partiturnya!" Perintah Sasuke

Dengan sisa tenaga yang ada Ten-ten langsung berlari secepat kilat kemudian mengambil dan merobek kertas partiturnya. Sekejap alat musik berhenti bermain dan menciptakan keheningan yang menenangkan

"Syu-syukurlah" Ucap Hinata yang sudah berbaring akibat tidak kuasa menahan sakit digendang telinganya, ekspresi lega tergambar jelas diwajah manisnya.

Namun, mereka berempat langsung mengeluarkan keringat dingin saat melihat selembar kertas partitur jatuh perlahan ketanah dan entah bagaimana semua alat musik tampak mengelilingi Ten-ten

"Ini hari sialku" Gumam Ten-ten sambil tersenyum sinis

TINGGGGG

Nada terakhir dari simfoni 9 beethoven dengan frekuensi tidak terhingga hingga membuat alat-alat itu hancur menjadi serpihan berkeping-keping. Anehnya hanya Ten-ten yang mendengar suara itu, seakan nada itu hanya dikhusukan untuknya. Saat seluruh alat musik telah lenyap seakan tertiup angin, disanalah mereka melihat sebuah boneka dengan 8 ekor. Akan tetapi, perhatian mereka teralihkan seluruhnya kepada ambruknya tubuh Ten-ten dengan telinga yang tidak berhenti mengeluarkan darah dan mata yang telah terpejam.

"Ten-ten tidak!" Teriakan memilukan Hinata seraya berlari ke arah mayat Ten-ten

Sasuke berjalan ke arah Ten-ten dengan pandangan kosong, hilang sudah senyum kelegaan saat alunan musik berhenti setelah Ten-ten merobek kertas partitur yang pertama. Dengan tangan bergetar ia meraih pergelangan tangan Ten-ten dan mencoba mencari denyut nadi perempuan tersebut. Namun nihil, Sasuke tidak mendapatkan getaran yang dihasilkan dari kinerja jantung yang memompa darah dari pembuluh nadi milik Ten-ten.

"Sial!" Sasuke memukul lantai ruang musik hingga tangannya berdarah

"Hiks...Maafkan aku Ten-ten" Hinata masih terisak dan mengulangi perkataan itu berulang kali

Hinata hanya bisa terduduk dan menangis sambil memeluk tubuh Ten-ten yang tidak lagi bernyawa. Tampak ekspresi penyesalan tergambar jelas diwajahnya melihat begitu banyak teman-temannya yang meninggalkannya

"Teman-teman, aku rasa ini adalah artefaknya" Ucap Lee dengan air mata yang telah mengering

Setelah cukup lama mereka menangis, Lee adalah orang yang pertama kali bangkit. Dengan langkah gontai mengambil boneka berekor 8 itu dari tanah.

"Kami mendapatkanmu Gyuki"

Lee mengucapkan nama biju sebagai syarat agar dapat menyentuhnya tanpa terbunuh. Setelah itu, Lee menepuk bahu Sasuke berusaha menenangkan sahabatnya tersebut. Ekspresi kaku sang Uchiha semakin parah, Sasuke terlihat sangat marah hingga menggertakkan giginya. Sementara Hinata telah tertidur sambil memeluk tubuh Ten-ten. Gadis indigo itu sudah terlalu lelah untuk sekedar menangis. Meskipun misi mereka berhasil tidak ada yang merasa bahagia sama sekali. Satu lagi teman mereka meninggal di dalam permainan ini, mereka tidak ingin melihat kematian lagi. Sudah cukup mereka menderita melihat kematian demi kematian. Harapan mereka sama persis dengan perintah Sasuke untuk jangan mati, ironisnya jutsru tim Sasuke lah yang pertama kali mendapatkan korban. Harapan untuk semua teman-teman mereka dapat selamat masih tetap ada. Meskipun sekarang mereka hanya bisa pasrah menerima apa yang akan mereka hadapi kedepan. Mental mereka sudah benar-benar hancur, butuh sebuah keajaiban untuk mengembalikannya seperti semula. Ya sebuah keajaiban dari seseorang yang sudah memperhatikan mereka sejak awal permainan ini dimulai.

.

TBC

.

.

.

Author Note's : Update kilat wkwkwk. Sekalian mau promosi bahwa akun Elevtron juga membuat story di wattpad, bisa mampir dilapak itu juga para readers.

Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.

Hope you enjoy it

Well see u in the next chapter

x

x

x