Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

WARNING! Typo(s), OOC, Gaje, Crack Pairs, Alur dan Konflik yang tak jelas serta Penempatan tanda baca yang tidak sesuai dan banyak sekali kesalahan-kesalahan lainnya.


K : Kushina

"Kau memang benar-benar cantik, Kushina-sama." Desis Ino memandang bingkai foto dimana terpasang foto milik Kushina dan Minato disana. Ia menghela napas panjang, jemari lentiknya dengan kasar menghapus air matanya yang sudah tak terbendung lagi.

"Mau sampai kapan kau akan seperti itu?" Shikamaru memandang sahabatnya sedang meringkuk di tempat tidur dengan mata sembab dan sebuah bingkai foto di dalam pelukannya itupun mau tak mau terusik dengan tingkah wanita Namikaze itu.

Shikamaru menghela napas panjang, ia melangkahkan kakinya untuk mendekati sahabatnya sejak kecil yang tiba-tiba saja meringsek masuk ke dalam apartemenya, menangis dengan pakaian basah karena kehujanan, "Pulanglah! Minato-sama pasti mengkhawatirkanmu!"

Ino tak bergeming, Wanita yang resmi dinikahi oleh Minato sebulan yang lalu itupun membalik posisi tidurnya hingga memunggungi pemuda bertatanan rambut nanas itu, "Jangan keras kepala! Apa maksudmu membiarkan dirimu diguyur hujan padahal kau sedang dalam kondisi hamil, Ino?"

Hah~ sepertinya berurusan dengan seorang Ino yang sedang merajuk bukan perkara yang mudah bagi putra keluarga Nara itu, ia menyilangkan kedua tangan miliknya di depan dada saat tiba-tiba bel apartemen milik pemuda itu berbunyi, "Jangan buka pintunya!" larang Ino pada sahabatnya, dengan pelan-pelan ia mendudukkan dirinya dan bersandar pada dashboard ranjang, "Ha?"

"Jangan buka pintunya jika kau masih menganggapku sahabatmu, Shika!" pinta Ino memelas pada sang sahabat, setelah sesaat memandang Shikamaru kini wanita itu menundukkan kepalanya, kembali air mata mengalir dari kedua mata miliknya, hah! Salahkan saja hormone yang membuatnya secengeng ini! sungguh ia bukan gadis cengeng dan lemah namun kehamilannya ini membuatnya seperti ini.

"Hah~ baiklah!" Shikamaru menuruti apa yang diminta Ino, pemuda itu memutuskan untuk menghampiri sang sahabat dan duduk di samping ranjangnya yang kini ditiduri oleh istri mantan Hokage ke-4 itu, tak mempedulikan bel apartemennya yang berbunyi dari tadi. "Ada apa? Tak biasanya kau akan seperti ini, kau selalu memperhatikan kesehatanmu dan Minoru, bukan?"

"Shika, aku harus berpisah dengan Minato-kun."

"Apa?"

"Aku sudah tidak tahan lagi, dia bahkan tidak datang saat aku memeriksakan kandunganku padahal ia sudah berjanji untuk datang dan memastikan bahwa kami mendapatkan Minoru atau bayi perempuan."

Shikamaru menghela napas panjang untuk kesekian kalinya, "Hanya karena itu kau memutuskan untuk menyerah? Kau tak mengingat bagaimana perjuanganmu untuk mendapatkannya?"

"Ku pikir aku akan mampu menggantikan posisi Kushina-sama di dalam hatinya, ku pikir dengan kehamilanku maka aku akan dapat membuatnya bahagia namun apa yang kuberikan padanya selama ini mungkin hanya rasa tertekan dan keterpaksaan untuk bertanggung jawab padaku dan anak yang sekarang tengah kukandung ini," Sang Nyonya Namikaze itupun mengusap lembut perutnya yang terlihat membuncit, "Setidaknya ia bisa berpura-pura bahagia meskipun ini bukan anak pertama baginya, ia tidak datang saat pemeriksaan dan aku menemukannya di makam Kushina-sama. Aku hanya memintanya untuk datang menemaniku namun apa yang dia lakukan, Shika? Apa yang harus ku lakukan?"

Sang sahabat hanya mampu terdiam, seharusnya dari awal Ino mengerti dengan apa yang akan ia hadapi di kemudian hari, bagaimanapun juga Minato-sama sangat mencintai Kushina-sama, ia tak akan mampu untuk melupakan semua kenangan diantara mereka berdua, "Jangan berpikir macam-macam! Kau mencintai Minato-sama, bukan?" tangan besar milik Shikamaru kini mengusap lembut pucuk kepala Ino, "Kau harus bersikap dewasa Ino! Sejak kepergian Asuma-sensei dan Ayah-ayah kita, akulah yang bertanggung jawab atas kau dan Chouji jadi saat kau berbuat salah aku berhak untuk menegurmu, bukan?"

"Kenapa aku yang salah?" Ino mengerucutkan bibirnya sebal dan sukses membuat Shikamaru terkikik geli dan menjawil hidung mancung milik sahabat yang sudah ia anggap adiknya sendiri itu, "Tentu saja kau yang salah Ino, Kau cemburu pada seorang Kushina-sama yang nyata-nyata sudah tidak ada di dunia ini, Minato-sama hanya memiliki kenangan bersamanya dan kau? Kau mempunyai Minato-sama disisimu, kau akan segera memiliki anak darinya, kau juga memiliki perhatian dari Minato-sama. Kau benar-benar tidak bersyukur dengan apa yang kau miliki saat ini, Ino!"

"Tapi Shika, . . . kau tidak pernah mengerti bagaimana rasa sakitku, aku tahu aku seharusnya tidak mencemburui mendiang Kushina-sama tapi entahlah mengapa tiba-tiba saja egoku mengalahkan rasa cintaku pada Minato-kun, aku hanya ingin melewati kehamilan ini dengan bahagia tapi ternyata aku harus menangis lagi."

"Kau bukan anak kecil lagi, bukan? kau akan menjadi seorang ibu, Ino! Aku yakin bahwa Minato-sama mencintaimu, tinggal menunggu waktu sampai kau menyadarinya."

"Jangan menghiburku . . .! Ahh~ aku . . . haaa . . . tchiih . . ."

"Sebaiknya kau segera beristirahat! Jika kau perlu apa-apa cepat panggil aku, kau mengerti?"

Ino mengangguk lemah, pelan calon ibu muda itu memposisikan dirinya untuk tidur, "Ino . . ."

"Hmmm?"

"Sudah cukup kau merepotkanku dan aku bersyukur bahwa sekarang kau lebih memilih untuk membuat repot Minato-sama," Shikamaru tersenyum simpul sebelum membuka pintu kamar untuknya keluar dari ruangan yang sekarang di tempati oleh Ino itu, "Dan sekarang kau ingat kembali apa yang sudah Minato-sama berikan padamu! Mungkin itu akan membuatmu sadar bahwa Minato-sama mencintai gadis eum, wanita merepotkan sepertimu!"

Huh?

Apa-apaan Shikamaru itu? Dirinya merepotkan? Sementara tidak ada seorangpun yang tidak tahu bahwa Shikamaru menyebut semuanya 'merepotkan'.

Ino mengerucutkan bibirnya sebal, Cinta? Benarkah Minato mencintainya sama seperti apa yang dikatakan Shikamaru padanya? Tapi Shikamaru selalu berkata jujur padanya, bukan?

Entahlah! Matanya terasa berat, ia sangat lelah sekarang. Apapun yang terjadi nanti sungguh ia hanya ingin Minoru bahagia.

"Kaa-san akan membahagiakanmu, nak! Tumbuhlah dengan sehat di dalam sana. Uhh? Hahaha kau mendengar apa yang Kaa-san katakan?" Ino membelai perutnya yang terasa di tendang dari dalam, ia tersenyum lembut sambil berharap bahwa Minato tak akan mencarinya, akan lebih mudah baginya untuk pergi dari sisi pria itu jika Minato kembali bersikap dingin padanya.

"Kita akan bahagia Minoru-kun."

.

.

.

.

Aquamarine milik wanita pirang itu memicing seketika saat sinar matahari yang masuk ke dalam kamar melalui tirai jendela yang terbuka mengenai matanya, apa? Terbuka?

Dengan cepat namun cukup berhati-hati ia bangun dari posisi tidurnya tak menyadari bahwa kini Minato telah duduk di tepi ranjang yang ia tempati semalam, "Hatchiiiihhh!" ia masih tak menyadari bahwa pria tampan yang telah menjadi suaminya itu berada di dekatnya dengan ekspresi yang tidak bisa diungkapkan, "Kau istriku, bukan?"

"Hah~? Minato-kun?" matanya terbelalak kaget begitu menemukan sang suami telah duduk di tepian ranjang.

"Mengapa kau memilih pulang ke rumah laki-laki lain sementara suamimu sendiri tengah khawatir menunggumu pulang?" dingin Minato menatap Ino yang hanya mampu menundukkan kepalanya, tak ingin memandang sang suami yang sepertinya tengah menahan amarah, "Jawab!"

Kheh~ khawatir dia bilang?

"Khawatir?" tanya Ino, ia mendongakkan kepalanya, menatap tajam Minato yang menatapnya lembut. Tatapan itu hampir saja meruntuhkan pertahanannya, mata sebiru langit itulah yang berhasil membuatnya jatuh sejatuh-jatuhnya, "Apa yang kau khawatirkan? Tak seharusnya kau berkata seperti itu sementara pada kenyataannya kau tak pernah mengkhawatirkanku dan tak pernah memikirkan perasaanku. Kau menikahiku karena kau hanya bertanggung jawab akan anak yang ada di dalam kandunganku, bukan?"

Minato terkesiap, bagaimana bisa wanita itu berkata seperti itu?

"Kau tak mampu menjawabnya, bukan? kau tak pernah mencintaiku, tak pernah mencintai bayiku! Kau melupakan janjimu sendiri untuk menemani memeriksakan kandunganku dan dimana kau saat itu? kau berada di makam Kushina-sama, bukan?" tanpa terasa air mata menetes dari kedua aquamarine milik Ino, "Kau tidak pernah mencintaiku, Minato-kun! tidak akan pernah."

"Jadi karena itu kau tidak pulang, tak mengindahkan kesehatan dirimu dan bayi kita? Begitu?" Minato menghela napas panjang, "Dengar Ino!"

"Tidak! Tidak! Aku tidak mau!" teriak Ino dengan menutup telinganya dengan kedua tangan, "Aku tidak mau, aku sudah lelah Minato-kun. Harus sampai kapan aku menelan rasa pahit ini sendiri?"

"Maafkan aku."

Brughhhh!

Minato menarik Ino ke dalam pelukannya, "Maafkan aku jika kau merasa demikian, Ino! tapi kau salah besar jika kau mengatakan aku tidak pernah mencintai bayi kita, mungkin aku memang belum bisa mencintaimu seutuhnya tapi aku sudah berkomitmen untuk menjalani sisa hidupku bersamamu, Naruto dan anak-anak kita nanti."

"Siapa aku jika dibandingkan Kushina-sama? Aku . . . aku mencintaimu Minato-kun tapi mengapa mencintaimu benar-benar menyakitiku?"

"Aku tahu bagaimana rasa sakitnya, butuh waktuku untuk meyakinkan diriku saat itu untuk menerimamu masuk dalam hidupku, Ino. Ku pikir aku akan menyakiti Kushina jika aku melakukannya, tak mudah untukku melupakan begitu saja kenangan bersama Kushina. Ku mohon mengertilah! Maafkan aku karena melupakan janjiku untuk menemanimu, aku benar-benar menyesal." Minato semakin mengeratkan pelukannya pada wanitanya tak peduli bahwa Ino kini meronta, meminta untuk ia lepaskan, "Aku merindukanmu . . ." desisnya, menundukkan kepala dan menempelkan dahinya pada dahi sang istri, "Beri aku waktu Ino!"

Chuups~

Sebuah ciuman hangat mendarat di bibir plum milik sang putri Yamanaka Inoichi, membuat wanita itu mau tak mau membalas ciuman sang suami.

Tidak! Ia tidak bisa tidak peduli pada Minato. Lagipula, apa yang harus ia cemburui dari Kushina-sama? Mereka berdua memiliki tempat sendiri pada hati Minato pastinya. Ia kembali mengingat apa yang dikatakan Shikamaru semalam, pemuda Nara itu memang benar! Ia masih belum dewasa, bagaimana bisa ia dipanggil ibu nantinya jika ia sendiri masih seperti anak-anak?

Ino membalas pelukan Minato semakin erat seakan ia tak ingin melepaskan pria itu, "Maafkan aku Minato-kun." isaknya.

"Aku sudah memaafkanmu sebelum kau meminta maaf, Ino."

Aku tidak bisa memberitahumu alasan sebenarnya mengapa aku memilih untuk ke makam Kushina daripada menemanimu memeriksakan keadaanmu dan Minoru, maafkan aku Ino. Namun, aku tidak menyesali hal ini. Aku lega sekarang . . .

Maafkan aku Kushina, Maafkan aku . . .

Minato mencium pucuk kepala wanitanya, menghirup wewangian khas bunga yang menguar dari rambut milik sang istri, "Aku . . . Menyayangimu."

"Uh? Kau bilang apa?" Ino menengadahkan kepalanya untuk memandang sang suami.

"Aku tidak bilang apa-apa! Kau pasti salah dengar," Elak Minato melepaskan pelukan Ino dari tubuhnya, ia segera bangkit dari posisinya setelah terlepas dari pelukan erat istrinya, "Rapikan dirimu secepatnya! Kita pulang, kau telah banyak merepotkan Shikamaru."

Ino mengerucutkan bibirnya, imut membuat mau tak mau Minato mengacak gemas pucuk kepala Ino yang kemudian dihadiahi cengiran khas milik wanita cantik itu, "Ini!" Ino menyerahkan sebuah amplop pada Minato, "Huh? Apa ini?"

"Bukalah!"

Dengan cepat Minato membuka amplop itu dan menemukan sebuah foto hitam putih dimana terdapat sosok menyerupai bayi di sana, "Ini?"

Ino menyunggingkan senyum ceria pada sang suami, "Aku tahu kau akan terkejut, Minoru-kun akan hadir di tengah-tengah keluarga kita sebentar lagi . . ." ucap Ino bangga, tangan mungilnya dengan lembut mengusap perutnya yang besar.

Minato menganggukkan kepalanya, mengamati kembali foto bayinya bersama Ino. Tak pernah sedikitpun ia menyangka bahwa ia akan hidup kembali, membuka dirinya untuk seseorang terlebih lagi orang itu adalah Ino.

Ino, Ino, Ino! gadis yang berusia sama seperti putranya yang kini telah bertransformasi menjadi wanita dewasa karena perbuatannya itu mampu membuatnya luluh dan masuk ke dalam kehidupan barunya.

Minato tersenyum sumringah.

"Minoru . . ."

.

.

.

.

THE END (See Ya In L Series)


Kaku . . .! Maaf jika di chapter ini terlalu kaku dan tidak dapat feel-nya, baru kembali ke dunia tulis menulis :D.

Mohon sumbangan ide untuk 'L' series nanti. Terimakasih.

ENJOY ^^

#VALE