Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

As you wish © Elevtron

Rating : T

Genre : Adventure, Tragedy

Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.

Pairing : Coming Soon

.

Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?

.

.

.

Chapter 13 : [Pion]

.

Tim 1

GRAHHHH

"Monster itu mengamuk lagi dan Astaga!"

Ekspresi Temari kembali tegang melihat monster tersebut semakin marah karena serangannya meleset dan kini terlihat sangat siap menyerang mereka. Belum lagi dengan kondisi fisik monster tersebut yang semakin besar hingga hampir mencapai langit-langit gedung.

"Semuanya, fokus kepada artefaknya aku akan mengalihkan perhatian monster ini" Ucap Choji

Tidak ingin mendapat protes dari teman-temannya Choji langsung berlari sekuat tenaga mencoba mengambil perhatian dari makhluk raksasa itu. Shikamaru hanya mendecih kesal terjebak di dalam kondisi yang merepotkan ini, ia harus bisa mencari jalan keluar dari tekanan yang sedang mereka hadapi. Setelah cukup lama bermain kejar-kejaran tubuh gemuk Choji terlempar sampai ke ujung gedung menerima pukulan monster tersebut, berbanding terbalik dengan monster menyeramkan yang masih tegak berdiri. Akan tetapi, artefak tersebut sudah terlepas dari tubuhnya

"Kerja bagus Gaara" Ucap Shikamaru

Decihan penuh kekesalahn sekarang tergantikan dengan senyum tipis khas Shikamaru. Rencananya untuk terus bergerak mencoba memecah fokus monster di hadapan mereka selagi menunggu salah satu diantara dia ataupun Gaara memecahkan kotak kaca dengan melempar alat-alat olahraga yang tersisa di ruangan tersebut terbukti berhasil.

"Aku mendapatkanmu, Shukaku!" Teriak Gaara setelah melompat menggapai artefak tersebut

"Kerja yang bagus semuanya, ayo pergi dari gedung ini sekarang" Perintah Shikamaru setelah melihat Choji masih sanggup untuk berlari

GRAHHH

Sebagai akibat dari hilangnya artefak yang ia jaga, monster tersebut berubah menjadi ribuan pasukan yang lebih kecil dengan tinggi sekitar 1 meter. Mereka semua mengejar tim 1 yang menuju keluar gedung dan mencoba melarikan diri

"Choji apa yang kau lakukan?"

Sara bertanya dengan nada tidak mengerti melihat Choji yang berhenti di depan pintu keluar gedung olahraga. Sebagai manusia normal pasti akan langsung lari terbirit-birit saat terancam di kejar ribuan humanoid yang tersusun dari alat olahraga.

"Kalian pergi saja, aku akan mengalihkan perhatian mereka" Ucap Choji sambil berbalik badan

"Apa yang kau bicarakan bodoh? Kami tidak akan meninggalkanmu" Ujar Gaara

"Percuma saja, walaupun aku selamat dari kejadian ini. Aku akan menjadi cacat, cita-citaku untuk menjadi pemain basket profesional tidak akan bisa tercapai" Ucap Choji datar

"Choji, masih banyak cara lain untuk menjalani hidup"

Temari mencoba membujuk Choji, air mata sudah tergenang di pelupuk matanya. Hati siapapun pasti akan tersayat melihat keadaan Choji yang sudah seperti mayat hidup dengan satu tangan

"Bukan itu alasanku"

Kali ini teman-temannya kembali dibuat bingung dengan pemilihan kata yang diucapkan Choji. Sungguh kenapa setiap orang suka sekali membuat perkataannya menjadi teka-teki? Bukankah lebih mudah mengutarakan maksudmu secara langsung?. Begitulah yang ada di pikiran anggota tim 1.

Choji berbalik badan dan menghadap teman-temannya

"Shikamaru ingat yang pernah kau katakan saat kita bermain shogi?" Tanya Choji

Shikamaru hanya diam membisu tak menjawab. Matanya masih mencari kesungguhan tekad di mata teman gemuknya itu. Shikamaru masih belum siap menerima keputusan Choji untuk mengorbankan diri.

"Aku adalah pion yang bertugas melindungi raja. Sedangkan raja nya..." Choji menggantungkan kata-katanya selagi berbalik badan

"ADALAH KALIAN!" Teriaknya selagi menutup dan mengunci pintu ruang olahraga

GLEK

Tanpa isyarat Choji langsung menelan kunci ruang olahraga yang secara diam-diam ia ambil dari Shikamaru.

"Jika kalian ingin lewat kalian harus melewati ku terlebih dahulu"

Titah ia kumandangkan kepada monster berjumlah ribuan setinggi 1 meter yang siap untuk menerobos pintu ruang olahraga. Baku hantam tidak bisa dielakkan sehingga memaksa Choji untuk mengeluarkan seluruh tenaga yang tersisa saat melayangkan pukulan ke arah monster tersebut.

"Brengsek!" Umpat Garaa mencoba mendobrak pintu di depannya namun menemui kegagalan

"Kita pergi" Perintah Shikamaru

"Apa kau bercanda? Tidak mungkin kita meninggalkan Choji disini. Dia itu teman ki-" Celotehan Sara terpotong

"Aku tau!"

Bentakan Shikamaru membuat mulut Sara bungkam. Posisi kepala Shikamaru yang menunduk membuat rekan-rekannya tidak bisa membaca ekpresi dari si ketua tim. Namun, jika melihat kepalan tangan yang membuat kuku jarinya sampai memutih, bisa dilihat betapa tidak stabilnya emosi Shikamaru saat ini.

"Kita harus percaya padanya" Ucap Shikamaru seraya membelakangi teman-temannya

Tanpa terlalu banyak bicara tim 1 dengan berat hati meninggalkan area gedung olahraga. Mereka sangat sadar protes yang mereka lancarkan akan percuma karena Shikamaru adalah orang yang paling dekat dengan Choji. Shikamaru lah yang paling terluka dan bimbang saat ini, yang bisa mereka lakukan adalah percaya baik pada Choji maupun pada Shikamaru.

Tim 2

"Baiklah sekarang apa?" Tanya Ino

"Tidak mungkin kita duduk disini untuk makan bukan" Ucap Sakura

Semua anggota tim 2 masih tampak tak setuju dengan firasat Naruto yang mengintruksikan mereka untuk mendekati kantin Konoha Gakuen. Jadi disinilah mereka berdiri menatap Naruto dengan tatapan tak mengerti. Sementara orang yang dibicarakan hanya sibuk mengamati sekeliling.

"Hey, semuanya lihat" Ujar Naruto menyadarkan yang lain

Tim 2 yang sedang berdiri di depan sebuah kios kantin tampak dikejutkan dengan kehadiran seorang pelayan yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya selama bersekolah disini.

'Perkenalkan namaku adalah Ayame. Silahkan duduk' Ucap sosok tersebut

Tiba-tiba saja mereka telah duduk di sebuah kursi dan meja panjang tempat mereka biasa makan siang saat bersekolah.

"Bagaimana bisa?" Ucap Ino dengan ekspresi terkejut

'Silahkan tentukan pilihan kalian' Ujar Ayame

Belum hilang rasa terkejut yang dapat terlihat dari ekspresi wajah tim 2 tanpa mereka sadari kertas menu telah diletakkan di meja mereka. Anehnya di menu tersebut hanya ada foto dan nama dari anggota tim 2 dan terdapat catatan di bagian bawah menu tersebut dengan tulisan
'Siapa yang ingin kalian makan'

"Apa maksudnya ini?" Tanya Yukata

Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat.

"Aa-aahh kami tidak lapar" Kata Naruto sembari tersenyum kikuk

"Anda harus memesan. Bila anda tidak menentukan pilihan maka saya anggap anda memilih semua menu"

Ayame memberi senyum yang sangat manis saat menggunakan kata-kata yang memiliki arti tersirat bahwa salah satu bahkan mereka semua akan mati di tempat ini.

"Hei!, mana bisa be-" Protes Sakura terpotong

"Itu sudah peraturannya"

"Ini omong kosong, aku akan pergi"

Ino mencoba beranjak tetapi tidak bisa karena tubuhnya tiba-tiba kaku hingga tidak bisa digerakkan. Bukan hanya Ino namun anggota tim 2 yang lain juga mengalami kondisi yang sama. Yukata terlihat sangat tertekan mengingat diantara mereka berlima hanya dia yang tidak terlalu mengenal baik satu sama lain, perbedaan tingkat ialah alasannya. Dengan kata lain dirinyalah yang memiliki probabilitas paling besar untuk dikorbankan

"Yukata" Panggil Shino

"I-iya Shino-senpai" Respon Yukata dengan gugup

"Kami tidak akan mengorbankan siapapun" Ucap Shino lengkap dengan aura misterius andalannya

Yukata hanya bisa mengangguk tipis mendengar jawaban Senpai nya tersebut. Sementara Shino sendiri kembali diam untuk berkonsentrasi memikirkan jalan keluar dari tempat ini. Sialnya jawaban yang diinginkan tidak kunjung dia dapatkan.

'Tentukan pilihan kalian secepatnya' Ayame kembali berkata dengan nada perintah

"Bagaimana ini?. Aku tidak mau mati dan aku tidak mau jadi pembunuh"

Ino meremas buku jarinya dengan kuat hingga memutih, tekanan yang ia dapatkan hampir mencapai batas yang bisa ia tahan sebelum dia melakukan tindakan bodoh seperti berteriak dan menangis histeris.

"Semuanya pilih orang yang ada di samping kanan kalian" Perintah Naruto

"Kau ingin membunuh ku?" Protes Shino yang kebetulan ada di sebelah kanan Naruto

"Bukan seperti itu, jika kalian mengikuti caraku maka suaranya akan sama yaitu 1 untuk masing-masing orang" Jelas Naruto

"Itu berarti kita semua akan mati bodoh!. Kita semua akan dijadikan makanan!" Protes Sakura

"Ini kantin, tidak mungkin makanan disajikan jika tidak ada yang makan" Ucap Naruto memperkuat argumennya

Merasa tidak ada pilihan lain, terlebih entah kenapa kursi yang mereka duduki semakin terasa panas seperti ingin membakar mereka. Dengan ragu-ragu anggota tim 2 pun mengikuti perintah dari Naruto

'Maaf pesanan anda tidak dapat kami buat, silahkan cari ke tempat lain' Jelas Ayame seraya beranjak pergi

Tampak ekspresi lega dari wajah para anggota di tim 2.

"Tidak kusangka idemu berhasil Naruto" Ujar Shino yang hanya bisa bersender di punggung kursi

"Tidak kusangka Naruto-senpai adalah orang yang jenius" Puji Yukata dengan mata berbinar-binar

"Hei!, aku tidak sebodoh itu tau" Balas Naruto sewot

Sebenarnya di dalam hatinya Naruto ingin mengatakan bahwa itu bukanlah idenya. Sebenarnya itu adalah perkataan dari seseorang yang selalu membuatkan makan siang yang rasanya tidak terlalu enak. Hingga pada suatu hari orang itu tidak lagi memberikan masakan mautnya. Saat Naruto bertanya gadis itu hanya menjawab sama persis dengan yang Naruto katakan

'Untuk apa membuat makanan jika tidak ada yang memakannya'

Sebuah respon yang Naruto tidak mengerti. Hanya saja meskipun ia ingin meminta jawaban yang lebih jelas, Naruto justru memilih tidak ambil repot karena Hinata selalu membuatkan makan siang untuknya. Jujur masakan Hinata selalu sempurna, oleh karena itu Naruto selalu menerima bekal makan siang dari Hinata. Meskipun pada akhirnya Naruto menyesal tidak meminta penjelasan lebih lanjut karena baru menyadari saat semuanya sudah terlambat

"Uzumaki Naruto"

Renungan Naruto harus terganggu saat sebuah suara memanggil namanya. Melihat sekilas ke arah teman-temannya yang telah bisa menggerakkan anggota badannya. Pupil mata Naruto sedikit membulat saat menyadari pemilik suara itu.

"S-suara ini"

.

TBC

.

.

.

Author Note's : Kira-kira suara siapakah itu? Silahkan berspekulasi. Btw, terima kasih sudah membaca karya Elevtron ini. Semoga sukses bagi para readers sekalian.

Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.

Hope you enjoy it

Well see u in the next chapter

x

x

x