Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
As you wish © Elevtron
Rating : T
Genre : Adventure, Tragedy
Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.
Pairing : Coming Soon
.
Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?
.
.
.
Chapter 14 : [Kehadiran]
.
Tim 3
"Apa benar disini?" Tanya Karin dengan nada ragu-ragu
Kini di depan mereka adalah lemari piala yang mayoritas merupakan piala hasil lomba penelitian dan karya ilmiah. Tentu saja, ada piala Neji di dalamnya. Harus diakui tingkat kenarsisan Hyuga memang tidak separah Uchiha tapi tetap tergolong tinggi. Meskipun begitu, bersikap angkuh di saat seperti ini sungguh sangat keterlaluan.
"Tentu saja, aku sangat yakin" Jawab Neji dengan nada 'sangat angkuh'
Tanpa banyak basa-basi segera ia mencoba membuka lemari piala tersebut dan pada saat bersamaan pandangannya menggelap sesaat
Mindset On
'Dimana aku?' Gumam Neji dalam hati
'Hey Neji lama tidak bertemu' Tegur seorang wanita di belakang
Mendengar suara yang tidak asing ditelinganya Neji sedikit mengernyit heran. Ia kenal suara ini meskipun di dalam otaknya terus menggemakan penolakan namun hatinya mengatakan hal sebaliknya. Mungkinkah? Tanpa mau membuang lebih banyak waktu segera ia menoleh dan reflek berteriak.
'KAU SHION'
Di dalam sebuah ruangan serba putih berdiri Neji dan Shion beserta dengan satu orang lainnya. Oke mungkin Neji tidak menyadari kehadiran satu sosok yang lain karena kini fokusnya hanya tertuju kepada Shion. Coba pikirkan reaksi apa yang pantas dilakukan saat melihat temanmu yang kau kira sudah meninggal berdiri tanpa kekurangan suatu hal apapun. Hal tersebut tidak bisa Neji jawab dengan cepat sehingga dia hanya memandang kosong ke arah Shion
'Iya seperti yang kau lihat' Jawab Shion
Ekspresi terkejut diwajah sang Hyuga kembali ke ekspresi datarnya seperti biasa. Reflek genggaman tangannya menjadi terkepal erat, tanda bahwa Neji sedang menahan emosinya.
'Kenapa kau masih hidup?' Tanya Neji dengan nada dingin
'Eh?' Respon Shion sedikit bingung
'Kenapa kau melakukan ini? Kau membunuh teman-teman kita!' Bentak Neji
Baiklah, dengan semua hal yang telah terjadi adalah hal yang wajar Neji bereaksi seperti ini. Emosi nya sudah tidak dapat lagi ditahan mengingat gadis di depannya lah yang telah menyebabkan ia dan teman-temannya terjebak kedalam permainan ini.
'Itu semua hanya salah paham' Ucap suara lain yang ada disana
Merasa tidak nyaman dengan ekpresi bingung yang dikeluarkan oleh pria Hyuga. Pemilik suara yang kebetulan seorang wanita hanya tersenyum canggung saat menyadari ketidak-sopanannya.
'Perkenalkan namaku Kaguya Otsutsuki salah satu leluhur dari manusia' Sambungnya
Mengalihkan atensi kepada sosok wanita yang sedari tadi ia acuhkan. Neji sedikit menyadari perawakan bangsawan dari wanita cantik di depannya. Sedikit rasa penasaran muncul saat melihat iris mata khas klan Hyuga di mata wanita tersebut.
'Apakah ia merupakan kerabatku? Tapi ia tadi bilang marganya Otsutsuki' Ucap Neji di dalam hati. Tapi tidak mau ambil pusing ia kembali meluapkan emosinya
'Apa maksudmu dengan salah paham? Pesan di handphone kami, kemudian Ukon. Semuanya berkaitan dengan Shion!' Mengabaikan perkenalan ramah Kaguya, Neji kembali marah-marah
'Madara merekayasa semuanya, dia membuat kalian berpikir seperti itu agar kalian tidak menjadikannya musuh kalian' Jelas Kaguya
Neji masih memasang ekpresi curiga. Dirinya masih sangat tidak percaya dengan kedua orang dihadapannya
'Bagaimana aku bisa percaya dengan kalian?' Tanya Neji
'Aku tidak memaksa kau untuk percaya. Hal yang kuinginkan adalah kau membantu Shion untuk memenangkan permainan, karena waktu kalian tidak banyak Neji'
Bersamaan dengan itu Kaguya menyentuh dahi Neji dan seketika pandangan Neji memudar.
Mindset Off
"Enghhhh, kepalaku"
Suara parau Neji menjadi yang pertama kali menghiasi ruang laboratorium tersebut. Suasana sunyi yang tercipta mungkin akibat kehadiran sosok lain di ruangan tersebut selain anggota tim 3.
"Ara~ara, kau sudah bangun Neji?"
Sosok yang ternyata adalah Shion mencoba memecah keheningan dan menurunkan tensi ruangan yang membuat dirinya merasa kurang nyaman
"Apa maumu?" Tanya Karin ketus
"Menyerahkan Son" Jawab Shion polos sembari mendekatkan boneka yang memiliki empat ekor tersebut
Normalnya saat seseorang memberikan hal yang menjadi tujuanmu maka kau akan berterima kasih. Namun, pada kasus ini tidak. Hal ini dikarenakan orang itu adalah Shion dan orang tersebut muncul secara tiba-tiba dihadapan mereka saat kepanikan melanda akibat pingsannya Neji. Terlebih mereka pikir Shion itu sudah meninggal, jadi ini pasti merupakan rekayasa dari orang yang bernama Madara ataupun Shion bersekongkol dengannya hingga memalsukan kematian.
"Neji, bagaimana pendapatmu?"
Memang tidaklah bijak bagi seseorang meminta pendapat seseorang yang baru bangun dari pingsan. Namun, disaat seperti ini segala keputusan harus dipercayakan kepada ketua tim. Terlebih kini artefak yang menjadi tujuan mereka berada ditangan yang tidak bisa mereka pastikan tergolong teman ataupun musuh
"Kita akan membantunya" Jawab Neji
Teman-temannya tampak bingung dengan jawaban Neji yang sangat bertolak belakang dengan yang mereka perkirakan. Jika suara hatinya bisa berteriak maka Sai sekarang pasti sudah mengutuk habis-habisan dirinya sendiri yang dengan cerobohnya mengajukan pertanyaan kepada orang yang baru sadar dari pingsan. Lagipula apa maksud Neji dengan 'membantunya' dari segi manapun justru merekalah yang perlu bantuan. Kondisi sendiri saja sudah sulit malah membantu orang lain.
'Hyuga dan jalan pikirannya' Pikir Sai
Sementara itu, di sebuah ruangan serba hitam berdiri seorang pria dengan baju zirah perang kuno
"Kaguya, kenapa kau ikut campur di permainanku? " Gumam pria tersebut
Dia melirik ke arah arena, dimana kini kondisi sedikit tidak menguntungkannya.
"Tampaknya seorang Madara harus menjadi serius lagi sekarang, HAHAHAHA"
Tawa menggelegarnya memenuhi ruangan tersebut. Ekspresi maniak yang mendambakan sebuah pertempuran tercetak jelas di wajah yang biasanya menampilkan ekspresi datar. Uchiha Madara sepertinya tidak menyadari kehadiran dua orang lain di ruangan tersebut
"Madara-sama sudah gila Obito" Ucap Shisui dengan sangat kurang ajar menunjuk-nunjuk ke objek pembicaraan
"Hn" Balas Obito acuh tak acuh
"Sialan kau"
Shisui hanya bisa merengut karena aksi meminta perhatian yang sudah keberapa kali dia lakukan kembali gagal. Jujur saja ia masih merasa bahwa nama klan yang ia sandang akan membawanya pada banyak masalah. Contoh saja menurut keyakinannya ia memiliki mata yang mampu menarik perhatian para gadis-gadis sehingga banyak orang akan mencoba mengambil matanya mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan kakek tua bangka sekalipun. Membayangkan hal tersebut sudah membuat Uchiha Shisui cukup bergidik, ditambah lagi tanpa dia sadari Madara dan Obito sudah hilang entah kemana.
Tim 2
Sedangkan di salah satu sudut kantin Konoha Gakuen, Tim 2 memasang sikap penuh kesiagaan meskipun sosok di depannya hanya berdiri dengan penuh keangkuhan.
"Kau benar Naruto, Perkenalkan namaku Madara Uchiha pencipta permainan ini" Ucap Madara
GREEEEP
Dengan gerak reflek super cepat Madara menahan pergelangan tangan Naruto yang hendak memukulnya
"Mati kau brengsek!" Umpat Naruto
Amarah Naruto hanya dibalas dengusan malas dari leluhur Uchiha. Matanya melirik kearah gadis bersurai pink yang tengah mengenggam jurnal dari seseorang yang cukup merepotkannya dimasa lalu. Seketika api hitam membakar jurnal tersebut dan dengan gerak reflek, terpaksa Sakura melemparkan satu-satunya petunjuk yang dapat membuat mereka menyelesaikan permainan.
"Sakura-senpai" Ujar Yukata dengan nada Khawatir
"A-aku tidak apa-apa"
Sakura mencoba menstabilkan deru nafasnya. Keringat dingin membanjiri wajahnya saat melihat jurnal milik ketua OSIS mereka telah hangus menjadi abu. Terlambat sedikit saja mungkin Sakura juga akan menjadi abu akibat terbakar oleh api hitam yang tiba-tiba saja muncul.
"Akhirnya buku penganggu itu hilang juga" Gumam Madara
"Aku akan menghajarmu!" Emosi Naruto semakin meledak-ledak saat dirinya tidak bisa melepaskan tangan Madara yang mengunci pergelangan tangan miliknya
"Dasar temperamen, kita harus ke tempat yang lebih nyaman untuk berbicara"
Jentikan jari Madara membuat dirinya dan Naruto menghilang seakan baru saja melakukan teleportasi. Kondisi yang demikian membuat anggota tim 2 bingung karena Madara dan Naruto menghilang
"Astaga, bagaimana mungkin..."
Sakura tidak bisa menahan bobot tubuhnya sendiri sehingga kini dirinya jatuh terduduk dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata. Jari-jari tangannya sedikit menggores permukaan lantai saat Sakura mengepalkan tangannya dengan sangat erat. Mulutnya sedikit bergetar untuk mengeluarkan suara
"NARUTO!"
Jeritan pilu Sakura , tangisan Ino dan Yukata serta terduduknya Shino menjadi hal yang bisa dilihat sesaat setelah insiden menghilangnya Naruto.
Sementara itu, di ruangan OSIS Neji dan anggota tim 3 gelisah menunggu teman-teman mereka yang lain
"Astaga, kita sudah menunggu cukup lama. Sebenarnya apa yang terjadi pada yang lain" Keluh Matsuri dengan raut wajah frustasi
KREEET
Suara decit pintu mengalihkan atensi mereka untuk melihat siapakah yang telah kembali ke titik kumpul yang telah dijanjikan.
"Kau sampai juga Shikamaru" Ujar Sai dengan senyum palsunya sementara Shikamaru tidak memberi tanggapan
"Shikamaru dimana Choji?"
Pertanyaan Neji sedikit membuat suasana canggung di ruangan itu, keheningan terjadi beberapa saat hingga Shikamaru buka suara.
"Dia akan menyusul kita"
Iris amethyst milik Neji beradu dengan iris hitam milik Shikamaru. Sejenak keduanya terkejut karena menyadari kesamaan diantara tatapan mereka berdua. Sebuah tatapan yang mengisyaratkan keraguan tentang keputusan yang mereka ambil.
"Sasuke-senpai juga sudah sampai" Ujar Matsuri yang berada paling dekat dengan pintu sehingga bisa melihat kehadiran orang lain di ambang ruang OSIS mereka
"Kami kembali" Ucap Sasuke mewakili tim 4
Neji mengalihkan atensinya kepada tim 4 khusunya Sasuke. Lagi-lagi ia menemukan keganjalan dan hendak menanyakan pertanyaan yang sama namun...
"Sasuke dimana Ten-Ten?"
Bagaikan de javu kini Shikamaru yang memberi pertanyaan dan kembali menimbulkan suasana yang canggung. Berbeda dengan Shikamaru yang memberi respon saat diberi pertanyaan, kali ini Sasuke hanya diam. Saat Shikamaru hendak membuka suara lagi ia melihat Hinata menahan isak tangis yang membuat air matanya hendak keluar dari pelupuk mata gadis bersurai indigo tersebut. Shikamaru mengerti bahkan tanpa perlu jawaban verbal untuk menyimpulkan sesuatu telah terjadi kepada Ten-ten. Kini hanya hening yang tercipta di dalam ruangan tersebut. Tidak ada yang berbicara karena terlalu sedih, marah, bahkan bingung dengan semua yang mereka alami hari ini
"Kalian sudah sampai?" Tanya Shion yang baru keluar dari kamar mandi
Melihat ekspresi terkejut teman-temannya dan mencegah mereka semua meledakkan emosi mereka seperti yang pernah ia lakukan di alam bawah sadarnya. Neji secepat mungkin berbicara
"Aku akan menjelaskannya"
Kini setelah mendapatkan perhatian dari teman-temannya, Neji hanya bisa menghela nafas dan menceritakan apa yang dialaminya saat pingsan tadi.
.
TBC
.
.
.
Author Note's : Bisa dibilang kita sudah di penghujung dari phase 1 dan sebelum menutupnya Elevtron rasa kemunculan Shion adalah sesuatu yang cukup tepat. Mungkin bagi pembaca yang membaca cerita Elevtron sudah bisa mencium hal ini di chapter 7 dan mungkin kalian sudah menebak beberapa misteri yang sudah Elevtron berikan cluenya. Bagi yang belum ketemu bisa dibaca kembali dengan lebih teliti. Oke segitu dulu, keep safety and healthy everyone.
Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.
Hope you enjoy it
Well see u in the next chapter
x
x
x
