Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
WARNING! Typo(s), OOC, Gaje, Crack Pairs, Alur dan Konflik yang tak jelas serta Penempatan tanda baca yang tidak sesuai dan banyak sekali kesalahan-kesalahan lainnya.
M : My Ino-chan
"Makanlah, Mikomi-chan!" perintah Minato tegas pada putri kesayangannya bersama Ino itu, Gadis kecilnya itu menggelengkan kepala tidak mau, tangan mungilnya menggeser mangkuk buburnya membuat lagi-lagi Minato harus menghela napasnya panjang, berusaha untuk bersabar.
Terhitung sudah 30 menit ini putrinya merajuk, alih-alih mencoba makanan yang ia masak, Mikomi hanya memandangnya kemudian memalingkan wajahnya malas, "Apa yang harus Tou-chan lakukan untuk membuatmu memakan makananmu, huh?"
Sang putri mengerucutkan bibirnya, matanya berkaca-kaca mengisyaratkan bahwa ia akan menangis, "Aku ingin Kaa-chan, huks…huks…huks." Mikomi turun dari kursinya dan mendekati sang ayah, "Kaa-chan dimana?"
Minato tersenyum lembut, mengacak surai rambut pirang milik sang putri "Kaa-chan sedang bekerja, jadi kau harus menuruti kata-kata Tou-chan sekarang. Apa kau mengerti?"
"Bekerja?" Mikomi kecil membulatkan matanya tak mengerti, lagi-lagi Minato dibuat gemas dengan tingkah putri kesayangannya itu. Minato mengangguk, "Iya bekerja." Minato tersenyum lembut, dapat ia mengerti mengapa gadis ciliknya ini tak biasa dengan kondisi seperti ini, kondisi dimana ia terbangun tanpa kehadiran Ino, "Kau merindukan Kaa-chan?"
Mikomi mengangguk, "Sampai kapan Kaa-chan bekerja, Tou-chan?"
"1 minggu, kau tidak akan bertemu Kaa-san sampai minggu depan." Minoru menjulurkan lidahnya untuk menggoda sang adik kemudian mengambil tempat duduk di hadapan mereka, dengan lahap ia langsung menyantap roti isi yang disiapkan sang ayah untuknya.
"Tou-chan…" Mikomi merengek dan menarik baju yang dikenakan Minato, "Apa benar yang dikatakan oleh Onii-chan?"
Minato menghela napasnya panjang memandang Mikomi dan kemudian Minoru bergantian. Mengurus anak benar-benar menguras tenaga, huh? Bagaimana Ino bisa bertahan mengurus mereka selama ini sendiri sementara dirinya sibuk membantu Naruto di Hokage Tower.
"Jangan menggoda adikmu, Minoru!" perintah Minato pada putra pertamanya, Minoru mengerucutkan bibirnya sebal kemudian menyantap rotinya tanpa berkata-kata lagi, "Ayo makan! Buburmu sudah dingin Mikomi-chan."
"Aku tidak mau. Aku tidak akan makan sebelum Kaa-chan pulang." Rajuk gadis cilik berusia 5 tahun itu kepada sang ayah, "Kaa-chan akan pulang nanti sore jika kau memakan makananmu, tapi jika tidak maka Kaa-chan akan pulang seperti apa yang dikatakan Minoru-nii tadi!"
Gadis kecil itu terlihat berpikir sebentar, "Aaaa…" ia membuka mulutnya lebar, Minato tersenyum dan memasukkan sesendok bubur ke dalam mulut kecil Mikomi.
"Kaa-chan akan datang nanti sore, bukan?"
Minato mengangguk, "Iya."
"Aku selesai, Tou-san! Bolehkah aku bermain di rumah Kakashi Ojii-san?"
Minato mengangguk, "Jangan menyusahkan Kakashi Ojii-san! Apa kau mengerti?"
"Aku mengerti." Sahut Minoru dan berlari menuju ke pintu keluar sedangkan Mikomi kini sedang sibuk mengunyah buburnya, "Cepat habiskan makananmu, Mikomi-chan! Jika kau cepat menghabiskan makananmu maka Tou-chan akan mengajakmu untuk mengelilingi desa."
"Benarkah?"
"Tentu saja."
.
.
.
.
"Lalu mengapa kau tak kunjung menikah?"
"Karena kau telah membuatku patah hati."
Ino menghentikan langkahnya dan memandang iba pria yang berdiri disampingnya, huh~, ia menghela napasnya panjang, "Sai..."
Sai menyunggingkan senyum khas miliknya membuat Ino mendengus kesal, "Bukankah saat kau mengetahui bahwa aku menyukai Minato-kun, saat itu kau telah menjalin hubungan dengan seseorang?"
Sai menggelengkan kepalanya, "Aku berbohong."
"Maafkan aku…" ungkap Ino, keduanya kini sedang berjalan menuju ke kedai makanan untuk rehat sejenak di tengah kesibukkan mereka untuk mempersiapkan pertemuan para Kage yang kali ini akan diadakan di Konoha. Tentu saja sebagai istri mantan Hokage dan ibu tiri dari Hokage yang sekarang menjabat, Ino harus mempersiapkan dengan baik acara tahunan itu dan terpaksa harus berpisah dengan Mikomi yang selama ini tidak pernah lepas dari penjagaannya.
"Kau tidak bersalah, Ino-chan."
"Sudah waktunya kau mencari gadis yang lebih baik dariku dan menikah, mempunyai keluargamu sendiri, anak-anak yang akan kau jaga dan suatu hari nanti akan menjagamu."
"Untuk terakhir kalinya sebelum aku melakukan apa yang kau inginkan, bolehkah aku memelukmu?"
Ino mengangguk, perlahan ia mendekati pemuda berkulit pucat itu dan memeluknya, "Kau pasti akan bahagia Sai."
Sai mengangguk, "Terimakasih."
Tanpa mereka sadari kini Minato dan Mikomi yang berada di gendongan pria itu memandang Ino yang tengah memeluk Sai, Mikomi memandangi bergantian pemandangan dihadapannya dengan Minato yang terlihat…Marah?
"Kaa-chan…" teriak Mikomi dan meminta Minato untuk menurunkannya, gadis kecil itu kemudian berlari menuju Ino yang mematung terkejut dengan keberadaan Mikomi dan suaminya, "Onii-chan bilang, Kaa-chan akan pulang 7 hari lagi tapi Tou-chan bilang nanti sore Kaa-chan pulang."
"Mikomi-chan…, Minato-kun…!" Ino mengacak lembut surai kepirangan putrinya dan memandang Sai, "Sebaiknya aku pergi dulu Sai, aku akan makan siang bersama Minato-kun dan Mikomi-chan."
Sai mengangguk mengerti, "Selamat siang Mikomi-chan." sapa Sai kepada bocah cantik itu yang kemudian mendapat senyuman manis dari putri Namikaze Minato, "Aku pergi dulu…"
Sai menatap kepergian Ino dan Mikomi untuk berjalan mendekati Minato, sejenak ia memandang pancaran kebahagiaan yang menguar dari keluarga kecil itu dan berlalu menjauh.
"Minato-kun…" sapa Ino ceria pada sang suami yang hanya dihadiahi anggukan kecil dari Minato, apa ada yang salah?
Ino mengerucutkan bibirnya sebal, mirip sekali dengan tingkah Mikomi tadi pagi yang sempat membuat Minato kuwalahan, "Apa aku membuat suatu kesalahan?"
"Tidak."
Mikomi yang berada di tengah orang tuanya mendongakkan kepalanya ke atas demi memandang ayah dan ibunya, "Aku lapar…"
Minato dan Ino mengalihkan pandangan mereka, "Aku ingin makan ramen…"
"Baiklah! Kita akan makan ramen bersama. Iya 'kan Minato-kun?" ucap Ino ceria, Minato lagi-lagi hanya mengangguk dan kemudian menggendong Mikomi ke dalam pelukannya, berjalan pelan meninggalkan Ino yang masih berdiri mematung, "Kaa-chan ayo!" seru Mikomi yang akhirnya mampu membawa wanita itu kembali ke alam sadarnya.
Apa salahku?
=M=
Ketiganya kini berada di Kedai Ichiraku dan telah memesan Beef Ramen favorit mereka, sementara Ino tengah meniup ramen untuk ia suapkan pada Mikomi, Minato tak menyentuh barang sedikitpun ramen yang telah mereka pesan, Ino menghela napas panjang, "Aaa…ayo buka mulutmu lebar, Mikomi-chan!" bujuk Ino pada sang putri, Mikomi membuka mulutnya dan melahap ramen yang disuapkan sang ibu, "Minato-kun, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa."
"Tidak apa-apamu itu mencurigakan." Tegas Ino dan meletakkan sumpit yang ia gunakan untuk menyuapi Mikomi, "Kau tidak baik-baik saja, Ada apa?"
"Aku sudah bilang tidak ada apa-apa dan aku baik-baik saja. Makanlah ramen-mu dan aku akan menyuapi Mikomi-chan." tegas Minato, pria jabrik itu lantas mengambil sumpit yang dikenakan Ino untuk menyuapi Mikomi tadi.
"Kau benar-benar membuatku bingung. Apa salahku, kenapa kau tiba-tiba berubah sikap seperti ini, huh?"
"Jangan memulainya, Ino!"
"Kenapa kalian bertengkar?" Mikomi menundukkan kepalanya, sedih. Gadis kecil itu meneteskan air matanya, tak pernah ia melihat ayah dan ibunya bertengkar selama ini, "Apa ini karena aku?"
"Mikomi-chan, tidak! Kami tidak sedang bertengkar, hanya saja…Ahhh! Minato-kun…!" dengus Ino sebal kepada sang sami, Nyonya Namikaze itu kemudian mendekap Mikomi dan membawanya ke dalam pangkuan hangatnya, "Dengar ya, Sayang! Kaa-chan dan Tou-chan sanga menyayangimu, jadi mana mungkin kami bertengkar karenamu, huh?" Ino menjawil hidung mancung sang putri, "Kau, Naruto-nii dan Minoru-nii benar-benar berharga untuk kami."
"Benarkah? Tapi mengapa kalian berteriak dan bertengkar tadi?"
"Karena Tou-chan tidak menyentuh makanannya sedikitpun."
Minato membulatkan matanya tak percaya, Aquamarine dan Biru Saphire keduanya saling beradu, Apa-apaan dia ini?
"Kalau begitu, Makanlah Tou-chan!" seru Mikomi, membuat Ino terkikik geli dan mengacak surai rambut pirang milik putrinya gemas, "Iya. Makanlah Tou-chan!" perintah Ino mengikuti gaya bicara sang putri.
Minato menghela napasnya panjang dan segera mengambil sumpitnya sendiri, lahap ia menyantap beef ramen-nya. Ia benar-benar lapar.
Ino memandang sang suami dengan senyuman mengembang, "Apa Tou-chan tidak makan tadi pagi?"
Mikomi menggelengkan kepalanya, "Sepertinya tidak." Mikomi berujar polos yang otomatis membuat Ino gemas dan menciumi pipi gembil putrinya, Minato nampak tidak peduli dan tetap menikmati ramen-nya.
"Tou-chan benar-benar lapar, Huh~"
Mikomi mengangguk ceria, mengamini perkataan sang ibu.
.
.
.
.
"Jam berapa ini? aku harus kembali ke Hokage Tower." Tanya Ino, entah kepada siapa karena kini Minato sedang menyibukkan dirinya membelai lembut pucuk kepala Mikomi yang tertidur di pangkuannya.
"Siapa bilang kau boleh kembali ke sana?" Minato angkat bicara begitu istrinya itu bersiap untuk mengambil sweeter-nya, Ino mematung seketika, memandang suaminya tak percaya, "Kau harus pulang bersama kami!"
"Tapi…"
"Tidak ada tapi-tapian! Kau tetap akan pulang dan serahkan semua pada staff-mu!"
"Tapi Minato-kun…!"
Ahhh! Ada apa sebenarnya dengan suaminya itu? yang Ino tahu pasti bahwa kini ada yang mengganggu pikiran suaminya itu dan dirinya harus patuh terhadap perkataan suaminya, padahal seingatnya saat ia keluar dari rumah tadi ia masih tersenyum ramah dan menyuruhnya untuk tetap tenang meskipun ini adalah hari pertama dirinya meninggalkan Mikomi sendiri.
"Kau dengar apa kataku, bukan?" ungkap Minato, perlahan ia menggendong Mikomi agar putrinya itu tidak terbangun dan berdiri dari posisi duduknya, "Kita pulang."
"B-bbaiklah…"
Setelah membayar makanan mereka Ino berjalan beriringan dengan Minato dan Mikomi yang tertidur di gendongan Minato untuk pulang ke Namikaze Coumpound yang terletak di kawasan Hokage kompleks dalam diam.
Apa salahku, mengapa tiba-tiba ia bersikap demikian, huh?
"Minato-kun…!" Ino mengalungkan tangannya pada satu tangan Minato yang terbebas karena ia hanya menggunakan satu tangannya untuk menggendong Mikomi, "Jangan bersikap seperti anak kecil! Kau seorang ibu sekarang!"
"Aku tahu. Tapi aku ingin seperti ini, bukankah sudah lama sekali sejak kelahiran Minoru-kun kita tidak menghabiskan waktu bersama seperti ini?"
Huh! Minato hanya mampu menghela napasnya panjang-panjang dan membiarkan istrinya bergelayut manja pada lengannya meskipun kini tidak sedikit warga Konoha yang menatap 'jahil' pada kebersamaan mereka, ia hanya perlu memasang 'tembok' di wajahnya, bukan?
=M=
"Aku masih tidak mengerti mengapa kau mengajakku pulang sedangkan kita sudah berdiskusi dari jauh-jauh hari tentang hal ini? aku akan membantu Naruto untuk mempersiapkan pertemuan para Kage dan kau dirumah menjaga anak-anak, lalu mengapa kemudian kau menyesali keputusanmu itu?"
Ino melepaskan amarahnya pada Minato begitu mereka berada di kamar dan telah menidurkan Mikomi di kamarnya sendiri. Wanita itu terlihat kesal dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, tak mempedulikan Minato yang mengambil tempat duduk di sampingnya, "Aku membencimu." Tukas Ino kemudian membalik tubuhnya sehingga memunggungi Minato.
"Aku lebih membencimu."
Ohhh?
Ino membulatkan matanya tak percaya, dan segera membalik tubuhnya kembali untuk melihat sang suami yang tanpa ia sadari telah terbaring disampingnya, "K-kau…!"
Minato membuka satu matanya, "Aku membencimu, Ino!" ungkap Minato yang menarik Ino ke dalam pelukannya, "Aku membencimu hingga aku ingin membunuh pemuda berkulit pucat itu karena memelukmu." Bisiknya.
Blush, rona kemerahan menghiasi wajah ayu milik Namikaze Ino, jari-jemari panjang milik Minato merapikan helaian rambut yang menutupi wajah cantik sang istri, "Kau cemburu?"
"Lelaki mana yang tidak cemburu jika istrinya memeluk pria lain, seintim itu, huh?"
Minato membalik posisi mereka hingga kini ia yang berada di atas tubuh wanitanya, "Benarkah kau cemburu?" balas Ino, menggoda sang suami.
"Mengapa kau memeluknya?"
"Kau ingin tahu?"
"Jawab pertanyaanku atau…"
"Atau apa?" Ino menyunggingkan seringaian penuh kemenangan, puas dengan sikap yang ditunjukkan Minato padanya, dengan begitu ia yakin bahwa Minato telah menerima keberadaannya dan juga mencintainya sepenuh hati.
"Atau…"
Perlahan jemari milik Minato mengusap lembut pipi Ino, "Aku akan memberikanmu pelajaran!"
.
.
.
.
"Jika pelajaran yang kau maksud adalah seperti tadi, aku bersedia kau beri pelajaran setiap hari, Minato-sensei!" goda Ino pada suaminya dan mendekap erat tubuh atletis sang suami seakan ia tidak mau dipisahkan dengan sosok mantan Hokage ke-4 itu, rona kemerahan pada pipi Minato pun tak luput dari perhatian Ino, "Hahaha…kau merona." Goda Ino membuat Minato mengunci bibir Ino dengan ciumannya, "Kau benar-benar cerewet, huh?! Dan Ingat! Kau adalah milikku."
"Eum hihihi iya aku tahu, Tapi apa kau tidak mau tahu alasan sesungguhnya?"
"Katakan! Mengapa kau memeluknya, huh?"
"Dia menyukaiku dan dia belum bisa melupakan perasaannya padaku, Minato-kun! kemudian aku menasehatinya dan akhirnya ia mengerti, ia ingin memelukku untuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar mencoba melupakan perasaannya padaku."
"Tapi bukan berarti kalian melakukannya di jalanan, huh?!"
"Kau masih cemburu?"
"Tidak! Aku mau mandi, rasanya badanku tidak nyaman sama sekali." Ujar Minato kemudian melepaskan pelukan Ino pada tubuhnya dan segera memakai celana yang sudah tergeletak dilantai, Ia menghela napas panjang memandang Ino yang terkikik geli memandanginya, "Kau boleh kembali ke Hokage Tower!"
"Benarkah?" seru Ino ceria, Ya Tuhan Mikomi benar-benar menuruni perilakunya ini, pikir Minato, "Ahh! Jadilah suami pengertian seperti ini, Minato-kun! Bagaimanapun juga kita adalah tuan rumah dan harus menjamu tamu-tamu kita dengan baik." Senyum Ino lembut.
Minato beranjak dari tempat duduk, "Ya! Jika kau tidak malu keluar dengan keadaanmu yang seperti itu!" terang minato menunjuk bercak-bercak merah yang merupakan kissmark darinya di leher Ino, Ino membulatkan mata dan menyentuh lehernya, "Minato-kunnnnnnnnnnnnnnnnnnnn!" teriaknya.
Sedangkan kini Minato telah berlari dan berhasil masuk ke kamar mandi dengan selamat, ia menyeringai penuh kemenangan.
"Huh! Kau benar-benar menyebalkan Minato-kun."
.
.
.
.
The End (See Ya in N Series)
ENJOY^^
#VALE
