Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
As you wish © Elevtron
Rating : T
Genre : Adventure, Tragedy
Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.
Pairing : Coming Soon
.
Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?
.
.
.
Chapter 15 : [Ikatan Yang Rusak]
.
Mansion megah yang didominasi oleh warna gelap menjadi lokasi tempat Madara dan Naruto berteleportasi. Di depan lambang kipas berwarna merah putih khas klan Uchiha, seorang Madara duduk di kursi kebesarannya dengan angkuh menatap pemuda pirang jabrik yang menjadi pilihannya.
"Jadi, bagaimana pendapatmu?" Tanya Madara
"A-aku tidak tau harus menjawab apa, ini semua tidak masuk akal. Terlebih setelah kau mengatakan bahwa Shion masih hidup dan diselamatkan salah satu kerabatmu" Jawab Naruto
"Pikirkanlah baik-baik karena kesempatan ini tidak datang dua kali" Ucap Madara sambil menyilangkan kakinya
"Aku tau, kau tidak akan melewatkan kesempatan untuk menebus semua kesalahanmu kan?"
Madara kini menyeringai melihat ekspresi ragu-ragu di bocah keras kepala yang sedang coba ia hasut. Sejujurnya jika Madara ingin menyebutkan keahlian non-fisik yang ia miliki, maka sudah pasti jawabannya adalah permainan kata-kata.
Flashback On
"A-aku menyukaimu"
"Maaf Hinata, aku-"
"Ahh tidak apa-apa Naruto-kun, aku sekarang lega sudah mengatakannya"
"Ohhh, kalau begitu aku permisi dulu karena ada urusan"
Menangis ditaman, hanya itu yang bisa Hinata lakukan. Percakapan singkat yang menandai penolakan dari cinta masa kecil yang telah ia jaga sejak lama cukup bisa membuat tangisnya tak kunjung berhenti. Alasan Hinata memilih bangku taman yang terletak di sudut ialah agar tidak ada orang yang melihat dirinya menangis, namun sepertinya hari ini benar-benar bukan hari keberuntungannya.
"Hinata"
Mendengar panggilan dari suara bariton yang terdengar familiar, Hinata segera mengusap asal air matanya dan menoleh.
"A-aah, halo Sasuke-kun" Sapa Hinata lembut
"Kenapa kau menangis?" Tanya Sasuke to the point
"A-aku tidak menangis" Jawab Hinata gugup
"Tidak usah menyembunyikannya, matamu itu sembab sekali" Ucap Sasuke datar
Hinata tidak memberi respon apapun, hanya menunduk selagi mencoba menahan air matanya.
"Apa seorang gadis akan selalu menangis saat ditolak?" Tanya Sasuke
Hinata menatap Sasuke dengan pandangan sulit diartikan. Apa pria ini baru saja menyindirnya?
"Aku baru saja menolak Sakura" Sambung Sasuke
"Astaga!"
Hinata reflek menutup mulutnya, sungguh merupakan suatu kebetulan dirinya dan Sakura menyatakan perasaan pada hari yang sama.
"Kau benar-benar jahat Sasuke-kun" Sambung Hinata seraya tersenyum kecut
Mungkin secara tersirat Hinata mengatakan itu untuk menggambarkan perasaan kecewanya kepada Naruto. Namun, dirinya tidaklah salah karena saat kau menyebabkan orang lain kecewa maka kau adalah manusia yang jahat bagi orang itu. Sementara Sasuke hanya mendecih kesal mendengar ucapan Hinata, sebenarnya bukanlah hal yang baru bagi Sasuke menolak dan membuat gadis menangis. Tapi kali ini berbeda karena gadis itu adalah Sakura, sahabatnya sedari kecil.
"Sedikit banyak aku mengerti keadaan Sakura-chan" Ujar Hinata
"Apa maksudmu?" Tanya Sasuke seraya mendudukkan diri dibangku taman itu
"Aku menyatakan perasaanku pada Naruto-kun hari ini" Jawab Hinata
"Hn" Respon Sasuke tidak terkejut sama sekali dibalas delikan tidak suka Hinata
'Dasar semua laki-laki sama saja, tidak punya hati' Umpatnya dalam hati
"Mu-mungkin aku mengatakannya terlalu cepat"
Kesekian kalinya Sasuke tidak memberi respon. Dirinya secara pribadi tidak suka ikut campur masalah orang lain, namun justru Hinata sekarang bisa dikatakan curhat kepadanya. Tentu saja ia lebih memilih tidak peduli
"Tapi, aku tidak bisa menahan diriku karena takut didahului oleh Shion-chan" Lanjut Hinata
"Apa!?"
Sasuke tidak bisa mengontrol keterkejutannya sehingga membuat Hinata sedikit terkejut karena menerima nada tinggi dari Sasuke. Melihat itu si bungsu Uchiha merasa tidak enak hati
"Ma-maaf" Ucap Sasuke
"A-aah tidak apa-apa" Hinata memberikan senyum lembut
"Bisa kau jelaskan apa yang kau bilang tadi" Sasuke kembali mencoba masuk ke inti pembicaraan
"Yang mana?" Tanya Hinata
"Yang tadi, tentang Shion akan mengungkapkan perasaannya"
"Ohhh, kemarin-"
Sasuke segera berlari menuju pinggir aliran sungai kota Konoha. Dirinya terus menyisiri jalan dengan rerumputan dimana jalan itu lebih tinggi dari aliran sungai dibawahnya. Jarak yang cukup jauh tidak membuat ia menurunkan kecepatannya hingga melihat Shion yang sedang memandang sendu matahari terbenam
"Shion" Panggil Sasuke
"Kenapa Sasuke-kun?" Jawab Shion
Seorang sahabat sedari kecil akan langsung menyadari saat sahabatnya terkena sebuah masalah. Hal inilah yang sekarang Sasuke rasakan, segera ia menarik tangan Shion tanpa merespon protes dari gadis tersebut. Sasuke kini dalam keadaan sangat marah melihat kedua sahabatnya harus saling menyakiti satu sama lain. Baik Naruto yang ingin mati perlahan karena tidak mempunyai gairah hidup lagi maupun Shion yang terjebak di dalam perasaannya sendiri. Sasuke sangat kesal melihat kedua sahabatnya tidak bisa melihat bahwa ada banyak hal di dunia ini selain mereka berdua
"Naruto-san jangan lupa kunci gerbangnya ya" Ucap seorang pria dewasa dengan perban di hidungnya
"Baik Kotetsu-san dan Izumo-san, terima kasih" Bersamaan dengan itu Naruto kembali melempar bola basket dan mencetak 3 point
Bermain basket merupakan hobi Naruto, meskipun bermain sendirian dirinya tetap bisa menyalurkan emosi maupun mengisi waktu luang dengan bermain permainan ini. Terlebih hal ini bukanlah yang pertama kali, bahkan penjaga gerbang pun sering mempercayakan kunci sekolah padanya. Meskipun hal ini mengharuskan dia bangun pagi dan menginap di sekolah agar tidak kesiangan, tapi melakukannya sekali-sekali bukan merupakan masalah bagi Uzumaki Naruto
"Naruto" Panggil seseorang yang baru tiba di lapangan basket Konoha Gakuen
"Oi Teme, sedang apa kau disini?" Tanya Naruto tanpa menoleh
"Bisakah kau menatapku saat aku berbicara Naruto?"
Melempar kembali bola basketnya, Naruto mendecih kesal saat lemparannya tidak masuk. Terlebih dirinya pasti merasa akan ada masalah saat Sasuke memanggilnya dengan 'nama' bukan dengan panggilan akrab khas kedua sahabat itu. Akhirnya Naruto membalikkan badannya dan melihat Shion juga ada disana, ia menghela nafas seolah mengerti apa yang sedang terjadi
"Perasaanku adalah hak pribadiku Sasu-"
"Bukan itu" Potong Sasuke
"Berhentilah menyiksa dirimu sendiri" Sambungnya
"Apa maksudmu?" Tanya Naruto seraya menaikkan alis
"Kematian kedua orang tuamu tidak harus membuatmu seperti ini. Kau harus melanjutkan hidupmu Naruto, mereka akan sedih melihatmu menjadi seperti ini" Jelas Sasuke
"Heh, orang sepertimu tidak akan mengerti" Ujar Naruto dengan tersenyum mengejek
"Naruto-kun" Panggil Shion
"Kau mengerti kan Shion? Rasa sakitnya tidak memiliki siapapun" Tanya Naruto retoris
"Hentikan omong kosongmu Naruto!" Bentak Sasuke
"Justru kau lah yang harus diam!" Balas Naruto tidak mau kalah
"Kau"
Lengan Sasuke ditahan agar dirinya tidak melangkah untuk memukul wajah Naruto. Shion memandangnya dengan tatapan sulit diartikan, Sasuke hanya bisa menghela nafas.
"Jangan sok menceramahiku, kau hanya bisa mengerti perasaanku jika kau mengalami hal yang sama. Apa perlu kedua nyawa orang tuamu dicabut terlebih dulu Sasuke?"
Baiklah Naruto sudah sangat keterlaluan sehingga membuat Sasuke sudah tidak dapat menahan dirinya lagi
BUGGGHHH
"Brengsek!"
Mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya, Naruto sedikit tidak menyangka serangan mendadak yang Sasuke lancarkan.
"Kau yang memulai teme"
BUGGGH
Pukulan dan tendangan mereka berdua lancarkan namun akibat jam terbang perkelahian yang Naruto miliki membuat ia sedikit lebih unggul. Tubuh Sasuke berhasil dikunci dengan cara Naruto duduki, kesempatan ini tidak ia sia-siakan dengan langsung melayangkan bogem mentah ke wajah angkuh Uchiha tersebut. Sementara Shion hanya bisa menangis setelah usahanya untuk melerai mereka berdua sedari tadi menemui kegagalan
"Hiks...kumohon hentikan. Hiks...berhenti kumohon"
DEG
Pukulan Naruto berhenti di depan wajah Sasuke yang sudah bapak belur. Melihat Naruto yang lengah segera Sasuke membanting tubuh Naruto ke samping dan gantian mendudukinya. Kali ini giliran Sasuke melancarkan pukulan bertubi-tubi ke wajah Naruto. Berbeda dengan Naruto, Sasuke seakan tuli akan isakan tangis Shion. Setelah merasa cukup menghajar sahabar kuningnya itu Sasuke berdiri dan melangkah ke arah gerbang sekolah namun tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya
"Mulai hari ini ikatan kita telah terputus, kita bukan lagi saudara dan kita tidak akan bersama-sama lagi. Ini adalah akhir yang bijak untuk kita"
Ucapan Sasuke itulah yang menjadi akhir dari kisah pertemanan mereka. Shion yang masih menangis, Naruto yang mendecih kesal lalu berdiri menuju gudang sekolah untuk mengistirahatkan diri dan Sasuke yang menangis...ya menangis dibalik dinding sekolah. Sudah terlambat untuk menarik kata-katanya, sejujurnya ia berharap salah satu diantara Naruto maupun Shion akan menolak deklarasinya namun mereka hanya diam seolah setuju dengan yang Sasuke katakan. Kini mereka semua harus terbiasa menerima takdir yang sudah digariskan untuk mereka bertiga
Flashback Off
"Namun, gadis itu tidak menyerah. Ia mencalonkan diri menjadi ketua OSIS dengan mengajak Sasuke sebagai wakil. Lalu menggunakan hak istimewanya untuk menarikmu menjadi anggota tanpa proses seleksi. Semua itu, dilakukan untuk mengembalikan kalian seperti dulu. Cara itu sejujurnya cukup berhasil namun gelas yang sudah pecah tetap akan terlihat retakannya meskipun disatukan kembali" Jelas Shisui yang entah sejak kapan menjadi pendongeng masa lalu Naruto lengkap dengan ekspresi penuh penghayatan saat ia bercerita
"Masa lalu yang menarik"Gumam Obito seraya tersenyum
"Jadi aku tanya sekali lagi, apa kau setuju Naruto?" Tanya Madara dengan tatapan mengintimidasi
"Baiklah aku bergabung" Jawab Naruto
.
TBC
.
.
.
Author Note's : Hi Hi Hi lama tidak berjumpa. Sebelumnya mohon maaf Elevtron sedikit terlena dengan aktivitas di dunia nyata dan melupakan project disini. Intinya selamat datang di phase 2 cerita dan sedikit spoiler flashback ini akan menentukan sikap para karakter di chapter kedepan. Jadi ditunggu saja dan berdoa Elevtron bisa update cepat.
Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.
Hope you enjoy it
Well see u in the next chapter
x
x
x
