Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

As you wish © Elevtron

Rating : T

Genre : Adventure, Tragedy

Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.

Pairing : Coming Soon

.

Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?

.

.

.

Chapter 16 : [Izanami Dimulai]

.

"Bagaimana?" Tanya Neji

"Aku masih tidak bisa menerima penjelasanmu" Jawab Gaara

"Gaara benar, aku masih tidak percaya kepadanya" Ujar Lee

Respon yang sudah Neji perkirakan mengingat dasar keputusannya untuk memberi Shion kesempatan bisa dibilang kurang masuk akal. Berlandaskan omongan wanita dengan aura kerajaan yang ia temui saat pingsan dan bersamaan dengan itu muncul Shion yang meminta bantuan. Manusia normal tidak akan percaya hal seperti itu, kecuali sebelumnya pernah terpengaruh ajaran aliran sesat.

"Neji, apakah mungkin kau geger otak?" Pertanyaan konyol keluar dari mulut Sai. Sungguh manusia yang tidak kenal basa-basi dan arti kebohongan

Ucapan Sai yang cukup menohok semakin membuat argumen Neji lemah. Sekarang posisi para anggota OSIS masih tetap tidak bergerak satu inchi pun sejak pertama kali mereka masuk. Penyebab nya tentu saja ketua OSIS mereka yang sudah dinyatakan meninggal kini berdiri di hadapan mereka dengan wajah datar bonekanya.

"Shion"

"Kenapa Shikamaru?"

"Tolong beri tahu kami alasanmu memulai permainan ini"

Tidak ada respon yang diterima, Shikamaru menghela nafas dan melanjutkan ucapannya

"Sasuke tidak bisa menceritakannya, oleh karena itu aku memintamu. Dengan begitu mungkin...aku bisa mempertimbangkan"

Temari, Gaara, dan Sara menatap tidak percaya ke arah Shikamaru. Alasannya ialah bahwa orang yang sedang ia ajak dialog adalah Shion. Orang ini mungkin saja adalah tersangka utama penyebab teman-teman mereka mati. Choji termasuk diantaranya karena mengorbankan diri untuk mereka, memang sangat sulit untuk mengerti jalan pikiran pria berambut nanas ini

"Baiklah" Jawab Shion yang membuat ekspresi Sasuke sedikit mengeras

Namun, belum sempat Shion berbicara pintu ruangan terlebih dahulu diketuk dari luar

"Biar aku saja" Ucap Matsuri

KREEET

"Ternyata kau Yukata, eh dimana Naruto-senpai?" Tanya Matsuri

Ekspresi datar khas Shion mendadak hilang, dirinya mengabaikan tatapan heran dari anggota OSIS nya yang baru masuk ke dalam ruangan. Meskipun dalam kondisi normal, pandangan mereka akan cukup mengganggu

"Sh-shion" Gagap Sakura

"Dimana Naruto!?"

Di aula besar yang bahkan tidak terlihat ujung dari ruangan tersebut, menandakan begitu luasnya tempat itu. Sungguh aneh hanya diisi oleh meja makan besar khas bangsawan yang kini Naruto duduki bersama ketiga Uchiha penghuni tempat ini. Meskipun makanan yang Naruto nikmati sangat enak namun tidak terlihat pelayan ataupun koki, terlebih makanan ini sudah ada saat dia datang sehingga membuat batin Naruto merasa tidak nyaman

"Ada yang ingin kau tanyakan?" Tanya Obito melihat ekspresi tidak nyaman Naruto

"A-aah tidak ada" Jawab Naruto asal

"Dasar penakut" Cibir Shisui

Safir biru mendelik mencari sumber suara. Perhatiannya terkumpul kepada seorang pemuda yang duduk didepannya. Onyx hitam yang tenang itu seakan tidak peduli dengan ucapannya sendiri dan hanya menatap makanan yang ia santap. Naruto sebagai pemuda temperamental sedikit tersulut emosinya

"Apa katamu!?" Bentak Naruto tersinggung dengan perkataan Shisui

"Semua yang kau alami ini bukanlah hal mistis bodoh" Kata Shisui dengan nada santai

"Shisui..." Tegur Madara

Pria yang paling berumur disana yakni Madara mencoba memperingatkan pemuda easy going tersebut. Namun, seperti yang sudah-sudah Shisui hanya mengendikkan bahu dan menanggapi dengan santai.

"Iya-iya, aku tidak akan memberitahukannya" Ucap Shisui setelah memindahkan potongan kecil apel dari mulut , melalui kerongkongan dan terus meluncur menuju lambung

"Jadi, apa kau sudah siap?" Tanya Madara

"Aku hanya cukup melakukan Izanagi kan?"

Pertanyaan retoris Naruto disambut gelengan kepala Madara. Di dalam dirinya terdapat sedikit kengerian melihat wajah dingin sang Madara Uchiha memberikan sebuah senyum miring selagi berucap

"Sekarang kita sudah berada di tahap itu. Kali ini tugasmu adalah mewujudkan..."

Madara menggantungkan perkataannya

"Izanami?" Tanya Neji

"Iya" Jawab Shion singkat

Kondisi hening menyelimuti ruangan OSIS. Otak mereka terasa penuh mencerna informasi yang mereka dapat dari cerita Shion. Reaksi berbeda diberikan Sasuke karena mengingat alasan yang diberikan Shion saat menjawab pertanyaan alasan ia dan Sasuke memulai permainan ini.

"Kau mencuri dana saat kita akan mengadakan pertunjukan seni?" Tanya Sai

Kalimat itulah yang Sai tahan semenjak Shion menjawab pertanyaan dari Shikamaru. Sai masih ingat dengan jelas saat Sarutobi-sensei memaki dirinya selaku ketua klub seni saat melihat pertunjukan seni yang diselenggarakan oleh Konoha Gakuen tidak sesuai ekspetasi dan terdapat banyak kesalahan selama acara yang mencoreng nama Konoha Gakuen di mata sekolah lain. Imbasnya hampir saja seluruh program kerja OSIS dan organisasi lain di Konoha Gakuen dibatalkan akibat hancurnya acara tersebut. Sai masih ingat saat dia sampai harus berlutut agar pihak sekolah mau memberi mereka kesempatan kedua.

"Kau benar-benar menjijikkan" Hardik Karin

"Karin jaga ucapanmu" Kata Sasuke dengan nada tidak suka

"Kenapa kau membelanya Sasuke?"

Pertanyaan Sara tidak mendapatkan respon apapun

"Kau sama saja dengannya, kalian berdualah yang menjadi penyebab semua ini. Jika saja...Jika saja...hiks"

Mengusap kasar air mata yang sempat mengaliri kedua pipinya, Sara mengumpat rendah dan melanjutkan apa yang hatinya kini ingin suarakan

"Jika saja kau dengan Shion tidak ingin membersihkan nama kalian berdua. Kami tidak perlu berada di dalam kekacauan ini. Ritual yang merubah takdir kau bilang? Lihat sekarang Sasuke!. Kau dan jalang bodoh itu sudah menghancurkan takdir kami semua"

PLAK

Mata Sara melebar, bukan karena rasa sakit akibat tamparan yang baru ia terima melainkan rasa terkejut akibat tidak menyangka orang yang berani memberi dirinya tamparan

"Hi-hinata" Kata Sara terbata-bata

"Ma-maaf, tapi aku harus menghentikan ucapanmu sebelum menjadi semakin keterlaluan" Ujar Hinata

Sara kembali menunduk tidak berniat membalas Hinata, tentu saja karena gadis tersebut terlalu lembut untuk disakiti. Lagipula ia merasa sedikit bersalah karena mengeluarkan kata-kata kasar, tapi ia tidak menyesal mengingat keyakinan bahwa teman-temannya juga merasakan hal yang sama.

"Baiklah, aku mulai mengerti sekarang" Shikamaru ambil suara mencoba menetralkan suasana tegang di ruangan tersebut

"Kita sekarang berada di tahap Izanagi yang artinya ini masih permainan yang sama dengan permainan yang kau dan Sasuke lakukan sebelumnya. Alasan kalian melakukan Izanagi karena Sarutobi-sensei mengetahui kejanggalan dari pembukuan dana OSIS, sehingga kau dan Sasuke ingin merubah takdir dimana uang tersebut tidak pernah kalian gunakan. Namun, entah kenapa permainan ini memiliki tahap lain yaitu Izanami" Jelas Shikamaru

"Ya, kau benar. Pintar seperti biasa Shikamaru" puji Shion

Shikamaru hanya diam tidak menanggapi pujian itu, terlebih ia masih fokus memikirkan penjabaran dari Shion sebelumnya. Ketua OSIS tersebut berkata bahwa Izanami adalah tahap dimana kau harus menerima hidupmu apa adanya, artinya tahap ini adalah kebalikan dari Izanagi. Dimana pada tahap Izanami kau harus membatalkan apa yang ada terjadi saat Izanagi. Akan tetapi, bukan hal itu yang membuat kepala Shikamaru berdenyut

"Jadi Shion kau harus membunuh Naruto" Ucap Sakura

"Seperti yang sudah kukatakan Sakura, pilihannya aku yang membunuhnya atau dia yang membunuhku" Jelas Shion

Sakura kembali membisu, sedangkan Shion mengeluarkan ekspresi seperti sebelumnya yakni ekspresi yang kembali sendu. Berbeda drastis dibandingkan saat pertama dirinya memasuki ruangan ini dimana saat itu Shion berteriak dan mendesaknya memberitahukan keberadaan Naruto. Shion bahkan tidak memberikan kesempatan Sakura untuk mencerna situasi akibat melihat sahabat yang ia kira meninggal kini sedang mencoba berinteraksi dengannya.

"Aku tau apa yang kalian pikirkan" Ucap Shion

"Kalian berpikir untuk membunuhku, iya kan?" Sambungnya

Tidak ada respon yang menyatakan bantahan membuat Shion tertawa dalam hati. Hal ini begitu jelas untuk tidak menjadi pertanyaan. Siapapun mengetahui jika harus memilih diantara Shion atau Naruto, para anggota OSIS secara otomatis memilih laki-laki pirang berisik tersebut. Meskipun mantan berandalan tetapi Naruto merupakan seseorang yang lebih mereka kenal pribadinya dibandingkan Shion ketua mereka sendiri. Walaupun jika Naruto disini ia tidak akan pernah membiarkan Shion mati 'lagi'

"Seperti yang kalian dengar jika salah satu diantara kami mati namun dibunuh oleh orang lain. Maka Izanami akan bertahan selamanya"

"Jadi, tidak ada pilihan lain" Ujar Sasuke

Berbanding terbalik dengan anggota OSIS yang belum menemukan tiitk terang akan permasalahan yang mereka hadapi, kini Naruto dan para Uchiha telah berada di depan gedung sekolah setelah melakukan teleportasi dari mansion Uchiha.

ACCESS CLOSED

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Naruto setelah melihat Madara membentuk segel jari dan menghentakkan tangannya ke tanah

"Berbeda dengan Izanagi, Izanami adalah sistem yang berada di luar jangkauanku. Sehingga aku harus melepaskan kontrol. Dengan kata lain tidak ada siapapun yang dapat menghentikan permainan bahkan diriku sendiri. Satu-satunya cara ialah menyelesaikan permainan itu" Jelas Madara

"Dengan demikian, tidak akan ada lagi hal-hal yang bagimu aneh seperti teleportasi, gempa, pasukan zombie hingga lengan temanmu yang tiba-tiba terputus. Hal itu karena permainan takdir yang menjadi inti dari Izanagi telah berhenti" Tambah Obito

"Jadi kau tidak perlu ketakutan lagi karena berpikir ini kejadian mistis" Cibir Shisui

Naruto mendelik tidak suka ke arah pria Uchiha tersebut. Sejak pertama bertemu ia hanya diolok-olok olehnya. Naruto sendiri bingung apa benar pria ini seorang Uchiha? Kepribadian semua Uchiha yang pernah Naruto temui keras bagaikan batu dan dingin bagaikan es. Kecuali Mikoto yang bagi Naruto keibuan, Izumi gebetan Itachi yang bagi Naruto seperti gadis pada umumnya dan kini pengecualian lagi bagi Shisui karena tingkah easy going atau mungkin prinsip hidup santai yang begitu ia pegang teguh. Menghela nafas dan merutuki diri sendiri karena memikirkan hal yang kurang penting. Naruto menatap kedepan memantapkan hati dengan pilihannya, pilihan yang ia ambil untuk menebus kesalahan masa lalunya

"IZANAMI DIMULAI" Teriak Naruto

.

TBC

.

.

.

Author Note's : Yaps Update kilat bila dibanding chapter-chapter sebelumnya. Untuk chapter ini gak mau terlalu banyak komen. Intinya apakah Naruto akan menjadi dark atau tetap dengan sifat aslinya di canon? Well itu tergantung suasana hati Elevtron ya wkwkwkwk. Udah gitu aja jangan lupa review nya para readers.

Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.

Hope you enjoy it

Well see u in the next chapter

x

x

x