Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

As you wish © Elevtron

Rating : T

Genre : Adventure, Tragedy

Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.

Pairing : Coming Soon

.

Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?

.

.

.

Chapter 18 : [Ilusi]

.

Para anggota OSIS berdiri di hadapan Shion dan Sasuke membuat risih kedua insan tersebut. Mereka seakan baru saja tertangkap basah selagi berbuat mesum dan menjadi sasaran interograsi. Namun, kali ini pandangan para teman-temannya menuntut alasan yang meyakinkan mereka untuk berada di pihak yang mana

"Semuanya aku ingin meminta maaf" Ucap Shion

"Itu sudah seharusnya" Ujar Sara dengan nada sarkastik

Shion tidak menanggapi dan tetap melanjutkan ucapannya

"Aku tau selama ini aku belum menjadi ketua yang baik dan aku tidak terlalu dekat dengan kalian. Maaf telah menipu kalian dengan kematianku dan menjadi penyebab kematian yang lain..."

"Tidak perlu meminta maaf" Potong Hinata

"Hinata benar, jika kita menyerah maka kematian mereka akan sia-sia. Kami tidak bisa membiarkannya" Tambah Neji

"Ini bukan berarti kami memaafkan kalian berdua. Intinya mari bekerja sama keluar dari situasi merepotkan ini" Ujar Shikamaru

"Ka-kalian..."

Sepertinya saat ia dan Sasuke berada di dalam toilet, para anggotanya telah berdiskusi tentang hal ini. Keputusan yang mereka ambil adalah memberi Shion dan Sasuke kesempatan kedua, sejujurnya hal itu cukup sulit dipercaya karena Shion adalah penyebab dari semua ini. Akan tetapi, kedewasaan dan kebesaran hati dari mereka semua membuat Shion tidak bisa berkata apapun lagi selain...

"Terima kasih" Ucap Shion tulus

"Kita harus cepat bergerak supaya tidak tertinggal lagi" Perintah Sasuke

"Kau ini tidak ada niat meminta maaf" Keluh Sara

"Aku akan melakukannya"

Kalimat yang dilontarkan Sasuke cukup membuat teman-temannya terkejut. Seorang Uchiha yang menjunjung tinggi harga diri klan berkata bahwa dia akan meminta maaf, sungguh sebuah keajaiban yang terlalu indah bahkan untuk sekedar mereka bayangkan

"Setelah kita menyelesaikan ritual bodoh ini"

Licik atau cerdik sulit menggambarkan strategi Sasuke dalam melakukan permainan kata. Tapi hal itu memberikan motivasi sendiri bagi beberapa orang disana yang sangat ingin melihat bungsu Uchiha meminta maaf. Apapun demi permintaan maaf Sasuke begitu pikir nista mereka. Tanpa membuang waktu mereka semua bergerak mencari artefak. Kali ini tidak ada pembagian tim karena fokus mereka ialah nyawa, sehingga bergerak bersama-sama akan memperbesar persentase keselamatan.

Saat ini di ruangan OSIS masih menyisakan Hinata dan Shion

"Hinata, kau tidak pergi?" Tanya Shion

Tidak ada jawaban dari gadis Hyuga

"Tenang saja, Naruto akan aman" Ucap Shion

"Bagaimana kau yakin?" Tanya Hinata ragu menatap mata seseorang yang mungkin akan membunuh atau dibunuh oleh pria yang dicintainya

"Aku tidak tau, Tentu kaulah yang lebih mengetahui tentang itu"

Senyum penuh arti Shion berikan kepada Hinata, Tanpa ia mengerti sebabnya kini tubuhnya telah memeluk tubuh Hinata dengan erat.

"Terima kasih telah mencintai Naruto" Ujar Shion

"Aneh mendengarnya dari orang yang rasa cintanya lebih besar dibandingkan aku" Ucap Hinata

"Jangan merendah, kau lebih mencintainya" Kata Shion selagi melepas pelukannya

"A-aku mungkin akan menyerah" Kalimat terbata-bata oleh Hinata hanya dibalas pandangan datar khas Shion

"Sejujurnya setelah acara ulang tahun sekolah aku akan memberikan Naruto-kun hadiah sebagai bukti cintaku padanya. Jika pada saat itu Naruto-kun tidak menerimaku, a-aku akan menyerah" Jelas Hinata

"Lalu selanjutnya apa?" Tanya Shion

"E-etto..."

"Apa kau bisa menikahi pria lain selain Naruto-kun?"

Kebisuan Hinata membuat Shion memberikan senyum kecut, menatap lurus mata gadis Hyuga. Lontaran kata kembali keluar dari mulut Shion

"Jangan menyerah Hinata, demi Naruto-kun. Karena sama sepertimu, bagiku Naruto tidak boleh menikahi siapapun selain Hyuga Hinata"

Perkataan Shion membuat kedua mata Hinata melebar, apa Shion baru saja menyerahkan Naruto padanya? . Mungkinkah Shion telah menyerahkan impiannya karena menyadari Naruto adalah bintang yang tidak bisa dia gapai. Hal itu sangat tidak mungkin karena Hinata tahu betapa dalamnya perasaan Shion serta gigihnya ia agar perasaannya terbalaskan oleh Naruto.

Setelah pembicaraan singkat itu Hinata berlari menyusul teman-temannya ke arena permainan yaitu sekolah mereka sendiri. Pikirannya masih berkecamuk akibat perkataan Shion namun saat ini ia harus fokus untuk memastikan seluruh teman-temannya bisa selamat.

"Apa sebaiknya kita tidak berpencar?" Tanya Sai

"Kita tau persis akibat saat terakhir kali memakai taktik itu" Jawab Sasuke

Kalimat yang dilontarkan Sasuke sangat tepat. Dirinya tidak mau mengambil resiko dengan taruhan nyawa teman-temannya, dan kini anggota OSIS telah sampai di lokasi tujuan mereka yaitu ruang musik. Ekspresi sedih masih tergambar di wajah Sasuke, Lee dan Hinata

"Makam ini..." Kata Ino sambil menunjuk makam di dekat pintu masuk

"Itu makam Ten-ten, kami menguburkannya disitu"

Sasuke mengepalkan tangan hingga urat-urat di punggung tangannya terlihat jelas, ia masih belum menerima kematian temannya tersebut. Jika saja ia bisa lebih waspada pasti tidak akan ada korban

"Kita harus cepat menyelesaikan permainan ini" Ucap Neji sambil bergegas ke dalam

Seluruh anggota tersisa mengikuti Neji ke dalam ruang musik

"Kami mendapatkanmu Gyuki" Ucap Obito

Hal pertama yang dilihat oleh OSIS adalah seorang pria tengah menggenggam boneka berbentuk gurita berekor delapan. Shino langsung mengidentifikasi keadaan dan ia mengambil kesimpulan bahwa pria yang sedang mereka hadapi ialah lawan mereka.

"Siapa kalian?" Tanya Shino

"Bisa dibilang kami adalah musuh kalian" Ujar Shisui yang sedang bersender di sudut ruang musik tersebut

Sikap siaga langsung ditunjukkan oleh anggota OSIS berbanding terbalik dengan kedua orang dihadapan mereka yang sangat santai dan tidak ada beban. Merasa ada yang janggal Shion mengedarkan pandangannya ke segala penjuru dan menyadari sesuatu

"Alat musiknya hilang" Gumam Shion namun dapat didengar oleh Hinata

"Alat musiknya hilang saat Ten-ten terbunuh"

Ujung mata Shion melirik ke arah gadis indigo tersebut sedangkan Hinata masih fokus mengamati gerak-gerik Shisui dan Obito. Shion masih mencoba membaca situasi hingga

"Hei kalian berdua, kenapa meninggalkanku hah?"

"Naruto-kun" Gumam Hinata

Sontak Shion menuju asal suara bariton tersebut, pandangan mereka bertemu sesaat sebelum Shion menundukkan wajah. Sementara Naruto tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya

"Shion kau masih hidup?"

Sakit, mungkin itu kata yang tepat saat setiap orang tidak percaya melihatmu hidup dalam keadaan sehat. Shion merasa seperti buronan yang baru lolos dari eksekusi mati

"Bagaimana bisa?"

"Bukan urusanmu"

Oke, Shion benar-benar badmood sekarang. Bukan seperti ini harapannya saat bertemu Naruto. Berbagai kemungkinan sudah dia proyeksikan ke dalam pikirannya tentang sikap apa yang akan Naruto tunjukkan saat bertemu dengannya. Marah? Senang? Sedih? Shion bahkan mempersiapkan diri saat Naruto enggan untuk menyapanya. Namun, pria tersebut sekarang berdiri disana dengan tampang bodoh

"Baiklah Naruto, kami duluan" Balas Shisui

Sementara Naruto tidak memberi tanggapan karena otaknya masih harus mencerna kejadian yang ia lihat sekarang. Untuk kesekian kalinya otak Naruto yang tidak dirancang untuk berpikir harus berusaha ekstra keras dalam memecahkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya

"Naruto, kenapa kau berpihak ke pada Madara?" Tanya Neji

"Ehh, siapa bilang aku berpihak padanya" Jawab Naruto

Tampang bodoh langsung terlihat jelas di raut wajah para anggota OSIS. Sudah mereka duga kalau pria pirang berisik ini tidak akan pernah menjadi seorang pengkhianat

"Lalu kenapa kau bergabung dengannya?" Neji kembali bertanya

"Katanya jika aku membantunya maka keadaan akan kembali seperti semula" Jawab Naruto

"Kau ini benar-benar bodoh" Ujar Sasuke

"Apa katamu Teme?" Balas Naruto tidak terima

"Madara itu membohongimu bodoh" Kata Sasuke

"EHHHH"

Begitulah Naruto, pemuda yang sangat polos dan mengambil tindakan tanpa pikir panjang. Mentalnya masih seperti anak baru mengalami puber, sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain. Kejadian ini salah satu buktinya

"Apa kau benar-benar tidak tahu? Akibat perbuatanmu ini-"

"Shikamaru"

Ucapan Shikamaru terpotong oleh Shion, pemuda rambut nanas itu segera menguasai keadaan. Dirinya paham alasan Shion memotong ucapannya karena tidak ingin Naruto mengetahui fakta yang sebenarnya. Dirinya tidak bisa membayangkan reaksi Naruto saat harus memilih untuk mati atau membunuh Shion.

JTAKK

"Adaw, Sakura-chan itu sakit" Keluh Naruto

"Itu akibat membuat semua orang khawatir. Sekarang kau harus membantu kami mencari artefak biju tersebut" Ucap Sakura yang langsung menyeret Naruto ke arah teman-temannya

Meninggalkan ruang musik, Shikamaru kembali menjelaskan strategi mereka agar mampu mendahului kelompok Madara dalam mencari artefak. Dikarenakan tim Madara yang sudah bergerak lebih dulu alhasil Shikamaru memilih mengambil jalan memutar untuk menghindari bentrokan lebih awal dengan kelompok Madara.

"Artefaknya disini?" Tanya Ino

"Hu'um kau benar" Jawab Shion

Menarik nafas terlebih dahulu, Shion kemudian membuka satu-satu pintu loker yang tersisa dikoridor yakni loker miliknya. Koridor sendiri adalah tempat pertama yang harus mereka lalui menurut rute yang dipaparkan melalui rencana Shikamaru. Seluruh anggota OSIS kecuali Sakura, Naruto dan Shion dibuat terkejut saat seluruh loker dikoridor Konoha Gakuen menghilang. Akan tetapi, tidak ada pertanyaan yang keluar dari bibir mereka masing-masing.

Setelah Shion membuka loker miliknya, kejadian yang aneh pun terjadi. Tempat mereka masih sama yakni lorong Konoha Gakuen yang sebelumnya memiliki aura mencekam dan begitu hening namun sekarang memiliki suasana ramai dan berisik khas lorong sekolah pada umumnya. Hal ini dikarenakan suasana di sekeliling mereka yang berubah karena tiba-tiba saja muncul siswa-siswa yang berjalan seperti hari sekolah biasanya

"A-apa ini?" Matsuri cukup Shock dengan yang dilihatnya

Bukan hanya Matsuri seluruh anggota mengalami hal yang sama. Mereka seakan menjalani hari-hari sekolah seperti biasa

.

"Apa kita sudah kembali? Permainannya berakhir" Karin tidak bisa menutupi antusiasmenya

"Tidak ini semua hanya ilusi" Ujar Shion

Perkataan Shion terbukti tepat karena mereka seakan menjadi hantu tembus pandang yang tidak bisa menyentuh atau menarik perhatian objek di depan mereka. Berbagai usaha telah mereka lakukan untuk melepaskan diri dari dunia ilusi namun tidak membuahkan hasil. Bahkan Lee sampai mengeluarkan gerakan akrobatik tidak karuan karena mengira dirinya sudah menjadi hantu. Kini sesuai nasihat dari Sasuke mereka hanya menunggu ilusi yang kini berfokus pada kegiatan salah satu diantara mereka berakhir.

ILLUSION ON

Naruto Pov

Uzumaki Naruto itulah namaku, orang bilang dulu aku adalah pribadi yang ceria. Namun, semua itu berubah semenjak kematian orang tuaku. Kehilangan seseorang yang disayangi bukanlah hal yang mudah bagiku. Teman-temanku berpikir kehilangan kedua orang tua adalah penyebab utama berubahnya kepribadianku tetapi anggapan mereka semua keliru

"A-aku mencinta-, Arghhh kenapa sulit sekali"

Beginilah rutinitas beberapa hari setelah peringatan satu tahun kematian orang tuaku. Aku telah merelakan kepergian mereka dan tidak ada masalah dalam hidupku sekarang. Jika seseorang bertanya kenapa aku masih sering berkelahi. Jawabannya ialah aku menyukainya, memang alasan itu cukup konyol tapi salahkan saja para bajingan itu yang terus memancing emosi seorang Uzumaki Naruto. Sekarang aku terus merutuki pikiranku yang tidak bisa menghilangkan ocehan Sakura tempo hari

'Dia itu sudah menyukaimu semenjak umur 5 tahun, bodoh!'

Sungguh, bagaimana bisa Aku tidak menyadarinya. Aku hanya merasa semua perhatian yang ditujukan kepadaku adalah hal wajar dalam sebuah pertemanan. Beruntungnya setelah merenungi ucapan Sakura, Aku merasa sedikit menaruh perhatian lebih. Sejujurnya aku tidak rela melihatnya berdekatan dengan laki-laki lain. Hal itu, melukai perasaanku entah apa sebabnya.

Memilih mendudukkan diri di bangku taman tidak sengaja aku melihat gadis bersurai indigo melambaikan tangan malu-malu kepadaku, ah itu Hinata

"Na-naruto-kun" Ucapnya gagap seperti biasa

Aku hanya membalas ucapannya dengan nada ceria serta ekspresi yang sebisa mungkin aku buat tampan. Aku tersenyum dalam hati melihat pipinya yang bersemu merah menandakan dia cukup terpesona dengan penampilanku. Haha hanya bercanda, Hinata hanyalah gadis pemalu

"A-aku menyukaimu"

WTF, Apa aku tidak salah dengar? Sial ini kali pertamaku menerima pernyataan cinta seorang gadis. Aku tidak tau mau merespon apa

"Maaf Hinata, aku-"

"Ahh tidak apa-apa Naruto-kun, aku sekarang lega sudah mengatakannya"

Hei, biarkan aku menyelesaikan ucapanku. Astaga aku ingin memukul diriku sendiri menyadari pemilihan kata yang kurang tepat. Hinata tolong jangan memberi ekpresi menahan tangis seperti itu

"Ohhh, kalau begitu aku permisi dulu karena ada urusan"

Akibat bergaul dengan Shikamaru membuatku juga benci hal merepotkan. Kita semua tahu seberapa merepotkannya gadis yang menangis di tempat umum jadi aku memilih menghindarinya. Apabila ada anggapan aku pria yang tidak bertanggung jawab sejujurnya aku tidak peduli. Aku lebih mengenal Hinata, sekarang gadis ini perlu waktu menenangkan diri

"Naruto~~"

Astaga apalagi?, ini bahkan belum 5 menit waktu perjalanan dari tempat dimana aku secara tidak langsung hampir membuat seorang gadis menangis.

"Kenapa Shion?" Ucapku malas

"Ada yang ingin kukatakan"

Tanpa merubah ekspresi aku beradu pandang dengan gadis berwajah datar bak boneka tersebut

"Aku mencintaimu"

Orang bijak pernah berkata, guru yang paling baik adalah pengalaman. Oleh karena itu, kali ini aku lebih mampu mengontrol diri untuk menjawab. Mengalihkan pandangan ke arah matahari yang hendak terbenam di arah barat, kata itu meluncur saja dari mulutku

"Shion, aku tidak bisa"

Hening cukup lama membuat suasana canggung diantara kami. Aku hendak buka suara untuk menghilangkan kecanggungan namun

"Siapa?"

Menatap kembali sahabatku yang bersurai pirang tersebut. Aku mengernyitkan dahi tidak mengerti

"Hinata?"

"..."

"Sakura?"

"..."

"Karin?"

"Dia itu sepupuku"

"Begitu ya"

Oh jangan lagi. Aku bisa melihat dengan jelas lelehan air mata yang telah jatuh mengaliri pipi putih Shion

"Ternyata, Kau tetap tidak bisa membalas perasaanku"

"Shion aku-"

"Tolong biarkan aku sendiri"

Shion berbalik membelakangiku, menghela nafas aku menuruti ucapannya dan meninggalkan tempat itu. Kurasa ini saat yang tepat untuk bermain basket, hitung-hitung sebagai sarana melepas penat. Mempercepat langkah kaki tidak terasa kini aku sudah sampai di depan gerbang Konoha Gakuen. Namun, ada hal yang menghambat langkah kakiku

"Sakura, kau kenapa?"

Di halaman sekolah Konoha Gakuen tepatnya dibawah pohon rindang yang menghiasi sudut halaman, aku dapat melihat Sakura terduduk sembari memeluk kedua kakinya. Menyembunyikan wajah cantiknya di kedua lutut indah itu, astaga apa yang kupikirkan.

"Pergilah aku sedang tidak ingin bertemu siapapun"

Hei, bukankah ketika kau masuk kesini pasti berpapasan dengan Kotetsu dan Izumo si pasangan abadi penjaga gerbang itu. Dasar wanita pikirku, tentu saja aku mengatakannya di dalam hati. Otakku masih bisa berpikir untuk tidak memancing emosi Sakura di saat seperti ini.

"Aku mau bercerita" Ujarku

"Aku tidak mau dengar" Jawabnya ketus

"Baru saja aku ditembak dua orang gadis"

"HAH?"

Sebisa mungkin kutahan bibirku untuk tidak membentuk sebuah senyum. Sakura adalah gadis yang kukenal cukup lama. Meskipun tidak separah Ino tapi tingkat keingintahuan Sakura tentang hal yang bisa menjadi bahan gosip cukup tinggi. Yah, kurasa strategiku bisa dibilang berhasil. Meskipun, sejujurnya aku ingin bertanya mengenai lelehan air mata yang telah mengering dikedua pipi putihnya, astaga lagi-lagi aku memikirkan hal aneh. Namun, pertanyaan itu tidak sempat kuutarakan akibat ucapan Sakura.

"Siapa kedua wanita gila itu?"

Ohhh Sakura seandainya kau tahu betapa sakitnya hatiku mendengar pertanyaanmu itu

"Rahasia" Jawabku ketus

Mata Sakura mendelik tidak suka kepadaku. Sembari mengatakan kalimat 'aku pulang saja' ia melangkahkan kaki keluar dari Konoha Gakuen. Kurasa sekarang aku bisa bermain basket dengan tenang, hingga

"Naruto" Aku sangat mengenal suara itu

"Oi Teme, sedang apa kau disini?" Tanyaku tanpa menoleh

"Bisakah kau menatapku saat aku berbicara Naruto?"

Aku benci situasi seperti ini, terlebih nada Sasuke sangat tidak nyaman untuk didengar. Melempar kembali bola basket di genggamanku yang ternyata meleset dari tujuan. Seperti mempertegas situasi yang seakan mengatakan aku sedang tidak beruntung. Terlebih saat membalikkan badan aku melihat Shion juga ada disana. Mengingat kejadian beberapa saat lalu mungkin aku mengetahui yang ingin dikatakan Sasuke tapi kenapa si Teme ini harus ikut campur?

"Perasaanku adalah hak pribadiku Sasu-"

"Bukan itu" Sial, ucapanku dipotong

"Berhentilah menyiksa dirimu sendiri" Sambungnya

"Apa maksudmu?" Otakku tidak mengerti arah pembicaraan ini

"Kematian kedua orang tuamu tidak harus membuatmu seperti ini. Kau harus melanjutkan hidupmu Naruto, mereka akan sedih melihatmu menjadi seperti ini" Jelas Sasuke

Aku tersenyum mengejek kepada sahabatku sendiri yang tidak mengetahui penyebab perubahan sikapku

"Heh, orang sepertimu tidak akan mengerti" Ujarku

"Naruto-kun" Panggil Shion

Melirik ke arah sahabat masa kecilku, aku sedikit merasa bersalah menolak perasaan tulusnya. Akan tetapi, kini mood ku sedang sangat jelek sehingga kata-kata kasar meluncur saja dari bibir ini

"Kau mengerti kan Shion? Rasa sakitnya tidak memiliki siapapun" Kembali aku bertanya

"Hentikan omong kosongmu Naruto!" Bentak Sasuke

"Justru kau lah yang harus diam!"

Cukup! Sahabatku sudah sangat keterlaluan

"Kau"

Shion menahan lengan pria itu. Sasuke berniat menghajarku? Aku bahkan tidak mengerti penyebabnya. Bukan kesalahanku tidak bisa membalas perasaan Shion, setelah ini kami tetap bisa bersahabat. Reaksi Sasuke terlalu berlebihan, hal itu membuatku semakin kesal

"Jangan sok menceramahiku, kau hanya bisa mengerti perasaanku jika kau mengalami hal yang sama. Apa perlu kedua nyawa orang tuamu dicabut terlebih dulu Sasuke?"

BUGGGHHH

"Brengsek!" Umpatku

Uchiha satu ini benar-benar berniat menghajarku. Mengelap darah yang keluar dari sudut bibir, aku bertekad akan membalas pukulan mendadak itu.

"Kau yang memulai teme"

BUGGGH

Pukulan dan tendangan kami berdua lancarkan hingga aku berhasil mengunci tubuh Sasuke. Kesempatan ini tidak kusia-siakan dengan langsung melayangkan bogem mentah ke wajah angkuh Uchiha tersebut. Semoga pukulan bertubi-tubi milikku ini bisa menyadarkan kepala pantat bebeknya agar mengerti tentang perubahanku.

"Hiks...kumohon hentikan. Hiks...berhenti kumohon"

DEG

Tanganku seketika lemas, segera melirik ke asal suara. Aku sangat shock melihat Shion menangis, biasanya aku akan menghajar pria yang membuat sahabatku itu menangis. Tertawa didalam hati dan mencaci diriku sendiri sebagai pihak yang pantas dihajar. Sasuke benar-benar tidak membuang kesempatan saat aku mengurangi intensitas kuncianku. Setelahnya yang kuingat ialah tubuhku dibanting ke tanah kemudian wajahku di hajar habis-habisan. Saat itu aku tidak bisa membalas karena merasa bahwa saat itu aku memang pantas mendapatkannya.

"Mulai hari ini ikatan kita telah terputus, kita bukan lagi saudara dan kita tidak akan bersama-sama lagi. Ini adalah akhir yang bijak untuk kita"

Dasar Sasuke, ia masih remaja yang belum bisa mengendalikan emosinya. Akan tetapi, aku terlalu gengsi untuk berbicara setelah deklarasi sepihak dari pria Uchiha tersebut. Kembali menikmati guyuran air di kamar mandi sekolah. Aku tetap pada rencana awal yakni menginap di gedung sekolah karena besok pagi-pagi sekali harus membuka gerbang Konoha Gakuen. Aku masih tidak mengerti penyebab Sakura, Hinata, Shion, dan Sasuke yang merupakan sahabat masa kecilku tidak bisa menerima perubahanku. Mereka berempat sama saja dengan yang lain.

Dahulu aku mempunyai banyak teman tetapi semenjak kematian kedua orang tuaku alasan sebenarnya mengapa aku mempunyai banyak teman mulai terungkap. Sebagian berteman denganku karena orang tuaku kaya, sebagian lagi karena aku adalah orang yang supel dan sebagian lagi karena kelebihanku dari segi fisik. Tidak satupun dari mereka yang menyukai kekuranganku, tidak ada yang berteman denganku karena aku adalah Uzumaki Naruto. Hal ini membuatku berpikir mereka semua tidak tulus. Maka dari itu, aku berubah agar bisa menjadi diriku sendiri dan tidak memakai topeng yang bernama kebahagiaan saat berteman. Karena menurutku tidak harus menjadi bahagia untuk mendapatkan seorang teman tapi mendapatkan seorang teman akan membuatmu bahagia. Hal yang selanjutnya terjadi setelah aku merubah sikapku adalah hal yang telah aku perkirakan. Seperti yang sudah kutebak hasilnya adalah aku benar-benar tidak mempunyai teman. Seandainya ada yang mengetahui alasan tentang perubahan sikapku maka aku bisa merasa sedikit dimengerti oleh orang lain. Sayangnya hal itu tidak terjadi, sehingga aku semakin jauh jatuh ke dalam lubang kesepian. Bagiku tidak apa-apa menjadi seperti ini karena seorang Uzumaki Naruto tidak akan menyerah meskipun aku harus menantang dunia ini sendirian.

ILLUSION OFF

.

TBC

.

.

.

Author Note's : Di catatan kali ini cukup banyak yang ingin Elevtron katakan, diantaranya :

Pertama mengenai keputusan untuk membuat Naruto tetap menjadi 'good chara', mungkin ini salah satu twist yang telah Elevtron rencanakan karena sejatinya sifat Naruto adalah pemuda ceroboh dan terburu-buru dalam mengambil keputusan namun rapuh dan memiliki rasa peduli yang tinggi di saat yang bersamaan. Semua hal itu tercermin di chapter kali ini.

Kedua tentang the real villain, itu masih rahasia dan mungkin masih Elevtron pikirkan keputusan finalnya.

Ketiga tentang flashback, seperti yang sudah Elevtron katakan di chapter sebelumnya bahwa part flashback ini adalah salah satu part terpenting sehingga akan Elevtron ulang beberapa kali dengan sudut pandang yang berbeda jadi jangan merasa bosan ya para readers karena akan ada scene tambahan dan detil detil spoiler di tiap flashback yang diulang.

Keempat dan terakhir adalah masalah diluar alur cerita. Sebelumnya mau mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para readers yang telah memberikan review dan Elevtron sangat berterima kasih atas review kalian karena itu adalah suntikan semangat bagi Elevtron untuk menulis cerita ini. Lalu terkait kuantitas review, jujur Elevtron sedikit merasa insecure di awal karena merasa bahwa tulisan Elevtron terlalu jelek dan amatiran sehingga tidak ada komentar ataupun review yang masuk. Namun, seiring waktu Elevtron sadari bahwa di fanfiction sendiri untuk genre yang Elevtron angkat memang feedback yang didapat tidak akan sebanyak genre romance ataupun lemon. Meski begitu Elevtron tetap mengharapkan review sebanyak-banyaknya dari para readers

Oke gitu aja, sekali lagi terima kasih kepada para reviewer. Tetap semangat dan stay healthy

Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.

Hope you enjoy it

Well see u in the next chapter

x

x

x