Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
As you wish © Elevtron
Rating : T
Genre : Adventure, Tragedy
Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.
Pairing : Coming Soon
.
Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?
.
.
.
Chapter 19 : [Falling]
.
Canggung, itulah situasi yang dirasakan para anggota OSIS sesaat setelah Shion berhasil mengambil artefak dengan dua ekor bernama Matatabi dari dimensi ilusi yang menjebak mereka. Meskipun, suasana sudah canggung semenjak Shion secara tiba-tiba bangkit dari kematian. Akan tetapi, kali ini suasana canggung lebih terpusat diantara 3 individu yang berjalan saling berjauhan di koridor Konoha Gakuen.
"Aku paling benci cinta segitiga" Ujar Gaara
"Gaara-senpai jangan mengatakan hal itu keras-keras" Bisik Matsuri
Gaara sekilas melirik 3 orang yang sedang dibicarakannya. Syukurlah sepertinya kekhawatiran Kohai nya ini tidak tepat. Gaara tidak ingin menambah masalah ditengah kondisi mereka yang sangat mengkhawatirkan.
Sementara yang lain lebih memilih berdiam diri namun didalam hati mereka mulai menerka-nerka kejadian yang terjadi di antara kelima orang yang menjadi tokoh utama dari kilas balik di dunia ilusi. Apabila kejadian itu nyata maka masuk akal hal tersebut yang menjadi alasan renggangnya hubungan persahabatan sedari kecil yang telah dijaga susah payah.
"Shion" Panggil Neji yang hanya dibalas lirikan sang ketua OSIS
"Selanjutnya kita menuju kemana?" Sambungnya
Pertanyaan yang tepat untuk diajukan kepada Shion. Mengingat selain Shikamaru, dirinya dan Sasuke yang menganjurkan untuk mengambil rute memutar. Selain itu, sebagai orang yang lebih berpengalaman di ritual terkutuk ini, Shion dan Sasuke pantas dipercayai untuk memimpin.
"Tidak usah terburu-buru" Jawab Shion tidak nyambung
"Apa maksudmu?" Tanya Shino
"Lawan kita sedang mengalami situasi yang cukup merepotkan"
Senyuman sangat tipis Shion tampilkan ke arah teman-temannya. Sementara di pihak Shisui dan Obito masih mencoba menemukan jalan keluar dari permasalahan yang mereka hadapi.
"Kenapa!?" Teriak Obito frustasi
"Sepertinya kita terjebak disini"
Terus berulang-ulang Obito dan Shisui seperti terjebak di ruang musik tempat mereka mendapatkan artefak pertama. Setiap mencoba keluar, mereka pasti akan kembali kelokasi ini. Sungguh hal yang membuat siapapun akan frustasi.
"Menyerahlah tujuanmu tidak akan tercapai" Ujar Kaguya dengan aura kebangsawanan yang kental
"Kau terlalu percaya diri" Kata Madara mengejek
"Apa kau tidak lihat? Bidakmu kalah jumlah dariku"
"Aku hanya butuh satu untuk memenangkan permainan ini" Ucap Madara yakin
"Kuakui kau orang yang tidak mudah menyerah" Ungkap Kaguya
"Harusnya aku yang bilang begitu"
Diruangan yang bernuansa kerajaan dengan ornamen-ornamen menghiasi tiap dinding ruangan. Berdiri Kaguya dan Madara sembari menatap layar monitor yang menampilkan keadaan di Konoha Gakuen. Harus diakui kini harapan mereka tergantung kepada orang lain yang mereka percayai untuk menyelamatkan atau menghancurkan dunia ini.
"Huh, aku capek sekali" Keluh Karin
"Kau harus kuat, perjalanan kita masih jauh" Ujar Temari menasehati
"Kita bahkan baru mendapatkan satu artefak" Ino memasang ekspresi merengut dan lelah
"Kalau begitu kita istirahat sebentar"
Intruksi Sasuke disetujui secara non-verbal oleh teman-temannya. Sasuke sejujurnya paling benci dengan orang-orang yang mengeluh. Akan tetapi, pengecualian ia lakukan mengingat baik dirinya maupun teman-temannya hampir tidak sempat beristirahat dalam satu hari ini.
Beberapa teman-temannya terlihat bercengkrama satu sama lain untuk mengusir penat dan meringankan stress di kepala mereka. Mencoba keluar dari sifat anti sosialnya Sasuke mencoba mengajak berbicara salah satu sahabat terbaiknya.
"Naruto" Panggil Sasuke
"Kenapa Teme?" Jawab Naruto santai
"Kau bilang Madara membohongimu, apa yang dia katakan?" Tanya Sasuke
"Ternyata kau penasaran juga Sasuke-kun"
Sakura bergabung ditengah pembicaraan dua laki-laki tersebut. Dibelakangnya mengikuti Hinata dan Shion. Apabila dilihat secara sekilas ini seperti reuni kecil-kecilan.
"Kenapa kau masih berbasa-basi Sasuke? Sudah jelas pirang bodoh ini mengkhianati kalian" Ucap Shion sembari mengalihkan wajah, yah gadis ini masih badmood
"Aku ingin mendengar penjelasan Naruto terlebih dahulu, tidak ada ruginya kan?" Pertanyaan Sasuke hanya dijawab keheningan
"Shion" Ujar Naruto
Oke, ini tidak bagus. Shion mulai merasakan degup jantungnya semakin cepat. Sapaan bernada lembut dari Naruto selalu berhasil membuat gemuruh di dadanya. Shion yakin wajahnya bersemu merah sekarang. Tidak!, dirinya sudah memantapkan hati...mulai sekarang ia harus bisa menghadapi Naruto layaknya seorang sahabat.
"Ada apa?"
Sial. Shion ingin menampar dirinya sendiri saat memberikan nada lembut untuk menjawab pertanyaan si Uzumaki. Lagipula dirinya sekarang masih badmood terhadap reaksi Naruto yang seakan menerima dengan santai kemunculannya yang misterius.
"Alasan kau memulai permainan ini adalah aku, iya kan?" Tanya Naruto
DEG
"Bagaimana kau tau?"
Shion kembali merutuki dirinya sendiri saat mulutnya secara tersirat membenarkan prasangka Naruto. Sedari dulu Shion tidak akan pernah sanggup mengatakan kebohongan didepan lelaki ini. Sakura dan Hinata hanya mengangkat alis tidak mengerti, mereka berdua sangat yakin mendengar pengakuan Shion tentang alasannya memulai permainan. Alasan yang diucapkan Shion waktu itu sangat tidak berkaitan dengan Uzumaki Naruto.
"Madara menceritakan semuanya, sebenarnya hampir semuanya" Jawab Naruto
"Ano, Apa yang kalian berdua bicarakan?" Tanya Hinata tidak mengerti
"Langsung ke intinya saja" Perintah Sakura
"Shion merubah takdirku" Ujar Naruto
Perkataan Naruto membuat Sakura dan Hinata terkejut. Mereka berdua mulai memahami seberapa rumit permasalahan yang terjadi didalam persahabatan mereka berlima.
"A-apa yang Naruto-kun bicarakan?" Hinata seakan mengulang pertanyaan yang ia berikan sebelumnya
"Shion memulai permainan ini karena aku"
Safir biru itu melirik kearah Sahabat ravennya, ingatannya sekilas mengingat percakapan mereka yang membuat Naruto hampir menghadiahinya sebuah pukulan. Saat itu Sasuke mengatakan bahwa Naruto adalah penyebab Shion mengikuti ritual Izanagi. Naruto kemudian melirik kearah Hinata, Sakura, kemudian kearah teman-temannya yang seakan tertarik karena tidak sengaja atau mungkin sengaja mendengar perkataannya.
"Shion, apakah kau begitu takut akan ramalanmu itu?"
Sasuke mengusap wajahnya kasar, akibat lelah yang mendera membuat wajah putihnya menjadi pucat. Pria itu sedikit tertawa dalam hati, lebih tepatnya menertawakan dunia yang menciptakan Pria seperti Naruto dan Gadis seperti Shion. Shion sendiri hanya menundukkan wajah mendengar penuturan Naruto, tanpa ia sadari air mata telah jatuh dan membasahi pipinya. Kejadian yang Shion tidak perkirakan ialah usapan lembut dipipi untuk menghapus air matanya, kemudian sebuah sentuhan kecil pada dagu yang mendorong keatas sehingga Shion kini mendongak dan menatap lurus safir biru yang seakan menenggelamkannya kedasar samudera.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku, Mama" Senyum tipis Naruto berikan kearah Shion
Tampan, Naruto sangat tampan dimata Shion. Perlakuan lembut dan sikap khas Pria yang Naruto berikan untuknya membuat Shion terjatuh lagi. Ia tidak bisa menyangkal sesuatu yang tergambar jelas melalui wajahnya yang telah bersemu merah dan air mata haru yang tanpa permisi jatuh menyusuri wajahnya. Shion harus mengakui bahwa dirinya sekali lagi terjatuh kelubang yang sama, Shion kembali jatuh cinta kepada Uzumaki Naruto.
"A-apa yang kau lakukan bodoh?!"
Naruto mengaduh kesakitan akibat tamparan yang cukup keras dipipinya. Para anggota OSIS yang sedang asyik-asyiknya menonton sebuah adegan puncak khas dorama remaja terpaksa memalingkan wajah dari kejadian itu. Mereka tidak mau ikut menjadi korban amukan Shion, adalah hal yang menyeramkan saat seorang gadis terlebih ia tsundere mengeluarkan kemarahannya.
"Naruto, ilusi tadi itu adalah kenyataan. Benarkan?" Tanya Sasuke mencoba mengganti topik pembicaraan
"Seperti itulah" Jawab Naruto sembari mengelus pipinya yang kebas setelah mendapat sebuah cap tangan
"Dasar bodoh"
Naruto kembali melirik kesahabat pirang yang baru saja menghardiknya. Alisnya sedikit tertaut menandakan otak lemahnya sedang mencari arti dari ekspresi datar bak boneka tersebut. Shion harus bangga kepada dirinya yang dengan cepat menetralkan emosi dan ekspresinya.
"Apapun yang terjadi padamu, seorang sahabat tidak akan pernah meninggalkanmu. Tidak perlu merubah sikapmu untuk mengetes seberapa kuat tali persahabatan yang kita bangun Naruto"
Mengalihkan pandangan dari orang yang dinasehati, Shion sedikit menghela nafas mencoba menghilangkan kegugupannya. Syukurlah ia masih bisa mengontrol diri agar tidak terbata-bata bicara didepan Naruto.
"Aku juga akan terus berada disisimu Naruto-kun" Ujar Hinata
"Hinata, kau..."
"Karena kita adalah sahabat" Sambung Hinata
Senyuman sangat manis Hinata berikan kepada Naruto. Tetapi, pria pirang itu hanya memberikan ekspresi terkejut. Sedikit mengomel didalam hati akibat terpengaruh oleh kilasan masa lalu membuat Naruto mendengus pelan. Dirinya bingung hal apa yang membuat dirinya hingga lupa. Naruto masih ingat setelah kejadian itu keempat sahabatnya masih setia menemaninya. Walaupun hubungan mereka tidak seerat dulu akibat pertikaian yang terjadi namun mereka semua paham bahwa persahabatan akan semakin erat setelah diuji dengan masalah. Naruto masih ingat teman-temannya bersama-sama mencoba mengeluarkannya dari lubang kesepian sehingga dirinya kembali menjadi Naruto yang dulu.
"Terima kasih" Ucap Naruto tulus
"Dasar dobe" Ejek Sasuke
Mengabaikan seruan protes dari Naruto akibat ejekannya, Sasuke mengintruksikan kepada anggota OSIS untuk melanjutkan perjalanan mereka menyelesaikan Izanami.
"Jadi kita harus kemana?" Tanya Sakura
"Gedung olahraga" Ucap Shion
Temari sedikit memasang ekspresi murung karena mengingat hal yang ia alami digedung olahraga. Tepukan dibahu sedikit menyadarkannya, Temari menoleh untuk melihat Shikamaru yang memandang lurus kedepan tanpa mengatakan sepatah katapun. Entah kenapa sedikit semburat merah tercetak dipipi putih Temari. Menggelengkan kepala untuk menjernihkan pikiran Temari ikut menatap lurus kedepan.
Keputusan Shion membuat mereka melanjutkan perjalanan menuju gedung olahraga yang lokasinya cukup jauh dari tempat mereka berdiri. Sementara Obito dan Shisui sudah berdiri di depan laboratorium IPA.
"Membakar ruang musik merupakan idemu yang cukup brilian Shisui" Ujar Obito
"Kau berkata seperti itu karena tidak mendapat luka bakar brengsek"
Obito hanya tertawa mendengar keluhan rekan Uchihanya
"Baiklah mari lakukan" Gumam Obito seraya membuka pintu
"Dimana artefaknya?" Pertanyaan meluncur begitu saja dari mulut Shisui
Tiba-tiba saja tubuh mereka tidak dapat bergerak sehingga hanya terjebak di tempat yang sama.
"Apa-apaan ini" Ucap Obito saat menyadari keadaan
Tubuh mereka perlahan-lahan roboh ke tanah saat merasakan tarikan gravitasi semakin kuat. Perlahan-lahan kesadaran mereka mulai hilang saat kandungan oksigen di ruangan itu juga perlahan menipis. Shisui sempat melihat jam di ruangan tersebut
'Tempat ini meniadakan semua yang ada di dunia dan alam' Ucap Shisui dalam hati
Setelah melihat detak jam berhenti yang bisa mereka lakukan hanyalah memejamkan mata dan menunggu yang akan terjadi selanjutnya
"Tempat ini kacau sekali" Ujar Ino saat melihat kompleks olahraga
Shion dengan yang lain sudah berada di kompleks olahraga dan sangat terkejut melihat kondisi disana. Gedung dan area olahraga sudah rata dengan tanah. Kemudian sebagian besar alat olahraga tenggelam di kolam renang yang cukup sering menjadi tempat diadakannya perlombaan baik tingkat regional hingga nasional
Shikamaru langsung menunduk untuk mengambil jaket Shino yang digunakan Choji untuk menutup pendarahan pada lengannya. Jaket itu telah berwarna merah akibat darah yang mengering, Shikamaru sendiri masih menatap sendu jaket Shino dengan tangan terkepal erat. Semua temannya tidak dapat menghibur si kepala nanas ber-IQ 200 karena mereka juga merasakan duka yang mendalam. Secara tersirat mereka tahu bahwa rekan mereka Choji ikut lenyap layaknya area infrastruktur olahraga disini
"Shikamaru kuatkan dirimu, ini adalah keputusan yang kau...tidak. Ini adalah keputusan yang kita ambil" Ucap Gaara
"Aku tau, tapi...te-tetap saja"
Air mata perlahan menetes dan membentuk aliran kecil di wajah Shikamaru. Ekspresi sendu makin tercetak jelas diwajah para anggota OSIS diakibatkan begitu banyak rekan mereka yang berguguran saat menjalankan permainan ini.
SREEK SREEK
Suara yang cukup menganggu sedikit mengundang perhatian mereka. Beberapa pasang mata disana melebar terkejut melihat alat-alat olahraga mulai bergerak sendiri. Hal itu disadari oleh Sara
"Teman-teman.." Ucapnya
"Itu adalah rintangan untuk artefak ini. Semuanya berhati-hatilah!" Intruksi Temari segera ditanggapi dengan sikap siaga seluruh anggota OSIS
"Itu artefaknya" Ujar Gaara menunjuk boneka dengan satu ekor di dalam kotak kaca
Tepat setelah itu alat-alat olahraga mulai meluncur ke arah mereka. Akibat serangan mendadak tersebut anggota OSIS menjadi sedikit terpecah konsentrasinya.
PYARRR
"Senpai, Apa yang kau lakukan?" Tanya Yukata
"Reflek" Jawab Gaara tanpa mengalihkan pandangan
Gaara telah memecahkan kotak kaca tempat artefak yang kebetulan dilihatnya. Sebuah kebetulan berbau keberuntungan lebih tepatnya. Sesaat setelah alat olahraga berterbangan kesana kemari, Gaara langsung memecahkan kotak kaca itu dengan memukul bola tenis yang menuju ke arah mereka menggunakan raket
"Pukulan bagus Gaara" Puji Lee
"OHHH Astaga!"
Matsuri berteriak saat melihat Monster berukuran 25 meter yang terdiri atas alat olahraga mengejar mereka
"Makhluk sialan itu lagi" Shikamaru menggertakkan gigi dengan geram
Naruto segera menganalisa keadaan, matanya melirik teman-temannya terus berlari dan mencari tempat berlindung dari alat-alat olahraga yang terus mengejar mereka bagaikan rudal. Sedikit saja lengah dapat menimbulkan cedera yang cukup serius.
"Semuanya, kita harus cepat mengambil artefak itu" Perintah Naruto
GRAHHH
'Sial, monster itu terlihat melindungi boneka itu' Pikir Neji
"Tidak semudah itu Naruto" Ujar Neji menyuarakan pikirannya
"Monster lainnya muncul!" Teriak Sai
Bukan hanya satu, kini di area olahraga Konoha Gakuen terdapat 5 monster berbentuk rakun dengan satu ekor. 4 dari 5 monster tersebut berlari menuju anggota OSIS menambah suasana panik yang sangat kental disana.
"Gaara kau alihkan perhatian monster itu. Temari dan Sara evakuasi seluruh teman kita"
Shikamaru langsung memberi intruksi kepada anggota Tim nya, tentu ia dan timnya lebih berpengalaman melewati rintangan untuk mendapatkan artefak di area tersebut. Shikamaru terus berdoa didalam hati supaya tidak ada teman-temannya yang bernasib sama seperti Choji.
"Shikamaru, kita terkepung" Ucap Temari
"Gaara!"
"Sedang kuusahakan Shikamaru"
GROOOAHHH
Auman monster diarah jam 1 menjadi bukti bahwa pukulan bola tenis yang Gaara berikan tepat sasaran. Temari yang melihat celah segera mengajak para anggota OSIS bergender perempuan untuk berlari dan memanfaatkan celah dari monster yang terlihat kesakitan dibagian kepala tersebut. Sementara para laki-laki mencoba mengikuti jejak Gaara.
"Pukulan yang luar biasa" Puji Shino seraya membetulkan posisi kacamata miliknya yang dirasa kurang nyaman, Gaara seketika merinding melihat Shino telah mengenakan jaket yang menjadi merah akibat darah Choji. Shino benar-benar tidak bisa hidup tanpa jaket kebanggaannya.
"Seperti yang diharapkan dari atlet terbaik Konoha Gakuen" Timpal Sai dengan senyuman palsu andalannya
"Simpan pujian kalian nanti..."
Gaara melirik sebentar kearah teman-temannya yang mencoba memukul dan mengindari alat-alat olahraga yang mengejar mereka bagaikan rudal. Hal itu persis seperti yang sedang ia lakukan. Senyuman tipis ia berikan
"Setelah kita mengalahkan monster jelek ini" Sambungnya
Suatu kebetulan, sesaat setelah Gaara bersikap sok keren. Monster yang mengejar mereka terlihat terdiam dan mengeluarkan suara aneh ditiap sendi tubuhnya.
"Rencana berhasil"
Seringaian tipis keluar dari pemuda berambut nanas tersebut. Matanya melirik kearah kanan dimana Sara berhasil mendapatkan boneka rakun dengan satu ekor. Jika Shikamaru boleh menyebutkan nama maka Shukaku telah berhasil mereka dapatkan. Shikamaru tidak terlalu memusingkan bagaimana cara para wanita yang berlari bersama Temari berhasil mengalihkan perhatian monster yang menjaga boneka tersebut. Hal yang terpenting ialah tujuan mereka telah tercapai.
"Apa dia mati?" Pertanyaan konyol muncul dari mulut Lee
"Semuanya berlindung!" Perintah Sasuke
Bersamaan dengan itu material penyusun monster tersebut berhamburan ke tanah dan mengarah ke arah mereka. Shikamaru sedikit mendecih tanda hal ini tidak termasuk kedalam perkiraannya. Meskipun intruksi yang diberikan Sasuke cukup jelas namun tidak adanya tempat berlindung disana menghambat kelancaran intruksi tersebut. Tidak kehabisan akal kebanyakan dari mereka hanya berlari menghindari alat olahraga. Akan tetapi, rintangan mereka belum cukup sampai disini.
GRUHHHHH
"Kau pasti bercanda" Gumam Ino dengan keringat dingin menetes diwajah cantiknya
"Semuanya berlindung!"
Terlambat, intruksi yang diberikan Shion selaku ketua OSIS tetap terlambat menghindarkan mereka dari terjangan air bah dari arah kolam renang dikompleks olahraga tersebut. Suara gemuruh terdengar cukup lama di area kompleks olahraga hingga terjangan air tersebut berhenti.
Saat ini area olahraga Konoha Gakuen telah menjadi danau sebagai hasil dari terjangan air regional didaerah tersebut. Madara dan Kaguya yang mengawasi permainan mengeluarkan ekspresi berbeda melihat kejadian yang ditampilkan oleh layar monitor dihadapan mereka. Madara dengan seringai kemenangan sedangkan Kaguya dengan mimik muka khawatir. Ekspresi yang dikeluarkan Kaguya bisa ditebak mengingat dilayar monitor yang menampilkan kompleks olahraga Konoha Gakuen, kini menjadi danau dan tidak terindikasi ada kehidupan diwilayah tersebut.
.
TBC
.
.
.
Author Note's : Akhirnya chapter terbaru update. Mengenai chapter kali ini tidak ada terlalu banyak komentar. Yang jelas untuk bagian ending apakah seluruh siswa Konoha Gakuen mati tenggelam? Jawabannya akan ada di chapter selanjutnya yang tidak tahu kapan terbitnya hahahaha. Oke gitu aja See You
Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.
Hope you enjoy it
Well see u in the next chapter
x
x
x
