Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
As you wish © Elevtron
Rating : T
Genre : Adventure, Tragedy
Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.
Pairing : Coming Soon
.
Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?
.
.
.
Chapter 21 : [Pertikaian]
.
Ruang pecinta alam merupakan salah satu dari ekstrakulikuler di Konoha Gakuen yang mempunyai gedung sendiri. Tempat ini sedikit unik karena seluruh bangunannya terbuat dari kayu. Persis seperti model bangunan jaman dahulu, hal ini beralasan karena penggunaan batu, semen, dan pasir menimbulkan polusi yang luar biasa dalam proses pembuatannya. Tentunya sangat bertentangan dengan prinsip dari sebuah klub pecinta alam.
"Kiba..." Cicitan kecil keluar dari bibir Shion saat melihat foto di dinding tempat ia dan teman-temannya berada
Kiba adalah pria temperamen penyuka binatang terutama anjing. Sebuah hal yang mengejutkan saat pria dengan model urakan sepertinya dapat menjadi ketua dari ekstrakulikuler yang cukup terkenal di Konoha Gakuen. Satu hal lagi yang tidak diperkirakan oleh teman-temannya, yakni kepergian Kiba yang begitu cepat dan tragis.
"Kita harus mencari artefak itu"
Sakura mencoba merubah suasana murung diruangan itu, meskipun ia masih merasa menyesal tidak cukup tegas saat memperingatkan Kiba akan ancaman yang diberikan oleh Madara.
Beberapa menit mencari, anggota OSIS mulai merasakan beberapa keanehan. Pertama tidak ada rintangan atau hal supranatural yang mengancam nyawa mereka. Kedua artefak itu sangat sulit ditemukan meskipun mereka sudah membongkar seisi ruangan. Hasil perbuatan mereka dapat tercermin pada ruangan ekstrakulikuler pecinta alam yang sudah sangat berantakan. Tetap saja mereka tidak bisa menemukan apapun.
"Apa benda itu benar-benar disini?" Tanya Ino kepada dua orang yang memikul tanggung jawab diruangan itu
"Tentu saja, tidak mungkin aku salah ingat" Jawab Sasuke
"Lalu kenapa sangat sulit menemukannya?" Karin mengajukan pertanyaan yang hanya dibalas keheningan, membuat gadis bermarga Uzumaki tersebut merengut sebal
"Ini aneh" Ujar Shion
"A-apa maksudmu Shion?" Tanya Sakura
"Coba lihat peta itu"
Intruksi Shion segera diikuti oleh teman-temannya. Hinata segera berbicara begitu menyadari keanehan yang dimaksud oleh Shion.
"Arah utaranya tidak mengarah ke atas" Kata Hinata
Sesuai dengan yang dikatakan oleh putri Hyuga. Arah utara yang lazimnya mengarah keatas tidak berlaku pada peta yang terdapat diruangan tersebut. Arah utaranya jutrsu mengarah kebawah mengakibatkan peta dunia tersebut seakan-akan terbalik. Sakura yang berada paling dekat dengan peta tersebut langsung berinisiatif mengambil peta dunia yang tergantung di dinding kemudian menaruhnya di lantai
"Semoga tebakanku benar" Ucap Sakura
"Astaga!" Matsuri reflek menutup kedua mulutnya begitu Sakura meletakkan telapak tangan di logo mata angin pada peta itu.
Bukan hanya Matsuri namun seluruh anggota OSIS tidak kuasa menahan ekspresi terkejut diwajah mereka. Hal ini diakibatkan arah mata angin di sudut kanan atas peta itu langsung berputar-putar dalam waktu yang cukup lama. Kejadian yang aneh tersebut akhirnya berhenti sehingga kini arah utara mengarah keatas. Bersamaan dengan itu muncul sebuah celah rahasia di ruangan tersebut
"Itu artefaknya" Kata Sakura dengan ekspresi puas karena dugaannya terbukti tepat
"Kami mendapatkanmu Saiken!" Teriakan penuh jiwa masa muda khas Lee seakan menjadi latar suara keberhasilan anggota OSIS
"Baiklah, ayo teman-teman. Kita harus akan memenangkan permainan ini"
Perkataan sesumbar dari Naruto justru mengundang ekspresi sendu dari Shion. Hati gadis tersebut tidak akan melupakan konsekuensi yang menanti saat menjalankan Izanami. Usaha untuk mengenyahkan pikiran negatif tersebut justru menemui jalan buntu saat Shion melihat ekspresi Sasuke. Pria Uchiha tersebut kini memasang ekspresi berpikir seakan ada hal yang tidak beres disekelilingnya.
"Jangan berisik, bodoh!"
"Sakit Sakura-chan" Naruto mengelus-elus kepalanya yang benjol akibat pukulan Sakura. Gagal sudah aksi sok kerennya barusan
"Ini aneh" Gumam Sasuke
"Tidak ada yang terjadi" Ucap Shion yang berdiri didekat Sasuke. Gadis itu menyetujui perkataan sang Uchiha
"HOLY SHIT" Umpat Lee
Lee tidak bisa menutupi keterkejutannya saat membuka pintu ruangan pecinta alam. Keterkejutan itu diakibatkan ruangan yang mereka tempati sudah berpindah tempat ke tepi atap dari gedung sekolah. Hal itu membuat seisi ruangan panik dan menimbulkan gerakan tidak stabil pada ruang pecinta alam. Hal ini menyebabkan ruangan itu menjadi tidak stabil, apabila terus berlanjut maka ruang pecinta alam beserta penghuni didalamnya akan terjun bebas dari gedung berlantai 4 tersebut.
"Semuanya jangan bergerak!" Teriak Sasuke
"Lee, bisakah kau turun menuju atap?"
"Kurasa bisa" Lee melirik sebentar kearah Neji yang pertanyaannya baru saja ia jawab
"Baiklah, kau harus turun kita akan menyeimbangkan ruangan ini" Perintah Neji
Lee yang sudah berada diambang pintu segera melangkahkan kaki dan terjatuh akibat pijakan yang tidak sempurna. Reflek ia bertopang pada atap gedung mencegah dirinya untuk membuat ruang pecinta alam terjatuh kebawah. Lee dengan hati-hati berdiri hingga tubuhnya dapat dilihat dari dalam ruangan selagi memberi isyarat yang mengatakan bahwa dirinya berhasil
"Selanjutnya kau Karin" Ucap Neji
"Ke-kenapa harus aku?" Tanya Karin dengan ekspresi takut
"Gedung ini miring kesebelah kiri, kita harus menyeimbangkannya" Jelas Neji
Karin yang berada di sudut kanan ruangan hanya bisa merengut karena tidak bisa membalas argumen Neji. Karin segera melangkah dengan hati-hati dan mencoba mengontrol detak jantung yang bergemuruh akibat ruangan yang terus oleng kedepan dan kebelakang. Namun, saat Karin hampir tiba di pintu dimana Lee telah siap membantunya untuk keluar, dia tidak sengaja terjatuh dan membuat ruangan itu semakin tidak stabil.
"KYAAAA" Teriak Matsuri ketakutan
"Karin bodoh!" Bentak Sara
"Maafkan aku" Karin jatuh hingga berlutut sembari menahan tangis
"Kumohon tenang sebentar kita bisa mati"
Perkataan Shion membuat suasana seketika hening dan menambah ketegangan diantara mereka.
"Teman-teman kalian harus cepat, atapnya mulai retak" Ucap Lee dari luar
"Kau tidak membantu, brengsek!" Umpat Ino
"Hei Karin kau bisa merayap?" Tanya Sakura
"I..Iya"
Karin perlahan merayap menuju ambang pintu, dirinya sedikit bersyukur karena ruang pecinta alam sedikit lebih stabil dibanding saat ia dengan cerobohnya terjatuh
"Karin raih tanganku" Kata Lee dari ambang pintu dan menarik Karin keluar
KRETTTT
"Fuck!" Umpat Lee yang hampir mengira bahwa ruangan itu akan jatuh saat dirinya menarik Karin dengan gerakan terburu-buru
"Karin dan Lee kumohon kalian menahan ambang pintu agar ruangan ini tidak jatuh" Kata Sasuke
"Baiklah" Ucap mereka
"Semuanya kita harus bergerak bersama, ikuti aba-abaku" Perintah Sasuke
"Kanan-Kiri, Kanan-Kiri..." Sambungnya
Perlahan tapi pasti satu persatu anggota OSIS berhasil mendarat dengan aman diatap gedung sekolah Konoha Gakuen. Ruang pecinta alam yang makin banyak menerima beban disalah satu sisi membuat anggota yang telah turun ikut membantu menahan ruangan seraya memperhatikan pijakan agar mereka tidak terjatuh
"Sial, ruangan ini sangat tidak stabil" Keluh Sara
"Sara perhatikan langkahmu" Nasehat yang Sai berikan hanya dibalas anggukan kecil oleh gadis bersurai merah tersebut saat berhasil mendarat dengan selamat diatap
"Ino apa yang kau lakukan? Cepat keluar!" Sakura menatap kesal sahabat dengan rambut kuning pucatnya itu
"Aku takut"
Sial, Sakura lupa kalau Ino phobia ketinggian. Sahabatnya itu sekarang sedang menahan tangis dengan tangan gemetaran mencoba meraih tangan Sasuke yang menunggu di ambang pintu.
KREEETT
"Ruangannya akan jatuh!" Teriak Karin
"Semuanya tahan ruangannya" Perintah Neji yang kini tubuhnya agak sedikit melengkung kebelakang akibat gerakan menarik ruang ekstrakulikuler pecinta alam
"Ino cepatlah keluar!" Sakura mencoba memberi perintah kepada Ino untuk keluar sebelum hal yang tidak ia inginkan terjadi
KREEET
"Aduh!"
Phobia yang dialami oleh Ino sangat serius sehingga kaki yang sedari tadi tidak berhenti gemetar mendadak lemas. Kedua kaki milik Ino tidak sanggup menahan bobot tubuhnya, mengakibatkan kini dirinya jatuh terduduk. Gadis Yamanaka itu kini tengah mengalami serangan panik yang hebat.
"Tahan!" Teriak Sasuke begitu menyadari ruangan itu akan jatuh sebentar lagi. Ekspresi datar khas Uchiha miliknya mendadak hilang seketika
"Ino, kami tidak bisa menahannya lebih lama lagi karena pijakannya sangat licin. Tolong lawan phobiamu dan cepatlah keluar" Ujar Shikamaru
Bukan hanya Shikamaru, semua yang menahan ruangan tersebut sampai terduduk agar tidak ikut terjatuh karena terbatasnya tempat. Serpihan atap gedung terlihat berjatuhan di tempat mereka berdiri
"Ino, raih tanganku" Ucap Sakura merentangkan tangannya kearah Ino
BRAKKK
Namun terlambat, Kayu yang mendominasi bagian ruangan yang mereka tahan tiba-tiba saja patah. Akibatnya ruangan tempat Ino berdiri jatuh terjun bebas dari ketinggian. Iris emerald Sakura membulat tak percaya saat sedikit lagi tangan Ino berhasil ia gapai. Akan tetapi, tempat Ino berpijak terlanjur jatuh dari ketinggian gedung Konoha Gakuen. Di sisi lain saat semua sahabatnya menutup mata, Shikamaru masih melihat dengan jelas saat dinding kayu beradu dengan tanah dan hancur tak berbentuk. Shikamaru mencoba menampik logikanya saat berpikir bahwa tidak akan ada yang selamat saat terjatuh dari ketinggian gedung Konoha Gakuen.
"Harusnya kalian menahannya lebih kuat" Gumam Shikamaru datar sambil melempar potongan kayu dari tangannya yang berdarah. Kedua sahabat masa kecilnya telah tiada, kematian mereka berdua terjadi didepan matanya sendiri. Shikamaru sekarang sedang mengalami mental break yang mengakibatkan ia hanya memandang kosong alam disekitarnya.
"Kenapa kalian tidak menahannya?!" Bentak Sasuke, matanya menatap nyalang kearah semuanya
"Kau tidak berhak menyalahkan kami!" Balas Sai
"Apa katamu?"
"Kejadian ini...Hal terkutuk ini tidak akan terjadi jika bukan karenamu!" Jawab Sai dengan nada penuh emosi. Ekspresinya sangat serius sekarang
"Hei Sai, tenanglah" Gaara mencoba meredakan emosi sahabat berkulit pucatnya itu
"Aku tidak bisa tenang! Kita harusnya bisa hidup damai jika dia tidak lahir kedunia ini! Kita akan tentram jika dia.."
PLAK
"Kau tidak berhak berkata seperti itu"
Tamparan Sakura memutus kata-kata menusuk Sai, air mata masih mengalir di pipi gadis berambut merah muda. Suara Sakura terdengar serak menandakan betapa sedihnya ia akan kematian Ino. Bahkan Sakura sudah tidak sanggup berteriak atau bereaksi saat Ino terjatuh, walaupun telapak tangannya masih sanggup untuk menampar wajah pucat Sai. Ia tidak terima sahabat masa kecil dan pria yang ia cintai dihina seperti itu didepan matanya sendiri. Hatinya terlalu sakit untuk menerima penghinaan yang ditujukan kepada Sasuke walaupun yang disampaikan itu benar adanya.
"Kenapa kau menamparnya Sakura?" Tanya Karin
"Kau serius menanyakan itu?" Sakura bertanya balik
"Semua yang dia ucapkan benar dan biar kutambahkan Sasuke yang membunuh kami, Sasuke yang mengundang kami ke permainan ini. Madara telah mengatakannya secara tersirat di awal permainan" Jelas Karin
Sakura menatap tidak percaya kearah wanita bersurai merah tersebut. Karin adalah wanita selain dirinya dan Ino yang mati-matian mengejar Sasuke. Kenapa sekarang wanita ini malah...
"Tutup mulutmu Karin!"
"Kaulah yang harus menutup mulutmu, Sakura!"
Oke, ini tidak bagus. Kedua gadis tersebut memberikan gestur seakan ingin menyakiti satu sama lain. Sakura bergerak perlahan kearah Karin, membuat gadis Uzumaki memasang ekspresi siaga diwajahnya. Emosi yang mendominasi pikiran gadis berambut merah muda membuatnya memasang senyum mengejek
"Jangan berlagak sedih, kau lah yang harusnya paling bahagia. Dendammu pada Ino karena mengumbar aibmu sudah terbalaskan sekarang" Ucap Sakura
PLAK
"Beraninya kau menamparku!"
Sakura langsung menjambak rambut Karin yang langsung dibalas oleh perempuan bermarga Uzumaki itu. Aksi jambak-jambakan atau pertengkaran khas wanita menutup adu mulut mereka berdua.
"Ka-kalian tolong hentikan" Hinata coba melerai mereka berdua, namun usahanya sia-sia
Saat berkelahi tanpa sengaja Sakura dan Karin salah berpijak sehingga mengakibatkan keduanya terguling ke pinggir atap gedung. Beruntung gerak reflek menyelamatkan mereka berdua.
"Tolong kami!" Teriak Sakura dan Karin yang sempat berpegang di pinggir atap
"Bertahanlah kami datang kesana" Ucap Shino
Akan tetapi, Shino salah berpijak sehingga justru membuat atap-atap berjatuhan menuju Sakura dan Karin
"Shino Brengsek!" Umpat Karin
"Maafkan aku" Ucap Shino
"Shino matamu..."
Kata-kata Lee tidak terselesaikan saat melihat mata Shino yang berkedut-kedut dan terus mengeluarkan air. Ekspresi pria penyuka serangga tersebut seperti menahan sakit.
"Ini hanya rabun dan tadi aku kemasukan debu" Shino mencoba menepis dugaan Lee, ia tidak ingin membuat teman-temannya cemas
"Neji, ayo selamatkan mereka" Ajak Naruto
"Baiklah, Kalian yang disini jangan bergerak itu akan memperburuk keadaan" Perintah Neji
Neji dan Naruto berjalan dengan penuh kehati-hatian hingga sampai di pinggir atap
"Bagaimana kabar kalian?"
Neji memberikan senyum jahil kepada kedua gadis yang tengah bertahan agar tidak menyusul Ino kealam baka
"Tolong angkat kami keatas lengan kami sudah sakit" Pinta Sakura
"Sebentar Naruto" Ucap Neji menahan pergerakan Naruto yang hendak menyelamatkan Sakura
"Kenapa Neji?" Naruto menampilkan ekspresi ingin tahu kearah pemuda Hyuga
"Kalian berdua harus berbaikan terlebih dahulu" Ujar Neji
"Berhentilah bermain-main Neji!"
Karin berteriak dengan nada tidak sabar. Kedua tangannya benar-benar sudah sangat sakit menahan bobot tubuhnya sendiri. Akan tetapi, ocehan Karin dibalas dengan ekspresi serius oleh Neji. Ekspresi itu menandakan bahwa Neji sangat serius dengan ucapannya
"Aku tidak sedang bermain-main"
"Cepatlah" Neji meneruskan perkataannya sambil memukul pinggir atap sehingga bergoyang
"Neji kau gila!" Karin kembali berteriak shock akibat tidak menyangka bahwa Hyuga Neji adalah seorang psikopat
"Baiklah-baiklah, Karin aku minta maaf sudah membentakmu dan menuduhmu macam-macam kumohon maafkan aku. Sudah aku sudah mengatakannya, sekarang kau puas?" Ucap Sakura
"Karin?" Tanya Neji dengan nada jahil
"Aku juga minta maaf telah berkata kasar dan menamparmu tadi" Ucap Karin
"Mari angkat mereka Naruto"
Perintah Neji dan langsung dibalas anggukan oleh Naruto. Satu hal lagi yang harus Naruto catat selama hidupnya ialah jangan pernah memancing kemarahan Neji. Pria itu benar-benar bisa berubah menjadi seorang psikopat atau manusia tidak berperasaan.
"Hei, bagaimana keadaan disana?"
Gaara menampilkan ekspresi heran saat melihat Neji dan Naruto justru bercakap-cakap dan seakan membiarkan Sakura dan Karin berada diambang kematian.
"Luar biasa, kami baru saja mempersatukan saudara yang lama berpisah"
Neji menjawab pertanyaan Gaara dengan nada bercanda sesaat setelah ia berhasil menyelamatkan Karin. Tanpa banyak basa-basi iris amethystnya melirik kearah teman-temannya yang masih murung akan kematian Ino.
"Kita harus terus bergerak, sejujurnya aku sudah terlalu lelah untuk menangis. Pengorbanan Ino...tidak pengorbanan Choji, Kiba, Ten-ten, Sakon, Ukon dan semuanya tidak boleh kita sia-siakan"
Ironis, kata itulah yang tepat untuk diberikan saat melihat ekpresi Neji. Kata yang seharusnya membangkitkan motivasi justru diakhir dengan senyum getir. Rekan-rekannya tahu pasti bahwa Neji merasakan kehilangan yang sama seperti mereka. Akan tetapi, seperti yang telah dikatakan 'Mereka sudah terlalu lelah untuk menangis'.
Hal yang selanjutnya terjadi adalah Neji, Naruto, Karin dan Sakura mencoba naik ke tempat teman-temannya berada dengan hati-hati karena banyak atap tempat mereka berpijak sudah hancur dan terlepas dari tempatnya semula. Seluruh anggota OSIS memanfaatkan celah dari atap yang sudah rusak itu untuk turun dan mendarat di lantai 4 gedung Konoha Gakuen.
"Shisui tunggu aku"
Pemuda berambut sedikit ikal yang berjarak beberapa langkah lebih cepat hanya menghela nafas mendengar ucapan rekannya. Ini sudah ke 8 kali Obito mengatakan hal yang sama. Shisui bingung harus menyalahkan siapa saat penuaan Obito justru membuat gerak tubuhnya semakin melambat.
"Encok lagi?"
"Bukan, hanya pinggang dan punggungku sedikit sakit"
"Itu namanya kau encok Obito!"
Telunjuk Shisui dengan kurang ajarnya menunjuk wajah keriput dengan rambut ber uban milik Obito. Entah sudah keberapa kali perdebatan tidak penting tentang perbedaan encok dan sakit pinggang diantara keduanya. Obito hanya mendecak sebal dan tidak membalas ucapan Shisui, lebih tepatnya ia membalas dengan gumaman yang berisi sumpah serapah untuk Shisui. Kau sekarang benar-benar mirip orang tua Obito
Sementara itu di ruangan tempat Kaguya dan Madara mengawasi permainan
"Dasar bocah-bocah bodoh"
Madara sedikit memijit pelipisnya dengan ekspresi seperti menahan malu. Dirinya bersumpah akan membuat perhitungan kepada kedua bocah yang telah dengan seenaknya mencoreng kehormatan Uchiha.
"Kau terus berbicara seperti itu selama 5 menit ini" Keluh Kaguya
"Harusnya aku lah yang harusnya lebih marah sekarang ini" Sambungnya
"Kau masih punya banyak bidak" Madara menanggapi dengan santai perkataan Kaguya
"Nyawa seseorang tidak sebercanda itu Madara!"
Madara hanya terdiam, tidak memberi respon apapun terkait perkataan Kaguya
"Aku tau nyawa orang lain tidak berharga bagimu" Kaguya melipat kedua tangannya didepan dada
"Bukan seperti itu-"
"Lalu kenapa kau berbohong kepada Naruto bahwa semuanya akan kembali seperti semula" Potong Kaguya
"Kau sungguh bertanya seperti itu?"
Madara sedikit mengeluarkan seringai saat memberikan pertanyaan kepada lawan bicaranya. Kaguya sedikit mengernyitkan dahi tanda tidak mengerti akan arah pembicaraan yang coba dicapai oleh leluhur Uchiha tersebut. Madara hanya terkekeh kecil melihat reaksi Kaguya dan melanjutkan ucapannya
"Kita berdua sudah terkutuk untuk selamanya terjebak didalam lingkaran ritual terkutuk ini Kaguya. Meskipun sekarang aku kalah, masih ada kesempatan lain yang akan menantiku. Namun..." Madara sengaja menggantungkan ucapannya
"Selesaikan ucapanmu"
"Seperti yang kubilang, akan kubuat mereka jatuh kedalam pusaran yang bernama keputus-asaan"
Madara menatap gembira layar monitor besar di depan mereka yang menampilkan kondisi terkini dari kedua belah pihak. Sementara Kaguya terlihat mulai mengerti arah pembicaraan Madara, dirinya merasa sedikit bodoh saat baru menyadari pola permainan pria Uchiha tersebut. Ucapan Kaguya yang mengatakan bahwa Madara tidak berubah tepat adanya. Madara masih menerapkan pola permainan yang sama seperti saat Obito maupun Shisui menjadi kesatrianya di masa lalu.
Sejak dahulu Madara tidak pernah serius saat menjalankan permainan, dirinya juga tidak murka besar saat rencananya gagal akibat kesatrianya kalah oleh kesatria milik Kaguya. Motivasinya tetap sama yakni menjadikan umat manusia menjadi putus asa sehingga batas yang mengekang Mugen Tsukoyomi akan terlepas dengan sendirinya tanpa perlu menyelesaikan Izanami. Kaguya menatap waspada kearah pria yang masih menyeringai menatap layar monitor, dirinya menyadari bahwa ini adalah kesempatan terakhir untuk menggagalkan rencana Madara. Dengan kata lain, ini adalah kesempatan terakhir untuk menyelamatkan dunia dari pusaran yang bernama keputus-asaan.
.
TBC
.
.
.
Author Note's : Aloha, kita bertemu kembali di chapter ini. Saat menulis chapter ini Elevtron mencoba untuk memberikan sisi manusiawi dari masing-masing karakter. Berada di keadaan yang tidak menentu dan terpaksa melakukan apapun demi bertahan hidup serta kehilangan orang-orang terdekat, Elevtron rasa sudah cukup membuat mereka berada di keadaan mental yang super tertekan. Tapi tenang saja, Elevtron tidak akan membuat chara disini menjadi gila wkwkwk. Untuk chapter-chapter selanjutnya entah apa yang akan terjadi. Tetap nantikan kejutannya ya...eh iya, jangan lupa isi kolom review. Terima kasih semuanya.
Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.
Hope you enjoy it
Well see u in the next chapter
x
x
x
