Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
As you wish © Elevtron
Rating : T
Genre : Adventure, Tragedy
Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.
Pairing : Coming Soon
.
Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?
.
.
.
Chapter 22 : [Kepingan lain dari masa lalu]
.
"Loncat saja Matsuri, aku akan menangkapmu"
Berkat latihan fisik sebagai seorang atlet kebanggan Konoha Gakuen, Gaara berhasil menangkap tubuh Matsuri dengan sempurna. Biasanya Matsuri akan bersemu merah saat berada didekat senpai-senpainya karena rasa sungkan sebagai junior. Akan tetapi, kali ini hanya ekspresi murung yang gadis itu tunjukkan sembari mengucapkan terima kasih kepada Gaara dan bergerak menjauh.
Shion melihat seluruh teman-temannya yang berhasil turun menuju lantai 4. Berterima kasihlah kepada lapisan atap yang telah berlubang sehingga mereka dapat memanfaatkan kerangka besi atap tersebut untuk turun perlahan. Meskipun para laki-laki masih perlu untuk menghancurkan lapisan dek tipis dengan kaki mereka tapi yang terpenting mereka tidak lagi terjebak diatap Konoha Gakuen.
Kembali kepada sudut pandang ketua OSIS, kini ia mendapat masalah baru ditengah perjalanan mereka. Teman-temannya kini benar-benar telah kehilangan motivasi. Hal ini wajar mengingat nyawa mereka menjadi taruhannya, hal yang sia-sia apabila memenangkan tahap Izanami tapi harus kehilangan nyawa. Pemikiran seperti itu sangat dipahami oleh Shion. Oleh karena itu, ia tidak bisa mengatakan apa yang dirasakan oleh teman-temannya adalah sebuah kesalahan. Di sisi lain, ia juga tidak bisa menemukan cara maupun kata-kata yang bisa menghilangkan pikiran itu dari kepala rekan-rekannya.
"34 orang"
Suara Naruto mengalihkan atensi teman-temannya yang sibuk dengan pikiran mereka sendiri beberapa menit yang lalu.
"Shion memberhentikan 10 orang yakni Kankuro, Yugito, Utakata, Han, Fu, Yagura, Killer B, Roshi, Darui, dan Chojuro sehingga kita hanya tersisa 24 orang. Meskipun begitu, mereka tetap bagian dari kita" Lanjut Naruto
"Mereka bersepuluh berubah menjadi Zombie sehingga aku terpaksa..."
Sai tidak bisa menyelesaikan ucapannya, senyum palsu andalannya hilang. Kini ekspresi itu digantikan dengan ekspresi sendu yang benar-benar mencerminkan emosi hati milik Sai. Gaara sedikit melirik ke arah Sai, mengetahui bahwa sepupunya berubah menjadi monster mengerikan tentu sangat menganggu batinnya.
"Kita akan mengingat mereka didalam hati kita"
Kalimat yang dilontarkan oleh Naruto sedikit menggugah hati teman-temannya. Mata mereka kini mulai berani untuk menatap safir biru milik Naruto. Sedikit mengulum senyum, Naruto melanjutkan ucapannya
"Bukan hanya mereka. Juugo, Suigetsu, Sakon, Ukon, Kiba, Choji, Ten-ten dan Ino adalah teman-teman kita. Sampai kapan pun mereka akan terus ada di hati kita, jadi jangan menyerah!"
Kalimat motivasi dari Naruto benar-benar berhasil menyentuh hati para anggota OSIS. Berkat ucapan Naruto kini mereka menangis, ya menangis meskipun tidak semuanya. Hal ini membuat Naruto merasa salah bicara.
"Ehh, maaf kalau aku salah bicara hehe" Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal
"Bodoh"
Senyum tipis Sakura berikan kepada Naruto, sahabat pirang bodohnya itu benar-benar orang paling optimistis yang pernah Sakura kenal. Hal yang wajar apabila banyak gadis yang menyukainya, sayangnya dirinya tidak termasuk meskipun Naruto selalu menggodanya sejak mereka masih anak-anak.
FLASHBACK ON
Sakura Pov
"Aku menyukaimu, Sasuke-kun. Jadilah kekasihku"
Aku yakin wajahku bersemu merah sekarang, hal itu membuatku senang karena pasti sekarang wajahku terlihat sangat manis. Aku harap pria dingin dihadapanku ini dapat luluh dengan pernyataan cintaku.
"Carilah pria lain"
Suara yang selalu membuatku bahagia entah kenapa kali ini membuat hatiku sangat sakit. Surai merah muda yang selalu berhasil menarik perhatian orang lain tidak cukup untuk mendapatkan hati seorang Uchiha Sasuke. Haruno Sakura, itulah namaku hari ini telah gagal mendapatkan cinta pertamanya.
"Sakura, kau kenapa?"
Aku mengenal suara itu, sahabat pirang bodohku ini selalu muncul disaat yang tidak tepat. Padahal kukira sekolah akan sepi hari ini, mengingat hanya pasangan abadi penjaga gerbang itu saja yang aku lihat saat memasuki wilayah Konoha Gakuen. Tentu saja aku pura-pura mengacuhkan mereka dan langsung duduk dibawah pohon rindang yang menghiasi sudut halaman, Oke aku mengaku kalau aku juga menangis tapi hal itu wajar bagi seorang gadis yang baru patah hati. Aku masih duduk dan memeluk kedua kaki berharap dapat menyembunyikan wajahku yang sembab di kedua lutut.
"Pergilah aku sedang tidak ingin bertemu siapapun"
Aku harap kali ini Naruto mau mendengarkan sedikit kata-kataku karena jujur kali ini aku benar-benar ingin sendiri.
"Aku mau bercerita"
Cerita saja pada orang lain, kenapa harus cerita kepadaku.
"Aku tidak mau dengar" Jawabku ketus
"Baru saja aku ditembak dua orang gadis"
"HAH?"
Sial, aku bisa lihat ia menahan senyum. Aku terjebak dalam permainan kata miliknya. Biarlah, mungkin sedikit gosip panas bisa membuat moodku sedikit membaik.
"Siapa kedua wanita gila itu?"
Rasakan pembalasanku Uzumaki bodoh, astaga aku hampir tidak bisa menahan tawa.
"Rahasia"
Hei, apa-apaan nada yang kau berikan itu. Dasar, mengobrol dengan Naruto jutsru membuat moodku semakin buruk. Terlebih tidak mungkin memaksa Naruto untuk mengatakan siapa gadis yang menyatakan cinta kepadanya, bisa-bisa aku dikira penggosip. Sebaiknya aku pergi saja dan mencari tempat lain untuk...menangis.
"Aku pulang saja"
Aku hentakkan kaki sedikit kasar saat berjalan melewati tubuh yang sedikit atau mungkin agak lebih tinggi dariku. Tidak kusangka Naruto yang dulunya adalah pria pendek bisa menjadi setinggi ini. Menggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran tidak berguna itu, aku kembali berjalan hingga sampai di depan rumahku. Lelah yang aku rasakan membuatku ingin cepat masuk kemudian mandi dan mungkin melanjutkan tangisanku didalam kamar.
"Dikunci" Gumamku
Mengumpat rendah, langsung aku buka handphone keluaran terbaru yang aku beli dari uang hasil tabungan. Mukaku langsung tertekuk begitu melihat isi pesan yang entah kenapa tidak memberi notifikasi suara saat aku menerimanya. Ohh mungkin karena aku mengaktifkan mode senyap saat menangis di halaman.
Sakura, aku dan ayahmu terlambat pulang hari ini. Bersenang-senanglah dulu dengan temanmu sambil menunggu kami pulang. Maaf saat sudah sampai tujuan ibu lupa meninggalkan kunci cadangan.
"Aku kerumah Hinata saja"
Pilihan yang tepat bagiku meskipun harus kembali berjalan cukup jauh untuk sampai di mansion Hyuga. Saat melewati gerbang Konoha Gakuen yang merupakan bagian dari rute untuk mencapai rumah Hinata, tiba-tiba saja aku mendengar suara yang cukup familiar.
"Hentikan omong kosongmu Naruto!" Ini suara Sasuke-k.. ah tidak Sasuke saja.
"Justru kau lah yang harus diam!"
Aku mengernyitkan dahi saat mendengar Naruto membentak Sasuke-k...ahh maksudku Sasuke. Aku bukanlah orang yang suka ikut campur masalah orang, hanya saja aku ingin tahu. Sekali lagi hanya ingin tahu penyebab kedua pria itu berteriak-teriak menjelang malam begini.
BUGGGHHH
"Brengsek!"
Aku menutup mulutku saat melihat Naruto dipukul oleh Sasuke-k...ah bodo amat. Kembali ke pertarungan, aku dapat melihat mereka berdua saling melancarkan pukulan dan tendangan sedangkan gadis disana yang sepertinya Shion hanya bisa menangis karena tenaganya tidak sanggup untuk melerai kedua pria tersebut. Ingin rasanya aku melerai mereka tapi entah kenapa tubuhku seakan tidak mau bergerak.
Aku bersembunyi saat melihat Sasuke-kun (oke aku menyerah) berdiri dan melangkah ke arah gerbang sekolah namun tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya. Aku terkejut saat melihat Sasuke-kun menangis, apakah masalah antara Ia, Shion, dan Naruto benar-benar besar. Pria yang menolak pernyataan cintaku itu kemudian beranjak pulang menuju rumahnya. Tidak lama kemudian, Shion dengan mata yang sembab dan ekspresi boneka andalannya turut beranjak pulang.
"Aku harus menemui Naruto"
Ya, masalah ini harus aku ketahui titik terangnya. Mereka bertiga adalah sahabatku, jadi merupakan tanggung jawabku untuk ikut menyelesaikan permasalahan diantara mereka. Matahari telah terbenam dan suasana Konoha Gakuen seperti gedung yang tidak berpenghuni. Melihat kondisi itu sedikit membuatku merinding namun tanpa pikir panjang aku masuk ke wilayah Konoha Gakuen dan menuju ruang kelas 2-J tempat Naruto biasa menginap, aku mengetahuinya karena Naruto sering bercerita kepadaku. Sebenarnya dulu Naruto sering menginap di kelas 1-J, namun karena kami sudah naik tingkat otomatis inilah tempat dirinya tidur sekarang. Kembali ke topik, saat aku mencoba mengetuk pintu untuk memeriksa tebakanku.
'Pintunya tidak dikunci' Ucapku dalam hati
Aku memberanikan diri untuk masuk kedalam, meskipun tindakanku ini kurang sopan tapi disisi lain bisa berbahaya jika si bodoh itu tidur tanpa mengunci pintu.
Kosong, ruangan ini kosong. Kemana sebenarnya si bodoh it-
"Sakura-chan?"
"KYAAAAA"
Aku masih memalingkan wajahku dari sahabat pirangku itu. Setelah sebelumnya aku memukul kepala Uzumaki bodoh yang dengan seenaknya masuk dengan hanya mengenakan handuk sambil membawa matras yang sepertinya ia bawa dari gedung olahraga. Meskipun, Naruto memanggil namaku namun aku tetap memalingkan wajah. Bukan berarti aku marah padanya, hanya saja aku belum bisa menghilangkan rona merah dari wajahku akibat melihat tubuh berotot milik Naruto. Astaga, aku pasti sudah gila
"Ada apa?" Ucapku setelah berhasil menormalkan detak jantung, kulihat Naruto telah memakai pakaian miliknya
"Sedang apa kau disini?"
"Em..etto..."
Sial, tiba-tiba saja aku gugup tanpa sebab. Terlebih Naruto sekarang memasang ekspresi seperti melihat orang aneh. Meneguk ludah kasar aku coba untuk mengatakan maksud kedatanganku.
"Aku tadi melihat kau berkelahi dengan Sasuke-kun"
"Ohhh begitu"
Oke, aku bingung harus berkata apa sekarang. Jadi aku hanya diam saja
"Kau tidak usah khawatir, pasti kami akan berbaikan lagi"
"Sepertinya kali ini masalahnya cukup serius Naruto"
"Yah, mungkin kau benar"
Aku makin merasa khawatir terhadap hubungan ketiga sahabatku ini dan mungkin itu juga disadari oleh Naruto
"Mengenai pertanyaanmu tadi"
"Yang mana?"
"Bukankah di halaman sekolah kau menanyakan siapa dua gadis yang menyatakan cinta padaku?"
Oh iya, aku sampai lupa. Menjawab pertanyaan Naruto dengan anggukan kepala, sahabatku itu menyebutkan nama gadis tersebut.
"Hinata"
"Lalu?" Aku yakin nada suaraku menunjukkan bahwa aku sangat penasaran
"Shion"
"Astaga, Siapa yang kau pilih?"
Kulihat Naruto mengeluarkan ekspresi sendu, sepertinya pria ini sedang bimbang. Hal ini wajar bagi siapapun yang dihadapkan oleh pilihan yang sulit.
"Kau tidak perlu menjawabnya, yang terpenting pilihanmu itu yang terbaik bagimu" Ucapku bijak
"Terima kasih Sakura-chan, saranmu membuat suasana hatiku membaik"
Senyum lima jari milik Naruto yang sudah lama tidak kulihat kini ia tunjukkan. Melihat Naruto sekarang entah kenapa membuat aku sedikit menarik kembali anggapanku sebelumnya. Naruto bukan lagi bocah konyol yang selalu membuat masalah atau remaja tanggung yang mengaku menyukaiku hanya karena ingin terlihat lebih baik dibanding rivalnya. Pria ini bukan juga seseorang yang sedang terpuruk dan berada di titik terendah hidupnya. Melihat Naruto sekarang, bagiku pria ini hanyalah Naruto. Anggapanku bahwa Naruto berubah adalah salah, karena sebenarnya pria ini tidak berubah. Kami lah yang berubah dan justru menuduhnya yang menjauh dari lingkaran pertemanan
"Sakura-chan, sepertinya hujan"
"Apa?!"
Ini buruk, terlebih aku tidak membawa payung. Dengan kondisi begini pilhanku satu-satunya adalah pulang menerobos hujan. Belum sempat memantapkan hati untuk menjalankan rencanaku, tiba-tiba saja handphoneku berbunyi menandakan ada pesan teks masuk.
Sakura, bisakah kau menginap di rumah temanmu malam ini?. Ayah dan Ibu tidak bisa pulang karena badai membuat tanah longsor sehingga membuat jalan yang kami lalui terblokir. Sepertinya jalurnya baru akan dibersihkan besok jadi menginaplah di rumah temanmu.
P.S : Kami akan kembali besok jadi kau boleh izin tidak masuk sekolah
Entah aku harus bersyukur karena besok bisa libur atau meratapi nasib. Kalau begini rencanaku sebelumnya gagal. Menginap di rumah teman tidak mungkin mengingat hujan yang jatuh membasahi bumi sudah dalam tingkat badai. Kalau begini maka...
"Sakura-chan, apa yang kau lakukan?"
"Orang tuaku tidak bisa pulang, jadi aku akan tidur di matras ini" Ucapku sambil menepuk matras yang dibawa oleh Naruto
"Lalu aku?"
"Tentu saja, kau tidur di lantai"
Mengabaikan protes yang keluar dari mulut Naruto, aku mencoba menyamankan diri supaya bisa tidur. Akan tetapi, kondisi matras yang lebih keras dari kasurku membuatku tidak bisa langsung terlelap seperti biasanya. Selain itu, aku sedikit tidak tega melihat Naruto menggigil akibat tidur di lantai. Jika dipikir-pikir aku dan Naruto sama-sama menjalani hari yang menyedihkan. Aku yang mengalami penolakan dan Naruto yang mengalami perkelahian, memikirkan itu membuatku merasa sudah seharusnya aku dan Naruto saling membantu sama lain.
"Naruto, kau sudah tidur?"
"Belum"
"A-apa kau mau tidur disini?"
Kalian bisa bilang aku ini sudah gila, tapi bagiku sedikit berbagi bukanlah sebuah kesalahan. Sementara itu, Naruto langsung terlonjak dan dalam posisi duduk menatapku seolah sedang menatap sebuah keajaiban dunia.
"Apa kau sudah gila?"
"Y-ya sudah kalau kau tidak mau"
Dasar, membuat moodku buruk saja. Bukannya mengapresiasi kebaikanku, dia malah mengataiku sudah gila. Aku bersumpah tidak akan pernah menawari seorang Uzumaki Naruto untuk tid-
"Aku mau"
Semburat merah dan nada gugup yang kukeluarkan sebelumnya, kini menjadi rona merah dan kebisuan saat kurasakan sebuah tubuh berbaring disampingku. Permukaan matras yang keras dan suasana yang canggung semakin menyulitkanku untuk menyelami alam mimpi. Untuk mengatasi masalah pertama, aku berinisatif untuk mengangkat lengan Naruto dan memposisikannya sebagai bantal. Sialnya, tindakanku itu membuat suasana diantara kami semakin canggung. Meskipun begitu, seorang Haruno Sakura lebih memilih untuk mengabaikan suasana canggung itu, lagipula bukanlah salahku jika sudah terbiasa tidur dengan bantal. Beberapa menit aku mencoba untuk tidur dengan menjadikan lengan Naruto sebagai bantal. Anehnya, diriku tetap tidak bisa terlelap. Hingga akhirnya aku sadari bahwa seorang Haruno Sakura juga terbiasa tidur dengan menggunakan guling.
FLASHBACK OFF
.
TBC
.
.
.
Author Note's : Halo kembali lagi dengan Elevtron di chapter terbaru. Untuk chapter ini mungkin tidak terlalu panjang tapi cukup berkesan bagi Elevtron sendiri. Mungkin karena NaruSaku adalah cinta pertama Elevrton di Naruto Cinematic Universe wkwkwk. Meskipun kemungkinan pair ini akan terjadi di fanfic ini cukup kecil tapi ya kita lihat saja kedepannya. Kemudian, Elevtron tidak tau apakah ini akan menjadi chapter terakhir yang Elevtron tulis (di tahun ini) atau tidak. Elevtron harap dukungan para readers dapat membuat Elevtron semangat untuk sekedar menyelam sebentar di dunia tulis menulis dan meninggalkan hiruk pikuk dunia nyata walaupun hanya sebentar. Oke itu saja, terima kasih.
Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.
Hope you enjoy it
Well see u in the next chapter
x
x
x
