Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
As you wish © Elevtron
Rating : T
Genre : Adventure, Tragedy
Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.
Pairing : Coming Soon
.
Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?
.
.
.
Chapter 23 : [Pisau]
.
Yukata menatapa sendu ke arah kaki kanannya. Jika saja sendi yang menghubungkan antara tulang paha, tulang lutut dan tulang kering masih dapat berfungsi dengan baik maka Yukata tidak akan berada di ruang kesehatan. Dirinya merasa sebagai Kohai yang hanya merepotkan para senior. Apalagi di ruang ini hanya ada Temari yang tidak terlalu ia kenal, sudah jelas suasana canggung mewarnai interaksi mereka.
"Temari-senpai, kau bisa tidur sekarang" Ucap Yukata yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Temari
Gelengan kepala menandakan bahwa Temari merasa dirinya masih sanggup untuk menjaga Kohainya tersebut hingga teman-teman mereka kembali. Meskipun, terlihat jelas gurat-gurat kelelahan dan kantung mata yang menghitam akibat stress serta kurang tidur. Temari sedikit mengerti perasaan Yukata yang begitu ingin membantu menyelesaikan Izanami. Temari masih ingat saat juniornya ini menawarkan diri untuk menjadi umpan untuk mendapatkan Shukaku. Tindakan yang mengancam nyawa tersebut dilakukan dengan baik oleh Yukata meskipun harus melukai kaki kanannya.
Tok Tok Tok
"Sepertinya mereka sudah kembali Temari-senpai"
Perkataan Yukata sejalan dengan pikiran Temari. Gadis berkuncir empat tersebut melangkahkan kaki dari kasur perawatan Yukata menuju pintu ruang kesehatan.
'Kosong' Ucap Temari dalam hati
Perasaan aneh menyelimuti dirinya, jelas-jelas tadi indera pendengarannya mendengar suara ketukan. Mencoba berpikir positif bahwa bisa saja ia salah mendengar, Temari tidak terlalu memikirkannya dan mencoba berbalik.
"Kau lengah bocah" Ucap sebuah suara di dekat tengkuknya
"Hmppph!"
Teriakan Temari tidak terlalu jelas terdengar akibat mulutnya dibekap oleh seseorang yang sepertinya laki-laki. Kesimpulan ini Temari ambil dari suara bariton yang menyapa indera pendengarannya beberapa saat lalu. Otaknya tidak bisa berpikir lebih lama akibat pukulan keras dibelakang leher yang membuat ia kehilangan kesadaran.
"Jaga gadis ini, Obito"
Alunan kalimat yang diucapkan oleh Shisui hanya dibalas anggukan oleh Obito. Semenjak fisiknya menjadi begitu rapuh, rekannya ini seenak jidat menjadikan dirinya ketua diantara mereka berdua. Meskipun begitu, Obito tidak bisa protes karena sadar akan keterbatasannya saat ini.
"Temari-senpai?"
Yukata sedikit khawatir saat menyadari terlalu lama Temari berada di luar ruang kesehatan. Merasa khawatir akan nasib Temari, Yukata mencoba memanggil namanya lebih keras.
"Temari-senpai!"
"Pelankan sedikit suaramu"
Yukata memasang ekspresi terkejut melihat seorang pria asing berjalan menuju tempat perawatannya. Yukata pernah melihat pria ini di ruang musik, saat itu pria ini bersama temannya mengaku sebagai musuh. Kondisi ini tidak baik, Yukata harus segera mencari Temari dan melarikan diri.
"A-apa maumu?" Tanya Yukata gugup
"Mauku?. Entahlah aku hanya mengikuti perintah dari Madara-sama, lagipula daripada tidak ada kerjaan lebih baik aku ikut permainan ini lagi"
Apa katanya? lagi?. Itu berarti pria ini pernah menjalankan Izanami, kondisi ini benar-benar tidak menguntungkan Yukata. Terlebih pria itu sudah berdiri di sisi kasur tempat ia berbaring, sedikit lagi telapak tangan yang terlindungi oleh sarung tangan berwarna hitam akan menyentuh wajahnya
BUGHHH
Berhasil, tendangan kaki kiri Yukata tepat mengenai daerah kehormatan milik Shisui sehingga membuat pemuda itu berguling-guling kesakitan. Situasi ini tidak Yukata sia-siakan, segera ia turun dari kasur kemudian mengambil tongkat dan berjalan dengan hanya mengandalkan kaki kiri. Yukata melompat-lompat kecil untuk segera sampai di pintu ruang kesehatan yang terbuka, terlihat disana Temari berbaring tidak sadarkan diri di permukaan tanah.
"Temari-senpai, sadarlah!" Yukata menggoyang-goyangkan tubuh Temari berharap senpainya itu segara sadar
"Shisui memang tidak berguna"
"Hmmph!"
Kejadian yang dialami Temari turu dialami oleh Yukata, hanya saja kini Obito yang menjadi pelaku mulutnya tidak bisa berteriak.
"Tendangan gadis itu kuat sekali, Sial!" Umpatan yang berasal dari dalam ruang kesehatan terdengar oleh Obito
"Jadi, apa rencanamu?" Tanya Obito sembari melirik malas kesamping
"Kita hanya perlu satu sandera" Ucap Shisui
"Jadi kita bunuh gadis berkuncir itu"
Perkataan Obito membuat Yukata semakin berontak, kedua pria itu seakan menganggap nyawa seseorang adalah barang gratis yang bisa mereka ambil seenaknya. Yukata tidak akan membiarkan rekan-rekan OSIS nya kehilangan nyawa.
"Awalnya aku ingin membawa gadis cacat ini agar tidak terlalu repot apabila berontak. Hanya saja aku berubah pikiran"
CRASSHHH
Bola mata Yukata membola saat sebilah pedang menembus jantungnya dari belakang. Obito hanya memasang ekspresi datar seakan tidak melakukan sesuatu yang salah. Tubuh Yukata kini terbaring ditanah setelah Obito mencabut katana yang menusuk jantungnya. Mata Yukata memandang sendu kearah Temari sembari menggumamkan kata maaf akibat tidak bisa melindungi senpainya itu. Yukata hanya bisa berharap bahwa sahabatnya Matsuri, Ketuanya Shion dan seluruh rekan-rekan OSIS nya dapat selamat. Pandangan yang semakin memburam dan perlahan menutup akibat kurangnya pasokan darah karena berhentinya detak jantung menjadi tanda bahwa Yukata telah meninggalkan dunia ini.
"Kau tidak suka basa-basi seperi biasa, Obito" Shisui memasang senyum miring melihat rekannya itu
"Kau yang terlalu bertele-tele. Kita harus cepat membawa gadis ini dan kau tinggalkanlah pesan kepada sekumpulan sampah itu" Perintah Obito
Shisui menyeringai tipis mendengar intruksi Obito, sekarang ia mengerti alasan dilahirkan ke dalam klan Uchiha. Meskipun tidak irit bicara seperti Uchiha yang lain namun sisi gelap dan kelam yang dimiliki oleh seorang Uchiha turut dimiliki oleh Shisui. Pria itu mengeluarkan pisau kecil yang ia sembunyikan di balik celana panjangnya, kini Uchiha Shisui mencoba untuk membuat sebuah karya seni.
"Sisa waktu kita 6 jam. Sekarang, kita akan menuju ke tempat Temari dan Yukata"
Intruksi Shion hanya dibalas anggukan pasrah oleh teman-temannya. Sebenarnya mereka semua masih mengantuk akibat kurang tidur dan kelelahan. Berterima-kasihlah kepada Naruto, setelah kalimat penggugah motivasinya ia meminta kepada Shion agar mereka diberikan istirahat beberapa menit yang ternyata menjadi beberapa jam akibat tertidur. Sisa waktu yang tidak terlalu banyak membuat mereka harus segera mengumpulkan artefak tersisa. Tanpa memperpanjang waktu, Shion segera memerintahkan anggotanya untuk bergerak cepat mencari artefak. Hanya saja setiap tempat yang mereka jelajahi sudah dijelajahi oleh lawan mereka, dengan kata lain artefak disana sudah menjadi milik tim Madara. Dalam kondisi yang bisa dikatakan tertinggal, Shion tidak terlalu khawatir sebab jika sudah begini maka mereka telah sampai kepada inti dari Izanami itu sendiri. Inti dari Izanami adalah pertarungan antara ksatria putih yakni dirinya dan ksatria hitam yakni Naruto. Konsekuensi yang menanti kedua insan itu membuat Shion kembali merenung.
"Shino, kenapa denganmu?" Tanya Gaara
"A-aku tidak apa-apa" Jawab Shino
Jawaban yang diberikan oleh Shino jelas merupakan kebohongan. Shino berulang kali mencoba menghindarkan tatapan rekan-rekannya yang hendak menelisik wajah milik pria bermarga Aburame tersebut. Akan tetapi, jaket berwarna merah darah itu tidak sanggup untuk menutupi luka dimata Shino.
"Shino matamu!" Pekik Sara saat melihat mata rekannya itu mengeluarkan darah
"Biar aku lihat" Ucap Shion, jika sudah begini Shino hanya bisa pasrah
"Shino matamu terluka oleh serpihan kaca akibat terjangan air bah di gedung olahraga waktu itu" Sambung Shion
"Itu pasti sakit setiap berkedip" Ujar Sai menimpali
"Kenapa kau tidak memberitahu kami?" Tanya Hinata
"Maafkan aku, aku hanya...aku tidak ingin ditinggalkan"
Perkataan Shino membuat teman-temannya terenyuh, kekhawatiran yang masuk akal mengingat Shino memang adalah pribadi yang sering dilupakan dan tidak dianggap. Teman-temannya tentu tidak bisa menyalahkan tipisnya hawa keberadaan dari klan Aburame. Darah yang terus mengucur membuat Shion memerintahkan Shino untuk terus menutup matanya. Hal ini dikarenakan setiap berkedip maka serpihan kaca itu akan terdorong sehingga memperdalam luka. Konsekuensinya Shino harus dibimbing untuk berjalan dan Hinata secara sukarela menawarkan diri.
"Maafkan aku merepotkanmu Hinata" Kata Shino
"Tidak apa-apa Shino-kun. Ini sama sekali tidak merepotkanku" Hinata menepuk bahu Shino sembari memberikan senyum lembut yang tidak lagi bisa dilihat oleh Shino
"Baiklah kita sudah dek-" Ucapan Sasuke terpotong
"A-apa itu?" Tanya Karin sembari menunjuk ke arah tanah
Simbol tanda panah yang terdapat sedikit bercak darah tercetak di permukaan tanah yang terlapisi dengan susunan batu yang membentuk suatu jalan setapak. Tidak hanya satu melainkan banyak tanda panah yang seakan menjadi petunjuk rute ke suatu tempat. Sasuke yang menyadari tujuan rute itu segera bertindak dengan memberikan intruksi kepada teman-temannya untuk mempercepat langkah menuju tujuan. Beberapa menit Sasuke habiskan dengan perasaan was-was hingga langkah kakinya terhenti saat melihat sesuatu yang tidak pernah ia ingin lihat.
"KYAAAA"
Teriakan Karin dan pingsannya Matsuri bukanlah suatu hal yang menganggu dibandingkan kejadian yang terpampang didepan mata para anggota OSIS. Salah satu rekan mereka yakni Yukata telah meninggal dengan cara yang mengenaskan. Kepala tanpa bola mata dan tubuh terdapat di pintu ruangan. Beberapa organ tubuh dan tulang-tulang ditempelkan pada dinding luar dari ruang kesehatan sehingga membentuk sebuah simbol. Simbol dari salah satu klan diantara mereka. Kombinasi dari warna merah dari darah dan organ dalam serta putih dari tulang yang dirangkai sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah kipas khas jepang. Simbol yang dimaksud adalah simbol klan Uchiha.
Mata Shikamaru menatap nanar kearah pesan yang ditulis dari darah tepat diatas simbol klan Sasuke.
Jika ingin teman kuncir empatmu selamat, serahkan seluruh artefak kalian sebelum waktu permainan habis. Kami tunggu di tempat kalian datang pertama kali.
P.S : Tidak ada alat untuk menguburkan temanmu jadi kami buat pemakaman versi kami sendiri HAHAHAHA
"Ya Tuhan"
Shion menatap teman-temannya, Shino yang tidak bisa melihat mengetahui kejadian dari Neji. Gaara yang mencoba menyadarkan Matsuri dari pingsannya. Para laki-laki yang lain hanya duduk diam sembari mengepalkan kedua tangan mereka. Para wanita kecuali dirinya hanya pingsan dan menangis. Gadis berambut pirang pucat itu sudah jatuh terduduk dengan pandangan kosong. Kedua tangannya memegang kepala sebagai tanda bahwa kini Shion benar-benar depresi. Sudah terlalu banyak...terlalu banyak orang yang mati.
Rasa percaya yang ia miliki untuk dapat memenangkan Izanami telah hancur berkeping-keping. Dalam kondisi ini Shion tidak punya pilihan lain selain melaksanakan suatu rencana yang sebenarnya menjadi opsi terakhirnya. Shion berusaha menguatkan tekad dan meyakinkan diri bahwa nyawa banyak orang lebih berarti dari satu nyawa.
"Naruto, bunuhlah aku"
Perkataan Shion membuat Naruto menatap aneh kearah gadis itu. Naruto berpikir mungkin saja Shion sangat tertekan hingga bicara melantur seperti orang mabuk. Hendak membuka suara namun didahului oleh Shion yang melanjutkan perkataannya.
"Jika tidak, Maka kau yang akan kubunuh"
Bersamaan dengan itu Shion mengambil sebuah pisau kecil yang tergeletak begitu saja didepan ruang kesehatan. Sepertinya pisau inilah yang digunakan untuk memutilasi Yukata. Sorot pandangnya menjadi dingin dan dalam sekejap ia telah berlari kearah sahabat pirangnya.
'Maafkan aku, Papa' Ucap Shion didalam hati sembari menutup mata
CRASSHH
.
TBC
.
.
.
Author Note's : Pertama-tama Elevtron akan meminta maaf apabila ada yang tidak nyaman dengan adegan disturbing seperti di atas. Lalu, Elevtron mengucapkan terima kasih kepada readers yang menjadi motivasi Elevtron untuk bisa menulis satu chapter kembali sebelum tahun ini berakhir. Oke itu saja, take care.
Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.
Hope you enjoy it
Well see u in the next chapter
x
x
x
