Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

As you wish © Elevtron

Rating : T

Genre : Adventure, Tragedy

Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.

Pairing : Coming Soon

.

Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?

.

.

.

Chapter 24 : [Mata Riak Air]

.

Aroma khas rerumputan seketika menerjang indera penciuman Temari sesaat setelah ia sadar. Ingin dirinya langsung berdiri namun terhalang akibat kedua tangannya yang di ikat dibelakang tubuh. Matanya melirik sekeliling untuk memastikan dimana dirinya berada. Kedua pria misterius yang menyerangnya sebelum pingsan cukup berani meninggalkannya sendirian di Konoha Gakuen dalam posisi duduk terikat. Setidaknya itulah yang dipikirkan olehnya

"Kau sudah bangun pirang" Ucap Obito yang berada dibelakang tubuh Temari

"A-apa yang kau inginkan?" Tanya Temari tanpa membalikkan tubuhnya

"Percayalah kau tidak ingin mengetahuinya"

Seringai kejam milik Obito menandakan bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk kepada Temari dan teman-temannya.

Shion tidak bisa membuka matanya saat merasakan aliran darah membahasi sela-sela jari tangan putih miliknya. Dirinya sebisa mungkin menahan tangis dan mencoba menerima guratan takdir yang telah dituliskan untuknya

"Apa yang kau pikirkan?"

Suara yang terkesan dingin menyapa indera pendengaran Shion. Gadis berambut pirang itu sedikit merasakan kejanggalan dan perlahan memberanikan diri membuka kelopak matanya

"Sa-sasuke?" Nada ambigu Shion utarakan saat melihat lengan Sasuke yang mengeluarkan darah akibat ditikam olehnya

"Jawab pertanyaanku. Sebenarnya apa yang kau pikirkan?"

Kebisuan Shion yang menjawab tanda tanya di kepala Sasuke mengakibatkan ketidakpuasan di hati Uchiha tersebut. Matanya terkatup rapat menahan sakit saat mencabut dengan paksa pisau yang tertancap di lengannya. Perasaan Sasuke sama seperti Shion, mereka berdua sudah muak akan ritual terkutuk milik klan Uchiha. Hanya saja Sasuke memiliki cara sendiri yang berbanding terbalik dengan pilihan yang diambil Shion.

"Shion, apa kau sudah lupa akan alasan kita memulai permainan ini?"

Kembali pertanyaan diutarakan oleh Sasuke, hanya saja kini pandangan Shion menunduk tidak berani menatap onyx hitam kelam lawan bicaranya.

"Maafkan aku Shion, tapi kali ini aku tidak bisa berbohong lebih lama" Ucap Sasuke

"Apa maksudmu Sasuke-kun?" Tanya Sakura yang sedari tadi mendengar percakapan diantara dua sahabatnya itu

"Shion berbohong kepada kalian. Alasan sebenarnya kami melakukan ritual ini karena kematian Naruto"

Kalimat yang diutarakan bagai efek kejut yang menjawab pertanyaan Sakura sekaligus mengagetkan seluruh rekan-rekannya. Terlebih alasan yang diutarakan Sasuke sedikit...

"Alasan konyol macam apa itu Teme, aku ini masih hidup tau!" Bentak Naruto

"Yang dikatakan Naruto benar, sebenarnya apa yang kalian bicarakan?" Tanya Sakura

"Shion meramalkan kematian Naruto. Oleh kare-" Perkataan Sasuke terpotong

"Ramalan katamu? Omong kosong macam apa ini Sasuke!" Sara tidak bisa menahan emosi yang telah meletup-letup didalam dirinya

"Kau tidak mengerti ramalan Shion selalu terbukti akurat" Pemuda Uchiha itu kini sedang berusaha menghentikan pendarahan dilengannya, Sakura yang melihatnya mencoba membantu

"Tetap saja itu hanya ramalan. Konyol adalah kata yang tepat bagi orang yang percaya ramalan tidak berdasar seperti itu dan kau tau apa lagi adik Itachi? Kejadian yang menimpa kita ini bukan ramalan. Kematian teman-teman kita semuanya nyata, harusnya hal itu yang kau pikirkan Brengsek!"

Lee menahan gerakan Sara yang terus meraung dan meronta ingin menerjang Sasuke. Shock yang menimpa dirinya sangat berat. Tekanan yang terus melanda telah melampaui batas yang bisa ia tolerir. Shion makin menatap sedih ke arah langit. Neji lebih memilih diam, Shikamaru masih mengalami mental break, Luka yang dialami Shino semakin parah serta teman-temannya yang lain dalam kondisi sama buruknya. Harapan untuk menang sudah benar-benar tidak ada lagi, yang mereka inginkan ritual ini segera berakhir. Penderitaan yang menimpa membuat mereka lebih memilih mati. Tentunya sebelum teman-temannya bunuh diri, Shion akan mencoba untuk memperbaiki keadaan meskipun nantinya usaha itu tidak membuahkan hasil.

"Itu bukan ramalan Sara" Ucapan Shion sedikit mengalihkan atensi teman-temannya, dirinya sedikit bersyukur tidak membutuhkan usaha ekstra untuk melakukannya

"Sasuke tidak mengingatnya karena saat lolos dari Izanagi beberapa keping ingatannya berhasil dihapus oleh Madara. Begitupun dengan kalian yang tidak mengingat apapun saat aku dan Sasuke memulai permainan. Namun, aku mengingat semua hal yang terjadi di masa lalu hingga saat ini" Sambung Shion

"Lanjutkan Shion" Ucap Naruto yang telah mengetahui kisah ini akibat cerita Madara

"Aku tidak mencuri uang saat pergelaran seni untuk keuntunganku sendiri. Aku melakukannya agar pergelaran seni yang kita adakan tidak menjadi acara yang membuat Naruto-kun merenggang nyawa. Setiap malam aku bermimpi akan Naruto-kun yang mati saat tanggal diadakannya pergelaran seni karena berbagai sebab. Sampai suatu ketika Naruto mengalami kecelakaan"

"Ke-kecelakaan?" Beo Hinata yang hanya dibalas ekspresi Shion yang memandangnya lirih

"Kecelakaan itu hampir membunuhnya, hidupnya saat itu bertahan akibat alat penopang kehidupan dari rumah sakit. Namun, biaya rumah sakit tidak bisa ditebus oleh Naruto sehingga alat penopang itu hendak dicabut dari tubuhnya. A-aku..." Air mata telah mengaliri pipi putih milik Shion akibat mengingat kembali kenangan pahit di masa lalu

"Lalu kau memaksa Sasuke untuk memberitahukan perihal Izanagi dan kalian melakukan ritual itu"

Suara Naruto yang menuntaskan penjelasan Shion. Pemuda berambut jabrik pirang itu melangkah perlahan sembari memungut pisau kecil yang sebelumnya hendak digunakan Shion untuk membunuhnya. Senyum getir ia tunjukkan sembari melihat ke arah teman-temannya

"Jangan menyalahkan Shion dan Sasuke. Akulah penyebab semua ini, usaha untuk menyelamatkan satu nyawa yang mengorbankan banyak nyawa. Hal itulah yang saat ini terjadi, andai saja ucapan Madara benar saat ia mengatakan semua akan kembali seperti semula aku akan sangat bersyukur. Tapi jika hal itu tidak terjadi maka untuk menuntaskan kesedihan dan kemarahan kalian, bunuhlah aku sekarang" Ucap Naruto seraya melemparkan kembali pisau pungutannya ke tanah

Di luar dugaan beberapa teman-temannya hendak menghampiri Naruto dan pisau yang terjatuh tidak jauh dari dirinya. Persahabatan adalah kata palsu yang tidak lagi tercetak di pikiran dan hati mereka.

"Kalian semua hentikan!"

Kalimat sarat emosi itu membuat seluruh anggota OSIS yang tersisa terkejut dan mematung tak bergerak. Terlebih pelaku yakni Matsuri adalah gadis yang sopan dan tidak pernah mengeluarkan kalimat kasar. Akan tetapi, situasi ini adalah pengecualian

"Yukata tidak akan bahagia melihat kita seperti ini"

Gaara memandang sendu kearah Kohainya itu, sedari tadi mata tanpa alis miliknya hanya memperhatikan Matsuri yang memandang kosong kearah jasad teman terbaiknya yang tidak utuh. Kalimat-kalimat yang saat ini diucapkan oleh Matsuri seakan adalah wujud dari perasaan miliknya yang telah terkoyak dan hancur lebur.

"Jika kalian tidak buta lihatlah pesan di dinding itu. Apabila kita tetap seperti ini, satu lagi nyawa rekan kita akan melayang begitu saja"

Tuntas sudah usaha Matsuri untuk mengeluarkan isi hati miliknya. Setelah ini apapun yang terjadi diantara para senpainya, dirinya sudah tidak peduli lagi. Paling tidak di saat-saat terakhir ia masih berusaha tidak meninggalkan penyesalan semasa hidup.

"Demi Temari, aku akan berusaha satu kali lagi" Suara Shikamaru membunuh keheningan disana

"Begitu juga denganku" Persetujuan akan ucapan Shikamaru diutarakan oleh Gaara sembari memberikan senyum ke arah Matsuri yang seakan mengatakan 'Aku bangga padamu'

"Jangan pergi, kalian semua akan mati"

Ucapan Shion sedikit banyak mendapat anggukan imajiner dari beberapa orang disana. Sementara Sasuke telah melangkah perlahan menuju posisi paling depan dibanding teman-temannya. Sasuke berpikir mungkin nanti ia harus berterima kasih kepada Sakura yang telah membantu menghentikan pendarahannya

"Jika ada yang terbunuh maka itu pasti pelaku yang telah membunuh Yukata" Ujar Sasuke

"Yang dimaksud Shion adalah kita Sasu-" Ucapan Sai terpotong

"Maka akulah yang akan mati!"

Perhatian sepenuhnya anggota OSIS tujukan kepada bungsu Uchiha. Keyakinan akan fungsi telinga yang masih bisa mendengar sangat besar. Sasuke sendiri hanya cuek tanpa mempedulikan berbagai macam persepsi yang kini teman-temannya pancarkan melalui tatapan penuh arti

"Ketiga orang itu telah mempermainkanku, tidak akan kubiarkan mereka mencoreng nama klan Uchiha lebih dari ini"

Langkah kaki Sasuke arahkan menuju tempat sesuai petunjuk yang tertulis di pintu ruang kesehatan. Secara tidak langsung ucapan Sasuke ikut menjadi magnet bagi rekan-rekannya untuk mengikuti langkah kakinya. Kini mereka semua akan berjuang satu kali lagi menuju tempat dimana semuanya dimulai

"Tampaknya garis keturunan tidak memihak kepadamu Madara" Ujar Kaguya dengan nada remeh

"Aku tidak peduli, lagipula apapun yang mereka lakukan tidak akan merubah apapun" Kata Madara dengan ekspresi santai

"Mengapa kau begitu yakin?"

Seringai tipis Madara tunjukkan ke arah lawan bicara disampingnya. Matanya sedikit melirik ke arah Kaguya mengundang keterkejutan dari sang wanita Otsutsuki. Keterkejutan saat melihat iris hitam legam penuh kebencian milik Madara telah berubah menjadi pola riak air berwarna ungu.

"Bagaimana bisa?" Pertanyaan kembali keluar dari mulut Kaguya

"Oleh-oleh dari tahap Izanagi, kau suka Kaguya-chan?" Madara membalas nada remeh Kaguya sebelumnya lengkap dengan unsur sarkastik di perkataannya

"Sialan kau!"

Kalimat umpatan meluncur begitu saja dari mulut Kaguya. Seringai tipis masih menghiasi mimik wajah Madara, ekspresi itu sangat janggal terutama di mata Kaguya. Seketika perempuan bersurai putih keperakan itu membelalakkan mata terkejut

"Kau jangan-jangan..."

"Yah sesuai dugaanmu, mereka berdua juga memilikinya meskipun agak berbeda dan lebih lemah dari milikku"

Kaguya tidak bisa menutupi keterkejutannya. Hal ini berbahaya bagi Shion dan teman-temannya. Tidak pernah terlintas di pikirannya jika Madara bisa memasukkan elemen Izanagi ke dalam tahap ini. Sedikit celah akibat kecolongan Kaguya saat mereka melakukan segel jari untuk membuka Izanami berhasil dimanfaatkan oleh Madara. Jika sudah seperti ini Kaguya harus mengambil tindakan

"Ingat Kaguya, jika kau ikut campur ke permainan maka tujuanku untuk membuka tahap Mugen Tsukoyomi akan tercapai"

"Madara sialan!"

Tawa psikopat andalan Madara kembali terdengar di gendang telinga milik perempuan Otsutsuki. Dirinya benci mengakui, namun perkataan Madara terbukti tepat mematahkan niatnya untuk membantu Shion dan teman-temannya. Kini dirinya hanya bisa berharap bahwa Shion mampu untuk menyelamatkan dunia dengan menuntaskan tahap Izanami meskipun dalam prosesnya harus terjadi pertumpahan darah

.

TBC

.

.

.

Author Note's : Halo, bertemu lagi di chapter pertama setelah tahun baru. Bisa dibilang ini adalah sebuah chapter dimana Elevtron memutuskan memasukkan unsur canon di dalamnya. Kemudian, untuk chapter-chapter setelah ini kemungkinan besar akan lebih berfokus kepada sisi adventure dan sedikit action. So nantikan saja chapter selanjutnya dan tetap berikan support kalian di kolom review.

Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.

Hope you enjoy it

Well see u in the next chapter

x

x

x