Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
As you wish © Elevtron
Rating : T
Genre : Adventure, Tragedy
Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.
Pairing : Coming Soon
.
Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?
.
.
.
Chapter 25 : [Terdesak]
.
Halaman sekolah Konoha Gakuen merupakan tempat yang sangat luas jika ingin dikatakan sebagai halaman. Tanah yang ditumbuhi rerumputan jepang menimbulkan kesan asri pada tempat ini. Sayangnya hal itu tercoreng saat beberapa orang menginjakkan kaki dengan kasar dan tidak hati-hati seakan sedang dikejar oleh sesuatu. Untungnya kerusakan itu tidak bertambah parah saat suara langkah kaki yang terdengar berhenti.
"Akhirnya kalian datang juga"
"Lepaskan Temari, kakek tua" Ujar Naruto dengan kurang ajarnya menunjuk ke arah wajah lawan bicaranya
"Dasar kuning bodoh, dia itu Obito" Shisui terkekeh melihat wajah masam Obito dan wajah konyol Naruto muncul di saat bersamaan
Anggota OSIS yang lain lebih memilih bersikap siaga mengantisipasi gerakan mencurigakan dari musuh di depan mereka. Mengingat hal yang terjadi pada Yukata, bisa dipastikan kini kondisi mereka dalam bahaya
"Uchiha Shisui dan Uchiha Obito bisa kalian lepaskan teman kami?" Pertanyaan yang lebih seperti tawaran diajukan oleh Sasuke
"Kita buat sebuah kesepakatan" Perkataan Obito memancing mulut Sasuke untuk memastikan kata yang didengarnya
"Kesepakatan?"
"Berikan biju yang telah kalian dapatkan kepada kami. Setelah itu, akan kami kembalikan teman kalian"
"Jangan bercanda!"
Opsi yang diajukan Obito memantik emosi Shion. Tawaran yang dianggapnya tidak masuk akal, hal ini karena dirinya sangat mengetahui bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk saat seluruh biju berhasil dikumpulkan oleh pihak musuh.
"Hal itu terserah kepada kalian" Ucap Shisui santai seraya mengayunkan katana yang sebelumnya digunakan Obito untuk membunuh Yukata ke leher Temari, omong-omong katana ini didapatkannya dari dojo milik Konoha Gakuen.
"Kami akan melakukannya"
Tepat setelah kalimat tersebut diucapkan katana yang diayunkan Shisui terhenti di udara. Meskipun masih sanggup menggores sedikit kulit leher Temari yang entah kenapa hanya diam sembari menundukkan kepala. Sementara itu, anggota OSIS menatap tidak percaya ke arah Shikamaru. Pria berambut model nanas itu hendak menyerahkan Shukaku digenggamannya sebelum
"Shikamaru, apa kau gila? Demi artefak ini, Ino sampai-" Ucap Sakura terpotong
"Apa maksudmu ingin membiarkan Temari terbunuh Sakura?"
Pandangan menusuk Shikamaru tidak membuat gadis bersurai merah muda itu gentar. Justru sebaliknya, gestur yang ditunjukkan Sakura seakan menantang Shikamaru. Tatapan yang gadis itu tunjukkan seakan mengatakan bahwa dirinya tidak akan membiarkan artefak berbentuk boneka rakun itu diserahkan kepada musuh
"Kalau begitu kita lakukan pemungutan suara" Saran Neji yang sedari tadi tidak bersuara semenjak kejadian yang menewaskan Ino
Melihat tidak ada yang mengajukan protes membuat pria Hyuga secara tidak langsung menjadi moderator pemungutan suara tersebut.
"Yang setuju untuk menukar biju ini dengan Temari silahkan angkat tangan"
Shikamaru, Gaara, Matsuri, Naruto, Hinata, Sasuke, Lee dan Neji sudah cukup untuk menyatakan suara anggota OSIS sudah mutlak untuk melakukan barter. Tentunya hal ini hanya diketahui oleh Neji karena seluruh rekan-rekannya menutup mata. Menghela nafas sejenak, Neji memberi isyarat kepada Sasuke untuk menemaninya menyerahkan seluruh artefak yang mereka miliki kepada Obito dan Shisui
"Sekarang serahkan teman kami" Ujar Sasuke
"Tenang saja Sasuke, aku adalah orang yang menepati janji tidak seperti kakakmu" Perkataan Shisui membuat Sasuke memicingkan matanya
"Apa maksudmu?!" Kerah baju Shisui segera ditarik oleh Sasuke namun Shisui tetap memasang ekspresi innocent andalannya
"Haha, bukan apa-apa" Shisui menggenggam perlahan pergelangan tangan Sasuke sebagai isyarat halus untuk melepaskan cengkraman pada kerah bajunya
"Sasuke lepaskan dia, kita sudah mendapatkan Temari"
Neji sedikit melirik ekspresi sarat emosi dari temannya itu, dirinya sedikit merutuki kelakuan semena-mena dari kakek-kakek tua bangka yang hanya memasang ekspresi angkuh. Tidak mungkin dirinya yang sudah menelan mentah ajaran tata krama klan Hyuga tega menyuruh kakek tua untuk mengangkat bobot tubuh Temari yang lumayan berat. Akhirnya dirinya berinisiatif untuk membawa sendiri tubuh Temari.
Sasuke sendiri mendecih kesal dan melepaskan dengan kasar cengkramannya pada Shisui, dirinya hendak berbalik dan menyusul Neji menuju teman-temannya sebelum kalimat yang dikeluarkan Shisui menghentikan langkahnya
"Kalau kau ingin mengetahui siapa Itachi yang sebenarnya, kau bisa memintaku untuk menceritakannya"
"Hei Shisui" Obito terlihat menegur pemuda berambut ikal yang menjadi rekannya itu
"Kau bisa pergi sendiri kan Obito? Maafkan aku melibatkan perasaan. Akan tetapi, saat melihat adiknya secara langsung aku tidak bisa menahan diri"
Senyum kecut Shisui berikan kepada rekan berubannya. Hal ini berbanding terbalik dengan genggaman erat pada gagang katana di tangannya. Melihat reaksi Sasuke yang sejalan dengan keinginan Shisui membuat Obito tidak mau melibatkan diri dan memilih mengikuti keinginan rekannya itu. Kaki tuanya kini melangkah untuk mencari artefak terakhir yang belum mereka dapatkan.
"Jadi apa yang ingin kau katakan?" Iris hitam Sasuke memandang malas ke arah lawan bicaranya
"Sebelum itu, aku sarankan kau urus dulu temanmu itu dulu adik Itachi"
Sasuke memandang horror ke arah bola mata Shisui yang telah berubah warna menjadi merah dengan tiga titik sebagai penghias. Sempat terdengar pria itu menggumamkan sesuatu bernama kotoamatsukami tepat sebelum suara histeris mengagetkannya dari arah belakang.
"Temari, apa yang kau lakukan?!" Teriak Shikamaru
"Mati kalian!"
Hinata tidak kuasa menahan genangan air mata saat kakak tersayangnya jatuh bersimbah darah setelah menerima tusukan dari Temari. Posisi kakaknya yang memapah tubuh Temari yang seolah tidak berdaya sangat sempurna menjadi sasaran empuk. Tepatnya saat tangan Temari yang bebas mengambil pisau kecil dibalik sakunya dan mengarahkan ke perut bagian samping dari anggota klan Hyuga cabang itu.
"Hi-hinata-sama..." Ucap Neji lirih
"Ja-jangan banyak bergerak Neji-nii aku akan mencoba menghentikan pendarahannya"
Neji tidak bergeming saat Hinata merobek bagian lengan kemeja panjangnya dengan tujuan menutup bagian luka. Meskipun secara medis hal ini akan menimbulkan infeksi tetapi darah yang terus mengucur akibat tikaman pisau harus segera dihentikan dengan berbagai cara. Neji menahan untuk tidak mengumpat saat rasa teramat nyeri menghantam tubuhnya selagi Hinata mencoba menghentikan pendarahan.
"Apa yang terjadi Hinata-sama?"
Hinata hanya menggelengkan kepala merespon pertanyaan dari kakak sepupunya itu. Mata amethystnya melirik sebentar ke posisi Temari yang kini terus berteriak kesetanan menghadapi kuncian empat teman laki-lakinya. Dengan posisi tubuh terhimpit di tanah, gadis berambut kuncir empat itu masih bisa merepotkan keempat laki-laki disana. Pisau yang digunakan untuk menikam Neji sendiri telah terlepas dan tergeletak tanpa arti di permukaan tanah.
"Arghhh lepaskan aku brengsek!"
"Ughh, sial"
Lee kembali mencoba menahan kaki sebelah kiri Temari untuk tidak bergerak. Tidak terhitung berapa kali telapak sepatu wanita itu menghantam wajahnya. Hal yang dirasakan oleh Lee turut dirasakan pula oleh Sai, Gaara, dan Naruto. Terkhusus lelaki pirang itu, jika saja tendangannya tidak tepat mengenai pergelangan tangan Temari dan mengakibatkan pisau digenggaman gadis itu terlepas, maka bisa dipastikan tidak akan ada yang berani mendekati gadis yang seakan sedang mengamuk ini.
Sasuke mengacak rambutnya frustasi, ingin rasanya dia menghajar pria yang bermarga sama dengannya. Akan tetapi, Sasuke tidak kehilangan akal sehat untuk melawan pria bersenjata. Pikirannya lebih condong memerintahkan untuk menghampiri teman-temannya yang sedang dilanda situasi mencekam.
"Sekarang kau sudah tenang?" Pertanyaan Sai kepada gadis yang tidak lagi meronta dibawah kunciannya
"Kalian semua menyedihkan" Ucap Temari
"Huh?" Naruto mengernyitkan dahi tanda tak mengerti
"Kalian berniat mengorbankan nyawaku untuk artefak itu. Kalian masih menyebut diri kalian teman?"
Pertanyaan bernada menyindir tersebut entah kenapa membuat Sakura sedikit merasa terpojokkan. Hal ini dikarenakan argumennya saat anggota OSIS berdebat terkait syarat untuk membebaskan Temari.
"Bahkan kalian meninggalkan aku dan Yukata hanya berdua. Demi artefak bodoh itu, demi keinginan kalian untuk segera bebas. Aku dan Yukata ditinggalkan begitu saja tanpa penjagaan siapapun. Jika bukan karena keinginan egois kalian Yukata tidak akan mati"
Kata-kata yang meluncur dari Temari kini ikut mengusik Shion, mengingat dirinyalah yang meminta Temari untuk menjaga Yukata. Meskipun, Shion sedikit merasa janggal karena Temari sendirilah yang mengajukan diri pada saat itu.
"Lalu kenapa?" Tanya Shikamaru dengan tatapan jengkel
"Apa maksud pertanyaanmu itu tukang tidur?" Temari justru membalas dengan pertanyaan
"Yang terpenting kau itu masih hidup, tidak usah membuat seolah-olah semua kesalahan ada pada kami" Nada ketus diberikan oleh Shikamaru
"Kau-"
"Harusnya kau bersyukur dan mawas diri. Kematian teman-teman kita harusnya membuatmu berfikir untuk menjada nyawa teman-temanmu yang tersisa. Kenapa kau malah ingin menyakiti temanmu sendiri, Temari!?"
Lepas sudah luapan emosi Shikamaru, sungguh sangat tidak bijak bagi Shikamaru melampiaskan kekesalannya kepada orang lain. Namun, beban yang membuatnya mengalami mental break sudah ingin membuat Shikamaru gila. Lebih baik dilepaskan tanpa peduli kata orang, itulah yang kini dipikirkan oleh Shikamaru.
Sementara itu, Temari sedikit terhenyak akan perkataan Shikamaru. Kepalanya yang sedari tadi seakan ditimpa beban berat dan rantai yang seakan mengikat tubuhnya mendadak lepas begitu saja. Matanya begitu berat akibat lelah yang mendera.
"Aku benci kalian..." Ujar Temari kepada semua orang
"...maafkan aku"
Sayang untaian kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Temari tidak bisa didengar oleh teman-temannya karena terlebih dahulu pingsan.
"Wow, tidak kusangka gadis itu bisa lepas dari genjutsu kotoamatsukami milikku" Shisui kini berjalan santai ke arah Sasuke dan teman-temannya. Pola matanya kini telah berubah menjadi Shuriken bermata empat.
"Jangan mendekat!" Bentak Sasuke membuat Shisui menghentikan langkah kakinya
"Baiklah, kalau begitu Sasuke. Aku akan bercerita dari sini saja"
Shisui terkekeh saat menyelesaikan kalimat yang diucapkannya, dalam hati ia berfikir untuk mengatur volume suara agar ucapannya dapat didengar oleh anggota OSIS yang kini berjarak cukup jauh darinya.
"Maaf, tapi waktu kami tidak banyak"
Shion hendak memberi isyarat kepada teman-temannya sebelum kobaran api hitam kini mengelilingi anggota OSIS kecuali Sasuke yang masih berdiri cukup jauh dari teman-temannya. Hal ini membuat jalan untuk mereka menjadi terblokir akibat kobaran api itu. Sasuke segera berlari menghampiri teman-temannya tanpa menyadari Shisui kini telah memperpendek jarak dengan langkah kakinya.
"Maaf, aku tidak bisa membiarkan kalian lewat"
Nada sarkastik Shisui keluarkan untuk membalas perkataan Shion. Melihat ekpresi takut di wajah para anggota OSIS, Shisui tak kuasa untuk menahan senyum. Dalam kondisi mood yang begitu baik bagi dirinya, Shisui mencoba untuk mengulur waktu dengan bercerita. Lagipula dia sudah terlanjur menawarkan diri kepada Sasuke.
"Hm...darimana aku memulai. Baiklah aku akan mulai dengan fakta bahwa Itachi dan aku pernah menjalankan Izanagi bersama-sama"
"Apa maksudmu?" Tanya Sara
"Seperti yang kubilang, Aku dan Itachi pernah melakukan ritual Izanagi. Dengan kata lain kami memiliki hubungan yang cukup dekat waktu itu"
Shisui menangkap ekspresi tertarik diantara anggota OSIS. Beberapa dari mereka mulai memberikan tatapan yang tidak Shisui terlalu mengerti maksudnya. Shisui kini berdiri berhadapan dengan Sasuke dan tepat dibelakang bungsu Uchiha itu kobaran api hitam sebatas leher mengurung para anggota OSIS.
"Aku sudah menyimpan pertanyaan ini sejak memasuki gedung sekolah. Namun, akibat keadaan Sasuke-kun pertanyaan itu tidak bisa kuutarakan. Sebenarnya apa ritual Izanagi ini?" Sakura memandang penasaran kearah Uchiha dengan pembawaan yang sangat tidak Uchiha itu
"Sejujurnya aku tidak mengetahui seluruh misteri dari ritual ini, tapi akan coba kujelaskan. Seperti yang kalian telah ketahui bahwa klan Uchiha adalah sedikit dari klan tertua di Jepang yang masih tersisa. Sebagai sebuah klan yang cukup tua, Uchiha memiliki berbagai macam tradisi rumit dan ritual sakral. Kebanyakan dari ritual itu ialah ritual terlarang termasuk Izanagi. Sebagai sebuah ritual terlarang, hanya golongan bangsawan yang mengetahui tentang eksitensi ritual ini. Khusus untuk tata caranya hanya diketahui oleh pimpinan klan dan diwariskan secara turun-temurun. Selebihnya golongan elit bangsawan hanya mengetahui ritual Izanagi dilakukan untuk mengubah suatu takdir sesuai keinginan" Jelas Shisui
"Jadi disetiap generasinya, Uchiha selalu melakukan ritual ini dan merubah takdir" Shikamaru mencoba menyimpulkan perkataan Shisui, efek dari ritual ini sangat besar dan bukan tidak mungkin saat dipegang oleh tangan yang salah dapat menjadi berbahaya
"Sayangnya, ritual ini selalu memakan korban penggunanya. Dengan kata lain, seorang pimpinan klan akan mati sesaat setelah melakukan ritual. Hal ini membuat ritual ini enggan dilakukan oleh pimpinan klan sehingga hampir tidak pernah digunakan. Siklus itu terus terjadi hingga salah satu pimpinan klan memutuskan melakukan Izanagi dengan tujuan merubah sistem yang ada pada ritual itu sendiri"
"Merubah sistem?" Nada seperti pertanyaan dari Karin dibalas anggukan oleh Shisui
"Izanagi yang dulunya akan langsung membunuh seluruh pihak yang terlibat, kini bisa mentolerir satu orang selamat dengan syarat ingatannya dihapus. Oleh karena itu, setelah dirinya tidak ada lagi pimpinan klan yang mengetahui tentang Izanagi. Apa kalian bisa menebak siapa pimpinan klan yang kumaksud?"
"Madara" Ucap Shion menjawab pertanyaan Shisui
"Tepat sekali, sebagai gantinya Madara-sama mengorbankan diri terjebak didalam ritual agar adiknya Uchiha Izuna bisa selamat meskipun ingatannya dihapus. Hanya saja Madara-sama melupakan fakta bahwa leluhur Uchiha sebelum dirinya mempelajari Izanagi dari sebuah prasasti kuno. Prasasti itu masih tetap ada di salah satu wilayah kekuasaan klan Uchiha dan menjadi petunjuk bagi Itachi mempelajari ritual itu ratusan tahun sejak kekuasaan Madara-sama. Akan tetapi, prasasti itu tidak menjelaskan misteri tentang tahap Izanami dan bagaimana tahap itu bisa ada sehingga hal ini masih menjadi misteri yang belum kuketahui"
Sasuke sedikit merasa kurang puas akan penjelasan Shisui. Pertanyaan utama yang muncul dikepalanya masih belum terjawab sehingga ia memberanikan diri untuk berbicara
"Lalu, bagaimana antara kau dan Itachi?"
"Astaga, aku sampai lupa khekhekhe" Tawa kecil yang cukup aneh keluar dari mulut Shisui. Mencoba menahan sakit diperutnya akibat menahan tawa, pria berambut ikal itu kembali memulai penjelasannya
"Aku dan Itachi melakukan ritual Izanagi untuk mengubah takdir tentang kepunahan klan Uchiha"
"Klan Uchiha punah?, jangan bercanda!" Bentak Sasuke tidak terima akan penjelasan Shisui
"Saat itu kau bahkan belum ada Sasuke. Dahulu, Itachi pernah terlibat sebuah insiden penculikan. Para penculik meminta kepada Fugaku-sama untuk menyerahkan suatu uang tebusan. Namun, saat uang tebusan diberikan justru mayat Itachi yang diantarkan ke rumah. Hal ini membuat Mikoto-sama yang sedang mengandung menjadi depresi hingga terpaksa melahirkan prematur. Proses kelahiran itu merenggut nyawanya dan bayinya. Fugaku-sama menjadi depresi setelahnya, jabatannya sebagai kepala kepolisian membuatnya mengerahkan seluruh personil untuk menyelidiki kasusmu sehingga menyebabkan kasus lain terbengkalai dan menimbulkan kerusuhan dimana-mana. Keadaan itu terus terjadi hingga sampai di suatu titik Fugaku-sama memutuskan untuk bunuh diri. Apa kau tahu yang terjadi selanjutnya Sasuke?"
Shisui memasang ekspresi sendu saat mengingat kejadian yang cukup mengerikan itu. Sasuke yang sedang menyimak penjelasan Shisui hanya menggelengkan kepalanya.
"Itachi kembali kerumah"
"Tunggu dulu, bukankah tadi kau bilang Itachi-nii telah menjadi mayat?" Tanya Naruto dengan ekspresi menandakan kebingungan yang kentara
"Mayat yang dikirimkan kerumah bukanlah mayat Itachi. Pihak klan terlalu shock untuk melakukan proses otopsi dan justru mencoba menyembunyikan kejadian mengerikan itu dari publik. Di sisi lain penculik menjadi panik saat Itachi berhasil melarikan diri sehingga melakukan pertukaran palsu antara uang dan mayat orang lain. Dari cerita Itachi aku mengetahui bahwa ia disekap di dalam gubuk tua dalam hutan. Selama beberapa bulan ia mencoba keluar dari hutan. Sejujurnya ia berusaha keluar secepat mungkin namun hal itu tidaklah mudah. Lagipula saat Itachi kembali pun semuanya sudah sangat terlambat, klan Uchiha terlibat perang saudara akibat memperebutkan posisi kepala klan. Tekanan dari masyarakat terutama korban dari kasus kejahatan yang tidak terselesaikan dimasa kepemimpinan ayahmu dan nama Uchiha yang dipandang buruk menjadi penyebab banyak anggota klan melakukan aksi yang sama seperti Fugaku-sama. Di tengah kondisi seperti itu, Itachi memutuskan melakukan Izanagi bersamaku untuk merubah realitas takdir"
"Itukah sebabnya kakak dan seluruh keluargaku masih hidup?" Tanya Sasuke
Shisui mengangguk pelan membalas pertanyaan Sasuke, bungsu Uchiha tersebut masih mencoba memecahkan pertanyaan dikepalanya sehingga satu untaian kalimat yang menuntut jawaban kembali diutarakannya
"Kenapa kau menceritakan ini?"
"Sasuke-kun, kau percaya padanya?" Sakura menatap tak percaya kearah Sasuke, baginya cerita dari Shisui terlalu dibuat-buat untuk menjadi kenyataan
"Aku harus tahu kebenarannya Sakura. Karena bagiku aneh saat ia berhasil menyebutkan dengan tepat silsilah dari leluhurku" Jawab Sasuke tanpa menatap Sakura, ia menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Shisui
"Untuk mengulur waktu"
Shisui mengeluarkan seringai yang menyeramkan sesaat setelah menyelesaikan perkataannya sehingga membuat Sasuke sedikit bergidik. Rasa takut itu semakin menjadi saat mata Shisui mengeluarkan darah yang cukup banyak.
"Aku jarang berlatih dengan mata ini, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyempurnakan pengaruh kotoamatsukami. Jutsu ini cukup membantu meskipun aku hanya bisa menggunakannya pada satu orang" Jelas Shisui
Beberapa detik kemudian, Temari sadar dari pingsan dan kembali memberontak seperti orang gila.
"Oughh sial, Sai tahan pergerakannya!" Perintah Naruto
Akan tetapi, Temari dapat memanfaatkan celah dengan menendang dagu Gaara dengan kakinya. Pria berambut merah itu seketika langsung tersungkur dan mengakibatkan Temari dapat lepas dari cengkraman ketiga orang lainnya. Temari seketika meraung seperti orang gila dan menindih Shikamaru yang ada didepannya lengkap dengan gerakan mencekik leher Shikamaru.
"Ke-kenapa kau melakukan ini?!" Tanya Sasuke terbata-bata masih terpaku akan keberadaan Shisui
"Kurasa aku sudah menjelaskan bahwa Izanagi hanya meloloskan satu orang dengan syarat ingatannya dihapus. Dalam kasusku orang itu adalah Itachi sehingga aku terperangkap didalam permainan ini. Namun, bukan itu alasanku untuk membenci Itachi" Jawab Shisui
"Kau membenci kakakku?"
"Benar, aku membencinya karena membuka jalan bagi klan Uchiha untuk kembali terjatuh dalam Izanagi dengan memberitahukan ritual ini kepadamu. Pria bodoh itu telah dibutakan oleh kasih sayang terhadap adiknya. Keadaan menjadi semakin buruk saat kau justru melakukan Izanagi, membuatku menyadari bahwa manusia tidak akan pernah bersyukur dan akan terus berusaha merubah takdir. Oleh karena itu, aku membuat keputusan untuk menghabisi kalian semua disini"
Setelah Shisui menjelaskan tentang alasannya kepada Sasuke. Api hitam yang mengelilingi mereka menjadi mengecil dengan anggota OSIS sebagai pusatnya. Beberapa saat lagi maka api hitam itu akan melumat tubuh anggota OSIS dalam kobarannya.
"Sasuke-kun!" Teriak Sakura saat melihat tubuh Sasuke tergeletak bersimbah darah dengan katana yang masih menancap di tubuhnya
"Maafkan aku, Sasuke" Lirih Shisui
Kaguya menatap tidak percaya kearah layar monitor yang menampilkan kekacauan dihalaman Konoha Gakuen. Kaguya melihat dengan jelas Shikamaru yang hampir kehabisan nafas akibat cekikan Temari, Neji yang pingsan akibat aliran darah yang tidak kunjung berhenti, Sasuke yang tergelatak bersimbah darah, serta api hitam yang siap melahap para anggota OSIS. Namun, dari semua hal itu ada satu fakta yang seakan menampar Kaguya untuk kembali ke realitas dan mencoba memastikan dugaannya.
"Madara, jangan bilang..."
Madara hanya memberikan senyum penuh arti seakan membenarkan dugaan Kaguya. Sontak perempuan itu menelan ludahnya kasar dan kembali menatap layar monitor dengan pandangan nanar.
.
TBC
.
.
.
Author Note's : Halo, Elevtron is back. Sebelumnya enggak mau banyak komen untuk chapter kali ini. Intinya jika dilihat dari satu sudut pandang ini adalah salah satu chapter dimana sisi Naruto menjadi pihak yang paling dirugikan tetapi ingatlah pribahasa kalau roda itu selalu berputar. Sisanya Elevtron tidak akan terlalu banyak ngasih spoiler lagi wkwkwk silahkan para readers cari tahu sendiri melalui petunjuk-petunjuk yang telah Elevtron sisipkan di jalan cerita.
Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.
Hope you enjoy it
Well see u in the next chapter
x
x
x
