Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

As you wish © Elevtron

Rating : T

Genre : Adventure, Tragedy

Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.

Pairing : Coming Soon

.

Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?

.

.

.

Chapter 26 : [Matahari dan Lavender]

.

Kantin Konoha Gakuen yang menjadi tempat dimana para siswa menghabiskan waktu untuk mengisi kekosongan perut mereka. Selain itu, tempat ini juga dijadikan tempat untuk sekedar bersenda gurau sembari mengisi jam istirahat. Akan tetapi, Obito memiliki tujuan berbeda sehingga harus melangkahkan tubuh rentanya begitu jauh hingga sampai di kantin Konoha Gakuen.

"Aku datang Kyuubi" Ucap Obito dengan seringai menyeramkan

Bersamaan dengan itu keluar berpuluh-puluh rantai dari setiap penjuru kantin dan berniat menangkap Obito kedalam jeratannya

"Cih, memang merepotkan menangkap Kurama tanpa bantuan Uzumaki" Gumam Obito

Secepat kilat mata Obito berubah warna menjadi merah dengan motif seperti shuriken bermata tiga. Pria Uchiha tersebut dengan santai berjalan hingga kesudut kantin tanpa mengiraukan rantai-rantai yang seakan menembus tubuhnya begitu saja

"Aku mendapatkanmu, Kurama"

Kobaran api hitam seketika menyelimuti wilayah kantin Konoha Gakuen bersamaan dengan boneka rubah dengan sembilan ekor telah berada didalam genggaman Obito. Seringai kejam yang dikeluarkan Obito berbanding terbalik dengan ekspresi Shisui yang memandang santai api amaterasu yang sebentar lagi akan melalap habis tubuh anggota OSIS.

CRASHHHHH

"Ugh!"

Shisui terbatuk darah saat sebilah katana menembus jantungnya dari arah belakang. Sesaat sebelum tubuhnya menghantam tanah dan kehilangan kesadaran ia melakukan teknik terlarang yang mengorbankan salah satu penglihatannya.

'Izanagi' Ucap Shisui dalam hati

Kobaran api hitam yang mengelilingi anggota OSIS menghilang sehingga membuat mereka sedikit terkejut. Keterkejutan itu makin menjadi saat melihat tubuh rekan mereka yang sebelumnya tergeletak bersimbah darah kini berdiri tegap dengan sebilah katana didalam genggamannya.

Shisui dengan sebelah bola mata yang telah memutih menatap tak percaya saat melihat Sasuke memiliki mata yang sama persis dengan miliknya. Shisui meneguk ludah kasar saat menyadari sesuatu dan mengumpat didalam hati kepada Madara dan semua ego keagungan Uchiha miliknya. Shisui tidak menyangka bahwa bukan Naruto kesatria yang dipilih Madara untuk menjalankan Izanami.

"Kau membuatku terkejut Sasuke, jadi apa selanjutnya yang akan kau lakukan?" Tanya Shisui menatap sebelah bola mata Sasuke yang telah memutih sama seperti miliknya

"Aku tidak tau. Akan tetapi, melihat yang kau lakukan terhadap temanku serta hinaanmu terhadap kakakku kurasa aku telah membuat keputusan. Keputusan untuk mengakhirimu disini wahai Uchiha yang tidak bisa kuingat"

Shisui sedikit terkekeh kecil mendengar jawaban Sasuke. Disaat bersamaan otaknya mencoba mencerna situasi yang dihadapinya.

'Aku telah mencapai batas penggunaan kotoamatsukami. Selain itu, menggunakan tsukoyomi ataupun amaterasu tidak akan berefek selama Sasuke memiliki mata itu. Dalam keadaan seperti ini maka hanya cara itu yang dapat kulakukan' Pikir Shisui dalam hati

Shisui sedikit menghela nafas dan menatap dalam ekspresi wajah Sasuke yang entah kenapa sedikit mirip dengan wajah teman terbaiknya.

"Bersiaplah Sasuke, setelah ini sekolah tercintamu akan rata dengan tanah"

Mengabaikan pria yang ia cintai tengah berhadapan dengan maniak gila dengan marga yang sama, Sakura mencoba memisahkan Temari dan Shikamaru yang hampir kehabisan nafas. Gerakan menyikut dari Temari tepat menghantam wajah Sakura membuat gadis itu terjungkal kebelakang.

Suatu kebetulan mata Sakura menatap benda disebelah kiri wajahnya. Entah mendapat dorongan dari mana, gadis pinky itu membuat keputusan yang ia tahu pasti akan membuatnya menyesal.

CRASSHHH

Bunyi itu menjadi pengiring saat sebilah pisau yang sebelumnya digunakan untuk menikam Neji telah menembus tulang tengkorak dari Temari. Sang pelaku yakni Sakura langsung jatuh terduduk dengan tangan gemetar menutup kedua wajah cantiknya

"Sa-sakura, apa yang kau la-lakukan?" Sara menatap horror kejadian dihadapannya

Gaara sendiri tampak menggenggam permukaan halaman Konoha Gakuen yang dihiasi rumput untuk menyalurkan emosinya. Tepukan ringan dibahu yang diberikan oleh Matsuri sedikit membantu Gaara. Pria itu tahu pasti bahwa Temari sudah tidak bisa dikendalikan sehingga perbuatan Sakura dapat dianggap menghentikan penderitaan Temari dan mencegah kematian Shikamaru serta anggota OSIS yang lain.

Shikamaru sendiri terbatuk-batuk sesaat setelah dirinya dapat mengambil nafas. Matanya memandang lemah jasad Temari yang tergeletak tak berdaya disampingnya. Bau anyir darah pria itu hiraukan meskipun kini air mata miliknya telah bercampur dengan darah Temari. Shikamaru melampiaskan emosinya dengan memukul-mukul permukaan tanah disebelahnya meski dengan tenaga yang lemah.

Naruto yang berada didekat Shikamaru segera melangkahkan kaki dan membawa tubuh Sakura kedalam pelukannya.

"Keluarkan saja Sakura-chan"

"Na-naruto...hiks...hiks"

Tangis Sakura pecah didalam lindungan pria Uzumaki, sejenak mata safir milik Naruto bertatapan dengan amethyst milik Hinata yang tengah mencoba menghentikan pendarahan Neji agar pria Hyuga itu sadar dari pingsannya. Hinata merasa de javu saat melihat Naruto kembali memeluk Sakura dihadapannya

.

FLASHBACK ON

Hinata Pov

Senandung kecil mengiringi langkah kakiku memasuki kawasan Konoha Gakuen. Hari yang masih terlalu dini untuk memunculkan matahari diakibatkan hujan deras tadi malam tidak menyurutkan semangatku untuk bersekolah. Pendidikan yang tinggi adalah cara bagiku untuk membanggakan ayah dan keluarga Hyuga karena fisikku yang lemah dibandingkan yang lain. Omong-omong terkait sekolah, Sakura salah satu temanku sempat berkata akan berkunjung kerumahku namun ia tidak datang. Menurut pendapatku alasannya tidak datang karena hujan tadi malam. Aku sedikit bersyukur karena mempunyai waktu menangis lebih lama, yah menangis karena cinta pertamaku tidak membalas perasaanku. Rasa sakitnya lebih hebat dari yang kubayangkan sehingga membuatku menangis semalam suntuk tanpa henti. Tapi sebagai seorang wanita aku cukup tegar, sebagai buktinya aku telah berdiri dihadapan pintu kelas 2-A dan siap untuk memulai kegiatan menuntut ilmu hari ini.

"Na-naruto-kun" Lirihku

Kulihat pria yang menolakku kemarin sedikit bergeming dan membuka matanya begitupun wanita yang kini memeluknya dalam tidur mereka diatas matras. Aku menutup mulutku yang hendak berteriak tapi tetap tidak bisa mencegah bulir air mata menuruni pipiku. Hatiku sakit saat melihat pria yang kucintai tidur berpelukan bersama wanita lain terlebih wanita itu sahabatku sendiri. Rasa sakit ini bahkan lebih hebat dibandingkan penolakan Naruto kemarin. Kusadari mereka berdua mulai menyadari keadaan dan melirik kepadaku.

"Hi-hinata ini tidak seperti yang kau pikirkan" Sakura berbicara dengan gugup kepadaku, hal itu justru membuat dugaanku terbukti akurat

"A-aku...ada barangku yang tertinggal"

Selepas mengatakan itu tujuanku adalah berlari sejauh mungkin. Pulang kerumah adalah pilihan yang buruk makanya aku perlu mencari tempat disekolah yang bisa membuatku terhindari dari siswa lainnya. Bagiku tempat itu ialah atap sekolah dan disinilah aku menangis untuk kesekian kalinya karena orang yang sama yakni Uzumaki Naruto.

"Hinata-chan" Hah, itu suara Naruto. Tidak kusangka ia akan menemukanku

"Hinata-chan, yang kau lihat tadi tidak seperti yang ka-"

"Aku akan merahasiakannya" Potongku

"Huh?"

"Aku akan merahasiakan perbuatanmu dan Sakura. Jadi kau tidak perlu khawatir"

Untuk pertama kali aku dapat berbicara lancar tanpa terbata-bata bahkan aku berhasil menghilangkan embel-embel –kun atau –chan diantara nama Naruto dan Sakura. Kurasa ini sebuah pencapaian sendiri buatku.

"Hinata ak-" Sungguh aku tidak tahan mendengar nada lembut yang diberikan Naruto kepadaku

"A-aku akan pergi" Baru beberapa langkah tubuhku melewatinya pergelangan tanganku telah digenggam dengan erat

"Hinata, kumohon" Ucapnya memelas

"Le-lepaskan Naruto" Ringisku akibat genggaman tangan Naruto terlalu erat

"Tatap aku Hinata!"

Tubuhku kaku sejenak saat mendengar bentakan Naruto terhadapku, pria yang kucintai mendadak menjadi kasar. Naruto yang aku cintai kini membuatku takut, tapi saat mataku yang telah dipenuhi air mata menatapnya. Safir biru itu terlihat melebar sejenak dan entah kenapa genggaman tangannya melemah. Kesempatan itu aku manfaatkan untuk melepaskan tanganku dari cengkramannya

PLAKK

Telapak tanganku terasa panas sesaat setelah menampar Naruto. Bagian dalam diriku sedikit tidak percaya atas apa yang kulakukan namun bagiku ini ganjaran yang tepat untuknya. Tamparan adalah hal yang pantas kuberikan saat seseorang mencoba bersikap kasar terhadapku meskipun itu pria yang kucintai. Sikap lemah lembut yang menjadi pembawaan seorang Hinata entah kenapa menghilang begitu saja saat itu.

Kepergianku dari atap sekolah tidak kusesali sedikitpun. Walaupun niatku yang ingin menuntut ilmu pagi tadi tidak didukung dengan keadaan. Penyebabnya ialah Naruto yang mengamuk dan mengajak berkelahi seluruh murid tingkat 3 mengakibatkan proses belajar menjadi terganggu dan baru berakhir setelah guru Gai berduel satu lawan satu dengannya, hal itu tentu saja menjadi tontonan para murid hingga bel pulang sekolah. Sorakan yang mengelu-elukan guru Gai makin menjadi saat pria berpotongan rambut nyentrik itu berhasil membuat Naruto jatuh tanpa bisa bangkit lagi meski setelah itu ia pingsan. Hal yang perlu kutekankan adalah cerita barusan benar-benar terjadi dan bukan hasil khayalanku karena terlalu banyak menonton anime seperti yang kalian pikirkan.

Hari ini berakhir begitu saja tanpa satu ilmu pun aku dapatkan. Tahu begini lebih baik aku tetap berada di mansion Hyuga saja. Terlebih kejadian pagi tadi kembali melintas dikepalaku sehingga membuat jalanku tidak fokus dan berakhir dengan menabrak seseorang.

"Ma-maaf" Ucapku sembari ber ojigi

"Oughh, Hei lihat-lihat kalau jal...Hinata?" Suara ini jangan-jangan

"Sa-sakura" Ucapku gugup

"Hinata ada yang ingin kuka-" Suara Sakura sama menjengkelkannya dengan Naruto dalam indera pendengaranku

"Bila ini tentang tadi pagi. Anggap saja aku tidak pernah melihat apapun" Ucapku sembari menunduk

"Tadi pagi? Astaga Hinata!. Kau pikir aku dan Naruto benar-benar melakukannya?"

Nada tidak percaya yang Sakura berikan membuatku sedikit melirik gadis bersurai merah muda itu. Perkataan Sakura sedikit aneh buatku karena orang macam apa yang tidak curiga saat melihat pria dan wanita tidur sambil berpelukan dipagi hari.

"Hinata, kita ini teman kan?"

"Aku tidak tahu" Jawabanku mungkin sedikit menyinggung Sakura tapi aku hanya berusaha jujur. Kejadian tadi pagi membuatku meragukan hubungan pertemanan antara aku dan Sakura.

"Tentu kau tahu bahwa aku menyukai Sasuke kan?" Pertanyaan Sakura membuatku mengetahui embel-embel –kun yang Sakura hilangkan dari nama Sasuke.

"I-iya"

"Dan mungkin ini yang belum kau tahu. Naruto mungkin terlihat menyukaiku tapi hal itu hanya salah satu persaingannya dengan Sasuke. Baginya aku seperti adik perempuan yang harus ia lindungi. Hal yang sama berlaku kepadaku yang meskipun berkali-kali memukulnya bukan berarti aku membencinya. Tapi bagiku ia seperti saudara laki-laki yang baik kepadaku" Jelas Sakura

Pandanganku sedikit terfokus kepada emerald hijau Sakura, mencoba mencari kebohongan dimatanya. Sayangnya hal itu tidak dapat kutemukan, keraguan kembali merambat didalam hatiku. Hal itu semakin menjadi-jadi saat Sakura menceritakan yang sebenarnya, cerita yang diucapkannya membuatku percaya bahwa kesalahpahaman telah terjadi diantara kami.

"Ma-maafkan aku Sakura" Ucapku tulus

"Aku sudah memaafkanmu kok" Kulihat Sakura memberikan senyum tulus saat mengatakannya

"Meskipun aku tidak tahu apakah Naruto telah memaafkanmu" Sambungnya disertai senyum jahil yang tidak kumengerti artinya

Langkah kaki perlahan membawaku berpindah dari tempat perbincanganku dan Sakura menuju atap sekolah. Disana telah menunggu seseorang yang telah mencuri hatiku sedari lama, yang entah kenapa hatiku yang telah dipatahkannya masih tetap terpaku teguh kepada orang itu tanpa sedikitpun bergeming. Saat melihat Naruto yang tengah terbaring lemah dengan beberapa lebam sebagai hasil pertarungan melawan guru Gai, bibirku tak kuasa untuk menahan suara.

"Na-naruto-kun" Ucapku kembali menambahkan embel-embel yang bagiku sudah seperti panggilan kesayangan.

"Aku menyukaimu Hinata"

Tu-tunggu, aku yakin aku tidak salah dengar. Niat hati ingin meminta maaf malah mendapat pernyataan cinta mendadak seperti ini. Akan tetapi, aku tidak akan goyah dan terlalu bodoh untuk menyadari alasan Naruto. Pria ini hanya bersikap kasihan kepadaku, aku yakin itu.

"Jangan berbohong" Ucapku sembari memberikan senyuman setulus mungkin

"Aku tidak berbohong Hinata" Nadanya sangat tegas tanpa keraguan berbanding terbalik dengan diriku

"Aku kesini hanya ingin meminta maaf Naruto-kun. Kesalahpahaman tadi pagi aku sudah mengetahuinya. Kumohon jangan membuatku semakin salah paham kepadamu"

"Hina-"

"Kau baru saja menolakku kemarin!"

Hatiku sedikit lega saat mengeluarkan emosi dengan cara berteriak. Isi hatiku sudah coba aku keluarkan kepada pria dihadapanku ini. Kuharap ia sudah mengerti tujuanku datang kemari dan mengakhiri sandiwara konyol ini. Namun, harapan hanya harapan saat Naruto justru mendekat dan tubuhku tidak bisa bergerak untuk sekedar memperlebar jarak kami. Langkah kaki Naruto baru berhenti saat ia sudah berada dihadapanku.

"Aku tidak pernah menolakmu"

"Huh?"

"Kau terus memotong ucapanku kemarin, ingat?" Ucapnya sembari tersenyum

Aku sendiri tengah menatap dan terpana dengan senyuman secerah mentari yang sudah lama tidak Naruto tunjukkan dihadapan semua orang. Bila dipikir-pikir kembali, kemarin memang aku terlalu cepat mengambil keputusan tanpa memberi kesempatan Naruto untuk menyelesaikan ucapannya. Otakku belum sempurna mencerna keadaan saat Naruto kembali bersuara

"Aku benar-benar menyukaimu, Hime"

Naruto berkata sembari mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna ungu pucat dan ia tunjukkan kepadaku. Mataku terbelalak saat mengingat sapu tangan itu. Tidak kusangka Naruto masih menyimpan sapu tangan yang kuberikan saat hari kematian kedua orang tuanya. Awalnya niatku hanya ingin memberikan sesuatu untuk menghapus air mata Naruto namun ternyata hal kecil itu sangat berarti bagi laki-laki yang kucintai ini.

"Be-beri aku waktu"

Tanpa memberi kesempatan Naruto untuk berbicara lebih banyak, aku segera berlari meninggalkan atap sekolah dengan muka yang tengah memerah padam. Sepanjang malam aku seperti orang gila yang terus senyum dan tertawa sendiri hingga pagi menjelang. Hal yang terjadi selanjutnya sungguh tidak bisa kubayangkan. Naruto benar-benar serius dengan perkataannya. Dapat kurasakan hubungan kami yang semakin dekat dari hari ke hari. Naruto juga sudah tidak pernah berkelahi lagi dan telah mendapatkan banyak teman seperti dulu. Perubahan ini turut membuatku senang dan bahagia karena Naruto telah kembali bersinar seperti dulu.

Pernah suatu ketika Naruto datang untuk mengajakku jalan-jalan dan sialnya yang menyambutnya ialah saudara sepupuku Neji. Alhasil Naruto harus menghadapinya di dojo klan Hyuga untuk bisa mendapatkan izin mengajakku jalan-jalan. Lucunya, rencana jalan-jalan itu gagal karena aku sibuk mengobati luka Naruto yang kalah telak dari Neji. Sisi baiknya ialah setelah itu Naruto dapat mengajakku untuk keluar kapanpun karena Neji telah meyakinkan ayah bahwa Naruto adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Kunjungan Naruto yang semakin sering ke mansion Hyuga tentu saja mengundang rasa penasaran dari semua orang termasuk adikku Hanabi.

"Nee-chan, Naruto itu orangnya seperti apa?" Tanya Hanabi

"Naruto-kun lebih tua darimu Hanabi-chan, panggil dia dengan cara yang benar" Tegurku

"Wah, kau sepertinya benar-benar jatuh cinta kepada pacarmu Nee-chan" Godanya membuatku semburat merah tercetak jelas dikedua pipiku

"Ka-kami tidak berpacaran"

"APA?!"

Hanabi berteriak tepat ditelingaku sehingga membuatku tuli beberapa detik. Aura intimidasi sedikit aku tunjukkan untuk membuat Hanabi sadar bahwa wanita itu tidak boleh berteriak-teriak seperti monyet di alam rimba. Namun, adikku ini hanya cengengesan tidak jelas sehingga membuatku menghela nafas.

"Ck, jika pria itu sengaja mempermainkanmu aku akan mengajak satu pleton anggota Hyuga untuk menghajarnya" Ucap Hanabi seraya mengepalkan tangan

"Dia tidak mempermainkanku kok" Ucapku lembut

"Jadi kau yang mempermainkannya?" Hanabi memberikan tatapan datar kepadaku

"Aku hanya belum memberikan jawaban"

"Wahhhh, apa kau mencintainya Nee-chan?" Hanabi bertanya dengan mata berbinar-binar dan kedua pipi bersemu merah

Anggukan pelan yang kuberikan sebagai jawaban ternyata berakibat buruk. Hanabi langsung berteriak lebih keras dari sebelumnya dan berlari keluar kamarku untuk memberikan kabar ini kepada seluruh anggota mansion Hyuga. Untung saja aku dengan sigap mengunci mulut adik manis namun mematikan ini.

Hal yang merepotkan akan terjadi bila ayah sampai mengetahui ini, Naruto tidak akan diberi kebebasan dari sebelumnya dan seluruh mata-mata Hyuga akan mengawasi kami berdua dengan alasan keselamatanku dari pria mesum termasuk Naruto. Hal yang lebih buruk ialah kami berdua akan langsung ditunangkan pada hari dimana ayah mengetahui bahwa aku berpacaran, benar-benar hal yang harus dihindari karena tindakan overprotektif keluargaku mungkin akan membuat Naruto menjadi tidak nyaman dan justru tidak lagi menyukaiku.

"Hinata nanti malam temani aku ke ramen ichiraku lagi ya?" Ajakan Naruto membuyarkan lamunanku akan kenangan tadi malam

"Iya" Jawabku

Suasana kantin tempat kami berdua makan mendadak menjadi heboh. Beberapa siswa tampak berbisik-bisik dan langsung bergegas ke gedung sekolah. Aneh, padahal jam istirahat makan siang masih cukup lama. Naruto terlihat bertanya pada Kiba yang hendak pergi bersama gerombolan siswa lainnya. Ekspresi terkejut Naruto terlihat jelas dan pria itu langsung berlari tanpa menjelaskan kepadaku apa yang terjadi.

Didorong oleh rasa ingin tahu aku pun turut ikut bersama kerumunan di gedung sekolah. Terlihat olehku beberapa mobil polisi dan ambulance berada dilingkungan sekolah kami. Sayup-sayup aku mendengar berita tentang seorang siswi yang bunuh diri, belum sempat aku bertanya tentang identitas siswi itu terdengar suara perkelahian dibagian paling depan dari kerumunan ini. Posisiku yang berada dibelakang tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang bodoh yang berkelahi dihadapan banyak polisi seperti ini.

"Kau tidak makan Naruto-kun?" Tanyaku, kini kami berdua tengah makan berdua di kedai ramen langganan Naruto. Suasana malam hari yang cukup dingin membuat ramen ini semakin terasa lezat

"Aku tidak lapar" Jawabnya ketus, selain nada bicara Naruto yang cenderung cuek kepadaku. Penolakannya terhadap ramen adalah suatu hal yang aneh

"Oh iya Naruto-kun, apakah kau mengetahui keributan yang terjadi tadi pagi?" Tanyaku mencoba mencari topik obrolan

Keheningan melanda kami sesaat sebelum Naruto memutuskan untuk buka suara

"Sebaiknya kita berteman saja Hinata" Ucapan Naruto entah kenapa memupus sesuatu yang ada didalam hatiku

"I-iya, tentu saja kita berteman"

"Baguslah, kalau begitu aku pergi dulu. Maaf tidak bisa mengantarmu pulang"

Naruto pergi begitu saja meninggalkanku sendirian di kedai ramen ini. Oleh sebab yang tidak kumengerti air mata jatuh dari kedua mataku. Tangisan ini cukup aneh bagiku pada malam itu. Hingga aku mengerti penyebab atas perubahan Naruto terhadapku pada malam di kedai ramen. Kerumunan siswa, mobil polisi dan ambulance pada hari itu disebabkan karena kematian Shion akibat bunuh diri. Lalu, perkelahian yang terjadi selanjutnya ialah perkelahian antara Naruto dan Sasuke yang mengakibatkan bungsu Uchiha itu tidak masuk sekolah selama satu minggu.

Setelah kematian Shion, Naruto tidak merubah sikapnya sama sekali. Suatu hal yang membuatku sedikit terkejut. Naruto tetap menjadi pribadi yang ceria dan bahagia persis setelah ia menyatakan perasaannya kepadaku. Namun, Naruto tetap tidak bisa menyembunyikan sinar mata yang meredup sarat kesedihan yang ia miliki saat ini. Bagiku Naruto adalah matahari yang semakin lama semakin kehilangan cahayanya. Akan tetapi, aku bertekad untuk mengembalikan sinar itu dengan terus berada disisinya, mendukungnya dan menemaninya. Itu adalah caraku untuk mencintai seorang Uzumaki Naruto.

FLASHBACK OFF

.

TBC

.

.

.

Author Note's : Aloha, kita bertemu lagi para readers. Entah kenapa Elevtron merasa kesepian karena tidak ada review yang masuk selama beberapa chapter kebelakang jadi tolong tinggalkan jejak ya guys. Oh iya untuk chapter kali ini mungkin jadi pelepas dahaga bagi penggemar NaruHina atau dengan kata lain aliran pro canon. Namun, di sisi lain flashback kali ini adalah kepingan puzzle dari cerita serupa di chapter-chapter sebelumnya. Lalu, Elevtron entah kenapa merasa gatal ingin menulis fic baru padahal fic ini saja belum selesai. Mungkin genre romance akan menjadi pilihan, gimana pendapat para readers apakah cocok dengan gaya tulisan Elevtron?. Lalu satu lagi, bagi yang juga berkecimpung di wattpad bisa follow dan baca juga cerita Elevtron disana. Nama akunnya sama kok. Oke gitu aja, (OOT Eren kok bisa jahat banget ya? Wkwkwk Kasihan Mikasa)

Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.

Hope you enjoy it

Well see u in the next chapter

x

x

x