A cute boy or evil men?
Disclaimer: Masashi Kishimoto
By: Cynon Nigella
Typo(s), OOC, amatiran, eyd ancur
Happy Reading
.
.
.
Chapter II
Ada banyak hal yang Hinata takuti. Berhadapan dengan kemarahan para Hyuuga, dan juga sekarang ini.
Intimidasi.
Pria dengan bola mata hitam jelaga itu menatap Hinata tajam. Tinggi badan Hinata hanya sedadanya, tubuh mungilnya seolah ditelan oleh tubuh sang Uchiha bungsu. Meneguk ludah dengan pelan, ia menatap kaos biru dongker yang melekat pada tubuh atletis itu. Gadis manis itu enggan menatap wajah pria yang tengah menancapkan tatapan menusuk pada kepalanya yang tengah menunduk.
"Cepat minggir"
Hinata menggeleng pelan. Walau kakinya sudah gemetaran, ia tetap berdiri di depan pintu kamar mandi. Ia tak ingin dikalahkan oleh orang yang entah mengapa ada dirumahnya saat waktu menunjukkan bahwa masih terlalu dini untuk berkunjung ke rumah orang. Belum lagi ia melihat handuk putih yang melingkari leher dan tas kecil yang berada dalam genggamannya. Memang ia kira ini toilet umum?
Sasuke berdecak pelan. Ia bergerak maju, menghapus jarak yang Hinata buat. Kepalanya sedikit menunduk dan berhenti tepat di samping wajah Hinata yang menegang.
Hinata menahan nafas kala merasakan hembusan nafas membelai daun telinganya. Wangi maskulin nan manis segera menyapa indera penciumannya, ia tak dapat mendekskripsikan seperti apa tapi wangi tubuh Sasuke mampu mempercepat degup jantungnya yang sebelumnya memang sudah cepat. Wajahnya yang sebelumnya pucat, perlahan mulai merah padam.
"Kau mau mandi... denganku? Hm?"
Bola mata amethysnya nyaris keluar. Ia mendorong tubuh Sasuke hingga kakinya mundur beberapa langkah.
"Me-mesum!" Teriak Hinata seraya berlari menjauhi Sasuke yang menyeringai lebar, yang sayangnya tak sempat Hinata lihat.
Wajahnya terasa panas. Antara malu, kesal dan terpesona sesaat. Hinata melotot, perlahan-lahan ia berhenti berlari. Kenapa ia berpikir kalau pria kurang ajar itu menarik? Hinata meringis, pria Uchiha itu memang tampan, tapi aura gelap yang menguar dari tubuhnya itu membuat kadar ketampanannya menurun drastis dimatanya. Tipekal pria tempramental!
Tersadar akan pikirannya yang mulai melalang buana, ia teringat pertanyaan yang melintas dibenaknya saat menemukan Sasuke yang bertingkah seperti orang ingin mandi setelah tidur malamnya.
Mata amethysnya itu bergulir, mencari sang kepala keluarga di setiap sudut ruangan. Aroma teh yang sering kali menyapa indera penciumannya itu membawa Hinata ke ruang tamu. Terlihat seorang pria paruh baya yang tengah menyesap tehnya perlahan dengan koran pagi terlipat berada di pangkuannya.
"Otou-san"
Sang ayah menepuk sofa cokelat susu, mengisyaratkan agar Hinata mendekat.
Hinata duduk di samping ayahnya yang kembali membuka koran paginya. Indera penciumannya disapa dengan wangi khas sang ayah di pagi hari kala ia merapatkan diri dengan tubuh sang kepala keluarga. Aroma pencuci rambut khas yang digunakan sang ayah.
"Kenapa dia ada di sini"
Hiashi membuka halaman selanjutnya, menampilkan berita bola yang kini marak di bicarakan para pegawainya. Walau Hiashi terkesan kolot, namun sebetulnya tidak. Dilihat dari desain rumah dan tatanan ruang kerjanya, orang awam tak akan tau bahwa pemiliknya adalah seorang Hyuuga yang biasa dikenal akan keluarga yang masih memegang teguh adat istiadat.
"Sasuke?"
Hinata memutar bola matanya. Kenapa ayahnya harus bertanya, sementara ia tau bahwa hanya pria itu lah yang Hinata maksud.
"Iya, apa yang dilakukannya? Kenapa dia mandi di rumah kita?"
"Karna ia tinggal di sini"
Hinata nyaris saja melompat.
"A-apa?" Matanya menatap sang kepala keluarga yang sepertinya telah menduga reaksi seperti apa yang ditunjukkan putrinya.
"Hanya Uchiha yang membantu Otou-san pada masa-masa sulit. Kali ini, biar Otou-san menolong mereka" jawab Hiashi tenang, seraya menyesap tehnya.
Dahinya menyerit. Semua orang tau keluarga Uchiha. Mereka kaya raya, Hinata yakin, bahkan uangnya tak akan habis walau dibelanjakan ratusan tas channel sekalipun. Mereka berkecimpung di dunia bisnis otomatif, elektronik hingga perhotelan. Mengapa ia meminta bantuan pada Hyuuga yang notabenenya berkecimpung di dunia bisnis pertanian yang secara logika tak ada kaitannya. Lagipula, ia tak tau hubungan bisnis yang bertolak belakang dengan pria itu yang tinggal di rumahnya.
"Lalu?"
Hiashi melipat korannya. "Bagaimana jadinya jika para lawan bisnis mereka tau rahasia Sasuke?"
Bola mata amethysnya berkedip cepat. Ia membenarkan pertanyaan sang ayah. Tentu momen saat Sasuke berubah menjadi balita tak berdaya akan dimanfaatkan oleh para pebisnis licik itu. Lebih buruknya, Sasuke akan dibunuh. Hinata meringis, walau pria itu terlihat jahat di matanya namun ia kasihan juga bila berita kematiannya tersiar di acara televisi lokal.
"Tak banyak yang mengetahui kediaman Hyuuga"
Hinata mengangguk. Bisnis pertanian keluarganya memang tak menghasilkan uang sebanyak Uchiha sehingga keluarganya tidak seterkenal pebisnis sekelas Uchiha.
"Me-memang ia tak bisa tinggal di apartemen atau hotel?"
Hinata belum puas. Ia ingin pria arogan itu keluar dari rumahnya. Ia tak ingin satu atap dengan pria mesum.
"Kau mengusirku?"
Bahu Hinata menegang. Ia melirik kearah suara itu berasal. Matanya menangkap tubuh tegap Sasuke yang telah dibalut kemeja hitam yang digelung hingga siku dan jas biru dongker yang ia bawa. Jika pria ini sudah rapi dan siap berangkat, berarti...
Hinata berdiri tegap, matanya membulat dengan bibir yang membentuk huruf 'o'. "Aku terlambat!" Ujarnya seraya berlari.
Meninggalkan Hiashi dengan senyuman tipis yang terukir di wajahnya.
.
.
.
Hinata menuruni anak tangga dengan tergesa. Tangannya sibuk menyisir helaian rambut panjangnya yang kusut.
"Okaa-san aku-"
Hinata berdiri di depan pintu ruang makan dengan kalimat yang kembali ia telan.
"A-ano... dimana..."
"Mereka ada keperluan mendadak"
Hinata menatap Sasuke yang tengah minum kopi dengan tablet yang berada di atas meja makan.
"Kemana?"
Hinata gemas sendiri. Pria ini tau bila ia sedang diburu waktu, lalu mengapa ia memberikan informasi setengah-setengah!
"Memang aku harus tau?"
Wajah Hinata memanas. Seumur hidupnya, ia tak pernah menemui pria semenyebalkan ini! Hinata menghentakkan kakinya keras. Kenapa setiap melihat wajah datar itu, emosinya mendadak mencapai ubun-ubun!
Hinata sudah berencana angkat kaki dan memilih pergi ke sekolah sendiri dengan resiko yang sudah terbayang di kepala mungilnya. Meminta pria itu mengantarnya? Ayolah, ia tak bisa diharapkan! Namun sebuah asap muncul dan balita manis menggantikan si Uchiha arogan yang telah menghancurkan pagi indahnya.
Hinata meringis, nyaris menangis.
Si balita tak terlihat, hanya rambut ravennya yang menyembul dari sisi meja dan baju yang merosot turun dari bangku.
Hinata sudah nyaris terlambat dan si Uchiha menyebalkan itu malah berubah jadi balita!
"Pipis" hanya kalimat itu yang sampai ke telinganya.
Hinata berjalan mendekat dengan langkah ragu. Hal yang pertama ia lihat adalah sosok mungil yang tengah mengerucutkan bibir mungilnya, alis yang menukik tajam dan tangan yang berada di selangkangannya. Bajunya sudah terlepas sempurna. Astaga, ia telanjang sekarang!
"Pipis"
Matanya yang berair menatap Hinata yang tengah berperang dengan batinnya.
Persetanan dengan Uchiha sombong itu, yang ada dihadapannya kini balita kebelet pipis.
Hinata menarik kedua sudut bibirnya, ia mengulurkan kedua tangannya ke arah Sasuke kecil. "Ayo sini, sama kakak"
Sasuke kecil ikut mengulurkan tangannya, Hinata mendekap tubuh mungil itu dan berjalan cepat ke kamar mandi. Hinata menyeritkan dahi, ia teringat akan pertemuannya dengan Sasuke kecil di minimarket. Balita itu masih mengenakan pakaian lengkap, itu berarti pakaiannya ikut menyusut bersama dengan tubuhnya. Tapi mengapa sekarang pakaiannya tak ikut mengecil?
Setelah beberapa menit Sasuke kecil masuk ke kemar mandi, pintu kamar mandi kembali terbuka dengan menyisakan sedikit terbuka, kepala Sasuke kecil menyembul. Mata hitamnya bergerak gelisah dengan sesekali menatap Hinata.
Hinata berjongkok di depan pintu. "Ada apa?"
Matanya berputar-putar, wajahnya memerah. "Baju"
Hinata melongo, beberapa detik kemudian ia terkekeh pelan. "Boleh aku masuk sebentar?"
Pintu kamar mandi terbuka lebar, Hinata masuk dengan Sasuke yang berada di belakang pintu. Hinata meraih handuk yang ia gunakan sebelumnya dan melilitkannya di tubuh mungil Sasuke. Ia membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapannya dan berjalan menuju kamar kosong yang kini digunakan Sasuke arogan sebagai kamar pribadinya.
Tak ada yang menarik di mata gadis Hyuuga kala matanya selesai menjelajahi seisi kamar Sasuke. Hanya ada kasur dengan double bed dengan sprei hitam, meja kerja serta setumpukan dokumen, lemari hitam yang Hinata yakini berisi pakaian Sasuke, lemari kaca tinggi berisi file yang Hinata tak mengerti, dan balkon dengan pintu tertutup. Ia meletakkan Sasuke kecil di atas kasur. Jika pria itu cukup pintar maka ia pasti mempunyai beberapa helai pakaian balita di dalam lemarinya. Hinata mulai menggeledah seisi lemari, yang ia temukan hanya kemeja bermerk, kaos dan celana untuk pria dewasa. Hinata berjongkok, matanya menangkap objek berupa koper kecil di rak bawah. Ia menarik keluar koper itu dan membuka resletingnya. Bibirnya melengkung ke atas kala menemukan pakaian mungil yang cukup banyak. Ia mula memilah pakaian manis yang membuatnya gemas. Sesekali matanya bergulir, menatap Sasuke kecil yang tengah terduduk dengan mata hitam yang sibuk menatap sekeliling. Pilihannya jatuh pada pakaian putih bergambar anak ayam manis yang sesuai dengan rambut model pantat ayamnya. Ia segera mendekap Sasuke kecil dengan handuknya yang masih mengelilingi tubuhnya.
Semua berlalu begitu cepat, tanpa peringatan, tanpa aba-aba.
BRUK!
Hinata telentang dengan Sasuke besar yang menindihnya, lengkap dengan handuk yang menutupi punggungnya.
Kedua pasang mata yang kontras itu bertemu dengan keterkejutan yang memantul pada bola mata mereka. Tangan Sasuke berada di samping kepala Hinata, mengurung tubuh mungil gadis yang kini dilanda keterlambatan memproses apa yang terjadi.
"KYAAAA!"
Dan teriakan menggema memenuhi kediaman Hyuuga.
Hinata mendorong tubuh besar Sasuke, matanya terpejam dengan wajah merah sempurna. Sasuke terjungkal hingga pertemuan dengan kepala berharganya dan rangka kasur tak dapat dihindari.
Hinata bangkit, meraih kaus asal dan melemparkan tepat diwajah Sasuke yang meringis.
"Ce-cepat pakai itu!" Ujar Hinata dengan mata tertutup.
Decakan keluar dari bibir tipis Sasuke. Ia bangkit dari duduknya dengan tangan yang sibuk mengelus kepala berharganya. Hingga ia tak sadar saat ia bangun, handuk yang menutupi tubuhnya merosot dan memperlihatkan tubuhnya.
"Kyaaa!"
.
.
.
Hinata memilin ujung rok lipitnya. Kepalanya menunduk dengan rona merah yang belum pergi dari kedua pipi gembilnya. Sesekali matanya melirik Sasuke yang tengah menyandarkan punggungnya dengan kelopak mata yang tertutup.
"Kenapa?"
Hinata berjengkit, ia merubah posisi duduknya. Mencari posisi nyaman dengan gelisah. "A-ano..."
Mata kelam itu kembali muncul, ia tak merubah posisinya yang nyaman. "Kalau bicara yang jelas"
Hinata mengerucutkan bibir, alisnya menukik. Rasa malu dan canggungnya seketika hilang kala indera pendengarannya mendengar nada ketus yang begitu jelas. Hinata duduk menyamping, mengadap Sasuke yang tengah menatap lurus ke depan.
"Ka-kau membuatku tak sekolah" protes Hinata seraya melipat kedua tangannya. Mencoba bersikap seolah dia marah besar. Ia tak ingin dikalahkan oleh pria arogan ini!
"Hn"
Salah satu alisnya terangkat. Jawaban macam apa itu? Iya, tidak atau apa?
"Ini yang ke berapa?"
Sasuke menoleh, menatap Hinata dengan wajah bosan yang sengaja ia tunjukkan. "Kau begitu ingin tau?"
Hinata menggigit bibir bawahnya. Cukup sudah, ia menyesal, sangat menyesal. Bahkan ia harus bolos hari ini hanya demi pria kurang ajar yang tak tau kegunaan kata terima kasih.
"Tak tau terima kasih, dasar pantat ayam" gumam Hinata seraya mengepalkan tangannya.
Sasuke menatap tajam Hinata. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya. Mengeliminasi jarak. "Kau... coba ulangi lagi hm"
Hinata berjengkit, ia bangkit dan segera berlari menyelamatkan diri. "Pantat ayam!" Teriaknya seraya mendaki anak tangga untuk mencapai markas persembunyian-kamarnya.
Sasuke menegakkan tubuhnya, ia menoleh ke belakang dan melihat sekelebat helaian indigo. "Ck, bocah"
.
.
.
Hinata menatap gagang telepon, tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Hanya ada bunyi sambungan telepon yang sudah terputus. Untuk kesekian kalinya ia menghela nafas, mengasihani kesialannya yang kian mengerikan. Ibu dan Ayah tak bisa kembali hingga tiga hari ke depan. Hanabi tengah mengikuti acara menginap khas remaja di rumah temannya. Di rumah hanya ada dirinya dan pria menyebalkan yang sukses menjungkir balikkan hidupnya dalam satu kedipan. Ia tak tau, apa yang Ino dan Sakura katakan esok hari. Ujian akhirnya kian mendekat, Hinata harus menyiapkan amunisi untuk berperang menghadapi soal ujian akhir dan masuk universitas. Dan sekarang ia ditugaskan untuk menjaga Sasuke kecil dan mengurusi keperluan Sasuke besar bila ia butuh bantuan. Tadi siang, ia sudah mencari segala informasi mengenai Sasuke melalui akses internet. Ia masih tak ingin mempercayai bahwa pria arogan itu sudah nyaris berkepala tiga. Sesuai dengan wajahnya yang minim ekspresi, data pribadi pun sulit ia dapat. Yang ia temukan hanya data yang berhubungan dengan bisnis dan perusahaan Uchiha.
Setengah jam lagi sudah masuk waktu makan malam, tak ada bahan yang bisa ia olah untuk mengisi kekosongan perutnya dan Sasuke. Hinata tidak keluar kamar setelah aksi melarikan dirinya. Hinata yakin, pria itu memiliki selera makan yang berkelas. Ia tak mungkin mau memakan makanan rumahan sederhana. Uchiha keluarga kaya raya. Dia bisa mempekerjakan seorang chef handal untuk menjadi kepala dapur di rumah bak istananya.
Hinata membuka pintu kulkas, mata amethysnya menatap sekeranjang tomat segar yang ia dapat dari perkebunan milik keluarganya kemarin. Hanya satu menu yang bisa ia buat.
.
.
.
Uap dari panci yang berada di tengah meja membumbung tinggi. Sepasang sumpit dan sendok keramik sudah berada di sisi mangkuk keramik berisi nasi putih yang menguarkan uap hangat yang tipis.
Bulir-bulir keringat memenuhi dahi Hinata yang tertutup poninya. Ia menatap pria yang kini tengah mengarahkan sendok berisi sup tomat sederhana yang ia buat lima belas menit. Jantungnya berdegup kencang. Awalnya ia ragu bila Sasuke mau memakannya, namun saat melihat reaksinya saat melihat makan malam sudah tertata di meja, pria itu malah menarik kursi dan duduk itu cukup mengejutkan Hinata. Ini hanya menu sederhana, jauh dari menu kelas bintang lima yang mungkin selalu mengisi perut pria Uchiha itu.
Merasa diperhatikan, bola matanya bergulir, menatap Hinata yang hanya melihatnya makan. "Kau tak makan?" Dengan sendok yang berada di depan bibirnya.
"Ma-makan" seraya mengangkat sendoknya dengan gugup.
Saat sup itu masuk ke dalam rongga mulut dan mengalir ke tenggorokan Sasuke, Hinata menahan nafas. Bersiap menerima segala hujatan yang berseliweran di kepalanya.
"Hn, tidak buruk"
Mata amethysnya berkedip dengan frekuensi cepat.
"Apa? Kau mau bagian ku juga?" Ujar Sasuke seraya mengarahkan sendoknya ke gadis berponi rata yang tercenung.
"Hah?"
"Atau... kau mau ku suapi?"
Hinata melotot, dengan cepat ia menggelengkan kepala. Dengan wajah memerah, ia mulai menyondok nasi dan supnya secepat yang ia bisa.
"Ukhuk ukhuk..."
Tangan putihnya menutup bibirnya, matanya setengah terpejam dengan salah satu tangan meraih air putih. Saat telinganya mendengar kekehan pelan sarat sindiran, Hinata melirik Sasuke yang tengah menatapnya remeh.
"Se-seharusnya kau berterima kasih!" Karna aku sudah memasak untukmu pantat jelek!
Rasa laparnya sudah menguap.
Sasuke menopang dagu, matanya menatap datar Hinata. Supnya sudah tandas, hanya menyisakan nasi pada pinggiran mangkuknya. "Bukankah itu tugasmu, TUAN rumah"
Astaga, ia bisa hipertensi!
.
.
.
Buku tebal bertebaran pada karpet bulunya. Bunyi keyboard yang di tekan memenuhi ruang kamar yang beraroma lavender. Seorang gadis dengan piyama panda tengah menatap laptopnya dengan alis menukik. Jari jemarinya tak berhenti menari, bibirnya bergumam tak jelas.
"Dasar pantat ayam!" Jerit Hinata.
Kenapa pria itu sungguh menyebalkan! Semua kalimat yang keluar dari bibirnya itu selalu menusuk jantungnya. Astaga! Sasuke sudah nyaris berkepala tiga dan ia selalu bertingkah kekanak-kanakan. Seumur hidupnya, ia tak pernah sejengkel ini. Sungguh!
PIP
"Eh!?"
.
.
.
Hinata mendekap erat laptop putihnya. Amethysnya melirik pintu berdaun satu berwarna cokelat dengan gelisah. Ia berjalan ke kanan dan ke kiri, layaknya setrikaan. Menggigit bibir bawahnya, ia mendesah pelan. Inikah ganjaran yang diberikan tuhan setelah ia menghina pria itu? Ia melangkah menjauhi pintu itu, namun langkahnya kembali terhenti, lagi. Ia menatap laptopnya prihatin. Setengah nyawanya ada di sini, ia tak ingin perjuangannya sia-sia dikarnakan kecerobohannya. Meneguk ludah pelan, ia kembali mendekati pintu itu. Tangannya terangkat, siap mengetuk pintu sang pemilik kamar.
Pintu terbuka, memperlihatkan sang pemiliknya. Sasuke muncul dengan kaus putih berlengan pendek dan celana hitam selutut. Sebuah gelas kaca kosong berada dalam genggamannya. Tangan Hinata masih di udara, bibirnya kembali terkatup.
"Hn" alisnya tebalnya terangkat, pertanyaan non verbal yang ia tunjukkan saat menemukan Hinata berada di depan kamarnya.
"A-ano" ia melirik melalui poni yang sudah melewati alisnya.
Sasuke membuka pintunya lebar, tubuhnya bersandar pada kusen pintu.
"Mau mencaciku lagi, hm?"
Poninya bergerak ke kanan dan kiri, seiring dengan gelengan kepalanya.
"Lalu?" matanya menatap Hinata bosan, ia mengangkat gelas kosongnya. Merasa tak ada waktu menanggapi gadis linglung dihadapanya, ia mulai meninggalkan Hinata yang tengah berperang dengan batinnya.
"Tu-tunggu!" Ujar Hinata cepat. Matanya menatap punggung lebar itu. "A-aku minta tolong..." lanjutnya lirih seraya menunduk.
Sasuke berbalik, ia bersidekap. "Apa yang ku dapat?"
Mata amethysnya berkaca-kaca, tangannya terkepal kuat. Bayangan wajah Sakura yang kecewa berterbangan di pikirannya. Tiga puluh hari lamanya ia mengerjakan tugas ini, dan dalam sehari raib tanpa jejak. Ia belum menyerahkan kopi-an lengkapnya pada gadis bubble gum itu. Sakura hanya menyimpan file yang masih setengah jadi. Tak ada waktu untuk mengerjakan ulang, tugas diserahkan besok sedangkan laptopnya mati tanpa sebab!
"Ku-kumohon, bantu aku..."
Desahan panjang keluar dari bibir tipis Sasuke, ia menatap Hinata malas. Tubuh tegapnya berputar, ia berbalik arah. "Cepat masuk"
.
.
.
Mata amethysnya bergerak pelan, menelusuri kamar Sasuke yang dalam kondisi yang bisa dikatakan tidak cukup baik. Tumpukan kertas yang entah kapan datang itu menjulang tinggi di sudut ruangan. Aroma pinus bercampur mint menyapa indera penciumannya. Hawa dingin membelai kulit Hinata yang hanya terlapis piyama tipis. Pintu balkom dibiarkan terbuka, menghantarkan udara dingin malam yang sanggup membuatnya menggigil. Belum lagi pendingin ruangan yang menyala tepat berada di kembali menatap laptop naasnya. Ia tak mengerti apa yang dilakukan pria itu. Menggigit bibir bawahnya -lagi- ia mendesah pelan.
"Berhenti lakukan itu sekarang juga atau ku buang laptopmu" ujar Sasuke dengan mata mendelik tajam.
PIP
Layar yang sebelumnya hitam, kini mengeluarkan cahaya dengan tulisan yang muncul di layar laptopnya. Hinata berjengkit, ia mendekatkan tubuhnya pada layar laptop yang tanpa sadar sudah menghapus jarak antara dirinya dan Sasuke. Matanya berbinar kala layar destopnya kembali muncul seperti sedia kala.
"Kau suka download film sembarangan"
Refleks, Hinata menoleh hingga hidung mungilnya menempel pada pipi Sasuke.
"Ma-maaf!" Ujar Hinata seraya mundur kilat dengan jantung berdegup kencang.
Sasuke menoleh, menatap Hinata datar. "Kau download sembarangan bodoh"
Hinata mengerjap. "Eh?" Ia sedikit merapat, menatap layar laptop dan wajah Sasuke bergantian.
Jemari panjang Sasuke bergerak. "Lihat, berapa ratus virus yang bersarang akibat tindakan bodohmu" lanjutnya seraya berdecak. "Kau ini bodoh atau apa? Jelas sekali ini hanya jebakan"
Hinata mengerucutkan bibirnya. "Ma-mana aku tau"
"Makanya jangan sok tau"
"Dari pada kau menghinaku, lebih baik kau mengajarkan ku" cibir Hinata pelan.
"Setelah aku menolongmu, inilah yang ku dapat, hm?"
Hinata gelagapan, tangannya bergerak cepat di depan wajahnya. "Bu-bukan begitu, aku hanya-"
Sasuke bangkit dari duduknya, dan segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Hinata menatap Sasuke dan laptopnya bergantian. "A-ano..."
"Apalagi? Laptopmu sudah menyala kan? Datanya sudah kembali lagi, jadi sekarang keluarlah" ujar Sasuke seraya memunggui Hinata.
Hinata memajukan bibirnya.
Seketika Sasuke terduduk, tangannya meraih ponsel putih yang berada di atas nakas terdekat. Punggungnya ia sandarkan ke dinding dengan hari jemari yang sibuk bergerak di atas layar ponsel. "Tunggu apalagi?"
Gadis dengan rambut memutupi punggung mungilnya itu berjengkit. Tangannya terulur, meraih laptopnya dan melaksanakan perintah Sasuke-lebih tepatnya pengusiran.
"Tunggu"
Tangannya sudah di atas kenop pintu. Dengan gerakan patah-patah, ia menoleh. Matanya bergerak gelisah, engga menatap bola mata hitam yang tengah menatapnya lekat.
"Ambilkan aku air" ujar Sasuke seraya mengangsurkan gelas kosongnya.
.
.
.
Ada satu hal yang ia sadari bahwa tinggal satu atap dengan pria Uchiha adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Hanya dua hari. Hanya kurang dari empat puluh delapan jam ia sudah dibuat mual, pening dan ingin muntah seperti orang yang baru turun dari wahana cangkir putar yang bergerak dengan kecepatan penuh. Hanya dua hari dan ia sudah dapat menyimpulkan bahwa Sasuke seratus persen pria menyebalkan yang pernah ia temui selama hidupnya.
Dengan langkah gontai, ia menyeret kakinya. Memaksanya untuk bergerak walau bertolak belakang dengan hatinya. Sudah cukup kemarin ia membolos, sudah cukup ia melihat layar ponsel dengan puluhan panggilan tak terjawab dari sahabat merah muda dan pirangnya. Dua hari lagi. Empat puluh delapan jam lagi ia terbebas dari Sasuke. Hari ini Hanabi juga akan pulang -lebih tepatnya karna Hinata memaksa adik semata wayangnya itu untuk pulang hari ini.
Hinata menggeser pintu kelasnya dengan pelan. Langkahnya semakin tak bertenaga kala Sakura dan Ino sudah berada di mejanya dengan wajah menyelidik.
"Kemarin kau kemana?"
"Sabar Ino pig. Mungkin saja Hinata sakit. Iya kan Hinata-chan?"
Hinata meletakkan kepalanya di atas meja dengan posisi menghadap jendela. Enggan menjawab tapi tegakah ia membiarkan kedua sahabatnya pergi dengan pertanyaan yang tak akan terjawab sebelum Hinata yang menyelesaikannya sendiri? Hinata menegakkan punggungnya kemudian matanya bergulir, menatap sepasang emerald dan aquamarine itu bergantian.
"Ba-bagaimana jika aku jelaskan setelah kita makan siang?"
.
.
.
Jika seorang pelajar diberikan pertanyaan pelajaran apa yang paling dibenci, maka Hinata yakin bahwa sembilan puluh persen akan menjawab segala hal yang berhubungan dengan hitung menghitung. Entah itu matematika, fisika ataupun kimia.
Suasana kelas begitu hening semenjak tiga puluh menit lalu. Hinata memelototi kertas ujiannya. Masih ada enam soal yang belum ia jamah. Mengerutkan kening gemas, ia mengerucutkan bibirnya kala tak menemukan apapun di dalam otak lambannya. Seolah mengibarkan bendera putih, ia menopang dagu seraya menatap halaman sekolah bosan.
Tak ada yang menarik di sana. Hanya ada tanah kosong dengan tiga pohon besar yang rimbun. Beberapa bangku besi yang mengelilingi halaman dan beberapa tanaman yang tak terawat. Matanya bergulir, menatap langit yang tertutup awan putih yang bergerak lamban ke selatan. Matahari tak bersinar terik dengan angin yang membawa kesejukan melalui jendela kelas yang terbuka.
Indah dan cerah
Tapi cuaca menyenangkan hari ini tak mempengaruhi mood yang sedang berada di dasar jurang.
"Hyuuga"
Hinata berjengkit kala nama marganya mengudara. Ia menoleh dengan gerakan patah-patah dan seketika ia ingin masuk ke lubang hitam yang akan menelannya saat menatap wajah sang guru seolah terdapat empat siku-siku muncul di dahinya.
Menelan ludah dengan pelan kala mendapati penghuni kelas tengah menatapnya. "I-iya?"
Sret
Suara pintu yang digeser segera memutuskan segala kontak mata pada dirinya. Hinata menghela nafas. Setidaknya tidak semenegangkan saat seluruh mata tertuju padanya.
"Siapa itu?"
Seorang pria dengan perawakan tegap memasukin kelas dengan tenang. Mata hitamnya bergerak, menatap seluruh penghuni ruangan yang tengah dilanda keterkejutan.
"Hyuuga Hinata, kemari" ujarnya seraya menggerakkan tangannya.
Kenapa pantat ayam itu bisa di sini!
.
.
.
A/N
Maaf agak lama. Buat ff multichap ternyata sulit. Maaf kalo berantakan atau kurang menarik. Masih tahap belajar, hehe. Sy engga bisa ngeditnya karna nulis lewat hp-lagi. Pake kompi males soalnya. Ini juga nulis pas lagi jam kerja hehe.
Big thanks to:
Hwang ahdo, indigo pie, rencaggie, arcan's girl, aindri961, black eyes947, name nm, name nm, ucsahyhi, no name, lovely sasuhina, puchan and nurul 851.
Makasih udah mau review, fav dan follow. Seneng ternyata ada responnya :"D makasih udah mau baca.
Cynon
