Author Note:

Halo readersku tersayang! untuk mendukung jalan cerita kali ini, maka aku memutuskan untuk naikin rate dari fanfict ini hehehe / actually ini ga terlalu vulgar sebenernya, lebih ke smut tapi plis bagi reader tersayang untuk bijak yaa. Happy reading guys!

Kamus Jepang (unfaedah):

* Tadaima: Aku pulang

* Okaerinasai: Welcome home.

- CLUELESS –

Tetsuya menduduki dirinya tepat di sisi kiri Akashi yang masih terlelap. Ini sudah waktunya membangunkan Akashi untuk bersiap-siap ke kantor mengingat suaminya sangat payah dalam urusan bangun pagi. Tangan kanan Tetsuya menangkup pipi kiri Akashi. Mengelusnya dengan lembut. Entah sudah berapa sering ia mengucap rasa syukur bisa menjadi teman hidup dari seorang laki-laki yang bernama 'Akashi Seijuurou' dan menyandang marga 'Akashi' sebagai pengganti marga 'Kuroko'nya.

Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menjadi saksi bisu perjalanan hidup Akashi Seijuurou. Selama setahun lebih menyandang status sebagai istri dari pewaris tunggal 'Akashi'. Bagi Tetsuya, parameter kebahagiaannya bukan lagi sekedar harta melimpah atau segala keinginan yang selalu terwujud dengan hanya sekali ucap seperti dongeng-dongen Disney kebanyakan. Tapi baginya, parameter kebahagiaannya adalah ia begitu dicintai dan disayangi melebihi apapun. Sejak pertama kali mereka jatuh hati, Tetsuya sangat tau bahwa selama ini, Akashi selalu melindunginya dengan segenap hati, selalu mengerti di setiap kondisi Tetsuya, selalu menemani, tidak pernah sekalipun membalikkan badan atau pun meninggalkan Tetsuya seorang diri. Dan Tetsuya tau, bahwa Akashi mementingkan dirinya lebih dari apapun, termasuk lebih dari kepentingan diri Akashi sendiri. Sesimpel ketika Tetsuya sedang bad mood, Akashi akan mengenyampingkan perasaannya terlebih dahulu dan berusaha untuk menghibur Tetsuya.

"Melihat my little bunny kembali tertawa, bagiku sudah cukup untuk menyelesaikan segala masalah dan beban hidup. Setiap melihat senyum Tetsuya, aku selalu mendapatkan kekuatan untuk kembali berdiri dan menyelesaikan semuanya." Kalimat yang sama setiap kali Tetsuya protes karena Akashi jarang membagi beban hidupnya pada Tetsuya. Tapi setidaknya itu dulu sebelum mereka menikah. Setelah menikah, tidak ada lagi yang disembunyikan oleh Akashi pada Tetsuya. Segala cerita yang terjadi atau segala masalah yang datang Akashi selalu membaginya pada Tetsuya.

Dan entah sejak kapan, janji atas diri sendiri tersebut muncul di diri Tetsuya. Bahwa ia akan mencintai Akashi segenap jiwa dan raganya. Bahwa ia akan setia sampai maut—ah bahkan sampai di surga nanti ia ingin tetap bersama Akashi. Tetap tinggal disetiap keadaan. Tetsuya akan menjadi singgahsana terbaik untuk Akashi pulang untuk berkeluh kesah. Karena padanya, Akashi dapat membagi cerita dan beban hidupnya tanpa perlu takut dihujat dan untuk Tetsuya, tidak ada yang lebih indah dari kepulangannya pada Akashi.

Tetsuya mengecup bibir suaminya hati-hati. Kemudian menyampingkan rambut-rambut halus yang menutupi dahi Akashi.

Akibat terlalu disayangi dan dicintai oleh Akashi terkadang membuat tingkat kehausan memiliki Akashi lebih dari apapun semakin tinggi. Meskipun sudah menikahi Akashi, Tetsuya tetap ingin memiliki Akashi lebih dan lebih lagi. Mendekap Akashi hanya untuk dirinya seorang dan apapun yang ada hubungannya dengan Akashi, Tetsuya seperti sangat sangat sangat egois. Seperti tidak sudi Akashi terbagi oleh apapun dan oleh siapapun. Sejujurnya Tetsuya sangat cemburu dengan orang-orang kantor, terutama dokumen-dokumen yang berada di meja kerja Akashi. Kertas-kertas tersebut selalu disentuh dan dilihat seksama oleh Akashi setiap lima hari dalam seminggu dan dua belas jam per hari. Sedangkan Tetsuya, meskipun sabtu minggu ia dan Akashi menghabiskan waktu 24 jam bersama tetap saja Tetsuya merasa kurang. Ia ingin lebih banyak waktu lagi untuk mereka habiskan bersama.

Termasuk sekarang ini. Entah kenapa, hari ini ia ingin suaminya tetap tinggal di rumah. Setengah dirinya seperti menolak untuk membangunkan Akashi, tetapi setengah dirinya yang lain menyadari bahwa ke-cemburu-an ini sudah tidak lagi logis dan rasa memiliki Akashi untuk dirinya seorang masihkah dapat disebut wajar? Tapi hari ini Tetsuya ingin sekali menghabiskan seharian penuh bersama Akashi. Seperti menonton film di teater pribadi mereka, atau pergi ke taman bermain, atau seharian malas-malasan di tempat tidur pun juga tidak masalah. Selama Akashi terus berada disampingnya dan memeluknya.

"Sei-kun," Ini aneh. Bahkan seluruh tubuhnya seperti menolak untuk membangunkan Akashi. Panggilan tadi juga hanya terdengar seperti hembusan angin. Tidak seperti panggilan kemarin-kemarin yang mantap bahkan sedikit tinggi—sekali lagi, Akashi benar-benar buruk perihal bangun pagi.

Tetsuya menghembuskan nafasnya. Kali ini, ia tidak ingin membangunkan Akashi. Biar saja ia telat pergi ke kantor selagi Tetsuya masih bisa berlama-lama dengan suaminya. Tetsuya menaiki kasur king size-nya kemudian memposisikan dirinya disamping Akashi. Menjadikan lengan kiri Akashi sebagai bantalnya kemudian ikut tertidur disamping Akashi.

Gomen, Sei-kun. Ini keegoisanku yang terakhir. Semoga.

- CLUELESS –

Akashi mengernyitkan dahinya. Sinar matahari mencoba masuk dari setiap celah yang ada di kamar tidurnya bersama Tetsuya. Kelopak matanya perlahan terbuka dan menampilkan dua mata heterokom berwarna merah dan kuning keemasannya. Akashi hendak bangun dari posisi tidurannya ketika ia merasakan sesuatu yang berat menimpa tubuh bagian kirinya dan mendapati Tetsuya tengah terlelap tidur disampingnya. Tumben sekali ia lebih dulu bangun dibanding istrinya.

Akashi memiringkan tubuhnya, meletakkan tangan kanannya sebagai penunjang kepalanya. Dari posisi seperti ini, ia dapat melihat dengan jelas wajah istrinya yang selalu terlihat damai ketika sedang tertidur. Disingkirkannya rambut-rambut yang menghalangi pemandangan indah pagi ini. Sungguh, Tetsuya sangat indah. Keindahannya melebihi apapun. Kulit seputih susu, hidung kecil yang menggemaskan, bibir tipis berwarna merah muda, dan jangan lupakan mata biru muda yang sedalam dan sejernih laut.

Akashi mengelus pipi Tetsuya lembut. Membuat sang korban mengernyit terganggu akibat sentuhan dadakan tersebut. Perlahan-lahan kelopak matanya terbuka. "Ohayo, my love." Akashi mencium bibir Tetsuya yang baginya selalu terasa manis.

"Ohayo, Sei-kun." Tetsuya tersenyum kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Akashi dan menariknya untuk mendekat. Akashi sempet terkejut dengan tindakan Tetsuya tetapi hanya sebentar setelahnya ia mengikuti alur ciuman Tetsuya. Ciuman mereka perlahan berubah menjadi lebih intens. Saling melumat dan saling mengaitkan lidah satu sama lain. Tangan kiri Tetsuya menyusup di surai kemerahan milik Akashi, kemudian meremasnya. Sedangkan tangan kanan Akashi sudah mulai menyusup ke dalam piyama yang dikenakan Tetsuya. Mengelus-elus bagian belakang istrinya.

Sekali dua kali longlongan kenikmatan tak sengaja keluar dari mulut Tetsuya, membuat Akashi semakin bergairah pagi ini. Tangan kanan Akashi terus merambat, kali ini ke bagian perut Tetsuya. Mengelus-ngelus perut rata milik istrinya. Seketika ada harapan yang timbul di benak Akashi tentang makhluk hidup yang nanti akan hidup di perut rata ini. Puas bermain dibagian perut, tangan Akashi semakin naik ke arah dada Tetsuya, tetapi secara cepat dan tiba-tiba Tetsuya menghentikan kegiatan mereka secara sepihak.

Mendorong bahu Akashi sehingga membuat ciuman panas mereka terhenti. Gerakan dada Tetsuya naik turun tak karuan, ia hampir kehabisan nafas karena ciuman panas mereka pagi ini. Semburat merah yang muncul di kedua pipi Tetsuya dan juga bibir tipis merah mudanya yang basah entah karena air liurnya atau air liur Akashi, membuat Tetsuya semakin terlihat sexy dimata Akashi. Ia semakin ingin menyantap istrinya pagi ini.

Akashi mencoba menarik Tetsuya kembali ke rengkuhannya, melanjutkan kegiatan mereka yang baru seperempat berjalan, tetapi Tetsuya menahan bahu Akashi. Memberi tanda bahwa ia menolak melakukannya pagi ini. Mengerti dengan tatapan kecewa sang suami, Tetsuya menunjuk jam digital di atas nakas tempat tidur. Seperti déjà vu, Akashi mengikuti arah dari telunjuk Tetsuya dan terbelalak kaget dengan jam yang sudah menunjukkan pukul 10.30 siang. Ia terlambat pergi ke kantor hari ini.

"Holy Shit!" tanpa pikir panjang Akashi meloncat dari kasurnya kemudian berlari menuju kamar mandi dan seketika perasaan bersalah muncul di dalam diri Tetsuya. Seharusnya, dia tidak melakukan hal egois semacam tadi.

- CLUELESS –

"Hai', Shuzo. Aku ingin meeting hari ini diundur selama beberapa menit. Ah tidak, tidak. Ada yang harus aku urus di rumah. Lima belas menit lagi aku akan sampai kantor." Tetsuya memandang sedih punggung Akashi yang sibuk menelpon sekretaris pribadinya. Ini salahnya karena tidak membangunkan Akashi. Padahal Akashi memiliki meeting penting yang harus di hadiri. Sedangkan ia justru melakukan hal egois seperti itu.

Akashi mematikan sambungan telponnya. Semua sudah terurus. Ia tidak menyangka bahwa hari ini ia dan Tetsuya akan kesiangan seperti ini. Dihembuskan nafasnya pelan. Setidaknya masalah ini sudah teratasi dengan baik. "Sayang aku—" mata Akashi terbelalak kaget menyaksikan air mata meluncur bebas dari mata Tetsuya. Tanpa banyak bicara Akashi merengkuh tubuh Tetsuya dan semakin membuat Tetsuya terisak dipelukannya.

"Gomen, Sei-kun. Aku… Aku…" Tetsuya seperti tidak bisa menemukan kalimat yang tepat untuk menjelaskannya. Ia sangat bersalah atas kejadian ini. Jika saja ia tidak egois, mungkin Akashi tidak akan kesiangan seperti ini. Tetsuya sudah gagal menjadi istri yang baik bagi Akashi.

"Sstt... It's okay, love." Diciuminya pucuk kepala Tetsuya berkali-kali. Dari sekian hal yang Akashi benci, melihat Tetsuya menangis adalah hal teratas yang paling ia benci dan tidak diharapkan keterjadiannya. Tapi beberaapa kali, hal tersebut justru terjadi. Melihat Tetsuya menangis, apapun itu selalu berhasil mengoyak hati Akashi. Tangis kesedihan Tetsuya adalah hal yang paling paling paling akhir ingin ia lihat.

Setelah mendapati Tetsuya mulai tenang, Akashi mengendurkan pelukannya tapi masih tidak berniat untuk melepaskan lingkaran tangannya di pinggul Tetsuya. Dihapusnya jejak-jejak air mata yang masih membekas. Kemudian dikecupinya kelopak mata kiri dan kanan Tetsuya bergantian.

"Gomen, Sei-kun," Tetsuya menarik lengan kemeja Akashi. Kepalanya tertunduk dalam. Tetsuya benar-benar menyesali perbuatannya hari ini. Sedangkan Akashi mengernyit bingung mengapa istrinya sedari tadi terus meminta maaf. Padahal tidak ada yang perlu dimaafkan dari istrinya karena Akashi tidak menemukan kesalahan apapun yang diperbuat oleh Tetsuya.

"Tidak ada yang harus aku maafkan darimu, sayang."

Tetsuya menggeleng. Membantah kalimat Akashi. "Itu karena Sei-kun tidak mengetahuinnya,"

"Then, would you mind to tell me, love?" tanya Akashi selembut mungkin. Menghapus air mata yang sekali dua kali masih menetes membasahi pipi Tetsuya.

"Jika karena bukan keegoisanku, mungkin Sei-kun sudah menghadiri meeting penting itu tanpa harus menundanya seperti ini." Akashi semakin mengernyit bingung. Ia masih tidak menemukan letak kesalahan Tetsuya seperti yang kekasih hatinya katakan. Tetsuya semakin meremas pegangannya pada lengan kemeja Akashi.

"Jika saja… Jika saja aku benar-benar membangunkan Sei-kun dan tidak egois untuk menghabiskan waktu bersama Sei-kun, mungkin… mungkin… meeting-nya tidak harus diundur seperti ini,"air mata Tetsuya kembali menderas dan Akashi kembali mengeratkan pelukannya.

Geez. Akashi tidak dapat menahan senyum bahagianya. Ia pikir Tetsuya melakukan kesalahan apa, ternyata hanya karena Tetsuya ingin menghabiskan waktu lebih lama dengannya yang membuat si mungil kesayangannya menangis. Ia tau, ia benci melihat Tetsuya menangis apa lagi menangis atas dirinya. Tetapi pagi ini, entah kenapa Akashi sangat senang Tetsuya menangis seperti ini karena dirinya.

Beberapa menit kemudian Tetsuya mulai kembali tenang tetapi kepalanya masih tertunduk. Masih belum ada keberanian untuk menatap mata Akashi. Dan untuk kedua kalinya Akashi hanya merenggangkan pelukannya dan tak berniat melepas, menghapus sisa-sisa air mata Tetsuya. "Look at me, my little bunny," Akashi mengangkat dagu Tetsuya. Membuat mata mereka saling bertemu. Dari kedua mata Akashi, tidak ditemukan amarah atau rasa kecewa disana. Hanya ada perasaan sayang yang terpancar lebih.

"Sei-kun tidak marah?"

"Of course not, baby. Bagaimana aku bisa marah hanya karena istriku ingin memiliki banyak waktu denganku?"

"Demo—" Akashi mengecup bibir Tetsuya sekilas. Memberi tanda untuk tidak membantah segala jawaban yang keluar dari mulutnya.

"Aku tidak akan marah hanya karena Tetsuya-ku egois akan diriku. Aku juga tidak akan marah hanya karena Tetsuya-ku ingin menghabiskan waktu bersamaku dan bermanja-manja denganku. Lagi pula, aku memang sudah memberikan hidup dan matiku untukmu, sayang. Everything I am is yours." Akashi mengecup punggung tangan istrinya.

Mendengar jawaban suaminya membuat segala rasa bersalah yang sempat timbul di diri Tetsuya lenyap seketika. Tangisannya pun tergantikan dengan senyum lebar yang menghanyutkan dunia Akashi. "Ah ya, aku jadi ingat." Akashi mengambil ponsel miliknya dari saku celana. Memencet beberapa angka di layarnya dengan tangan kanannya. Tangan kirinya masih bertengger di pinggul Tetsuya.

"Sei-kun ingin apa?" tanya Tetsuya curiga.

"Hmm? Tentu saja menelpon Shuzo. Aku akan membatalkan meeting hari ini dan menghabiskan waktu bersamamu." Jawab Akashi sambil mencium kening Tetsuya sekilas. Nada panggilan tersebut hanya berbunyi sekali, kemudian langsung terputus tergantikan oleh sebuah suara berat diseberang sana.

"Ah Shuzo, aku ingin meeting hari ini dibatal—" Tetsuya merebut ponsel milik Akashi. Kemudian mematikan panggilan tersebut. Seketika wajah Tetsuya berubah menjadi kesal.

"Akashi Seijuurou," tubuh Akashi tiba-tiba menjadi tegang. Istrinya sudah memasang ekspresi disiplinnya. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Tapi ketegangan tersebut hanya bertahan beberapa detik saja. Setelahnya Tetsuya memasang tampang angelic nya dan jangan lupakan senyuman manisnya. Menangkup kedua pipi Akashi dan mengelusnya penuh cinta.

"Terimakasih karena selalu memberi pengertian kepadaku, sayang. Aku memang ingin menghabiskan waktu bersamamu. Tapi aku tidak ingin kau membatalkan meeting tersebut."

Akashi mengernyit bingung. Sedangkan Tetsuya tak menggubris ekspresi bingung dari suaminya. Disampirkannya jas berwarna hitam ke tubuh Akashi. "Apa kau yakin, love?" tanya Akashi ragu-ragu. Bukankah Tetsuya sendiri yang menginginkan hari ini dihabiskan berdua saja? Kenapa tiba-tiba berubah tidak mau?

Tetsuya mengangguk mantap. Tangannya mahir memakaikan dasi berwarna merah di kerah leher suaminya. Setelah dasi merah tersebut tersampul sempurna, Tetsuya mencium bibir suaminya sekilas. "100% yakin."

"Tidak akan menyesal?"

Tetsuya menggeleng.

"Yakin tidak akan menyesal?" tanya Akashi kembali memastikan.

"Tch! Sei, berhenti menanyakan hal yang sudah ku jawab!" titah Tetsuya yang disambut dengan helaan nafas kecewa dari Akashi. Padahal sebenarnya ia juga ingin berleyeh-leyeh hari ini berasama Tetsuya. Melanjutkan kegiatan mereka tadi pagi yang baru seperempat berjalan. Mengingat terkadang pekerjaan di kantor menggila dan membuatnya pulang lebih larut dari biasanya.

Tetsuya menahan tawa ketika melihat ekspresi yang ditampilkan suaminya. Ia mengerti apa yang sedang dipikirkan dan diharapkan oleh Akashi. Kedua kakinya menjinjit. Mencoba untuk menyamakan tingginya dengan suaminya.

Kalimat Tetsuya yang membuat ekspresi Akashi sontak berubah menjadi sumringah dan ingin cepat-cepat membereskan segera pekerjaannya di kantor.

"Akan ada reward untuk anak baik setelah pulang kantor," bisik Tetsuya dengan nada yang sengaja dibuat menggoda iman suaminya dan mengakhiri kalimatnya dengan menggigit ujung telinga Akashi.

Aih, istrinya selalu berhasil menggodanya.

- CLUELESS –

"Tadaima," Akashi membuka sepatu pantofel kulitnya dan menggantinya dengan slop rumah. Membuka jas dan dasi kemudian melemparkannya ke sembarang tempat. Malam ini ia pulang sedikit terlambat. Otak dan tubuhnya seperti terkuras habis setelah melakukan brain storming sejak siang tadi. Iya butuh segera me-recharge dirinya dan satu hal yang sangat Akashi butuhkan detik ini adalah istrinya tersayang. Akashi Tetsuya.

Tapi, Akashi tidak menemukan sosok mungilnya tersebut, baik di dapur atau di ruang keluarga. Biasanya Tetsuya akan menunggu kepulangannya dan menyambutnya. Akashi melanjutkan langkahnya menuju kamar, mungkin Tetsuya sudah tertidur di kamar.

"Sayang, Aku pul—" kedua bola mata Akashi membesar ketika hal pertama yang ia temui setelah membuka pintu kamar tidurnya dengan Tetsuya adalah sebuah pemandangan langka. Pemandangan yang mampu membuat Akashi seketika lupa bernafas atau kehabisan kata-kata.

Saat ini Tetsuya tengah terduduk di pinggir ranjang yang tepat menghadap ke pintu kamar. Mengenakan kimono satu lapis berwarna merah dengan garis berwarna emas pada pinggir Kimononya. Setengah bahunya terekspos akibat Kimono yang memang tidak dipakai dengan benar serta kebesaran di tubuhnya. Satu kakinya terangkat sedangkan satu kakinya berselonjor. Membuat area bagian bawahnya sedikit terekspos.

Perlahan Tetsuya melangkahkan kakinya menuju tempat Akashi diam membeku. Mata heterokom tersebut belum berkedip sedetikpun. Menatap intens setiap inci tubuh Tetsuya yang tenggelam dengan kimono tersebut. Jelas saja, kimono yang dikenakan Tetsuya adalah kimono yang Akashi gunakan jika sedang memainkan shogi dengan keluarga Akashi yang lain.

Tetsuya mendorong tubuh Akashi perlahan. Menyudutkan tubuh laki-laki yang jauh lebih besar darinya ke dinding di belakangnya. Kaki kanan Tetsuya berada diantara kedua kaki Akashi. Sesekali dengkulnya sengaja digesekkan ke 'danger area' milik Akashi. Ditariknya kerah baju Akashi membuat laki-laki yang masih belum berkutik tersebut sedikit tertunduk.

"Okaerinasai, Seijuurou-sama," bisik Tetsuya yang terdengar menggoda di telinga Akashi. Kemudian tanpa permisi langsung melumat bibir Akashi ganas.

Akashi yang sebelumnya masih shock dengan serangan dadakan dari istrinya perlahan mulai kembali ke alam sadarnya. Mengikuti alur permainan istrinya. Membiarkan istrinya memimpin dalam urusan ini terlebih dahulu. Tangan Tetsuya perlahan bergerak turun. Membuka kancing kemeja milik suaminya satu per satu. Kemudian mengelus perut six pack Akashi. Sedangkan Akashi menarik Tetsuya untuk semakin dekat dengan dirinya. Tidak akan ia biarkan sedikit celah hadir di antara dirinya dengan Tetsuya.

Tetsuya melepaskan tautan mereka kemudian menciumi setiap inchi tubuh Akashi. Memberi kecupan tanda sayang di beberapa titik seperti bahu dan dada. Tentu saja ia tidak akan berani meninggalkan jejak kemerahan di leher suaminya. Itu akan mengundang banyak perhatian orang mengingat suaminya adalah public figure yang sangat berpengaruh di Jepang. Meskipun Tetsuya yakin, Akashi sama sekali tidak keberatan jika ia meninggalkan jejak di lehernya.

Puas bermain-main di bagian bahu dan dada Akashi, Tetsuya semakin menurunkan ciumannya ke arah nipple Akashi. Menjilatinya dan memainkannya dengan lidahnya. Selesai dengan sebelah kiri, ia akan pindah ke sebelah kanan dan melakukan hal yang sama. Menjilat kemudian memainkannya dengan lidah. "Ahh shit," umpatan kenikmatan lolos dari mulut Akashi.

Setelah merasa kedua nipple Akashi mengeras, ciuman Tetsuya semakin turun. Diciuminya bentuk kotak-kotak sebanyak enam yang muncul di perut Akashi. Sekali dua kali memberikan tanda cinta di bagian pinggang Akashi. Selesai dibagian perut Akashi, Tetsuya semakin turun kebawah. Kali ini wajahnya sudah berhadapan dengan 'little Akashi'. Tetsuya mengelus-ngelus area private Akashi dari luar celana.

"Sei sudah mengeras," ucap Tetsuya dengan mata yang terlihat sangat polos. Tatapan yang membuat Akashi semakin lepas kendali atas nafsu yang menggebu-gebu dari dalam dirinya. Dilepaskannya kaitan belt yang melingkar di celana bahan milik Akashi, kemudian membuka kancing dan resleting dari celana Akashi. Dirinya baru saja bersiap untuk mengeluarkan bagian yang mengeras dari kandangnya, ketika Akashi secara tiba-tiba menggendongnya ala bridal style.

"Sei!" Protes Tetsuya karena rencananya dibuat gagal oleh suaminya. Sedangkan Akashi menyeringai busuk.

"Tidak semudah itu, sayangku." Dibantingnya Tetsuya di atas kasur. Membuat setengah tubuh Tetsuya terekspos karena kimono kebesaran milik Akashi tersingkap akibat bantingan Akashi beberapa detik yang lalu.

"I think you don't need this anymore, love." Akashi membuka ikat pinggang kimono Tetsuya dengan kasar. Membuat tubuh Tetsuya terekspos sepenuhnya. Akashi sejenak memandangi keindahan yang berada dibawahnya. Meskipun melakukan hal seperti ini bukan kali pertama bagi mereka, tetapi setiap kali Akashi melihat tubuh naked Tetsuya ia masih saja terpana. Sama seperti kali pertama mereka melakukan hubungan intim.

"Berhenti menatapku, Sei!" Titah Tetsuya. Wajahnya berusaha ditutupi dengan lengan tangan kirinya. Dan hal sama pula terjadi pada Tetsuya. Sampai kapanpun, ia belum terbiasa jika ditatap seperti itu oleh suaminya. Ia akan merasa sangat malu.

Akashi terkekeh kemudian menarik lengan kiri Tetsuya menjauhi wajahnya. "Maafkan aku, sayang. Kau sungguh indah sampai aku belum terbiasa melihat keindahanmu." Akashi menciumi punggung tangan Tetsuya. Menjilati jari jemarinya satu persatu. Membuat Tetsuya mendesah keenakan. Akashi selalu mengetahui titik-titik mana saja yang membuat Tetsuya mendesah nikmat. Tetsuya selalu dibuat tak berdaya jika mereka sedang melakukan kegiatan ranjang seperti ini. Seringai Akashi semakin lebar. Ia sudah seperti serigala yang sedang membidik mangsanya.

Di dekatkan wajahnya dengan wajah Tetsuya yang memerah. "Malam ini kau tidak akan selamat, Akashi Tetsuya." Bisik Akashi ditelinga Tetsuya sambil menjilat telinga yang memerah tersebut dan membuat desahan kembali keluar dari mulut Tetsuya.

"With my pleasure, Seijuurou-sama." Jawab Tetsuya dengan wajah dan nada yang semakin menggoda Akashi.

"Don't test my patience, love."

"Show me then, Sei."

"Sure. Aku berharap kau tidak menyesal dengan keputusanmu, sayang."

"Never." Akashi melahap bibir ranum Tetsuya tanpa ampun. Seperti seorang drakula yang haus akan darah. Atau seperti serigala yang menemukan mangsanya setelah tiga hari kelaparan. Akashi tidak peduli lagi tentang apapun selain dirinya dan Tetsuya malam ini. Istrinya benar-benar tengah menguji kesabarannya. And that's enough. Akan Akashi buat Tetsuya-nya menjeritkan namanya dibawah kungkungan kenikmatan yang akan ia ciptakan.

Ciuman ganas Akashi dan Tetsuya bertahan cukup lama hingga Tetsuya memukul-mukul bahu Akashi. Tapi Akashi seperti tidak menggubris. Ia sudah kalap dengan nafsu yang seperti mengalir bersama darah dan memenuhi setiap bagian tubuhnya. Sedangkan Tetsuya terus berusaha mendorong Akashi. Entah kenapa tiba-tiba sesuatu seperti terangkat dari dalam perutnya dan ingin keluar dari mulutnya.

Merasa kalah tenaga, Tetsuya menendang kakinya sehingga mengenai bagian sensitif Akashi. Membuat sang empunya mengerang ngilu karena tendangan istrinya. Seperti tidak peduli dengan apa yang barusan ia lakukan kepada suaminya, Tetsuya berlari menuju kamar mandi. Dari tempat Akashi—yang masih merintih kesakitan—dapat terdengar suara muntah-muntah Tetsuya.

Akashi yang langsung menyadari bahwa memang ada yang tidak beres dengan istrinya langsung berlari menuju kamar mandi dan menemukan Tetsuya tengah terkulai lemas dibawah closet duduk mereka. Wajahnya seketika berubah menjadi pucat.

"Tetsuya!"

- CLUELESS –

- TBC or End? –

EPILOG

Akashi menutup buku bacaannya. Menghembuskan nafasnya pelan. Mata heterokom-nya menatap laki-laki bersurau biru yang tertidur pulas disampingnya. Malam ini terlalu banyak hal yang mengejutkan terjadi. Seperti yang baru terjadi beberapa menit yang lalu. Ketika Tetsuya tidak henti-hentinya muntah-muntah. Jantung Akashi seperti berhenti berdetak ketika melihat orang yang begitu ia cintai terkulai lemas dibawah closet duduk mereka. Untung saja Dokter pribadi keluarga Akashi hanya mendiagnosa keracunan makanan yang menyebabkan Tetsuya muntah-muntah.

Dibenari selimut yang menutupi tubuh mungil Tetsuya sembari megecup kening sang istri lembut. Akashi tidak dapat membayangkan jika hal buruk terjadi pada Tetsuya-nya. Tentu saja ia akan menyalahkan dirinya jika sesuatu terjadi pada istrinya dan hal itu menandakan bahwa Akashi telah gagal menjadi suami terbaik untuk Tetsuya. Jadi, selagi hal buruk belum terjadi, Akashi akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengecilkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang menimpa mereka berdua, terlebih lagi istri tercintanya.

Dan hal kedua yang mengejutkan yang terjadi malam ini adalah bagaimana Tetsuya menggoda dirinya dengan memakai kimono kebesaran milik Akashi. Membuat nyaris seluruh kulit putihnya terekspos. Kimono berwarna merah dengan sentuhan warna emas yang minor sangat terlihat indah pada tubuh mungilnya. Belum lagi semburat merah yang menghiasi wajah imut Tetsuya, menjadikannya terlihat seksi tapi juga menggemaskan.

Akashi menghembuskan nafas beratnya. Mengangkat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Manik mata ruby dan gold miliknya menatap nanar gundukan yang tertutupi oleh celana piayama tidurnya. Miliknya kembali bangun akibat bayang-bayang Tetsuya menggodanya terus saja terputar. Kejam sekali rasanya. Melihat Tetsuya menggodanya adalah satu keajaiban yang super super langka Akashi dapati. Dan disaat keajaiban tersebut datang, sebuah penghalang besar muncul ditengah mereka. Seolah-olah ada sesuatu yang tak sudi jika mereka 'melakukannya' malam ini.

"Dan sekarang, apa yang harus aku lakukan untuk menenangkanmu, little Akashi?"

- CLUELESS –

- Epilog END -