Note(s): Fanfiksi ini mencampurkan sejarah dan fiksi, sehingga secara keseluruhan bisa dianggap fiksi belaka. Di luar itu, tidak ada maksud untuk menyinggung pihak mana pun. Ada dua sudut pandang yang digunakan bergantian dalam cerita ini tanpa petunjuk tertentu (bisa dikonklusikan sendiri). Cerita juga didominasi narasi yang (mungkin) bagi kebanyakan pembaca membosankan.

Hehe, serius banget, ya, saya. In conclusion; enjoy and happy reading.

.

.

oOo

.

Di akhir bulan September, tuanku ditugaskan untuk berangkat meliput perang. Perjalanan dari Jakarta melalui Balikpapan, Manila, Tokyo, hingga akhirnya sampai di lapangan terbang K-9 untuk menuju Busan akhirnya usai. Aku sempat berharap ada sedikit saja belas kasihan untukku yang selama ini selalu melewati dan mengunjungi medan yang tak ramah bersama tuanku, tapi sepertinya percuma. Selepas bermalam di Busan yang untuk mencapainya pun harus melewati jalanan yang katanya bagus, tak lama setelahnya tuanku kembali diajak mengarungi daratan alih-alih singgah santai setidaknya lebih lama seperti yang kuharapkan.

Ah, lagipula siapa aku. Mana ada wartawan perang yang datang ke kawasan seteru untuk santai-santai. Tugasku sudah barang tentu membantunya.

Seorang kapten dari pasukan Filipina yang kebetulan bertemu dengan tuanku di sebuah restoran stasiun kereta api Busan tampak sumringah mengetahui dari mana tuanku berasal. Indonesia netral terhadap Perang Korea meski belum secara resmi tergabung di PBB. Dengan itu, tuanku langsung diajaknya berkenalan dengan para pasukan Filipina.

Dan itu berarti, kembalilah kami harus beranjak. Menaiki jeep menuju suatu tempat berjarak setidaknya lima puluh kilometer dari restoran. Sudah kuduga sampai kapan pun tidak akan ada pengabulan untuk keinginanku bersantai barang sebentar saja.

Tak kusangka kutemukan sedikit yang lebih hidup di sana. Perkemahan di luar kota Miryang.

Meski tak jauh beda dari tanah semenanjung Korea lain yang suram tak berwarna sejauh kunjunganku di sini, ketika malam hari tempat yang kudatangi ini hidup oleh para serdadu dan pengungsi yang saling tanding tinju. Para pengungsi itu datang meminta makanan, dan sebagai gantinya harus mau ikut bertanding. Menang-kalah semua akan dapat uang, rokok, atau sepotong makanan sebagai hadiah. Di waktu ini bertanding tinju, di waktu berikutnya berganti sumo. Pada dasarnya para serdadu sepertinya lebih ingin bermain-main.

Tuanku disambut ramah oleh komandan batalion Filipina, dan dimulailah sesi ramah-tamah di antara mereka. Naas, tidak beruntung bagiku, aku terjatuh dari buku catatan tuanku. Terguling sampai ke dekat kerumunan serdadu-pengungsi di perkemahan di kebun kastanye ini. Duh. Tuan, anak buahmu ini bisa rusak sekali injak. Aku bahkan tidak tahu apakah kau membawa cadangan atau tidak. Kalau sampai sungguhan aku tidak bisa dipakai lagi, mestilah kau harus meminjam ke para komandan itu.

"Hey, kau belum dapat giliran bertanding, kan?"

Pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang pengungsi setempat dengan suara beratnya itu mencapai pendengaranku. Lebih dekat dibanding jarakku ke kerumunan, seorang pria Korea tinggi menghampiri pengungsi lain yang berdiri sedikit terpisah dari 'arena'. Ah, sedikit memprihatinkan melihat pemilik negeri justru menyandang titel 'pengungsi'.

Omong-omong, kadang aku merasa hebat karena bisa mengerti berbagai bahasa. Ini semua berkat tuanku yang mengajakku bepergian dan menulis-menyalin banyak hal dalam berbagai bahasa, mengisi kembali tintaku tiap kali habis. Aku bahkan mungkin lebih hebat dari tuanku dalam menguasai bahasa-bahasa tertentu.

Pemuda dengan tubuh yang lebih kecil hanya melirik sekilas pada pria tinggi yang memanggilnya, sebelum kembali memandang jauh ke tepian anak Sungai Nakdong.

Si tinggi garuk-garuk kepala. Seseorang yang sedang ia coba ajak bicara ini tidak tampak ramah.

"Kau tidak bisa sumo, ya? Mau latihan dulu denganku?"

Tak jua mendapat respon, si tinggi lagi-lagi garuk-garuk kepala. Tampaknya ia kehabisan akal untuk mengajak pemuda itu bicara.

Kini ditariknya pergelangan tangan pemuda itu dengan sedikit lebih memaksa, hingga meski harus dibuat risih sampai tampak jelas tergambar di rautnya, pemuda pendiam itu mau tak mau mengikuti.

Aku hampir ketinggalan dan tidak bisa lagi mengamati mereka, tapi beruntung seorang pesumo abal-abal—itu serdadu yang tengah bertanding sumo dengan seorang Korea—membuat entakan luar biasa keras di tanah hingga aku terlempar bersama debu dan pasir. Lanjut tertendang oleh yang lain. Terempas jauh berguling dan berhenti tak jauh dari si pria tinggi yang rupanya berjingkat-jingkat membawa si pemuda pendiam mendekat ke tepi sungai. Menjauh dari keramaian di kebun kastanye.

Aduh. Sempat kusebut ini beruntung tapi terempas sejauh ini tentu sakit rasanya.

Si tinggi membawa pemuda itu duduk di tanah berpasir. Meski enggan, si pemuda pendiam tidak bisa melawan karena pergelangannya masih ditaut cukup erat.

Begitu keduanya duduk, aku tidak lagi mendengar apapun. Hanya riuh-redam keributan dari para serdadu dan pengungsi di sana, dan gerus arus sungai. Mereka memang diam atau aku yang tiba-tiba tidak bisa dengar?

"Kau bisa ketahuan kalau bertingkah seperti itu."

Syukurlah. Bukan aku yang mendadak tuli. Tunggu, apa?

Si pemuda pendiam tampak terkejut. Amat. Kepalanya tertoleh sempurna kepada pria di sampingnya. Aku bahkan dapat melihat kilat matanya dari sini.

Keadaan bisa dibilang berbalik karena kali ini justru si pemuda pendiam bertubuh kecil yang berusaha mendapat perhatian sementara yang lebih tinggi lebih tertarik mengamati langit gelap. Wajah mereka sama-sama terpercik sinar redup dari lampu-lampu di perkemahan dan bulan di atas sana yang dipantulkan permukaan sungai. Dengan udara dingin membekukan, aku takjub melihat mereka tidak tampak terlalu kedinginan.

"Kau dari Utara, kan?"

Panik kian menyergap raut si pemuda kecil. Takut. Ia membeku dengan kepala tertoleh seperti itu.

Intonasi serius dari si pria tinggi luntur ketika akhirnya ia balas menatap. Saat itu pula aku menyadari betapa mata bulatnya bersinar tak seperti penduduk kebanyakan. Ia mungkin satu dari sedikit sekali penduduk asli yang masih punya semangat hidup sampai tampak di matanya begitu. Seratus delapan puluh derajat berbeda dengan seorang yang kini jadi lawan bicaranya. Ia juga tampak cerdas. Aku pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Mereka yang cerdas tidak selalu beruntung. Mungkin pria itu salah satunya.

"Makanya, jangan memisah seperti itu. Kau seharusnya berbaur. Kalau sampai ketahuan, kau bisa ditangkap," kata si tinggi lagi.

Semua orang tahu itu. Bahkan aku yang baru saja singgah di negeri ini. Serdadu dari Utara tidak sekali-dua kali diutus menyusup ke Selatan dan berpakaian layaknya pengungsi setempat. Tentara Amerika yang pernah menyaksikan seorang serdadu berganti pakaian dari seragam tentara Korea Utara menjadi pakaian putih lusuh khas penduduk tidak akan lagi membiarkan hal yang sama terjadi. Maka setidaknya beberapa waktu sekali, selalu saja ada penangkapan. Aku hanya bisa menahan ngeri ketika tuanku membicarakan itu dengan rekannya.

"Aku bukan anggota prajurit." Satu kalimat itu cukup mengejutkanku kala diucapkan oleh pemuda yang sejak tadi diam. Kukira dia tidak akan pernah bicara.

"Tetap saja," tukas si tinggi. "Intinya kau berasal dari sana dan bukan pengecualian bagi mereka untuk tidak menangkapmu."

Kalimat tadi mungkin jadi yang terakhir yang dikatakan si pemuda dari Utara. Sebab walaupun pertanyaan beruntun dilontarkan oleh si pria tinggi, pemuda itu tidak menjawab. Bagaimana ia bisa datang ke sini, kapan ia datang karena pria itu bahkan tak sadar ada wajah baru di antara penduduk desa, dan serentetan pertanyaan tanpa jawaban yang lainnya.

Aku terkejut ketika tubuhku terangkat ke udara. Astaga.

Itu tuanku. Bisa-bisanya ia menemukanku di tempat segelap ini.

Maka berakhirlah pekerjaan tidak terpujiku yaitu menguping pembicaraan orang lain itu tadi. Tuanku berganti meletakkanku di sakunya, alih-alih kembali menyelipkan aku di tengah-tengah buku catatan kecilnya. Begitu saja, aku kembali ke dalam kemah yang tak punya penutup di kedua ujungnya dengan beralaskan jerami tipis.

.

oOo

.

Sejak awal kulihat dia menjaga jarak dari yang lain, aku tahu dia datang dari Utara.

Belum lagi, wajahnya yang asing. Aku tak ingat ada dia di antara warga desa.

Meski orangnya tidak, aku mengenal sorot mata dan raut itu. Sorot dan raut tanpa harapan. Nyaris semua warga desa punya sorot mata dan raut yang sama. Benar aku tahu sudah bagaikan tak ada harapan di tanah ini, tetapi tidak akan jadi lebih baik dengan tidak mencoba menikmati kesenangan-kesenangan kecil seperti saja bertanding dengan para prajurit saat itu.

Malam itu dengan membawa pulang sejumlah kecil uang dan potongan-potongan biskuit, kami kembali ke rumah. Kuajak dia tinggal bersamaku karena rupanya, beberapa hari terakhir ia tidur di balik dinding-dinding belakang rumah-rumah yang ada. Meski sebegini jelek, aku mendapat tempat tinggal untuk diriku sendiri dibanding orang lain yang harus berbagi dan kini bisa digunakan untuknya juga.

"Baekhyun-ah!" Saat kupanggil, ia sedang melipat tikar jerami agar tidak terlalu memakan tempat. Ia menoleh, meski seperti biasa, tidak menyahuti apapun. Sudah lebih berminggu-minggu ia tinggal bersamaku.

Aku kembali mengajaknya sembunyi-sembunyi ke tepian sungai yang jauh dari perkemahan prajurit. Beberapa orang berseragam terus saja berlalu-lalang di antara kediaman kami dan jika tak pandai-pandai berjingkat, kau pasti akan disuruh bekerja. Kali ini, aku sedang ingin mengajak Baekhyun ke tempat yang disukainya—tempat yang hening dan sepi.

Wajahnya yang tak pernah bergurat ekspresi apapun kecuali sesekali sirat takut tak kentara itu selalu berubah lebih tenang setenang tempat di mana ia berada. Desa yang tidak pernah tenang tentu tidak bisa melakukan itu untuknya. Maka kini dengan bekal sepotong roti yang kudapatkan, kubawa dia duduk di tepi sungai. Memastikan cukuplah tersembunyi tempat ini di balik bebatuan dan pepohonan.

Satu-satunya kebisingan di sini adalah gemericik air. Hal itu dan juga sepotong roti yang kami bagi dua, cukup untuk sementara memberikan damai yang kami cari. Tak bisa lama-lama kami melakukan ini. Sebentar lagi, aku harus segera mengajaknya kembali.

Potongan rotiku belum habis saat kudengar suara dari sampingku. Baekhyun menolehkan kepalanya berlawanan dari posisiku duduk. Membuang muka. Tapi dengan samar suara yang kudengar darinya, aku tahu.

Dia menangis lagi.

Seingin dan sepercaya apapun aku pada kemerdekaan yang bisa diperoleh kembali sepenuhnya, tidak bisa kutampik pahitnya apa yang saat ini dihadapi negeri ini. Kejayaan masa lampau terasa seperti mimpi tertoreh dalam dongeng. Baru ini yang disebut nyata pada akhirnya. Menjadi pengungsi di negeri sendiri. Tinggal di gubuk-gubuk seolah bukan di sinilah kami seharusnya berada. Mengenakan pakaian putih lusuh, tak ada ubahnya dari peradaban Joseon dahulu ketika para rakyat rendahan bahkan tidak dapat mengenakan pakaian yang sedikit saja lebih berwarna kecuali putih, hitam, abu-abu, atau warna-warna pucat untuk hari-hari perayaan.

Aku tidak tahu hal apa yang Baekhyun simpan hingga ia menjadi demikian terasing sikapnya. Tapi mungkin itu lebih dari diriku sendiri. Cukup untuk membungkam mulutnya. Cukup untuk membuatnya meratap dalam diam setiap kali ada ruang.

"Jangan lupa habiskan rotimu, ya." Hanya itu yang bisa kukatakan. Sisa roti di tanganku sendiri kuhabiskan paksa karena rasanya apapun yang mencoba melalui kerongkonganku seperti terhalang oleh sesuatu. Seperti saja menelan batu. Seperti kenyataan yang bagaimanapun rupanya mesti ditelan mentah-mentah.

Kami kembali segera setelah roti kami habis. Esok masih bisa lagi kami melakukan itu. Esok dan esoknya lagi.

Ketika pesawat Yak dari Utara terbang rendah di atas desa kami, atau bunyi ledakan bom terdengar pada jarak tak seberapa jauh, kupastikan tak sekali pun aku meninggalkan Baekhyun. Kupastikan ia selalu bersamaku. Keterikatan ini, tidak kutahu di mana hulu atau hilirnya. Hanya waktu dan orang itu sendiri yang terus membuatku terpikir tentang sebuah kehidupan bersama.

Malam menuju dini hari tak lama setelah pada akhirnya giliran desa kami yang terpapar mesiu, kuajak dia memandang gemintang. Tak banyak yang hadir untuk tertangkap mata, tapi itu sudah cukup. Kami duduk berdampingan bersandar pada dinding tanah liat tempat tinggal kami yang baru. Tempat yang tak sama sekali lebih baik namun lagi, itu sudahlah cukup.

Main-main kuukir namanya di atas tanah dengan ujung jariku. Dalam aksara hanja dan juga hangul. Ia tak mau kalah. Diukirnya namaku di atas tanah, dalam aksara hanja dan juga hangul. Dan saat itulah, kudapati senyum tipisnya yang pertama. Para penyair mungkin akan menggambarkan saat ini sebagai satu waktu di mana, sesulit apapun hidup yang dijalani, sebuah senyum dari yang dikasihi akan membuat segalanya baik-baik saja. Meski harus berada di bawah kaki bangsa lain seperti golongan rendahan. Meski harus kelaparan. Meski harus bertahan mati-matian.

Sesulit apapun, aku akan memastikan tidak kalah dari mereka. Dengan tetap hidup. Sebagai rakyat pemilik semenanjung tanah yang dipecah.

Begitu kupikir sebelum suatu ketika keributan tak biasa kembali terjadi. Ini bukan pertama kali tapi, tidak ada kali yang lebih buruk dari yang kurasa saat ini. Pedati yang tengah kutarik kutinggalkan begitu saja saat teriakan komando menggema dan berbaris-baris prajurit asing berlari memasuki satu per satu kediaman kami. Gema komando tersebut memerintahkan agar kami tetap di tempat, tetapi dengan berlari mendahului melalui belakang rumah-rumah, aku tak mengindahkan. Hanya satu hal kutuju saat ini.

Baekhyun.

Sesampaiku di kediaman, segera kutarik Baekhyun keluar. Dia harus segera pergi. Dengan gelegar komando para prajurit yang terdengar makin mendekat, dia harus segera pergi.

Tapi aku tak mengerti ketika Baekhyun justru membuat perlawanan. Ia membentak menyuruhku pergi.

"Ada apa?" tanyaku yang dibalas dorongan keras sampai kuterhuyung. "Baekhyun-ah!"

Aku menangkap segera lengannya. Mempertegas betapa ia benar harus melarikan diri saat ini juga. Tetapi kembali dia membuatku terhuyung sampai jatuh. Menendang keras-keras tepat di perutku. Hingga saat tertatih kuberusaha bangkit berdiri, dia sudah tidak lagi berada di dekatku.

Dia tak lagi menggubris ketika kupanggil namanya. Ia pergi berlari. Melewati belakang rumah-rumah. Namun, mendekat ke arah para prajurit berdatangan.

Aku berusaha menyusulnya meski sakit yang tersisa di perut menghentikanku selama beberapa detik. Yang kudapati ketika keluar ke jalanan adalah separuh dari prajurit yang telah berbalik arah sembari memikul tubuh manusia tak sadarkan diri dengan merah di batok kepalanya, dan separuh lagi yang mengelilingiku. Menangkap dan membawaku turut serta.

Kulihat sebagian yang telah membawanya seperti menjauh dalam gerak lambat. Dari jarak demikian lebar, bisa kulihat dengan jelas pertanda bahwa dia terluka. Seseorang melukainya.

Sampai pemandangan itu menghilang dari pandangan, masihlah terbayang-bayang di kepalaku tubuh Baekhyun yang dibopong entah sadar ataukah tidak. Apa yang dilakukan para prajurit padaku, tidak lagi kurasakan. Masih terus kutatap arah kepergian para prajurit yang pergi membawa Baekhyun-ku. Masih terus kutatap ketika terseret tubuh dan wajahku di tanah.

Lebih dari itu, aku hanya ingin tahu.

Baekhyun, apakah kau baik-baik saja?

.

oOo

.

Hari ini menjadi hari kesekian kalinya tuanku berkumpul dengan rekan-rekannya dari berbagai negara. Ada hampir tiga ratus orang wartawan dari berbagai penjuru dunia di sini. Kebanyakan adalah para wartawan dari kantor-kantor berita Amerika yang besar-besar seperti Associated Press dan United Press. Obrolan mereka beragam sekali. Aku mendengar banyak hal terkait mereka dan negara mereka sendiri maupun perkembangan keadaan perang.

Kudengar beberapa waktu belakangan telah berkali-kali tertangkap serdadu Korea Utara yang menyusup di antara para pengungsi. Tidak tanggung-tanggung, kesemuanya tidak selamat setelah interogasi.

Sungguh, di saat tuanku dan rekan-rekannya membicarakan minuman khas Turki yang dibawa seorang wartawan dari sana, aku teringat pada si pria tinggi dan pemuda pendiam. Aku tidak berminat menerka-nerka apa yang terjadi pada mereka. Kupikir, pastilah itu bukan sesuatu yang menyenangkan bahkan untuk sekadar dibayangkan.

Oh, rakyat dan negeri yang malang. Suatu saat nanti, kuharap ada titik terang dan akhir yang bahagia untuk mereka semua. Niscaya.

.

fin.

.

.

#PojokCurhat:

Udah tau kemampuannya pas2an, tapi saya sok2an ngajuin historical sebagai genre utama waktu kak mashedpootato dan saya bikin rencana nulis bareng biar sama2 dapet motivasi buat nulis lagi. PADAHAL saya mana ada bakat bikin gituan. Maapkan aku, kak. Aku bahkan nggak berhasil bikin jadi hurt-comfort /nangis/

Baidewei eniwei baswei, ide cerita ini datang waktu saya baca bukunya Pak Mochtar Lubis, Catatan Perang Korea. Barangkali ada yang baca bukunya dan ngeh di bagian mana latar yang diambil buat sebagian dari fic ini.

Terima kasih sudah membaca ya, kamoe! Kritik dan saran sangat saya tunggu lho.. Okok. Terima kasih sekali lagi.